My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Aku Cinta Kamu Tak Terbatas



Pagi buta, Lala tengah bersiap untuk pergi ke kampus. Sementara Keenan masih berada di alam mimpinya.


"Abang mau antar aku gak?" Lala mengguncang tubuh suaminya.


"Heem." Keenan masih memejamkan matanya.


"Cepat dong, Bang! Aku bisa di hukum lagi kalau terlambat." Keenan masih asyik di dunianya.


"Abang! Buruaan!"


Keenan membuka matanya. Dia menatap Lala yang tengah bersiap.


"Aku naik ojek saja! Lama!" keluh Lala


"Iya ini mau cuci muka." ucapnya seraya hendak bangun.


Lala tak hentinya bolak balik di depan toilet. Pasalnya sudah lebih dari sepuluh menit Keenan tak keluar dari kamar mandi.


"Abang jadi antar gak sih! Lama amat!" ketusnya


"Abang mules, Hon. Ambilkan dompet sama ponsel." titah Keenan yang berjalan lebih dulu menuju mobil mereka.


"Abang jorok! Masa cuci muka doang? Aku kira Abang mandi!"


"Abang santai ini. Lagian kamu bawel banget."


"Sudah jam segini Bambang! Awas saja kalau aku telat, Abang tanggung jawab!"


"Iya pasti, Sayang! Abang kan Papanya. Masa gak tanggung jawab."


"Ngaco si Bambang!"


"Lah? Kata kamu kalau telat Abang harus tanggung jawab?"


"Bukan itu Keenan Wijaya! Tahu ah! Males sama Abang!"


Lala duduk dengan cemas saat jalanan mulai padat.


"Makanya nanti bawa motor yang di rumah Mama! Jadi gak usah bawa mobil. Lama kan jadinya!" Lala menampakan keresahannya.


"Siapa sih ketua Senatnya? Biar Abang yang bilang."


"Memangnya aku bocah, apa!" ketus Lala


"Emang! Nih sekarang, kayak bocah lagi dianterin Papanya." Lala tersenyum malas.


"Cepat Abang ih!"


"Astaga! Kamu mau Abang nabrak orang?"


Lala membisu hingga mendekat ke arah kampus. "Stop disini."


"Belum gerbang." Keenan segera menepi.


"Nanti aku di hukum lagi!" Lala hendak keluar mobil.


"Lashiraa!"


"Apa?"


"Tangan Abang dianggurin." Lala tersenyum melihat tangan Keenan yang sudah terulur.


"Maaf. Lupa." mereka melakukan ritual perpisahan dengan berbalas mengecup seluruh wajah.


"Abang bau dragon!" ucap Lala setelah mengecup bibir Keenan.


"Abang sudah gosok gigi, tahu!"


Lala berjalan dengan tergesa sementara Keenan membuntutinya perlahan.


'Manusia itu lagi.' racau Lala dalam hati.


Farel dan Andine menunggu di gerbang Kampus.


"Cek kebersihan kuku." ucap Andine.


Sambil melintas, Keenan melirik kedua senior Lala saat Lala sedang memperlihatkan kukunya. "Banyak tingkah bocah sekarang!"


"Panjang nih kukunya." ucap Farel seraya menyentuh tangan Lala. Sontak Lala menarik tangannya.


"Pelit banget sih, pacar." ucap Farel


Lala dan Andine menoleh kepadanya. Lala hanya diam, dia malas berdebat dengan pria dihadapannya. Cukup Keenan yang membuatnya kesal pagi ini.


"Kamu gabung kesana." titah Andine.


'Cuma gara-gara kuku doang!' Lala mulai jengah.


Lagi-lagi Lala mendapat hukuman. Kali ini, seorang senior bernama Melly yang memberikan hukuman.


"Rules-nya seperti kemarin ya. Mulai dari kamu." ucapnya pada Lala yang baris paling depan.


Lala mengambil kocokan kemudian membacanya. "Merayu senior"


"Cieee... " suasana mulai memanas.


"Kamu mau merayu siapa? Gak mungkin aku kan ya, harus senior cowok." tegas Melly.


"Kalau gak mau gimana kak?"


"Kalau gak mau? Bersihkan ruang senat."


Lala nampak berpikir. Dia sudah malas dengan permainan bod*h mereka.


"Aku bersihkan ruang senat saja Kak." pinta Lala.


"Huu.. " teriakan teman-teman yang mencibirnya bersahutan seperti biasa.


"Kenapa gak merayu saja?" tanya Melly.


"Kemarin kamu nyatakan cinta sama Farel kan? Sekarang rayu dia dong." Kejadian Lala kemarin membuat para senior tak menyangka, pasalnya Farel dikenal sok jual mahal pada maba.


'Malas banget! Nanti dia bersikap seenaknya lagi!' gerutu Lala.


"Enggak deh Ka. Aku bersihkan ruang senat saja."


Melly tertawa. "Baru kali ini ada maba yang nolak Farel."


Teriakan demi teriakan mengantarkan kepergian Lala ke ruang senat. Lala mulai mengambil peralatan pel dan masuk ke dalam ruangan sepi tersebut.


Lala menikmati kesendiriannya dengan bernyanyi sambil memainkan kain pel. Tanpa dia sadari, seseorang memperhatikannya di ambang pintu.


"Astaga kaget!" ucap Lala saat berbalik.


"Nampaknya kamu menikmati hukuman." ucap orang itu. Siapa lagi kalau bukan Farel. Senior tampan nan menyebalkan.


"Terus aku harus menangis meraung-raung cuma karena di hukum?!" sinis Lala.


"Kamu bisa sopan sama senior?"


"Bisa. Asalkan senior tersebut tidak bersikap seenaknya!" ketus Lala mengingat kejadian kemarin.


"Siapa yang kamu maksud?"


"Entahlah, yang merasa saja." Lala membawa ember dan kain pel hendak keluar. "Permisi." Farel dengan sigap menghalangi Lala.


"Apa kamu marah gara-gara kemarin? Hei Pacar! Kalau kamu gak ikhlas, aku balikin uang kamu."


"Bukan gak ikhlas tapi tidak sesuai perjanjian." tegas Lala


"Jadi kamu ikhlas?"


"Ck.. Iya" ucapnya malas.


"Baguslah Pacar."


"Saya bukan pacar kakak"


"Kamu lupa, kemarin kamu nyatakan cinta sama saya."


"Itu kan cuma hukuman, Kak."


"Bagiku bukan."


Lala menatapnya tajam. 'Cari masalah bocah ini.'


"Maksudnya apa?"


"Bagi saya kemarin pernyataan cinta yang sesungguhnya dari kamu. Saya tahu, kamu menyukai saya."


' Astaga pedenya selangit ini bocah!'


Lala tersenyum mengejek. "Maaf Kak, saya sudah bersuami. Tidak mungkin saya menyukai lelaki lain."


"Hhmmmffff...hahaha.. Gak nanggung kamu berbohongnya." Farel tertawa lagi.


"Terserah kakak mau percaya atau enggak. Permisi."


Lala meninggalkan Farel yang yang masih menahan tawanya.


"Iya awalnya teepesona. Lama-lama eneg sama itu bocah! Masa bod*h dengan senior itu!" gerutu Lala seraya menjauh.


Lala bergabung kembali dengan temannya.


"Hobby dihukum Neng." Arabella menyindirnya.


"Mereka yang hoby hukum orang!"


Arabella tertawa. "Kamu dicari Kak Andine, La."


"Mau apa?"


"Entahlah."


Lala dan semua maba bermain games di lapangan secara berkelompok. Disana mereka beradu kekuatan dengan permainan tarik tambang. Lala mengipas wajahnya dengan tangan saat beristirahat setelah lelah berpanas-panasan.


Dari kejauahan, Farel memperhatikan Lala yang duduk dipinggir lapangan sambil berbincang bersama temannya. Tak berapa lama, dia menghampiri Lala. Farel menyodorkan satu botol air mineral dingin pada Lala. Lala mendongak, menatapnya tak percaya.


"Ambil, La. Haus nih." Arabella menyenggol lengan Lala seraya berisik.


Lala mengambil air tersebut. "Terima kasih, Kak." Baru Farel hendak bicara, Lala memberikan air tersebut pada Arabella.


"Buat kamu saja."


"Hei, aku kan kasih buat kamu!" protes Farel tak terima.


"Buat aku kan? Aku kasih ke orang gak masalah dong, Kak." Lala membalas perlakuan Farel kemarin.


Farel menahan kesalnya, "Baik banget sih kamu, pacar." Farel mengacak rambut Lala. "Lain kali, bilang kalau mau air berasa. Aku pergi ya, jangan nyari." ucapnya dengan percaya diri.


"Kamu serius sama dia, La. Atau memang sudah pacaran sebelumnya?"


"Haha.. Enggak lah."


"Dia naksir beneran deh sama kamu. Sampai perhatian begitu. Uh so sweet, La. Kalau dia ngajak serius, iya-in saja."


"Kalau aku bilang. Aku sudah nikah kamu percaya?" tanya Lala penasaran.


"Kamu MBA?"


"Married By Accident maksud kamu?"


"Iyalah. Apalagi?"


"Ya kali, Menanam Benih Asmara." Keduanya cekikikan. "Sama saja."


"Enggak lah. Aku gak MBA. Aku cuma sudah nikah saja." umbar Lala.


"Masa sih?" Arabella tak percaya.


'Ngapain La jelasin sama mereka, toh mereka gak akan percaya!'


"Huum."


"Bohong juga gak ada untungnya Arabella." kesal Lala.


Selepas ospek, ternyata Farel sengaja menunggu Lala di depan gerbang.


"Kamu pulang sama siapa?" tanya Farel menatap Lala.


"Ada yang jemput."


"Aku punya video seseorang. Mau lihat?" Farel menawarkannya sambil tersenyum.


"Jangan bilang, kamu rekam aku diam-diam!"


"Kok kamu pinter sih?" Lala membelalakan matanya.


Lala mengingat kelakuannya sedari pagi. 'Jangan-jangan video lagi ngupil? Astaga! Kalau iya, bikin malu.'


"Cepat kasih lihat, Kak. Aku mau pulang." ucap Lala penasaran.


Lala mendekat setelah Farel mulai membuka videonya. Lala melihat dirinya sedang mengepel lantai sambil bernyanyi.


"Hapus Kak videonya."


Farel menggelengkan kepalanya. "Ada syaratnya."


"Apa?"


"Kamu jadi pacar aku beneran."


"Aku sudah nikah, Farel. Mending sama Andine saja. Dia suka sama kamu."


" Hei kamu gak sopan sama senior!"


"Sekarang bukan waktunya ospek." jawab Lala cuek.


"Oke. Yang jelas, aku gak tertarik sama Andine."


"Terus kenapa kamu tertarik sama aku? Kita baru ketemu Farel. Kamu jangan ngaco!" 'Astaga pedenya si Lala. Tumben orang ganteng deketin duluan.'


"Aku tertarik sama kamu. Cuma kamu yang berani sama aku. Cewek lain biasanya menyerahkan diri sebelum aku minta." Farel tak basa basi.


"Gila.. Menyerahkan diri" gumamnya


'Giliran sudah laku, yang ganteng pada nyamperin. Astaga! Kalau gak ingat kamu, Bee. Aku terima ini bocah.'


"Terserah. Aku gak ada waktu buat main-main."


"Aku gak main-main, Lashira!".


Lala sedikit terkejut saat Farel menyebut nama lengkapnya.


"Please Farel. Kamu cari mangsa lain, oke? Jangan ganggu aku." Lala tahu akal bulus para senior yang sedang mencari mangsa untuk malam keakraban di hari terakhir ospek nanti.


"Oke, aku sebarkan video kamu kalau kamu gak mau."


"Terserah!" Lala meninggalkan Farel begitu saja.


"Sumpah. Ganteng-ganteng beg*! Masa nyatakan cinta baru kenal dua hari." gerutunya


"Apa jangan-jangan, dia sama kayak aku waktu ketemu si Abang." Lala tersenyum sendiri saat mengingat tingkah konyolnya.


"Tapi aku gak senekat si Farel. Minimal masih punya harga diri walaupun dulu pernah chat si Abang duluan."


"Sekarang jangankan di chat, dihamilin juga aku rela." Lala tertawa sendiri tiada henti. "Astaga aku kayak orang gila. Untung sepi."


Mengingat Keenan, Lala langsung menelepon suaminya.


"Abang dimana?"


"Abang masih di kantor. Kamu sudah pulang?"


"Baru bubar. Ya sudah, aku pulang duluan kalau begitu, Bang."


"Iya, Abang sebentar lagi pulang ya. Love you unlimited."


Keenan pulang dengan membawa martabak kesukaan mertuanya. Tentu saja Ibu sangat senang diperhatikan oleh menantunya. Mereka berkumpul bertiga di ruang makan.


"Keen, kamu gak mau kontrol rumah?"


"kontrol kok Bu. Baru tadi, habis pulang anter Lala."


"Oh syukurlah."


"Sudah berapa persen memangnya, Bee?"


"50 persen ada kali, ya Bu?" Keenan menyuapkan martabak ke mulutnya.


"Iya kali. Pokoknya Ibu kesana gak fokus. Malah ngobrol saja sama yang lain."


"Memang Ibu kesana sama siapa?" Keenan sedikit penasaran.


"Biasa Bee, Kader squad." Keenan terbahak seketika.


"Astaga! Kader squad."


"Ya masa Ibu sendirian kesana. Gak enak lah."


"Ibu pasti pamer." tebak Lala.


"Enggak lah. Gak salah maksudnya." mereka terbahak.


"Pamer saja Bu, aku suka." timpal Keenan


"Apa sih Abang. Gitu saja di pamerin."


"Ya kan nanti tuh 'Duh suaminya Lala baik banget, beruntung Bu Tita punya mantu.' gitu kan Bu?"


"Haha.. Apa sih Abang! Kamu ingin di puji-puji." Ibu ikut tersenyum mendengar ocehan menantunya.


Keenan mengajak Lala masuk ke dalam kamar setelah lama berbincang bersama Ibu.


"Tadi ospek gimana?"


"Bee, Ingat kan cerita kemarin yang aku disuruh nyatakan cinta?" Keenan menangguk "Masa tadi senior itu bilang aku nembak dia serius." Lala tertawa.


Keenan menatapnya. "Terus?"


"Aku bilang sudah nikah. Dia gak percaya."


"Besok aku ke kampus."


"Gak usah. Nanti kamu bikin masalah lagi!"


"Terus kamu suka, Dia godain begitu?"


"Ya enggaklah Bambang. Lihat cowok cakep pas udah nikah itu, cukup di kagumi doang."


Keenan menoyor kening istrinya "Nakal"


"Lah emang bener. Jujur saja, kamu juga begitu, kan?"


"Ya cukup diam-diam saja. Gak usah bilang."


"Haha..s*alan si Abang!"


"Oke, Abang masih bisa tahan. Tapi kalau nanti dia mulai kurang ajar sama kamu. Awas saja."


"Aku gak maksud ngadu loh Bee. Aku cuma pamer, kalau aku masih laku sama brondong" Lala terbahak.


"Lashira!" Keenan mengelitiknya. "Mulai nakal ya kamu!" Keenan menggeray*ngi istrinya.


"Astaga! Itu mah mes*m woi!" Lala masih berkelit.


"Abang hamilin yaa, kamu."


"Neng pasrah Baaang." ucap Lala menggoda.


"Haha.. Anj*r jijik dengarnya juga!"


"Kenapaaa siiihh jijiik segalaa." Ucap Lala dibuat-buat.


"Amit-amit punya bini otaknya tinggal separo." Keenan terbahak.


***


Hari terakhir ospekpun tiba. Lala dan Keenan masih berdiam diri dikamar mereka.


"Yong, ke Apartemen yuk?"


"Kenapa?"


"Kamu nginep di Kampus, Abang di Apartemen saja, ya?"


"Kamu mau celup-celup sama wanita lain?"


"Astaga! Masih waras Abangnya, sayang!"


"Heh! Emang yang suka selingkuh gak waras apa?"


"Iyalah. Gak waras juniornya, mau saja celup sana sini. Rasanya pasti sama-sama saja."


Lala terbahak seketika. "Rasanya gimana memang Bang?"


"Rasakan saja sendiri."


Lala menyiapkan perlengkapan untuk malam keakraban di Apartemen. Dia membawa ransel milik suaminya.


"Abang, aku lupa gak bawa jaket."


"Bawa hoddie Abang saja, Hon." Keenan mengambil hoddie miliknya kemudian memberikannya pada Lala.


"Kamu berangkat jam berapa jadinya?" Keenan duduk di tepi kasur menyaksikan Lala yang masih mempersiapkan perlengkapannya.


"Jam empat sore harus sudah ada disana, Bee."


"Ya sudah yuk."


"Kemana?" Lala meliriknya setelah menutup ransel.


"Masa Abang gak di bekali? Nanti malam Abang kan sendirian."


"Kuy Bang." Lala naik kepangkuan suaminya.


Setelah pergumulan panas mereka, Keenan dan Lala kini berada di perjalanan menuju kampus. Lala menyuapi toast kesukaannya yang dia pesan dari KP.


"Ngapain si Arabella di depan?" gumam Lala


"Siapa Arabella?"


"Teman aku lah."


"Aku turun sayang." Lala melakukan ritual mereka.


Keenan hendak bicara, namun telunjuk Lala menutup mulut Keenan. "Hatiku hanya milikmu, percayalah. Pertahananku sekuat baja, apalagi setelah tadi kau berikan tembakan dasyat yang membuatku terlena. Percayalah. Aku cinta kamu tak terbatas." Keenan seketika terbahak mendengarnya.


"Arabellaa" teriak Lala memanggil temannya. Lala menghampiri Arabella dan berbincang disana.


"Lashiraaaa.. " Lala dan Arabella melirik ke sumber suara.


"Aku cinta kamu tak terbataas" teriak Keenan seraya melajukan mobilnya.


.


.


.


Yuhuuuu jamaah oh jamaah jangan lupa ritual kita juga, ok? Like, komentar, vote yang buanyaaakk..


Follow my igeh " only.ambu


Aku cinta kalian tak terbatas ^^