My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Celengan Rindu HonBee



"Bee, kamu mau bawa dasi gak?" tanya Lala pada Keenan saat dia sedang mempersiapkan barang yang akan dibawa Keenan keluar kota.


"Bawa saja Yong buat jaga-jaga."


"Mau yang mana?"


"Yang match saja sama kemeja aku"


Lala masih mengecek satu persatu barang. "Beres." ucapnya seraya menutup koper milik suaminya.


Lala menghampiri Keenan yang tengah asik memainkan ponselnya. Dia mengambil ponsel tersebut. "Terus saja main ponsel! Kalau nanti ngerengek kangen, awas ya!"


"Kamu yang bakalan kangen." Keenan memeluknya dari belakang.


"Enggak. Aku bebas dong."


"Yakin? Aku juga kalau begitu." Keenan tak mau kalah. "Apalagi nanti hotelku dekat pantai, ah seru."


"Gak seru kalau main sendirian." ketus Lala


Keenan tersenyum merasa Lala sudah tersulut. "Mama yakin gak mau ikut Papa? Kita honeymoon, Ma."


Seketika Lala terbahak. "Apa sih kamu Bee. Mama Papa. Hahaha. Geli banget dengarnya." Keenan ikut tertawa.


"Ya kan kamu nanti jadi Ibu anak-anak aku. Masa manggilnya mau Lala Poo"


"Ih Bangkee s*alan"


Keenan terbahak. "Astaga.. Dosa nyebut nama suami."


"Segala aja dibikin dosa. Dosa tahu nyakitin istri."


" Kapan aku nyakitin kamu?"


"Gak sadar tiap malam kamu bikin aku merintih?"


"haha anj*r itu mah bukan merintih tapi kamu keenakan." Keenan terbahak. "bisa-bisanya bilang nyakitin. Aku diam aja kamu protes." keenan terbahak lagi.


"Diam gimana?"


"Bee ih yang benar, bee cepetan, bee faster baby.. " Keenan terbahak


" Ngarang lo" Lala menoyor pipi suaminya seraya ikut tertawa. Bisa-bisanya suaminya bicara ngaco.


"Yang ada kamu tuh ngomong terus."


"Apa?"


"Yong diatas, Nah gitu, yang kenceng Yong. Terus Yong terus, terus, kayak tukang parkir." Keduanya terbahak.


"Ya sudah ayo, kamu ngajak terus-terusan." Keenan menjatuhkan tubuh Lala. Lala meronta seraya tertawa senang.


"Haa.. Sudah Bee.. Gelii.."


Bukan Keenan kalau dia tak melanjutkan aksinya.


***


"Abang, jangan lama-lama disana." Lala cemberut saat Keenan hendak mengantarkan Lala ke kantor.


"Iya sayang. Abang usahakan pulang cepat." Keenan mengelus rambut istrinya. "Belum juga berangkat, Mama sudah sedih saja Ma."


" Iih jangan manggil Mama." protes Lala


Kali ini Keenan memasukan mobilnya ke dalam kantor Lala.


"Tumben Bang?"


"Mau kangen-kangenan dulu dong." Keenan mengerling nakal.


Keenan memarkirkan mobilnya, dia menatap Lala saat Lala merapikan rambutnya.


"Yong.."


"Hmm.."


"Jangan telat makan, jangan keluyuran, aku pulang dari sana, kamu nanti belajar mobil ya. Biar tiap ditinggal kamu bawa mobil sendiri."


"Aku naik ojek aja Bang"


"Nanti kamu nempel-nempel lagi sama Kang Ojek."


"Astaga Bambang! Emangnya istrimu cewek macam apa!"


Keenan menarik lengan Lala. Mereka saling menikmati satu sama lain hingga nafas mereka tersengal. "Ah, aku gak mau pergi kalau gak penting."


"Kamu makan teratur ya Bee. Pokoknya terus beri kabar. Hati-hati juga. Maaf aku gak bisa antar kamu ke bandara." Lala menekuk wajahnya seraya menghapus lipstik di bibir Keenan.


"Gak apa-apa. Aku lebih aman anter kamu dulu kayak gini, Yong."


"Ya udah, aku masuk ya. Love you unlimited suamiku. Kamu hati-hati sayang." Lala kembali mengecup suaminya.


Baru keluar dari mobil, Lala sudah merasa sedih. Tidak terbayang olehnya saat dia harus menjalani hidup tanpa suaminya selama seminggu.


***


"Bu, apa aku resign sekarang?" tanya Lala saat mereka duduk di meja makan.


"Terserah kamu. Asal kamu gak menyesal nanti." ucap Ibu seraya mengupas kentang sementara Lala hanya menyaksikan tangan Ibu yang begitu cekatan.


"Bingung aku, Bu. Tapi kasihan Keenan kalau begini."


"Kamu memang sudah gajian?"


"Baru tadi Bu. Belum sempat aku ambil juga."


"Kamu yakin mau urus kedai itu?"


"Belum tahu juga, Mas Pram belum ada kabar lagi."


"Ibu cuma ingin, selama kamu belum hamil, kamu kerja saja. Toh dirumah pun kamu mau ngapain selain rebahan?" Ibu memindahkan kentangnya kemudian mengambil wortel. "Jangan sampai kerjaan kamu cuma ngangkang doang." ceplos Ibu yang membuat Lala terbahak.


"Si ibu bicaranya. Kalau Abangnya yang nyuruh ngangkang doang gimana dong, Bu?" Lala tersenyum memancing Ibu.


"Ya paling kamu gak bisa jalan." ibu melihat Lala malas sementara Lala terbahak.


"Ingat jangan terlena."


"Iya Bu, tapi aku kasihan juga sama dia, Bu. Dinas luar kota kayak sekarang, gak ada asisten yang temani dia. Kalau aku resign, aku bisa urus dia disana."


"Hmm..kamu mau kerja sama suamimu?"


"Ya kalau kontrak kerja propesional gak masalah, Bu. Dapat uang iya, bebas juga iya."


"Atur-aturlah. Asal kamu jangan menyesal di kemudian hari."


Lala kini merebahkan tubuhnya. Dia merasa hampa saat Keenan tak ada di sampingnya.


"Baru semalam, Bang. Aku sudah rindu berat." gumam Lala


Tak berselang lama, keenan meneleponnya.


"Hallo, Bee?" Lala begitu bersemangat. Namun hanya hening tanpa suara diseberang sana.


"Bee?"


Keenan membuka suaranya dengan bernyanyi.


"Dan tunggulah aku di sana


Memecahkan celengan rinduku


Berboncengan denganmu


Mengelilingi kota


Menikmati surya perlahan menghilang".


(Fiersa Besari - Celengan Rindu).


Mata Lala berkaca-kaca.


"Bee, aku kangeeen."


Keenan menyanyikan lagu yang sama kembali hingga air mata Lala lolos tak terbendung.


"Abaaang.." kata yang lolos dari mulut Lala seraya menangis


"Honey, kok nangis."


"Kamu jangan romantis. Aku gak bisa peluk, tahu!" gerutu Lala masih menangis yang membuat Keenan terkekeh.


"Miss you, my world" cicit Keenan.


"Dua puluh dua tahun aku bisa hidup gak kenal kamu, tapi sekarang? Baru semalam rasanya hampa, Bee" Keluh Lala


"Uh so sweetnya istriku."


"Abang kok baru ngabarin sih?"


"Maaf. Tadi Abang langsung ke lapangan, Ma. Mama sudah makan?"


"Jangan panggil Mama deh, risih tahu!"


"Tapi aku suka."


"Iyalah. Aku penasaran wajah anakku, hasil jerih payah kita setiap malam."


"Yang jelas jangan kayak kamu."


"Loh? Kenapa?"


"Galak, rese, nyebelin!" Keenan terbahak mendengarnya.


"Tapi ngangenin. Iya kan?"


"Banget." ucap Lala tanpa malu. Karena itulah kenyataannya.


"Abang sudah makan?"


"Sudah. Tadi Abang disuguhi makanan."


"Jangan galak-galak sama orang, Bang. Aku gak mau Abang nanti dibenci mereka."


"Enggak honey, Abang baik hati begini. Galaknya cuma sama kamu kalau kamu bandel." Keenan menjeda ucapannya. "Pegel banget, Hon. Mau dipijet kamu."


"Nanti kalau pulang, sayang. Aku pijat plus-plus."


"Wajib hukumnya itu mah."


"Dasar. Ya sudah, kamu istirahat dulu, Bee."


"Iya, aku mau mandi terus tidur yaa."


"Huum. Love you unlimited, Abangku."


" Itukan kata-kata aku, Hon." Keenan tersenyum.


"Tapi aku suka."


"Love you unlimited, Baby Munahku."


Setelah menutup ponselnya, Lala bangun kembali. Dia membuka laptop miliknya kemudian mengetikan sesuatu disana.


"Maaf aku meragukanmu, Bang, I'm yours." Gumamnya.


***


"Lalaaaaaaa..." teriakan Ibu terdengar samar-samar di telinga Lala.


"Lalaaaaa. Ya Tuhaaaaannn.. Dari gadis sampai jadi bini orang kamu masih susah bangun! Bikin malu ibu!" ibu mengetuk keras pintu kamar Lala yang membuatnya seketika terlonjak.


Lala membuka ponsel, dan melihat jam disana. "Astaga! Aku kesiangan." Dia bergegas membuka pintu kamar.


"Kelakuanmu gak berubah dari dulu!" suara lantang Ibu yang sempat sirna kini terdengar kembali.


"Aku semalam gak bisa tidur, Bu." keluhnya sambil berlalu ke kamar mandi.


"Gak di peluk suamimu langsung kumat!" Ibu tak berhenti bicara.


Lala berlari memakai sepatunya. Dia bahkan tak sempat sarapan atau sekedar mengabari Keenan menuju ojek online yang menunggunya.


"Cepat ya Bang." pinta Lala pada Kang Ojek.


"Bu Lala tumben kesiangan." sapa Satpam yang bertugas saat dia tiba.


"Hehe. Aku duluan Pak." ucapnya seraya berjalan cepat.


"Fiiuuuhhh.. Tuhaaann sudah lama sekali aku gak kayak begini. Gara-gara Keenan. Astaga Abang." Lala merogoh tasnya.


"12 panggilan tak terjawab, 20 chat, 5 video call. Tuhan, dia pasti marah." Lala merapikan rambut dan riasannya.


Dengan jantung berdetak cepat dia mencoba menghubungi Keenan. Wajah ganteng suaminya kini nampak memenuhi layar.


"Abaang."


Keenan menatapnya sinis.


"Bagus. Tahu-tahu kamu sudah di kantor. Sengaja banget gak kasih kabar karena kamu berangkat sama tetanggamu itu kan!" ketus Keenan.


"Maaf. Aku insomnia, Bee. Bangun kesiangan, aku malah gak sempat sarapan." keluh Lala


"Bohong saja mumpung aku jauh!" Keenan menatapnya tajam.


"Sumpah, Bee.. Aku kesiangan. Kamu tanya Ibu kalau gak percaya." ketus Lala yang ikut tersulut.


"Tidur jam berapa?" tanya Keenan masih tak ramah.


"Gak tahu, aku gak bisa tidur gak ada kamu, Bee."


"Kenapa?"


"Aneh saja. Biasanya dipeluk kamu, ini aku peluk guling jadi gak enak. Ibu juga marah-marah lagi gara-gara aku telat bangun."


"Suruh siapa kamu gak tidur."


"Gara-gara kamu! Makanya cepat pulang Abangnya!" ucapnya manja


Keenan yang marah kini terkekeh melihat raut wajah manja Lala. "Sabar sayang. Baru semalam. Masih panjang perjuangan kita."


"Abang sudah sarapan?"


"Belum. Abang belum turun, nunggu kamu kasih kabar dulu."


"Ya sudah, sana kamu sarapan. Aku juga mau suruh office boy buat beli sarapan."


"Iya. Selamat bekerja Munahku. Love you unlimited." Keenan mengecup ponselnya.


"Miss you, celengan rinduku." Keenan terkekeh mendengarnya.


Lala bekerja sambil menyendokan ketoprak ke dalam mulutnya. Sesekali dia melirik ponsel miliknya, berharap sang pemilik hati memberi kabar.


Menjelang sore dia baru teringat tentang ketikannya semalam.


"Ya Tuhan, ketinggalan." gumamnya. "Hhh.. Harus buat lagi." kesalnya.


Lala bergegas keluar ruangan menuju ruang Hrd dengan membawa hasil ketikannya tadi. Dia menarik nafas dalamdengan rasa gugup. "Semoga ini yang terbaik." gumamnya.


Lala menyerahkan surat pengunduran dirinya sambil sedikit berbasa basi dengan mereka.


Dengan perasaan sedikit sedih, Lala kembali ke tempatnya. Dia melihat ruangan sekeliling yang membuatnya nyaman. Mengingat awal dia masuk kerja disana bertemu dengan Reza yang membuatnya terpesona seketika. Dia tersenyum saat mengingat hal konyol dirinya. Walaupun tak dipungkiri, sampai saat ini Lala masih mengagumi Reza. Hanya sebatas kagum!


"Ya Tuhan, semoga keputusan ini gak salah." gumamnya lagi. Dia membuka layar ponsel miliknya, ditatap wajah tampan suaminya. "Abang pasti senang." tanpa sadar dia tersenyum kembali.


Cinta tulus Keenan mengalahkan rasa egoisnya. Keenan mampu meruntuhkan pertahanan dirinya yang sempat membulatkan tekad untuk terus bekerja disana.


***


Sepuluh hari sudah, jarak memisahkan mereka. Jadwal pulang Keenan lebih lama dari rencana semula membuat Lala sedikit uring-uringan.


"Honey.. Abang baru tiba nih. Abang ke Apartemen dulu ya, nanti sore baru jemput kamu." ucap Keenan ditelepon.


Lala tersenyum usil "Iya Bee..hati-hati dijalan. Jemput aku seperti biasa ya."


"Laksanakan Nyonya Muda" ucapnya.


Dengan rona bahagia, Lala memoles dirinya agar terlihat sangat cantik di depan sang suami.


"Bu, Aku ke Apartemen ya? Keenan baru tiba."


"Kenapa gak ke rumah sih?" tanya Ibu meliriknya. Kemudian dia menatap layar televisi kembali


"Dia belum tahu aku sudah resign, Bu." Lala tersenyum jahil.


"Dasar. Resign saja pakai acara kejutan!" ketus Ibu.


"Ini kan maunya dia, Bu. Pasti dia senang dong."


Lala membawa tas kecil miliknya, dia tak membawa satu bajupun karena disana sudah tersedia baju mereka. Tentunya pakaian seksi yang hanya Lala pakai saat berdua bersama Keenan.


"Dia pasti terkejut." gumam Lala membayangkan wajah suaminya.


Lala menaiki taksi dengan tak sabar. Dia ingin tiba lebih dulu sebelum Keenan. Entah ide dari mana, tiba-tiba Lala ingin membeli cup cake sebagai penyambutan suaminya. Lala memint sopir taksi untuk mampir ke toko kue.


Tiba di Apartemen, Lala sedikit mengendap. "Aman" ucapnya. Dia sedikit dag dig dug tak sabar menunggu Tuan Rumah membuka Apartemennya.


Lala lantas membuka bajunya, dia mengganti bajunya dengan lingerie berwarna merah untuk menggoda suaminya.


Lama menanti, Keenan tak juga muncul. Dia mencoba menulis pesan pada suaminya.


"Bee? Dimana? Sudah sampai di Apartemen?"


Lama tak ada balasan membuat Lala sedikit cemas, dia takut terjadi sesuatu pada Keenan. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Lala segera membukanya.


"Aku sudah di Apartemen sayang." balasnya.


.


.


.


Jeng.. Jeng..jeng..kemanakah dirimu Bambang? **Like, komen, vote yang buanyaaakkkk..


Oya, follow my ig : only.ambu


Makasih** ^^