
"Ssstt... Diam. Tonton saja." ucap Lala. Dia membesarkan volume laptop miliknya.
Grusuk.. Grusukk.. Grusuukk.. Tiiiiiitttt....
Video pembuka langkah kaki dengan layar bergoncang membuat video tersebut nampak aneh.
Tiba-tiba Lala muncul dengan background kamar mereka di rumah Ibu.
"Hai suamiku, happy wedding anniversary. Love you so much Keenan Wijayakuu. And happy watching." sambutan Lala dalam video tersebut sambil menyilangkan ibu jari dan telunjuknya.
Video baru dimulai, kini terpampang foto-foto Keenan yang diambil secara diam-diam oleh Lala. Seketika Keenan tersenyum lebar.
"Kamu ambil fotonya kapan?" tanya Keenan.
"Sssttt, no comment." Keenan terdiam seketika.
Dia tertawa saat melihat foto dirinya yang sedikit blur dengan mata seperti orang mabuk.
"Astaga sayang." Keenan mengacak rambut Lala yang duduk di sebelahnya.
Kini lanjut ke video langkah kaki Lala masuk ke dalam kamar mandi dan blank, hanya ada suara air.
"Kamu buang air kecil di video? Astaga, Yong!" Keenan menoyor istrinya. Lala terbahak mendengar komentar Keenan.
"Ssttt..no comment please."
Tiba-tiba Lala menaruh gelas plastik di atas closet berisi air berwarna kekuningan. Lala mencelupkan benda panjang dan tipis hingga batas garis yang ditentukan.
"Sayang.. Kamu?"
"ssstt.. "
Terlihat satu garis disana.
"Maaf Bee, kita harus berusaha lagi. Semangat!" ucap Lala dalam video tersebut sambil mengepalkan tangan.
Keenan memeluk bahu istrinya. Mengalungkan tangannya di leher sang istri seraya mengecupnya.
Kini video kembali beralih ke foto-foto mereka berdua dengan back song "Perfect - Ed Sheeran" lagu yang pernah dinyanyikan oleh Keenan saat penutupan acara resepsi pernikahan mereka.
"Hallo Abang. Kamu tahu gak ini apa? Ini kurma muda. Kata orang makan ini bisa cepat hamil. Mari kita coba." ujarnya seraya menggigit kurma tersebut.
"Hmm.. Rasanya seperti makan odading Mang Oleh. Hahaha..."
"Dasar! Apaan coba odading? Aneh-aneh saja kamu!" Keenan berkomentar sementara Lala hanya tersenyum karena teringat dengan makanan yang sedang viral.
Video selanjutnya menampilkan Lala mengulang masuk ke dalam kamar mandi dengan keterangan waktu dan tanggal yang berbeda berkali-kali. Dia melakukan hal yang sama, memakai alat tespek yang berbeda-beda namun dengan hasil yang lagi-lagi tak berubah. Satu garis.
"Bee.. Maaf, aku.. Aku sudah berusaha, tapi hasilnya selalu sama." Lala meneteskan air mata di video tersebut.
"Aku.. Aku merasa gagal jadi istri. Maaf kalau aku gak bisa kamu andalkan." suara Lala nampak bergetar menahan tangisnya. Tak Lama, dia berderai air mata dalam video tersebut.
Keenan mempause videonya, Lala berkaca-kaca sendiri saat menonton video miliknya sementara Keenan memeluknya erat. "Enggak Yong. Kamu gak gagal. Aku bahagia sama kamu." Keenan menggeser meja, dia berjongkok dihadapan Lala.
"Awalnya aku kira seorang anak sebagai tolak ukur suksesnya sebuah rumah tangga. Ternyata setelah aku pikir ulang, aku renungi, kamulah yang jadi tolak ukur rumah tangga. Aku punya anak tapi kalau tanpa kamu, aku pincang Yong. Tapi, kita tanpa anak seperti sekarang? Kita masih bisa bergandengan tangan. Tertawa bersama. Mencari kebahagiaan yang kita ciptakan bersama. Maaf aku dulu membebanimu. Sekarang aku sadar, cuma kamu yang aku butuhkan." Keenan mengecup Lala yang kini berurai air mata.
Keenan berjalan menuju dapur membawa air mineral untuk Lala. "Minum. Abang gak mau lihat kamu nangis. Apalagi hari ini anniversary kita." ucap Keenan.
"Putar lagi, Bee. Belum kelar." pinta Lala saat dia sudah merasa tenang.
"Enggak usah. Kalau bikin kita sedih. Aku gak mau."
Lala tak mendengar ocehan Keenan. Kini dia memutar kembali videonya.
Keenan kembali duduk disamping Lala.
"Video apa sih? Cuma tembok doang." protes Keenan.
Tak lama suara musik dangdut mengalun merdu menampilkan Lala tersenyum disana. Dia ikut bernyanyi dangdut sambil berjoget pelan.
"Sungguh, aku bahagiaaa..
Benih cinta yang kau tanaam
Bersemi indah disini"
Lala mengelus lembut perutnya. Musik masih mengalun Lala menunjukan hasil tespek dan USGnya sambil berjoget.
Keenan menatapnya tak percaya.
"Are you kidding Me, Hon?" kini Keenan menatap Lala. Dia memegang bahu istrinya, tak peduli lagi dengan video yang masih berputar.
Lala tersenyum lebar. "Hello Papa, i'm here." Lala mengarahkan tangan Keenan ke perutnya.
Seketika Keenan tersenyum lebar. "Serius? Serius?" ulangnya tak percaya.
Lala memeluk Keenan, begitupun Keenan menyambutnya. Keenan memegang wajah istrinya. "Kamu.. Gak bohong kan, Yong?" tanyanya masih tak percaya. Lala hanya mengangguk. Keenan menghujaninya dengan kecupan.
Keenan berjongkok. "Hallo son, Papa disini."
"Son? Emang laki-laki?"
"Hehe.. Aku panggil dia apa?" Keenan tersenyum bingung.
"hmm.. Baby? No. Aku gak suka. Apa dong, Hon?" Keenan mendongak.
"Nut?" tanyanya.
"Jahatnya, masa dia dipanggil kacang." Keenan terbahak seketika.
"Seed?" tanyanya lagi sambil tertawa.
"Kira-kira saja kamu panggil dia biji! Ini anak kamu, Bambang! Masa kamu samain dengan tanaman!" Keenan tak hentinya tertawa. Raut wajahnya sangat bahagia.
"Mini. Sesuai dengan mobil kamu dan dia. Mereka datang bersamaan." Keenan nampak berbinar.
"Mini me." sambungnya.
"Kapan kamu usg? Kenapa gak bilang?" tanyanya.
"Surprise. Usg kapan ya? Tiga atau empat hari yang lalu. Aku bolos kuliah. Hehe."
"Awas saja kalau nanti gak bilang lagi! Mana aku ingin lihat?"
"Di rumah Ibu, kan aku pikir kita bakal pulang kesana. Eh tapi ada di ponsel aku." Lala hendak ke kamar.
"aku saja. Kamu duduk saja, Yong." pinta Keenan.
Keenan membuka ponsel Lala. "Ini? Yang mana anak kita?"
"Nih yang kecil banget ini." tunjuk Lala
"Kecil gini? Serius?"
"Masa iya harus sebesar kamu." ketus Lala
"Hehe.. Iya juga ya."
"Ayo kita ke dokter lagi?" ajak Keenan.
"Bulan depan saja ah. Kata dokternya sebulan sekali periksanya."
"Aku penasaran, Yong. Anak kita sudah ada sebulan usianya?" tanya Keenan.
"Ada. Lima mingguaan kata dokter. "
"Aku juga heran. Makanya aku ragu. Tapi pas konsul, kata dokter memang gak semua wanita mengalami hal itu." Lala menjeda ucapannya.
"Bagusnya, aku kuliah gak keganggu. Pusing dikit sih, tapi masih bisa aku tahan. Cuma kadang lemes sama males ngapa-ngapain."
"Abang sudah curiga, soalnya kamu gak ribut bilang menstruasi. Tapi Abang diam saja."
"Hahaha.. Abang takut aku semprot ya?" Lala terbahak. Sementara Keenan tersenyum.
"Dari pada kita musuhan. Mending gak usah tanya-tanya." ucapnya.
"Hello Mininya Papa. Baik-baik ya di perut Mama." ucap Keenan.
"Haha geli deh, Bee. Kamu bilang gitu."
"Emang kamu mau dia panggil aku, Abang?"
"Ya enggak juga. Tapi aneh saja. Papa, aku malah kebayangnya wajah Papa kamu." Lala tertawa.
"Ayah deh." ucapnya.
"Muka tengil kayak kamu, masa dipanggil Ayah?" Lala terbahak.
"Daddy. Keren gak tuh?" Keenan menaik turunkan alisnya. "Daddy Keen. Wiih mantap." ucapnya dengan bangga.
"Mommy Lala. Not bad, Yong. Gimana?"
"Terserah kamu Bambang."
"Hus! Nanti dia dengar." ucap Keenan.
"Hehe.. Masih sebiji gak mungkin dengar, Bee."
"Ya udah panggil dia, seed ajalah kan sebiji." Keenan masih sangat antusias.
"Kamu mau sesuatu? Mau makan apa? Hmm?" tanya Keenan kemudian.
Lala menoyor pipinya. "Giliran ada anaknya saja sok perhatian!" gerutu Lala.
"Rebahan yuk? Aku mau peluk-peluk dia." ucap Keenan.
Lala merebahkan tubuhnya sementara Keenan tidur dengan kepalanya disamping perut Lala. Dia membuka baju Lala dan mengecupnya.
"Makan yang banyak, biar tumbuhnya cepat ya sayang." ucap Keenan gemas. Keenan memeluk perut Lala.
"Jangan gini dong, Bee. Kasihan berat sama tangan kamu."
"Oh iya." Keenan kembali ke atas. "Kado terindah seumur hidup aku, Yong. Terima kasih." ucapnya.
"Apa? Jadi bukan aku? Tadi bilangnya tujuan kamu itu aku, sekarang sudah beda lagi!" ketus Lala.
"Bukan gitu maksudnya, Sayang."
"Ngeselin deh kamu!" ketus Lala seraya memunggungi Keenan.
"Jangan marah dong? Kan kita lagi anniversary nih."
"Habis kamunya begitu."
"Pokoknya, Abang bersyukur. Ada kalian di hidup Abang. Ya Tuhan, masih gak nyangka Abang jadi seorang suami dan calon Daddy." ucap Keenan
'Tadi Papa sekarang Daddy. Dasar Daddy labil.'
"Ibu sudah tahu?" tanyanya
"Belum ada yang tahu lah! Aku kan kasih tahu bapaknya dia dulu!" ketus Lala.
Keenan memeluk Lala dari belakang. "Terima kasih sayang buat segalanya. Semuanya gak ada artinya kalau Abang tanpa kamu." ucap Keenan yang membuat hati Lala menghangat.
"Bee.. "
" Hmm.."
"Apa semua orang kaya ngasih hadiah kayak kamu?"
"Maksudnya?"
"Ya gitu, ngasih mobil, perhiasan, dan lain-lain"
Keenan tersenyum. Hembusan nafasnya membuat Lala begidik. "Maaf bukan Abang sombong, tapi setahu Abang, hampir semua pengusaha itu royal sayang."
"Dengar, Abang cuma pengusaha ritel. Abang ngasih gak ada apa-apanya. Kamu belum tahu kalau pengusaha tambang kayak gimana. Abang ngasih mobil juga masih keitung standart walau harganya jauh di atas mobil sejuta umat."
" Oh iya ya, lagipula kan sudah nikah. Kemarin aku lihat, artis di televisi baru pacaran sudah dibelikan mobil mewah, jam tangan mewah. Aku sampai kaget, Bee. Harga jam tangan saja ratusan juta. Aku pikir cuma ada di dunia khayal yang seperti ini."
Keenan tersenyum. "Ya gitu. Makanya jangan bilang ini mimpi. Toh memang kenyataannya seperti itu."
"Mereka udah bingung kali buang duitnya kemana lagi. Kalau Abang kan baru belajar. Bisa betulkan rumah ibu, kasih ini itu ke kamu pun ada rasa bangga sendiri. Karena hasil keringat Abang bukan minta ke orangtua."
"Aku pikir, mustahil ada yang seperti Abang. Tapi ternyata memang begini kehidupan kelas atas. Mantap jiwa." ucap Lala seraya tertawa.
"Mending lah Abang belikan buat istri sendiri, kita hidup sederhana juga. Coba deh lihat yang lain. Buat selingkuh beli apartemen, berlian, segala macem."
"Oh, iya. Aku masih inget sama artis yang dikasih apartemen sama pengusaha. Tahunya si pengusahanya terciduk. Akhirnya apartemennya disita."
"Kamu mah segala macem disamakan sama artis."
"ya emang nontonya itu."
***
Seminggu sudah Keenan mengetahui kalau sang istri tengah berbadan dua. Mereka memberi tahu ibu, nampak Ibu lebih bijak dengan memanjatkan doa-doa untuk calon cucunya serta memberitahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak semata wayangnya.
Ibu kader gitu loh. Semua ilmu mengenai Ibu hamil dan balita sudah khatam di luar kepala. Pikir Ibu.
Begitupun keluarga Wijaya, mereka sangat antusias dengan kehamilan sang menantu. Terutama Mama Keenan. Dia sangat gembira sampai-sampai dia bingung sendiri ingin dipanggil apa oleh cucunya kelak.
Pagi-pagi sekali Keenan tiba-tiba berlari ke toilet. Dia merasa mual dan pusing. Dia memuntahkan cairan dalam perutnya.
"Makanya, kamu mandinya jangan malam-malam, bee. Jadi masuk angin kan!" ujar Lala seraya memijit kening suaminya.
"Huum. Enggak lagi. Heran aku juga, kok kayak begini" usianya
"Ke dokter ah, takutnya keterusan bee.".
"Iya kalau masih gini terus aku ke dokter, Yong."
Kini keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Yong, makan ini enak kali ya?" ucap Keenan kenunjukan ponselnya pada Lala.
"Mana?" seketika Lala nampak terkejut. "Ya Tuhan.. Kamu gak mimpikan?"
.
.
.
Honbee DOUBLE UP. Aku lagi baik. Jangan lupa like, komen yang meriah, dan vote sebanyak mungkin. Oke?
Follow igehku : only.ambu
Terima kasih^^