
"Bu Tita.." Bu Tita melirik Mama Keenan.
"Silahkan masuk." ujar Ibu Tita.
Ketiganya nampak kikuk saat duduk bersama.
"Ibu kenal orangtua saya?" tanya Keenan.
"Ya begitulah." ucapnya datar
Keenan merasa heran dengan tingkah mereka.
'Apa yang terjadi dengan mereka?' batin Keenan merasa tak enak.
"Silahkan disambil." ujar Ibu Rw menyodorkan makanan dihadapan mereka. Mereka meliriknya sepintas. Karina memasang wajah jijik saat melihat makanan dihadapannya.
"Macet diperjalanan?" tanya Pak Rw kemudian.
"Lumayan lancar, hanya macet di beberapa titik." ujar Pak Wijaya.
"Hmm.. Boleh saya langsung bicara?" tanya Pak Wijaya pada Pak Rw.
"Silahkan" Pak Rw memanggut.
"Saya langsung saja ya Bu agar menghemat waktu. Mohon maaf kedatangan saya kemari menganggu aktifitas keluarga Ibu."
"Kami kesini hanya ingin bersilaturahmi. Saya tahu, anak bungsu saya saat ini sedang dekat dengan gadis yang bernama Lala. Saya juga sempat bertemu dengan Lala beberapa kali. Dan ternyata dunia sangat sempit, jujur saya terkejut ternyata Lala putri dari Ibu Tita."
"Saya tak mau banyak berbasa basi, Bu. Putra saya menyukai putri Ibu Tita." Pak Wijaya melirik Keenan yang memasang wajah serius.
"Sekiranya Ibu sudi membiarkan hubungan mereka ke arah yang lebih serius. Mereka juga sama-sama sudah dewasa dan saya lihat keduanya saling menyayangi satu sama lain. Dan mungkin melalui ini, silaturahmi yang dulu terputus, mudah-mudahan bisa kita rajut kembali dengan situasi dan kondisi yang sangat berbeda." ujar Pak Wijaya.
"Saya juga sangat kaget saat mengetahui Keenan merupakan putra dari Ibu Mutia dan Bapak Wijaya." Ucap Ibu datar dan serius membuat Mama Keenan sedikit malu.
"Namun untuk urusan berlanjut atau tidak, saya serahkan kembali pada Lala." ujar Ibu tanpa menatap mereka.
"Saya panggilkan Lala saja ya, biar sama-sama enak ngobrolnya." ucap Bu Rw.
Lala berjalan didampingi oleh Ibu Rw seraya tersenyum malu melihat Keenan dan keluarganya. Dia memakai dress brokat selutut, nampak sangan anggun. Lala duduk disamping Ibu. Sementara Karina melihatnya tak suka. Dia sedikit memalingkan wajahnya.
"Boleh ya saya berbicara?" ucap Pak Rw
"Saya disini sebagai perwakilan keluarga dari Ibu Tita karena beliau disini seorang diri" Papa Keenan melirik Ibu Tita.
"Lala sendiri merupakan anak yatim, Bapak, Ibu. Ayahnya meninggal saat Lala masih kecil." kini Mama Keenan menatap Ibu Tita.
"Ibu Tita sebagai single parent yang luar biasa buat kami. Jujur, saya pribadi merasa kagum dengan sosok Ibu Tita. Ibu Tita mampu membesarkan anak semata wayangnya sehingga menjadi anak yang baik dan berbakti seperti sekarang yang Ibu, Bapak lihat."
"Nah sekarang La, teman dekat Lala mau mengajak Lala ke jenjang yang lebih serius, apa Lala bersedia?" Lala melirik Ibunya.
"Iya Pak, saya bersedia." ucap Lala membuat semua yang ada disana tersenyum kecuali Ibu.
Mama Keenan mengeluarkan satu kotak cincin dan memberikannya pada Pak Wijaya.
"Ini sebagai simbol keseriusan kami. Untuk pertunangan mereka secara resmi, nanti biar kami yang atur semuanya." ucap Pak Wijaya memberikan kotak cincin tersebut pada Pak Rw.
"Maksudnya bagaimana ya Pak?" tanya Pak Rw.
"Keenan kan anak bungsu kami, Pak. Jadi saya ingin pertunangan mereka dilakukan secara resmi."
"Loh jadi sekarang apa?"
"Maaf pak tanpa mengurangi rasa hormat, untuk sekarang sebagai simbol keseriusan keluarga kami pada keluarga Lala" ucapnya
"Oh, iya iya."
"Bagaimana Bu Tita?"
"Terserah saja."
Pak Rw membuka cincin berlian yang dipegangnya.
"Ini mau disematkan oleh Mas-nya atau bagaimana?" tanya Pak Rw
"Gak usah Pak. Nanti saja kalau sudah muhrim." sela Ibu.
"Oh iya." Pak Rw tersenyum sambil memberikan cincin tersebut pada Ibu Lala.
Pak Rw mengajak bicara Papa Keenan sementara Mama Keenan hanya diam tak banyak bicara.
"Ma, Mama kenal mereka?" tanya Karina berbisik pada Ibunya
"Hanya kenal Kak."
"Oh."
Keenan dan Karina merasa aneh dengan gelagat orangtua mereka. Ibu Tita masuk ke ruang tengah pura-pura sibuk menyiapkan hidangan.
"Ajak makan sekarang saja ya?" ucap Ibu Rw.
"Iya Bu Rw. Ibu tolong atur saja ya Bu, saya sedikit pusing" ucap Ibu Tita.
"Beres."
Bu Rw mengajak mereka masuk ke ruang tengah, mereka membuntutinya seraya mengedarkan pandangannya melihat kondisi rumah Lala.
Mama Keenan mendekati Ibu Lala.
"Boleh saya berbicara sebentar Bu?" dia duduk disamping Ibu Tita.
"To the point saja ya Bu. Saya minta maaf atas perbuatan saya dan Pak Wijaya dimasa lalu, Bu. Saya harap, Ibu memaafkan saya dan menerima Keenan setelah mengetahui Keenan anak kami. Saya tahu Keenan sangat menyayangi Lala, begitupun sebaliknya. Saya harap kita bisa menjadi keluarga." Mama Keenan nampak memohon sementara Ibu Tita diam tak menyahutinya.
"Tante, ayo makan dulu" ajak Lala menghampiri mereka tanpa dia tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
"Terima kasih La." Mama Keenan mengikuti ajakan Lala sementara Ibu masih membisu.
Ibu lebih memilih berbincang dengan tetangganya di dapur untuk menghindari mereka. Sementara Pak Rw dan Ibu Rw sibuk menjamu keluarga Keenan.
"Hon, kamu sadar sesuatu?"
"Apa Bee?"
"Orangtua kita saling kenal. Tapi kayaknya mereka agak aneh"
"Aneh gimana?"
"Biasanya ketemu teman lama kan sumringah, saling berbincang. Tapi melihat mereka kayak ada sesuatu." ucap Keenan
"Nanti aku coba tanyakan sama Ibu ya."
"Iya Hon, coba aja kamu tanya Ibu."
"Bee"
"Hmm.. "
"Kenapa kasih aku cincin lagi?"
"Gak apa-apa. Itu simbol keseriusan aku depan orangtua."
"Kenapa gak pakai yang kemarin saja?"
"Sudah gak usah banyak tanya deh, Hon. Terima saja."
"Aku malah gak enak Bee."
"Kenapa?"
"Dari kami apa adanya. Maaf ya."
"Kamu bicara apa sih? Aku gak suka." Keenan menatap Lala
Pembicaraan mereka terhenti saat Pak Wijaya pamit dari rumah Lala.
"Kenapa buru-buru sekali?" tanya Pak Rw
"Iya, mohon maaf saya ada keperluan mendadak." ucap Pak Wijaya
"Kami juga minta maaf, kami ya segini adanya. Istana kami juga sangat luas sekali, barangkali keluarga Pak Wijaya kurang nyaman dengan keadaan kami."
"Kami tidak masalah Pak. Terima kasih atas jamuannya. Saya dan keluarga mohon undur diri." ucap Pak Wijaya menyalami mereka satu persatu.
Mama Keenan memeluk Lala.
"Mama titip Keenan ya La, tolong terus dampingi Keenan seperti sekarang. Kamu juga nanti sering ke rumah ya. Kita harus persiapkan untuk pertunangan kalian" Ujar Mama Keenan
"Iya Tante."
"Panggil Mama saja, kita kan sebentar lagi jadi keluarga La"
"Oh iya Ma." Lala tersenyum malu.
Ibu segera masuk ke dalam saat mereka pergi.
"Wah, Ibu Tita calon besannya wow banget" ucap Ibu Rw.
"Gak ngaruh buat saya Bu Rw. Saya ya tetep saja begini. Masa saya mau minta sama mereka." ucap Ibu.
"La, coba lihat cincinnya." pinta Bu Rw
"Berlian nih. Kalian punya gak?" pamer Bu Rw
"Mana Bu lihat" pinta tetangga Lala
"Kok sama aja kaya berlian palsu ya Bu? Kita mana bisa bedakan yang asli dan yang palsu." celetuknya.
"Norak lu" Ucap Ibu Rw
"Memang Ibu bisa bedakan?"
"Ya kagak. Mana pernah kita punya berlian." mereka tertawa.
Suasana rumah Lala kini sepi. Lala merebahkan tubuhnya seraya memainkan cincin miliknya.
"Bee.." Lala mengirimkan gambar tangannya dengan dua cincin bersemat dijari manisnya.
"Kenapa gak sebelah-sebelah sih di pakainya?" Keenan membalas pesan Lala
"Enak aja! Kita kan belum nikah."
"Haha.. Iya ya"
Tak lama pesan baru dari Keenan.
"Hon"
"Irit banget tulis pesannya. Apa sih? Kangen? Aku juga. Heehe"
"Ge'er Maemunah!"
"Oh jadi Abangnya gak kangen?"
"Kangen dong. Hon sudah tanya Ibu?"
"Belum Bee. Ibu dikamar terus. Katanya gak enak badan. Kecapean kali"
"Oh. Kasih vitamin Hon."
"Ciee calon mantu perhatian."
"Mantu idaman dong Hon"
"Aamiin."
"Haha..tahu aja Abangnya."
"Tahu lah, pasti megang cincin sambil senyum-senyum kan?" tebak Keenan lagi
"Astaga, kamu kayaknya harus ganti profesi jadi peramal Bee."
"Haha..enak aja! Dah istirahat dulu sana. Love you, Honey. Aku mau mandi."
"Mandi yang bersih ya. Love you too, Bee."
***
Keenan dan Lala semakin hari semakin mesra walau mereka tak selalu bertemu tapi Keenan mencurahkan semua perhatiannya pada Lala.
Sayangnya, pertunangan mereka di undur karena Pak Wijaya dan istrinya kembali ke luar negeri akibat kondisi kesehatannya yang menurun kembali.
"Bee, aku mau ke rumah Bu Tasya ya, dia sudah pulang ke rumah." Lala menelpon Keenan. Mereka tengah mengetahui bahwa Tasya tengah menjalani pemulihan pasca kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.
"Sama siapa?"
"Seperti biasa. Memang mau sama siapa lagi."
"Ya sudah, kamu hati-hati ya Hon."
Lala memesan ojek online menuju rumah Tasya. Dia sangat senang mendapat izin dari Pak Danu untuk mengunjungi Tasya.
Setibanya dirumah Pak Danu, dia nampak bahagia saat melihat Tasya yang terlihat sehat.
Lala berbincang banyak hal dengan Tasya hingga dia keceplosan bicara mengenai Keenan. Tasya yang penasaran, terus menerus mendesaknya agar bercerita. Tapi Lala menahan diri tidak menceritakan rencana pertunangan mereka. Dia sengaja ingin memberi surprise pada Tasya nanti.
Tasya yang ikut bahagia, menyuruh Lala agar Keenan kerumahnya sekedar untuk melepas rindu dengan kedua orang yang selalu bertengkar dihadapannya.
"Bee, kamu lagi apa? Bu Tasya ingin ketemu kamu loh Bee" Lala mengirimkan pesan padanya tapi Keenan tak membalas pesan tersebut hingga Tasya pulang ke rumahnya.
"Ih, dia kebiasaan deh gak ada kabar." gerutu Lala.
"Assalamu'alaikum Bu."
"Wa'alaikumussalaam."
"Sedang apa Bu?"
"Sedang nonton saja."
"Ih Ibu sekarang gak asyik deh. Kenapa sih Bu? Kok rasanya Ibu berubah setelah ketemu keluarga Keenan?"
Ibu tak menyahutinya.
"Ibu kenal mereka?" tanya Lala
"Ibu ngantuk La. Bicaranya nanti saja" potong Ibull seraya masuk kamar.
"Baru jam segini Ibu, banc* saja masih ngutekin kukunya." gerutu La
Sudah hampir sebulan Ibu nampak lebih murung dari biasanya. Dia tak banyak bicara dan lebih sering berada di kamarnya. Lala sebenarnya penasaran, tapi Ibu selalu menghindar saat Lala bicara.
"Hon, ke KP yuk?" ajak Keenan
"Aku ganti baju dulu." ucap Lala
Tok.. Tok.. Tok..
Ibu membuka pintu rumahnya.
"Assalamu'alaikum Bu."
"Wa'alaikumussalaam."
"Bu, aku boleh ajak Lala ke KP sebentar Bu?" tanya Keenan
Ibu melirik jam.
"Jangan malam-malam pulangnya" ucap Ibu seraya meninggalkan Keenan.
Keenan merasa tak enak hati dengan perubahan sikap ibu. Dia ingin sekali bertanya secara langsung namun dia takut menyinggung Ibu hingga akhirnya dia hanya mengurungkan niatnya tersebut.
"Sudah bilang sama Ibu, Bee?"
"Sudah Hon."
"Bu, aku sama Keenan ke KP dulu ya Bu. Assalamu'alaikum."
Mereka kini diperjalanan menuju KP.
"Hon, ibu masih belum bicara?"
"Setiap aku bahas, Ibu selalu menghindar Bee."
"Aku penasaran. Ibu benar-benar berubah. Apa Ibu tak menyukaiku Hon?"
"Gak mungkin Bee."
"Aku penasaran dengan masa lalu antara orangtuaku dan orangtuamu. Mereka dulu kenapa?"
"Kamu gak coba tanya Mama Papa?"
"Aku gak berani. Apalagi kondisi Papa yang masih ngedrop kayak begini.
"Iya juga ya." Lala menyandarkan keoalanya di lengan Keenan.
"Bee, kalau kita ternyata gak berjodoh bagaimana ya?"
"Kok kamu bicaranya gak enak begitu?"
"Entahlah. Aku tuh kadang merasa percaya gak percaya Bee dengan hubungan ini."
"Gak suka deh, kamu selalu bicara begitu."
"Hhh..entahlah Bee.. " Lala memejamkan matanya.
"Percaya saja kita berjodoh sayang." Keenan mengusap lembut kepala Lala
Lala memainkan cincin di jarinya hingga mereka tiba di KP.
"Broo.."
"Maskuuuu" ucap Lala
"Masku Masku" Keenan menoyor kepala Lala.
"Haha.. Jangan marah-marah Abangku."
Seperti biasa, Desi menghampiri mereka dengan membawa daftar menu. Dia masih penasaran dengan Keenan.
"Mas Pram, aku boleh lihat gak sih meracik minumannya?" tanya Lala
"Tentu saja La."
"Ngapain kamu izin sama dia."
"Boleh Bee?"
"Boleh tapi hati-hati"
"Mbak, mau gak temani aku?" tanya Lala pada Desi yang setia mendengarkan percakapan mereka.
"Boleh Mbak. Yuk kesini" ajak Desi
"Mas, ajarkan meracik kopi dong." ucap Lala pada bartender.
"Ciee Mbak mau bikin buat calon suaminya."
"Hehe iya lah Mas, masa buat kopi enak gak bisa. Nanti dia kesini terus dong" Lala tertawa.
"Posesif nih Mbaknya."
"Haha becanda Mas."
Lala menyimak penjelasan bartender, dia mengikuti step by step arahan dari bartender tersebut. Setelah selesai, Lala menghirup aroma cappuccino yang dia buat. Dengan sengaja Desi menyenggolnya sehingga cappuccino tersebut tumpah dan mengenai baju Lala.
"Mbaak, maaf Mbaaak. Saya gak sengaja." ujar Desi seraya membantu Lala mengelap bajunya.
"Untung dingin" ucap Lala.
"Tolong panggilkan Keenan saja"
Keenan dan Mas Pram menghampiri Lala.
"Kok bisa tumpah ke baju begitu sih?" tanya keenan saat mendekat.
"Pakai bajuku saja La." usul Mas Pram.
"Enggak." Keenan memotongnya
"Kamu pakai baju aku saja. Biar aku yang pakai baju Mas Pram."
"Dih posesif sekali anda." ujar Mas Pram
"Gak sudi ya, nanti tubuhnya Lala bau kamu, Mas!" ketus Keenan
"Yuk ke atas." Keenan menarik tangan Lala.
"Dia sengaja deh nyenggol aku, Bee."
"Siapa?"
"Desi"
"Gak mungkin, Honey. Masa sengaja sih? Gak ada kerjaan banget."
"Masa tiba-tiba dia nyenggol coba? Kan dia gak lagi ngapa-ngapain. Emang ada jin yang dorong dia apa?"
"Jangan nuduh sembarangan. Gak enak sama Mas Pram."
"Aku mau pulang saja Bee." ketus Lala yang kesal saat Keenan tak percaya padanya.
***
Keenan dan Lala tiba di rumah. Lala yang kesal sengaja bersikap cuek pada Keenan.
"Panggil Ibu Hon, aku mau pamit."
Lala memanggil Ibu memberitahu Keenan yang akan pamit.
"Tinggal pulang saja pakai bilang segala!" ceplos Ibu tak sadar dengan suara pelan namun terdengar oleh Keenan.
Keenan yang mendengarnya merasa tak enak hati.
"Bu, aku boleh tanya sesuatu?"
"Apa Ibu membenciku?" tanya Keenan
.
.
.
Gaeess dukung terus HonBee yaa.. Jangan luoa like dan komentarnya. Bantu vote juga. Terima kasih ^^