My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Ibu Kenapa?



"Enggak." jawab Ibu singkat.


"Ibu kalau ada apa-apa bicara saja Bu sama aku. Biar akunya enak." ucap Keenan sementara Ibu diam saja.


Keenan tak puas dengan jawaban Ibu, namun ia tak bisa memaksa Ibu untuk bicara padanya.


"Bu, Ibu sebenarnya kenapa? Dari awal Ibu yang minta kita cepat-cepat. Tapi kenapa Ibu kok kayaknya berubah begini. Aku sama Keenan salah apa?" Lala bertanya pada Ibu setelah Keenan pergi.


"Tidur La, Ibu ngantuk" ucap Ibu.


Lala yang tak puas menggerutu sendiri. Dia merasa tak enak pada Keenan.


"Maafkan Ibu ya Keen, kalau Ibu menyinggung perasaanmu." Lala menulis pesan pada Keenan.


Lala memainkan cincin di jari manisnya.


'Ada apa ini? Kenapa rasanya tidak enak begini. Ada apa dengan Ibu dan orangtua mereka. Ya Tuhan kenapa rasanya rumit sekali' gumam Lala dalam hati


"Aku gak apa-apa, Hon. Aku hanya penasaran kenapa Ibu berubah. Ada apa antara orangtua Kita. Apa mereka pernah terlibat masalah?"


"Aku juga gak tahu Bee. Ibu kan gak mau bicara."


"Aku hanya penasaran. Sungguh aku gak nyaman seperti ini Hon. Lebih nyaman saat dulu Hon."


"Apa kamu mau membatalkan pertunangan kita, Bee?"


"Kok kamu bicara seperti itu?"


"Kamu bilang gak nyaman bukan?"


"Tapi bukan itu juga maksud aku! Kamu ngerti gak sih? Maksud aku perlakuan Ibu sama aku lebih nyaman sebelum orangtua kita bertemu."


"Iya." Lala membalasnya singkat.


"Maaf Hon. Bukan maksud aku marah." Lala yang merasa kesal enggan membalasnya kembali.


Keesokan harinya, Lala membantu Ibu mengemasi pesanan dari Ibu Gunawan. Mereka tak banyak bicara. Lala merasa bosan bertanya pada Ibu karena Ibu tidak pernah menjawabnya.


Tok.. Tok.. Tok..


Ibu berjalan untuk membuka pintu.


"Eh Nak Izam. Sudah lama gak ketemu ya" ucap Ibu.


"Iya Ibu sehat?" tanyanya


"Seperti yang kamu lihat, Ibu tangguh." candanya


"Sini masuk. Tunggu sebentar ya. Ibu ambil dulu, sebagian sedang dikemasi Lala" ucap Ibu.


"Iya Bu"


Ibu masuk ke dalam untuk mengambil pesanan. Lala membantu Ibu membawanya untuk diberikan pada Izam.


"Mas Izam, ini pesanannya."


"Terima kasih La. Kamu gak main? Tumben."


"Hehe..istirahat dulu Mas" ucap Lala


"Nak Izam, yang ini tolong kasih sama Ibu ya." ibu membawa kantong lebih kecil.


"Wah, bonus Bu."


"Hehe iya. Buat ngemil dirumah."


"Terima kasih Bu."


Keenan mengetuk pintu yang terbuka.


"Oh, Bee sini masuk." ajak Lala


Keenan melihat Izam dengan tatapan tak suka. Mereka beradu pandang.


"Ya sudah, aku permisi kalau begitu Bu, La"


"Iya Mas Izam" ucap Lala


"Aku ganti baju ya Bee." Keenan hanya mengangguk.


"Nak Izam terima kasih ya." Ibu mengantarnya ke depan.


"Iya Bu. Permisi Bu. Assalamu'alaikum."


Keenan memperhatikan raut wajah Ibu saat berbicara dengan Izam dari balik vitrase. Dia melihat Ibu sangat ramah pada Izam.


"Wah, banyak pesanan Bu" tanya Keenan.


"Ya begitulah" Ibu masuk ke dalam meninggalkan Keenan yang duduk di ruang tamu.


"Mau kemana kita?" Lala sudah berganti pakaiannya.


"Beli hantaran untuk nanti tunangan kita Hon. Biar nyicil, Papa sudah agak membaik. Takutnya pulang dalam waktu dekat ini, jadi kita gak repot nanti."


"Oh."


"Kamu gak suka?"


"Biasa aja sih" Lala masih kesal pada Keenan.


Mereka pamit pada Ibu sedang merapikan peralatan kuenya. Ibu hanya berbicara tanpa melirik mereka sama sekali.


Keenan melajukan kendaraan dengan membisu. Dia masih mwngingat perlakuan Ibu padanya dan pada Izam sangat berbeda. Dia sedikit cemburu dan tak suka.


"Aku mau bicara pada Ibu nanti La." Lala hanya terdiam.


"Kamu kenapa sih?"


"Gak apa-apa." Tak ada lagi percakapan diantara mereka hingga mereka tiba di sebuah Mall.


Keduanya turun dan berjalan beriringan.


"Gak usah beli hantaran lagi Keen. Yang kemarin saja masih ada."


"Buat simbolis La"


"Gak usah. Aku juga gak butuh"


Keenan menatap Lala. "Kamu kenapa sih! Gak Ibunya gak anaknya sama saja!" ketus Keenan


"Maksud kamu apa?"


"Kamu kenapa bersikap begitu juga kayak Ibu. Aku salah apa?"


"Aku gak suka kamu mendesak sikap Ibu kenapa teurs-terusan tanya itu sama aku. Sampai kamu stres sendiri dan marah-marah sama aku."


"Aku gak marah sama kamu. Aku hanya penasaran La!"


"Terserah." Lala menghentikan langkahnya. "Aku gak mood, Keen. Aku mau pulang."


Keenan meraih tangan Lala."Maaf."


" Sorry Keen aku sduah gak Mood. Kita pulang saja."


"Ya sudah, kamu maunya apa sekarang? Jangan pulang."


"Entahlah."


"Beli jajan saja ya." Keenan menarik lengan Lala.


Mereka tiba di food court. Keenan membeli jajanan dan minuman sementara Lala duduk menunggunya.


"Mira?" gumam Lala sata melihat Mira berada agak jauh dengan kursinya namun Lala masih bisa melihatnya.


"Bee.. Itu Mira?" tanya Lala


"Mana?" Keenan melirik.


"Sama siapa dia?" tanya Keenan saat melihat punggung lelaki dihadapan Mira.


"Mana aku tahu, Bee. Paling pacar barunya."


Keenan yang tak tertarik duduk di hadapan Lala.


"Beehenti bahas Ibu atau aku pulang." Lala membuka percakapan diantara mereka.


"Oke" Keenan mengangguk kemudian menyeruput minuman miliknya.


"Kamu sadar gak? Kamu banyak bahas dan tanya-tanya Ibu tuh buat kita berantem terus."


"Maaf. Aku rasanya gak nyaman saja Hon."


"Ya sudah sabar, semuanya gak akan mulus begitu saja, Bee. Mungkin ini cobaan buat kita agar hubungan kita lebih kuat." ucap Lala


"Maafkan aku Hon" Keenan msmegang tangannya.


"Bee.. Mira jalan kesini Bee" ucap Lala


"Sama Bapaknya sepertinya Bee, eh tapi dia gandengan tangan" Lala sedikit teekejut menatap lelaki berkaos polo disamping Mira.


Pandangan Mira dan Lala beradu.


"Mira" Lala memanggilnya. Mira segera melepaskan pegangan mereka.


Keenan melirik Mira dan lelaki disebelahnya.


"Pak Keenan.. "


"Pak Bas?" Keenan bangkit dari duduknya. Keduanya terkejut.


Keenan melirik Mira dan Basuki bergantian.


"Jalan-jalan Pak?"


"Hmm.. I.. Iya Pak Keen, mau membeli kado buat karyawan yang melahirkan" ucap Pak Bas tergagap.


"Bapak sendiri?"


"Oh, perkenalkan. Calon istri saya Pak" ucap Keenan membuat Mira kaget.


Lala menyalami Pak Bas seraya tersenyum.


"Kapan kalian nikah Keen?"


"Mira!" hardik Pak Bas


"Gak apa-apa, kita teman kuliah kok, Pak" ucap Keenan


"Nanti di tunggu saja undangannya. Tolong jangan sampai bocor ya Pak Bas"


"Siap Pak. Saya pastikan hanya saya dan Mira yang tahu."


"Mari bergabung dengan kami Pak"


"Terima kasih Pak. Saya masih mencari barangnya. Kalau begitu saya pamit Pak, Bu" Pak Bas mengangguk hormat.


Pak Basuki dan Mira berjalan lebih cepat.


"Gawat, kalau hubungan kita menyebar bagaimana" gumam Pak Bas.


"Tenang saja. Keenan orangnya tidak seperti itu Pak."


"Memang kamu tahu dia?"


"Iya, dulu kuliah dia sempat menyatakan cinta padaku." ucap Mira bangga.


"Sayang sekali kamu menolak sangkar emas."


"Pak Keenan pewaris swalayan" Mira nampak kaget tak percaya.


"Mustahil"


"Kuliah dulu dia hanya memakai motor matic, tidak terlihat orang kaya."


"Yang jelas, dia Keenan Wijaya putra Wijaya. Sebagian hartanya bahkan akan dilimpahkan padanya sekarang-sekarang ini" Mira masih tak percaya.


"Kenapa? Kamu menyesal?"


"Enggak Pak. Aku sudah ada bapak" bohong Mira.


Lala dan Keenan masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Jadi, si Mira pacaran dengan Pak Basuki store manager? Astagaaa"


"Memangnya dia duda, Bee? Atau bujang tua?"


"Setahuku katanya sudah menikah."


"Hah? Apa dia selingkuh dengan Mira? Ya Tuhan si Mira.."


"Sudah. Bukan urusan kita Hon. Bersyukur saja Bang Al bisa move on dari dia."


"Iya betul, Bee. Untungnya Bang Al sadar."


"Aku masih tak percaya, dia mau sama lelaki yang lebih cocok jadi om-nya."


"Siapa tahu jodohnya, Hon." Keenan tersenyum.


"Tapi gak suami orang juga, Bee."


"Udah. Biarin sih Hon. Dari dulu kelakuannya kan begitu"


"Matre banget ya Bee." Lala menyeruput minuman miliknya.


"Bee, nonton yuk?" ajak Lala.


"Nonton apa?"


"Film komedi, kata temanku seru filmnya."


"Ya udah, ayo." Keenan menggandeng tangan Lala menuju bioskop.


"Lama sekali kita gak nonton Bee." ucap Lala setelah mereka berada di gedung teather.


"Iya ya Hon. Pacaran kita ngapain aja?" Keenan tertawa.


"Berantem doang isinya. You are my enemy!"


"Haha.. Tapi cinta kan?"


"Kalau gak cinta mana mau terima ini" Lala menunjukan cincin yang bersemat di jari manisnya


"Yee, cewek pasti mau-mau aja dikasih ituan kalau gak cinta juga."


"sssttt" suara orang yang berada di belakangnya memperingatkan perdebatan mereka.


Keduanya terdiam kemudian tertawa tanpa suara.


***


"Lucu banget filmnya. Seruu" Lala mengoceh saat Keenan menjalan mobilnya.


"Iya. Pipi aku sampe pegal ketawa terus Hon."


"Mau kemana kita, Bee?"


"KP ya?" ajak Keenan


"Kesana mulu deh!" lala teringat saat terakhir pada Desi.


"Kamu mau ketemu Desi?"


"Desi siapa?"


"Pura-pura bilang siapa? Karyawan kamu!"


"Dih, cantik sih. Tapi lebih cantik kamu dimataku" gombal Keenan


"Rese ih! Bilang cewek lain cantik!" Lala menyubit lengan Keenan.


"Haha.. Apa sih fak jelas kamu cemburu sama dia! Kenal juga enggak. Tegoran juga enggak."


"iya sih, tapi aku gak suka. Dia sengaja tumpahkan minuman ke bajuku. Dan aku lebih gak suka, kamu membelanya!"


"Aku gak bela dia sayang."


"Lihat saja nanti ya, coba kamu dekati dia. Pasti dia keganjenan." ucap Lala


"Gak ada kerjaan apa? Aku harus dekati dia segala!" gerutu Keenan.


Keduanya masuk ke dalam KP disambut oleh Mas Pram yang heboh seperti biasa.


"Aku ketemu Mira sama Om-om, Mas" Lala bergosip


"Heh! Kamu ngegosip lagi"


"Haha.. Biarin kenapa sih? Sirik aja Abangnya"


"Terus gimana La? Jangan dengarkan dia." ucap Mas Pram pada Lala.


"Ya gitu lagi gandengan. Tahunya dia tuh bos dan karwayannya. Iya kan Bee? Anak buah kamu tuh gak beres."


"Asal jangan selingkuh di kantor saja. Aku cut mereka tanpa basa basi" ucap Keenan


"Untung Bang Al sadar." ucap Mas Pram.


"Dari dulu emang gak bener ya Mas. Eh makin sini makin menjadi."


"Iya.gak tahu malu."


Keenan dan Lala kini berdua saling berhadapan sementara Mas Pram sibuk membantu karyawannya. Lala memperhatikan Desi yang selalu curi-curi pandang pada Keenan.


'Tuh kan bener. Dia emang suka sama Keenan!' batin Lala kesal.


'Tunggu pembalasanku! Sorry, aku bukan wanita lemah saat kau kerjai!'


"Hon, jadi kaoan kamu mau belanja?" Keenan meraih jemari Lala.


"Sabar dong sayang" Lala mengelus lembut pipi Keenan dengan sengaja bersamaan dengan Desi yang sedang melirik mereka.


'Panas ya Neng? Ini belum apa-apa. Biar nanti aku sedot si Keenan di depan mukamu biar kamu kebakaran!'


'Eh astagaa.. Semes*m itu aku. Ya Tuhan maaf.'


"Tuh kan Bee, dari tadi aku perhatikan si Desi curi-curi pandang terus sama kamu!"


"Terus aku harus gimana?"


"Tahu ah! Kamu mah sengaja kan buar ketemu dia."


"Astagaa.. Kamu kayak gak tahu aku saja! Aku kesini mau bahas kerjaan sama Mas Pram sayang."


"Mas Pram ngajak buka cabang melihat KP rame dan stabil"


"Dimana?"


"Entahlah. Aku juga belum ngobrol banyak sama dia. Tuh dianya sibuk begitu."


"Udah jangan dilihat terus, nanti aku bantu panasin si Desi."


"Apaan sih bantu panasin!" gerutu Lala membuat Keenan tertawa.


"Aku sedot kamu depan dia ya" ujar Keenan


'Ih kita sehati banget. Haha. Ya Tuhan aku jadi mes*m gara-gara gaul sama dia.'


"Bang Al gak kesini, Bee?"


"Gak sayang. Dia mah sibuk sama duit orang" Keenan tertawa.


"Kok sibuk smaa duit orang?"


"Ya emang pegawai Bank gimana? Sibuk sama duit orang kan? Pegang doang tapi gak bisa memiliki" mereka tertawa.


"Udah kayak Mas Pram aja kamu"


"Haha.. Asal jangan dipegang terus di tinggal."


"Yang jangan itu di coba terus di tinggal" timpal Lala seraya tertawa


"Dih Nengnya mes*m" goda Keenan


"Apa sih? Orang makanan." Lala berusaha ngeles.


Mas Pram kembali ke meja mereka. Keenan dan Mas Pram berbincang mengenai rencana pembukaan cabang Kedai kopi mereka. Sementara Lala hanya menyimaknya.


Keenan menyerahkan semua urusannya pada Mas Pram. Keenan sedikit membagi ilmu yang dimilikinya pada Mas Pram. Lala dan Mas Pram nampak takjub mendengar penjelasan dari Keenan.


"Gemeesss deh pacar aku pintee banget sih" ucap Lala seraya menyubit pipi Keenan.


"Aku juga gemeess deh, temen aku pinter banget" Mas Pram ikut mencubitnya.


"An*rit sakit Pramono!" Keenan mengusap pipinya.


"Lala gak kamu protes." gerutu Mas Pram


"Dia pemilik tubuhku ini" Keenan merentangkan tangannya membuat Lala tertawa.


"Makanya aku bebas Mas. Bebas gigitin dia."


"Aw, Lala nakal."


"Haha pikiran kalian tuh kesana terus."


Puas berbincang, keduanya pamit pulang pada Mas Pram. Keenan memeluk pinggang Lala seraya berjalan.


"Aku tahu kamu lagi apa" gerutu Lala membuat Keenan tertawa.


"Kan aku bantuin manasin, Honey." ucapnya seraya keluar KP.


***


Lala masuk ke dalam rumah seorang diri tanpa Keenan. Dia sengaja melarang Keenan agar tak bertemu dengan Ibu.


Ibu duduk di depan televisi masih menonton acara kesayangan. Lala ikut duduk disamping Ibu.


"Kalau kamu membatalkan pernikahanmu, bagaimana La?" tiba-tiba Ibu membuka percakapan mereka.


Lala sedikit terperanjat. "Apa alasannya Bu?"


"Ibu takut apa yang Ibu alami, akan menimpamu juga" ucap Ibu lemah.


"Maksudnya gimana? Tolong jelaskan sama aku."


.


.


.


Nahloh gimana ini? Jangan lupa vote, lika dan komentar yaaa. Aku tunggu loh. Terima kasih ^^