My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Kapan Kita Honeymoon?



Tak terasa, pernikahan Keenan dan Lala telah berjalan sebulan. Mereka pun kembali ke rumah Ibu dari dua minggu yang lalu.


Keenan tak hentinya merengek pada Lala karena mereka belum melakukan honeymoon sesuai keinginan Keenan. Sementara Lala sendiri merasa tak enak hati pada Pak Reza untuk meminta izin cuti setelah cuti panjang pernikahan mereka kemarin.


"Kapan sih kamu ada waktu buat aku, Hon? Manjain suami itu pahala tahu!" Keenan tengkurap sambil menatap Lala yang tengah memakai skin care.


Lala yang menatap Keenan dari pantulan cermin seketika berbalik. "Astaga kamu bilang gak ada waktu, Bee? Weekend kita bareng-bareng terus. Kok kamu bilang gak ada waktu?" Dia melanjutkan kembali memijat pipinya.


"Kapan kita honeymoon? Kamu gak mau apa dirahim kamu tumbuh benih dari aku?"


"Kamu kok ributin honeymoon terus? Padahal kamu celup-celup hampir tiap malam!" ketus Lala dengan cueknya.


"Haha.. Anj*r celup-celup dia bilang" Keenan terbahak. "Beda suasananya Hon."


"Tapi kan tetap aja kamu ke itu-itu juga masukinnya?" Lala mengancingkan baju tidur couple miliknya.


"Emang kamu mau dimasukin di lobang hidung kamu?" Keenan terbahak.


"Astaga imajinasimu" Lala menoyor pipi suaminya.


"Lagian, orang aku bilangnya suasananya. Feelnya itu loh Yong. Kamu bahasnya malah lobangnya."


"Feelnya apa? Merem melek juga ujung-ujungnya."


Keenan tertawa lagi. "Iya sih. Ih kamu ya, aku tuh mau manjain kamu ke tempat bagus susah amat! Kesel aku lama-lama." ketus Keenan.


"Rasanya gak guna tahu gak kamu nikah sama laki tajir kayak aku." Keenan mengubah posisinya. Kini memiringkan tubuhnya seraya menopang kepalanya.


Lala tersenyum. "Tabung aja dulu uangnya. Nanti aku resign, kita keliling dunia"


"Gak bisa lah Munah!"


"Kok gak bisa?"


"Suamimu yang tampan ini punya tanggung jawab. Punya ribuan karyawan. Gila apa ya, keliling dunia. Butuh berapa lama" gerutunya


"Suamiku yang ganteng tapi sayangnya sedikit o'on, emangnya kita bakalan nomaden apa! Ya enggak lah Bambang!"


"Terus apa?"


"Misal nih, ke Turki dulu, terus pulang. Ke Korea, pulang lagi, ke Jepang, balik lagi. Kayak gitu!"


"Heh Oneng! Jangankan di ajak ke Turki, Korea, Jepang, atau Antartika sekalipun. Diajak ke Puncak aja nolak mulu!"


"Puncak? Puncak mana? Kamu gak pernah ajak aku ke Puncak." Lala sedikit berpikir.


"Puncak kenikmatan" Keenan terbahak.


"Ck.. Nolak juga ujung-ujungnya kamu dapet kan? Kamu mana bisa libur!" Keenan tersenyum mendengarnya karena memang betul apa yang diucapkan istrinya tersebut.


"Eh Yong, mm.. Kalau renovasi rumah dulu. Mau gak?"


"Renovasi? Emang rumah kenapa?"


"Gak apa-apa sih? Mereka kan tahu menantu Ibu ini tajir melintir ampe dikuncir-kuncir."


Lala yang mendengarnya terbahak.


"Jangan ketawa dulu Oneng!"


"Iya, terus?" lala. Masih tersenyum.


"Ya biar legaan gitu kamar kita Yong. Aku inginnya rumah ditingkat tiga kek. Biar ada temen Ibu juga enak tuh mereka ngerumpinya. Lagian mobil aku gak ada garasinya."


"Serius?" Lala sedikit terharu dengan ucapan Keenan.


"Astaga! Kamu pikir aku becanda apa!" ketus Keenan


"Biasa aja kali ngomongnya gak usah ngegas!" Lala menutup mulut Keenan.


Keenan melepas tangan Lala kemudian menggenggamnya. "Gimana?"


"Aku setuju banget sayaang" Lala tersenyum manis. "Perhatian banget sih suami aku sama mertuanya."


"Iya dong."


"Tapi nanti kamu yang bilang ya Bee?"


"Iya besok pagi aja. Sekarang waktunya main celup-celupan" ucap Keenan membuat mereka berdua tertawa.


Tanpa basa basi, Keenan segera merangkak naik ke tubuh Lala. Disela-sela ciumannya, tangannya bergerak untuk membuka kancing piyama Lala.


"Ck.. Aku bilang kamu pakai tanktop aja kalau malem. Sok-sokan pakai piyama couple segala sih! Susah tahu bukanya!" Ketus Keenan yang gak sabar.


Lala terbahak mendengarnya. "Kan kalau foto berdua bagus, sayang."


"Videoin aja sekalian kita lagi celup-celupan!"


"Keenan ih ngomongnya!" Lala memukul lengan Keenan, omelannya terhenti karena lum*tan bibir Keenan.


***


"Hon" Keenan melirik Lala yang tengah menuangkan nasi goreng ke piring Keenan


"Kamu yang bilang ah" Ucap Lala santai.


"Kamu mau bekal risol gak Keen?" teriak Ibu dari dapur.


"Emang ada, Bu?"


"Ada."


"Bungkuuus Buu." ucapnya.


"Lima ribuan yaa" ucap Ibu


"Lima ribu mah seujung upil bu" Keenan tertawa


"Keenan ih jorok ngomongnya!" Lala memukul lengan suaminya.


Ibu membawa risol yang masih panas ke meja makan. "Nih buat sarapan juga. Tuh masih di goreng buat dibekal kamu. Sengaja Ibu bikin buat kamu." ucapnya


"Tahu gitu, aku gak makan nasi goreng Yong" keluh Keenan saat melihat risol kesukaannya.


"Ya udah sini, biar aku yang makan nasi gorengnya kalau kamu mau risol." Lala mengambil piring Keenan dan menggantinya dengan piring baru.


"Mana kenyang makan risol doang?" Protes Ibu.


"Ibu kayak gak tahu dia aja. Bentar lagi juga minta disuapin" gerutu Lala.


"Tahu nih Ibu" Keenan menyahutinya.


"Lagian, Udah gede juga minta disuapin! Gak tahu malu banget kamu." Ibu memukul lengan menantunya.


"Bu, pengantin baru Bu! Elaah.. Masa gak ngerti sih Ibu"


Ibu menatapnya malas, dia kembali ke dapur.


"Bu.. Aku mau bicara."


Ibu menghentikan langkahnya seraya berbalik. "Apa?"


" Sini dulu Bu." Tak banyak bicara, Ibu kembali dan menarik kursi makan.


"Bu, mobil aku kan di parkir di luar terus. Aku gak enak Bu, sama warga sini."


"Gak apa-apa, Ibu sudah bilang sama Pak Rw."


"Gak gitu juga Bu, kalau kegores kan sayang Bu. Mana mobil mahal." Lala ikut bersuara.


"Terus kenapa? Mau pindah lagi ke apartemen?" seru Ibu dengan meninggikan nadanya.


"Bukan Bu. Jangan suudzon dulu sama mantu Bu." ucap Keenan membuat Ibu tersenyum. "Renovasi saja rumahnya ya Bu? Bikin garasi. Gimana?"


"Terus kalau dipakai garasi, rumah kita makin sempit dong?"


"Ya di tingkat Bu. Tingkat tiga aja. Gimana Bu?"


Ibu terdiam sejenak.


"Aku cuma gak enak sama warga sini, Bu. Kita kan gak tahu hati orang bagaimana. Siapa tahu mereka merasa risih gitu Bu."


"Terus kalau rumah di renovasi kita mau tinggal dimana?" tanya Ibu. "Ibu gak mau ya tinggal di apartemen. Sumpek. Gak ada halaman juga"


"Bilang aja gak bisa ghibah bareng tetangga, Bu" ucap Lala


"Ck.. Kalau kamu tahu makanya jangan ajak kesana"


"Eh buset, beneran lagi." Lala dan Keenan tertawa mendengar kejujuran Ibu.


"Ya udah, cari rumah yang di sewa saja Bu. Kalau bisa yang ada garasinya."


"Nanti coba Ibu tanya rumah Cang Mamat. Kemarin katanya mau di kontrakan gitu. Dia mau ikut anaknya. Tapi gak tahu juga jadi apa enggak"


"Jadi boleh Bu? Rumahnya di renovasi?" tanya Keenan


"Ya mau gimana lagi kalau kamu gak enak parkir di luar."


"Iya Bu, gak enak sama tetangga. Nanti Ibu lagi yang di ghibahin." timpal Keenan


"Baguslah. Dosanya kan jadi di transfer ke mereka." Ibu menopang wajahnya diatas meja. "Ya Tuhaaaann.. Risoooooollll" Ibu beranjak setengah berlari teringat risolnya yang masih digoreng.


"Gara-gara kamu kaaaann" teriak Ibu


***


Hanya dengan menjentikan jarinya, tak butuh waktu lama untuk Keenan merealisasikan usulannya.


"Udah sih Bu, kan biar bagus rumah Ibu" ucap Keenan


"Kamu gak tahu sih, banyak kenangan kita dirumah ini." Lala ikut bersedih.


"Rumah yang Ibu beli dengan susah payah. Baiknya minta ampun yang punya rumah ini. Tahu Ibu janda, bawa Lala waktu itu masih SD kalau gak salah. Malah boleh Ibu nempati ini rumah. Padahal belum lunas."


"Kata Ibu beli." protes Lala


"Iya beli. Uangnya kurang. Tapi mereka sudah izinkan kita tinggal disini sebelum lunas. Sisanya Ibu cicil sampai lunas. Eh begitu lunas, yang punyanya meninggal." kenang Ibu seraya menghapus air matanya yang menggenang di pelupuk matanya.


"Ya udah yuk, debu ah lama-lama disini Bu." ajak Keenan berjalan menuju rumah kontrakan mereka yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah mereka.


Kini mereka menempati rumah Cang Mamat sesuai dengan permintaan Ibu. Tapi setiap Weekend tiba, Keenan selalu mengajaknya ke apartemen dengan alasan bersih-bersih. Padahal apartemen tersebut setiap hari ada yang merawatnya.


"Abang gak rindu sama Mama Papa gitu, Bang?" tanya Lala saat mereka sedang rebahan di kamar.


"Kamu mau kesana?"


"Iya. Aku gak enak. Masa anaknya gak pulang-pulang."


"Ya udah ayo, mau sekarang? Mumpung gak terlalu siang. Jadi sore kita pulang ke apartemen." usul Keenan melirik istrinya.


"Kuy." Lala bangkit seketika Keenan menariknya hingga Lala terjatuh ditubuh Keenan.


"Kecup dikit boleh kali Yong."


"Dih manja banget sih Abangnya aku." Lala mengecup wajah Keenan kemudian melum*t bibir Keenan.


"Yang udah jagoo." Keenan menggodanya.


"Aku kan punya suhu." Lala tertawa. "Kamu bisa jago banget sih! Jangan-jangan kamu udah sering" tuduh Lala.


"Sembarangan! Gak sembarang orang bisa sentuh tubuh aku, Munah!"


"Jadi kamu sebenernya manggil aku apa sih? Yong, Hon, Oneng, Munah, Maemunah, Munaroh. Nama aku bagus juga, dipanggilnya yang enggak-enggak! Gini-gini bapak aku orang Jepang tahu!" Keenan terbahak mendengar protesan Lala.


"Aku manggil kamu apapun juga intinya kamu kesayangan aku." Keenan mengecup kilat bibir Lala. "Lagian Bapak kamu orang Jepang gak ada ngaruhnya sama kamu. Gak ada kamu Jepang-jepangnya." ucap Keenan


"Ya karena pas pembagian Gen Jepang, aku absen tahu!" Keenan terbahak mendengar ocehan istrinya. Bisa-bisanya dia absen saat pembagian gen. Sungguh konyol menurutnya.


"Astagaa Hon, perut aku sakit. Onengnya kebangetan istri aku." Keenan mengecup lagi Lala


"Kamu mah modus! Oneng-oneng tapi cium lagi cium lagi!" ketus Lala "Dah ah." Lala hendak beranjak dari atas tubuh Keenan.


"Gini dulu kenapa sih Yong?" Keenan memelukny erat.


"Kata kamu mumpung pagi ke rumah Mama. Gimana sih?"


"Ya udah ayo" Keenan melepas pelukannya.


Keduanya kini tengah berada di dalam mobil. Mereka tak hentinya bernyanyi sambil menikmati jalanan yang sedikit padat.


"Weekend orang pada kemana sih? Bikin macet aja." gerutu Keenan


"Sama lah orang juga refreshing kali."


"Bee, berhenti di toko kue langganan ya, aku mau bawa cheesecake buat Mama."


Keenan segera membelokan mobilnya ke toko kue yang Lala maksud.


"Kamu tunggu aja, Bee." ucap Lala seraya keluar mobil.


"Gak pakai lama"


Lala berjalan hendak masuk ke dalam toko, namun sesaat dia memutar tubuhnya kembali ke mobil Keenan. Keenan yang melihatnya segera membuka kaca mobil.


"Bagi duitnya, Bee. Aku gak bawa cash. Ini adanya receh."


Keenan mengambil dompetnya kemudian menyerahkan dompet tersebut pada Lala tanpa basa basi.


Mereka melanjutkan perjalanannya kembali hingga tiba dirumah.


"Saatnya bermain kerajaan" Lala tertawa.


"Kok kerajaan?" Keenan mengangkat sebelah alisnya


"Siap Tuan Muda. Laksanakan Tuan Muda." Lala mengikuti ucapan ajudan dirumah Keenan kemudian terbahak.


"Dasar." Keenan hanya tersenyum mendengarnya.


Tak berapa lama mereka tiba dirumah.


"Jangan lama kalau gosip sama Mama." ancam Keenan.


"Astagaa.. Kenapa sih? Lagian itu Mama kamu."


"Enggak ah Yong, nanti Mama racunin kamu suruh nginep disini."


"Emang kenapa? Kan kita tetap tidur di kamar. Lagipula kita belum pernah loh nginep disini"


"Aku gak mau sayang, aku maunya di apartemen aja. Bebas kan mau main dimana saja." Keenan menyeringai


"Astaga! Bisa gak sih pikiran kamu gak kesana terus!" Lala menoyor pipi suaminya.


Keenan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan wajah ceria.


"Lalaaaa.. Ya ampun, mantu Mama akhirnya pulang juga."


"Maaf ya Ma, kita baru kesini." Lala mengecup punggung tangan mertuanya.


"Papa mana, Ma?" tanyanya


"Ada. Biasa di ruang kerjanya."


"Yuk sini" ajak Mama Keenan masuk.


"Aku gak disapa, Ma?"


"Eh iya, Kamu lebih berisi Keen. Naik berapa kilogram?"


"Gak pernah nimbang lah Ma. Lagian gimana gak gemuk, Lala jejali makanan terus."


"Ih kok aku? Kamu aja yang suka."


"Yang ngajak jajan terus siapa?"


"Yang ngabisin jajanan aku siapa?" Lala tak mau kalah.


"Eh, sudah. Mama senang melihat Keenan jadi berisi begitu. Segar terlihatnya. Lala ngurus kamu banget tuh kalau kayak begitu."


Pak Wijaya keluar dari ruangannya. Dia tak menyadari akan kehadiran anak bungsunya tersebut.


"Paa.. " Pak Wijaya menoleh.


" Oh, ada Lala." Dia menghampiri menantunya.


"Kebetulan kamu disini, Papa mau bicara." ajak Pak Wijaya pada Keenan.


"Baru anaknya tiba, udah bicara bisnis." ketus Mama.


Keenan meningalkan mereka berdua. Lala bercengkrama akrab bersama mertuanya sambil menbuat cemilan kesukaan Keenan.


"Ada kamu, Mama jadi ada teman La. Biasanya Mama sendirian saja dirumah. Paling keluar arisan sama teman-teman."


Keenan menghampiri mereka yang masih di dapur. "Yong, kepala aku sakit. Pijetin dong"


"Papa ngasih kerjaan berat sama kamu?" tanya Mama


"Enggak Ma. Gak tahu, tiba-tiba aja sakit begini, Ma." ucapnya seraya menarik Lala.


"Aku tinggal ya Ma." pamit Lala.


Mereka berjalan menuju kamar Keenan. Keenan merebahkan tubuhnya sementara Lala dengan setia memijit kening suaminya.


"Minum obat ya?"


"Enggak ah Yong."


"Kalau gak mau, kita nginep disini aja."


"Enggak. Kita pulang."


"Ya udah makanya nurut sama aku. Aku minta obat dulu sama Mama ya."


Lala segera keluar kamar. Saat menuruni anak tangga dia berpapasan dengan Karina.


"Sedang apa kamu disini?" Ketus Karina. "Gak usah cari muka dengan orangtuaku!"


"Mbaknya buta ya? Muka aku disini" Lala menunjuk mukanya. "Gak usah dicari-cari lagi."


"Dasar orang kampung! Awas ya kamu kalau macam-macam disini."


Lala yang malas tak menanggapinya, dia melangkahkan kakinya meninggalkan Karina. Karina kesal karena Lala mengacuhkannya lantas mendorong Lala hingga Lala terguling dari tangga.


'Bruuukk' seketika tubuh Lala terhenti dilantai dasar.


.


.


.


Jamaah Honbee tetao sehat dan semangat yaaa.. Jangan lupa like, komentar dan vote yang buanyaaakkkk.. Terima kasih ^^