My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Gosip Kampus (Part 2)



"Loh kenapa?" Farel menatap Lala dengan wajah heran.


"Hmm.. Kayaknya anak aku lagi benci kamu." Lala berbohong. Dia sengaja ingin menenangkan dirinya sendiri.


"Astaga! Rumitnya Ibu hamil. Ya sudah, kalau ada apa-apa, bilang ya? Aku gak mau si Abang ngomel-ngomel gara-gara bininya kenapa-napa."


Lala tak mendengarkan ucapan Farel, dia terus melangkah menjauhi Farel.


"Eh, kenapa aku sibuk ngurusin bini orang? Hah! Si Keenan dari dulu emang nyusahin!" Farel memutar tubuhnya menuju markas.


Di kelas, tatapan teman-temannya seolah merendahkan Lala. Tak ada satupun yang mendekati Lala untuk sengaja mengajaknya berbincang. Mereka nampak berbisik sambil mencuri-curi pandang ke arah Lala.


"La, kenapa kamu jadi bawa perasaan sih? Come on, Mini! Mommy wanita tangguh, kamu harus kuatin Mommy ya." gumamnya.


Kuliah hari ini selesai, Lala berjalan menuju parkiran. Beberapa orang masih nampak menatapnya, walaupun Lala berusaha secuek mungkin.


"Gila, pantes dia mau dihamilin. Dapatnya juga bukan mobil biasa." beberapa mahasiswi sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar Lala.


'Tahan La, jangan lupa chanel ikan-ikanan, nanti mereka dapat balasannya sendiri.'


'Kali aja nanti ada Hot news 'Azab suka gosip, bibir melebar selebar tampah. Mamp*s kalian.'


Lala buru-buru masuk ke dalam mobilnya. Rasanya dia ingin menumpahkan semuanya pada Keenan.


"Abang? Sibukkah?" Lala menuliskan pesan pada Keenan.


15 menit sudah Lala habiskan berdiam diri di parkiran untuk menunggu balasan dari Keenan. "Sibuk banget sih sekarang." gerutunya.


Lala melajukan mobilnya menuju KP. Berharap rasa kesalnya tergantikan dengan canda tawa pegawainya.


"Mbaaak.. Tumben sore-sore kesini." sapa Tiara


"Hehe.. Aku lagi ingin minum kopi." bohong Lala.


"Untung ngidamnya gak yang susah ya Mbak."


"Yee..ini sih bukan ngidam. Emang akunya yang ingin." Lala tersenyum.


"Bud, tolong buatkan yang seperti biasa yaa.." pinta Lala.


"Siap bos."


Lala kembali membuka ponselnya, masih tak ada balasan dari Keenan. 'Sibuk terus, lupa anak istri.' kesalnya dalam hati.


"Mbak, kemarin ada yang nanyain Bang Keenan." ujar Tiara menghampirinya.


"Siapa?"


"Aku gak nanya dia siapa Mbak, cuma dia tanya, Bang Keenan suka kesini atau enggak."


"Laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki, Mbak. Kemarin jam tujuhan gitu. Tapi kalau gak salah waktu soft opening itu loh Mbak. Dia ada disini."


"Mas Pram?"


"Bukan lah. Itu sih kita kenal. Kan suka kesini."


"Teman yang satunya lagi, Mbak. Kalau aku gak salah."


"Oh Bang Al. Astaga.. Mereka memang sudah lama jarang ketemu. Jangankan mereka, aku juga jarang ketemu sekarang." keluh Lala.


"hahaha.. Jangan curhat Mbak."


"Tuh gara-gara dipancing jadi keceplosan kan." Lala tertawa.


"Mbak jangan membuat jiwa jombloku meronta-ronta deh Mbak."


"haha..aku juga sekarang merasa jomblo tahu."


"Tapikan tiap malam ada yang meluk-meluk manja, Mbak?"


"haha.. Dasar kamu tuh.. Makanya cepetan nikah."


"Nikah sama siapa, Mbak. Jodohnya belum ketemu. Jangan-jangan jodohku masih dikandungan Mbak." Tiara tertawa


"Emang kamu mau telat nikah nungguin anak aku?"


"Asal dijamin nikah sama anak Mbak gak apa-apa."


"Astaga..ngaco kamu. Akunjuga belum tahu jenis kelaminnya dia apa." Lala menggelengkan kepalanya sementara Tiara meninggalkannya menuju meja kasir sambil cengengesan.


Lala menikmati minumannya sambil melamun. Getaran ponsel mengalihkan lamunannya.


"Honey maaf, Daddy habis meeting. Kamu sudah pulang? Daddy masih ada dinner party, kemungkinan pulang telat lagi malam ini. Maaf ya Mom. Love you unlimited."


Lala hanya menarik nafasnya pelan. Rasanya sungguh tak ada kawan untuk berbagi beban saat ini.


Lala memutuskan pulang ke rumah. Seperti biasa, setelah melakukan aktifitasnya, dia merebahkan tubuhnya sambil mendengarkan musik Mozart. Hanya itu salah satu cara yang membuatnya tenang sekaligus mengantuk.


Jam sepuluh malam, Keenan baru sampai dirumah.


"Lala di kamar, Bi?" tanya Keenan pada pengurus rumah yang membukakannya pintu.


"Iya, Den. Sepertinya sudah tidur." ujar Bi Ijah, sang pembantu pilihan Ibu. Seorang janda yang berusia empat puluh tahunan dan tidak memiliki anak.


"Saya keatas kalau begitu."


Keenan menaiki anak tangga sambil melonggarkan dasinya. Hari ini terasa lelah, energinya terkuras habis oleh kepadatan aktifitasnya.


Keenan tersenyum saat melihat Lala tidur dengan earphone yang menutupi telinganya. Dia mengambil earphone tersebut dan menaruhnya diatas nakas kemudian menyelimuti istrinya. Dia mengecup lembut kening dan perut Lala sebelum membersihkan diri.


***


Semakin hari, gosip yang beredar dikampus semakin memanas. Bahkan foto Lala dan Farel yang nampak mesra beredar di seantero Kampus. Tak hanya itu, beberapa foto Lala saat turun dari mobil Keenan pun tak luput dari jepretan paparazi. Bahkan, plat nomor mobil Keenan pun menjadi bahan gosip mereka. Sungguh, samoai sedetil itu mereka membuat gosip tentang Lala.


Lala masih bersikap masa bodoh walaupun dalam hatinya dia ingin membela diri, tapi dirasa tak ada gunanya.


Lala pun masih berusaha menghindari Farel untuk meredam gosip yang kian memanas. Namun, Farel dengan gigih mencari Lala setelah melihat foto mereka tersebar.


"La..." teriak Farel dari lantai dua saat melihat Lala berjalan menuju Perpustakaan.


Farel berlari hendak menghampiri Lala. Namun Lala yang tak mendengar Farel, melenggang masuk ke dalam Perpustakaan.


"La.. " Farel mendekati Lala yang tengah sibuk dengan buku dihadapannya.


"Farel. Ngapain?" Lala terlihat kaget saat melihat Farel berada di hadapannya.


"Kenapa? Menghindar?"


"Siapa yang menghindar." ucap Lala ketus dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Ehm.. " orang diseberang mereka memberi kode agar tidak berisik.


"Ikut aku, kita harus bicara." Farel menarik lengan Lala.


"Jangan gila!"


"Atau aku teriak?" ancam Farel.


"Astaga!" Lala bangkit, dia mengembalikan buku ditempatnya.


Tatapan orang-orang makin menjadi saat melihat Farel dan Lala berjalan bersama keluar dari perpustakaan.


"Kita ke kantin, La." ajak Farel.


"Tapi Rel.."


"Kenapa? kamu merasa selingkuh sama aku?"


"Gila kamu!" Lala memukul lengan Farel.


"Terus kenapa? Kemakan omongan orang kamu tuh!" ketus Farel. "Ayo ke kantin!" ajak Farel sambil menarik tangan Lala.


Lala mengedarkan pandangannya. Beberapa orang memperhatikan keduanya.


"Rel."


"Masa bod*h dengan mereka." Farel melipat kedua tangannya. Dia tahu Lala sangat tak nyaman.


"Kamu mau minum apa?" tanya Farel setelah meredam rasa kesalnya.


"Ayam penyet sama es jeruk." Lala menyeringai.


"Gak salah? Aku cuma nawari kamu minum doang."


"Sudah dua hari aku ingin makan ayam penyet disini, tapi.."


"Sudahlah gak usah dijelasin." Farel berdiri hendak memesan pesanan Lala.


"Jadi kamu ngehindar gara-gara itu?" tembak Farel saat menarik kursinya.


"Hmm. Sorry Rel. Kamu sudah tahu?"


"Mana mungkin aku gak tahu. Cuma telat saja sih aku juga. Kenapa? Kamu kemakan omongan mereka?"


"Aku cuma gak mau nama kamu jadi jelek, Rel. Kamu kan ketua senat."


Farel tersenyum mengejek. "Justru kalau kamu menghindar seolah memang terjadi yang iya-iya antara kita."


"Enak saja!"


"Apa kamu gak masalah Rel?"


"No problem. Beberapa orang sempat nanya aku juga. Cuma ya memang kenyataannya kamu tuh kakak ipar aku, ya mau gimana lagi."


"Terus respon mereka gimana?" Lala begitu penasaran.


"makan dulu." titah Farel saat melihat pelayan menghidangkan makanan mereka.


"Tumben kamu lemah, La? Awal-awal kuliah dulu kamu berani nantangin aku!" ucap Farel disela-sela makan mereka.


"Hahaha.. Aku juga gak ngerti Rel. Bawaan hamil kali ya? Kadang jadi mudah terbawa perasaan juga."


Lala membuka ponselnya saat bergetar.


"Honey sedang apa? Mini gak rewel kan? Abang pulang malam lagi ya, jam 3 baru mau meeting. Abang usahakan pulang cepat, Mom. Love you unlimited.'


Lala menarik nafas panjang.


"Kenapa? Abang gak bisa jemput?" tebak Keenan saat melihat raut wajah Lala.


"Aku bawa mobil kali!"


"Dia sibuk banget emangnya?"


"Entahlah! Lama-lama kesal juga sama dia."


"Kenapa? Jarang dibelai kamu?" Farel tertawa mengejek.


"S*alan!"


"Sudahlah La, kamu gak usah mikirin apa kata orang. Fokus saja sama kehamilanmu. Kasihan anak kamu dibawa mikir yang gak ada gunanya. Puyeng kali otak dia, dibawa mikir kuliah iya, mikirin gosip iya, udah jarang ditengokin Papanya. Hahaha" Farel terbahak.


"Hah! Berisik lu anak kecil!"


"Anak kecil, aku juga bisa bikin yang kecil kayak diperut kamu!" ketus Farel.


"haha.. Cari istri sana! Biar kita gak di gosipin terus!"


"Santai. Aku masih menikmati kesendirianku."


"awas nanti kamu menyesal Rel."


"Menyesal kenapa?"


"Menyesal kenapa gak kawin dari dulu. Hahaha." tanpa dia sadari, Lala sudah mulai rileks bersama Farel.


"Terus kenapa orang-orang suka bilang 'puas-puasin dulu sebelum nikah.' nah loh? Berarti menyesal dong nikahnya kalau kayak begitu"


"Hahaha.. Entah lah. Yang jelas, nikmati saja harimu."


"Harusnya aku yang bilang kayak gitu, La. Nikmati harimu. Netizen, Detergen, Dirigen mah lewaat. Kagak perlu diambil hati. Yang jelas kita berada di jalan yang benar. Merdeka!"


"hahaha.. Ketua senat lagi orasi."


"Lagian kamu, gosip gitu saja diambil hati."


"Ya kamu mikir saja, gosipnya nyebar seantero kampus. Namaku jadi tranding topik kali. Mending kalau nama baik. Ini mah imageku rusak, Rel." suara Lala sedikit tercekat.


"Iya. Iya. Aku tahu. Nanti kita hentikan gosip itu."


"Gimana caranya? Gak mungkin kamu tutup mulut mereka satu persatu" gerutu Lala.


"Abang tahu masalah ini?"


"Enggak. Dia lagi sibuk, aku gak mau bebani dia dengan hal-hal kayak gini."


"Ciee.. Istri yang baik."


"Aku masuk kelas lagi, Rel. Sorry kalau aku sempat menghindar."


"Gak masalah. Dah sana ke kelas. Fighting, La!"


***


Seminggu berlalu, gosip tentang Lala masih belum mereda. Bahkan semakin banyak yang terang-terangan menyindirnya saat Lala melintas atau bahkan di dalam toilet.


Semakin lama, Lala semakin jengah. Dia sedikit stress dengan ocehan mereka. Namun dia tidak mau membuat keributan. Lala masih menahan dirinya hingga ujung batas kesabarannya.


Rasanya, semua beban hanya dia yang menanggungnya sendiri. Keenan? Gak usah ditanya. Dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Lala sudah merasa muak oleh sikap Keenan, hingga setiap Keenan mengirim pesan, Lala enggan untuk membalasnya.


'Tumben dia gak berangkat pagi-pagi.' batin Lala saat sedang memoles dirinya. Dia melihat Keenan masih memejamkan matanya


"Hon.. Kamu mau berangkat?" tiba-tiba Keenan terbangun dari tidurnya.


"Hmm.."


"Abang anter ya?"


"Gak usah repot-repot."


"Kok gitu? Kamu kenapa sih?"


'Kamu kenapa sih? Pertanyaan bod*h macam apa!'


"Kamu kan sibuk, ngapain repot-repot anter aku segala" ketus Lala


"Maaf kalau Abang sibuk akhir-akhir ini. Abang cuma ngejar kerjaan biar gak numpuk saja. Jadi bisa longgar nanti pas kamu mau lahiran."


"Masih lama kali!"


"Justru itu, semua agenda kan gak bisa sembarangan dibatalkan, Hon. Jadi di atur dari sekarang."


"Maaf ya, yuk Abang anter. Tunggu Abang mandi dulu ya." ujar Keenan.


Sementara Keenan memakai pakaiannya, Lala turun terlebih dulu untuk sarapan. Dia sudah masa bod*h dengan Keenan.


Keenan turun dengan setelan kerjanya. Sudah lama sekali, Lala tak melihat Keenan dengan pakaian kerjanya tersebut dan duduk di meja makan berdua. Sesaat dia sedikit terpesona. Namun buru-buru dia mengalihkan pandangannya.


"Mom, aku mau roti saja." pinta Keenan pada Lala.


"Kamu kan bisa ambil sendiri." gerutu Lala


"Masa suami minta dilayani, kamu kayak begitu?" Keenan menaikan sebelah alisnya menatap Lala.


Dengan enggan, Lala menyiapkan sarapan Keenan. Tak ada perbincangan diantara keduanya saat sarapan.


"Kamu kenapa sih? Kok kamu cuek gitu sama aku?" Keenan melajukan mobilnya sedikit pelan.


"Gak kebalik?" sindir Lala.


"Abang cuek gimana sama kamu? Abang tiap hari coba kasih kabar. Chat kamu, kalau sempat Abang juga telepon kamu. Kamu yang kenapa? Gak balas pesan. Boro-boro angkat telepon! Abang sibuk buat kamu. Buat anak kita juga." ketus Keenan yang tak tahan dengan sikap Lala yang dingin.


"Mana perhatian kamu? Kamu chat isinya pemberitahuan kalau kamu pulang larut malam! Bahkan kemarin saja aku chek kandungan ditemani Ibu. Gak ada waktu kan buat aku?"


"Iya, itu Abang salah. Abang minta maaf. Jadwal Abang benar-benar gak ada yang bisa di cancel. Abang minta maaf ya sayang." Keenan meraih jemari Lala.


Tak ada percakapan lagi diantara mereka hingga tiba di kampus. Lala bahkan segera keluar dari mobil Keenan dan melupakan ritual mereka.


"Wah, tumben diantar lagi sama sugar Daddy." celetuk salah satu mahasiswi pada temannya tepat dibelakang Lala.


"Iya dong, kan habis servis"


"Aku mau dong di servis." mereka tertawa.


Lala yang kesal memutar tubuhnya. "iya kalian memang barang bekas, jadi harus di servis!" ketus Lala dengan amarahnya.


"Kamu siapa? Bicara sama kita?" ucap salah satu dari mereka.


"La.. " teriak Farel berlari mendekati Lala. Pandangan mereka teralihkan pada Farel, dengan segera ketiganya pergi dari hadapan Lala.


" Kabur! Kurang ajar!" geram Lala


Lala menatap tajam Farel. "Apa sih kamu!"


"Ayo ikut seminar."


"Seminar apa?"


"Astaga! Payah banget. Spanduk sudah dipasang dimana-mana, kamu gak lihat apa?"


"Ngapain? Gak penting ah."


"Ayo, nama kamu sudah didaftarkan."


"Aku gak mau ikut Farel!"


"Sini kamu lihat dulu spanduknya." Farel menarik lengan Lala menuju salah satu spanduk.


Lala membaca dengan seksama. "Abang?"


.


.


.


Abang ngapain coba? Yuk komentar, like dan vote. Terima kasih ^^