
Keenan menggandeng Lala keluar dari mobilnya. Lala terlihat lebih anggun dari biasanya dengan memakai mini dress berwarna hitam pilihan Keenan, sangat cocok dengan kulitnya yang putih. Begitupun dengan Keenan, dia memakai kemeja dipadukan dengan blazer dengan tatanan rambut yang rapi membuatnya terlihat sangat tampan. Mereka berjalan masuk ke dalam salah satu menara pencakar langit.
"Kita kemana sih, Bee?"
"Rahasia."
"Ih!"
"Jangan banyak tanya, Hon. Penampilan kamu udah anggun gitu. Masa kamunya gak ada anggun-anggunnya." protes Keenan
Lala cemberut mendengar kritikan Keenan. Dia merasa sedikit tersinggung.
Mereka berdiri di depan lift menunggu lift terbuka. Keenan menekan tombol 56 dan lift pun melesat melewati lantai demi lantai hingga berhenti di lantai yang mereka tuju.
"Jangan cemberut gitu dong, Honey" ucap Keenan begitu tiba disana.
"Atas nama siapa Tuan?" tanya seorang perempuan pada Keenan saat melihat keduanya mendekat.
"Keenan Wijaya"
"Silahkan" perempuan tersebut mempersilahkan Keenan dan Lala masuk. Keenan menyusui restoran kemudian keluar menuju roftoop longue dengan pemandangan cahaya lampu di tengah kota.
Lala nampak takjub melihat gemerlap indahnya kota dari atas menara tersebut. Keenan mengajak Lala duduk di atas sofa tepat di depan kolam yang terlihat berwarna biru seolah menyala.
"Bee.."
"Yes, Honey"
"Terima kasih" Lala tersenyum manis. Keenan ikut tersenyum seraya menutup matanya membuat Lala gemas.
"Mau pesan apa?" tanya Keenan saat waitress datang dan memberikan buku menu padanya.
"Mau pesan sekarang atau nanti?" tanya waitress tersebut
"nanti saja"
"Baik saya tinggal Tuan, Nona" ucapnya
"Bee.. " Keenan meliriknya
" Nona bukan Nyonya" Lala tersenyum senang.
"Harusnya kamu protes dong. Kan sekarang Nyonya Keenan."
"Aku masih cocok jadi Nona, Bee" Lala menjulurkan lidahnya seraya mengejek.
"Kayaknya kita dikira masih pacaran kali Hon."
"Iya lah. Kita kan masih muda. Eh, aku pas sih nikah umur segini. Kalau kamu kayaknya kemudaan sih Bee. Laki-laki biasanya nikah du atas 27 tahun"
"Sok tahu kamu." Keenan membuka menu yang dipegangnya.
Lala membolak balik menu. "Astaga Bee.. Harga air mineralnya mahal banget."
" Ssttt.. Jangan norak"
"Sayang banget Bee.."
"Gak apa-apa, aku udah reservasi ini. Kamu makan seharga ini" Keenan menunjukan sepuluh lembar voucher yang dibawanya.
"Astaga.. Banyak banget. Bisa bawa rombongan Ibu-Ibu kader ini mah Bee."
"Ck..kamu lupa aku siapa?" Keenan menopang dagunya seolah berbangga diri.
"Aku bisa nelen gak makanan kayak gini Bee? Kan sayang Bee kalau makan mahal kayak begini"
"Tuhaan.. Lama banget mau pesan juga. Protesnya nanti dirumah aja Hon. Cepetan pesen. Tuh di lihat sama waitressnya."
"Bee, aku gak ngerti ini apa aja. Namanya aneh-aneh. Gak ada gambarnya juga."
Keenan tersenyum mendengar ocehan Lala.
"Ini beef di masak gimana coba, Bee?"
"Mau?" Keenan memotongnya cepat tak banyak bicara.
"Ih mahal banget. Dapat berapa kilo kalau beli di pasar."
"Honey."
"Oke oke" lala menatap menu tersebut. "Ini, ini, ini" Lala menunjuk menu yang kira-kira dia mengerti saja.
"Minumnya apa?" tanya Keenan. "Ini alkohol" lanjutnya seraya menunjuk beberapa menu.
"Iya tahu"
Keenan memesan menu yang dipilih istrinya.
Selama menunggu, Keenan memeluk pinggang Lala dengan mesra.
"Bee, yang kesini harus pakai baju formal semua?"
"Iya."
"Kalau pakai kaos?"
"Ya gak bisa masuk."
"Astaga ketat banget Bee?"
"Hmm.."
"Bee.. "
"Kenapa?" Keenan kini memegang tangan Lala
"Gak sayang beli makan segini mahalnya?"
"Justru aku sayang kamu, makanya mau ajak kamu ke tempat indah kayak gini" ucap Keenan seraya membetulkan rambut Lala yang mengenai pipinya. Tentu saja membuat Lala malu dan seakan meledak.
"Bee"
"Apa lagi honey?"
"Terima kasih"
"Anything for you, Hon" Keenan tersenyum
"Jangan kayak gitu."
"kayak gitu gimana?" Keenan nampak berpikir
"Jadi ingin cium deh lihat ekspresi kamu"
"Ketagihan kamu ya?" Keenan menggoda
"Enggak juga. Tapi aku suka" Lala menyandarkan tubuhnya pada Keenan.
"Hon, kita tinggal di Apartemen aja ya? Biar bebas."
"Ibu gimana? Aku kasihan sama Ibu kalau sendirian. Kalau ada apa-apa gimana?"
"Hmm.. Ibu ajak deh. Siapa tahu Ibu mau."
"Kalau gak mau gimana?"
"Hmm.. Nanti deh kita bujuk dulu."
Lala membuka ponselnya. "Bee, ayo foto. Masa kita gak pernah foto sama sekali?"
"Eh iya ya? Aku terlalu menikmati saat bersamamu."
"Dih! Gombal Abangnya." Lala memotret dirinya dan suaminya. "Gelap ah" ucap Lala.
Pesanan mereka pun tiba. Lala nampak lapar mata saat melihat hidangan di hadapannya.
"Harganya mahal banget. Tapi makanannya porsi anak paud coba" celetuk Lala yang membuat Keenan tertawa.
"Bisa gak sih kamu tuh anggun, Hon?"
"Kamu mau aku anggun? Terus kamu gak bisa ketawa lepas gara-gara aku jaga image. Mau?"
"Enggak. Aku suka kamu kayak gini juga. Suka bikin aku ketawa tiba-tiba."
"Terus kenapa bilang anggun-anggun terus?" Lala cemberut. "Sebel deh, kamu kalau bilang gitu tuh. Kamu nikah aja sana sama Bu Tasya." gerutunya.
"Maaf. Maksud aku ada kalanya kamu harus berhenti ngoceh. Biar orang gak ngetawain kamu, Hon."
"Kenapa? Aku malu-maluin kamu?"
"Enggak Honey. Cuma ya ada waktunya kita becanda. Ada waktunya serius juga." Keenan menatap Lala "Maaf kalau aku nyinggung kamu. Bukan maksud aku membandingkan kamu dengan orang lain. Di hati aku cuma ada kamu doang, Hon. Jangan ungkit Tasya atau siapapun." ucap Keenan.
"Bohong! Tiap-tiap tuh kamu bilang anggun-anggun terus. Kok kamu seolah menuntut aku harus berubah?" Lala menelan salivanya berat.
"Iya. Maaf Honey. Udah ya, kita kan lagi dinner romantis nih" ucapnya.
Lala memotong steak miliknya dengan enggan. Dia nampak memikirkan omongan suaminya tadi.
"Gak enak Hon?" tanya Keenan saat melihat Lala seolah memainkan makanannya.
"Enak" ucapnya singkat.
Lala kini hilang selera, dia lebih memilih memainkan ponselnya.
"Hon, makan dulu."
"kamu aja"
"Kamu kenapa sih?" Keenan melepas garpu dan pisau di tangannya. "Marah?" tanyanya lagi.
"Pikir aja sendiri."
"Aku kan udah minta maaf." Keenan meneguk minuman miliknya. "Masa dilanjut sih marahnya?"
"Kamu disinggung gak mau kan? Aku juga! Kadang kamu seenaknya sama aku, Bee."
"Apa sih? Cuma disuruh anggun doang, masa marah" ketus Keenan.
"Kalau aku bilang, kamu kayak Pak Reza dong. Romantis, humoris, budak cinta abis, gimana? Mau gak?"
"Aku kan gak sebut nama. Cuma minta kamu anggun aja." keduanya kini terdiam.
"Aku minta maaf, sayang." Keenan meraih tangan Lala.
"Yuk makan lagi." ajaknya.
Mood Lala kini berantakan. Dia makan dengan enggan.
'Kalau gak ingat harga makanan disini, gak bakalan di makan!' batin Lala.
Setelah makan, Lala fokus menatap indahnya gemerlap lampu. Dia sedikit termenung dan terhanyut dengan lamuanannya sendiri.
Keenan melingkarkan tangannya di pinggang Lala membuat Lala menoleh kepadanya.
"Biasa aja."
"Hon, i love you" bisik Keenan di telinga Lala. Lala hanya terdiam. Tak menyahuti Keenan.
"Hon.. Ih kenapa sih? Gak biasanya kamu sensitif begini." ucap Keenan.
"Aku mau jadi wanita anggun. Gak banyak omong atau protes."
"Bukan gitu juga."
"Terus?"
"Ya maksudnya, kamu kalau waktunya serius ya serius." ucap Keenan.
"Ini kita lagi serius kan dari tadi." ucap Lala membuat keduanya kembali terdiam hingga Keenan ikut terpancing kesal.
"Yuk pulang" ketus Keenan. Keenan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Lala. Lala tersandung saat hendak menyusul Keenan. Dia berjalan sedikit terpincang karena kakinya terasa sakit.
Keduanya masuk ke dalam mobil saling membisu. Keenan fokus memgendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga tiba di lobby apartemen mereka.
Lala melepas high heels miliknya.
'Percuma mahal tapi gak nyaman.' batin Lala. Dia menenteng sepatu miliknya saat masuk ke dalam lift.
Begitu keluar, Keenan berjongkok. "Ayo naik" ajaknya. Lala yang kesal mengacuhkannya hingga Keenan menarik lengan Lala.
"Naik" titahnya dengan sorot mata yang tajam.
Lala menempelkan tubuhnya di punggung Keenan. Dia melingkarkan tangannya pada leher sang suami.
"Hon"
"Hmm.."
"Kamu berat banget."
"Ya udah turunin. Aku juga gak minta gendong." ketus Lala
"ih sensi amat Nengnya Abang."
"Habis nyebelin banget kamunya"
"Maaf Honey, aku salah. Udah ya jangan marah lagi."
Lala menikmati aroma tubuh suaminya. Dia mengeratkan pelukannya.
"Bee"
"apa?"
"Kamu suka gini kan?" Lala mengecup leher Keenan membuat Keenan tertawa geli.
"Geli Hon. Nanti kamu jatuh."
"Bodo! Kamunya nyebelin."
"Haha..Udah Hon..ampun."
"Kamu sengaja banget kan mancing aku?" ucap Keenan
"Gak usah dipancing juga kamu mah nyamber sendiri."
Mereka tiba di pintu apartemen miliknya.
"Buka Hon." Keenan menyampingkan tubuhnya agar Lala mudah membuka knop pintu kemudian menurunkan Lala di atas sofa. Dia memutar tubuhnya hingga berhadapan.
"Udah cantik begini, jangan marah-marah terus" ucap Keenan seraya mengelus pipi istrinya
"Kamunya ngeselin tahu! Sebel aku sama kamu" Keenan langsung mengecup istrinya.
"Maaf sayang" Keenan mengusap bibir istrinya.
"Udah ah! Aku mau ganti baju dulu." Lala hendak turun tapi Keenan menahannya.
"Udah gini aja. Aku suka."
"Apa si Bee" Lala nampak malu-malu "Jangan lihat aku kayak gitu, Bambang!" Lala menutup wajah suaminya.
Keenan kembali mengecup istrinya. Dia menggendong Lala membawanya ke kamar.
"Kita belum ganti baju, Bee."
"Nanti di lepas juga ah. Biar sekalian. Aku suka kamu kayak gini."
"Aku seksi ya?"
"Iya. Makanya kamu pakai bajunya yang gini aja depan aku." ucap Keenan seraya membenamkan wajahnya di ceruk leher Lala.
Keenan melancarkan aksinya kembali. Dia tak hentinya mengulang rasa yang membuatnya mabuk kepayang.
"Nurutnya istri aku, terima kasih Honey." Keenan mengelus rambut Lala yang masih terkulai lemas diatas tubuhnya.
"Kalau aku hamil gimana Bee?"
"Ya aku seneng lah."
"Tapi aku belum siap, Bee. Aku pakai alat kontra***** aja dulu. Gimana?"
Keenan menggulingkan tubuh istrinya ke samping.
"Enggak. Awas lu ya kalau berani macem-macem!"
"Aku gak siap hamil sekarang-sekarang Bee."
"Kenapa?"
"Aku ngerasa kita masih labil. Masih emosian."
"Kalau kata aku, kita ya memang begini Hon. Biar semuanya ngalir biasa aja."
"Ngalir biasa aja? Yang minta aku anggun siapa tadi?"
"Iya iya maaf. Dibahas terus."
Lala menutup tubuhnya dengan selimut. "Kalau kamu menuntut aku untuk berubah, ke depannya kamu bakal terus kecewa kalau aku gak sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Beda lagi kalau kamu nerima aku apa adanya. Seberisik gimanapun aku, kamu bakal enjoy disamping aku."
"Aku gak mau punya anak, selama kamu menuntut aku ini itu, Bee. Karena kedepannya akan jadi beban buat aku sendiri."
"Iya maaf. Aku gak akan bilang apapun lagi. Aku suka kamu apa adanya, Honey."
"Bohong banget kamu. Tadi apa minta aku anggun?"
"Sudah sih Hon. Kan aku gak jadi minta kamu anggun."
Keduanya terdiam. Keenan memejamkan matanya terlebih dulu sementara Lala masih larut dalam lamunan.
'Aku jadi takut. Kedepannya dia nuntut macem-macem yang bikin aku gak nyaman.' batin Lala
***
Keenan menopang kepalanya dengan sebelah tangan menghadap Lala. Dia menatap istrinya yang masih pulas. Sesekali dia mengelus lembut pipi Lala dan mencium keningnya.
Keenan kemudian bangkit, dia memakai bajunya kemudian keluar kamar. Setelah beberapa lama, dia masuk ke dalam kamar membawa sebuah nampan berisi roti dan teh hangat.
"Hon.."
"Bangun yuk."
"Masih ngantuk Bee.." Lala masih memejamkan matanya
"Ayo bangun dong, Honey. Kita fitting baju buat resepsi sekalian final meeting sama vendor. Tapi jemput Ibu dulu." ajaknya
Lala membuka matanya. Dia sedikit salah tingkah saat melihat Keenan sedang menatapnya sambil tersenyum, dia segera berlari ke kamar mandi.
Mereka sarapan di dalam kamar kemudian bersiap untuk pergi ke rumah Ibu.
"Aku tadi udah telepon ibu pas kamu mandi, jadi kita nanti langsung berangkat Hon." ucap Keenan saat mereka di perjalanan.
"Ibu yakin mau?"
"Hmm.. Tadi aku udah kasih tahu, tapi aku gak tahu Ibu mau atau enggak."
Keduanya kini tiba dirumah Lala.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalaam."
"Loh? Ibu gak siap-siap?" tanya Keenan
"Enggak. Kalian saja. Ibu gak ikut."
"Bu, gak enak sama orangtua Keenan Bu." bujuk Lala
"Hhh... Ibu gak usah ikut resepsi kalian. Kalian juga sudah selamat ini." ucapnya
"Ayo dong Bu, masa Ibu gak ikut." Keenan ikut membujuknya
"Disana Ibu kan gak ada yang kenal juga."
"Pokoknya Ibu harus ikut Bu. Nanti Ibu minta ditemani saja Bu, aku nanti minta undangannya sama Mama" bujuk Keenan
Setelah membujuk Ibu panjang lebar, mereka akhirnya tiba di hotel. Mama Keenan uang datang terlebih dahulu, segera menyambut kedatangan mereka.
"Sudah punya rumah baru, Keenan sampai-sampai gak pernah pulang. Terima kasih Bu, sudah mau menerima Keenan." Ucap Mama Keenan
"Sama-sama. Iya, mereka pulang barusan saja mau jemput kesini."
"Loh, mereka gak tinggal di rumah Ibu Tita?"
"Enggak. Katanya di apartemen." Mama Keenan nampak sedikit terkejut.
"Aku kira tinggal di rumah Bu Tita sesuai dengan perjanjian kita." ucapnya seraya berbisik
"Yah pengantin baru, sepertinya mereka ingin bebas berekspresi." ucap Ibu
Mereka kini nampak serius saat meeting bersama vendor. Beberapa kali Mama Keenan meminta Ibu memberikan pendapatnya. Namun Ibu hanya mengikuti alur mereka.
Setelah selesai, mereka berbincang ringan.
Mama Keenan nampak tak enak pada Ibu saat tahu anaknya tak tinggal bersama Ibu Tita.
"Keenan, Mama mau bicara sama kamu." Mama Keenan menatapnya.
.
.
.
Terima kasih masih mau mengikuti HonBee. Tetep dukung mereka ya.. Bantu like, komentar dan vote. Makasih ^^