
"Laa bangun laa" ibu mengguncang tubuh Lala
"Ibu masih sakit?" tanya Lala
"Enggak. Sudah mendingan La." ucapnya
Hari ini tidak ada teriakan ibu seperti biasa. Ibu kembali membaringkan tubuhnya setelah menyiapkan sarapan untuk Lala. Dia masih merasa lemas.
"Nanti gak usah masak. Beli makan saja ya Bu. Nanti aku pulang cepat" ucap Lala setelah dia berpakaian rapi.
"Iya. Sudah sana kamu sarapan dulu" ucap Ibu
Lala mengambil sarapannya, dia sebenarnya tidak tega meninggalkan Ibunya yang sedang sakit. Namun karena ada sedikit masalah dalam pekerjaannya, dia harus segera menyelesaikannya.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk diponselnya.
"Honey, aku sudah di depan"
Lala tersenyum melihat pesan tersebut. Dia merapikan meja makan, dan mencuci piring bekas makannya.
Lala kembali ke kamarnya, memoles lagi wajahnya dengan bedak kemudian keluar.
"Aku berangkat ya buu. Assalamu'alaikum." ucap Lala
"Waalaikumsalam. Hati-hati ya."
"Kunci pintunya Bu. Kalau ada apa-apa telepon aku ya" Lala lebih bawel pada ibunya.
Lala melenggang sambil menatap layar ponselnya hendak membalas pesan Keenan. Dari kejauhan, dia melihat Keenan yang sedang menatapnya.
"La.. Mau bareng?" motor Izam berhenti tepat disamping Lala.
"Eh Mas Izam.. Duluan saja Mas, aku ada yang jemput." ucap Lala
"Oh ya sudah, aku duluan ya." Izam tersenyum ramah. Dia melihat ke arah Keenan sepintas.
"La, sebelum janur kuning melengkung kan?" Izam berbisik
"Haha.. Mas Izam bisa saja" Lala tersenyum kikuk. Dia tahu, seseorang sedang memperhatikan mereka
"Aku berangkat yaa.. " Izam mengacak rambut Lala kemudian pergi meninggalkannya.
"Ih Mas Izam jahil banget deh" Lala merapikan rambutnya.
Lala mendekat ke arah Keenan. Semetara Keenan menekuk wajahnya saat melihat Lala dan Izam yang nampak ceria.
"Kenapa gak bareng dia saja!" ucap Keenan saat Lala berada didepannya
"Aku sudah bilang dijemput kamu Bee"
"Bohong banget kamu!"
"Kok bohong?" Lala memasang wajah kesal
"Kamu gak bilang punya pacar kan waktu itu?"
"Aku bilang. Kalau aku gak bilang, dia gak akan jalan duluan tadi."
"Buktinya dia berani sentuh-sentuh rambut kamu?"
"Aku juga gak tahu dia bakal sentuh rambut aku!"
"Ganjen saja kamunya." Ucap Keenan ketus
"Ganjen?" Lala tak terima
"Iya. Kecentilan. Jangan-jangan bukan cuma cowok itu yang suka sentuh kamu" tuduh Keenan
Lala meninju lengan Keenan.
"Aku bukan wanita murahan!" ucap Lala kesal
"Kamu seenaknya sekali sama aku Keen! Aku ini siapa kamu!"
"Kamu pikir, aku siapa kamu?" Keenan membalikan ucapan Lala
"Aku juga gak ngerti. Pacar? Mana ada pacaran seperti kita. Gak ada romantis-romantisnya"
"Kamu juga selalu bertindak semau kamu! Lama-lama aku juga kesal Keen! Aku bukan mainan kamu!"
"Sudahlah! Kita sampai disini saja! Tak usah lanjutkan lagi. Mumpung belum ada cinta diantara kita!" Lala berjalan meninggalkan Keenan yang dari tadi hanya mendengarkan ocehannya.
Keenan turun dari motornya. Dia mencengram lengan Lala dari belakang.
"Maksud kamu apa? Hah!" Keenan berteriak
"Kita putus. Ngerti!" ucap Lala ketus
Dia berjalan lebih cepat meninggalkan Keenan.
Keenan segera naik ke atas motornya, segera menyusul Lala.
"Naik" titah Keenan
Lala masih terus berjalan.
"Naik" Keenan berteriak
"Siapa Kamu! Kita sudah putus!" ucap Lala
"Putus? Oke!" Keenan menancap gas, melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Lala mengelus dadanya.
'Orang gila! Berengs*k!' moodnya ambruk seketika.
'Kerjaan lagi masalah, ibu sakit, putus cinta. Hahha lengkap sudah! Malang sekali nasibmu La!' dia berhenti berjalan, segera memesan ojek online untuk berangkat ke kantornya.
Lama menanti, ojek online tak kunjung tiba.
"Ini si Abangnya kemana sih!" gerutunya.
Tak lama, ojek pesanannya tiba.
"Lama banget sih Bang!" Ketus Lala
"Maaf Mba, bannya bocor."
"Oh. Cepat ya. Aku sudah telat."
Lala berlari masuk ke dalam kantor dengan tergesa.
"Assalamualaikum selamat pagi bu, pak. Maaf saya terlambat" ucap Lala
"Tumben La. Kamu gak kerja sama saya jadi bebas La" sindir Reza
"A Reza!" Tasya membentaknya
"Maaf Pak, tadi.. Macet" ucapnya
'Maaf aku bohong bu' batinnya
"Gak apa-apa La. Baru sekarang kamu telat begini" Tasya membelanya
"La, sini lihat" Reza memanggilnya
"Kamu sudah hitung kuantitas masing-masing barang yang keluar?" tanya Reza
"Belum Pak." ucap Lala
"Ini sih mudah. Kamu jumlahkan saja barang yang keluar sesuai nota. Nanti yang mana saja yang tidak sesuai dengan jumlah keseluruhannya. Paham?" tanya Reza
"Paham Pak"
"Nanti dari situ ketahuan mana saja yang hilang." ucap Reza
"Nanti saya coba buka cctv juga untuk memastikan" lanjutnya
"Baik Pak." ucap Lala
"Aa ke ruangan dulu ya sayang." Reza beralih melihat Tasya
Tasya melotot ke arah Reza.
"La" panggil Reza
"Sudah pendekatan sama Agus?" tanyanya
"Pak Reza ih!" Lala mulai berani
"Habis, Keenan kan sudah pergi. Atau kamu lanjut bersama Keenan?" tanya Reza
DEG!
"Eng.. Enggak Pak. Bapak pagi-pagi Pak dilarang ghibah" ucap Lala
"Siapa yang ghibah? Kan saya tanya langsung sama narasumbernya" ucap Reza
"Sudah sana A Reza ih! Gak berhenti kalian ini bertengkarnya" ucap Tasya melerai
'Pak Reza pagi-pagi sudah ingat sama si brengs*k itu! Bikin kesal saja!' batinnya.
Lala menarik nafas panjang, dia berusaha profesional dalam bekerja. Dia mulai larut dalam pekerjaannya, mencari kejanggalan yang menjadi masalahnya dalam pekerjaannya.
***
Keenan masuk ke dalam rumah. Dia membanting ponselnya.
"Segampang itu bilang putus? Kurang ajar sekali! Berani dia bilang putus!" Keenan frustasi. Dia tak terima Lala memutuskanya secara sepihak.
Dia membuka bajunya dan hanya menyisakan celana boxer kemudian menuruni tangga dengan memakai bathdrobe.
Keenan membantingkan tubuhnya ke dalam kolam renang. Dia tak henti berenang hingga membuatnya benar-benar lelah.
***
Keenan menjatuhkan tubuhnya diatas kasur empuknya. Rasa lelah setelah berenang tanpa henti membuatnya tertidur dengan pulas hingga dering ponsel membangunkannya.
"Selamat siang Tuan Muda. Apakah kamu masih mau bertemu dengan rakyat jelata seperti kami?" Suara dan cara bicara Mas Pram membuatnya membuka mata untuk melihat jam dari ponselnya.
"Aku capek Mas."
"Apakah Tuan Muda sakit?" tanya Mas Pram
"Aku bangun tidur nih."
"Kalau begitu, kita ke rumahmu Tuan Muda"
"Gak usah. Aku kesana saja." pinta Keenan
"Apakah kamu takut, kami akan mengacak-ngacak rumahmu Tuan Muda."
"Pintar." balas Keenan cepat
"Kau terlalu pelit Tuan Muda"
Keenan tertawa kecil.
"Apakah.. "
" Kalau kamu banyak bicara, aku kapan perginya!" ucap Keenan setengah berteriak.
"Haha.. Maafkan daku. Cepat kemari." Mas Pram memutuskan sambungan teleponnya.
Keenan mencuci mukanya. Dia mengganti kaosnya dan bersiap pergi ke basecamp.
Keenan keluar menuju halaman rumah.
"Keluarkan mobilku" Titah Keenan pada penjaga rumahnya. Dia melemparkan kunci mobilnya dan dengan sigap penjaga tersebut menangkapnya.
Tak berapa lama, mobil sudah terparkir tepat dihadapannya.
***
Sepanjang jalan, dia mengecek ponselnya. Tak ada satu pesan pun masuk ke dalam ponselnya. Biasanya Lala selalu rajin mengirimkan pesan kepadanya.
"Jadi, dia benar-benar minta putus?" gumam Keenan
"Oke, akan aku buktikan dia tak bisa lepas dariku!" ucap Keenan
Setelah beberapa lama, Keenan tiba dikampus mereka.
"Tuan Mudaaa" Mas Pram memanggilnya, beberapa orang menoleh ke arah mereka bergantian.
"Mas, sekali lagi kau begitu. Ku pastikan aku gak akan pernah mau berteman denganmu lagi!" ucap Keenan tajam
"Wow.. Santai kawan. Kau kenapa sensitif sekali hari ini, seperti seorang gadis yang sedang menstr*asi" ucap Mas Pram
"Aku gak suka Mas dengan ledekan itu!" ucapnya
"Oke. Sorry Bro." ucap Mas Pram tak banyak bicara
"Kamu kenapa Bro?" Bang Al merangkulnya.
"Hah! Pusing aku!" Keenan menaruh ponselnya di atas meja
"Woy..santai santai..ayo dinginkan dulu" Mas Pram menyodorkan minumannya ke arah Keenan. Keenan meneguknya cepat.
"Kenapa si Lala?" tanya Bang Al
"Tahu dari mana masalah dia sama si Lala?" Mas Pram melirik Bang Al
"Dia itu paling santai seantero kampus. Paling cool, paling jaim. Lihat pas sudah pacaran? Galau lah, uring-uringan lah, tapi ada bagusnya. Kemarin kita jadi tahu rumah dia kan Mas" Bang Al tersenyum
"Tahu tahu palamu! Kemarin ku ajak masuk kesana kau bilang Broku itu gig*lo" Mas Pram melempar botol kosong ke arahnya.
Beberapa orang yang mendengarnya melirik ke arah mereka.
"Haha.. Aku pikir dia itu gig*lo simpanan tante-tante" Bang Al tertawa mengingat kekonyolannya.
"Gila kamu, nuduh temanmu gig*lo!" Mas Pran masih membela Keenan
"Anj*r lah berisik pada! Nyebut-nyebut nama itu kenceng lagi. Tuh mereka melihat kalian kayak germ* tahu gak!" ketus Keenan
"Haha.. Si Mas Pram tuh muka-muka germ*"
"Haha.. Brengs*k kau Bang! Awas kalau minta jatah."
"Anj*r jatah apaan? Jatah di garuk?" Bang al tertawa
"Iya. Digaruk pakai garpu sini"
"Berisik woy! Aku lagi pusing juga!" ketus Keenan
"Haha.. Gara-gara si germ* tuh Bro. Ayo lanjutkan" ucap Mas Pram
"Apanya?" Tanya Keenan
"Ceritamu."
"Siapa yang cerita?" ketus Keenan
"Ayo mulai kalau begitu"
"Mulai apa?" tanya Keenan lagi
"Anj*r ini yang galau jadi beg* begini" Bang Al menoyor kepala Keenan.
Keenan hanya tersenyum
"Si Lala minta putus."
"Hah? Serius?" keduanya nampak terkejut
Keenan menceritakan semuanya pada kedua temannya.
"Kamu yang gak waras lah" ucap Bang Al
"Kok aku!" Keenan nampak tak terima
"Aku, waktu si Mira pepetin kamu, aku baik-baikin dia. Di elus-elus biar jinak. Lah kamu? Gimana si Lala gak kabur. Kamunya saja banyak nuduh." ucap Bang Al
"Poin penting lagi, kamu harus percaya ucapannya. Kamu juga bisa lihat kalau dia jujur apa enggak. Kepercayaan nomor wahid bukan?"
"Denger tuh ceramah ustadz Al" Mas Pram menimpali
"Cemburu wajarlah. Tapi kamu gak usah marah-marah juga kali. Anak orang woy!" ucap Bang Al
"Eh ngomong-ngomong si Mira kemana Bang? Dia perasaan jarang nongol." ucap Mas Pram
"Dia keluar kota nganter Ibunya" ucap Bang Al
"Terus aku harus gimana?" tanya Keenan
"Samperinlah. Minta maaf sana!" ucap Bang Al
Keenan terdiam
"Yakin kamu gak mendidih lihat si Lala tiap hari pulang pergi bareng cowok itu?" tanya Bang Al
"Asal aku gak lihat lah" ucap Keenan
"Iya, kalau si Lala sudah di bunt*ngin orang baru nyesel kamu" Bang Al menakutinya
"Anj*r gak lucu banget lah Bang"
"Gue gak lagi ngelucu, Mamat!" Bang Al melempar botol kosong
"Lama-lama kesel sendiri ngasih tahu si kutu kupret ini" ucapnya
Mas Pram tertawa mendengarnya.
"Kali ini, aku setubuh sama si germ* ini" ucap Mas Pram
"Si*lan kau Mas!"
"Terus.. "
" Teras terus teras terus kayak Kang Parkir saja kamu Bro. Sana kejar cintamu." ucap Mas Pram
Keenan tertawa.
"Nanti lah, dia juga belum keluar kantor jam segini" ucap Keenan
"Mau ku belikan bunga?" tanya Mas Pram
"Bunga apa? Cewek aku sukanya bunga bank" ucap Keenan asal
"Kasih lah, masa cowok tajir pelit sih. Turun pamor dong" ucap Bang Al
Keenan menyebikan bibirnya.
"Itu tetangga si Lala memang suka sama si Lala atau cuma sekedar tetangga yang ngasih tumpangan doang?" tanya Bang Al
"Aku gak tahu, cuma lihat mereka tertawa gitu, kesel banget lah" ucapnya
"Kalau cuma tetangga, masa dia berani ngacak-ngacak rambutnya. Sok romantis" ucap Keenan
"Mungkin mereka itu sedang berada di fase abang adek." ucap Mas Pram
"Abang adek ketemu tua. Naj*s banget abang adek segala" ketus Keenan
Bang Al tertawa.
"Sumpah, seumur-umur baru sekarang lihat kamu kayak gini Keen" ucap Bang Al
"Lala bisa membuat sebuah es balok mencari seketika" tambahnya
"Eh Bro, minta nomer si Lala" ucap Mas Pram
"Buat apa?" tanya Keenan
"Dia jomblo kan sekarang?" Mas Pram mengeringkan nakal
"Awas saja kau Pramonoooo" Keenan mengepalkan tangannya di depan muka Mas Pram
Bang Al dan Mas Pram hanya tertawa. Mereka senang menggoda Keenan yang sedang galau.
"Kalau si Lala makin menjauh gimana?" tanyanya
"Berarti ada kesempatan dong buatku" ucap Mas Pram
Keenan menautkan alisnya tajam.
"Haha.. Ampun Bro..ampun" ucapnya
Keenan menatap layar ponselnya.
"Aku cabut ya, takut macet nih." ucap Keenan
"Gil* yang lagi ngejar cinta takut telat" sindir Bang Al
"Haha.. Oke. Semoga anda tidak beruntung Bro. Biar kita bisa bersaing" ucap Mas Pram
"Ini si Pramono kayaknya ngajak duel dari tadi" ucap Keenan.
"Haha.. Ampun.. Hamba tak berani melawan anda" Mas Pram merapatkan kedua telapak tangannya diatas dada.
"Si*alan!"
Keenan keluar dari area kampus menggunakan mobilnya. Dia melajukan mobilnya ke kantor Lala.
Keenan menunggu Lala keluar dari kantornya. Tak lama menunggu, Lala keluar dari gerbang.
"Hon.. " Panggil Keenan
Lala menoleh, dia nampak sangat kaget melihat Keenan berada disana.
Lala masuk kembali ke dalam kantornya, dia enggan melihat Keenan saat ini.
"Kamu sedang apa La?" Izam menyapanya.
'Masa sih Mas Izam jodohku. Dia lagi, dia lagi sih' batin Lala
"Mas Izam, boleh nebeng gak?" tanya Lala tiba-tiba
"Tumben kamu La."
"Iya Mas, aku.. Aku harus cepet pulang." ucap Lala
"Kenapa buru-buru?" tanya Izam
"Iya. Ibu sakit. Yuk cepetan." Lala tiba-tiba duduk di belakang Izam
"Helmnya La" Lala segera turun, Izam memberikan helmnya.
Izam melajukan motornya, sementara Lala menundukan kepalanya. Dia enggan melihat Keenan.
"Honey.. Lashiraaa" Teriak Keenan saat melihat Lala dibonceng Iza
Keenan menatap mereka penuh dengan amarah.
.
.
.
Temaanss maaf yaa, kemarin ada kesibukan lain jadi gak sempat up. Terima kasih yang sudah menunggu HoneyBee.
Bantu vote, like dan komentarnya seperti biasa ya. Lupyu readers ^^