
Lala mematung, jantungnya berdetak lebih kencang.
"Akhirnya takdir berpihak pada kita, Hon." ucap Keenan.
Keenan menumpu dagunya dibahu Lala.
"Seneng gak?" tanya Keenan.
"Enggak"
"Jahat banget Sayong" Keenan menggelitik perut Lala
"Geli Bee. Ampun.. " Lala kelonjatan sendiri
"Gak ada ampun buat kamu" Keenan mempererat pelukannya
"Dih jahat Abangnya!" Lala mengelus pipi Keenan tanpa menolehnya.
Keenan menciumi leher Lala dengan lembut.
"Geli ih Bee."
"Ngadep sini dong" ucap Keenan lembut seraya membalikan tubuh Lala.
Mereka kini saling berhadapan. Keduanya tertawa.
"Kamu ih" Lala tertawa sementara Keenan tersenyum sambil melingkarkan tangannya di pinggang Lala
"Apa?" mereka nampak malu-malu.
"Enggak." Lala menahan senyumnya. Kemudian mereka tertawa lagi.
Keenan menatap Lala sambil tersenyum.
"Apa sih Bee." Lala salah tingkah
"Apa? Aku diem ih" Keenan mengecup kening Lala.
"Ciee istrinya Keenan Wijaya. Nurut ya sama aku sekarang. Gak boleh durhaka kamu."
"Siap Kang Mas."
"Idih paan sih! Jangan nginget-nginget si Pramono" Keenan protes.
Lala menyentuh wajah Keenan. Pandangan mereka saling mengunci tersirat keduanya saling menginginkan. Keenan mengecup bibir Lala. Mel*matnya dengan lembut seraya menuntunnya menuju kamar. Mereka berpagut mesra hingga Lala menyudahi pwrgumulan mereka.
Keduanya tersenyum. Hawa panas mulai menjalar ditubuh masing-masing. Ada rasa yang tak biasa mereka rasakan.
"Biasanya kamu nolak Hon. Kok sekarang ngebales sih." goda Keenan
"Kan aku nurut sama kamu, katanya jangan durhaka." Lala yang malu mencoba mengelak.
"Aku mau ke kamar mandi dulu Bee." Lala melepas pelukan suaminya. Sementara Keenan membawa kopernya masuk ke dalam kamar.
Keenan berjalan menuju dapur, dia berdiri di depan lemari es kemudian meneguk air mineral dingin disana.
"Laper gak Hon?" tanyanya saat Lala mendekat.
"Laper enggak. Tapi ngemil boleh deh." Lala membuka plastik yang dibawanya tadi.
"Kamu laper Bee?"
"Enggak. Lanjut yang tadi aja" ucapnya datar membuat Lala malu seketika.
"Apa si"
"Ayo Hon, tiduran aja. Pegel nih akunya." Keenan masuk ke dalam kamar terlebih dahulu meninggalkan Lala yang sedang memilih makanan.
Setelah memilah-milih makanan, akhirnya Lala masuk ke dalam kamar tanpa membawa apapun. Dia berjalan perlahan dengan hati berdebar. Mereka sering berduaan di dalam kamar saat pengobatan Keenan, tapi berbeda dengan sekarang. Ini kali pertama buat Lala tidur sekamar dengan Keenan.
Keenan sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya. Sementara Lala menarik nafas untuk menenangkan dirinya masih berdiri dan sedikit kikuk.
"Hon, coba pijat punggung aku."
"Astaga tugas pertama sebagai istri mijitin kamu" Lala cemberut. Rasa gugupnya hilang seketika begitu dia duduk di atas kasur dan memijit punggung suaminya. Dia mengharapkan hal romantis tapi Keenan menggugurkannya begitu saja.
"Atas dikit Hon" pinta Keenan. Tangan Lala otomatis berpindah sesuai instruksi.
"Nah itu" ucap Keenan menikmati jemari Lala yang menari di tubuhnya.
Keenan segera mengubah posisinya menjadi terlentang tanpa meminta Lala menghentikan aksinya.
Dengan usil Lala memijit dada Keenan.
"Hahaha.. Geli sumpah.. Istriku agresif ya Tuhan." Keenan menutup dadanya yang di pijit Lala.
Lala tak henti menyerang sementara Keenan masih mempertahankan dirinya. Hingga akhirnya Keenan menarik tubuh Lala dan dengan liar menciumi Lala.
Lala sedikit tersentak kaget dengan perlakuan Keenan hingga akhirnya Lala ikut terhanyut dengan permainan suaminya.
Mereka saling mel*mat, menyalurkan hasrat yang merangkak naik hingga membuat mereka gerah sendiri.
Tangan Keenan mulai meraba dada istrinya. Dengan refleks, Lala menahannya sementara Keenan masih memaksa hingga akhirnya Lala menyerah membiarkan suaminya dengan bebas melakukan apapun yang dia mau. Lala kini semakin berhasrat. Tak dipungkiri dia sangat menikmati sensasi jemari Keenan di dadanya.
Tangan Keenan sedikit demi sedikit mulai menyingkap kaos yang dikenakan Lala. Tiba-tiba dering ponsel Lala mengagetkan keduanya.
Dengan jantung berdebar seolah kepergok, mereka melepaskan pagutannnya buru-buru. Lala segera mengambil ponsel miliknya.
"Ibu?" dia melirik Keenan yang terlihat masih berhasrat.
"Laaa kamu sudah sampai belum? Kok gak kabari ibu?" suara Ibu lantamg di seberang sana.
"Astagaa..iya sudah sampai, Bu. Maaf lupa ngasih tahu Ibu."
"Gimana kamu itu. Orangtua cemas juga."
"Iya iya maaf."
"Jangan diserahkan sekarang Laaa"
"Apanya bu?"
"Pura-pura gak ngerti lagii." gerutu Ibu
"Astaga ih Ibu."
"Udah ah. Aku tutup. Assalamualaikum." Lala mengakhiri panggilannya.
Keenan meliriknya seolah bertanya.
"Ibu cuma tanya, Udah nyampe belum katanya."
Lala merebahkan tubuhnya disamping Keenan. Lala berusaha menstabilkan kembali nafas dan pikirannya.
Sementara Keenan memeluknya.
"Lanjut yuk" ajak Keenan seraya bangkit kemudian menciumi Leher Lala.
Lala menggeliat geli atas perlakuan Keenan kepadanya. Tapi dia sangat menyukainya saat bulu romanya terasa berdiri membuat aliran darahnya terasa berdesir. Kegiatan memabukan tersebut mampu membuat mereka lupa diri hingga keduanya kini bertelanjang bulat.
"Tahan ya Hon" ucap Keenan seksi ditelinga Lala sementara Lala merasa malu saat mendengarnya.
Keenan kembali memagut istrinya sebagai pengalihan. Dia mulai menyatukan diri beri sama Lala.
"Aww... Sakiit Bee." teriak Lala seraya menggulingkan Keenan diatasnya.
"Tahan sebentar lagi aja."
"Gak mau. Emang gak sakit apa!"
"Dikit lagi Hon. Sekali lagi" bujuk Keenan
"Enggak. Ih sakit" Lala menutup kakinya
"Astagaaaa cepetan Maemunah dosa kalau nolak." Keenan yang sedang berada di puncak ga*rah merasa terusik.
"Kamu KDRT kalau gini caranya!"
"Astagaaa... LASHIRA!" Keenan frustasi dengan tingkah Lala
"Gak mau sayang. Sakittt.. Kamu gak ngerasain apa! Panas, perih, sakit. Gak mau lagi"
"Terus aku gimana?"
"apanya?" Lala mengikuti arah mata Keenan.
"Ya Tuhan kita mesum!" Lala menutup matanya saat melihat jelas milik Keenan.
"Pahala! T*lolnya kebangetan punya bini"
"Apa kamu bilang? T*lol?"
"Habis Tega kamu, Hon!"
"Kamu yang tega! Bilang t*lol! Jahat banget bikin istri kesakitan!"
"Ya awalnya memang begitu. Lama-lama enggak, Munah!" Keenan makin kesal hingga hasratnya menghilang.
Keenan beranjak ke kamar mandi meninggalkan Lala dengan rasa kesal. Sementara Lala kembali memakai bajunya.
Lala meringkuk merasakan panas dan perih di area wanitanya. Sementara Keenan keluar dari kamar mandi.
"Hon.."
Lala yang kesal tak menaggapi Keenan.
"Honey.." Keenan memeluk Lala seketika Lala menurunkan tangan suaminya.
"Maaf. Aku refleks bilang tadi."
"Maaf Hon. Kan emang sakit awal-awal."
"Iya aku tahu, kirain gak sesakit tadi! Aku gak mau lagi. Sakit perih tahu gak!"
"Iya iya. Sini."
Keenan memeluknya dari belakang. Lala membalikan tubuhnya menghadap Keenan hingga wajah Keenan kini tepat di dadanya. Lala mengelus rambut tebal Keenan.
"Hon, masa gak mau lagi?" tanyanya setelah mereka tenang.
"Iya nanti Bee. Akunya masih sakit ini"
"Kalau di nanti-nanti, makin lama lagi sakitnya."
"Ini aku masih perih panas gitu, gak enak tahu."
"Ya tahan Hon. Semua juga sama kayak gitu dulu, gak langsung enak."
"Seenak apa sih! Sampai orang-orang pada doyan"
"Tadi enak kan pas kita c*uman? Nanti puluhan kali lipat enaknya."
"Kamu udah pernah?" Lala menatapnya tajam
"Enggak lah. Kata orang Hon aku juga."
"Makanya orang punya banyak anak juga saking enaknya itu!"
"Ya udah nanti aja! Udah tidur dulu aja sekarang." ajak Lala
Bukan Keenan namanya yang patuh pada perintah Lala. Keenan mulai mengusik kembali istrinya.
"Bee apa sih."
"Masa tidur sih? Malam pertama ini"
"Terus kalau malam pertama harus ngapain? Melek semalaman gitu?"
"Ya udah aku diem. Aku minum obat tidur ajalah. Biar kamu bebas mau ngapain juga!" ketus Lala membuat Keenan tertawa.
"Pasrah. Aku bilang pasrah."
"Oke"
"Ayo coba lagi." ajak Keenan.
"Iya. Aku mau diem." Keenan tersenyum.
Keenan melancarkan kembali aksinya. Kali ini dia bermain di dada sang istri. Beberapa kali Lala nampak meringis atas perlakuan Keenan di dadanya namun dia tahan agar tak bersuara.
"Sepi amat Hon."
"Haha.. Aku diem, salah. Berisik juga salah. Mau kamu apa Bambang!"
" Aku jadi gak tega tahu gak. Kayak merk*sa kamu jadinya."
"Ya udah gak apa-apa."
"Gak enak Hon. Kayaknya kamu terpaksa. Udah tidur aja" ajak Keenan.
"Yakin gak lanjut aja?" tanya Lala yang kini merasa tak enak hati
"Iya. Besok aja. Kita kumpulkan tenaga dulu. Besok kita kerja keras bagai kuda."
"Kamu aja kuda!"
Keenan mulai memejamkan matanya sementara Lala menatapnya tak henti.
'Aku punya suami?' batin Lala
Tanpa sadar Lala mendekatkan bibirnya mengecup Keenan membuat Keenan tersenyum.
"Jangan mulai." ucap Keenan.
"Aku siap." Lala berbisik
Keenan seketika membuka matanya.
"Yakin?" tanyanya menatap lekat manik Lala. Lala mengangguk seraya tersenyum malu.
Keenan bergegas ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membunuh rasa kantuknya.
Dia tersenyum menghampiri Lala. "Tahan ya, orang lain aja doyan, masa kamu enggak"
"Sakit Bambang."
"Tuh yang suka zin*-zin* itu biasa aja."
"Astaga rese nih si Bambang! Masa mau disamakan dengan mereka."
"Enggak. Maksudnya mereka aja bisa. Kamu juga pasti bisa. Lama-lama kamu ketagihan tahu!"
"Bodo ah. Aku ngantuk. Kamu malah ngajakin debat."
"Ih Hon. Aku udah cuci muka begini!"
Keenan membulatkan tekadnya. Kali ini dia benar-benar menguasai tubuh istrinya. Dia menyusuri setiap inci tubuh Lala memberikan beberapa kissmark di dadanya.
Lala ikut berhasarat kembali. Kali ini dia membalas setiap perlakuan Keenan dengan d*sahan yang terdengar manja di telinga Keenan membuat Keenan lebih semangat.
"Kamu gigit aku aja kalau sakit ya."
"Jangan di gituin. Nanti akunya malah takut" ucap Lala.
Keenan kembali memberi pengalihan pada Lala agar Lala terbuai hingga akhirnya Keenan mulai melancarkan aksinya membuat Lala meringis kesakitan seraya meremas lengan Keenan.
Keenan mencium kening Lala seraya tersenyum. Dia melanjutkan kembali aktivitasnya hingga akhirnya dia mengejang dan terkulai lemas. Sementara Lala meneteskan air matanya.
"Hon?"
"Sakit tahu Bee.." Lala terisak
"Maaf. Tapi enak kan?"
"Pala lo enak!" Lala menoyor pipi Keenan membuat Keenan tersenyum geli.
"Ya maaf Hon."
Lala mengusap air matanya.
"Terima kasih, Honey. Aku janji. Aku gak bakalan nyakitin kamu."
"Ini udah nyakitin aku, beg*!"
"Haha.. Maksudnya bukan itu ih. Itu mah harus gitu dulu dimana-mana juga."
"Yuk bersihkan dulu." ajak Keenan
"Aw.. Sakit.. Sana kamu duluan"
Keenan turun dari ranjang. Seketika dia naik kembali ke atas kasur. "Hon.."
"Apa?"
"Ranjang berdarah" Keenan mengusap seprai yang terkena noda darah."
"Astaga.. Sumpah Keenan kamu KDRT!"
"Aku foto sebagai barang bukti kasiin ke polisi sekalian!"
"Haha.. Jahat banget."
"Dah ah, aku ke kamar mandi dulu."
Lala masih meringis kesakitan.
'Gak mau lagi kayak begini. Enak-enak! Enak dari Hongkong! Sumpah sakitnya gak karuan!" gerutu Lala
Keenan sudah kembali ke kamar mereka melihat Lala yang tidur menyamping.
"Yuk aku anter ke kamar mandi"
"Enggak"
"Ayo Honey" dengan terpaksa Lala bangkit. Keenan memangku istrinya menuju kamar mandi.
"Enggak. Turun ah turun. Aku takut jatoh Bee."
"Diem kamunya jangan gerak."
Tiba-tiba Keenan menurunkan istrinya.
"Sumpah berat Hon." Keenan membungkuk memegang lututnya.
"Makanya jangan sok jagoan kamu!"
"Kamunya kebanyakan dosa jadinya berat."
"Iya, gimana gak dosa orang kesel terus sama sikap kamu!" Lala masuk ke dalam kamar mandi.
Tak berapa lama, Lala membuka kamar mandi.
"Astaga! Aku pikir kamu udah kesana." Lala mengusap dadanya
Keenan mengulurkan tangannya mengajak Lala berjalan menuju kasur mereka.
"Terima kasih, Honey buat segalanya. Aku cinta kamu sampai kapanpun." Keenan mengecup bibir Lala.
***
Lala bangun setelah mendengar dering ponsel.
"Laaaa kamu gak pulang apa?" teriakan Ibu diseberang sana
"Hooaammm.. Iya Bu nanti kesana."
"Ibu bilang jual mahal dulu kek."
"Apa sih ibu? Udah ah! Aku mau siap-siap. Assalamualaikum."
Lala kembali merebahkan tubuhnya disamping Keenan. Dia menatap Keenan seraya tersenyum kemudian mengecup kening Keenan.
'Ya Tuhaan apa yang sudah aku lakukan tadi malam' batin Lala merasa malu sendiri seraya tersenyum.
"Pasti kamu mikir yang semalem" goda Keenan saat melihat Lala tersenyum.
"Apa si!"
"Jujur aja."
"Aku cuma gak nyangka aja. Aku nikah sama kamu" ucap Lala
"Yakin mikirin itu?"
"Iya lah. Udah ah, aku gak mau debat pagi-pagi. Kamu tuh gak ada gitu romantis-romantisnya sama aku?" keluh Lala
"Mandi yuk?"
"Sana duluan."
"Bareng aja." Keenan bangun kemudian menatik lengan Lala.
"Masih sakit?" tanyanya
"Huum."
Keduanya kini berjalan menuju rumah Ibu dengan wajah ceria. Mereka saling lirik kemudian tersenyum saat hendak masuk ke dalam mobil.
"Hon" Keenan menempelkan jari di bibirnya.
Tanpa ada penolakan, mereka saling memagut satu sama lain.
"Udah ah. Gak kelar-kelar." Lala melepaskan pagutan mereka.
"Lagian mau apa sih ke rumah Ibu, Hon? Harusnya kita berduaan" gerutu Keenan.
"Gak tahu tuh Ibu. Aku juga masih lemes tahu." Lala dengan malas memakai safety belt.
Lala mengarahkan kaca spion dalam mobil ke arah dirinya. Dia menatap dirinya dalam pantulan cermin tersebut. Lala nampak segar dengan rambut setengah basah yang dia mainkan agar segera kering.
"Berangkat sekarang?" tanya Keenan
"Kuy"
Keenan mulai melajukan mobilnya, mereka saling melempar canda selama perjalanan menuju rumah hingga tak terasa tiba di rumah Ibu.
"Kok banyak orang sih Hon?"
"Aku gak tahu"
Keduanya berjalan masuk menuju pintu rumah.
"Selamat datang pengantin baru" teriak Ibu-Ibu Kader dari RW mereka.
.
.
.
Iniiiihhh yang diharapkan bukaaaaann?? Soookk di like, komentar yang seru, double vote juga. Oke jamaah? Terima kasih ^^