
Keenan mengendarai mobilnya dengan pelan. Dia masih menetralkan dirinya yang tengah mendidih karena menahan amarah. Beberapa kali dia memukul stir mobil.
Keenan sangat murka dan tak menyangka atas apa yang dilakukan Karina. Kecurigaannya pada Karina terbukti nyata membuatnya membuatnya tak habis pikir karena mempunyai Kakak yang sangat jahat menurutnya.
Keenan juga kesal pada Lala yang tak jujur kepadanya dan lebih memilih menutupi semua darinya. Keenan sengaja tak segera pulang ke rumah karena Moodnya hancur berantakan.
Tiba-tiba terdengar dering ponsel.
"Bangkeee" suara Mas Pram membuat gendang telinganya terasa sakit
"Apa si Mas! Sumpah telinga aku sakit!"
"Haha.. Sorry Bro." Mas Pram terbahak. "KP 3 tinggal soft opening weekend ini. Cek lokasi kuy." ajak Mas Pram
"Share lokasinya Mas biar aku kesana sekarang."
Mas Pram mengirim lokasi kedai kopi ke tiga milik mereka. Keenan yang sedang tidak mood bekerja segera mengunjungi lokasi barunya.
"Broooo" Mas Pram merangkulnya.
"Eh sorry Mas, aku udah ada yang punya ya." ucap Keenan
"Haha.. Bini mana bini?" tanya Mas yang ikut duduk berhadapan dengan Keenan.
"Dirumah lah"
"Gak kerja emangnya Bro?"
"Kemarin jatuh di tangga. Nanti sore baru mau ke dokter."
"Kamu woi.. Bukan dia"
"Haha.. Nanyanya begitu sih! Aku kira bahas dia. Aku lagi males kerja Mas."
"Gilaaa bos mah bebas"
"Eh, kok bisa dia jatuh ditangga?"
"Tahu sendiri dia kayak gimana kan? Untungnya dirumah nyokap."
"Kamu tinggal disana toh Bro?"
"Enggak. Baru kesana lagi kemarin setelah married. Haha."
"Anak durhakaa. Lebih senang gali lubang ya daripada ketemu orangtua." Mas Pram terbahak
"Makanya cepetan cari calon dong Mas. Nikmatnya tak tertandingi. Haha"
Kini keduanya asyik membahas bisnis mereka.
"Eh ada Pak Bos" Desi menghampiri Keenan dan duduk disampingnya.
Keenan mengerutkan dahinya. "Siapa?"
"Desi Bro, aku bawa dia karena aku mau coba dia yang pegang disini." ucap Mas Pram.
"Hm... Bagus sih tempatnya nyaman." Keenan mengedarkan pandangannya. "Design setiap cabang sama Mas?" tanya Keenan
"Aku sengaja membuat semua sama biar jd ciri khas KP kita. Gimana menurutmu Bro?"
"Not Bad. Memang harus ada ciri khasnya jadi orang tahu."
"Kenapa KP sih Mas namanya?" tanya Desi sok akrab.
"KP? Keenan Pramono" ujar Mas Pram terbahak.
"Konyol emang dia tuh" ucap Keenan seraya tersenyum.
"Hoki kan nama kita Bro" bangganya
"Lucu banget sih Mas." Desi sengaja sedikit menyentuh Keenan berlagak tak sadar. Keenan yang tak sadar pun hanya cuek.
"Terima kasih Mas. Sudah mau urus usaha kita." ucap Keenan tulus.
"haha.. Tumben banget Bro. Santai lah, aku suka menjalani semua ini."
"Gilaa Pramono jadi bos." Keenan tersenyum.
Mereka terdiam, Desi beranjak meninggalkan keduanya karena Mas Pram memintanya mengecek persediaan barang.
Mas Pram sendiri paham dengan sikap Keenan yang tak begitu ceria. Dia tak mengajaknya becanda berlebihan.
"Sudah ada tanda-tanda keponakanku, Bro?"
"Belum Mas. Padahal sudah ku gempur tuh tiap malam." Keenan terbahak.
Tiba-tiba dering ponselnya berbunyi. "Bini aku Mas, dia gak tahu aku kesini. Sssttt.." Keenan memasang muka serius.
"Yong.."
"Kok gak ada kabar sih?" tanya Lala dibalik telepon
"Maaf Yong. Lupa."
"Jahat Abangnya."
"Jangan marah dong cantik. Abang pulang sebentar lagi ya." Keenan merasa tenang saat mendengar suara Lala yang manja menurutnya.
Desi yang menguping segera menghampiri. "Aku buatkan minuman yang panas mau Mas? Gak ada es batu soalnya." ucapnya agar didengar Lala.
Keenan menatap Desi tajam.
"Kamu dimana?" Lala curiga
"Hmm.. KP sayang."
"Katanya kamu sibuk? Kok malah nongkrong?"
Keenan terdiam.
"Jawab atau gak usah pulang!" ancam Lala.
"Kita mau launching KP ke tiga sayang. Makanya aku kesini. Kan buat tambah-tambah uang belanja kamu." bohong Keenan
"Jahat banget sih Bee gak bilang." Lala memutuskan sambungan teleponnya sepihak.
"Maaf Mas" Desi pura-pura menyesal setelah melihat raut wajah Keenan.
Keenan tak menanggapinya, dia segera bangkit. "Aku cabut Mas."
"Gilaa, dia selalu tahu kalau kamu macam-macam. Haha. Siapkan mental, telinga, dan hati mendengarkan ceramah dari Nona Muda."
"S*alan Pramono!"
"Satu-satunya cewek yang bisa membuat Keenan bertekuk lutut, klepek-klepek dan ketakutan cuma dia doang. Juara emang Lala." Keenan hanya tersenyum mendengarnya.
"Satu lagi Mas."
"Apa?"
"Jago bikin Abang lemas." keduanya terbahak sementara Desi merasa kepanasan sendiri.
"Anj*r Abangnya dibuat K.O terus. Haha.."
"Dah ah, cabut Mas"
"Oke Bro. Hati-hati. Salam buat Nona Muda."
Keenan berlalu meninggalkan Mas Pram dan Desi yang mematung. Dia melajukan mobilnya hingga tiba di rumah.
"Loh? Kok sudah pulang?" tanya Ibu saat melihat Keenan
"Mau ke dokter Bu, aku takut kaki Lala kenapa-napa"
"Enggak bakalan. Itu keseleo doang. Bentar lagi juga kempes bengkaknya. Sudah Ibu oles sama beras kencur juga." ucap Ibu
"Apa itu Bu?"
"Obat alami dibuat dari beras sama. Kencur."
"Oh. Aku gak tahu Bu"
Keenan masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Lala yang sedang menonton drama Korea.
"Yong." Keenan duduk di bibir ranjang. "Ih marah kan."
" Siapa yang gak kesal, ada suara wanita disamping kamu. Gak jujur kamu, Bee!"
"Aku bukan gak jujur, tadi habis beres urusan, Mas Pram telepon ngajak cek lokasi. Kalau gak percaya, nih lihat saja." Keenan mambuka ponselnya.
"Gak usah! Kalian pasti sekongkol"
"Astaga! Gak percaya banget sama suami. Kamu yang gak jujur!"
"Kok aku sih?" Lala heran
"Kenapa kamu gak jujur, semua gara-gara si Karina?" ketus Keenan
"Apa?"
"Apa? Berlagak banget. Emang aku gak tahu?"
Lala sedikit gugup. "Bee.. Aku cuma gak mau ada keributan. Itu saja."
"Setidaknya kamu jujur sama aku."
"Nanti kalau aku bilang, aku dikiranya tukang ngadu. Aku gak mau."
"Aku suami kamu. Wajarlah kamu ngadu sama aku juga!"
"Jangan sampai Mama Papa tahu ya, Bee.. Kasihan Papa nanti kepikiran."
"Harus tahu Yong. Biar jera si Karina."
"Enggak. Aku gak mau kesehatan Papa drop lagi gara-gara itu."
"Terus kamu mau jadi wanita tertindas gitu?"
"Ya enggaklah. Kemarin dia dorong aku, karena aku gak tahu. Kalau tahu lebih dulu pasti aku dorong balik kali, Bee."
"Aku gak mau ada keributan Bee."
"Tadinya aku mau bawa dia ke jalur hukum sekalian."
"Gila! Jangan Bee"
"Iya aku tahu. Aku cuma menakutinya saja." Keenan termenung
"Hhh.. Nanti aku pikirkan cara lain deh. Bingung aku Hon, kalau dia dekat takutnya dia melajukan hal yang lebih nekat lagi." Keenan merebahkan tubuhnya.
"Kamu kenapa bisa tahu?"
"Ya feeling aja. Pas lihat dia turun, aku udah curiga. Soalnya dari dulu dia ngincer kamu terus."
"Ganti baju dulu Bee."
"Iya nanti." Keenan melipat kedua tangannya ke belakang kepala. "Yong weekend launching KP 3. Kamu ikut ya?"
"Pakai kursi roda kalau masih sakit."
"Enggak ah. Aku kayak orang apaan pakai kursi roda. Aku gak mau ikut pokoknya."
"Kamu mau suamimu di goda si Desi?"
"Jadi yang tadi itu si Desi?" Lala menatapnya tajam
"Astaga." Lala mengambil guling. "Kurang ajar kamu Bee!" dia memukul-mukul Keenan dengan guling.
"Apa sih Hon"
"Jadi tadi kamu sama dia terus? Istri kesakitan, kamu enak-enakan."
"Astaga! Enggak Yong"
"Rese! Rese! Rese!" Lala masih memukul Keenan "Aw... Ssshhh.. Sakiitt.." saat dia lupa menggeserkan kakinya.
"Mana yang sakit sayang" Keenan langsung duduk menyila sambil mengelus dan meniupi kaki Lala.
"Sabar ya Hon." Keenan masih sibuk dengan kaki Lala.
"Sabar asal kamu gak bertingkah" ketus Lala.
"Iya enggak Yong."
"Kamu mah sengaja banget. Udah tahu si Desi tuh suka sama kamu. Tapi kamu masih terus sama dia."
"Kok aku Yong? Pramono yang ajak dia. Katanya si Desi mau pegang cabang 3. Aku mah mana mau ngurusin begituan."
"Kamunya juga nyebelin tahu gak!"
"Ciee ayang beb cemburu" goda Keenan
"Wajarkan? Kalau gak boleh aku mau cemburu sama Mas Izam aja."
"Apa kamu bilang hah!"
"Lagian, iateinya cemburu di ledekin. Kesel tahu gak!"
"Iya. Iya. Cuma becanda doang, elah."
Keenan mengelus-elus kaki Lala tak henti. "aku ngantuk, Hon."
Lala tersenyum" Kamu menghayati banget ngelusnya. Tapi aku suka. Enak digituin kaki aku, Bee"
"Sudah ah, pegal." Keenan kini merebahkan tubuhnya. "Tahu gak, aku takut Yong. Kalau kamu di dorong si Karina, tahunya kamu lagi hamil gimana?"
"Enggak deh kayaknya Bee.. Kan aku kemarin itu datang bulan."
" Ya kan aku takut. Untung gak atas-atas banget kamu kegulingnya."
"Iya, kalau dari atas aku mati biar kamu jadi duren terus nikah sama si Desi, sana!"
"Astaga! Bicaranya bikin orang naik darah aja!" gerutu Keenan.
"Hon, kamu resign aja lah ya? Kamu urus KP. Aku buatkan KP 4 sekitaran sini. Gimana?" Keenan memeluk Lala erat.
"Kenapa sih mau aku resign terus?" Lala menyisir rambut suaminya. Dia memberikan pijatan kecil di kulit kepalanya.
"Kamu mau meruntuhkan harga diriku. Yong?"
"Kok meruntuhkan harga diri?"
"Masa suami punya ribuan karyawan, istri kerja di orang. Kamu gak hargai aku banget sih!"
"Bukan begitu Bee. Aku hanya nyaman saja kerja disana."
"Tugas kamu itu cuma melayani aku sama hamburin uang aku aja Yong kalau kamu mau" Keenan meremas sebelah dada Lala gemas.
Lala cekikikan atas perlakuan Keenan. "Aku masih belum terbiasa sayang."
"Pijat lagi Yong, enak banget digituin." Keenan menaruh tangan Lala di kepalanya.
"Bee, kamu mau bilang sama Ibu gak?"
"Bilang apa?"
"Aku resign. Kamu yang bilang."
"Oke. Kan nanti kamu juga gak nganggur Sayang. Urus KP. Jadi tetap ada kegiatan."
"Iya."
Keenan mengecup lembut bibir Lala.
"Yong, Kamu kayak begitu aku harus puasa dong."
"Gila aja! Istri lagi sakit kamu masih mikirin itu!"
"Haha.. Becanda sayang."
"Bee, aku ada sedikit tabungan buat tambah renovasi rumah. Satukan saja ya sama uang kamu."
"Buat apa?"
"Ya bayar tukang kek atau keperluan lain."
Keenan tersenyum mendengarnya. "Simpan saja uangmu, Hon. Lagian tukang buat apa? Aku tuh gak bayar ke tukang satu-satu" Keenan tersenyum kembali.
"Itu biayanya berapa coba?"
" Terus kenapa?"
"Ya masa aku gak berkontribusi sedikitpun buat rumah kita"
"Yang punya tanahnya Ibu. Jadi itu juga sudah cukup Honey."
***
Keenan mendorong kursi roda masuk ke dalam KP. Dia sama sekali tak mengizinkan Lala berjalan sendiri selama kakinya belum pulih betul.
"Lalaaaaa, maaf ya kita gak jenguk La. Suamimu gak izinkan." ucap Mas Pram
"Posesif banget memang si Bangke" ujar Bang Al
"Iyaa.. Maaf ya, teman aku juga dilarang datang sama dia. Gak tahu tuh, aku kayak di kurung aja dikamar."
"Aku takut kamu kenapa-napa, Hon." timpal Keenan.
Lala menyita perhatian sebagian orang yang ada disana karena menggunakan kursi roda. Hal itu membuatnya merasa tak nyaman.
"Bee, aku mau duduk di sofa aja"
"Jangan ah. Udah disana aja."
"Bee ih! Aku jadi pusat perhatian orang tahu!"
Keenan membantu Lala pindah ke kursi biasa. Entah kenapa dia tidak begitu menikmati pertemuan mereka kali ini. Lala mengedarkan pandangannya hingga dia bersitatap dengan Desi yang seolah menantangnya.
"Bee.. Pulang yuk?" Lala memegang lengan Keenan
Keenan seolah faham, dia melingkarkan tangannya diperut Lala. Mendekatkan tubuhnya agar merapat.
"I am yours. Gak usah dilihat mulu." ucap Keenan
"Aku sebel. Kok kayaknya dia berani banget sama aku." ketus Lala.
"Nanti aku yang panasin dia."
"Emangnya kompor apa!" ketus Lala yang membuat Keenan terbahak.
"Pulang aja yuk. Aku udah gak betah."
"Hh..serius? Gak nunggu sampai beres?"
"Enggak."
"Tapi main sampai subuh ya?" tawar Keenan
"Bee ih!"
"Biar cepet jadi Yong." Keenan mengerling nakal.
"Nakal banget Abangnya" ucap Lala yang membuat Keenan terbahak lagi.
Hanya dengan candaan mes*m membuat Lala sedikit terhibur.
***
"Kalau aku hamil, kamu gimana?" mereka kini sudah berada di tempat yang paling nyaman.
"Heh? Ya.. Aku senanglah." Keenan merapikan anak rambut Lala
"Apa kita gak terlalu muda?" Lala memainkan jarinya
"Enggak lah. Kita udah lulus kuliah."
"Kamu doang yang lulus. Kuliah aku berantakan begini!" gerutunya seraya menatap Keenan.
"Kamu lupa kuliahku juga berantakan?"
"Haha.. Iya ya.. Astaga. Cinta mengalahkan segalanya." ujar Lala
"Idih gak cocok banget kamu bahas cinta-cintaan sok romantis begitu." sindir Keenan
"Bodo! Kamu cinta aku kan?" Ucap Lala dengan sengaja
"Banget." Keenan ******* rakus bibir Lala.
"Aku gak main celup-celupan hampir seminggu Yong." ucap Keenan
"Gak usah dibahas juga kali! Aku juga ngitungin." mereka terbahak.
"Haha. Anj*r bini aku kayaknya ketagihan dicelupin." Keenan terbahak kembali. "Makanya jangan gede gengsi kenapa Yong" Keenan menjitak kepala istrinya.
"Aku gak gengsi tahu tapi jual mahal."
"Sama aja Munah!" Keenan melanjutkan kecupannya. Seolah tak ada hati esok, Keenan memc*mbu Lala dengan liar.
"Kalau pakai tanktop gini kan enak, gak susah" Keenan tersenyum membuat Lala yang malu mengarahkan kepala suaminya berlabuh di dadanya yang mulus.
Keenan mengubah posisinya, kini dia mengungkung Lala.
"Aaaa... Sakit.. Sakitt. Sakiitt.. Kaki aku beg* jangan ditibanin" ketus Lala seraya menjambak rambut suaminya.
.
.
.
Yuhuuu bantu honbee yaa.. Jangan lupa ritual kita. Rate, like, komentar, vote yang buanyaaaaakkk. Oke?^^ makasih