My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Bukan Cuma Kamu



"Bee.." Lala membulatkan matanya tak percaya.


"Permisi" ucap pelayan tersebut meninggalkan mereka dengan senyuman.


"Kamu ih bikin malu Bee. Bilang cinta lewat pelayan itu, Astaga.. " Lala menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Katanya kan biar semua orang tahu. Si Mbak kan jadi tahu, Hon" ucap Keenan polos


"Tapi bukan gitu juga Wijaya!.. Astaga!" ucap Lala


Keenan melepaskan tangan Lala dari wajahnya. Lala tersenyum malu. Dia menggenggam tangan Lala.


"Aku cinta sama kamu, Lashira. Entah sejak kapan, yang jelas aku nyaman sama kamu. Aku bisa menjadi diri aku sendiri. Aku mau, kita sama-sama berjuang. Mau kan, Honey?" ucap Keenan menatapnya.


"Bee, sumpah demi apapun kamu jangan begini" ucap Lala


"Kenapa?"


"Aku melayang Bang" Lala tertawa, dia menyembunyikan rasa salah tingkahnya.


Keenan tertawa kecil.


"Kamu tuh, diromantisin masih juga becanda!" Keenan melepaskan tangan Lala. Dia melipat kedua tangannya, pura-pura kesal.


"Bee.. Ih kamu mah ngambekan terus" ucap Lala


"Katanya mau denger aku bilang cinta, tapi kamunya begini" Keenan memalingkan mukanya


"Bee.. Kamu sempat nanya ke aku, kapan aku suka kamu kan? Mau tahu jawabannya gak?" pancing Lala


"Gak tertarik" Keenan masih enggan menatap Lala.


"Ih astaga.. Kenapa aku cinta sama lelaki ngambekan, tajir, ganteng, pinter main bola, si ulat bulu ini" ucap Lala


"Anj*r lah Hon pake bilang ulat bulu"


"Alisnya sayang.. Alisnya.. " ralat Lala


"Ih kamu juga bilangnya anj*r terus!" Lala kini mengikutinya, melipat kedua tangannya seraya memalingkan wajahnya.


'Astagaaaa pasangan apa kita ini. Ckckck' Lala merutuki dirinya.


Lama mereka terdiam.


"Aku mau Pulang!" ketus Lala


"Rayu aku dulu" ucap Keenan datar.


"Bee! Apa sih kamu kayak anak kecil"


"Bodo"


"Ih masa habis nyatain cinta kamu langsung ngambek. Sebel banget! Aku tinggalin tahu rasa kamu!" gerutu Lala


"Berani ninggalin cowok seperfect aku?"


"Perfect? Ambekan yang ada!"


"Kalau aku baik, kamu langsung minta dinikahi tahu" ucapnya


"Haha.. Jangan kepedean Abangnya. Gini-gini aku ada yang suka juga ya" ucap Lala


"Mana ada?"


"Gak inget yang waktu itu bonceng aku?"


'S*alan' batin Keenan


"Terserah"


"Yakin terserah?" goda Lala


"Iya. Kalau kamu berani macem-macem aku bunt" Lala segera menutup mulut Keenan sambil melotot.


"Ih kamu ngomongnya gak pernah disaring!"


"Aku sama kamu apa adanya kan Hon" Keenan tersenyum


"Yuk pulang, nanti Ibu kader marah lagi" ucap Keenan.


Keenan membayar makanan mereka.


'Sumpah aku penasaran uang saku anak tajir berapa ya?' batin Lala saat melihat Keenan membayar makanan mereka.


'Duitnya gak abis-abis, kayaknya uang gaji aku cuma buat numpang buang air kecil doang.' racaunya dalam hati.


"Heh bengong aja!" ucap Keenan


"Bee.."


"Hmm.."


"Kamu mau nganter aku sampai rumah?" tanya Lala


"Iya. Aku mau tanggung jawab sama Ibu, anaknya sudah diajak keluyuran dulu" ucapnya


"Bee tahu gak, kamu itu kadang dewasa banget, kadang childist kebangetan, susah ditebak tahu" ucap Lala


"Hati aku bukan untuk ditebak, tapi untuk kau rasakan. Ciiee.. Hahaha" keduanya terbahak.


"Dah ah, nanti aku ketawa sendiri Hon. Bisa gila tahu, aku kayak gini terus" ucapnya


Lala memeluk erat lengan Keenan saat berjalan ke parkiran.


"Bukain pintunya dong, Bang" Lala menarik lengan pacarnya. Keenan hanya tersenyum geli melihat kelakuan Lala yang kembali seperti semula.


"Terima kasih sudah berinisiatif ya Bang" Lala mengedipkan sebelah matanya.


"Kamu yang minta juga. Dasar aneh" gumam Keenan


"Lagian gak peka banget jadi orang" Lala membalas gumaman Keenan.


"Misi selanjutnya adalaah membeli martabak" ucap Keenan


"Haha..kamu masih ingat? Ibu becanda Bee" ucap Lala


"Selama itu martabak Hon, pasti akan ku belikan. Asal Ibu gak minta aku mendaki gunung lewati lembah saja." ucapnya


"haha kenapa emang? Takut?"


"Capek Honey. Nanti lemas dong akunya."


"Kan ada aku yang siap menyemangatimu, sayang" ucap Lala


"Dih. Ogah Neng. Tetep Abang yang sakit badan" ucapnya


"Ini kita bahas apa sih? Ngaco nih Kamu" Lala tertawa


"Yuk, keburu malem Bee" ajaknya kemudian


Ada perasaan lega dihati mereka. Setidaknya Lala tahu bagaimana perasaan Keenan padanya tidaklah main-main. Namun, tetap saja dia masih sedikit takut.


"Hon, nanti kalau aku agak sibuk, gak apa-apa ya?" ucap Keenan


"Asal kamu terus kabari aku walau cuma lewat pesan Bee. Kamu mah kadang pesan aku dibaca doang gak di balas. Emang novel apa!" gerutu Lala


"Iya maaf buat yang kemarin. Kamu juga jangan cuek ya Hon" pinta Keenan


"Kapan aku cuek? Yang suka hubungi duluan siapa? Yang suka kasih perhatian siapa?"


"Kita berdua. Kan saling dong" ucapnya seraya menepikan mobilnya


"Bee, martabak dekat rumah saja jangan yang ini" ucap Lala saat Keenan berhenti disebuh kedai martabak. Lala sadar, kedai martabak. Itu terkenal enak dan mahal.


"Yang istimewa dong buat Ibu" ucapnya


"Ayo turun, kamu gak mau nemenin Abang? Kalau Abang digoda cewek lain emang rela?" tanyanya


"Idih percaya diri yaa Abangnya" ucap Lala seraya turun.


Keenan memesan martabak manis dan martabak telur sementara Lala hanya duduk menunggunya.


"Ini yang pengangguran banyak duitnya sih?" ucap Lala


"Gimana gak ngumpul duitnya, empat tahun ngejomblo" ucapnya seraya tersenyum


"Terus sekarang, abis dong uangnya" ucap Lala


"Haha.. Enggak juga. Untung kamu jajannya gak minta yang aneh-aneh" ucap Keenan


"Ya udah, aku mau minta yang aneh-aneh deh mulai sekarang" ucap Lala seraya tersenyum


"Berani memang?"


"Berani dong. Kan sama pacar aku" ucapnya membuat Keenan tersenyum.


"Aku tahu, kamu bukan orang yang seperti itu, Honey." ucapnya gemas.


***


"Assalamu'alaikum Buuuu" Lala berteriak.


'Duh aku harus terbiasa dengan teriakan mereka' batin Keenan


"Waalaikumsalam, dari mana sih kamu? Jam segini baru pulang! Bikin khawatir orangtua saja!"


"Ada Keenan Bu" bisik Lala


Ibu bergegas keruang tamu.


"Ibu, saya minta maaf. Tadi.. Saya ajak Lala makan dulu" ucap Keenan seraya mencium punggung tangan Ibu


"Duh yang lagi kasmaran, gak kenal waktu ya" sindir Ibu. Mereka kemudian duduk.


Keenan hanya menggaruk tengkuknya, malu.


"Maaf Bu." ucap Keenan


"Hmm.. Boleh aku minta nomor ponsel ibu?" tanya Keenan


"Kamu mau ngajak ibu kencan juga?" tanya Ibu


"Mana mau dia sama Ibu kalau anak gadisnya yang cantik jelita ini membuatnya tak bisa lepas" ucap Lala seraya membawa minum unruk Keenan.


"Baru anaknya yang cantik. Biangnya tak kalah kan" ujar Ibu


"Tuh dibawain martabak tuh sama Keenan"


"Pantesan. Wangi-wangi apa gituu.."


"Dasar si Ibu."


"Ya sudah, ibu ke dalam dulu kalau begitu. Terima kasih untuk martabaknya, Keenan" Ibu berdiri seraya berdiri.


"Eh, aku pamit Bu. Aku hanya mengatar Lala pulang" ucap Keenan.


"Loh, kok cepet?"


"Kasihan Lala, Bu. Besok kan dia harus kerja juga" ucap Keenan


"Ya sudah hati-hati ya. Terima kasih untuk martabaknya" ucap Ibu


"Iya Bu. Saya pamit. Assalamu'alaikum" Keenan pamit.


***


Keenan tiba di halaman rumahnya, dia berjalan masuk ke dalam rumah yang sepi itu.


"Dari mana saja kamu?" tanya Pak Wijaya


"Kamu jadi apa disana? Karyawan Papa saja gak ada yang pergi pagi pulang larut kayak gini" ucapnya


Keenan terdiam.


"Aku permisi Pa" ucapnya meninggalkan Papanya yang masih berdiri melihatnya menaiki anak tangga.


Keenan masuk ke dalam kamar mandi. Seperti biasa, dia akan berlama-lama disana untuk merendam tubuhnya menghilangkan rasa lelah setelah seharian diluar rumah.


Aroma therapi membuatnya lebih rileks. Dia memejamkan matanya seraya membayangkan pujaan hati yang kini menari-menari dalam pikirannya.


Keenan membersihkan badannya. Dia harus segera memberitahu Lala kalau dirinya sudah tiba dirumah.


'Untung inget, kalau enggak besok aku di ceraikan dia' batinnya.


Dia mengambil ponsel dan mengetikan sesuatu disana. Tak lama, sebuah balasan dari Lala. Disana juga Lala memberikan sebuah video.


'Apa ini?' gumamnya


Keenan membuka video tersebut. Disana nampak seorang Ibu sedang makan martabak telur dari arah samping.


"Astaga! Ini anak niat banget videoin ibunya sendiri" Keenan tersenyum.


Dia segera menghubungi Lala.


"Hon, jahat banget kamu. Itu Ibu, Ya Tuhan" Keenan tertawa


"Jahat-jahat tapi kamu ketawa"


"Enggak, aku cuma lucu saja lihat wajah Ibu" ucap Keenan masih dengan tertawa kecil.


"Kalau Ibu tahu, kamu dikutuk kali Hon"


"Sering Ibu kutuk aku Bee"


"Serius?" Keenan nampak tak percaya


"iya. Aku dikutuk biar banyak duit" Lala tertawa


"hahahah.. Sumpah kocak banget Ibu kader" ucap Keenan.


"Ya sudah, kamu tidur Hon. Istrlirahat yaa. Maaf besok aku gak ngaterin kamu kerja ya hon" ucap Keenan


"Gak apa-apa Bee. Kamu bukan kang ojek" ucap Lala seraya tertawa.


"Ya udah. Tutup Hon."


"Iya."


"Honey" panggil Keenan


"Eh? Apa bee?"


"Aku tresno karo kowe" ucap Keenan yang membuat Lala terbahak.


"Haha.. Berasa pacaran sama Mas Pram, aku tuh Bee"


"Anj*r Pramono sengaja kayaknya biar kamu ingat dia" gerutu Keenan


"Lah? Maksudnya gimana?"


"Kata dia, i love you kan sudah biasa. Unik dikit katanya. Dia kasih tahu bahasanya dia. S*alan, kamu malah ingatnya sama dia" kesalnya


"Hahaha.. Lagian kamu kalau bahas cinta suka jadi beg* tahu Bee. Hahaha"


Keenan tak bersuara.


"Aduh,, aku malah seger gini bukannya ngantuk." ucap Lala.


"Bee.."


"Bee.."


Tak ada jawaban. Keenan kesal.


"Aku cinta kamu Keenan Wijaya. Aku sayang kamu. Siapapun kamu, aku hanya melihatmu seorang Keenan Wijaya."


Tuut. Lala mematikan ponselnya.


Dia menarik nafas panjang.


"Bukan cuma dia kan yang belum bilang cinta, aku juga." gumamnya.


"Kini kita 'saling' kan Bee?" Lala menatap ponselnya seraya tersenyum kemudian mengecupnya seolah Keenan disana.


Keenan menarik keatas kedua sudut bibirnya. Ada rasa yang berbeda saat dia mendengar ungkapan dari Lala. Kali pertama seorang wanita bisa menggetarkan hatinya dengan rasa yang berbeda. Keenan jatuh cinta!


***


"Neng.. " Lala menoleh ke sumber suara


" Kalau Mas bilang muter, muter ya Neng" ucapnya seraya tertawa


"Haha.. Ogah. Masa pagi-pagi sudah pusing disuruh muter" balas Lala


"Mau bareng gak La?" tanyanya


"Enggak deh Mas, terima kasih." ucap Lala


"Kok jalan?" tanya Izam heran


"Iya. Aku mau ke Minimarket dulu" ucap Lala


"ya sudah, aku duluan kalau begitu ya?" ucap Izam


"Hati-hati ya Mas."


"Duh ada yang merhatiin. Jadi kesenengan nih" ucapnya


"Dih! Mas Izam dasar."


"Ya sudah, aku duluan. Assalamu'alaikum" ucapnya


"Waalaikumsalam"


Lala masih berjalan ke minimarket. Dia hendak membeli onigiri.


"Kangen kamu" gumam Lala seraya mengambil onigiri dari rak.


Dia membayarnya kemudian memesan ojek online. Dia menikmati perjalanannya dengan sangat bahagia hingga tak terasa, dia tiba di kantornya.


Lala masuk kedalam ruangannya. Dia seorang diri disana. Lala meletakan onigiri diatas meja kemudian mengambil foto dua buah onigiri tersebut dan mengirimkannya pada Keenan.


"Kangen kamu, tapi adanya ini. Jadi anggap saja ini kamu, Bee" ~ Lala


"Jahatnya. Masa aku mau dimakan" ~ Keenan


"Lagi apa sih pacarnya Lala" dia tersenyum gemas sendiri


"Mau renang Hon. Sini mau ikut" ajaknya


"Neng renang dihati Abang aja" gombal Lala


"Pagi-pagi udah kena diabetes nih Abang digombalin Neng"


"hahha.. Dah aku mau kerja ah. Love you Bee-nya Honey" lala mengakhiri pesannya.


Lala tersenyum tak karuan.


"Duh kita bisa juga romantis begini sih Bee" gumamnya bahagia.


Lala membuka onigiri yang dia letakan tadi. Sebuah pesan balasan dari Keenan. Dengan cepat-cepat dia buka.


"Aku cinta kamu, Lashira." balasnya dibubuhi tanda hati.


"Ya Tuhan, Ya Tuhan.. Mendadak aku kenyang membacanya. Sweet banget pacarku" gumamnya.


Tak lama, Deni menghampirinya.


"Kamu gak apa-apa La?" tanyanya


"kenapa emangnya?"


"Kayak orang kesambet aku lihat dari tadi."


"Ih, enak saja!"


Deni tertawa seraya keluar kembali dari ruangan Lala.


***


Keenan menepikan tubuhnya di sudut kolam, dia menyisir rambutnya kebelakang. Pak Wijaya nampak berjalan-jalan di sekitar kolam renang. Sedangkan Mamanya masih berkutat di dapur. Hal yang sudah lama sekali tak mereka lakukan bersama.


"Keen, kakakmu tak pernah pulang?" tanya Pak Wijaya


"Enggak Pa"


"Hubungi Kakakmu. Biar kita makan bersama" ajaknya


"Papa saja yang telepon. Aku males bicara sama dia Pa." ucap Keenan


Hubungan Keenan dengan Kakaknya tidak seakrab dulu, setelah Kakaknya berubah. Apalagi sekarang, kakaknya berkuasa atas perusahaan setelah Papa Keenan mulai sakit-sakitan. Namun, Keenan tak mau ambil pusing dengannya. Keenan lebih baik menjauh daripada harus berurusan dengan kakaknya tersebut.


Kakak Keenan telah lama meninggalkan rumah mereka. Dia lebih memilih tinggal di Apartemennya sendiri. Dan seolah tak peduli dengan orangtuanya.


"Sarapan kalian mau dibawa kesini?" tanya Mama Keenan


"Iya Ma" ucap Pak Wijaya.


Keenan keluar dari kolam dan membersihkan tubuhnya. Dia memakai bathrobe miliknya. Papa Keenan sudah terlebih dahulu mwnuju gazebo, dimana sarapannya sudah tersedia disana.


Keenan menghampiri mereka kemudian meneguk orange jus miliknya.


"Wisudamu kapan?" tanya Mama


"Lusa Ma"


"Mama Papa datang kan?" tanya


"Iya" Papanya memgangguk seraya mengunyah makanan.


"Pacarmu datang?" tanya Mama


Keenan tersedak saat sedang mengunyah apel. Dia segera meneguk air yang diberikan Mamanya.


"Dia gak datang, dia kerja" ucap Keenan


"Kerja?" orangtua Keenan nampak kaget


"Iya."


"Mama pikir dia juga kuliah"


"Iya, dia kuliah sambil kerja Ma"


"bagus. Mandiri" puji Papa Keenan yang membuat Keenan tersenyum senang.


"Kapan Mama bisa ketemu dia lagi Keen?" tanya Mama Keenan


.


.


.


Dua kali up niihh untuk teman-teman. Jangan lupaaaaa vote juga yaaa.. Vote loh ya. Hehe ngarep.


Like dan komentarnya seperti biasa ya teman. Terima kasih^^