My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Maternity Photoshoot



Delapan bukan sudah, kini usia kandungan Lala. Perutnya semakin membuncit dan membuat Lala sedikit tak nyaman. Dia mengeluh sakit pinggang dan merasa gerah serta gerakannya sekarang lebih terbatas.


Lala masih melanjutkan kuliahnya, dia masih belum mengajukan cuti karena dirasa tidak ada keluhan yang dirasanya aneh.


Jangan ditanya bagaimana pandangan orang-orang di Kampus pasca klarifikasi melalui foto mereka yang beredar, serta artikel mengenai kekuasaan keluarga Wijaya. Beberapa orang nampak mencari muka merasa sok kenal, sok dekat dengan Lala. Tak hanya mahasiswa, dosen pun ada yang ikut-ikutan sok akrab dengan Lala setelah mengetahui Lala istri dari Direktur, pengusaha ritel raksasa di Indonesia. Namun tak sedikit juga yang nampak tak suka saat melihat Lala. Mungkin mereka iri. Entahlah, Lala sudah tak peduli.


Setelah perdebatan panjang dengan Keenan karena Lala bersikukuh untuk kuliah, akhirnya Lala kini ditemani oleh ajudan pribadi kemanapun dia pergi. Sesuai dengan perintah Tuan Muda yang tak bisa dibantah karena mengkhawatirkan Lala beserta kandungannya. Dengan pasrah, Lala mengikuti keinginan Keenan.


"Mbak Santi, kita ke kantor Abang saja ya. Aku kok ingin makan siang bareng Abang. Hehe." malu-malu Lala mengutarakan keinginannya pada ajunan pribadinya yang kini sedang menyetir mobil menembus panasnya udara siang ini.


"Siap Nyonya."


"Ah, aku bosan mendengar Mbak Santi bicara formal begitu." gerutu Lala.


"Maaf Nyonya, saya tidak berani membantah Tuan Muda."


"Kalau kita berdua, Mbak Santi gak usah formal ya? Biar aku ngerasa ada teman."


"Hmm..tapi.." Santi meliriknya dengan gugup.


"Aku marah kalau Mbak Santi menolak. Biar aku bilang Abang saja aku gak mau sama Mbak Santi lagi."


"B..baik Nyonya."


"Lala saja Mbak."


"Hehe..baik Mbak Lala."


"Panggil nama saja, umur aku lebih muda dari Mbak Santi."


"Rasanya gak sopan, Nyo.. Mbak Lala."


"Terserah lah mau panggil apa, yang penting Mbak Santi gak kaku bicara denganku." Lala mengelus perutnya.


"Pusing aku Mbak kalau dirumah juga mulai diterapkan sistem kerajaan Wijaya. Cukup di rumah Mama saja kita main sinetron Tuan, Nyonya, hehe."


Santi hanya mendengarkan ocehan Lala. Dia bingung mau menimpali Lala bagaimana.


"Mbaak, mampir ke toko kue langgananku ya? Aku ingin frozen yougurt cake. Duh rasanya segar sekali di tenggorokan." Lala menelan salivanya.


Seperti biasa, kemana Lala melangkah, Santi selalu mengikutinya. Awalnya Lala merasa risih, tapi lama kelamaan, dia merasa ada yang menemani dan tentunya ada yang membawa barang-barang miliknya.


Tiba di kantor, Lala tak sabar untuk menemui suaminya.


Ting. Pintu lift terbuka.


Lala berjalan menuju ruangan Keenan. Beberapa orang yang dilintasi Lala nampak mengangguk hormat setelah tahu Lala istri dari Bos mereka.


Lala langsung mengetuk pintu ruangan Keenan sementara Santi berjaga disekitarnya.


"Masuk." suara Keenan terdengar disana.


Seseorang berdiri disamping Keenan dengan pakaian seksi dan terlihat menggoda.


'Astaga si Keenan Wijaya menang banyak.'


"Honey.." Keenan tersenyum melihat istrinya yang datang. "Tunggu sebentar"


Keenan melanjutkan pekerjaannya. Wanita tersebut memberi sedikit jarak setelah Lala berada disana. Dia kemudian pamit sambil membawa berkas dan keluar dari ruangan Keenan.


Lala memukul bahu Keenan dengan tasnya. "Genit!"


"Aw.. Genit apa sih Mom?"


"Istri hamil, kamu dikelilingi wanita cantik."


"Lirik-lirik dikit doang, sayang. Gak di cicip kok." Keenan menggoda Lala


"Ih Keenan kurang ajar! Kamu mah sengaja biar aku brojol duluan!"


Keenan segera memeluk pinggang istrinya yang berdiri disampingnya. "Amit-amit jangan. Kalau belum waktunya kamu jangan keluar sayang." Keenan mengecup perut istrinya.


"Nanti bisa kan jaga jarak? Gak harus kayak barusan?" Lala meninggikan suaranya.


"Enak deketan tahu, Yong! Biar jelas." goda Keenan lagi.


Astaga! Si Keenan Wijaya!" Lala memukul Keenan tak henti dengan tasnya.


"Ampun.. Ampun sayang.."


"Aw..ssshhh... " Lala memegang perutnya.


"Kamu kenapa sayang?" Keenan segera berdiri dan membimbing Lala untuk duduk di kursi miliknya.


"Duh nendangnya bikin ngilu. Protes nih Bapaknya genit!" ketus Lala.


"Bapak-bapak. Enak saja!" Keenan tak kalah protes.


"Kamunya suka rese sih!"


"Maaf, kan becanda sayang." Keenan berjongkok di depan perut sang istri. Dia mengelus perut Lala dengan gemas.


"Yang barusan siapa? Kok rasanya aku baru lihat?"


"Dari Finance, sayang. Pengganti yang sedang cuti hamil."


"Aku gak suka kamu dekat-dekat begitu." Lala cemberut. "Hadap-hadapan kan bisa? Gak perlu nyodorin dirinya sama kamu juga! Kamunya keenakan!"


"Iya nanti enggak. Lagian, tumben banget kamu cemburu."


"Ya cemburu lah tiap lihat cewek yang dekat sama kamu. Tapi gak kayak barusan juga!"


"Iya, enggak lagi. Lagipula tadi dia nunjukin yang aku kurang faham gitu. Sudah jangan marah-marah. Nanti, dia nendang Mommy lagi." Keenan menggenggam tangan Lala masih berjongkok dihadapan istrinya.


"Abang mah bikin bad mood tahu gak! Padahal aku kesini ingin makan bareng Abang. Tapi jadi kesel." Lala menahan suaranya yang terasa bergetar.


"Iya maaf. Gak gitu lagi sayang. Abang juga gak sadar, Abang fokus sama kerjaan." Keenan berdiri.


"Yuk mau makan apa?"


"Tadi aku beli frozen yougurt itu loh. Mudah-mudah belum mencair semua."


"ya udah, mana?"


"Mbak Santi yang pegang tadi. Aku ambil dulu."


"Biar Daddy saja, Mom. Sekalian suruh dia pulang bawa mobil Mommy, biar Mommy pulang bareng Daddy." ucap Keenan.


"Aku gak mau pulang bareng Abang, Abang kan pulangnya malam terus."


"Enggak. Sebentar lagi kerjaan Abang beres, kita pulang." ajak Keenan.


Keenan membawa Lala pulang ke Apartemen mereka. Kejadian memalukan saat Ibu memergoki mereka sedang berciuman, membuat Lala menuruti kemauan Keenan seperti saat ini.


"Weekend ini kita maternity fotoshoot, Mom." ucap Keenan saat dia keluar dari kamar mandi


"Loh, kok mendadak?"


"Semua sudah Abang persiapkan, sayang. Maaf, Abang juga lupa memberitahumu."


"Kok gitu? Baju aku gimana? Temanya apa?"


"Temanya outdoor, di pantai. Abang ada jadwal keluar kota, sekalian kita fotoshoot saja. Maukan?"


"Serius kita ke pantai?" Lala begitu bersemangat.


"Iya. pokoknya, kamu gak usah mikir apapun, semua sudah Abang persiapkan dengan matang, Sayang."


"Suamiku memang the best." Lala mengecup singkat Keenan.


Dia tak mau protes, karena Keenan selalu membuatnya terpesona dengan semua kejutannya.


***


Dan benar saja, kini Lala tengah menjalani maternity fotoshoot dengan berdiri dibalkon kamar hotel yang membelakangi lautan lepas. Lala memakai short dress berwarna putih dengan aksen tile yang berterbangan kesana kemari.


Lala bersandar pada Keenan yang memakai kemeja putih lengan panjang dengan dua kancing atasnya yang terbuka membuat kesan seksi pada keduanya.


Tak hanya itu, Keenan membawa Lala ke bibir pantai saat sang surya mulai tenggelam. Langit yang memancarkan warna kuning keemasan membuat suasana terlihat lebih romantis. Lala berpose dengan menggunakan bikini memamerkan baby bump dengan maroon lace maternity dress yang menjuntai tertiup oleh angin dan Keenan bertelanjang dada sambil mencium baby bump.


Awalnya Lala menolak berfoto seksi di depan orang. Namun karena Keenan memperlihatkan hasil jepretan dari yang fotografer, Lala menjadi tertarik.


Dalam dua hari, Keenan dan Lala melakukan pemotretan dengan beragam tema. Bahkan salah satunya dengan Lala berpose seorang diri di dalam bathup. Seluruh rangkaian maternity fotoshoot mereka tentunya menjadi pengalaman baru yang sangat menyenangkan.


Lala dan Keenan kini tengah melihat seluruh hasil jepretan sang fotografer.


"Sayang, kamu mah wajahnya galak. Lihat nih matanya tajam begini. Belum lagi alis ulet bulunya kayak bersatu gitu." portes Lala.


Sang fotografer hanya tersenyum mendengar ocehan client mereka.


"Haha.. Mau gimana lagi? Daddy bukan pelawak Mom. Ya wajar, sehari-hari di kantor masang muka serius begini."


"Nanti kalau Daddy pose kayak gitu, nanti dituduh suka goda cewek di kantor. Terus Mommy marah-marah lagi."


"Ya kan cuma di foto."


"Sudah ah, tuh Mas Rio nahan tawanya dari tadi denger kita."


"Haha.. Maaf Mas Keen, habisnya tiap kalian bertengkar, rasanya lucu saja bukan bikin gerah. Ada tuh beberapa client saya yang bertengkar terus bikin suasana jadi lebih tegang. Malah, sempat juga salah satunya ninggalin lokasi. Wah, itu berantakan banget deh waktu itu."


"Wah, aku pikir cuma jepret-jepret doang Mas kerjanya. Ternyata ikut merasakan pergolakan pasangan juga ya Mas" timpal Lala.


"Ya begitulah Mbak, tapi hanya beberapa saja. Sejauh ini sih, sama seperti Mbak dan Mas Keenan. Lancar jaya saat sesi pemotretan. Apalagi dua hari ini, saya gak susah mengarahkan Mbak Lala harus pose seperti apa."


"Iyalah Mas, dia mah banci kamera dari dulu" cibir Keenan.


"Biasa perempuan Mas Keen."


"Iya. Kalau Abang yang banci kamera kan aneh. Wajah galak tapi hobby selfie." Lala terbahak.


Lala merebahkan tubuhnya setelah selesai melakukan pemotretan. Kakinya terasa pegal, sementara Keenan diminta Lala untuk membeli snack ke mini market dekat hotel mereka.


"Honey, Abang beli ini." Keenan menunjukan sesuatu pada Lala.


"Ih onigiri" Lala tersenyum senang.


"Abang jadi ingat waktu kita pacaran dulu saat lihat onigiri. Eh apa waktu kita pura-pura pacaran ya? Lupa Abang. Yang jelas gak kerasa sekarang malah mau punya anak dari kamu." Keenan menjatuhkan tubuhnya disamping Lala, dia mengusap perut istrinya.


"Rasanya baru kemarin ya Bee. Aku gak nyangka banget ternyata kamu yang jadi suami aku setelah banyak drama diantara kita." Lala cekikikan.


"Haha.. Iya.. Kamu selalu bikin Abang naik darah tahu gak?"


"Kamu juga sukses bikin aku ifeel. Awalnya aku suka sama kamu terus jadi benci sama sikap kamu yang menyebalkan itu. Eh tiba-tiba jadi dekat lagi gara-gara kecelakaan."


"Hidup memang susah ditebak. Semuanya mengalir begitu saja." Keenan mengecup pipi istrinya.


"Apa yang membuat Abang mau nikahin aku sih? Padahal rintangan kita terbilang berat. Apalagi saat tahu Ibu mantan Papa." Lala tertawa.


"Apa ya?"


"Ya nyaman. Abang kan cuma terbuka sama kamu."


"Oh iya ya. Gara-gara mantannya si Bang Al itu awalnya. Hahaha.."


"Iya. Gara-gara dia, Abang diminta buktiin kalau Abang punya pacar. Padahal dulu boro-boro kepikiran pacaran. Lagi galau gara-gara Papa suruh Abang kuliah di luar negeri."


"Iya, Abang rese! Ngajak akting tapi akunya gak dikasih tahu, untung akunya cerdas kalau urusan beginian" Lala terbahak.


"apa yang membuat kamu mau nikah sama Abang?" Keenan balik bertanya.


"Karena kasihan sama Abang."


"Astaga! Jahat banget cuma karena kasihan."


"Haha.. Ya cinta, emang apalagi. Kamunya ngeselin banget tapi aku juga nyaman sama kamu. Tiap kita berantem, aku dibuat gila sama kamu. Tapi kalau gak berantem sama Abang, rasanya hambar." Lala terkekeh.


"Memang kita bukan pasangan romantis sih dari awal. Tapi ini yang bikin Abang makin cinta sama kamu."


Keenan mendekatkan wajahnya pada wajah Lala. Dia mengusap anak rambut Lala yang menutupi sebagian wajahnya. Lala mengelus lembut rambut suaminya. Tatapan mata mereka saling mengunci.


Keenan mengecup bibir Lala sementara Lala mengeratkan pelukan di kepala Keenan membuat Keenan memperdalam ciuman mereka.


"Love you, Mommy. Keenan cinta Lashira." ucapnya seraya tersenyum malu.


"Hmmffff... Hahahahaha... Lucu banget sih Bee." Lala tak henti tertawa membuat Keenan ikut tertawa bersama.


"Lashira cinta banget sama Abang Keenan Wijaya." Mereka tertawa kembali. "astaga! Kita kayak bocah."


Keenan membelai perut Lala. "Eh, dia gerak."


Keenan sekarang mendekatkan kepalanya diperut Lala.


"Hehe, kamu cemburu ya Daddy sama mommy. Daddy juga sayang Mini, sama kayak Daddy sayang Mommy. Daddy gak sabar lihat wajah Mini nanti mirip siapa? Mirip Mommy atau mirip Daddy?" Keenan mengecup perut Lala dengan penuh cinta.


"Harus mirip kita berdua. Masa mirip tetangga." timpal Lala.


Lala mereka terdiam. Lala hanyut dalam lamunannya sementara Keenan memejamkan mata.


"Abang.."


"Yes Honey?"


"Suapin onigiri."


"Astaga! Makan sendiri kenapa sih Yong? Abang ngantuk."


"Udah sore jangan tidur, Bee!"


"Istirahat sebentar, Honey."


"Nanti malam kamu susah tidur kalau tidur jam segini."


"Nanti malam kita begadang. Makanya kamu juga tidur ya." Keenan tersenyum sambil menutup matanya.


"Ngapain?"


"Nengokin Mini biar keluarnya lancar."


"Ih dasar!"


***


Setelah kepulangan mereka dari maternity fotoshoot tiga minggu yang lalu, kini mereka tengah menikmati keseharian dengan berada di Apartemen.


Keenan sudah mengajukan cuti untuk persiapan lahiran Lala. Setiap pagi, Keenan mengajak Lala jalan pagi agar memperlancar proses persalinannya.


"Abang, aku mau ke rumah Ibu." pinta Lala saat mereka berjalan pagi.


"Kenapa? Enak disini. Abang juga kan sambil kerja dari rumah."


"Gak tahu, aku kangen Ibu. Kita tinggal disana saja ya? Kata dokter kan perkiraan minggu-minggu ini, aku lahiran."


"Hmm..ya sudah kalau begitu. Nanti sore kita kesana."


"Yes. Terima kasih sayang." Lala memeluk tangan suaminya.


Sore hari, Lala dan Keenan tiba dirumah mereka disambut oleh Bi Ijah.


"Ibu mana Bi?"


"Katanya menjenguk temannya yang sakit, Neng."


"Oh begitu. Ini tolong masukan ke dalam lemari es, Bi. Kalau Bibi mau, ambil saja." Lala memberikan kue kesukaannya pada Bi Ijah.


"Iya Neng."


Lala menaiki anak tangga untuk menyusul sang suami yang lebih dulu masuk ke dalam kamar mereka. Di lihatnya Keenan sedang berdiri di balkon kamar sambil menikmati sang surya yang perlahan tenggelam.


"Kenapa? Abang gak mau disini?"


"Enggak Honey. Abang dapat informasi, minggu depan Abang harus keluar kota. Dan gak bisa diwakilkan."


"Hhh..kalau aku belum lahiran gimana? Masa Abang tega sih." Lala merasa kesal.


"Iya. Abang juga sedang mikir dulu, kamu tenang saja. Jangan banyak pikiran. Abang pasti temani kamu." Keenan mengecup kening Lala.


Lala merebahkan tubuhnya memunggungi Keenan. Dia masih kesal pada Keenan walaupun Lala sadar, itu bukan kemauan suaminya.


Beberapa kali Keenan nampak membujuk Lala, namun Lala tak bergeming hingga akhirnya Keenan menyerah dan tidur. Berharap, esok hari mood Lala kembali membaik.


Tengah malam, Lala terbangun. Wajahnya terlihat tak nyaman. Dia bolak balik ke kamar mandi sambil memegang baby bump.


"Abang.. Abang.. Sshhhh..."


"Hmm.."


"Abang.. Aku mulas. Ssshh.."


"Abang!"


Tak ada sahmhutan dari Keenan.


"Keenan Wijaya! Aku mulas!" Lala setengah berteriak sambil menjambak rambut Keenan.


.


.


.


Wah.. Gimana tuh Lala? Kuy ramein komentar. Bantu like dan vote sebanyak-banyaknya. Terimakasih^^