
"Masa sih putus, Mas? Bukannya Bang Al cinta mati" ucap Keenan tak percaya
"Iya kan si Mira katanya yang mutusin duluan"
"Baguslah" ucap Keenan datar
"Kok bagus sih Bee?"
"Ya daripada dia bersanding dengan orang yang salah Hon"
"Eh tahunya dia mepetin kamu lagi" gerutu Lala
"Ciee.. Pengantin baru cemburu" goda Mas Pram
"Lupa sama yang tadi aku bilang sama Ibu?" Keenan menautkan alisnya tak terima sementara Lala hanya memperlihatkan deretan giginya.
"Wah? Kamu bicara apa Bro?"
"Mau tahu aja atau mau tahu banget Pramono?" Keenan mendiktenya
"Haha mau aku juga dong La bicara sama Ibu" goda Mas Pram
"Enyahlah kau dari hidupku Mas" ketus Keenan membuat Mas Pram tertawa
"Terus kenapa gak ajak Bang Al buat usaha bareng?" tanya Lala kembali pada topik pembicaraan mereka
"Dia gak minat La. Bukannya aku gak mau ngajak"
"Apalagi dikasih galau seperti sekarang." tambah Mas Pram
"Biasanya kalau cowok galau kan kumpul-kumpul Mas?"
"Ya dia lagi ingin sendiri kali Hon" ucap Keenan
"Jadi sekarang kita mau ngapain nih Mas?" tanya Lala kemudian
"Ya mau persiapan La. Biar cepat kan."
"Ya sudah yuk Hon kita jalan" ajak Keenan
"Kabari saja Mas kalau sudah beres. Atau nanti deh aku mampir kalau gak sibuk" ucapnya seraya pamit meninggalkan Mas Pram sendirian.
"Loh kok gak bantuin sih Bee?" tanya Lala saat mereka masuk ke dalam mobil.
"Kan sesuai kesepakatan Honey, biarkan dia bertanggung jawab terhadap kerjaannya."
"Ih kamu masa tidak setia kawan sih Bee?"
"Hon, selama bisnis kalau kita mengedepankan hal sepele begitu, usaha kita gak akan maju."
"Egois dong?"
"Bisa dibilang begitu. Selama tidak menjatuhkan orang lain dan tidak bermain curang. Sah-sah saja." ucap Keenan
Lala hanya terdiam mencoba mencerna ucapan pacarnya.
"Bee, aku masih kasihan loh sama Mas Pram. Masa dia sendirian begitu?"
"Biarkan dia mengejar mimpinya dari nol Hon. Paham maksud aku?"
La menggelengkan kepalanya.
"Dia punya mimpi ingin merintis usahanya sendiri dari bawah. Jadi biarkan dia menikmati perjuangannya, Hon. Mengerti?"
"Iya Bee."
"Kamu kalau lagi bahas beginian dewasa banget. Rasanya bukan Keenan yang ambekan"
"Terus siapa dong Hon?"
"Keenan si pemarah" ucap Lala seraya tertawa
"Nantangin niih" ucap Keenan
"Siapa yang nantangin sih? Aku bicara kenyataan" ucap Lala
"Kamu kan dikit-dikit marah sama aku. Dikit-dikit kita berantem. Kamu itu My Enemy, My Love! Tahu gak?" ucap Lala.
Keenan memberikan seulas senyuman tanpa protes. Dia sedikit membenarkan ucapan Lala.
"Kalau romantis terus kita bisa mati muda Hon" ucap Keenan
"Kenapa memangnya?"
"Ya karena bakalan so sweet terus. Makanya ada untungnya kita banyak berantem kayak musuh Hon. Kamu tahu aslinya aku, begitupun aku tahu siapa kamu" ucap Keenan.
"Janganlah Bee.. Kalau rumah tangga kayak gitu gak akan awet nanti"
"Awet, karena kita sudah biasa kayak begini. Kecuali kalau aku gak tahu sikap kamu dari awal baru tuh"
"eh, cie ciee.. Yang udah diseriusin bahasnya rumah tangga" Keenan menggodanya.
Lala yang malu melingkarkan tubuhnya di tubuh Keenan. Sementara tangan Keenan mengusap lembut rambut Lala dan mengecupnya singkat.
"Terima kasih Bee sudah berani bilang sama Ibu."
"Iya. Aku lega Ibu mau terima"
"Kalau gak ketahuan begitu, mana mungkin kamu juga bilang hal itu ke ibu" Lala menarik dirinya menatap Keenan
"Pasti bilang Honey, tapi gak dadakan kayak tadi."
"Tuh kan"
"Ck.. Udah ah, aku gak mau berantem. Sini" Keenan menarik Lala agar kembali menyandarkan tubuhnya kembali.
"Bee, kamu kalau kerja nanti ingat aku gak?"
"Pertanyaan b*doh"
"Ih kamu kan gitu"
"Kamu kalau kerja ingat aku gak?" Keenan membalikan ucapannya
"Ingat lah! Tapi kalau gak sibuk. Kalau sibuk ya aku fokus sama kerjaan" ucapnya
"Kamu sudah tahu jawabannya ngapain tanya lagi"
"Ih beda tahu! Kamu kan cowok Bee. Perasaannya ya beda."
"Astaga! Sekarang aku tanya, kamu cinta aku gak?"
"Huum. Tapi kalau kamu gak rese" Lala tertawa
"Gak pake tapi. Cepat jawab"
"Iya."
"Iya apa?"
"Astaga! Iya cinta kamu"
"Aku juga cinta kamu"
"Ih apa sih gak jelas!"
"Ckk.. Munaroh gak ngerti-ngerti. Sama kan berarti perasaan kita? Kamu cinta aku juga cinta. Mau itu cewek, mau itu cowok kalau perasaan ya sama lah! Kamu tanya kalau aku kerja ingat kamu gak? Jawabannya ya pasti sama kayak kamu. Udah deh jangan nanya pertanyaan b*doh kayak gitu"
"Ya wajarlah nanya juga" ketus Lala
"Kenapa sih cewek selalu mengulang pertanyaan yang sama? Kamu cinta aku? Kamu sayang aku? Padahal cukup dirasakan saja pasti tahu juga perasaan pasangannya" protes Keenan
"Gak gitu juga Bambang! Cewek juga butuh per-nya-ta-an dan ketegasan."
"Jadi kamu sekarang butuh pernyataan?" ucapan Keenan membuat Lala sedikit malu
"Gak usah diperjelas kali" Lala menoyor pipi Keenan membuat Keenan tertawa.
"Aku gak akan bilang. Gak cukup apa? aku bilang sama Ibu tadi bagaimana?" ucap Keenan
Lala memeluk leher Keenan kemudian mengecup lembut pipinya.
"Love you, Bee" ucapnya lembut sementara Keenan tersenyum simpul.
"Ih tuh kan gak bales!"
"Astaga, aku lagi fokus nyetir Honey."
Lala bergeser menjauh pada Keenan, dia melipat kedua tangannya. Sementara Keenan menepikan mobilnya. Dia membuka safety belt miliknya kemudian memutar tubuh Lala menghadap kepadanya.
"Love you more, honey." Keenan mengecup seluruh wajah Lala menyisakan bibir Lala yang tak ia sentuh. Keenan menempelkan dua jari di bibirnya kemudian dia menempelkannya di bibir Lala.
"Aku takut bablas sekarang" ucapnya singkat membuat Lala menahan senyumnya.
"Udah, jangan ngerayu lagi. Kalau aku nekat gimana? Mau?" Lala segera menggeleng.
Keenan memasang sabuk pengamannya lagi kemudian melajukan mobilnya.
"Gemes banget ih" Lala menyubit lengan Keenan.
"Stop it, Honey! Aku nekat nih" ucapnya membuat Lala tertawa.
Keenan mengantar Lala pulang ke rumahnya. Ibu mengajaknya makan bersama setelah mendapat hidangan dari tetangga yang hajatan tadi siang.
Keenan tak bisa menolaknya, dia menikmati jamuan Ibu sambil sesekali berbincang bersama.
"aku pulang ya Bu"
"Iya hati-hati."
"Maaf aku gak bawa martabak" ucap Keenan polos
"Haha.. Gak apa-apa. Sana cari kerja yang bener biar bisa bawakan Ibu martabak."
"Ibu apa sih bilangnya begitu" protes Lala
"Iya Bu, aku pamit Bu. Assalamu'alaikum" pamitnya.
Lala mengantarnya keluar pagar.
"Kalau aku nanti mulai sibuk maaf ya Hon. Sebisa mungkin aku hubungi kamu. Jangan marah, aku cinta kamu. Ingat itu." ucap Keenan
"Iya sudah sana pulang, istirahat." ucap Lala
Lala membaringkan tubuhnya setelah membersihkan dirinya. Dia sangat bahagia. Perjalanan cintanya terasa mulus, semulus paha artis. Kedua keluarga telah merestui hubungan mereka.
***
Tak.. Tak.. Tak.. Tak..
Derap langkah kaki seorang Keenan Wijaya membius karyawan yang dilintasinya pagi itu. Dengan balutan kemeja berwarna navy, dipadukan dengan jas hitam serta sepatu pantopel yang mengkilat, dia mampu menyihir para staff yang berada di bilik kerja mereka. Para staff yang bertugas saling sikut saat melihat lelaki asing diikuti oleh atasan mereka.
Mereka dikumpulkan di depan ruangan Bos besar yang biasa ditempati sang kakak. Namun kali ini, lelaki beralis tebal itu menguasai kursi panas yang jadi perebutan antara dirinya dengan sang kakak.
Sekertaris kepercayaan Pak Wijaya mengenalkan Keenan pada para staff. Dengan wajah datar, Keenan menatap satu persatu orang yang nanti akan menjadi kaki tangannya dalam bekerja.
Keenan tak banyak bicara dan berbasa basi. Lelaki jutek tersebut membuat penasaran sebagian karyawan dan mampu menghipnotis mereka dengan gayanya sendiri.
Keenan kini duduk disinggasananya. Dia siap bertarung melawan kakaknya berkat dorongan dari pacar tercintanya.
Keenan membuka satu persatu kumpulan kertas dihadapannya. Matanya memicing menatap deretan huruf yang tertera disana. Sesekali dia melempar pandangannya kearah lain melawan rasa jenuh yang menderanya.
"Bee..fighting!" dua kata yang membuatmya tersenyum seneng saat membaca pesan dari pacarnya.
"Terima kasih, Honey." balasnya singkat. Dia melanjutkan kembali aktifitasnya.
***
"Hon, aku sudah didepan." ucap Keenan
Lala tersenyum lebar menghampiri sedan hitam pemilik hatinya. Dia segera masuk dan memeluk pacarnya yang sudah dua minggu tak dia temui.
"Kangeeen" ucap Lala manja
"Aku juga Hon. Yuk buruan, keburu acaranya beres" ajak Keenan seraya membalas pelukan Lala.
Keenan melajukan mobilnya ke sebuah kedai kopi yang tengah ramai dengan alunan musik terdengar merdu.
Dia memarkirkan mobilnya ditepi jalan dan masuk menerobos keramaian kedai kopi tersebut sambil menggandeng tangan pacarnya.
"Bro Keen" Mas Pram melempar senyumnya pada Keenan dan Lala dari balik meja kerjanya. Dia memakai celemek hitam menghampiri keduanya.
"Ramai mas" ucap Lala
"Soft opening biasa La, dikasih diskonan pasti diserbu. Mudah-mudahan pada suka jadi mereka balik lagi. Aamiin"
"Eh, Bang Al mana Mas?" tanya Lala kemudian
"Aku belum sempat buka ponsel La. Keteteran ini" ucapnya senang.
"Aku juga" ucap Keenan yang kini membuka ponselnya.
Tak berapa lama, Bang Al datang menghampiri mereka.
"Wiihh.. Bos kopi"
"Saudarakuu" Mas Pram memeluknya.
Mereka bertiga saling peluk sambil tertawa senang. Sebuah reuni kecil genk gesrek pasca wisuda kemarin. Ketiganya kini mempunyai kesibukan masing-masing.
Bang Al sendiri kini tengah bekerja di salah satu Bank ternama mengikuti jejak langkah sang ayah.
"Lala, masih bertahan sama dia?" sindir Bang Al
"Pengantin baru mereka." sindir Mas Pram
"Loh? Kaliaan.. "
"Enggak. Ih Mas Pram biang gosip" ketus Lala
"Haha.. Aku cuma mengingatkan ucapan si pemilik ruko La"
"Aamiin saja Hon, biar gak banyak bicara" ucap Keenan seraya merangkul Lala.
Ketiganya saling bertukar cerita seolah tak ada habisnya. Sementara Lala lebih memilih membalikan tubuhnya untuk menikmati dan mengikuti lantunan lagu yang dinyanyikan seorang penyanyi diatas panggung kecil.
"Buat Mbak yang imut lucu disebelah sana, barangkali mau request lagu atau bernyanyi dengan saya disini, atau barangkali mau menemani saya disini. Saya tunggu." dia mengulurkan sebelah tangannya seraya mengedipkan matanya.
Teriakan dan tatapan dari para penonton membuat Lala tertipu malu. Seketika Mas Pram berdiri memberikan kode pada penyanyi tersebut hingga penyanyi tersebut mengalihkan pada penonton yang lain.
"Dia mengira Lala pengunjung, Bro" ucap Mas Pram yang melihat Keenan nampak kesal.
"Balik sini. Gak usah denger musik" titah Keenan
"Wiiihh.. Posesif Laa" sindir Bang Al
Lala yang kesal kesenangannya di usik membalikan tubuhnya kembali ke posisi semula berhadapan dengan Mas Pram.
Keenan melingkarkan lengannya dipinggang Lala seolah memberitahu bahwa Lala miliknya seorang.
"Bang, si Mira apakabar?" pancing Keenan
"Mira siapa ya?" tanyanya membuat Mas Pram menoyor kepalanya.
"Anda amnesia?" tanya Mas Pram
"Apa aku harus mengingatkan Mas, bagaimana dia mengancamku agar tak dekat dengan wanita bernama Mira itu?" ucap Keenan
"Haha.. Sudahlah. Lagi pula banyak yang bening di tempat kerjaku. Aku juga sudah melupakannya." ucap Bang Al
"Secepat itu?" tanya Lala
"Dia kan playboy Hon. Jadi cepat lupa"
"Buat apa diingat-ingat La. Mantan ya mantan. Kita berjalan lurus ke depan bukan?"
"Super sekali bapak yang satu ini" Mas Pram bertepuk tangan.
"Terus kamu La? Kapan dihalalkan olehnya?" sindir Bang Al
"Nanti kalau gak sibuk" ucap Lala asal
"Kamu salah dong Mas. Nanyanya ke dia dong bukan ke aku." gerutu Lala kemudian
Keenan hanya diam tak memberikan reaksi apapun membuat Lala menjadi kesal.
Setelah acara selesai, kini Keenan dan Lala berada di dalam mobil.
"Hon, kamu kok diam saja"
"Gak apa-apa" jawab Lala singkat. Dia masih kesal pada Keenan yang tak menanggapi pertanyaan Bang Al tadi.
"Hei.. Kenapa sih?" tanyanya bingung.
"Aku capek. Mau pulang" pinta Lala kemudian
"Baru juga ketemu Hon. Kenapa sih?" tanya keenan
"Gak apa-apa Bee."
"Aku tuh masih kangen kamu tahu" ucap Keenan seraya menggenggam tangan Lala kemudian mengecupnya.
"Capek tahu Hon. Kerjaannya banyak banget, pusing juga. Kakak memang gak bisa di andalkan" keluh Keenan seraya melipat tangannya sebagai bantalan kepala di belakang kursi mobilnya.
"Terus kakakmu gimana sekarang?" Lala yang penasaran teralihkan rasa kesalnya
"Ya dia kan di pindahkan. Gak megang yang disini. Papa tuh udah kecewa banget sama dia. Entahlah dia menghabiskan uang Papa untuk apa saja. Aku gak ngerti" ucap Keenan
"Makanya kamu yang harus bisa meneruskan Bee."
"Iya Hon. Tapi kadang lelah banget. Aku tuh seolah gak punya waktu tahu gak." ucap Keenan
"Nikah ajalah yuk, dari pada kita jarang ketemu" ajak Keenan
"Tadi ditanya nikah sama orang, kamu diam saja. Sekarang giliran berdua di umbar-umbar." kesal Lala
"Jadi kamu marah gara-gara itu?" goda Keenan.
'Udah tahu pakai nanya lagi!' batin lala kesal
"Enggak juga. Bukan karena itu." ucap Lala
"Terus apa dong Hon?" tanyanya
"Gak apa-apa."
"Aku cape Hon" keluh Keenan seraya menyandarkan kepalanya di bahu Lala.
"Sabar lah. Nanti juga ada masanya. Sekarang kan kamu masih tahap pengenalan. Belum menguasai betul"
"Terima kasih Hon sudah mau mengerti aku. Sudah support aku juga." ucapnya
***
"Dari mana La? Malem banget pulangnya" tanya ibu
"Iya Bu, tadi ke kedai kopi dulu. Teman aku buka kedai kopi gitu" ucap Lala
"Wah? Ibu bisa kali titip gorengan disana?" ucap Ibu polos membuat Lala melongo melihatnya.
.
.
.
Haaii maaf kalau up nya gak tentu karena aku ada kesibukan lain yang gak bisa aku tinggal di dunia nyata. Tetep. Dukung My Enemy, My Love! Yaaa.. Jangan lupa like dan komentarnya kakak. Bantu vote jugaa terima kasjb