My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Salah Faham



Seperti biasa, Lala masuk ke dalam ruang kerjanya masih dalam keadaan sepi.


"Bee, jangan lupa sarapan yaa" Lala menuliskan pesan untuk Keenan.


Tak berapa lama, dering ponsel Lala berbunyi.


"Pagi Hon, sudah dikantor?" tanya Keenan


"Sudah Bee. Sudah sarapan belum?" tanya Lala


"Belum Hon, lagi pakai baju." ucapnya


"Ya sudah, pakai baju yang bener terus sarapan sana" ucap Lala


"Iya bawel. Kamu sudah sarapan?"


"Gak usah ditanya lagi" Lala tertawa.


"Hari ini aku jemput ya?"


"Kamu gak sibuk?"


"Kita cek kedai Hon."


"Ya sudah kalau begitu. Sana siap-siap dulu. Hati-hati dijalan ya Bee."


"Terima kasih Hon. Love you" Keenan memutuskan sambungannya.


Lala menatap layar ponselnya seraya tersenyum. Dia memulai pekerjaannya.


***


"La, ayo makan siang" ajak Tasya dan Reza pada Lala.


"Aku sudah makan, Bu. Lagi pula sudah jam berapa ini bu?"


"Hehe.. Aku sama A Reza belum makan siang. Yuk, sekalian kita bahas buat rencana kita La" ajak Tasya


"Nanti Aku jadi nyamuk bu" Lala ingin menolak lagi tapi tak enak dengan Bosnya.


"Enggak. Memang kita mau kencan?" Ucap Tasya datar.


"Bawa laptop kamu La" pinta Reza


Mereka pun pergi ke Mall. Di perjalanan mereka berbincang seru. Lala dan Reza saling sahut seperti biasa.


"Makan apa sayang?" tanya Reza pada Tasya setelah mereka tiba di foodcurt.


"Hotplate. Kan aku sudah bilang" ucap Tasya


"Kamu La?" tanya Reza


"Aku kenyang Pak. Mentahnya saja boleh?" Lala menyeringai


"Mentahnya dua puluh ribu, La" ucap Reza


"Pak, masa makan di Mall segitu" gerutu Lala


"Sudah cepat mau apa? Kasihan istri dan anakku kelaparan" Ucap Reza


"Aku cemilan saja Pak." ucapnya cepat


"Cari tempat duduk Mam. Papi pesan dulu ya" Reza menyuruh mereka.


Mereka duduk dipinggir yang berbatasan dengan tembok. Diseberang, mereka dapat melihat lift kaca yang naik turun. Tasya dan Lala ngobrol seraya Lala membuka laptopnya. Tasya melihat ke arah lift yang hendak turun.


"La.. La.. Lihat itu.. " ucap Tasya pada Lala


"Apa bu?" tanya Lala sambil melirik ke arah yang ditunjuk oleh Tasya


"Itu yang turun bukannya Keenan La?" tanya Tasya


"Hmm.. Mana?" Lala sedikit tersentak. Dia tak menemukan sosok yang dimaksud. Hatinya kini terasa tak enak.


"Ah, dia sudah kesana" ucap Tasya


"Kamu suka komunikasi dengannya La?" tanya Tasya kemudian.


"Ti.. Tidak Bu" ucapnya seolah menyembunyikan sesuatu


"Memang Keenan sama siapa Bu?"


"Tadi kelihatannya sih sendirian, tapi gak tahu juga. Gak begitu jelas. Cuma rasanya hafal saja itu kayak Keenan." ucap Tasya


"Sayang makanannya" Reza menghampiri mereka seraya menyimpan nampan diatas meja berisi mie yang masih mengeluarkan asap.


"Hati-hati panas" ucapnya kemudian


"Terima kasih sayang. Papi pesan apa?" tanya Tasya penasaran


"Papi pesan ikan" ucapnya singkat


"Ni punyamu La" Reza menyodorkan nomor meja pada Lala.


"Kamu sudah dapat La?" tanya Reza melirik laptop dihadapannya.


"Sudah Pak, tapi gak tahu ini menarik atau tidak" ucapnya


Tak lama pesanan Lala datang. Reza membelikannya siomay goreng dan jus strawberry untuk Lala.


Reza melihat istrinya sangat lahap. Saat Tasya minum, Reza mengambil garpu milik Tasya, kemudian menggulung mie untuk dia cicipi.


"Papi ih" Tasya seakan tak rela berbagi


"Ya ampun Mam, sedikit saja" ucapnya seraya mengunyah


"Punya Papi belum datang-datang sih?" gerutu Reza yang tengah lapar


Reza hendak menghampiri, namun dia melihat pelayan membawa pesanannya.


"Hmm.. Kayaknya enak punya Papi" ucap Tasya saat melihat makanan milik Reza yang berisi ikan gurame goreng, sambal kecap, tahu tempe dan oseng bunga pepaya.


Reza menggulung lengan kemejanya sampai sikut, dia segera beranjak untuk mencuci tangannya yang berada di pojok ruangan tersebut. Tak lama, dia menyantap makanannya dengan lahap.


"Mau Pap" pinta Tasya


Reza mengambil ikan kemudian mencolekannya pada sambal kecap dan memberikannya pada Tasya yang tengah menunggunya.


"Tuh kan ibu" protes Lala. Lagi-lagi mata Lala terkontaminasi dengan keromantisan pasangan panutannya.


"Haha.. Maaf La." ucap Tasya yang lupa dihadapannya ada orang lain


"Kamu kan sering lihat La" ucap Reza dengan mulut penuh makanan


"Tapi tetap saja Pak, melihat pasangan romantis depan mata rasanya ingin memeluk seseorang" ucap Lala


"Kamu masih belum dapat La?" tanya Reza meledek


"Rahasia" ucap Lala tak mau harga dirinya runtuh.


'Kalau aku bilang pasti kaget' batin Lala


Setelah selesai makan, mereka melanjutkan diskusinya.


"Ini cocok, simple tapi berkelas" ucap Reza saat melihat layar monitor.


"Hmm.. " tasya nampak berpikir


"Bagaimana menurutmu La?" ucap Tasya


"Iya ini bagus Bu. Menarik" ucap Lala yang melihat gambar plastik putih dengan bagian bawahnya bergambar dan berwarna hijau.


"Hmm.. Ini saja Pak Reza?" tanya Tasya


"Menurutku ini bagus Bu" ucap Reza


Tasya melirik Lala. Lala mengangguk setuju.


"Oke yang ini saja" ucap Tasya


"Oke. Nanti Papi yang atur." ucap Reza


"Tasya.. " seseorang memanggilnya hingga membuat ketiganya menengok ke sumber suara.


"Romy?" dia mendekat ke arah mereka.


"Pak Reza" Romy mengangguk


"Duduk Rom" ucap Reza


"Sedang apa Sya?" tanya Romy.


"Habis makan sambil ngobrol saja Rom" ucap Tasya


"Kamu?"


"Aku beli jus. Haus" ucapnya seraya memegang jus ditangannya


"Adit masuk?" tanya Reza


"Ada Pak" ucap Romy yang mengubah panggilannya saat tahu Reza menjadi mitra di swalayan mereka.


"Kenalkan Rom, Lala. Temanku" ucap Tasya senang.


"Hai, aku Romy. Teman kuliah Tasya" Romy tersenyum. Wajahnya nampak menggemaskan saat dia tersenyum.


"Lala" ucapnya sambil tersenyum


Mereka berbincang ringan, Romy segera undur diri karena dia masih dalam jam kerjanya.


"La, Romy ganteng juga kan?" Tasya antusias


"Mami!" Reza tak terima


"Apa?"


"Ganteng-ganteng" gerutu Reza


"Apa sih A! Orang Romy beneran ganteng. Baby face ya La" Tasya cekikikan sementara Reza menahan kesal.


"Ibu, kenapa ibu dikelilingi orang ganteng sih bu?" tanya Lala polos


"Maksudnya gimana?" ucap Tasya


"Pak Reza, Romy, Keenan. Ops" Lala segera menutup mulutnya


Reza menggerakan dua jarinya pada matanya dan mata Lala seolah mengancam.


"Walau dikelilingi orang ganteng. Tetap pemilik hati ibu Pak Reza Ramadhan" ralat Lala


Reza mencibirnya.


"Tumben kamu gak seheboh dulu La?" tanya Tasya


"Aku mau menjadi wanita elegan kayak ibu" ucap Lala


Reza tertawa.


"Apa sih Pak Reza!" Lala mendelik kesal


"Elegan. Be your self La!" ucap Reza mengingatkan.


"Iya iya Pak. Aku cuma gak mau heboh saja." ucapnya


"Aku heboh nanti Bapak protes lagi" gerutunya kesal


Reza hanya tersenyum mendengarnya. Sesaat mereka hendak beranjak pergi, tiba-tiba Adit menghampiri mereka.


"Za"


"Bro! Si Romy pasti langsung kasih tahu" ucap Reza riang saat bertemu kawannya


"Hallo Bu Reza. Sehat?" tanya Adit ramah


"Alhamdulillah. Pak Adit, Mbak Mira apakabar?" tanya Tasya


"Dia baik. Alhamdulillah. Cuma makin manja" ucapnya seraya tertawa


"Normal lah. Manja juga sama suaminya" ucap Reza yang memang merasakan hal yang sama.


"Eh ini kenalkan Lala. Temanku" ucap Tasya


Lala dan Adit berkenalan.


"Iya" Reza yang asyik berbincang menyetujuinya asal.


Mereka pamit kepada Adit.


"Itu siapa lagi Bu?" tanya Lala penasaran


"Itu atasannya Romy, La. Mereka dari divisi fresh di supermarket ini. Kita bisa gabung ya karena informasi dari Pak Adit" ucap Tasya


"Oh begitu." Lala mengangguk-ngangguk


"Kita kemana Bu?" tanya Lala


"Jajan La"


"Ibu gak kenyang?"


"Mumpung disini. Kamu tahu kan kemarin aku sakit. Jenuh tahu La tiduran terus" ucap Tasya antusias.


"Kamu mau apa La?" tanya Tasya


"Aku kenyang Bu"


"Buah ya? Itu ada jambu. Kayaknya enak La" ucap Tasya


Mereka menghampiri booth jambu kristal kemudian Tasya membeli dua cup.


"Ibu traktir terus. Aku jadi keenakan" ucap Lala senang


"Dasar. Mumpung aku baik La" ucapnya seraya tersenyum


Mereka duduk sambil menikmati jambu tersebut. Tak lama ponsel Tasya berbunyi.


"Masih di sini dekat kedai jambu." ucap Tasya saat menerima panggilan dari suaminya


Tak butuh waktu lama, Reza menghampiri keduanya.


"Kok cepat?" tanya Tasya


"Adit kan lagi kerja sayang" ucap Reza


"Yuk pulang. Ada yang mau dibeli lagi?" tanya Reza


"Enggak" ucap Tasya


Ketiganya berjalan menyusuri toko demi toko. Kini mereka berada di lantai bawah.


"Aku haus A" ucap Tasya


"Aku mau minum es tebu yang tadi ada di atas." pintanya lagi


"Di atas?" tanya Reza ragu.


Sesaat Reza menghela nafasnya.


"Ya sudah, kamu sama Lala tunggu saja disini" ucapnya


"Cari tempat duduk biar gak pegal" tambahnya lagi


Lala melihat Reza kasihan.


"Ibu, kasihan Pak Reza, Bu. Itu kan lumayan jauh. Lantai lima bu" ucap Lala


"Anaknya yang minta La" ucap Tasya tak peduli


'Jelas-jelas ibunya yang minta jadi menyalahkan anaknya' batin Lala


Lama mereka menunggu Reza.


"Tu Pak Reza bu" ucap Lala


Reza menghampiri mereka dengan membawa tiga cup ea tebu ukuran besar ditangannya.


"Ini Mam" ucap Reza seraya menghampiri.


"Pak Reza keren" Lala takjub


"Demi istri dan anakku La" ucapnya bangga.


***


Lala masih memikirkan hal yang dilihat Tasya tadi ketika d Mall. Dia bimbang ingin menanyakan pada Keenan. Namun dua sangat penasaran.


'Kalau betul dia kesana, keterlaluan sekali. Masa gak bilang-bilang' batinnya kesal


Lala masuk ke dalam mobil Keenan.


"Hei, kok gak salim sih?" tanya Keenan


Lala mencium punggung tangannya. Kebiasaan baru yang mereka lakukan saat ini.


"Kenapa sih Hon? Kok gak ceria aku jemput." tanya Keenan seraya melajukan mobilnya.


"Gak apa-apa"


"Gak mungkin. Kamu itu cerewet, Honey. Kamu diam pasti ada apa-apa. Ada masalah di kantor?" tanyanya


Lala menggelengkan kepalanya.


"kenapa sih Hon?" Keenan menarik tangan lala. Menautkan jemari mereka.


"Kamu tadi ke Mall kan?" tebak Lala


Keenan sedikit tersentak. Namun segera dia menguasai dirinya kembali.


"Tahu dari mana?" tanya Keenan


"Berarti benar kan?"


"Kamu tadi ke Mall?" tanya Keenan


"Iya. Sama Pak Reza dan Bu Tasya." ucap Lala


"Kenapa kamu gak bilang?" tanya Keenan datar


"Kamu juga kenapa gak bilang?"


Keenan menepikan mobilnya.


"Aku gak suka kamu pergi gak bilang, Hon"


"Sama aku juga."


Keenan mendengus kesal.


"Bisa gak sih kamu nurut sama aku, Hon?"


"Kamu bukan suami aku. Ngapain aku nurut sama kamu?" ketus Lala


"Kok kamu gitu sih!" Keenan tak terima


"Kamu gak pernah fair dong, Bee! Aku disuruh nurut. Harus laporan kalau pergi. Sementara kamu? Kamu juga sama kan? Pergi ke Mall gak bilang-bilang!" Kesal Lala


"Astaga! Kamu itu.." Keenan meremas tangannya sendiri. Dia memutar tubuhnya mengambil sesuatu dari jok belakang.


"Buat kamu." Keenan setengah melemparkan benda tersebut.


"Apa?"


"Buka saja!" ketus Keenan


Lala membuka sebuah kotak, disana nampak sepasang anting alphabeth dengan huruf K. Lala tersentuh saat melihat anting cantik tersebut.


"Bee.."


"Gak usah bicara. Aku sedang kesal" ucap Keenan menatap lurus jalanan.


"Kamu kok marah Bee? Kamu juga salah ke Mall gak bilang-bilang" ucap Lala


"Ya aku juga ke Mall buat ambil itu!" ketus Keenan


"Ya mana ku tahu kalau kamu ke Mall belikan ini buat aku, bisa jadi di belakang kamu ketemu cewek lain kek" ketus Lala


"Kamu nuduh aku?"


"Enggak juga. Tapi siapa yang tahu"


"Kamu gak percaya sama aku?" Keenan menatapnya tajam.


Lala sudah faham Keenan kini marah besar. Dia mencoba mengesampingkan egonya sendiri.


"Aku percaya, Bee. Kamu susah jatuh cinta. Tapi harusnya kamu juga bilang dong Bee kalau pergi ke Mall."


"Memang kamu bilang sama aku?" Keenan balik bertanya


"Ya enggak juga. Aku minta maaf. Tadi aku bahas kerjaan sama Pak Reza dan Bu Tasya."


"Bahas kerjaan di Mall?" Keenan nampak tak percaya


"Bee, kamu kan tahu bu Tasya sedang hamil" ucap Lala


"Apa hubungannya hamil sama kerja?" tanya Keenan.


"Astaga Bee. Kamu ih. Ngajak nikah, masalah hamil saja gak tahu!"


Keenan hanya mengangkat alisnya.


"Denger ya sayangku. Keenan Wijaya bin Bapak Wijaya yang gantengnya kebangetan. Si ulat bulunya aku" Keenan sedikit mengangkat bibirnya.


"Hamil itu pasti ngidam, nah kita mau bahas kerjaan. Tapi Ibu Tasya ingin makan di Mall. Mau gak mau, aku sama Pak Reza mengikuti kemauannya. Aku gak bilang ke kamu karena gak enak mau main ponsel depan mereka, Bee." ucap Lala panjang lebar


"Nanti lagi kalau kemana-mana, kamu bilang Hon" pinta Keenan


"Kenapa? Takut kepergok lagi?" tanya Lala


"Astaga! Aku gak takut. Aku gak selingkuh walau aku tampan dan kaya raya."


"Aku cuma gak mau kamu salah faham lagi" tambahnya


"Ya jangan aku saja kalau begitu, Bee. Kamu juga harus bilang" pinta Lala


"Iya kalau gak lupa"


"Kok gitu? Curang dong!"


"Ya kalau aku di tunggu orang? Mana sempat aku bilang kali Hon! Ketus Keenan


"Iya iya" Lala mengerti kesibukan pacarnya.


"Ya sudah, sini aku pasangin antingnya." ketus Keenan


Lala memiringkan tubuhnya dan mendekatkan telinganya ke arah Keenan. Keenan menyelipkan anak rambut Lala ke belakang teinganya.


"Mau surprise jadi gagal kan!" ketusnya. Hembusan nafasnya terasa di telinga Lala membuat Lala tertawa geli.


"Diem kamunya" ucap Keenan.


"Kamu jangan bicara, nafasnya kena telinga aku jadi geli tahu" ucap Lala seraya cengengesan. Sementara Keenan dengan sengaja meniupnya membuat Lala segera menutup telinganya.


"Sini biar aku yang pasang sendiri!" ketus Lala


Keenan hanya memperhatikan Lala. Setelah selesai Keenan tersenyum menatapnya.


"Terima kasih Bee. Aku suka" ucap Lala seraya melihat dirinya di depan cermin."


"Enak saja terima kasih doang?"


"Terus?" tanya Lala heran


Keenan menempelkan jarinya telunjuknya di bibirnya.


Lala mendekat dengan refleks Keenan menutup matanya.


"Nanti bablas" Lala menoyor pipi Keenan seraya tertawa.


.


.


.


Gaeess.. Dukung terus HonBee yaa.. Share di sosial media kalian juga boleh. Jangan lupa like dan komentar seperti biasa. Dan yang punya poin atau koin banyu vote juga. Terima kasih