My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Diantara Ibu dan Abang



"Kamu masuk deh sama Ibu, aku tunggu di bawah saja, ya?" pinta Keenan


"Loh, Abang gimana ini?"


"Gak apa-apa. Sana lihat saja dulu rumahnya." titah Keenan.


Keenan bergegas ke bawah, sementara Ibu dan Lala masih mematung menatapnya.


"Yuk, Bu. Biar cepat. Kasihan juga Keenan." ajak Lala.


Lala membuka kunci rumah mereka. Begitu masuk ruangan, nampak ruang keluarga sekaligus ruang tamu yang sedikit lebih luas dari ruangan yang dulu. Beberapa hiasan nampak tertata di dinding ruangan tersebut yang memberi kesan elegan.


Kamar ibu diantara ruang tamu dan tangga menuju lantai tiga. Berhadapan dengan kamar lain dan kamar mandi. Sementara dapur menyatu dengan ruang makan dibatasi oleh pintu kaca.


Ibu membuka kamar, dia melihat kamar tersebut sangat nyaman. Ibu tersenyum menatap ruangan sambil memegang daun pintu.


"Masuk Bu." ajak Lala.


"Waah.. Nyaman sekali, La. Ini kamar siapa?" tanya Ibu


"Kata Abang ini kamar Ibu. Kasihan Ibu kalau harus ke lantai tiga, naik tangga lagi."


"Iya. Ibu juga mau minta begitu. Baguslah dia pengertian."


"Betul kata dia, kita gak harus bawa perabotan. Semuanya sudah lengkap. Lemari sama meja rias saja sudah nyatu kayak begitu, Bu." Bakalan gak matching kalau kita bawa perabotan lagi." ucap Lala.


"Aku mau lihat ruangan lain, Bu." ajaknya kemudian. Dia membuka pintu kamar mandi. "Wah, kayak di hotel ini Bu designnya." ucap Lala. Ibu hanya mengangguk setuju.


Lala naik ke lantai tiga, dia membuka pintu keluar. Ternyata tempat cuci jemur disana. Keenan membuat tempat tersebut sangat nyaman dengan beberapa tanaman untuk mempercantik area tersebut.


"Kalau tempat cuci jemur diatas, Ibu tetap saja naik turun tangga." keluh ibu


"Kata Abang nanti bakalan ada yang bantu Ibu dirumah biar gak repot. Apalagi nanti kita kan nambah anggota baru, Bu. Tenang saja."


Ibu hanya mengangguk-ngangguk.


Kini Lala masuk ke dalam kamar miliknya. Kamar dengan dominasi warna putih dan paling luas dari kamar yang lain serta terdapat kamar mandi di dalamnya.


Lala menatap foto pernikahan mereka, dia tersenyum senang. Kemudian beralih menuju kamar mandi.


"Wah, ada bathupnya" pekik Lala senang.


"Dia masih belum bisa sepenuhnya hilang dari kemewahannya sekalipun tinggal bersama kita dirumah kontrakan." ujar Ibu.


'Ya iyalah, dia juga sebenarnya terpaksa Bu tinggal di kontrakan. Makanya sering ngajak ke Apartemen.'


"Gengsi juga kali Bu, masa pimpinan perusahaan rumahnya sederhana. Setidaknya dia harus menjaga image perusahaan, Bu."


"Padahal kalau hidup sederhana, dia juga justru dipandang bagus oleh orang-orang."


"Abang mau membahagiakan kita, Bu. Kita terima saja. Toh, kita diuntungkan dengan inisiatif dia." Lala cekikikan.


Tak berapa lama ponsel Lala berdering.


"Hallo, sayang" sapa Lala pada Keenan.


"Aku sudah dirumah ya, gak kuat mual sama pusing kepala aku lama-lama disana, Mom."


"Ya sudah, aku pulang juga kalau begitu."


Ibu melirik Lala. "dia pulang?"


"Iya, Bu. Kasihan. Aku mau kesana. Ibu mau disini?" tanya Lala.


"Ya sudah, ayo kesana saja dulu saja. Kasihan juga dia sendirian."


***


Lala masuk ke dalam rumahnya yang nampak sepi. Dia buru-buru masuk kamar dan mendapati suaminya sedang berbaring dengan keringat di dahinya.


Lala mengambil tisu di meja riasnya. Dengan hati-hati, diusapnya dahi sang suami. Hatinya seketika terenyuh. "Maaf ya sayang, kamu mengalami semua ini." ucapnya sendu.


Lala sedikit merasa bersalah dengan cauvade syndrome yang dialami Keenan. Dia mengelus lembut rambut suaminya hingga Keenan menggerakan tubuhnya sedikit terusik.


"Love you unlimited, my husby" Lala mengecup keningnya seketika Keenan membuka matanya.


"Hmm.. Mom." suaranya terdengar parau.


"Masih pusing sayang?" tanya Lala.


"Sedikit." dia meregangkan tubuhnya. "Suka rumahnya?"


"Banget." ucap Lala tak terlalu antusias


"Kenapa? Kok kayak gak suka?"


"Kasihan sama Daddy." Lala mulai berkaca-kaca.


"Kenapa memangnya?"


"Kayaknya kesiksa banget yah?"


"Hmm..gak nyaman saja. Daddy malah kasihan kalau Mommy yang nanggung semuanya sendiri. Gak kebayang, mommy harus ngalamin kayak gini saat perut sudah besar nanti."


"Trimester. Gimana sih kamu."


"Hehe.. Iya itu."


"Mom, kita tinggal di Apartemen saja ya? Aku gak kuat lihat rumah itu langsung mual, pusing, gak tahu kenapa, gak suka saja."


"Loh? Kok gitu? Itu kan rumah yang Daddy mau."


"Iya tahu, tapi Daddy rasanya gak suka saja. Baru ngebayanginnya saja sudah mual." Keenan begidig


"Ih aneh banget sih sayang."


"Makanya, kita di Apartemen saja ya? Biar Ibu nanti di temani housemaid saja. Gimana?"


"Maksudnya?"


"Rencananya, kita kan nempati rumah itu hari ini. Abang gak sanggup deh kayaknya Mom. Biar besok saja, Ibu pindahan kesana. Nanti disana ditemani Mbak Sum. Jadi Ibu gak kesepian. Kita ke Apartemen saja ya?" pinta Keenan


"Mbak Sum? Yang bantu-bantu maksudnya?" tanya Keenan


"Iya. Dia mulai besok tinggal dirumah itu. Kamarnya dibawah sama Ibu. Dia ngikut Mama sudah lama, tenang saja."


"Loh, aku gak enak sama Mama, Bee."


"Gak apa-apa. Mama kok yang nawarin pas tahu kamu hamil."


"Nanti aku bilang dulu ya, sama Ibu. Takutnya Ibu kaget atau gimana gitu."


"mudah-mudahan dalan minggu ini, Abang kembali normal. Biar bisa pindah juga kesana."


"Iya, aku gak tega lihat kamu kayak begitu, Bee. 360 derajat perubahannya."


"Kenapa? Kangen di celup ya?" tanyanya dengan senyum tengil.


Sejak Lala hamil, Keenan seolah kehilangan hasrat se*sualnya. Dan memang, dokter juga meminta mereka agar tak berhubungan int*m terlebih dahulu. Terkadang, Lala merasa heran dengan perubahan sikap Keenan.


"Enggak juga, cuma kasihan saja lihat Abang jadi hilang jati dirinya"


"Apa sih yang enggak buat Mommy dan Mini?"


"Terima kasih, Abang. Sudah menggantikan aku mual, muntah, pusing, ngidam. Harus makin sayang ya sama aku" Lala mengecup bibir Keenan.


"Pastinya dong, sayang."


***


"Gimana Keenan?" tanya Ibu setelah Lala kembali keluar.


"Tidur lagi dia Bu. Kasihan, kayaknya kesiksa banget. Wajahnya sampai pucat, keringat dingin gitu."


Ibu tersenyum. "Payah banget dia."


"Dia gak kuat katanya bu, kalau tinggal dirumah itu. Gimana dong, Bu?"


"Terus rumah itu gimana? Mana Ibu mau ngundang ibu-ibu kader yang lain. Mereka tahu kita pindahan."


"Ya sudah, Ibu mau tinggal disana? Nanti ditemani Mbak Sum katanya, yang mau bantu kita."


"Lah terus kamu gimana?"


Sementara Keenan ngajak tinggal di Apartemen, Bu. Gimana?"


"Maksud kamu, ibu tinggal dengan orang asing?"


"Ya terus bagaimana, Bu? Aku bingung. Sementara Keenan kayak gitu."


"Ya masa Ibu tinggal dengan orang asing?" ucap ibu dengan nada sedikit meninggi


Lala menghela nafas panjang. Dia bingung harus bersikap bagaimana.


"Kalau kita tinggal disini saja bagaimana?" tanya Lala


"Sayanglah, rumah sudah bagus dikosongkan."


Astaga aku pusing harus bersikap bagaimana. Keenan merengek ingin pindah ke apartemen sementara Ibu ingin tinggal disana.


"Terus aku harus bagaimana, Bu!" Lala berteriak menumpahkan kesalnya.


Ibu dan Lala kini terdiam.


"Biar adil kita tempati saja satu-satu rumahnya!" ketus Lala seraya keluar rumah.


.


.


.


Haaii, terima kasih yg masih setia menunggu HonBee. Dukung terus mereka ya dengan like, komentar, dan vote. Terima kasih.