My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Aku Harus Bagaimana?



Lala kini duduk di depan minimarket. Dia melahap es krim cokelat ke dalam mulutnya. Rasa segar dari lumeran es krim mengalir melewati tenggorokannya membuatnya sedikit senang.


Namun saat mengingat kembali permintaan kedua orang penting dalam hidupnya, seketika dia mendesah.


'Huft..aku harus bagaimana?' pikirnya dengan menggigit sendok es krim.


Hatinya bimbang, dia harus membujuk salah satu dari mereka.


'Mudah-mudahan, Abang mau tinggal di kontrakan dulu.' harapnya. Karena kalau membujuk Ibu, hanya ada perdebatan diantara mereka.


Lala masih menikmati kesendiriannya. Dia merasa enggan untuk pulang ke rumah. Rasanya dia tak siap untuk bertemu Ibu dan Keenan.


"Dari mana?" tanya Keenan saat Lala tiba dirumah. Wajahnya terlihat kesal saat tak mendapati Lala dirumah.


"Beli es krim sama beli roti. Abang mau makan?" tanya Lala hati-hati. Dia tak mau membuat mood Keenan jelek. Apalagi dia akan membujuk Keenan untuk tinggal disini.


"Beli baso aci saja. Aku ingin makan itu." ucapnya


Lala tersenyum geli. "Astaga, Abang."


"apa?" Keenan menatapnya tajam.


"Kuy" Lala mengedipkan sebelah matanya seraya tersenyum menggoda.


'Sabar La, kuatkan hatimu.'


Lala dan Keenan nampak membisu selama perjalanan. Entahlah, Lala tak begitu bersemangat. Rasanya beban berat untuk dirinyanya sendiri. Dia harus menyatukan dua kepala yang berbeda. Dan, dia juga yang harus menjadi jembatan diantara mereka.


'Huh! Merepotkan! Aku yang hamil, tapi aku yang berjuang untuk menyelaraskan mereka. Kenapa mereka tak melihat dari sisiku?' batinnya kesal.


"Besok kita pindah ke Apartemen kan?" tanya Keenan.


"Nanti saja bahasnya, kita makan dulu saja, Bang." ujar Lala karena mereka sudah tiba di kedai baso aci yang kini menjadi langganan mereka.


Keenan turun terlebih dahulu, dia memesan menu yang sama setiap mereka datang ke kedai tersebut hingga sang pelayan hafal pada mereka.


Lala tak begitu menikmati baso aci yang sebenarnya sungguh menggugah selera. Hati dan pikirannya terlalu fokus memikirkan cara agar Keenan mau tinggal di kontrakan.


"Kenapa gak dimakan sih Mom?" tanya Keenan.


"Gak apa-apa, Bee."


'Bahkan sekarang dia gak pernah nanya aku maunya makan apa.' batin Lala.


***


"Jadi gimana? Kamu sudah bilang sama Ibu?" tanya Keenan saat kembali melajukan mobil mereka.


"Apa kita tinggal di kontrakan saja dulu? Biar Ibu bisa bolak balik ke rumah?"


"Kan Ibu nanti ditemani Mbak Sum."


"Ibu gak mau, Bee. Kata Ibu 'Masa Ibu tinggal bersama orang asing.'" keluh Lala


Keenan mendengus. "Ya terus bagaimana? Aku gak mau tinggal disana dulu."


"Kita tinggal di kontrakan saja, bagaimana? Kalau disana, Abang kan gak apa-apa."


Keenan menatap Lala sepintas. "Dari dulu loh, kita ikuti kemauan ibu terus!" ketus Keenan.


Lala hanya terdiam. Mood swing Keenan kali ini membuatnya sedikit keras kepala.


"Nanti aku coba bilang sama Ibu." ucap Keenan seraya membelokan mobilnya menuju rumah.


Mereka tiba dirumah, dan mendapati Ibu sedang melipat pakaian miliknya.


"Bu.." Keenan mendekat pada Ibu. Ibu yang sepertinya telah menduga apa yang akan dibicarakan Keenan, dia hanya meliriknya sepintas.


"Ibu, aku sama Lala tinggal di Apartemen sementara ya, Bu? Aku gak kuat tinggal disana. Bukan benci, rasanya gimana ya.."


"Terus Ibu ditinggal sama orang asing, begitu maksud kamu?" tembak Ibu.


"Ibu kan sudah biasa ditinggal sendiri kalau kita di apartemen."


"Ya, masa iya, ibu sekarang tinggal sama orang yang gak Ibu kenal. Apalagi, itu utusan orangtuamu. Jangan-jangan mereka mau memata-matai, Ibu."


"Bu! Berhenti menuduh orangtuaku yang tidak-tidak! Selama ini mereka tidak mengusik kita!" Keenan sedikit meninggikan suaranya.


"Lantas ibu harus percaya begitu saja?" Ibu tak kalah meninggikan suaranya


"Kalau ibu gak suka ada orang asing. Biar saya batalkan! Tapi saya akan tetap pindah ke Apartemen!"


Ibu masuk ke dalam kamarnya, dia membawa surat sakti perjanjian Ibu dan orangtua Keenan.


"Kamu baca!" Ibu memberikan surat tersebut pada Keenan. Keenan yang tengah mengetahui isi surat tersebut hanya memegangnya.


"Aku berhak atas diri Lala, Bu. Aku Daddy dari anak yang dikandungnya. Kenapa Ibu masih tak percaya sama aku? Kenapa Ibu banyak mengatur rumah tangga kita?" tanya Keenan dengan tatapan tajamnya.


Ibu sedikit tersentak dengan pernyataan Keenan. Terlihat Ibu menahan tangisnya. "Terserah kalian kalau begitu." putus Ibu lalu kembali ke kamar.


"Ayo bereskan baju kamu." titah Keenan pada Lala.


Lala hanya duduk mematung. Bingung harus bagaimana dia bersikap. Keenan yang sudah masuk ke dalam kamar, kembali lagi untuk menarik lengan Lala.


"Kita pergi sekarang. Bawa perlengkapan kamu!" ketus Keenan.


"Abang, apa sebaik.."


"Jangan bicara! Cepat berkemas!" ketusnya menatap Lala.


Lala membawa tas miliknya. Dia sengaja tak membawa sebagian buku-bukunya agar masih bisa pulang ke rumah.


"Abang, kita pamit sama Ibu dulu, ya?" Lala memegang lengan suaminya.


Keenan hanya menggerakan dagunya. Keenan berdiri di ambang pintu kamar Ibu, sementara Lala masuk ke dalam kamar. Terlihat Ibu membaringkan tubuhnya memunggungi mereka.


"Bu, aku ke Apartemen untuk sementara ya. Biar Ibu dan Keenan berpikir jernih terlebih dahulu." bisiknya


"Hmm.."


"Aku berangkat Bu." ucap Lala.


Tak ada percakapan diantara mereka begitu tiba di Apartemen. Keenan nampak menyibukan diri dengan laptop miliknya. Sementara Lala beristirahat. Kepalanya terasa pusing memikirkan permasalahan mereka.


***


Lala terbangun dari tidurnya. Dia mengambil ponsel di atas nakas.


'Jam delapan. Kenapa dia gak bangunin sih?' gerutu Lala


Dia berjalan menuju dapur. Diambilnya air mineral dingin dari dalam lemari es. Kemudian berjalan menuju ruang tamu sekaligus ruang keluarga untuk mengecek suaminya.


"Astaga, dia juga ketiduran." ucap Lala melihat suaminya tidur memeluk bantal sofa.


Lala kembali lagi menuju dapur. "Hh.. Kosong. Lupa gak belanja dulu tadi." keluhnya saat dirasa dia merasa lapar dan tak menemukan apapun disana.


"Abang.."


"Hm.."


"Abang, aku ke depan ya? Aku lapar."


"Hmm.."


Lala turun ke bawah untuk membeli makan. Berjalan seorang diri di malam hari membuatnya sedikit senang.


'Hmm.. Makan apa ya?' gumamnya seraya memutar tubuhnya menatap satu persatu rumah makan yang berjejer.


Lala menghampiri kedai sate. Dia memesan dua porsi sate untuk dirinya dan Keenan. Selesai membeli sate, Lala bergegas pulang, khawatir Keenan mencarinya karena dia lupa membawa ponsel.


Lala memijit tombol lift, dan menunggu lift terbuka. Begitu terbuka, nampak Keenan seorang diri dengan wajah panik dan mata memerah. Dan benar saja, Keenan mencari Lala.


"Abang.."


"Keluyuran malam-malam!" ketusnya.


"Aku kan sudah bilang mau beli makan. Abang dibangunin susah. Makin malam, nanti pada tutup tempat makannya!" Lala meninggikan suaranya karena terbawa dengan sikap Keenan.


"Sengaja gak bawa ponsel biar aku nyariin?" ketusnya lagi.


"Aku bukan anak kecil yang harus dicari!" Lala tak kalah ketus.


Keenan melirik bungkusan yang dipegang Lala. Tercium aroma sate olehnya. Tiba di apartemen, Lala segera membuka sate miliknya sementara Keenan duduk kembali di sofa.


'Bodo amat kamu mau makan atau enggak! Kalau lapar, dia juga bakalan makan sendiri' gerutu Lala sambil memakan sate.


'Sial, dia makan sendirian! Gak nawarin suaminya sendiri!' racau Keenan dalam hati.


Setelah makan, Lala memilih kembali ke kamarnya daripada harus duduk bersama Keenan di ruang televisi. Dia memutar Lakorn (drama Thailand) yang belum selesai dia tonton.


Keenan masuk ke dalam kamar untuk mengecek Lala sudah terlelap atau belum. Ternyata Lala masih terjaga. Keenan pura-pura melepas celananya.


Keenan tak sabar ingin memakan sate yang dari tadi seakan memanggilnya. Berkali-kali dia mengecek Lala, karena dia akan beraksi setelah Lala tertidur.


Tiga jam menunggu, akhirnya Lala tertidur. Keenan sengaja tak mengusiknya, dia membiarkan laptop Lala menyala agar Lala tak terusik oleh pergerakan dirinya.


Dengan buru-buru Keenan membuka sate miliknya. Dia merasa sangat lapar.


"Nasinya agak dingin" gumamnya. Namun karena sudah terlampau lapar, Keenan tak peduli. Dia melahapnya dengan tergesa.


Lala terbangun saat dirasa tenggorokannya terasa kering. Dia membuka pintu kamarnya.


'Oh damn! Dia bangun' batin Keenan malu. 'Dua suapan terakhir lagi' gerutunya.


Sementara Lala menahan senyumnya menatap Keenan yang nampak canggung sambil memgunyah makanannya.


'Lapar juga dia' batin Lala mengoloknya.


Lala sengaja tak menyapa suaminya, dan berjalan cuek menuju lemari es untuk mengambil minum.


***


Jam tujuh pagi, Lala berangkat ke kampus. Dia sedikit tergesa karena takut terlambat mengikuti kelas pagi.


"Masih ada waktu 15 menit sebelum dosen killer itu datang." gumamnya.


"La, habis ini ada jadwal?" tiba-tiba Farel mensejajarkan langkahnya dengan Lala.


"Kamu kayak jin, Rel. Tiba-tiba sudah ada disebelahku"


"Haha.. Kurang ajar. Jadi ada kelas gak?" ulangnya


"Jeda."


"Oke. Seperti biasa" ajaknya.


Farel tahu, Lala tak punya teman dekat di kampus. Itu karena mereka iri pada Lala yang bisa akrab dengan Farel. Mereka mengira Farel dan Lala mempunyai hubungan khusus.


Seperti sebelumnya, Farel setia menunggu di depan kelas Lala sehabis mata kuliah pertama selesai.


"Rel, perutku sakit. Gak nyaman banget. Aah..ini kram. Sshhh.. " Lala merasakan perutnya kencang.


"Eh kamu kenapa?" tanyanya saat menatap wajah Lala dengan rintihannya. Seketika Farel menjadi panik.


"Ayo ke basecamp aku." ajak Farel.


Farel membawa Lala masuk ke basecampnya. Dia keluar menelepon Keenan karena tak tega melihat wajah Lala yang memucat.


"Aku telepon Abang, La. Dia segera kesini." ujarnya.


"Kenapa kamu telepon dia?"


"Kamunya kesakitan begitu."


"Ah! Kenapa gak tanya aku dulu?" ketus Lala


"Kamu lagi marahan sama Abang?"


"Eh? Hmm.. Enggak."


"Kalau enggak kenapa kamu kaget dengar aku telepon Abang?"


"ya kamu main telepon dia! Aku sudah dua kali kayak begini. Jadi gak terlalu kaget. Cuma yang ini agak lebih lama saja kramnya."


"Ih, ntar kamu kenapa-napa lagi. Gue sih ogah kalau kamu pingsan disini!" Keenan mengangkat bahunya.


"Sialan kamu!" ketus Lala.


Tak berapa lama, Keenan menghubungi Farel kembali.


"Dia di basecamp aku, Bang. Abang ke toilet yang dekat kantin belakang saja." titahnya sementara Farel menunggu kedatangan Keenan.


Lala merasa tak siap untuk bertemu Keenan. Dia masih kesal dengan sikap Keenan kemarin.


"Wiihh.. Pak Bos. Gilaa.. Abang tampan luar biasa." ucap Farel saat melihat Keenan dengan kemeja biru dipadukan dengan blazer hitam.


"Untung aku belum jalan ke kantor." ucapnya seraya mendekat.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Keenan pada Lala. Masih ada aura gengsi untuk bertegur sapa dengan istrinya.


"Cuma kram saja."


"Ayo kita ke dokter, takutnya mini kenapa-napa" ajak Keenan mengulurkan tangannya.


"Mini siapa Bang?"


"Anakku lah!"


"Lala hamil?" tanya Farel menatap keduanya. "Astaga.. Aku gak tahu. Untung aku gak kasih obat macam-macam. Tadinya aku mau beli obat ke apotek, tapi ingat bodyguard Lala galaknya Naudzubillah akhirnya mending telepon dia saja." Farel cengengesan.


"Lagian, Kalau pun kamu kasih obat, aku gak bakal sembarangan minum, Farel." Lala menyambut uluran tangan Keenan.


"Masih sakit?" tanya Keenan saat melihat Lala sedikit meringis.


"Iya."


"Sana periksa dulu, Bang. Mudah-mudahan ponakan aku gak kenapa-napa."


"Thanks Rel. Pertahankan kinerjamu." puji Keenan


"sialan. Kamu kayak yang ngasih gaji saja ke aku, Bang."


"Orangtuamu sudah kaya, ngapain aku ngasih-ngasih ke kamu." ketus Keenan seraya berjalan.


Keenan menggandeng tangan Lala membuat beberapa pasang mata menatap ke arah mereka.


Beberapa dari mereka terlihat bisik-bisik saat melihat Lala dan Keenan. Namun ada juga yang cuek tak peduli.


'Besok pasti viral nih' tebak Lala.


"Abang gak suka, kamu berangkat gak pamit. Tahu-tahu Farel telepon, kamu kayak begini. Kamu kenapa sih! Kamu gak hargai aku banget!" Keenan meluapkan amarahnya begitu mereka masuk mobil.


Lala malas menanggapi Keenan. Dia hanya diam memalingkan wajahnya.


"kamu mau ngelawan aku? Lama-lama kok kamu kayak ngelunjak sama aku!" ketus Keenan.


"Ngelunjak? Kamu gak mikir. Kamu itu egois!"


"Egois? Apa kurang pengorbanan aku buat kamu sama Ibu?"


"Pengorbanan yang mana?"


"Semuanya! Aku bela-belain semua untuk kalian. Tapi saat aku inginkan kenyamananku sendiri, kamu dan ibu marah."


"Aku marah? Bukannya kamu yang marah dan maksa aku ikuti kemauanmu?"


"Selama hamil, apa ada Abang manja-manja aku? Yang ada, aku harus mengerti Abang dengan kondisi Abang! Abang gak mikir perasaan aku gimana?"


Keenan mendengus sebal.


"Terus sampai kapan aku harus penuhi keinginan Ibu? Aku juga punya keinginanku sendiri. Dan ingat! Yang berhak atas diri kamu, cuma aku!"


"Aku hanya minta bicarakan semuanya dengan baik seperti biasa. Kenapa sih Abang!"


"Seperti biasa? Seperti biasa mengalah sama kemauan Ibu maksud kamu?"


Lala terdiam. Kesal rasanya pada Keenan dan juga Ibu. Perutnya kembali kram. Lala hanya memejamkan matanya seraya memegang perutnya agar tak nampak kesakitan dimata Keenan.


"Aku gak suka terus-terusan ibu ngatur rumah tangga kita. Aku gak suka, terus-terusan mengikuti alur yang Ibu buat. Capek tahu gak! Aku kurang mengerti bagaimana pada kamu dan juga ibu? Kamu gak mikir perasaan aku kayak gimana, La! Lama-lama aku juga muak dengan semuanya!"


"Stop Keenan! Kalau kamu muak, kita cerai saja!" Lala menatap tajam Keenan.


.


.


.


Jamaah honbee jagan lupa like, komentar, dan vote yaa.. Terimakasih.