My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Malam Keakraban



"Astaga Abaaang." Lala tersenyum menatap mobil yang menjauh. Begitupun dengan Arabella nampak melongo melihat ke arah yang sama.


"Dia..suami kamu itu, La?" tanyanya masih tak percaya.


"Iya." Lala tersenyum malu.


"Wow."


"Kenapa?!" tanya Lala sinis. Dia tak terima Keenan di taksir wanita lain.


"Mobilnya keren. Hehe."


'Ya iyalah, Tuan Muda gitu loh.'


"Biasa saja. Yuk masuk." ajak Lala.


"Suami kamu kerja apa, La?" tanyanya penasaran


"Biasa saja."


'Pewaris. Kalau kamu tahu, nanti kamu kejang-kejang.'


"Kamu sudah lama menikah?"


"Belum setahun, sih."


Lala dan semua mahasiswa baru kini berkumpul di lapangan. Tugas terakhir mereka adalah meminta tanda tangan dari para senior.


"Kenapa mesti minta hal konyol seperti ini sih? Gak guna banget" gerutu Lala.


"Sekalian kan cari senior yang kece, La."


"Aku sudah punya yang kece dirumah."


"Belagu! Bagi dong."


"Gak rela bagi-bagi." mereka tertawa.


Mereka mendatangi satu persatu senior. Ada yang mempersulitnya dengan menyuruhnya nyanyi terlebih dahulu, ada yang harus foto bareng, namun yang baik hati memberikan tanda tangan tersebut secara sukarela.


"Tinggal Kak Farel nih." ucap Arabella.


"Sudahlah, gak ada tanda tangan dia juga gak apa-apa, Bel."


"Ya gak bisa Lashira, dia kan ketua senatnya." ucap Arabella membuat Lala terkejut.


"Sumpah demi apa Arabella?"


"Ya ampun, masa begitu saja kamu gak tahu?"


"Bukannya Kak Chandra ya, ketua senat kita?"


"Kak Chandra ketua pelaksana."


'Astagaa.. Mamp*s kamu, La. Kemana saja kamu selama ini Lashira! Mana sudah bersikap kasar sama dia. Oh God, tolong hambamu yang cantik ini.'


"Terus kenapa dia ikut berjaga kalau ketua senat?"


"Ya memang kenapa? Suka-suka dia lah."


Mereka masih menyusuri kampus mencari keberadaan Farel yang sengaja menghilang. Menjelang petang, mereka masih belum menemukan Farel.


"aku ke toilet dulu, Bel. Titip ya" Lala menyerahkan buku yang dipegangnya pada Arabella.


Saat Lala menyusuri lorong menuju toilet, tiba-tiba seseorang menarik paksa lengan Lala. Sontak Lala menjerit namun orang tersebut menutup mulut Lala. Lala mencubit lengan lelaki berjaket hitam.


"Aw..." refleks dia melepas tangannya dari mulut Lala.


"Farel! Gila kamu!"


"Sini" Farel menuntun Lala ke sebuah ruangan kecil.


"Tempat apa ini?" Lala mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan tersebut. Ruangan yang cukup rapi dengan beberapa kursi butut menumpuk di sudut ruangan.


"Markas."


"Ini gudang kan?"


"Sudah tahu gak usah tanya."


"Terus kamu ngapain disini? Orang-orang mencarimu!"


"Aku lagi gak semangat saja. Biarkan mereka mencariku."


"Jangan pergi untuk dicari. Jangan sengaja lari untuk dikejar. Berjuang tak sebecanda itu." (Sujiwo Tejo)


Farel menatap Lala. "Mantaap ketuaaa."


"Astagaaa." mereka tertawa.


"Duduk sini, Pacar."


"Hei, aku bukan pacar kamu."


"Aku bisa jadi pacar sungguhanmu."


"Rel, kamu jangan begini. Kasihan anak maba lain."


"Cuma sejenak. Sini." Farel menepuk lantai beralaskan karpet kecil.


'Tuhan, maaf aku berduaan dengan cowok lain.'


"Kenapa sih kamu?"


"Aku gak suka saja dengan semuanya. Jenuh sih tepatnya. Atau muak. Entahlah."


'Astaga sumpah dia ganteng luar biasa.' Lala menggelengkan kepalanya pelan. "Kenapa?" seketika Lala gugup. Wangi harum tubuh Farel kembali menghipnotis Lala.


"Gak apa-apa. Bosan dikejar wanita." Farel tertawa.


"Belagu."


"Haha.. Serius. Mereka tuh cuma terpesona sama wajah tampan ini, Car."


"Car?"


"Pacar."


"Astaga. Panggil aku Lala."


"Sorry kalau kamu gak nyaman, Car. Tapi gak tahu kenapa aku merasa gak asing sama kamu. Kayak gimana ya? Kayaknya kamu itu, orang yang selama ini aku cari."


"Dih! Bisa saja tutup panci!" Lala tertawa.


"Dari awal ketemu, kamu sudah bersikap seenaknya sama aku. Dan aku suka. Jarang ada cewek secuek kamu."


'*Iyalah, aku juga bakalan kayak mereka kalau aku jomblo! Eh, a*pa jangan-jangan dia seperti Keenan?' Lala sedikit penasaran.


"Terus aku harus histeris lihat kamu? Atau cari perhatian? Please kamu jangan kepedean. Kamu bukan tipe aku." bohong Lala.


"Haha.. Baru kali ini cewek nolak aku. Keren kamu, Car."


"Di tolak keren?" Lala nampak heran.


"Ada warna baru dihidupku."


"Gila warna baru." keduanya terbahak.


"Kita berteman, Rel" Lala mengulurkan tangannya.


Farel menatap Lala. "Oke untuk saat ini." Dia menyambut uluran tangan Lala.


"Yuk, semangat Rel. Aku gak tahu masalah hidup kamu apa, tapi jangan biarkan yang lain nunggu. Kasihan mereka."


"Oke thanks, La."


"Kuy." Lala dan Farel berjalan berdampingan membuat semua orang menoleh ke arah mereka.


Tatapan sinis nampak terlihat jelas dari wajah Andine. Beberapa mahasiswa langsung menyerbu mereka. Lebih tepatnya menyerbu Farel untuk meminta tanda tangan.


"Kok kamu bisa sama dia, La?" Arabella memberikan buku milik Lala.


"Kebetulan ketemu pas aku dari toilet."


Kini giliran Lala meminta tanda tangan dari Farel. Dengan sengaja Farel tersenyum manis pada Lala. "Gila" gumam Lala.


Andine mendekati Lala yang sedang duduk seorang diri.


"kamu ada hubungan khusus sama Farel?"


"Enggak kak, tadi aku mergokin dia lagi di dalam toilet." Lala tahu arah pembicaran Andine.


"Kamu suka sama dia?"


Lala tersenyum. "Aku kan sudah bilang, gak suka, Kak. Aku sudah bersuami."


Andine tersenyum sinis "Basi tahu gak! Alasannya klise banget"


'Iya aku baby face. Jadi banyak yang gak percaya. Nanti giliran aku hamil dikira MBA!


Sederet rangkaian acara telah terselenggara. Mulai dari sambutan hingga tiba di puncak acara yaitu pentas seni dan games untuk memeriahkan acara.


Lala sama sekali tak menyangka, saat lelaki tampan yang mendekatinya berdiri memberikan kata sambutan. Dia terlihat sangat cerdas dari biasanya. Terlihat dari pemilihan tutur kata yang tidak biasa digunakan oleh orang awam sepertinya.


'Sumpah Bee, kalau gak ingat kamu. Aku gak bakal nolak dia.' racaunya dalam hati saat mengagumi makhluk ganteng dihadapannya.


Acara semakin memanas, beberapa orang nampak ikut berjoget saat alunan musik dangdut meramaikan petang itu. Tak hanya mahasiswa, Dosen pun ikut larut berdendang bersama.


Lala begitu menikmati suguhan demi suguhan acara yang terselenggara. Gelak tawa dan canda mewarnai malamnya. Beberapa lampion di terbangkan menandakan acara ospek tersebut berakhir. Malam yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia merasa hidupnya kali ini jauh lebih berwarna.


"Sayang, Abang gak bisa tidur." Lala membaca pesan dari Keenan. Kini sudah lewat tengah malam.


"Aku baru beres acara, Bee. Maaf baru pegang ponsel. Kenapa gak bisa tidur, sayang?"


"Gak ada kamu, aneh."


"Sabar gantengnya aku. Besok pagi jemput ya."


"Laksanakan Nyonya Muda."


Pagi-pagi sekali, seluruh mahasiswa baru kembali berkumpul untuk sarapan bersama.


"Nih" Farel memberikan teh hangat pada Lala.


"Terima kasih, Kak."


"Tumben manggil kakak."


"Depan orang. Lagipula masih acara kan?"


"Suka-suka kamu." Farel meninggalkan Lala kembali.


'Tuhan, kenapa dia so sweet sekali. Ingat Abang, La. Ingat Abang Wijaya si tajir melintir.'


Keenan berdiri di depan mobil miliknya menunggu Lala.


"Bang Keenan." panggil seseorang dengan kantong kresek di tangannya.


"Loh kamu? Kamu panitia?"


"Hehe.. Iya Bang. Abang sedang apa disini?"


"Jemput. Aku lupa kamu kuliah disini."


"Masa lupa sih? Abang bareng Bang Al?"


"Enggak. Jarang kumpul sekarang. Dia sibuk sama duit orang. Kamu sering ketemu?"


"Sebulan sekali saja kalau arisan keluarga." Keenan hanya mengangguk.


"Abang jemput siapa?" sebelum Keenan menjawab, Lala berjalan ke arah mereka.


'Ngobrol sama siapa si Abang?'


"Tuh." Tunjuk Keenan dengan dagunya.


"Lashira?"


"Kak Andine?"


Keenan mengambil ransel yang dibawa Lala.


"Kakak kenal Bang Keenan?" Lala balik bertanya.


"Iya dong. Kita kenal sudah lama. Iya kan Bang?" Andine melirik Keenan yang sedang memasukan tas ke dalam mobil.


"Oh.."


"Abang kok gak cerita sih, pacaran sama Lashira?"


'Ciee.. Sok kenal sok dekat. Pantes si Farel gak suka. Ganjen sih.'


"Dia istri aku, Andine."


"Serius Bang?" Keenan menangguk.


"Kok Abang gak undang aku sih?"


"Memang Bang Al gak cerita?"tanya Keenan disertai dengan gelengan kepala Andine.


"Sekarang percaya kan, Kak?" sindir Lala.


"Kakak pacarnya Bang Al?" Lala membuka suara.


"Sepupunya, Hon." balas Keenan. "Kita pulang duluan kalau begitu, Dine."


" Duluan ya Kak." Lala tersenyum manis.


Keenan mulai melajukan mobilnya. Sementara Andine sendiri masih mematung menatap keduanya menjauh.


"Aku gak nyangka dia saudara Bang Al, Bee." Lala masih membahasnya saat Keenan melajukan mobilnya.


"Memang kenapa?"


"Kamu tahu cowok yang aku ceritakan kemarin? Nah si Andine itu suka sama si cowoknya."


"Tahu dari mana?"


"Tahu lah, cari perhatian terus sama cowok itu. Tapi cowoknya dingin gitu sama dia."


"Kalau dingin, selimutin. Masuk angin tahu rasa!" Lala tertawa.


"Kalau Neng yang kedinginan gimana, Bang?" goda Lala.


"Naik ke atas kompor, tar Abang panasin"


"Jahat!"


"Lagian kamu bahas terus cowok lain. Gak mikir apa, Abang kepanasan!" Lala tersenyum senang.


"Paling suka kalau Abang sudah cemburu. Matanya itu, kayak mau copot".


"S*alan!" Lala terbahak.


Lala tertidur kembali saat Keenan membelokan mobilnya ke Apartemen.


"Honey.. Bangun. Sudah sampai, Hon."


"Kita gak ke rumah?" tanya Lala sambil mengerjapkan matanya


"Enggak. Abang mau istirahat disini."


Setelah mandi, Lala menghampiri Keenan yang sedang memakan buah anggur di meja makan.


"Yang semalam gak bisa tidur siapa?" Lala memainkan wajah Keenan yang sedang mengunyah.


"Sini" Keenan mendorong kursinya agar Lala bisa duduk di pangkuannya.


"Aneh gak ada kamu, Yong." Keenan melingkarkan tangannya di pinggang Lala. Mereka saling menatap. Lala memagut mesra suaminya.


"Abang tidur jam berapa?" kini tangan Lala terulur mengambil anggur. Dia menyuapi Keenan.


"Gak tahu, lupa. Abang ketiduran pas nonton film." Keenan menembakan biji anggur ke dalam dada Lala oleh mulutnya


"Abang!"


"Goolll. Keren kan Abang."


"Lengket Bambang!"


"Istirahat dulu Yong, nanti sore kita jalan."


"Kemana, Bee?"


"Rahasia."


***


Sesuai janji Keenan tempo lalu, kini Lala tengah menjalani latihan mengemudi. Dia duduk memegang stir mobil didampingi oleh instruktur profesional.


Mobil yang mereka gunakan merupakan modifikasi dari mobil biasa yang sudah dilengkapi rem dan kopling tambahan.


Pelan-pelan Lala mulai melajukan mobilnya. Dia sedikit tersenyum saat mobil yang dikendarainya melaju melewati jalanan sepi yang biasa digunakan untuk latihan mengemudi. Dalam dua jam, Lala sudah mulai lancar menjalankan mobilnya.


"Abang aku sudah mulai bisa, Bang" Lala begitu sumringah memeluk Keenan setelah selesai menjalan latihan.


"Pintaar. Istri siapa dulu dong?" Keenan mengecup puncak kepala istrinya. "Masih beberapa kali pertemuan. Kamu belum ke jalan ramai, belum belajar parkir juga."


"Iya. Abang, terima kasih ya, Abang baik banget sama aku."


"Kamu bicara apa? Kamu itu istri Abang. Kewajiban Abang bahagiakan kamu."


"Kadang aku masih gak nyangka punya suami kayak kamu. Beruntungnya aku."


"Iya. Kamu beruntung berjodoh sama aku yang ganteng, tajir, sayang kamu lagi."


"So sweet Abangnya aku walaupun narsis dikit. Aku cinta kamu tak terbatas, Abang Keenan Wijayaku."


Keenan tersenyum. "I love you unlimited"


"Sekarang kita kemana, sayang?" Lala masih memeluk suaminya.


"Pacaran. Kamu mau kemana?"


"Mall yuk, Bee.. Aku ingin beli ayam gunting."


"Heh? Ayam bunting?"


"Ayam gunting, Maliih! Yang suka aku beli itu."


"Hahaa.. Aku dengarnya itu, Yong."


"Apa mau ke THT?"


"Mau apa?"


"Periksa telinga kamu, Bee."


"Haha.. Rese!"


Tiba di Mall, Lala tak lantas turun. Dia ingin menguji Keenan apakah mau membukakan pintu mobil untuknya atau tidak. Dia ingin mempraktekan langsung yang sedang trand di sosial media.


"Hon, ayo turun."


"Kamu duluan saja, Bee. Aku belum beres."


"Aku pakai topi jangan?"


Lala meliriknya "Sudah gitu saja, sudah ganteng banget."


Lala sengaja berlama-lama, sementara Keenan menunggunya dengan memainkan ponselnya.


"Sana turun duluan, Bee."


"Belum di cium kamu, aku gak mau turun."


Lala sontak menoleh" Astaga.. Kamu nungguin itu?"


"Iya." Lala terbahak seketika.


"Kenapa sih?"


"Enggak. Suka saja dengar kamu bilang begitu" Lala mendekatkan wajahnya. Dia mel*umat bibir Keenan dengan rakus. Tak luput seluruh wajah Keenan dihujani ciuman Lala.


"Nafsu banget, Munah. Kamu ingin ya?"


"Iya."


"Anj*r tumben jujur" keduanya terbahak. "Mau pulang?"


"Enggak ah tanggung disini. Nanti malam saja ya?"


"Kuy." Keduanya turun bersamaan. Mereka berjalan menuju stand ayam gunting yang Lala maksud.


"Bee.. "


" hmm.. " Keenan fokus pada ponselnya.


"Mas Pram, Bee" Keenan langsung menoleh ke arah yang di tunjuk Lala.


"Mana?" Keenan masih memfokuskan pandangannya. "Haha.. Iya Hon."


"Eh sama cewek, dia Bee." Lala nampak sumringah.


"Ayo kita ikuti, Hon." Keenan menarik tangan istrinya.


"Ini belum beres, Bambang!"


"Oh iya"


"Sana, kamu duluan. Nanti kasih tahu aku, kalian ada dimana."


"Gak apa-apa kamu sendiri disini?"


"Iya. Buruan. Nanti hilang jejak mereka."


Keenan berjalan cepat mengikuti Mas Pram, sementara Lala masih menunggu snack miliknya.


"Abang dimana?" Lala berjalan ke arah Keenan tadi.


"Eskalator Yong. Mau ke lantai tiga. Kayaknya mereka mau nonton." tebak Keenan.


"Oke,Bee."


Lala berjalan lebih cepat untuk menyusul mereka. "Abang.."


"Sini sayang."


"Kamu belum temui dia?"


"Belum Yong. Abang nunggu kamu."


"Ayo kita samperin."


"Kamu akting Yong, kita balas dendam."


"Balas dendam apa?"


"Waktu Abang di tahan sama mereka di Hotel."


"Oh. Oke." Lala yang faham begitu bersemangat.


Lala dan Keenan kini berada tepat di belakang Mas Pram dan wanitanya.


"Mas.. Mas Pram.." panggil Lala. Mas Pram dan wanitanya menoleh.


"Sayang kok kamu sama wanita lain?" Lala memeluk lengan Mas Pram.


.


.


.


Yuhuuuu jaamaah jangan lupa ritual kita, oke?


Like, komentar, vote yang buanyaaakkkk..


Follow igehku juga : only.ambu


Terima kasih ^^