My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Balas Dendam



"Hon.." Keenan melangkah masuk kedalam kamar.


Lala mengambil bantal kemudian memukul Keenan dengan brutal. "Ngapain balik?" tanyanya dengan suara lantang. Lala tak henti memukul Keenan sementara Keenan berusaha menghindar.


"Hon.. Ampun Hon.." keenan mengangkan lengannya untuk menutupi wajahnya yang terkena amukan bantal.


"Ngapain balik hah?" Lala tak henti memukul. Nafasnya tersengal saking semangatnya memukul Keenan.


"Maaf Hon. Aku ketiduran"


"Rese banget lo ya! Aku nungguin, kamu asik-asikan tidur disana!" Lala memukulnya kembali.


"Ampun Yong. Ampun.. Sumpah ketiduran."


"Sana gak usah pulang. Dasar hom*!"


"Astagaaa jahat banget kamu bilang aku hom*! Najis Hon dipeluk mereka juga." Lala memukulnya. Dia berhenti memukul saat Keenan bicara.


"Najis.. Najis tapi tidur bareng! Br*ngsek Keenan! Kamu tega!"


"Maaf ih Hon. Asli aku ketiduran. Masa aku disuruh cerita malam pertama kita."


Lala membelalakan matanya. "Terus kamu cerita?"


"Enggak Yong. Cuma bilang harus ekstra kerja keras aja" polosnya.


"Astagaaaa Bambang Wijayaaaaa!" Kini Lala memukul Keenan dengan tangan kosong.


"Keenan Wijaya, Munaaah. Masa Bambang!" protesnya "Aw.. Sakit anjr*t!" saat lala mencubitnya kemudian memutar cubitannya.


Lala menyubit Keenan tak henti. Dia menggigit lengan Keenan. Keenan hanya pasrah membiarkan Lala menyalurkan amarahnya.


"Sssshhhh... " Keenan hanya mengusap-ngusap lengannya yang di gigit Lala. Tak ada protes atau perlawanan dari Keenan. Lala menggigitnya Tak hanya satu gigitan, dia menggigitnya di beberapa titik lengan Keenan hingga berbekas.


" Sumpah punya suami kayak kamu menguras emosi! Aku tinggal kawin lagi tahu rasa!"


"Apa?" Keenan menatap Lala tajam membuat Lala sedikit menciut.


"Kamu boleh siksa aku, tapi kalau kamu bicara begitu lagi awas aja!" ancam Keenan


"Suruh siapa kamu rese!"


"Sumpah ketiduran. Kamu omelin juga Mas Pram sama Bang Al juga, Hon. Kan mereka yang ngajakin aku gadang semalam."


"Gak ada urusan sama aku! Emang mereka suami aku apa!" Lala bersungut kesal. "Sumpah kesel banget sama kamu Keenan!"


"Maaf Hon. Sumpah ketiduran ih. Aku gak ngapa-ngapain."


"Bodo! Pokoknya aku bales ya! Lihat aja nanti kalau kamu sampai tidur di kasur." ketus Lala.


Lala segera mengambil ponsel miliknya kemudian memasukannya kedalam tas kecil miliknya.


Tak lama, dia menyemprotkan parfum di lehernya membuat Keenan menelan ludahnya seraya hendak mendekat.


"Mendekat aku semprot mata kamu!" ketus Lala membuat Keenan menghentikan langkahnya.


"Kamu mau kemana Hon?"


"Pulanglah! Bentar lagi waktunya check out!"


"Stay over aja Hon"


"Enggak! Aku besok kerja."


"Bolos sehari Pak Reza gak marah kali Hon."


"Apa?" Lala mendelik sebal


"Enggak Hon." Keenan tak berani saat tatapan mata Lala menusuknya.


"Semalam lagi aja ya? besok berangkat kantor dari sini." pinta Keenan.


"Enggak!" ketus Lala seraya membereskan barangnya. "Ngapain disini juga dianggurin!" ketusnya kemudian


"Nengnya ngarep dijamah Abang ya?" goda Keenan.


"Apa sih! Gak jelas!"


"Lah tadi bilang di anggurin?"


"Ya kira-kira aja Bambang! Malam resepsi aku di tinggal sendirian di kamar, di kunci pula. Pulang-pulang siang. Otak kamu dimana!"


Keenan ikut merapikan barang mereka. "Sumpah aku ketiduran sayang. Aku minta maaf." Keenan penuh sesal.


"Rasanya ingin cerai aja sekalian!"


"Apa sih La bahas-bahas cerai!" Ucap Keenan tak terima.


Lala menciyt kembali saat Keenan memanggil namanya. Terlihat jelas Keenan serius dengan ucapannya.


"Aku salah. Aku minta maaf. Aku janji gak bakalan gitu lagi, sayang. Sumpah."


"Gak usah sumpah-sumpah!" ketusnya.


Kini Keenan dan Lala terdiam.


"Hon, kamu mau makan dulu?" Keenan membuka suara.


"Astaga pake nanya. Ya makanlah!" teriaknya. "Mikir dong ini udah jam berapa!" ketus kemudian.


"Maaf. Yuma udah yuk makan, gak ada yang ketinggalan kan?" Keenan mengambil dompet miliknya. "Kamu pasti lapar banget, Hon."


Lala meliriknya sebal. "Astaga gak peka banget. Sumpah inginku berkata kasar." gerutu Lala.


Keenan tak menanggapinya kembali, dia menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya kemudian menyisir rambutnya dengan tangan.


"Sumpah Keenan jorok banget kamu gak mandi!"


"Lama Hon kalau mandi dulu. Kamu nanti keburu pingsan."


"Gegara siapa coba?" Lala menatapnya tajam


Keenan menoyor kepalanya sendiri "Salah gue. Salah gue. Salah gue" sontak membuat Lala menahan tawanya.


"Astagaaaa.. Kelakuan kamu kalau udah ketemu mereka jadi kayak begini tahu gak!" ketus Lala seraya berjalan keluar kamar.


Keenan menyusulnya seraya menyeret koper milik mereka, dia hendak menggenggam tangan Lala.


"Jangan pegang-pegang" ketus Lala.


"Elah.. Pelit amat Neng"


"Bodo!"


Mereka tiba di lobby hotel. "Hon, makan disini aja yuk? Biar gak buang waktu." ajak Keenan.


Lala tak menolaknya, perutnya sedari tadi meronta-ronta ingin diisi oleh makanan.


"Kamu mau makan apa Hon?" tanya Keenan.


Lala tersenyum licik. Dia memesan banyak makanan. 'aku kuras duit kamu, Bee!' batinnya bersorak riang.


"Gak salah kamu pesan semua?"


"Kenapa? Keberatan?"


"Eng..engak Hon. Tapi ini bakalan abis?"


"Brunch, you know! Jadi porsi double."


"Iya tahu, tapi bakalan habis?"


"kenapa sih bawel? Aku bayar sendiri aja kalau kamu keberatan!"


"Bukan keberatan. Cuma heran aja kamu pesen segini banyak."


"Masalah?"


"iya enggak Hon." Keenan tak mau banyak bicara lagi.


Tak berapa lama, pesanan mereka tiba. Satu meja penuh terisi oleh makanan yang dipesan Lala. Lala nampak antusias dengan makanan yang ada di hadapannya.


Dering ponsel Lala berbunyi.


" Iya Bu?"


"kamu sudah check out?" tanya ibu di seberang sana


"Sudah. Tapi aku lagi di restoran. Sini Bu" ajaknya


"Ngapain?"


"Jemur baju, Bu. Ya makan lah! Pake nanya si ibu. Astaga."


"Kamu sudah makan lagi jam segini?"


"Mending Ibu cepat turun deh daripada bicara di telepon gini" pinta Lala yang terbawa kesal gara-gara Keenan.


Dia mematikan sambungan ponselnya. Tak berselang lama, Ibu dan ketua RW tiba.


"Yuk makan bareng dulu Pak, Bu, sebelum pulang."


Mereka duduk dan nampak takjub dengan hidangan dihadapannya.


"Ayo Bu, Pak, jangan sungkan-sungkan. Suami aku lagi baik. Hehe"


"Duuh.. Sekarang manggilnya suami" goda Bu RW membuat Keenan tersenyum senang.


"Terima kasih banyak buat Nak Keenan yang memberikan Ibu Bapak pengalaman yang luar biasa." ucap Bu RW


"Betul. Rasanya saya gak akan pernah lupa loh Nak Keenan." timpal Pak RW.


"Pantes ya..banyak orang berlomba-lomba ingin jadi orang kaya, ternyata emang enak. Hahaha" keduanya tertawa.


Sementara Ibu bersikap santai dan merasa tak asing dengan keadaan seperti ini.


"bukan apa-apa Bu, Pak. Terima kasih sudah terlibat dalam urusan kami mulai dari awal pertemuan keluarga hingga sekarang. Maaf saya gak bisa menjamu lebih." ucap Keenan.


Mereka akhirnya berpisah setelah menghabiskan semua hidangan. Keenan dan Lala kini berada di mobil mereka untuk kembali ke apartemen.


"Honey. Kamu mau apa?"


"Apa?"


"Ya maksudnya ada yang kamu pengin gak?"


"Ada."


"Apa Hon? Bilang sama Abang"


"Ingin cekik kamu."


"Astaga.. Maafkan istri hamba, Tuhan."


Mereka tiba di basement. Lala hendak keluar dari mobil tapi Keenan menahannya.


"Hon, maaf ya. Janji deh gak gitu lagi. Sumpah, Abang ketiduran Honey."


"Bodo. Pokoknya malam ini kamu tidur di sofa." ketus Lala seraya keluar mobil.


Keenan hanya bisa menonton televisi saat Lala mengurung dirinya dalam kamar. Lala benar-benar merasa lelah setelah acara resepsi mereka hingga dia tertidur kembali.


Keenan seolah mati gaya, baru beberapa jam istrinya mengurung diri, membuatnya tak karuan. Dia bolak balik menekan daun pintu berharap pintu kamarnya terbuka.


"Brooo masih hidup?" Keenan membuka grup chat mereka


"Brengs*k kaliaaan sumpah. Awas aja kalau kalian married nanti aku bakalan balas dendam" keenan membubuhkan gambar evil di belakang pesannya.


"Ampuuunnn tuan mudaa" ~Mas Pram


"Jangan hukum kami Tuan Muda" ~ Bang Al


Keenan tak membalasnya kembali. "gak ada guna chat sama mereka!" gerutunya.


Menjelang petang, Lala tak lantas membuka pintu kamarnya.


"Hon.." Keenan mendekatkan telinganya di pintu. "Honeey.." tak ada jawaban dari Lala.


"Honey.. " Keenan menggedor pintunya. Lala masih tak membuka pintu.


"Astaga. Jangan-jangan dia pingsan." Keenan menjadi panik sendiri.


"Honeey.. Hon.. Bukaaa... "


" La... Lashiraaa... Sayaangg..."


Keenan tak henti menggedor pintu.


Ceklek


Suara pintu terbuka. Keenan menghela nafas lega saat melihat rambut istrinya berbungkus handuk.


"Apa si! Berisik tahu gak!"


"Aku gak tahu kamu mandi tahu Hon. Sumpah pikiranku udah kemana-mana" jujurnya.


"Kemana-mana, kemana? Ke Temen hom* kamu?" ketus Lala


"Astaga dibahas terus. Udah sih Hon. Aku janji gak bakalan gitu lagi juga."


"Kamu tuh kebiasaan tahu gak, kalau udah ketemu mereka kayak gak ada waktu lain."


"Ya kan emang jarang ketemu juga Hon" Keenan duduk di kasur.


"Keenan Wijayaaaa!" Lala berteriak


"Eh apa?" Keenan refleks berdiri.


"Kamu belum mandi ya seharian. Duduk di kasur pula!" Lala menarik tangan Keenan dan mendorong punggungnya "Sana mandi!"


"Gak satu ronde dulu gitu Yong?" Keenan mengerling nakal.


"Astagaaaa!" Lala hendak melepas handuk di kepalanya. Keenan yang takut segera masuk kamar mandi.


"Sumpah, baru seminggu nikah sama dia, aku harus rajin cek tekanan darah." gerutunya.


Keenan keluar kamar mandi dengan rambut basahnya. Dia bertelanjang dada mencari Lala keluar kamar.


"Aku pikir kamu kemana Yong"


"Kamu ngarep aku kemana!" ketus Lala seraya mendorong snack kentang masuk ke dalam mulutnya.


"Kuy jalan Hon"


"Kemana?"


"Cari makan. Kamu mau makan apa?"


"Apa ya? Gak tahu bingung aku."


"Ya udah, jalan aja dulu. Siapa tahu dijalan kamu kepengin apa gitu."


Lala masih asyik dengan snacknya ketika Keenan telah selesai memakai bajunya.


"Yong, kamu gak ganti baju apa?"


" Aku gini aja"


"Enak aja! Ganti! Kira-kira lah Yong kamu mau tengtopan pakai hot pans juga! Mau pamer?" ketus Keenan


Lala hanya menahan senyumnya, dia sengaja mengetes Keenan.


"Awas aja kalau kamu berani keluar pake baju kayak gitu dibelakang aku." Ketus Keenan seraya mengikuti Lala ke kamar.


"Kamu ngapain sih ngikutin?"


"Mau lihat kamu ganti baju. Salah-salah aku masukin kamu sekarang juga!"


"Keenan ih ngomongnya, Astaga! Gak tahu malu!


Keduanya kini tengah berada diperjalanan.


"jadi mau makan apa?"


"Gak tahu. Gak ada ide"


"Sate mau gak?"


"Ck.. Kuylah."


Keenan segera membelokan mobilnya ke restoran sate.


"Aku kira kamu bakal beli sate di Abang-abang pinggir jalan."


"Enggak lah Hon." Keenan menyentuh lengan Lala. Dirasa tak ada penolakan, dia menautkan jemari mereka.


"Bisa gak sih besok gak usah kerja?"


"Gak bisa."


"Kapan kamu mau resign?" pertanyaan yang selalu terlontar dari Keenan.


"Tunggu waktunya saja, Bee. Aku masih bingung."


"Soal Ibu, biar aku yang nanggung. Toh kita nanti kan tinggal bareng ibu juga. Nanti gaji aku, kamu yang pegang aja Hon"


"Masalahnya Ibu mau uang hasil anaknya, bukan dari kamu."


"Emang kenapa? Aku kan menantunya Hon."


"Nanti deh, kita bicara sama Ibu kalau udah enakan suasananya." Lala diam sejenak. "Aku tuh bingung, Bee. Aku harus patuh sama kamu. Disisi lain, aku cuma punya Ibu. Dan Ibu juga cuma punya aku aja."


"Iya aku faham. Tapi kadang, kita juga harus mikirin masa depan kita sendiri Hon. Lagipula aku juga gak keberatan tinggal sama Ibu. Cuma, aku mau kita menjalani rumah tangga ya kayak kita aja berdua tanpa campur tangan Ibu."


"Ya masa aku harus egois gitu?" Lala menyeruput minumannya "Bu Tasya, Pak Reza saja tinggal sama Pak Danu dan mereka baik-baik saja."


Keenan terdiam. "Tapi kan beda Hon, bapak-bapak simple sih pikirannya. Gak serumit Ibu-Ibu."


"Jadi maksud kamu ibu rumit?"


"Enggak. Bukan itu."


"Terus?"


"Aku takut Ibu ngatur kita gitu Hon"


"Apa selama ini Ibu banyak ngatur? Kok kamu jadi kayak gitu si?"


"Ya gak juga." Keenan menggaruk kepala belakangnya. "Maksud aku, aku gak mau kamu sampai nunda resign cuma gara-gara Ibu minta uang dari kamu. Uang aku sekarang uang kamu juga, Hon. Kamu bebas pakai apa aja."


"Yakin?"


"Ya iyalah Yong. Kamu kan istri aku."


"Gaji kamu berapa sih Bee? Dari dulu aku penasaran. Uang kamu gak abis-abis" Lala tertawa.


"Astaga. Kamu penasaran dari dulu kenapa gak tanya aja." Keenan membuka ponselnya. Dia membuka aplikasi salah satu bank.


"Ini gaji aku" Lala terbelalak melihat nominal di ponsel Keenan.


"Astaga.. Tahu gitu aku dari dulu minta yang mahal-mahal sama kamu."


Keenan tertawa. "Emang dasarnya bukan cewek matre mah gak akan bisa Yong."


"Aku sekarang mau matre sama kamu."


"Gak apa-apa. Asal servicenya memuaskan"


"Ck.. Kesana mulu!"


***


"Apa itu Bee?" tanya Lala setelah keluar dari kamar mandi. Mereka kini tengah bersiap untuk tidur.


"Dari dua makhluk gaib Yong." Keenan memutar kotak kecil tersebut. "Nih kamu yang buka" Keenan menyodorkan kotak tersebut.


"Kayaknya cincin Bee." Lala mulai membuka kotak tersebut. "Tisu galon?"


Keenan membelalakan matanya. "S*alan! Dikata aku gak kuat apa!"


"Apa sih Bee? Tisu apa sih?"


"Tisu sulap Hon"


"Buat apaan?" Lala nampak bingung.


"Aku gak bakal jelasin, yang pasti biar kamu rasakan sendiri manfaatnya. Aku juga belum pernah nyoba." Keenan menatap tisu tersebut. "Eh, aku coba pakai ya.. Biar kamu ngerasain" Keenan masuk ke dalam kamar mandi.


Tak butuh waktu lama, Keenan keluar dari kamar mandi dengan senyum penuh arti. Dia segera mencumb* Lala dengan liar. Lala membiarkan Keenan melakukan apapun yang diinginkan suaminya.


"Yong ini apa?" Keenan menyentuh bagian bawah Lala.


"Pembalut" Lala tersenyum. "Aku menstruas* Bee." Lala menyeringai seolah puas karena suaminya tak bisa berbuat apa-apa.


Itung-itung balas dendam atas perlakuan Keenan kemarin malam lah, begitu pikir Lala.


"Astagaaa Lashiraaaaaaa" Keenan berdecak sebal.


.


.


.


Jamaah HonBee jangan lupa like, komentar dan vote yang banyaak. Biar banyak yang baca juga, bantu share yaaa.. Makasih ^^