My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Ketahuan



"Nona mudaa..." teriak salah satu pelayan. Dia segera membantu Lala bangkit.


"Ssshhh.." Lala meringis sementara Karina mematung dengan wajah pucat.


"Bisa berdiri, Nona?" tanyanya


"Bisa." ucap Lala. Lala duduk kemudian hendak berdiri. "Aw.. Sshh" dia kembali duduk


"Anda tidak apa-apa Nona?"


'Gila, habis guling ditanya gak apa-apa!'


"Kakiku sakit"


"Kenapa La?" Tanya Mama terkejut melihat Lala terduduk di lantai.


Lala menatap Karina yang masih ketakutan. "Aku gak apa-apa Ma."


"Nona muda jatuh dari tangga, Nyonya."


"Astaga.. Ada yang luka?" Mama menyentuh tubuh Lala.


"Gak apa-apa, Ma."


"Sepertinya kakinya terkilir Nyonya."


Mama dan pelayan berusaha membangunkan Lala. Lala berpijak dengan sebelah kakinya. Dengan terpincang, Lala berhasil berdiri dan berjalan menuju sofa.


"Astaga.. Sedikit bengkak La." terlihat kaki Lala membiru.


Mereka tak menyadari Karina yang perlahan naik ke dalam kamarnya.


"Mama hubungi Dokter dulu." Mama nampak panik, dia berlalu meninggalkan Lala.


"Nona, minum dulu." pelayan memberikan air putih pada Lala dengan hormat.


Lala menerima air putih dan meneguknya. "Terima kasih."


"Olesi ini dulu La, biar gak terlalu bengkak sambil menunggu dokter tiba." ucap Mama yang mengambil kotak P3K sendiri. Dia mengoleskan salep berwarna bening di kaki Lala.


Lala nampak tak enak hati saat sang mertua mengolesi kakinya.


"Aku bisa Ma."


"Diam saja. Sudah tahu sakit begitu." sergah Mama mertuanya. Lala hanya bisa duduk mematung.


"Panggilkan Keenan." pinta Mama pada pelayan


"Jangan Ma. Kasihan dia sakit kepala."


Lala menatap pelayan. "Aku boleh minta tolong?"


"Silahkan Nona Muda."


"Tolong ambilkan obat sakit kepala saja, berikan sama Keenan. Maaf ya Bu." ucap Lala sopan.


"Baik Nona Muda."


"Keenan pasti marah La."


"Gak apa-apa Ma, aku gak tega. Tadi dia nampaknya benar-benar sakit kepala."


"Kok bisa kamu jatuh begitu La?"


"Tadi aku, aku.." Lala memutar bola matanya mencari jawaban yang pas. "Tersandung Ma."


"Tersandung? Gak mungkin kamu tersandung dengan karpet, La."


"Bukan Ma, dengan kaki aku sendiri." Lala berbohong.


"Kok bisa sih?" Mama nampak tak percaya.


"Honeey.." Keenan berlari menuruni anak tangga.


"Ayo ke rumah sakit." ajak Keenan setelah mengetahui Lala terguling dari pelayan yang memberikannya obat.


"Mama sudah panggilkan dokter Keen."


"Bukan bagian dokter Nando, Ma!" ucap Keenan ketus.


"Keenan! Kok kamu begitu sama Mama!" Lala kini memarahi Keenan


"Maaf."


"Siapkan mobil aku!" teriak Keenan


"Tunggu dokter kesini saja Bee. Kasihan mungkin dia sudah dijalan."


"Aku mau cek keseluruhan Hon!"


"Enggak. Cuma terkilir saja Bee! Ini bengkak biasa. Di pijat ke Mak Ijah juga sudah sembuh."


"Lashira!" Keenan berkacak pinggang kemudian mengacak rambutnya.


Keeenan berjongkok dihadapan Lala seolah merasa bersalah telah membentaknya. "Ke dokter ya sayang"


"Enggak Bee, tunggu dokter yang kesini saja."


Saat mereka berdebat, dokter Nando datang. Dia mengecek kaki Lala dan memberikan obat untuknya. Dokter tersebut tetap menyarankan agar Lala melakukan foto rontgen karena khawatir terjadi sesuatu pada tulangnya.


"Kita nginep disini saja" putus Keenan setelah dokter Nando pergi


"Aku gak bawa baju, Bee."


"Sebaiknya kamu disini saja. Nanti biar pelayan yang membawa bajumu kesini." Mama menimpalinya.


"Tidak Ma, aku ingin pulang. Biar dipijat saja sama Mak Ijah." ucap Lala


"Bisa nurut sama aku?"


'Astagaa.. Keluarga ini menganggap berlebihan.' batinnya


Lala hanya terdiam.


"Aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu, Hon." Keenan menggenggam tangan Lala.


"Kenapa sih kalian ribut-ribut?" Karina menuruni anak tangga berlagak tak mengetahui apapun.


Keenan sedikit terkejut melihat Karina. Dia sedikit curiga pada Karina. Keenan tahu betul dengan watak Karina.


"Kapan kamu datang Nak?" tanya Mama oada Karina.


"Dari tadi aku sudah disini. Sepi sekali. Makanya aku naik saja ke kamar." ucapnya


'Astagaaa dia benar-benar berwajah badak! Kalau Keenan tahu penyebabnya si kukit badak, kamu bakalan jadi daging cincang!' gerutu Lala dalam hati.


"Bee, aku mau pulang."


Keenan menutup matanya. "Ya sudah. Tapi tunggu sebentar." ucapnya.


Keenan berjalan ke ruang kontrol.


"Tuan muda." hormat operator pengawas. Keenan mentap beberapa layar monitor.


"Kamu tahu bukan?"


"maafkan saya Tuan Muda, tapi saya... "


"Putar. Aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."


Operator segera memutar kembali video membuat Keenan memejamkan matanya.


"T*lol! Kenapa kamu hanya diam saja tadi!" teriak Keenan.


"Maaf Tuan Muda." Dia tertunduk lesu.


Keenan mengambil barang bukti. Dia segera keluar ruangan agar Lala tak curiga.


"Lama sekali. Dari mana Bee?"


"Aku sakit perut." bohong Keenan


"Kamu nginap disini saja ya? Biar Mama ada teman juga. Kalian belum pernah nginep disini."


"Mama ada Karina, Ma." timpal Keenan.


"Barusan dia pulang ke Apartemennya lagi."


Keenan tak berekspresi saat mendengarnya.


"Maaf Ma, kita pulang ke rumah Ibu." ucap Keenan membuat Lala bernafas lega.


"Bee, tas aku dikamar."


"Aku ambilkan. Tunggu sayang." Keenan menaiki anak tangga.


Keenan menggendong Lala menuju mobilnya. Dia sengaja membawa Lala duduk di kursi belakang agar Lala bisa meluruskan kakinya.


Selama perjalanan, tak banyak percakapan diantara keduanya. Mereka sesekali saling mencuri pandang lewat kaca spion dalam mobil.


"Enggak Bee."


"Kamu masih sakit kepala Bee?"


"Enggak." bohongnya.


"Bee.."


"Yes Honey?"


"Aku mau beli bakso aci yang pedes."


"Hm?" Keenan menajamkan matanya saat menatap Lala dari spion.


"Kaki aku yang sakit. Mulut enggak." Lala mencari alasan.


"Kaki kamu sakit? Kalau kamu bolak balik toilet gara-gara bakso aci gimana?" Keenan bertanya dengan datar membuat Lala sedikit ketakutan.


"Ya udah gak jadi."


"Bakso aci tanpa pedas" tawar Keenan


"Mending gak usah."


Keenan tak bersuara hingga mereka hampir tiba dirumah.


"Bee ih Jahat!"


"Apa?"


"Kamu gak nawarin aku makanan lain kek."


"kamu mau apa?"


"Pulang saja." Lala terlanjur kesal.


Keenan membuka bagasi mobilnya, dia mengelurkan kursi roda milik Pak Wijaya kemudian mengangkat Lala ke kursi roda tersebut.


"Loh Laaa kenapa?"


"Jatuh dari tangga Bu."


"Kaaaann firasat orangtua pasti benar! Itu kenapa Ibu gak setuju kamu nikah sama Keenan. Ibu gak sudi kamu menginjakan kakimu dirumahnya lagi La." Dada Ibu naik turun. "Baru nikah sebulan lebih tapi kamu sudah begini. Apalagi nanti"


"ibu.. "


"Terserah Keenan tersinggung atau enggak dengan omoang ibu. Toh pada kenyataannya seperti itu." Ibu mendelik sebal.


"Aku minta maaf Bu, Aku gak bisa jaga Lala dengan baik." Sesal Keenan. Dia sedikit tersinggung dengan ucapan Ibu. Namun dia juga tak bisa menyangkal atas pernyataan Ibu.


"Aku jatuh sendiri Bu! Kok Ibu nuduh yang enggak-enggak sama keluarga Keenan?"


"Ya buktinya kamu sampai begini dirumah dia." ketus Ibu.


"Aku kesandung Bu sama kaki aku sendiri. Dari pada Ibu suudzon mending Ibuu panggilkan Mak ijah, Bu." pinta Lala


Keenan mendorong Lala masuk ke dalam kamar mereka.


"Maafkan Ibu ya Bee kalau sudah keterlaluan"


"Gak apa Hon. Aku maklum kok." Keenan menurunkan Lala ke kasur mereka.


"Besok check up ya?" Keenan berusaha baik-baik saja.


"Iya."


Keenan hendak keluar kamar.


"Bee?"


"Hmm.."


"Kiss me please." Pinta Lala.


Keenan mendekat pada Lala. Dia mengecup singkat Lala, Lala menahannya. Dia mel*mat bibir Keenan menyalurkan rasa cintanya.


"Bee, maafkan Ibu ya?"


Keenan mengangguk mantap. "Ibu gak salah Hon. Dia khawatir sama kamu makanya bicara begitu."


"Terima kasih sayang sudah mengerti Ibu." Lala menangkup pipi Keenan.


Mak Ijah datang untuk memijat kaki Lala. Sementara Keenan duduk seorang diri di teras rumah seraya merenung.


"Maafkan Ibu" suara Ibu mengagetkan Keenan. Ibu membawa teh hangat untuk Keenan.


"Buat apa Bu? "


" Berkata kasar padamu." Ibu ikut duduk disana.


"Ibu masih takut Keen, dengan perlakuan orangtuamu pada Lala. Ibu tahu kamu tulus. Makanya Ibu memberikan restu Ibu padamu. Tapi, berhubungan dengan orangtuamu membuat Ibu lebih khawatir." Ibu terdiam sejenak.


"Ibu gak usah minta maaf padaku Bu. Aku tahu, Ibu mengkhawatirkan Lala. Aku harap, Ibu mau menganggapku mantu Ibu seperti sedia kala."


"Tentu saja. Kamu mantu Ibu, Keenan."


"Terima kasih Bu." Keenan bangkit kemudian berjongkok dihadapan ibu.


"Ibu boleh benci orangtua aku dengan masa lalu mereka, tapi aku minta Ibu tak menyangkut pautkan aku dengan masalah kalian. Aku minta Ibu hanya memandangku dan Lala."


Ibu hanya terdiam, mencerna permintaan Keenan.


"Iya. Maafkan Ibu Keenan"


"Ibu gak usah minta maaf bu, lebaran masih lama." canda Keenan


"Dasar kurang asem!"


Keenan kembali ke kamarnya setelah Mak Ijah pulang, dia melihat Lala tertidur pulas. Tak butuh waktu lama untuk Keenan menyusul Lala ke alam mimpi.


***


Keenan memakai kemeja dan jas miliknya. Dia kini berada di depan cermin seraya menyisir rambutnya


"Bee, aku pikir kamu bakalan temani aku. Tahunya malah kerja." Lala nampak kecewa.


"Aku ada perlu. Secepatnya aku pulang lagi Hon."


Lala masih cemberut.


"Sebentar ya sayang, aku ada kerjaan mendesak. Setelah selesai kita check up." bujuk Keenan.


"Ya udah yuk sarapan." ajak Lala.


Keenan berpamitan pada Lala yang telah dia baringkan kembali di atas kasur. Dengan kecepatan tinggi dia melajukan mobilnya melesat menjauh dari rumah. Hingga tak butuh waktu Lama Keenan kini berada di sebuah gedung. Dia berjalan dengan penuh amarah.


BRAAKK..


Keenan menendang pintu membuat pemilik ruanganya ketakutan seketika.


"Kamu?" pemilik ruangan sedikit gemetar.


"Menyerahkan diri sendiri atau aku yang melaporkannya." Keenan menaruh barang bukti.


"Keen.. Aku.."


"Aku sudah lihat semuanya. Tidak ada unsur ketidak sengajaan!"


"Keenan maafkan aku, aku refleks mendorongnya."


Keenan menyunggingkan senyumnya mengejek.


"Terus aku harus memaafkanmu dengan mudah?" tanya Keenan "Rasanya ingin aku membunuhmu, Karina!" ucap Keenan penuh penekanan.


"Keen.. Ak..aku minta maaf."


"Kau salah padaku? Hingga kamu minta maaf" Keenan mengehela nafas kasar. "Persetan kamu tak menghadiri pernikahan kami. Persetan kamu ingin merebut seluruh harta Papa. Tapi sekali kamu mengusik apa yang menjadi milikku. Aku gak segan membuatmu menderita." Keenan kini berada di puncak amarah.


"Keen aku janji gak bakal mengganggu Lala lagi."


"Bersiaplah, polisi segera tiba menjemputmu." ucap Keenan.


"Keen, tolong jangan begitu. Aku bersedia melakukan apapun asal kamu tak melaporkanku, Keen." Karina berlutut dihadapan Keenan.


"Enyahlah kamu dari sini! Aku akan mengirimu ke luar negeri. Dan kamu! Tidak akan pernah bisa kembali ke Indonesia diluar seizinku. Atau bukti ini akan mengantarkanmu menuju hotel prodeo." ucap Keenan.


"Keen.. Tolong jangan itu hukumannya Keen."


Keenan berlalu meninggalkan Karina. Dia tak menghiraukan Karina yang memohon kepadanya.


.


.


.


Yuhuuu HonBee up nih jamaah. Kuuy bantu like, komentar, dan Vote yang buanyaaakk. Terima kasih ^^