My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Bagaimana Aku Bisa Percaya Diri?



"Dia kerja Ma, liburnya cuma weekend." ucap Keenan


"Bisa weekend ini ketemu Mama? Mama penasaran sama gadis yang disukai anak Mama" ucapnya


"Mama gak ada maksud apa-apa kan?" tanyanya


"Maksud apa-apa gimana? Kamu menuduh Mama yang macam-macam?" tanyanya


"Enggak juga. Dia mungkin kurang nyaman dengan keluarga kita. Dia orang biasa Ma. Hanya karyawan dan mahasiswi kelas karyawan" tegas Keenan


"Sampai segitunya anak Mama membela pacarnya" ucap Mama Keenan


"Mama hanya ingin kenal. Gak lebih, Keen." ucapnya


"Iya. Nanti aku ajak dia kesini" ucap Keenan


Papa Keenan tak bicara, dia hanya menyaksikan anak dan istrinya berbincang.


***


"Tes satu dua tiga. Yang jauh mendekat, yang dekat merapat, yang rapat menghindar. Nasib ya nasib" ~ Mas Pram


"Gak jelas" ~ Bang Al


"Bang, kuy cari jas wisuda." ~ Mas Pram


"Dimana?" ~ Bang Al


"Toko bangunan" ~ Mas Pram


"Kuy jahit baju dari semen" ~ Bang Al


"Aku nganter aja ya."


"Bawa mobil lah Bro, agar bersatu kita teguh" ajak Mas Pram


"Laksanakan" ~ Keenan


Tak ada balasan dari pesan grup mereka. Keenan segera menuruni anak tangga menemui Mamanya yang sedang bersantai.


"Ma, jas aku untuk wisuda bagaimana?" tanya Keenan


"Beres semua. Nanti Om Frans kirim ke rumah" ucapnya


"Kita gak fitting dulu Ma?" tanya Keenan


"Dia kan sudah punya ukuranmu" ucap Mama


"Oh, oke. Aku keluar dulu kalau begitu Ma" ucap Keenan


"Kemana sih kamu? Gak betah dirumah" omel Mamanya


"Setelah ini, aku gak bsa bersenang-senang lagi kan Ma" ucapnya datar


"Ya sudah. Hati-hati dijalan" ucapnya


***


"Aku tunggu diparkiran, gak pakai lama" Keenan menuliskannya digrup mereka. Tak berapa lama keduanya menghampiri Keenan.


"Dijemput pacar kita, Bang" ucap Mas Pram


"Oh begini rasanya jadi si Lala" goda Bang Al


"Haha, si Lala gak punya jakun kayak kalian ya" ucap Keenan


"Jadi kita mau kemana?" Keenan mulai melajukan mobilnya


"Udahlah cari yang murah. Dipakai cuma sehari doang"


"Sewa saja kalau begitu" ajak Mas Pram


"Sudahlah, beli. Kamu juga dikasih kan buat beli jas, Mas" ucap Bang Al


"Lumayan oy, buat modal." Mas Pram tertawa


"Haha.. Otak bisnis mulai berjalan" ucap Keenan


"Tuan muda santai. Gak kaya kita Mas" sindir Bang Al


Keenan hanya menyunggingkan sebelah bibirnya.


"Jadi kemana nih?" tanya Keenan


"Mall lah, kemana lagi" ucap Bang Al


***


"Gimana? Keren gak?" tanya Bang Al seraya melihat pantulan dirinya dalam cermin.


"Gak terlalu ketat?" tanya Mas Pram


"Enggaklah Mas. Daripada longgar" ucapnya


Keenan hanya duduk menyaksikan mereka.


"Gimana Bro? Bang Al meminta saran dari Keenan. Keenan yang sedang menatap layar ponsel hanya meliriknya sepintas kemudian mengacungkan jempolnya.


"Kamu salah Bang kalau tanya sama dia, dia sedang dimabuk asmara. Jadi saat lihat kamu, yang dilihat dia itu seolah si Lala" ujar Mas Pram


"Haha..cerewet dong aku" ucap Bang Al


"Heh, dia gak begitu ya depan aku" ucap Keenan


"Gimana coba dia kalau depan kamu, Bro?" tanya Mas Pram


"Bee.. Ih kamu" Keenan memperagakan ucapan Lala. Mereka terbahak seolah lupa sedang berada ditoko.


Pelayan toko yang membantu mereka ikut tersenyum.


"Duh jadi kangen Lala" ujar Mas Pram


"S*alan Pramono! Aku ngikutin saran dia, kata si Lala berasa pacaran sama Mas Pram" sontak Mas Pram terbahak.


"Emang apa kata dia" tanya Bang Al melirik Mas Pram


"Aku tresno karo kowe. Dih naj*s!" Keenan berdecak sebal


"Haha.. Kamu kalau mau tanya sesuatu jangan sama dia. Dia jomblo. Tanya Babang dong yang sudah pakar" ucapnya bangga


"Pakar apa? Pakar takut sama si Mira" cibir Mas Pram


"Haha.. Aku tuh gak takut, cuma pantang buat Abang nyakitin hatinya" ucap Bang Al


Sang pelayan tak hentinya menahan tawanya menyaksikan mereka.


"Tumben dia gak ikut, Bang?" tanya Mas Pram


"Dia temani Ibunya belanja" ucap Bang Al


Keenan menerima telepon.


"Hon, Aku dilantai..." Keenan melirik temannya


"lantai berapa ini?" Keenan menatap Mas Pram, Mas Pram mengacungkan tiga jarinya


"Tiga, Hon. Cepat yaa. Aku tunggu" ucapnya seraya menutup sambungan telepon


"Loh? Si Lala mau kesini?" tanya Mas Pram


"Kan deket." Keenan tersenyum


"Bisa saja yang jadi budak cinta. Gak ketemu sehari rasanya seabad" ucap Mas Pram


"Bukan seabad. Tapi hatiku hampaa" ucap Keenan


"Eh, gimana aku? Malu nih ama si Mbaknya dari tadi kita malah ngobrol" ucap Mas Pram


"Bagus sih. Ini satu aja kancingnya" ucap Keenan


Seorang wanita masuk ke dalam toko tersebut.


"Lalaaaa" Mas Pram merentangkan tangannya


"Heh! Bayar tuh baju!" Keenan menoyor kepalanya.


Pelayan tadi nampak mencuri pandang pada Lala.


"Maaf aku gak jemput ya Hon" ucap Keenan seraya merangkul Lala


"Mereka masih lama?" tanya Lala


"La, aku cocok gak?" tanya Bang Al


"Kependekan tuh tangannya Bang. Jadinya ketat banget" ucap Lala


"Masa sih?"


"Kalian kan mau wisuda bukan fasion show" sindir Lala


"Sudah ganti sana!" ucap Keenan


"aku duluan ya, kasihan Bebeb kelaperan" ucap Keenan


"Kalian makan dimana?" tanya Mas Pram


"Foodcurt saja Bee" pinta Lala


"Tuh denger"


"Nanti kita nyusul deh, La" ucap Bang Al


"Aku duluan ya" Lala melambaikan tangannya


Keenan menggandeng tangan Lala keluar dari toko.


***


"Hon, Mama mau ketemu kamu" ucap Keenan disela-sela makan mereka


Lala melebarkan matanya.


"Bee.. Aku.. "


"Mari kita hadapi bersama, honey. Mari kita kikis perbedaan kita" ucapnya kemudian


"Aku takut Bee" Lala meneguk air minumnya. Kini dia merasa tak lapar.


"Gak apa-apa, sayang. Ada aku." Keenan meyakinkannya


"Mau kan?" tanyanya lagi. Lala hanya mengangguk pasrah.


"Kapan?" tanya Lala


"Weekend ini ya?" ajaknya


"Wisuda aku kamu beneran gak bisa cuti?" tanya Keenan


"Enggak Bee, gak ada yang back up kerjaan aku" ucap Lala


"Kenapa Pak Reza gak nambah orang sih!" kesal Keenan


"Masih banyak pertimbangan kali, Bee." Lala mencoba memberi pengertian.


"Hhh.. Aku kasihan sama kamu, Hon. Cuti saja susah" keluhnya


"Terus mau apa aku cuti juga. Toh enakan kerja"


"Aku wisuda kamu gak datang. Jahat banget sih" ketusnya


"Sebagai gantinya kan nanti aku ketemu Mama kamu" Lala memveri penawaran.


"Janji ya Hon?"


"Iya". Lala menyeruput minumannya.


"Mereka lama banget sih!" ketus Keenan. Lala memegang tangan Keenan, dia melihat jam yang bertengger ditangan pacarnya.


"Udah jam segini, aku ke kantor lagi ya? Kamu gak usah ngater aku. Aku pakai ojek saja biar cepet ya Bee" ucap Lala


"Yakin Hon?" tanya Keenan


"Iya."


"Ya sudah aku antar kamu sampe depan ya" ucap Keenan


"Aku pesan dulu ojeknya. Biar nanti gak nunggu lama" ucap Lala


Mereka berjalan bergandengan. Tak puas dengan itu, Keenan merangkul Lala. Dia melirik kanan kiri kemudian mengecup kepala Lala seraya berjalan.


"Bee.. Bisa-bisanya kamu.. "


"Kangen kamu, Hon. Aku ingin dipeluk." bisiknya


"Dasar manja" Lala tersenyum senang.


Pancaran cinta nampak terlihat dari mata mereka.


"Kamu gak bareng mereka?" tanya Lala


"Enggak Hon. Sama kamu saja." ucapnya seraya tersenyum


Tiba di lobby utama, Lala hendak keluar karena ojek yang dipesannya sudah tiba.


"Salim dulu dong Hon" pinta Keenan seraya memberikan tangannya


"Apaan sih" Lala tersenyum menyambut tangan Keenan. Dia mengecup punggung tangan Keenan


"Hati-hatu dijalan, honey" ucapnya


***


"Kalian dimana sih?" Keenan menelepon Mas Pram


"Kita di Foodcurt. Kamu dimana toh?"


"Nganter Lala ke bawah. Tunggu"


"Pastilah ditunggu. Apa sih yang enggak buat tuan muda" godanya


"Mas!" Mas Pram yang takut segera mematikan sambungan teleponnya.


"Kalian tadi darimana sih lama banget" keluh Keenan


"Cari dasi lah, biar kayak pejabat" ucap Bang Al


"Pantesan." ketusnya


"Habis ketemu pacar, tidak baik marah-marah." ucap Mas Pram


"Kuy main game" ajak Bang Al


"Kuyy" Mereka menuju area bermain anak.


"Mas, kamu isi dulu saldonya sana" Keenan memberikan kartu untuk bermain.


"Laksanakan tuan muda" ucap Mas Pram.


Dia menghampiri meja kasir.


"Mbak.. Ya ampun.. Mbaknya cantik banget" ucap Mas Pram


"Ya? Kenapa Mas?" tanyanya datar


"Cantik-cantik bud*g juga" gumam Mas Pram


"Aku gak bud*g loh Mas!" ketus pelayan tersebut


"Hah? Mbak denger? Maaf-maaf aku becanda Mbak" ucap Mas Pram canggung


"Aku.. Mau isi saldo Mbak"


"Berapa?" tanyanya ketus


"Galak banget Mbaknya" ucap Mas Pram


"Aku gak galak!" ketusnya lagi


Bang Al tak sengaja melirik ke arah Mas Pram. Dia menyikut Keenan yang asyik dengan ponselnya.


"Pramono gerak cepat" ucap Bang Al


Keenan hanya tersenyum menyaksikan mereka. Bang Al dan Keenan bertepuk tangan saat Mas Pram menghampiri mereka


"Kenapa kalian?" tanyanya heran


"Dapat nomor ponselnya?" tanya Bang Al


"Boro-boro. Galak gitu" Bang Al dan Keenan terbahak.


"Sok bijak ngasih tahu aku kemarin, Pramono" Keenan merebut kartu dari tangan Mas Pram


"Padahal boleh juga tuh Mas dibawa ke acara wisuda" ucap Bang Al


"Udah Mas. Kamu gak usah bawa pasangan" ucap Keenan


"Lala gak datang, Bro?" tebak Mas Pram


"Dia gak bisa cuti." keluh Keenan


"haha.. Sabar. Gak guna punya pacar" ucap Bang Al


"Si*lan!" ketus Keenan


"Kuy mainlah" ajak Mas Pram


Ketiganya bermain dengan asyik.


***


"Bro, masa tega kita disuruh naik ojek" ucap Mas Pram.


"Suruh siapa kalian rese" ketus Keenan


"Bang Al bukan aku"


"Kamu juga Pramono! Gak mau ngaku" ketus Bang Al


Keenan kesal karena keduanya selalu memojokan Keenan.


"Bro, ayolah izinkan kita menumpang sebentar. Kita ke kantor Lala dulu deh, nanti anterin kita ke kampus" tawar Mas Pram


"Yakin?" tanya Keenan. Keduanya mengangguk.


Keenan melajukan mobilnya ke kantor Lala. Mereka menunggu Lala keluar dari gerbang kantornya.


"Tuh Lala, Bro" ucap Bang Al


"Aku gak buta ya Bang" ketus Keenan


"Haha.. Dasar budak cinta"


Mereka masih menatap Lala dari dalam mobil. Tiba-tiba Lala didekati oleh seorang lelaki menggunakan motornya. Lala nampak tertawa saat berbincang dengan lelaki tersebut. Keenan mengeraskan rahangnya. Dia merasa sangat cemburu. Terlebih teman-temannya menyaksikan Lala dengan lelaki bermotor tersebut. Tak lama, lelaki itu melambaikan tangannya seraya meninggalkan Lala


"Siapa itu Bro?" tanya Bang Al


"Temannya lah, masa pacarnya. Pacarnya disini kali" Mas Pram tahu Keenan cemburu


"Kok mesra begitu"


"Kamu lama-lama mirip si Mira, Bang" ucap Mas Pram


"Aku cuma nanya" ucap Bang Al


"Dia tetangga Lala" ucap Keenan kemudian


"Oh jadi.. " Mas Pram membekap mulut Bang Al


Mereka terdiam saat Lala mulai membuka pi tu mobil.


"Hai Lalaaaa" Mas Pram mencoba mencairkan suasana


"Eh, ada kalian juga" Lala tertawa


"Kita nebeng ya, gak bawa motor tadi berangkat." ucap Mas Pram


"Gak apa-apa kan La?" tanyanya kemudian


"Gak apa-apa dong Mas. Izinnya ke Keenan dong" Lala melirik Keenan yang tak menghiraukan Lala disampingnya.


"Sudah dapat Mas, barangnya?" tanya Lala saat mobil melaju


"Sudah La."


"Kamu gak datang nanti La?" tanya Bang Al menyulutkan emosi Keenan


"eh? En.. Enggak Bang. Aku gak bisa cuti. Sayang sekali" ucap Lala merasa tak enak hati


"Wah, Keenan cari pendamping lain dong" sindirnya


"Hehe.. Gak lah. Dia kan baik. Iya gak, Bee" tanya Lala. Keenan hanya fokus menatap jalan raya.


'Kenapa sih dia?' batin Lala


Dibelakang Mas Pram memberi kode pada Bang Al agar tak lagi bicara. Suasana terasa sangat canggung, Hingga mereka tiba di parkiran kampus untuk menurunkan Bang Al dan Mas Pram.


"La, gak mampir?" tanya Mas Pram


"haha.. Kayak rumahnya saja Mas Pram."


"Kita pamit ya, terima kasih Bro" ucap Bang Al. Keenan hanya mengangguk. Mereka masuk ke dalam kampus.


"Bee, kamu kenapa?" tanya Lala


Keenan masih terdiam


"Bee?"


"Bee? Kamu bilang terbuka" kesal Lala tak juga ditanggapi Keenan dari tadi.


"Bisa gak kamu berhenti ganjen? Aku malu depan temanku" ucap Keenan


"Ganjen?"


"Kamu masih saja bsrhubungan dengan tetanggamu itu!"


"Terus aku harus musuhan sama dia?" tanya Lala


"Kamu jangan ladenin dong!"


"Dia cuma menyapa Bee, masa aku harus diam saja"


"Kamu tertawa! Kayaknya bahagia banget" ketusnya seraya memalingkan muka.


Lala mengatur nafasnya, mencoba menenangkan Keenan yang diselimuti rasa cemburu.


"Bee, sayang" Lala mengelus pipi Keenan


"Aku gak selingkuh, cuma tegur sapa doang, Bee" ucap Lala


"Kamu dibelakang aku begitu?" tanya Keenan


"Apa?" tanya Lala


"Bersikap seperti itu sama dia?"


"Aku jarang bertemu, Bee. Kita gak segedung. Tadi ketemu ya karena kebetulan saja" ucap Lala


Keenan terdiam.


"Apa aku serendah itu dimata kamu?" tanya Lala dengan nada yang tertahan.


Keenan kini menatapnya.


"Enggak. Cuma aku gak suka, Hon" ucapnya


"Aku kan gak macem-macem"


"Berarti kamu belum bisa percaya sama aku sepenuhnya, Keen" Lala menatapnya dengan raut sedih


"Maaf. Aku.. Aku percaya, Hon."


"Aku hanya cemburu. Temanku menyaksikan kalian juga" Keenan nampak sedih


"Sayang, aku kan gak macem-macem. Aku seolah lagi buntuti kalian kalau begini caranya"


Keenan terdiam


"Aku gak mau ketemu orangtuamu, Keen"


"Kenapa!" Keenan menautkan kedua alisnya


"Kamu saja tidak percaya sepenuhnya sama aku. Bagaimana aku percaya diri untuk ketemu orangtuamu" ucap Lala


Keenan terdiam


"Maaf"


"Gak perlu minta maaf,Keen. Aku mau pulang" pintanya.


"La, aku.. "


" Pulang saja. Aku lelah" ucap Lala


Keenan mulai melajukan mobilnya tak banyak bicara.


.


.


.


Temaaannskuu yang baik hati, jangan lupa bantu vote yaaa.. Sertakan juga like dan komentarnya. Oke? Terima kasih. ^^