
Ibu menghela nafas panjang sebelum menjelaskan.
"Kamu sudah dewasa, kamu bisa menyaring mana yang benar atau tidak, La" Lala tak sabar mendengar penjelasan Ibu.
"Papa Keenan, mantan tunangan Ibu." Lala membelalakan matanya tak percaya.
"Dulu Pak Wijaya dan Ibu satu kantor sedangkan Mama Keenan anak dari pemilik perusahaan."
"Papa Keenan selingkuh dari Ibu?" tanyanya
Ibu mengangguk lemah. "Dulu, Ibu sama dia hanya staff biasa. Saat itu, Mama Keenan naksir Pak Wijaya padahal dia juga tahu kalau Wijaya sudah tunangan sama Ibu dan akan menikah di akhir tahun."
Lala menelan salivanya berat. Dia memegang lengan Ibunya.
"Ibu cuma takut kamu bernasib sama dengan ibu, kamu dicampakan Keenan setelah ini, gak menutup kemungkinan Keenan mewarisi sifat mereka."
"Apa mereka meminta maaf pada Ibu waktu itu?" Ibu menggelengkan kepalanya.
"Tiba-tiba saja tersebar surat undangan pernikahan mereka. Waktu itu Ibu syok berat. Bahkan teman-teman kantor pun tak menyangka." ucap Ibu.
Dia merasakan perasaan Ibunya yang hancur saat itu.
"Maaf La, Ibu gak bermaksud menyeretmu dengan masalah yang sudah Ibu tutupi waktu itu karena semua itu sudah berlalu dan Ibu sudah menguburnya dalam-dalam setelah Ibu bertemu Ayah." ibu berlinang air mata
"Tapi rasanya Ibu gak rela kamu nikah dengan anak pengkhianat dan ibu juga gak sanggup besanan sama mereka."
"Ibu ketemu Ayah setelah itu?"
"Ya, setelah itu Ibu melamar kerja ditempat lain. Kebetulan Ayahmu sebagai pemilik perusahaan menyukai Ibu sejak Ibu pertama kali bertemu dengannya. Ibu dulu sangat trauma La. Ibu gak niat untuk menikah setelah dikhianati."
"Ayah mendekati Ibu terus menerus. Sampai pada titik dimana Ayahmu mampu meyakinkan Ibu, akhirnya Ibu menikah dengan Ayah walaupun dulu Ayah juga ditentang oleh keluarganya, tapi Ayah tetap menikahi Ibu."
"Apa Ayah tahu tentang masa lalu Ibu?"
"Iya. Ayahmu mencari tahu kenapa Ibu begitu dingin padanya. Dia dengan sabar meyakinkan Ibu hingga Ayah rela di musuhi keluarganya demi Ibu. Itulah kenapa Ibu tak mau menikah lagi, La. Ibu mau Ayahmu yang terakhir untuk Ibu."
"Melihat mereka kemarin, Ibu terasa disambar petir. Orang yang dari dulu paling gak ingin Ibu temui ternyata anaknya selalu ke rumah kita. Gak nyangka bisa bertemu dengan mereka lagi. Mereka datang dengan wajah-wajah tanpa dosa" Ibu menghapus air matanya.
Lala mengusap lengan Ibunya seraya ikut menangis pilu.
"Ibu gak tahu harus bersikap bagaimana pada Keenan dan kamu, La. Maafkan Ibu." ucap Ibu menangis menatap Lala.
"Ibu takut mereka menyakitimu. Cukup Ibu saja dulu yang mereka sakiti. Ibu gak mau anak Ibu merasakan hal yang sama."
"Selama ini mereka baik sama aku, Bu."
"Itu karena mereka tidak tahu kalau kamu putri Ibu. Ibu takut mereka akan melakukan macam-macam setealh tahu kamu anak Ibu walaupun disini posisinya mereka yang salah." Ibu menghela nafas panjang.
"Maafkan Ibu, La. Maaf. Ibu tak ada maksud menghalangi jodohmu. Dari awal Ibu ingin melihatmu bahagia. Tapi sekarang Ibu dihantui rasa takut."
"Ibu juga tidak bisa bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Kamu tahu Ibu seperti apa. Kamu mengerti kan maksud Ibu?"
Lala mengangguk.
"Apa Ibu masih mencintai Papa Keenan?"
"Gadis bod*h! Mana mungkin Ibu menyimpan cinta pada pengkhianat." Ibu mengusap sisa-sisa air matanya seraya beranjak masuk ke dalam kamar.
***
Lala memainkan cincin dijemarinya seolah menjadi kebiasaan baru untuknya.
'Tuhan, pantas saja selama ini aku merasa tak enak hati. Ternyata ini jawabannya.' Lala memejamkan matanya.
'Memang benar, mereka semua wajah tanpa dosa. Datang kesini seolah semuanya baik-baik saja. Sementara Ibu menahan lukanya saat bertemu mereka.' Lala merasa panas hati atas kelakuan orangtua Keenan pada Ibunya.
'Apa Keenan tahu cerita yang sesungguhnya? Tapi sepertinya dia gak tahu. Kalau tahu, dia gak akan bawel menanyakan Ibu kenapa berubah.'
'Keen, aku pikir hubungan kita akan mulus-mulus saja. Ternyata begini.' Lala mulai terisak sambil memeluk kedua lututnya.
'Tuhaan, aku harus bagaimana dengan hubungan ini' Lala tak hentinya menangis sampai dia terlelap dengan sendirinya.
Pagi-pagi kedua mata Ibu dan anak itu terlihat sembab. Mereka malu saat beradu pandang. Tapi Ibu lebih ceria dari sebelumnya. Beban cerita yang selama ia simpan kini ia utarakan walaupun lukanya kembali menganga.
"Bu, baju Keenan mana, Bu? Mau aku kembalikan." ucap Lala
"Ibu sudah taruh di lemarimu, La."
Ibu mematung namun tangannya tak henti mengaduk adonan.
"La? Pikirkan saja dulu ucapan Ibu semalam. Gak usah buru-buru mengambil keputusan. Kalau kamu bahagia sama Keenan. Ibu hanya bisa mendoakanmu saja." ucap Ibu kini pasrah.
"Iya Bu. Aku juga masih bimbang." Lala masuk ke dalam kamarnya.
Dering ponsel Lala mengagetkannya saat dia sedang melamun sambil memangku baju Keenan.
"Keenan" gumam Lala. Lala hanya menatap layar ponselnya. Dia tak berani mengangkat telepon dari Keenan. Pikirannya berlarian terhadap masa lalu sang Ibu tercinta.
Tak berapa lama dering pun berhenti.
"Kalau aku jadi Ibu, mungkin aku juga tak sanggup berada di posisi sekarang. Enak saja anakku nikah dengan anaknya si pengkhianat!" Lala benci orangtua Keenan saat ini.
"Sekalipun Keenan tak tahu menahu masalah ini, tapi dia anak mereka. Ya Tuhan aku harus bagaimana?" gumamnya.
"Hon sedang apa? Ayo ketemu, Hon. Aku mau bicara." Keenan mengirimkan pesan pada Lala.
"Tunggu aku di minimarket saja. Jangan ke rumah ya." pinta Lala.
Lala memasukan baju Keenan ke dalam paper bag.
"Aku ke depan sebentar Bu" ucap Lala
"Hati-hati La."
Lala berjalan sambil membawa paper bag ditangannya menuju minimarket.
"Apa itu Hon?" tanya Keenan.
"Baju-baju kamu." ucap Lala seraya menaruhnya di jok belakang.
"Kenapa dibawa?"
"Itu kan baju yang suka kamu pake, Keen." Keenan menatap Lala tanpa suara.
Keenan mulai melajukan mobilnya. Mereka tak banyak bicara.
"Tumben kamu diam?"
"Gak apa-apa. Aku cuma lagi PMS." bohong Lala
"PMS?" Keenan mengerutkan dahinya.
"Datang bulan" ucap Lala
"Oh." Keenan meraih tangan Lala dan mengunci jemari mereka. Dia mengecup punggung tangan Lala. "Sabar ya Hon."
'Gimana aku bisa ninggalin kamu, Bee. Kalau kamu selalu bersikap begini sama aku. Tapi aku merasa berdosa juga pada Ibu' batinnya.
"Kita ke rumahku ya Hon"
"Mau apa?"
"Masa bilang mau apa ke rumah calon suamimu?" Lala merasa tak enak saat mendengar kata calon suami.
"Mama Papa kamu belum pulang, Keen?"
"Belum."
"Kenapa? Kesempatan Hon" Keenan memainkan alisnya naik turun.
"Apa sih Bee?" Lala tersenyum.
'Oh Tuhaan, aku cinta dia.' Lala menangis pilu dalam hati.
"Gitu dong Hon manggilnya. Dari pertama ketemu Kan Keen Kan Keen manggilnya. Aku tuh ngerasa gak di sayangi tahu gak" ucap Keenan.
"Apa sih, begitu saja dipermasalahkan" gerutu Lala. Keenan hanya tersenyum.
***
"Selamat datang Nona, Anda mau minum apa?"
"Apa kabar, Bi? Apa saja boleh, maaf merepotkan." ucap Lala
"Sehat, Nona. Terima kasih. Baik di tunggu Nona"
"Bawa ke atas saja" Keenan menghampiri Lala.
"Yuk Hon. Ke kamar saja."
"Enggak Keen. Kita disini saja. Gak enak sama mereka."
"Kamu kan calon istriku, gak masalah, Honey."
"Di dekat kolam saja yuk?" ajak Lala
"Ya sudah."
Keenan menarik lengan Lala duduk di gazebo.
"Papa kamu gimana sekarang?"
"Mendingan. Cuma belum bisa pulang, Hon."
"Oh"
"Aku mau kesana, Hon. Papa minta aku kesana." Lala hanya mengangguk.
"Kamu ikut ya, Hon?" ajak Keenan membuat Lala sedikit terkejut.
"Gak bisa aku Keen. Aku gak bisa ninggalin kerjaan."
"Kalau gak bisa, aku yang izin sama mereka. Atau kamu resign sekalian."
"Enak aja!"
"Kamu memang gak niat resign, Hon? Aku gak mau kamu kerja setelah nikah."
"Itu nanti kan? Sekarang aku masih bebas Keenan. Kamu gak bisa ngatur aku masalah pekerjaan!"
"Iyaa.. Sekarang kamu nikmati saja dulu. Tapi aku mohon kamu ikut kesana ya?"
Pelayan datang membawa minuman dan kue untuk mereka.
"Terima kasih, Bi"
"Sama-sama Nona."
"Aku rasa kamu kok berasa beda?"
"Beda gimana? Aku biasa saja. Aku cuma gak bisa ikut denganmu, Bee."
"Aku khawatir ninggalin kamu, Hon. Aku juga pasti merindukanmu."
"Memang kamu berapa lama disana?" tanya Lala
"Semingguan"
'Baguslah. Biar aku terbiasa tanpamu.' batin Lala.
"Oh."
"Hon? Kamu kenapa sih? Kok kamu kayak gitu? Semalam perasaan kita baik-baik saja" ucap Keenan.
Lala menghela nafas panjang.
"Aku berubah gimana, Bee?" Lala menatap Keenan intens. Dia menelan salivanya berat.
'Tuhan, apa aku sanggup tanpa dia?' Lala mulai berkaca-kaca.
"Sok kuat kamu! Baru aku bilang mau kesana. Kamu sok tegar!" Ucap Keenan saat melihat mata Lala. Satu tetes air mata lolos dari mata Lala.
Lala memeluk tubuh Keenan erat.
'Maafkan aku, Bee. Maafkan aku.'
"Ck.. Kamu ikut kesana saja! Baru bicara saja kamu sudah kayak begini! Gimana nanti aku tinggal seminggu!" Keenan balas memeluknya.
"Sehat-sehat ya kamu, Bee.. Baik-baik juga."
"Kamu bicara apa sih? Aku pasti sehat dan baik-baik saja. Tenang Hon. Tiap hari kita Video call, mengerti?" ucap Keenan
Lala menikmati pelukannya. Dia menghirup dalam-dalam aroma tubuh leleki yang dia cintai.
"Sayang banget ya sama aku" ceplos Keenan saat Lala mengeratkan pelukannya.
"Ini mah mau bunuh aku, woy!" Lala makin mengunci pelukannya.
"Gak bisa nafas sayang, akunya!" Keenan menepuk-nepuk tangan Lala.
"Berisik tahu gak! Bawel dasar!" ketus Lala
"Love you too" balas Keenan
"Apa sih gak jelas!"
"Ngomel mulu Nengnya kayak emak-emak yang ilang duit tahu gak!" Lala menahan tawanya.
"Bod*!"
'Tuhaan tolong aku gak bisa kontrol diriku sendiri saat dekat dia.'
"Aku ingin cepat-cepat nikah, Hon." ucap Keenan menggenggam tangan Lala.
Lala hanya membisu menahan perih dihatinya.
"Aku gak tahan honey kalau dekat kamu. Ingin nyosor tapi pasti kamu mukulin aku" keenan mencium punggung tangan Lala.
Lala menoyor kepala Keenan. "Ini juga nyosor!" Keenan terbahak.
"Beda lah. Ini tuh sun sayang. Tahu gak!"
"Emang kalau nyosor sun apa? Sama kali yang namanya nyosor ya nyosor."
"Sun nafsu lah." Keenab tertawa membuat Lala memukul lengannya.
"Mes*m kamu!"
"Dikit Yang." Keenan tersenyum lagi.
Keduanya kini diam sejenak.
"Kamu yakin gak mau ikut?"
"Enggak, Bee. Kamu aja. Aku gak bisa cuti begitu saja." ucap Lala. Keenan hanya mengangguk pasrah.
"Habis pulang nanti langsung belanja ya? Atau kamu mau belanja sendiri?"
"Enggak. Nanti saja sama kamu, Bee."
'Kalau kita masih bisa bersama' batin Lala.
Keenan merebahkan kepalanya di kaki Lala.
"Suka banget sih kayak begini. Damai banget hati aku rasanya, Hon." Lala hanya mengelus rambut Keenan. Mencurahkan rasa sayangnya pada Keenan.
Keenan memejamkan matanya membuat Lala bebas menatapnya. Lala meraba alis Keenan dan memainkannya. Perlahan turun menyusuri hidung mancung Keenan. Kemudian mengelus lembut pipi Keenan.
"Ngantuk kan jadinya Hon"
"Ya udah tidur" ucap Lala dengan suara parau. "Ekhem.." Lala meneguk minum miliknya.
"Hon, kamu mau honeymoon kemana nanti?"
Lala memukul dahi Keenan pelan. "Masih lama"
"Ya kamu maunya kemana gitu? Ada tempat yang ingin kamu kunjungi gak?"
"Gak ada."
"Masa sih?"
"Paris yuk? Biar romantis."
'please Bee, aku gak kuat. Jangan bahas masa depan'
"Mau gak?"
"Huum."
Mereka terdiam. Lala menatap air kolam yang biru, sedikit membuatnya tenang.
"Bee, pulang yuk?"
"Nanti ah."
"Ke atas yuk?"
"Ngapain sih kamu ngajak ke kamarmu terus."
"Ke atas aja. Aku mau ganti baju." Keenan memberi alasan.
"Sana ah, sendiri aja!"
"Temenin dong. Gak mes*m. Janji deh." ucap Keenan.
Keenan bangkit kemudian menarik lengan Lala naik ke kamarnya. Di sofa bersandar satu bucket bunga dan satu buah boneka panda.
"Aku lupa tadi makanya aku ajak kamu kesini." ujar Keenan seraya memberikan kedua buah benda tersebut.
Keenan menekan perut boneka tersebut seketika berbunyi " i love you, i love you"
"Dih norak, Bee!" Lala terus menekan perut boneka tersebut
"Norak tapi di tekan terus" ucap Keenan
"Haha.. Kepikiran dari mana kamu beli beginian?"
"Hehe.. Gak tahu, tiba-tiba aja Hon."
"Terima kasih, Bee."
Keenan menunjuk pipinya. Lala mengecup pipi Keenan singkat membuat mereka tersenyum malu.
Setelah beberapa lama mereka menghabiskan waktu, Lala mengajaknya pulang. Keenan dengan berat hati mengantarkan Lala walaupun dia masih ingin bersamanya.
"Disini aja Bee. Kamu gak usah ke rumah."
"Kenapa sih?"
"Aku gak mau kamu kepikiran macam-macam nanti, Bee" Lala memberi alasan.
Mereka saling pandang.
"Kamu jaga diri baik-baik ya" Lala mengusap lembut pipi Keenan. Keenan meraih tangan Lala dan mengecupnya lembut.
"Jangan nakal ya kalau aku tinggal. Jangan dibonceng tetanggamu juga. Naik ojek aja."
Keenan mengambil dompetnya. "O ya, perlu apa-apa kamu pakai ini saja, Hon."
"Enggak ah. Aku gak butuh apa-apa. Simpan saja Bee"
" Pake aja Hon"
"Enggak, sayang." Keenan mengalah. Dia tak mau berdebat saat dia akan meninggalkan Lala.
Mereka saling pandang hingga sedikit demi sedikit tubuh mereka mendekat. Nafas mereka bersahutan hingga bibir mereka saling menempel satu sama lain. Keduanya refleks memejamkan mata
Keenan menginginkan lebih, dia mel*mat lembut bibir ranum Lala. Dia melakukannya dengan lembut.
'Selamat tinggal, sayang.' batin Lala
.
.
.
Double Up aku lagi baik. Weew.
Komen dan like yaa. Double VOTE juga. Makasih ^^