My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Proses Persalinan



"Aaawww... Sakiitt." teriak Keenan sontak membuka matanya.


"Laaa.. Apa-ap..Sa..Yang kamu kenapa?" Keenan melepas tangan Lala dari rambutnya. Dia melihat Lala dengan raut wajah kesakitan.


"Sakit Bee.. Ssshhh..." Keenan terperanjat. Dengan tergesa mendekati istrinya.


"Sini tiduran dulu.. Aku panggil ibu." Keenan menbantu Lala merebahkan tubuhnya kemudian mondar mandir tak jelas seperti orang kebingungan.


"Keenaaaan!" Lala berteriak.


"Astaga... Iya sayang iya.." Keenan tergagap dia segera menuruni anak tangga.


"Buuu Ibuuu" Keenan mengetuk pintu kamar Ibu tak sabar.


"Apa? Kenapa?" Ibu segera membuka pintunya.


"Lala Bu.. Itu.. "


" Ya Tuhan. Sudah waktunya." gumam Ibu bertepatan dengan Bi Ijah keluar kamar.


"Lala mau melahirkan Bu?" tanya Bi Ijah


"Sepertinya begitu."


Ibu menaiki anak tangga diekori oleh Keenan.


"Ibuu.. Huhuhu.. Sakit Bu.."


"Sabar sayang... Sabar..." Ibu mengelus punggung Lala sementara Keenan mematung. Sudah lama sekali, Lala tak mendengar Ibu memanggilnya selembut itu.


"Keenan! Kamu malah diam saja. Siapkan mobil." titah Ibu menoleh pada Keenan.


"Ya ampun. Iya.. Ke rumah sakit." gumam Keenan menuruni anak tangga.


Sementara Ibu menenangkan Lala.


"Ah.. Ibu ada yang keluar Bu dari sini." Lala menunjuk ke arah bawah perut. "Aku takut..."


"Buka underware kamu."


"Aku malu Bu.."


"Masih mikir malu saat kayak gini?" Ibu tak sabar.


Lala memperlihatkan underwarenya. Terdapat noda flek cokelat kemerah-merahan disana.


"Kayaknya sudah waktunya." gumam Ibu kemudian menatap Lala, "Sekarang masih mules?"


"Enggak Bu."


Ibu keluar kamar. "Jaaah.. Ijaah.." teriak Ibu


Bi Ijah segera menghampiri Ibu. "Iya Bu?"


"Tolong buatkan Lala teh manis. Biar dia ada tenaganya."


"Aku mau air dingin saja, Bu. Gerah banget."


Keenan kembali menghampiri mereka. "Mobil siap. Ayo sayang." ajak Keenan.


"Aku sudah gak mulas, Bang."


"Kamu mau buang air besar kali, Hon."


"Memang sudah tanda-tanda melahirkan. Nanti tunggu saja, kalau mulasnya semakin sering, itu semakin dekat."


Jalan-jalan sedikit La. Atau pindah ke bawah biar gak susah ya." ajak Ibu


Lala mengangguk. Dengan perlahan Lala menuruni anak tangga dibantu Keenan.


"Sssshhhhh...aahhh..saakiiitttt.." Lala meremas jemari Keenan seraya menuruni anak tangga. Butuh waktu lama untuk Lala dan Keenan menuruni anak tangga.


"Astaga. Aku gak tega lihat muka kamu, Sayang."


"Aku takut dia tiba-tiba keluar.. Sshhh..."


"Iya gerakin terus La.. Biar dia makin turun." ujar ibu.


"Keen kita langsung ke rumah sakit saja."


***


Lala kini berada di ruang bersalin di dampingi Keenan dan Ibu. Seorang dokter nampak mengecek kondisi Lala. Tak hanya itu, perut Lala dipasang Cardiotocography atau biasa disebut CTG untuk memantau aktivitas dan denyut jantung janin, serta kontraksi rahim saat bayi berada di dalam kandungan. 


Dokter meminta Lala menekuk kakinya sambil dibuka lebar. "Satu.. Dua..Baru pembukaan dua." ucapnya.


"Berapa pembukaan memangnya, Dok?" tanya Lala


"Sepuluh Bu."


"Ya Tuhan.. Masih lama.."


"Sabar..kamu harus tenang." Ibu mengelus kepala Lala.


"Tiap mulas tarik nafas panjang, kamu kan sering praktekan, sayang." timpal Keenan


"Tapi kan beda dengan kenyataannya!" ketus Lala.


"Jalan-jalan lagi ya?" ajak Ibu


"Gak mau Bu.." Lala berpegangan pada handle bed partus saat sedang mulas.


"Maaf.. Maaf sayang.. Kamu harus kesakitan kayak begini." Keenan merapikan rambut Lala yang lepek oleh keringat.


"Makanya kamu jangan rese terus!"


"Iya gak bakalan lagi sayang."


"Bohong!"


"Sudah La, simpan energi kamu buat nanti saja." ibu menyudahi perdebatan mereka.


Keduanya terdiam.


"Ibuuu.. Aku haus." rengek Lala.


"Sebentar, Ibu ambilkan minum ya.." Dengan telaten Ibu memberikan minum pada Lala.


"Ibu istirahat saja. Biar aku yang jaga Lala, Bu."


"Gak apa-apa. Kita sama-sama saja."


"Dari tadi melototin jam, lama banget geraknya" keluh Lala.


"Abang gerakin ya sayang jamnya, biar kamu senang?"


"Buat apa beg*! Ngaco kamu!"


"Biar cepet. Abang juga gak mau lihat kamu tersiksa begitu"


Sepuluh jam sudah Lala menahan mulasnya. Gelap telah berganti terang, tapi Lala masih pembukaan tujuh. Ibu meninggalkan mereka untuk mencari sarapan karena harus lebih bertenaga apalagi nanti akan menyabut si mungil, Mini.


"Caesar saja ya? Abang sudah gak tega lihat kamu menderita begini sayang."


Lala hanya menggeleng. Kini di kedua lobang hidungnya terpasang Nasal Oxygen Cannula untuk membantu pernapasannya.


"sshhh...aaaahh..baaannngg.." Lala masih menggenggam erat handle bed partus saat merasakan mulas kembali. Dia harus menahan agar tidak mengejan sebelum pembukaan sempurna. Kali ini tubuhnya terlihat bergoncang.


"Sayang.. Lihat Abang. Sudah ya..Abang gak tega Hon. Kita caesar saja ya?" Keenan memegang wajah istrinya kemudian menatap intens. "Nurut ya? Abang ga mau lihat kamu tersiksa begini." Keenan mengecup kening istrinya.


"Abaaangg.. "


" Sini pegangan sama Abang. Kamu pasti kuat"


"huh..huh..huh..eeeenngghhh..." Lala mengejan.


"Sayang..sayang..jangan mengejan dulu.."


"Eenngghhh.." Lala nampak tak kuat menahan agar tidak mengejan.


"Dokter.. Dokter... "Keenan berlari keluar ruangan panik saat Lala tiba-tiba mengejan.


"Abang, ketubanku kayaknya pecah. Aaahh basaah ini banyaak." Lala terengah-engah saat melihat Keenan mendekat.


"kita cek Bu.. "Dokter setengah berlari menghampiri Lala. Dokter tersebut nampak berhitung.


" Ya, lengkap. Nanti mulas mengejan lagi."


Keenan semakin panik.


"Bapak, pegang saja tangan Ibu, Pak."


"Sayang sumpah demi apapun kamu harus semangat. Kamu mau apa nanti Abang belikan. Apapun yang kamu mau. Mari berjuang bersama sayang. Abang cinta kamu. Abang cinta kamu."


"Digenggam tangan Ibunya, Pak." protes perawat pendamping


Lala melihat Keenan. "Abang jangan melotot. Akunya takut."


"Abang gak melotot sayang, Abang kasih semangat." wajah tegang Keenan membuat Lala begitu ketakutan.


Dokter tersenyum mendengarnya. "Ayo Bu, mulas langsung mengejan kayak mau buang air besar ya."


Tiba-tiba suara Ibu hendak masuk ruangan tapi ditahan oleh perawat.


Lala menutup matanya, mengatup kedua bibirnya rapat, dia mengeratkan gigi-giginya hingga kepalanya terangkat. "eemmmmmhhhhhhh..."


" Ayo bu. Tarik nafas panjang. Di buka pahanya Bu.." pinta Dokter


"Geregetan Bu.. Geregetan..." timpal perawat yang tadi memarahi Keenan.


"Go Mommy go Mommy Go!" Ucap Keenan dengan menautkan alisnya.


"Abang diam! Akunya jadi ingin ketawa."


"Pak, kasihan Ibunya Pak." protes perawat


"Saya kan kasih support Sus!" ketus Keenan yang dari tadi kena semprot perawat.


Lala melakukan hal yang sama. Menutup matanya seraya mengejan.


"Geregetan Bu.. Geregetaan.." perawat tersebut tak henti mengulang kalimat yang sama.


Keenan menatapnya sebal. "Geregetan Mom.. Geregetan!" tanpa sadar Keenan mengikuti ucapan sang perawat.


"Astaga! Kenapa jadi ikutan dia."


"Eeenggghhhh..." Lala membuang nafasnya kasar


"Jangan dari leher Bu, nanti sakit. Dari perut dorongnya. Sama seperti ibu susah buang air besar. Mengejan dari perut."


"Caranya gimana? Aku lupa." ucap Lala polos.


Dokter tersenyum. "Nanti kalau mulas. Dorong dari sini." Dokter memegang perut Lala.


"Mules dok."


"Geregetaan Mom Geregetan!" Keenan merekatkan giginya menatap Lala.


"A.. Baaanngggghhhh..."


"Lanjut Bu, kepalanya sudah mulai terlihat. Dua tiga kali mengejan lagi. Ayo sekuat tenaga, Bu" Dokter memberikan semangatnya.


"Hah?" Keenan ingin sekali melihatnya namun dia merasa takut.


"Sayang, Abang selingkuh." ucap Keenan membuat Lala membelalakan matanya. Seketika kilatan amarah terlihat dari wajah Lala.


'Bisa-bisanya dia membuat pengakuan saat istri dan anaknya lagi berjuang antara hidup dan mati.'


"eeeggghhh.."


"Abang lirik cewek seksi sayang."


"Keenaaaannnnnn"


"lanjut sedikit lagi Bu. Terus"


"Jahaaaattttrggghhhh"


"Akhirnya... Keluar."


"Jam berapa ini pak?" tanya suster pada Keenan.


"Lihat sendiri! Disana kan ada jam!" ketus Keenan yang merasa kesal dengan sikap perawat tersebut.


"Jam kelahiran anak Bapak. Jam berapa Pak?" ketusnya.


"Oh maaf. Jam 10:10 eh angka cantik." ujar Keenan tersenyum.


Bayi mungil tersebut di taruh di dada Lala dilapisi oleh kain berwarna hijau. Sesaat Keenan terpaku menatap bayi yang sedang di urus oleh dokter anak.


Mini kini dipindahkan untuk dibersihkan. Seketika dia menangis sangat kencang. Keenan berkaca-kaca saat mendengar suara tangisan. Rasa haru kini menyelimuti dirinya. Bagaimana tidak, belum genap berusia 25 tahun, kini dia telah menjadi seorang Daddy. Dia melirik istrinya, seketika Keenan ketakutan saat tatapan tajam Lala seakan membunuhnya.


"Dasar kurang ajar!" ketus Lala tanpa suara. Karena seorang perawat sedang membersihkan dirinya.


Keenan hanya tersenyum canggung. "Abang tadi menyemangati kamu biar kamu mengejannya kuat sayang."


"Bohong!"


"Demi Tuhan. Masa ada maling ngaku sih sayang, penjara pasti penuh."


"Ada lah! Kalau orangnya tobat kayak di chanel ikan-ikanan ya bisa saja ngaku!"


"Demi Tuhan, Abang cuma menyemangati kamu saja. Buktinya kamu langsung semangat kan, Sayang."


"Iya, aku semangat ingin cepat-cepat membun*hmu!" ketus Lala membuat Keenan tertawa. Keenan membekap mulutnya karena lirikan maut sang perawat.


"Laaaaaa... Laalaaa.. Oh Ya Tuhan.. Akhirnya kamu jadi seorang Ibu." Ibu mendekati Lala. "Ibu tadi ingin masuk tapi dilarang. Maaf Ibu gak dampingi kamu ya, La."


Lala hanya mengangguk. Mini, si bayi mungil dibawa oleh perawat kedalam dekapan Lala.


" Ayo Bu, berikan kolostrumnya." ujar perawat.


Semua terpaku pada bayi mungil dalam dekapan Lala.


"Wooiii itu punya Daddy." Keenan berbisik pada bayinya. Seketika Lala melotot lagi ke arahnya. Ingin sekali Lala menjambak rambut suaminya, namun diurungkan karena ada perawat dan juga Ibu.


"Berapa beratnya sus?" tanya Ibu.


"4.2 kilogram. Panjangnya 50 centimeter, Bu."


"Ya Tuhan, pantesan besar banget perut kamu, La."


Selesai menyusui, bayi mungil mereka dibawa ke ruang perina. Sementara Ibu pulang ke rumah untuk mengurus baju bekas persalinan Lala.


Keenan tersenyum saat menatap istrinya yang tertidur. Semalaman Lala tak bisa tidur dan dia sudah teramat lelah.


Keenan mendekati istrinya hendak mengecup kening Lala, sontak Lala menjambak rambut suaminya.


"aaaww.. Sayang.. Sakit.. Sakitt.. Mom.. "


"Kamu sumpah jahat banget! Ngeselin tahu gak!" ujarnya seraya melepas jambakannya.


"Maaf sayang."


"Gak lucu bicaranya!"


"Iya gak lagi-lagi. Tadi refleks saja biar kamu semangat. Demi Tuhan, Daddy setia sama Mommy. Gak berani lirik-lirik cewek lain. Apalagi lihat Mommy kayak tadi." Keenan mengusap kepalanya yang terasa sakit.


"Abang mah bisa-bisanya bikin aku sakit hati."


"Enggak Sayang. Demi Tuhan, Abang mana berani selingkuh. Kamunya galak gitu."


Lala melotot tak percaya. Bukan pujian yang didapatnya.


"Maaf.. Abang gak ada naksud mebyakutihati kamu. Cuma biar kamu bertenaga."


Lala terdiam, dia terlalu lelah menanggapi ocehan suami gilanya.


Keenan mengecup lembut bibir Lala. "Terima kasih, sudah berjuang melahirkan anak tampan dan sempurna. Terima kasih telah sabar menjadi istri Abang. Abang gak tahu harus berkata apa lagi. Abang cinta kamu." mata Keenan berkaca-kaca saat mencurahkan isi hatinya.


"Kita jadi orangtua, Mom." sambung Keenan.


"Kamu tidur lagi, sayang. Pasti lelah. Abang mau kasih tahu Mama Papa dulu." ucapnya seraya mengecup lembut kening Lala.


***


Mama dan Papa Keenan berjalan dengan tergesa masuk ke dalam ruangan yang ditempati Lala.


"Mama.. "


"Laaa.. Maaf Mama gak tahu kamu melahirkan." ucapnya seraya memeluk Lala bergantian dengan Pak Wijaya. Diliriknya Keenan yang sedang berbaring di sofa seketika dia mendekati anaknya.


Bug.. Bug.. Bug..


Mama memukul lengan anaknya dengan tas yang dibawanya.


"Aah.. Sakit.. Sayang.. Sakit.." sontak Keenan membuka matanya.


"Sayang..sayang.." Lala dan Papa Keenan hanya tersenyum menatap mereka.


"Mama.. "


"Anak nakal! Kamu telepon pas cucu Mama sudah lahir!" Mama menjewer telinga Keenan.


"Maaa..ampun Maa.. Aku panik semalam."


"Kamu kan bisa telepon sebentar."


"Iya maaf gak kepikiran."


"Sama orangtua sendiri sekarang kamu begitu ya. Mama corek kamu dari Kartu keluarga."


"Orang aku udah punya kartu keluarga sendiri. Mama lupa?" cibir Keenan.


"Kamu sudah makan, La?" tanya Mama.


"Sudah, Ma."


"Istirahat La. Pasti kamu lelah." Papa Keenan menimpali.


"Mama bawa apa kesini?"


"Mama kesini buru-buru! Boro-boro bawa makanan. Kamu telepon saja Mama kaget!" ketusnya.


"Kamu belum makan memangnya?" tanya Pak Wijaya.


"Sudah. Kali saja bawa makanan gitu. Aku mau keluar ninggalin Lala kasihan sendirian."


"Kenapa gak delivery saja?" tanya Papa


"Gak kepikiran Pa." Keenan tersenyum.


"Abang mah jahat Ma. Masa semangati aku bilangnya dia selingkuh Ma." adu Lala. Dia menjulurkan lidahnya pada Keenan yang nampak kaget atas aduan Lala.


"Astaga Keenan!" Papa melotot kearahnya.


"Anak gak tahu diri. Keluar kamu!" Mama menyeret tangan Keenan keluar kamar.


"Sana cari makanan enak buat istri kamu!" usirnya seraya menutup pintu.


.


.


.


Yeaaayy Mini dah lahiran. Silahkan bagi jamaah semua yang mau mengucapkan selamat untuk kedua orangtua baru. Hahaaa


Jangan lupa ritual like dan vote sebanyak-banyaknya.


Terima kasih ^^