My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Berusaha Tegar



Lala duduk termenung seorang diri di sofa kamarnya. Pikirannya tak lepas dari kejadian siang tadi.


Sorot mata Keenan tak bisa dipungkiri kalau lelaki tersebut nampak kaget melihat Lala berada disana. Seperti seseorang yang ke gap selingkuh, dia begitu gugup saat berhadapan dengan Lala.


Bahkan, saat tubuhnya memangku Kenzie pun, terlihat sedikit gemetar. Ah, ternyata benar kata orang, perempuan dimanjakan oleh telinganya sementara lelaki dimanjakan oleh matanya. Itulah kenapa perempuan begitu senang mendengar kata pujian atau kata cinta dari seseorang yang dia cintai.


Begitupun lelaki, bisa dengan mudah imannya terkoyak hanya melihat wanita yang menurutnya menarik. Bahkan, logika yang biasa dipakaipun menguap begitu saja saat dihadapkan dengan nafsu melalu mata liar mereka.


Keenan mengenalkan Lala dengan seorang wanita cantik berambut panjang yang dia sebut sebagai partner kerjanya. Wanita dengan suara yang lembut saat memperkenalkan dirinya bernama Jesica.


Wanita tersebut nampak sedikit kaget saat mendengar Keenan memperkenalkan Lala sebagai istrinya.


"Aku fikir Mas Keenan masih bujangan. Ternyata sudah punya satu anak." ucap Jesica masih dengan wajah kagetnya. Namun, wanita itu berusaha menutupinya.


Mas? Partner kerja manggil Mas? Seakrab apa mereka? Berapa lama mereka kenal?


Pertanyaan yang terus berputar dibenak Lala. Sejenak Lala menutup matanya. Air matanya mengalir begitu saja. Tak dipungkiri, dia merasa Keenan mulai mencoba menyalakan api. Bukankah insting seorang istri selalu benar? Sepintar apapun lelaki menyembunyikannya, kuasa Tuhan selalu bekerja lebih cepat agar aib lelakinya terbongkar. Entah itu untuk menyelamatkan rumah tangganya, atau untuk menghancurkan hatinya.


Ceklek


Pintu kamar terbuka, Lala segera mengusap air matanya.


"Belum tidur?" sapa Keenan.


"Belum." Lala tak kuasa untuk menatap Keenan. Dia lebih memilih menghindar.


"Maaf aku pulang telat, hon. Aku.."


"Aku tahu" putus Lala cepat kemudian berjalan menuju kasur mereka.


Lala ingin sekali mencerca banyak pertanyaan pada Keenan. 'dari mana? Ngapain saja? Sama siapa?' Tapi pada akhirnya dia hanya terdiam. Seolah ada yang menghalangi tenggorokannya untuk bersuara. Rasanya begitu berat.


Keenan menyusul Lala naik ke tempat tidur setelah beres dengan urusannya. Dia masuk ke dalam selimut yang sama dengan Lala, merapatkan tubuhnya kemudian memeluk Lala dari belakang.


"Berat" ucap Lala seraya melepaskan tangan Keenan dengan lembut. Keenan melingkarkan kembali tangannya di pinggang Lala. Berkali-kali mereka seolah sedang bermain melepas dan memeluk pada akhirnya Lala membiarkan tangan Keenan bertengger memeluk pinggangnya.


***


Seminggu telah berlalu, Lala masih setia melayani Keenan dengan baik. Dia menyiapkan keperluan kerja Keenan, dan menyiapkan sarapannya. Biarlah Keenan menanggung dosanya, selama Lala masih sah menjadi istrinya, Lala akan berusaha semaksimal mungkin menjalankan kewajibannya. Yang penting, saat ini berusaha baik-baik saja dihadapan Ibu.


Lala tak bisa membayangkan, akan semurka apa Ibu kalau tahu kelakukan Keenan. Sudah dipastikan mungkin Keenan tak akan bisa bertemu dengan anak cucunya lagi.


"Mom, aku antar kamu kuliah. Nanti pulangnya aku jemput." ujar Keenan disela-sela sarapan mereka.


Entahlah, Keenan masih bersikap wajah tanpa dosa. Lala tak tahu Keenan memang merasa biasa saja atau dia sedang memerankan peran lain.


"Tidak usah. Aku sendiri saja. Nanti kamu terlambat." Lala mengunyah kembali nasi goreng miliknya. Sakit hati bukan harus menyiksa diri untuk berhenti makan bukan? Hei ingat! Kamu harus berjuang setegar karang didasar lautan. Ada hati lain yang harus dijaga. Ibu dan Kenzie. Begitu Lala menguatkan hatinya seorang diri.


"Suami mau anter kok kamu tolak sih?" suara Ibu memecahkan keheningan keduanya.


"Gak tahu Bu, Lala punya gebetan kali di kampusnya. Jadi gak mau di anter aku." canda Keenan menatap Lala dengan nakal.


"Maksud kamu?" Lala berhenti mengunyah. Menatap Keenan dengan amarah.


"Becanda Honey. Masa gitu saja marah."


'Becanda? Saat hatiku, kau goreskan luka. Kamu masih bisa becanda? Apa kamu berubah jadi sosok yang lebih ********, sayang?'


Lagi-lagi, Lala hanya diam. Dia memilih meneruskan sarapannya.


Well, pada akhirnya Lala duduk disamping Keenan. Rasanya sudah lupa kapan terakhir kali mereka duduk berdampingan di dalam mobil. Seketika bayangan Keenan membukakan pintu untuk wanita itu berkeliaran kembali. Oh ****! Sakit banget. Sekuat tenaga dia menahan air mata yang mulai menggantung. Lala memalingkan wajahnya menatap ke samping jendela.


"Honey.." Keenan mengulurkan tangannya, menautkan jemari mereka.


Lala menoleh pada tangan mereka. Untungnya, dia sudah bisa mengontrol dirinya kembali.


"Kemana kita? Aku mau kuliah." ucap Lala saat tiba-tiba Keenan membelokan mobilnya. Sebenarnya Lala tahu Keenan akan membawanya kemana.


"Aku kangen." ucapnya dengan senyum tipis dibibir Keenan.


Keenan masih menggenggam tangan Lala menuju apartemen mereka. Menapaki langkah mereka dengan membisu hingga akhirnya dia masuk ke dalam apartemen yang penuh cinta. Ya, apartemen yang menjadi saksi bisu saat pertama kali mereka melakukan penyatuan.


Lala berjalan menuju lemari es. Dia meneguk air dingin untuk menghilangkan hawa panas dari tubuhnya yang sedari tadi sudah bergejolak.


"Sini, Hon. Kita perlu bicara." Keenan menepuk sofa disebelahnya.


Seminggu sudah Lala bicara seperlunya pada Keenan, berhenti berkontak mata dengan Keenan. Dan berusaha menghindarinya. Lala menyiapkan sarapan Keenan saat Keenan mandi, kemudian dia bergegas mandi setelah Keenan turun. Begitupun saat Keenan pulang, Lala sengaja tidur lebih awal. Namun, Pada akhirnya, mereka memang harus bicara dari hati ke hati. Dia sadar, tak bisa terus menerus berlari.


Lala mendorong bokongnya, duduk berjarak dengan Keenan. Tak dipungkiri, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Dia hanya berdoa, semoga dia tidak menangis kali ini.


'Semoga mulut bisa bekerja sama, tidak mengeluarkan kata umpatan dan bisa menjadikanku wanita elegan dan berkelas dimata Keenan.' doa Lala dalam hati.


"Aku gak tahu, apa salahku Hon. Seminggu ini, kamu menghindar dari aku." Keenan membuka percakapan diantara mereka.


'Anj*r bisa-bisanya dia bilang gak tahu apa salahku? Begonya gak ketulungan si Keenan.'


'Astaga aku mengumpat. Eh, untungnya cuma dalam hati.'


"Aku gak pasti, kamu sedang berakting atau memang benar-benar tidak tahu. Yang aku tahu, kamu cukup cerdas." Lala mengulas senyuman kecil di bibirnya.


"Kamu berubah sejak kita bertemu di Mall itu, Hon. Dan aku gak tahu, kenapa kamu marah. Apa kamu cemburu? Biasanya kamu bicara blak-blakan, mukul aku, maki-maki aku. Tapi kenapa kamu malah begini? Aku merasa kamu menjaga jarak denganku, Hon. Jujur saja aku gak nyaman."


'Aku pikir, cuma aku yang merasakan. Tapi, baguslah, setidaknya kamu sadar.'


"Kalau kamu marah karena waktu itu, aku minta maaf, aku gak bisa anter kamu pulang."


"Ya, karena kalian jalan bersama. Jadi gak mungkin kamu meninggalkan wanita cantik itu sendirian."


"Bukan begitu, Mom.."


"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri Keenan, saat kamu membukaan pintu mobil untuk wanita itu. Dan wanita itu tersenyum menatapmu. Aku lihat sendiri di basement kantor kamu. Ralat, bukan cuma aku yang lihat. Ada Kenzie, anak kita dan juga Mbak Nani." Lala menekan kalimat anak kita agar Keenan tersadar.


Keenan sedikit tersentak. "Jadi kamu.."


"Aku tidak mengikutimu ke Mall itu, aku bahkan tidak tahu kalian pergi kemana. Aku ke Mall untuk mengalihkan perhatian Mbak Nani. Jujur saja, aku malu. Aku malu punya suami sebrengs- aku malu, bukan hanya aku yang mergoki kamu. Dan pada akhirnya, memang kita ditakdirkan bertemu dengan wanita itu disampingmu." Ralat Lala, dia berjanji untuk tidak mengeluarkan kata umpatan pada Keenan.


"Tapi aku sama dia hanya membahas joint venturing saja, Hon. Kita mau membuka gerai khusus perkakas rumah tangga. Kebetulan, dia punya koneksi langsung dengan perusahaan tersebut di Swedia"


"Sudahlah Keenan, aku sudah tidak peduli."


"Kenapa?"


"Aku sudah lelah. Lebih baik kita pikirkan jalan kita masing-masing."


"Aku gak suka cara kamu begini, Hon! Segalanya bisa kita komunikasikan!" Keenan mulai meninggikan suaranya.


"Komunikasi yang mana lagi? Kamu lupa? Yang menyibukan diri siapa? Yang bersikap tidak peduli siapa? Aku hanya mengikuti langkahmu. Berusaha mengikuti permainanmu." cerca Lala.


"Kalau kamu gak suka aku begitu. Lantas, aku harus suka dengan sikap kamu? Dengan kebohongan kamu? Dengan ketidakjujuran kamu?"


"Aku gak bohong.. "


"Iya. Tapi kamu tidak terbuka. Aku masih ingat, malam-malam kamu meradang hanya karena aku mengambil ponselmu saat kamu sedang berbalas pesan. Dan ternyata setelah aku tahu, wanita cantik itulah yang kamu bela. Oh astaga!" Lala menutup matanya. Rasanya kali ini lukanya kembali menganga.


"aku gak bela dia, Mom. Aku cuma menghargainya. Makanya aku membalas pesannya."


"Iya, membalas setiap pesan sedang apa, sudah makan belum? Bisa kita ketemu? Cih! Najis!" satu kata umpatan Lala keluar.


'Oke La, just be your self! Persetan dengan kata elegan dan terlihat berkelas untuk Keenan!'


Dua malam setelah memergoki Keenan, Lala tak bisa tidur. Pikirannya begitu kacau, hingga akhirnya Lala memutuskan membuka ponsel Keenan. Darahnya mendidih seketika saat dia membuka percakapan antara Keenan dan Jesica. Lala tahu, wanita itu menaruh hati pada Keenan. Dan yang lebih menyesakkan, saat Lala membaca setiap balasan dari Keenan. Begitu lembut, sungguh berbeda dengan Keenan yang dia kenal.


"Kamu tahu dari mana?" Keenan menatapnya tajam


"Ponsel kamu. Aku membaca setiap kalian berbalas pesan. Sangat lembut memperhatikannya sebagai seorang wanita."


Keenan memutup matanya, dia menelan salivanya. Terlihat jakunnya bergerak. "Aku..aku.."


"Aku tahu, cinta bisa hilang dan pergi begitu saja, sekalipun kita terikat dengan pernikahan. Aku sadar diri, kamu sudah tak cinta aku lagi, Keen."


.


.


.


Sakiittt... Aah.. Kenapa aku yang sakit hati. Yuk tinggalkan komentar, like dan vote yang banyak.


Follow my igeh : only.ambu


Terima kasih ^^


#MenujuEnding