
"Bee.. Stop disini." ucap Lala di depan sebuah minimarket. Dia turun dari motor Keenan.
"Kamu.. Mau tunggu aku disini saja?" tanya Lala
Keenan menautkan kedua alisnya menatap Lala, dia nampak tak mengerti.
"Please Bee, aku.."
"Aku mengerti La" ucap Keenan datar.
"Kamu gak marah?" tanya Lala
"Kecewa saja." Keenan masih dengan muka datarnya
"Bee.. Kita baru pacaran kemarin. Aku belum siap." ucap Lala
"Kita dulu belum pacaran, aku sudah terbuka sama kamu. Tapi.. Ya sudahlah." Keenan menampakan wajah kecewanya.
Kini Lala merasa bersalah.
"Bee.." Lala memberanikan diri memegang tangan Keenan untuk pertama kalinya.
"Jangan lama" ucapnya datar.
"Ya sudah ayo ke rumah. Sebel lihat muka kamu kayak begitu!" ucap Lala ketus seraya melepaskan genggamannya
"Ga usah. Kamu juga gak niat."
"Astaga! Iya ayo ikut, aku niat." Lala mengajaknya lagi
"Aku tahu kamu cuma terpaksa."
"Astaga! Keenan yang dulu muncul kembali. Cepetan mau ikut gak?"
"Enggak. Sana pergi!"
"Ya Tuhan sekarang kamu ngusir aku." Lala berdecak sebal
"Ya sudah aku gak jadi ikut ke rumahmu!" ketusnya kemudian
"Oke." Keenan hendak melajukan motornya.
'Astagaaaa orang itu menyebalkan!' teriak Lala dalam hatinya.
"Keen! Kenapa sih kamu!"
"Kamu yang kenapa?" Keenan menatapnya tajam
"Aku bilang, aku hanya belum siap ngenalin kamu sama Ibu." ucap Lala
"Ya sudah. Gak usah."
"Tapi muka kamu itu loh, menyebalkan tahu gak." ucap Lala
"Memang kamu gak nyebelin apa!"
"Ih astagaa! Bisa-bisanya aku pacaran sama orang rumit kayak kamu." gerutu Lala
"Aku juga gak ngerti kenapa aku suka sama kamu." ucap Keenan
"Ya Tuhaaaannnnn.." Lala meraih tangan Keenan dia menggitnya keras hingga berbekas.
"Hon! Sakit tahu." Keenan melihat lengannya yang berbekas sambil mengusapnya.
"Habis kamu rese!" Lala menghentakan kakinya sambil cemberut.
"Sana cepetan! Makin lama lagi nanti. Kasihan temanku." ucap Keenan
"Bener kamu gak ikut ke rumah?" tanya Lala
"Sudahlah. Aku disini saja! Gak pake lama. Satu menit." ucapnya ketus
"Ya Tuhaaaaan. Satu menit, nih kita debat saja sudah lama."
"Makanya buruan." ucap Keenan kesal.
Mereka masih beradu mulut, tiba-tiba ponsel Keenan berdering.
"Kenapa Mas?"
"Ibu Bang Al masuk rumah sakit, Keen. Kayaknya lain kali saja kita ke rumahmu."
"Kamu mau ke rumah sakit Mas?" tanya Keenan
"Iya. Kita langsung ke rumah sakit. Bang Al sudah duluan tadi. Aku sama Mira ini mau jalan." ucapnya
"Rumah sakit mana?"
"Harapan."
"Ya sudah sekarang aku juga kesana." Keenan menutup ponselnya.
"Ibu Bang Al masuk rumah sakit. Aku mau kesana sekarang nyusul mereka." ucap Keenan
"Aku ikut Bee."
"Ya sudah ayo buruan."
Lala naik kembali ke atas motor Keenan.
***
Keenan segera menelepon Mas Pram saat tiba di rumah sakit.
"Dimana?" tanya Keenan
"Masih di IGD." ucap Mas Pram. Keenan segera mematikan ponselnya.
"Mereka di IGD." ucap Keenan seraya berjalan ke arah IGD. Lala berjalan dibelakang Keenan, tiba-tiba Keenan berbalik meraih tangannya.
"Cepetan jalannya." ucap Keenan seraya menatap lurus ke depan.
Lala menyunggingkan senyumnya. Seheboh apapun mereka bertengkar, tapi mereka cepat akur kembali.
"Gimana?" tanya Keenan pada Mas Pram dan Mira yang menunggu di luar ruangan.
"Tadi tiba-tiba pingsan gara-gara tekanan darah rendah katanya." ucap Mas Pram.
"Kamu gak masuk Mas?" tanya Keenan
"Nanti saja, baru siuman."
Mereka terdiam.
"Bee.. " Lala menarik lengan Keenan
"hmm?"
"Ke depan yuk? Aku gak enak, kita kesini gak bawa apa-apa." ucap Lala
"Aku ke depan sebentar Mas." ucap Keenan
Mereka melangkah menuju luar rumah sakit.
"Tadi aku liat tukang buah didepan. Beli buah saja ya Bee" ucap Lala
"Iya. Terserah kamu, aku ikut saja."
Tiba ditukang buah Lala memilih buah yang harus dibelinya.
"Buat parcel saja Hon."
"Lama Bee.. Sudah pake plastik saja langsung."
"Malu lah kalau begitu."
"Darurat Bee.."
Mereka beradu argumen kembali.
"Ehem.." Ibu penjual penghentikan perdebatan mereka.
Akhirnya Keenan mengalah. Mereka membeli buah yang dipilihkan oleh Lala.
Tiba di IGD, Lala dan Keenan masuk ke dalam ruangan.
"Ini pacarnya Bro Keen?" tanya Ibu Bang Al. Ibu Bang Al memanggilnya sesuai dengan panggilan teman-temannya.
"Hehe iya tante." Keenan tersenyum
"Pantes baru ketemu." ucapnya seraya tersenyum
"Terima kasih sudah menjenguk. Maaf jadi merepotkan kalian." ucapnya
"Gak kok tante. Kebetulan kita biasa lagi futsal Tan." ucap Keenan.
"Kita pamit dulu kalau begitu ya Tan. Bau keringet nih Tan. Nanti tante pingsan lagi" canda Keenan
"Kamu bisa saja. Ya sudah hati-hati ya dijalan. Terima kasih ya sudah jenguk." ucap Ibu Bang Al seraya tersenyum pada Lala.
Mereka keluar ruangan.
"Thanks ya Bro, La. Sorry kita gagal ke rumah kamu Bro." ucap Bang Al
"Santai. Masih banyak waktu kita." ucap Keenan.
"Mas, kita mau balik. Kamu gimana?"
"Ya sudah. Aku juga pulang saja. Gak enak nih lengket badanku." ucap Mas Pram.
"Kamu gimana Mir?"
"Aku.. " Mira melirik mereka
" Kamu disini sajalah Mir, masa pacarnya pulang." sindir Keenan
"Iya, aku memang mau disini kok." ucapnya
"Kita pamit ya.. Bye." Mereka bertiga meninggalkan Bang Al dan Mira.
"Mas, kamu sudah makan? Makan yuk?" ajak Keenan
"Tadi dapat telepon itu kita lagi makan." ucap Mas Pram.
"Ya sudah. Aku sama Lala cari makan dulu ya Mas." ucap Keenan
"Iya. Dah Lala, jangan rindukan aku La." goda Mas Pram
"Si*lan kau mas! Hus.. Hus..sana pulang" usir Keenan
"Pacarmu galak La." Ucap Mas Pram seraya menyalakan motornya.
"Aku duluan ya. Ingat, jangan merindukanku." ucapnya
"Dasar manusia itu!" gerutu Keenan
"Bee.. Dia becanda kali." ucap Lala semetara Keenan tak menanggapinya.
"Kita mau makan dimana Hon?"
"Terserah kamu saja Bee."
"Kamu mau makan nasi?"
"Enggak ah."
"Apa dong?" tanya Keenan
"Terserah kamu."
"Steak?"
"Gak mau juga."
"Katanya terserah aku tapi ini itu gak mau" Keenan kesal
"Haha.. Marah-marah melulu sih kamu, ya sudah bakso sajalah." ajak Lala
"Yuk jalan."
"Kamu bau keringet." bohong Lala
"Ya sudah, kamu naik ojek online saja sana!"
Lala tertawa.
"Astaga..punya pacar tukang maksa tukang ngambek juga." ucapnya
"Habis kamu tuh selalu buat kesal." ucapnya
"Yuk jalan. Energiku habis dipake debat terus sama kamu." ucap Lala
Keenan menyalakan motornya. Selama diperjalanan Lala tersenyum memandang punggung lelaki yang selalu mengajaknya berdebat. Dia menjadi gemas sendiri.
Lala melingkarkan tangannya di pinggang Keenan kemudian merebahkan kepalanya dibalik punggung tegap lelaki yang baru kemarin dia pacari.
Sementara didepan, Keenan tersenyum saat Lala berinisiatif memeluknya. Dia mengelus lembut lengan kekasihnya sesekali. Hingga tiba di tempat Bakso langganan mereka selagi bekerja dulu.
"Honey, sudah sampe nih." ucap Keenan.
.
.
.
HoneyBee mau Like dan komentarnya dari teman-teman nih. Yang punya koin/poin lebih, boleh lah vote HoneyBee juga. Terima kasih ^^