
"Abaangg.. Pijat Baangg.." Lala memukul kakinya yang pegal setelah setengah hari mengitari Mall bersama sang mertua.
"Kamu jangan jalan sama Mama lagi. Mama gila belanja, nanti kamu ketularan. Tuh belanjaan kamu banyak begitu." keluh Keenan mengambil alih memijat kaki istrinya.
"Aku tuh tadinya basa basi Bee, 'aku yang bayar saja, Ma'. Eh Mama gak nolak." Lala terbahak.
"Lagian kamu pakai basa basi busuk segala! Mama tuh belanja gak bisa berhenti kalau tangannya belum penuh!"
"Ya mana aku tahu, Bang. Aku ngikutin Mama saja. Itu kartu kan di pegang Mama selama disana."
"Ck..gak beres."
"Kamu marah aku hamburin uang kamu?" ketus Lala
"Enggak Sayang, aku kesal saja Mama ikut belanja pakai uang kita."
"Pelit kamu sama Mama juga."
"Hon, Mama itu tajir melintir. Harusnya kamu yang kuras duit Mama." Keenan mengajarkan hal yang gak benar pada Lala.
"Mama tadi mau traktir aku, aku gak enak, Abang."
"Dih, sok jaim lo!" Lala terbahak.
"Kalau kamu lihat harta karun Mama, bakal speechless, Hon"
"Memang kenapa?"
"Nanti kamu juga bakal tahu sendiri."
"Untung juga tadi Mama gak jadi ikut ke KP. Akunya juga males kesana, kaki udah terasa pegal banget dari tadi."
"Iya, Abang juga ngerti sayang."
"Eh Bang, aku gak nyangka ternyata kita diikuti ajudan. Sumpah Mama keren banget." ucap Lala
"Kamu mau pakai ajudan juga?"
"Enggak. Apalah aku ini Bang, cuma remahan rengginang di kaleng biskuit."
"Yah.. tinggal remahannya, aku buang deh."
Lala memukul lengan suaminya sambil cemberut. "Jahat!" Keenan terbahak.
"Lah, tinggal remahannya doang."
"Justru itu bagian paling enak tahu, karena gak ada lagi. Kayak iklan dong, hingga tetes ter-a..tiiiit"
"Apaan ter-a..tiiit?"
"Iklan Bambang! Kita gak di sponsori."
"Hahaha.. Ter-a..tiiit.. Si Munah ada-ada saja!"
"Abaang.."
"Hmm.."
"Aku mau Bang."
"Katanya kamu capek, kalau mau ya ayo." Keenan melepas pijitannya.
"Bukan itu Bambang!"
"Lah? Mau apa? Yang jelas!"
"Honeymoon." Lala tersenyum malu.
Keenan menatapnya sambil tersenyum. "Serius? "Mau kemana emangnya?"
"Pantai biar romantis."
"Maksudnya dalam apa luar?"
"Kalau di luar nanti gak jadi, enaknya di dalam saja, Bang."
"Dasar otak mes*m!" Keenan memukul paha istrinya.
"Tapi, gak jadi deh. Itu belanja sudah berapa coba Bang." keluh Lala
"Awas saja kalau itu barang gak ada yang dipake." ancam Keenan.
"Dipake sayang, barang branded semua, bukan kaleng-kaleng" Lala tersenyum senang.
"Kamu mau kita honeymoon kemana? Tapi Abang masih ada kerjaan, Hon."
"Aku becanda sayang, gak usah honeymoon."
"Bulan depan, Abang ke lapangan lagi. Mau ikut?" ajaknya.
"Huum. Aku jadi asisten Abang. Takutnya Abang macem-macem."
"Idih tumben posesif."
"Ayo tidur, Bang."
"Gak mau di pijat lagi?"
"Gak. Terima kasih sayangku, masih pegal sih, tapi sudah mendingan." ucap Lala seraya berbaring. Keenan ikut berbaring di sebelahnya.
***
Keenan menggandeng Lala masuk ke dalam KP setelah janji bertemu dengan Mas Pram yang akan menemani Lala dihari pertamanya. Tak dipungkiri, Lala sedikit gugup saat menginjakan kakinya di KP.
"Selamat atas resignnya Lala. Mari kita rayakan malam ini." ujar Mas Pram merentangkan tangannya
"Jangan peluk bini aku, Mas!" Keenan menghalangi Mas Pram.
"Galak bener bodyguardnya."
"Masa resign dirayakan sih Mas?"
"Ya dirayakan dong, La. Kan begitu resign langsung jadi bos."
"Aku masih newbie ya disini. Tolong ajarkan aku suhu." Lala berlagak menyembah membuat Mas Pram tertawa.
"Jadi aku ngapain, Mas?" Lala nampak kebingungan.
"Diam saja, La. Pantau mereka atau kalau mau jaga kasir." ucapnya
"Masa diam? Gak buat kopi?"
"Jangan ngarang Yong! Kamu gak tahu takarannya kayak gimana."
"Oh iya." Lala menggaruk rambutnya malu.
Lala bergabung dengan karyawannya dibalik meja, sementara Mas Pram dan Keenan berbincang asik di meja pengunjung.
"Honey, sini." panggil Keenan.
Lala mendekat dan duduk disamping Keenan. "Kenapa?"
"La, Ibu mau masukan risol ya?" tanya Mas Pram serius
"Maunya begitu, Mas. Tapi kalau tidak bisa gak apa-apa biar nanti aku bujuk Ibu."
"Selain risol, Ibu bisa buat yang lain? Biar gak aneh gitu La. Masa cuma ada risol di tengah-tengah kue."
"Jadi gini, Hon. Mas Pram mau buat etalase khusus kue basah. Berarti kan isinya gak hanya risol saja. Ada makanan yang lainnya."
"Tapi kita coba di gerai ini saja dulu, bagaimana?" tanya Mas Pram.
"Sip Mas. Aku tanya ibu saja dulu ya, biar fix. Atau nanti Mas Pram yang ngobrol sama Ibu."
"Boleh. Siapa tahu, Ibu bawa tester."
Keenan dan Mas Pram pamit meninggalkan KP, sementara Lala masih menemani karyawannya seharian.
Sore menjelang malam suasana KP mulai rame. Gelak tawa dan canda terdengar dari kursi pelanggan membuatnya senang.
"Begini kali ya rasanya jadi kang dagang" Lala tersenyum sendiri.
Tak berapa lama Keenan datang. "Yuk pulang." ajaknya.
Tiba dirumah, mereka disuguhkan dengan tumpukan kertas yang berada di hadapan Ibu.
"Waduh, apa tuh Bu?"
"Biasa, sensus balita." ucapnya tak menatap Keenan.
"Gilaa Ibu Kader, gak main-main kerjaanya." Lala ikut menimpali.
"Bu, aku mau bicara." ucap Lala mengusik Ibu yang sedang asik bersama lembaran data balita.
"Apa?"
"Ibu serius mau masukan risol ke KP?" tanya Lala.
"Setelah Ibu pikir ulang, merenung dan meneguhkan hati, serta bersemedi berhari-hari.. "
" Hibernasi gak Bu?" potong Keenan
"Kurang asem! Emang Ibu beruang, apa!" ketusnya.
"haha.. Maaf-maaf Bu, lanjutkan."
"Ibu putuskan untuk tetap menyerah." ucapnya
Lala menghembuskan nafas lega. "Akhirnyaaa.." sementara Keenan terbahak.
"Gak ada yang sekeren ibu deh kalau bicara." Keenan mengacungkan kedua jempolnya.
"Kenapa kamu sesenang itu? Kayaknya kamu gak suka Ibu melebarkan sayap."
Lala kini tertawa. "Gayanya melebarkan sayap."
"Sejujurnya Bu, aku gak mau Ibu buat risol ke KP. Bukan aku gak mendukung Ibu, tapi aku ingin Ibu menikmati hidup Ibu sekarang." Keenan duduk di samping Lala.
"Jangan khawatirkan masalah keuangan. Aku sama Lala kan kerja, Bu. Cuma ngurus makan Ibu doang, Ibu gak usah banting-banting tulang."
"Ya itulah maksudnya."
"Ibu harus mandiri dong, gak mengandalkan kalian."
"Ibu tiap hari kan masih titip dagangan Ibu, belum pesanan juga, Bu."
"Ya iya sih, tadinya siapa tahu Ibu bisa melebarkan sayap, terus punya karyawan gitu, La. Ya, mempekerjakan tetangga yang pada nganggur."
"Repot Ibu. Aku gak mau Ibu makin capek."
"Aku gak mau tenaga Ibu terkuras lebih dulu sebelum menimang cucu dari kami, Bu." ucap Keenan
"Emang Lala sudah hamil?" Ibu sedikit kaget
"Belum Bu, doakan segera ya Bu." pinta Keenan.
Ibu hanya diam kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Mandi dulu, Bee." ajak Lala.
Lala menyiapkan baju tidur untuk suaminya, sementara Keenan masih berada di kamar mandi.
Kini dia semakin bimbang teringat akan perjanjian orangtuanya dan juga wanita di kantor Keenan.
'Aku harus bagaimana?'
"Hon! Jangan melamun terus, kesambet tahu rasa." Lala tak menyadari Keenan yang tengah masuk ke dalam kamar.
"Abangnya seger banget. Aku mandi dulu ah."
Selesai mandi, Lala melihat Keenan telah meringkuk di atas kasur mereka. Dia mendekati wajah Keenan kemudian mengecupnya.
'Lucu sih kayaknya kalau ada duplikatnya kamu, Bee.' Lala tersenyum.
***
Sebulan berlalu, Lala masih menyesuaikan dengan pekerjaannya yang baru. Kali ini, dia lebih santai dibanding kerjaannya yang dulu. Jagan lupa, dia bosnya!
Lala bebas bekerja sesuai keinginannya. Kalau sedang malas, dia bahkan tak datang ke KP. Bahkan seperti saat ini, Lala tengah bersiap untuk mendampingi Keenan.
"Kalian hati-hati disana ya. Jangan aneh-aneh tingkahmu, La! Keenan, jaga istrimu baik-baik"
"Siap Bu. Kita cuma tiga hari disana Bu, jangan khawatir."
"Ibu hati-hati dirumah. Kalau ada apa-apa, keluarkan suara emas Ibu ya." Lala memeluk Ibu seraya pamit.
"Astaga, kamu kayak mau pergi ke Antartika saja, Hon."
Keduanya kini tengah berada di Bandara. Beberapa kali, Keenan menerima panggilan telepon membuat Lala sedikit kesal. Lala lupa, perjalanan mereka kali ini hanya sekedar perjalanan dinas Keenan, tapi seolah liburan buat Lala.
"Nanti, Abang langsung ke proyek ya? Kamu tunggu saja di hotel. Oke?"
"Aku ikut Abang saja."
"No, Honey. Lebih aman kamu di Hotel."
"Kenapa sih?"
"Lebih aman saja, Sayang. Abang gak mau dibantah untuk yang satu ini." ucapnya serius.
"Abang ada masalah?" tanya Lala
"Sedikit. Makanya, Abang gak mau perhatian Abang nanti terbagi."
Keenan tak melepaskan genggamannya selama di pesawat. Lala sendiri? Tidur! Saking gak sabarnya, Lala semalaman tak bisa tidur. Dan kini dia sama sekali tak menikmati penerbangannya hingga tepukan tangan Keenan di pipinya.
"Honeey.. Banguun.."
"Hon.. " Lala membuka matanya.
"Ayo turun." ajak Keenan
"Astaga sudah sampai, Bee. Aku gak lihat awan-awan." keluh Lala
"Kamunya pules banget!"
Tiba dibandara, mereka tengah ditunggu oleh sopir yang sengaja di kirim untuk menjemputnya.
"Ke Hotel dulu, Pak." pinta Keenan.
Lala menyandarkan kepalanya dibahu Keenan. Dia begitu menikmati perjalanan mereka.
"Aku lapar, Bee."
"Kamu makan sendiri, gimana? Abang ditunggu orang soalnya."
"Ya sudah."
Lala seketika bangkit dan duduk sempurna saat melihat ke samping kaca. "Waahh.. Indah sekali lautnya." ucap Lala membuat supir meliriknya sambil tersenyum.
"Sunset disini bagus, Nyonya." Sopir mengajaknya bicara.
Keenan melingkarkan tangannya di pinggang Lala. "Nanti kita main kalau aku sudah beres, Sayang." ucapnya.
Tiba di Hotel, Keenan mengantarkan Lala hingga ke meja resepsionis.
"Kunci kamu pegang, Abang jalan ya."
"Hati-hati. Jangan malam-malam Abangnya."
"Abang usahakan cepat, sayang." Keenan mengedarlan pandangannya kemudian mengecup kilat bibir Lala.
"Abang!" Lala terkejut sekaligus senang.
"Lanjut nanti malam, sayang. Love you unlimited." ucap Keenan seraya melambaikan tangan.
Lala ditemani bellboy menuju kamarnya. Dia masuk ke dalam ruangan yang sangat luas menurutnya.
"Astaga, Abang. Dia selalu memberikan fasilitas yang terbaik." gumam Lala.
***
"Sudah jam segini, masih belum pulang?" keluh Lala saat melihat jam di ponselnya. Dia merasa mati gaya, seorang diri di kamar Hotel yang begitu luas. Hingga akhirnya terdengar suara ketukan pintu, membuatnya seketika berlari untuk membuka pintu tersebut.
"Abang." Pekiknya senang seraya memeluk tubuh suaminya.
"Maaf lama."
"Abang ngapain saja sampai malam begini?"
"Negosiasinya alot."
"Negosiasi apa?"
"Kamu gak usah tahu, siapkan saja air hangat, Hon. Abang mau mandi dulu."
Lala mengisi bathup kemudian menyiapkan piyama suaminya.
"Kamu sudah makan?" Keenan memeluknya dari belakang.
"Sudah. Abang sudah makan?"
"Tahu gak, Abang makan apa?"
"Apa? Pasti makanan mewah. Sudah gak aneh!"
"Bukan. Abang makan nasi kotak."
Lala membalikan tubuhnya seketika. "Hah? Serius? Kok bisa?"
"Ya namanya juga di proyek, Sayang. Mau gimana lagi."
"Sabar ya.. Aku jadi ngerasa berdosa, disini aku makan enak."
"Gak apa-apa. Pengalaman pertama Abang juga. Ternyata gak terlalu buruk rasanya."
"Karena Abang lapar." Lala tertawa.
"Gih mandi dulu. Kotor dari proyek, sudah peluk-peluk." Lala membantu Keenan menganggalkan pakaiannya.
Lala merasa suaminya begitu murung. Dia berinisiatif memakai lingerie miliknya yang dia selipkan saat packing semalam.
Dia memainkan ponselnya sambil menunggu Keenan dengan jantung berdegup kencang. Lama menanti, Keenan tak kunjung keluar dari kamar mandi. Dia menempelkan telinganya di pintu kamar mandi hingga pintu tergeser.
"Astaga, Abang." seketika Lala kaget.
"Kamu ngintip ya?"
"Eng.. Enggak. Kamu lama, aku jadi penasaran." Lala tertawa kikuk.
Keenan menatap Lala sambil tersenyum. "Kamu mau goda Abang?"
"Bisa dibilang begitu." tanpa menunggu jawaban, Lala merengkuh wajah suaminya, mendaratkan kecupan liar di bibir Keenan.
Keenan menyunggingkan senyumnya ditengah ci*man panas mereka. Lala yang malu menutup mata suaminya, hingga Keenan akhirnya terbahak.
"Abang!" protes Lala yang kini sudah sangat malu.
"Sumpah kamu lucu banget kayak begini."
"Rese! Ya udah gak jadi." Lala segera naik ke tempat tidur, menyelimuti dirinya sambil memunggungi Keenan.
Keenan masih terbahak ditempatnya. Dia merasa sang istri sangat konyol bukannya menggoda.
"Astaga ngapain aku pake baju begini depan si Bambang! Dia malah ngetawain kan! Puas banget lagi ketawanya." Kesal Lala.
.
.
.
Jamaah Honbee, bantu semangatin aku dong. Kok aku kurang semangat ya. Hehe..
Dukung terus dengan like, komentar, vote, vote, vote. Makasih ^^