
Mama Keenan membuka pintu mobilnya saat melihat Lala mendekat.
"Lala.."
"Tante" Lala berekspresi datar.
"Sini masuk, La" ajaknya.
Papa Keenan memutar kursi mobil miliknya hingga mereka berhadapan.
"Kamu sehat, La?" Mama Keenan memegang tangan Lala.
"Iya tante."
"Maaf tante mengganggu waktu kamu, La. Tante bicara langsung saja, takut mengganggu kerjamu juga."
Lala menelan salivanya berat. Sulit rasanya dia untuk mengeluarkan suara.
Mama Keenan membuka ponselnya.
"Ini Keenan, La. Sekarang sehari-harinya dia hanya seperti ini." Mama Keenan berkaca-kaca.
Lala melihat Keenan yang berbaring memunggungi kamera.
"Keenan mau bunuh diri La. Dia depresi. Tante takut, tante takut kehilangan Keenan. Tante cuma mohon kamu jangan tinggalkan Keenan." Mama Keenan terisak.
Lala begitu kaget mendengarnya.
"Tantee.. "
"Kamu tahu sendiri, Keenan sangat mencintai kamu, bukan. Tolong, tolong maafkan masa lalu Tante dan Om terhadap Ibumu."
"Tolong jangan sangkut pautkan kami dengan kalian. Tante mohon." Mama Keenan merapatkan kedua tangannya.
"Tante jangan begini"
Papa Keenan hanya terdiam.
"Tante cuma minta, kalian jangan menyiksa diri kalian. Kalian berhak bahagia. Kalian tak pantas menanggung dosa yang kami lakukan."
Lala tak bisa berkata-kata. Dia hanya terdiam.
"Keenan sangat menyayangimu, La. Tante dan Om sudah mendatangkan psikiater pun percuma. Respon dari Keenan sendiri kurang bagus. Hanya kamu obat buat dia menurut Tante."
"Kamu mau kan menemui Keenan, La?" Pak Wijaya kini membuka suara.
"Ak..aku.."
"Tante dan Om akan sangat berterima kasih jika kamu mau datang menemui Keenan di rumah." Mama Keenan mengusap air matanya
"Saya pikirkan terlebih dahulu Tante. Maaf Tante, Om saya harus masuk kerja lagi. Saya gak bisa lama-lama"
"Maaf tante sudah mengganggu waktumu, La."
"Tolong pikirkan kembali ya, La. Tante mohon tolong temui Keenan" Mama Keenan memeluknya.
"Saya pamit Tante."
Lala berjalan menjauh dari mobil Keenan yang terparkir. Dia berjalan seolah melayang. Pikirannya sekarang tertuju pada Keenan.
***
Lala masuk ke dalam rumahnya yang sepi. Ibu yang biasa menyambutnya sambil menonton televisi kini tak menampakan dirinya.
"Bu.." Lala masuk ke dalam kamar Ibu
"Ibu sakit?"
"Ibu hanya sakit kepala, La. Kalau mau makan sudah Ibu siapkan" Ibu memunggungi Lala tanpa meliriknya.
"Ibu sudah minum obat?"
"Sudah."
Lala kini berada di kamarnya, dia kini sangat bimbang dengan pikirannya sendiri. Tak dipungkiri, dia merasa khawatir pada Keenan.
Keesokan harinya, suasana rumah sangat hening. Ibu masih dikamarnya.
"Ibu? Ibu ke dokter saja yuk Bu? Aku antar Bu, mumpung aku libur."
Ibu bangun dari tidurnya. Mengikat rambutnya yang tergerai. Ibu masih duduk di bibir ranjang.
"Temui Keenan, La. Bahagialah bersamanya." ucap Ibu tiba-tiba.
"Enggak Bu, aku gak bisa."
"Ibu ikhlas, Ibu ridho, La."
"Asal kamu dan Keenan tinggal disini setelah menikah, ibu ikhlas meleoasmu menikah dengannya. Tapi Ibu masih takut kalau kamu tinggal disana."
Lala menatap Ibu dengan air matanya yang masih mengalir.
"Temui Keenan, La. Ibu juga merasa berdosa pada Keenan. Ibu tahu, dia anak yang baik dan tulus."
Lala mengusap air matanya.
"Menikahlah dengannya, jangan takut Ibu akan sakit hati" Ibu memegang tangan anaknya.
"Mama Keenan kemarin ke kantor, Bu. Dia memberi tahu kalau Keenan depresi."
"Iya, dia juga datang kesini untuk meminta maaf pada Ibu."
"Sana, kamu temui dia. Kasihan."
"Apa Ibu bener ikhlas, Bu? Aku gak mau bersenang-senang di atas penderitaan Ibu." Lala memastikan.
"Ibu sudah mengikhlaskan semuanya, La. Ibu hanya takut kamu diperlakukan tidak baik oleh keluarganya. Walaupun mereka sudah minta maaf, tapi tidak semudah itu Ibu percaya terhadap mereka."
"Iya aku ngerti perasaan Ibu. Makanya, aku sudah rela melepas Keenan, Bu."
"Ibu juga bimbang La, tapi di satu sisi masa kita gak punya hati nurani melihat orang lain yang mau bunuh diri gara-gara di tinggal anak Ibu."
"Dia punya segalanya, dia bisa mendapatkan wanita mana pun. Cuma kenapa takdir memperumit semuanya." keluh Lala.
"Hh.. Sudahlah. Ibu takut ibu berubah pikiran. Sana kamu bersiap."
"Terima kasih Bu." Lala memeluk Ibunya.
"Ya sudah. Ibu bikinkan telor saja ya buat sarapan? Ibu malas masak."
"Iya Bu. Terima kasih."
Lala kini telah bersiap untuk pergi ke rumah Keenan. Dia masih setengah hati untuk berangkat ke sana.
"Kok diam?"
Lala memeluk Ibunya.
"Maafkan aku, Bu. Kalau aku menyakiti hati Ibu. Maafkan aku."
"Enggak. Ibu bangga sama kamu. Kalau mereka macam-macam sama kamu, kamu lawan ya." Ibu nampak masih tak suka pada orangtua Keenan.
"Iya Bu. Aku berangkat. Assalamu'alaikum."
Lala naik ke atas motor pesanannya. Dengan hati berdebar, dia menerawang apa yang akan terjadi nanti.
"Pak, mampir ke toko buah ya." Ojek tersebut menepikan motornya. Dia menunggu tukang buah merangkai parcel buah yang dia pesan.
"Yang itu gantung disini saja, Mbak. Biar gak susah." ucap Kang Ojek. Lala segera memberikannya.
Dia memegang parcel buah ditangannya. Semakin mendekati rumah Keenan, semakin nervous yang Lala rasakan.
"Ini benar disini, Mbak?"
"Iya Pak."
"Yang itu buat Bapak." Lala menunjukan plastik yang di gantung di depan motornya.
"Terima kasih ya Mbak."
"Wow. Gede banget rumah majikannya, Mbak."
'S*alan Kang Ojek! Gadis cantik begini dikata pembantu apa! Tahu gitu gak aku kasih itu buah!' gerutu Lala dalam hati.
Lala berjalan menuju gerbang rumah Keenan.
"Non." penjaga rumah dengan sigap membukakan gerbang. Dia sudah hafal dengan Lala.
"Keenan ada, Pak?"
"Ada. Silahkan masuk."
Lala melangkah menuju pintu rumah.
"Heh!" Lala menoleh ke sumber suara.
"Ngapain lagi kamu kesini!" Karina melipat kedua tangannya
"Bukan urusanmu!" ketus Lala.
"Kurang ajar ya kamu!"
"Seret dia keluar!" titahnya pada penjaga.
Penjaga memegang lengan Lala hendak menyeretnya.
"Orangtuamu yang memintaku kesini!"
"Omong kosong!"
"Maaf. Ini perintah Nona." ucap penjaga pada Lala.
"Apa yang kalian lakukan!" Mama Keenan keluar dari rumahnya.
"Dia datang kesini mau sok jadi pahlawan Ma! Jangan biarkan Keenan dekat dengan wanita seperti dia!"
"Jaga bicaramu Karina! Mama yang memintanya kesini." penjaga melepaskan tangannya dari Lala.
"Tapi Ma?"
"Kamu mau melihat Keenan menderita seumur hidupnya? Saudara macam apa kamu yang bahagia di atas penderitaan adikmu sendiri!"
"Maa.. "
Mama Keenan mendekati Lala. Dia menarik tangan Lala mengajaknya masuk ke dalam.
"Maaf ya La."
" Iya tante."
"Jaga sikap kamu!" Mama membentak Karina.
"Terima kasih kamu mau datang kesini, La." Mama Keenan memegang tangan Lala.
"Keenan gak pernah keluar kamar, La. Semua dia lakukan di dalam kamar." ucapnya seraya mengajak Lala menaiki anak tangga.
Hingga tiba mereka di depan pintu kamar Keenan. Jantung Lala berdegup dengan kencang.
"Kamu masuk saja. Tante turun ya. Terima kasih sudah mau membantu Tante." Mama Keenan meninggalkan Lala.
Lala membuka pintu kamar Keenan yang tidak terkunci. Dia melihat lelaki kesayangannya sedang tidur. Sedikit demi sedikit, Lala mendekati Keenan.
Dia melihat Keenan sedikit kurus. Lala duduk disampingnya. Membelai lembut kepala Keenan.
Keenan yang merasa terusik kini membuka matanya. Dia hanya menatap Lala dengan tatapan kosong.
"Keen, ini aku." ucap Lala menahan tangis.
Keenan hanya terdiam tak bersuara.
"Keenan. Aku datang."
Keenan memejamkan matanya kembali. Dia membalikan tubuhnya memunggungi Lala. Lala kini diam. Bingung dengan sikap Keenan kepadanya.
"Keenan, aku kangen kamu."
Keenan masih tak terusik.
"Maafkan aku Keen. Maaf aku meninggalkanmu. Aku gak akan meninggalkanmu lagi, Keen."
Keenan menutup telinganya hingga Mama Keenan datang bersama pelayan menghampiri mereka.
"Keenan tak mau melihatku, tante."
"Mungkin dia pikir itu halusinasinya, La. Sabar ya Laa."
"Tante bawakan Keenan makan dan minum untuk kamu, La. Siapa tahu dia mau makan dan minum obat."
"Terima kasih Tante."
Keenan membalikan tubuhnya menatap Lala dan Mamanya bergantian seolah sedang memastikan bahwa itu bukan khayalanya.
"Tante tinggal ya, La."
"Maafkan aku Keen." Lala menyentuh pipi Keenan.
"Hon."
"iya Bee.."
"Jangan tinggalkan aku lagi" Keenan meneteskan air matanya.
Lala memeluk tubuh Keenan.
"Aku gak akan ninggalin kamu, Bee. Aku janji"
Keenan masih menatap Lala setelah Lala melepaskan pelukannya.
"Kata Mama, kamu belum makan. Aku suapin. Mau ya?"
Keenan mengangguk. Dia memegang tangan Lala.
"Aku susah ngambil makannya, Bee."
"Kamu tapi jangan pergi, Hon."
"Enggak. Aku gak akan pergi." Lala mengelus lembut pipi Keenan.
Lala menyimpan lauk ke dalam piring. Setiap gerakan Lala, tak lepas dari pandangan Keenan.
Lala mulai penyuapi Keenan. Keenan mengunyah makanan sambil terus menatap Lala membuat Lala sedikit salah tingkah.
"Kamu jangan gitu dong Bee, aku jadi malu."
"Kalau aku gak lihat kamu, nanti kamu ngilang, La."
"Aku bukan jin, Bee. Aku gak bisa ngilang" keenan tersenyum mendengarnya.
Keenan menghabiskan makanannya. Dia meminum obat anti depresan yang telah disediakan oleh Mamanya. Dengan telaten, Lala megusap bibir Keenan menggunakan tisu.
"Jalan yuk Bee?"
"Kemana?"
"Kolam. Biar segar." Lala merapikan rambut Keenan. Dia mengecup pipi Keenan membuat Keenan tersenyum.
Lala mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Keenan. Mereka menuruni anak tangga sambil bergandengan.
"Bee, malu. Masa kita pegangan tangan."
"Gak apa-apa, Hon."
"Bee, kamu kayak kakek-kakek tahu."
"Kenapa?"
"pegangan tangan begini."
Mama Keenan tersenyum saat melihat keduanya berjalan.
"Aku ajak Keenan duduk dekat kolam, Tante. Biar gak di kamar terus."
"Iya, La. Terima kasih."
Mereka kini duduk di gazebo menatap air kolam yang tenang.
"Segeerr lihat air." ucap Lala
"Mau renang?"
"Gak ah. Aku gak bawa baju."
"Pakai bajuku."
"Eh Bee, kamu ingat gak waktu usilin aku? Waktu kamu minta bukain soda sama aku depan Mama kamu."
Keenan tersenyum. "Iya aku ingat. Maaf ya Honey."
Lala terus memancingnya agar Keenan berbicara dan tersenyum.
Tanpa mereka sadari, Mama Keenan mengamati mereka dari dalam balik vitrase.
"Lala?" tanya Papa Keenan sedikit terkejut dan senang saat ikut mengamati mereka.
"Iya Pa. Dia anak baik."
"Kayaknya kita harus segera menikahkan mereka, Ma." ajak Papa Keenan.
"Nanti setelah Keenan benar-benar stabil, Pa."
"Tiga bulan itu sebentar Ma. Persiapkan saja dari sekarang." ucap Papa Keenan
"Kita tak bisa seenaknya Pa, kita harus tanya Ibu Tita juga."
"Iya. Papa tahu."
"Ini baru awal, Pa. Biarkan Keenan adaptasi lagi seperti ini."
***
"Bee potong rambut yuk?"
"Nih rambut kamu udah panjang begini" Lala memegang rambut Keenan kemudian menjambaknya.
"Aw! Sakit Hon."
"Biasanya kamu ngajak debat Bee kalau aku galak? Aku kangen debat sama kamu."
"Nanti kamu ninggalin aku lagi, Hon?"
"Will you merry me, Bee?" Lala menatap Keenan.
"Kamu serius, Honey?"
"Aku kelihatan lagi becanda?"
"Enggak."
"Oh jadi kamu gak mau nikah sama aku?"
"Mau Hon. Maksud aku, kamu gak kelihatan becanda" Keenan bicara penuh hati-hati
"Tapi kamu harus janji. Mau makan, mau minum obat. Mau theraphi. Setuju?"
"Iya. Tapi kamu temani aku ya?"
"Kalau aku libur ya Bee. Aku kan kerja."
"Kamu resign aja. Kerjanya ngurus aku aja, Hon."
"Iya nanti kalau sudah nikah."
"Aku mau nikah sekarang kalau gitu."
"Dasar!" Lala menoyor pipi Keenan. "Kalau kamu sembuh aku mau nikah sama kamu."
"Iya aku bakalan cepet sembuh. Kan kamu obat aku." Lala tersenyum mendengarnya.
"Terima kasih Hon, terima kasih kamu mau kembali lagi."
"Habis kamu jadi hantu sih!"
"Enak aja!"
"Iyalah. Bayanganmu selalu menghantuiku kayak lagunya Bang Dewa"
Kamu seperti hantu
Terus menghantuiku
Kemana pun tubuhku pergi
Kau terus membayangi aku
Salahku biarkan kamu
Bermain dengan hatiku
aku tak bisa memusnahkan
Kau dari pikiranku ini
"Keenan Wijaya" Lala seolah memberikan mic pada Keenan.
Keenan pun meneruskan nyanyiannya.
Didalam keramaian aku masih merasa sepi
Sendiri memikirkan kamu
Kau genggam hatiku
Dan kau tuliskan namamu
Kau tulis namamu...
Lala melakukan berbagai cara agar Keenan merasa lebih rileks. Dia mengajaknya bernyanyi dan becanda. Hingga petang tiba.
"Aku pulang ya? Besok aku kesini lagi" ucap Lala.
"Tapi La.. " Keenan mulai ketakutan.
"Aku gak mau kamu pulang"
"Bee.. Aku janji besok kesini lagi." Keenan menggeleng cepat.
"Aku takut kamu bohong."
"Enggak, Bee." Keenan masih menggelengkan kepalanya. Raut wajahnya kini berubah kembali.
"Bee.. Tenang. Tenangkan pikiranmu. Aku disini. Aku selalu disini untuk kamu." Lala memegang dada Keenan.
"Aku gak mau kalau gak melihatmu, La." Keenan menggenggam tangan Lala erat.
"Sebentar aku ke toilet dulu" ucap Lala.
Seketika tangan Lala di tariknya. "Enggak. Nanti kamu bohong. Kamu nanti pergi lagi."
"Yuk ikut." Lala menarik Keenan agar mengikutinya sampai di depan kamar mandi. "Aku masuk ya. Kamu tunggu disini. Oke?" Keenan mengangguk pasrah.
Lala menutup pintu kamar mandi.
"Honey?"
"Iya Bee." Keenan diam kembali setelah mendengar suara Lala.
'Harus ekstra sabar buat penyembuhan dia.' batin Lala.
Lala membuka pintu kamar mandi seketika Keenan memegang tangannya erat.
"Astagaa"
"Kamu mau ikut pulang ke rumah?" ajak Lala
"Boleh?"
"Tentu saja. Kamu ingin ketemu Ibu?"
"Ibu gak benci aku kan Hon?"
"Ibu gak pernah benci kamu. Ibu merindukanmu juga."
"Serius?"
"Iya. Ayo ikut pulang." ajak Lala. "Tapi janji kamu harus nurut sama aku." ucapnya kemudian. Keenan mengangguk cepat.
Lala meminta izin pada orangtua Keenan untuk membawa Keenan ke rumahnya.
'Masa anak gadis bawa pulang anak orang, kebalik ini mah.' batin Lala.
Keenan dan Lala duduk di kursi penumpang. Keenan tak hentinya memegang tangan Lala hingga mereka tiba di rumah.
"Assalamu'alaikum Bu" Lala masuk ke dalam di ikuti oleh Keenan
"Keenan.. "
.
.
.
Legaa? Legaaa? Legakaan? Aku double up. Like dan komen seperti biasa. Jangan lupa double votenya. Hehe.. Terima kasih ^^