My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Menggoda Abang



Keenan menaiki anak tangga dengan tak sabar. Pelan-pelan dia membuka pintu kamarnya. Seketika rasa lelah dan rindunya sirna saat memandang kesayangannya terlelap berdampingan.


Seminggu sudah Keenan menghabiskan waktunya di luar kota karena tuntutan pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan. Selama seminggu juga, Keenan hanya berkomunikasi melalui video call bersama mereka.


Keenan segera membersihkan diri sebelum mendekati istri dan anaknya. Dia memakai kaos oblong dan juga celana pendek seperti biasa.


Keenan berjalan perlahan menuju kasurnya. Begitu pant*tnya bersentuhan dengan kasur, seketika terdengar suara kentut dari si mungil Kenzie.


Keenan tak kuasa menahan tawanya, dia terbahak membuat Kenzie terbangun seketika dan menangis.


"Abang!"


"Sayang.. Hahaha.. Astaga anak kamu.."


"Kamu gila? Tengah malam ketawa sendirian." Ketus Lala seraya memberikan asi pada Kenzie agar tangisnya terhenti.


"Daddy baru mau duduk, eh dia kasih nada sambutan. Gimana gak ketawa?" ucapnya seraya mengelus pipi anaknya.


Keenan merangkak naik ke atas kasur. Dia mengungkung Kenzie hanya untuk mengecup wajah istrinya.


"Miss you, Honey." ucapnya seraya melepaskan kecupannya.


"Kapan Abang tiba?"


"Belum lama. Kamu tidur pules banget. Abang gak disambut."


"Lagian kenapa kamu naik pesawatnya malam. Akunya ngantuk nunggu Abang lama. Tahu sendiri kan, Kenzie sukanya begadang, pas dia tidur ya udah aku juga ikutan tidur."


"Kan biar gak nunggu besok sayang. Abang sudah kangen sama si kentut." ucapnya seraya berbaring disamping Kenzie.


"Enak aja kentut! Nama anak sudah bagus juga. Kamu mah suka seenaknya ganti nama orang!" protes Lala


"Habis kentutnya macho banget, Yong. Tembakannya dahsyat." Keenan tersenyum kembali.


"Abang mah ada-ada saja! Masa ada kentut macho segala." Lala melirik Keenan yang kini menghadap kepadanya. "Abang mau makan?"


"Enggak." Keenan menekan dada Lala hingga mulut Kenzie terlepas dari pupilla Lala.


"Abang!" Lala melotot tanpa suara.


"Udah tidur dia, pindahin Mam. Takutnya nanti ketindih kita."


"Kamu yang pindah." ketus Lala.


"Pindah ke rumah cewek seksi?" Keenan yang kesal diusir, sengaja menggoda Lala.


"Sembarangan ih kalau bicara. Nyebelin tahu gak!" Lala bangun kemudian memindahkan Kenzie dengan hati-hati ke dalam box. Pandangan Keenan tak teralihkan dari aktivitas Lala.


"Sini sayang." Keenan merentangkan tangannya setelah Lala berbalik menuju kasur mereka.


"Gak mau! Kamunya jahat."


"Elah, cuma becanda juga." Lala mendekat kemudian tidur di dekapan suaminya. Tak dipungkiri, Lala begitu rindu pada sosok Laki-laki mes*m yang sedang memeluknya.


"Montok banget sih Mam." Keenan memeluk erat tubuh Lala kemudian dengan iseng sebelah tangannya merem*s dada Lala. "Uh.. Ini gede banget."


"Abang ih!"


Tak hanya itu, Keenan meraba bagian bawah Lala. "Yah, masih diplastikin." keluh Keenan


"Ini dikit lagi. Sabar. Kamu mah gak sabaran. Awas aja kalau kemarin diluar jajan!"


"Gila apa, Abang jajan sembarangan! Gak mungkin lah."


"Ya kali kamu kegoda sama cewek seksi. Habis kamu juga ngehina aku mulu, bilang montok terus. Gak di telepon, gak ketemu! Aku gini juga kan habis lahirin anak kamu!" gerutunya panjang lebar. Tahu sendiri kan, wanita kalau disindir masalah berat badan langsung sensitif.


"Kamu suka negative thingking deh. Tahu gak, kamu montok gini, Abang suka banget. Berisi semua." ucapnya "Apa lagi ini." Keenan merem*s kembali.


"Sakit Bambang!"


"hehehe.. Gemes soalnya."


"Dah tidur ah! Mumpung Kenzie tidur lagi." ajak Lala. Keenan yang lelah tak membantahnya.


***


Tak terasa, lima bulan sudah Lala menikmati waktunya bersama Kenzie. Kenzie kini semakin aktif. Apalagi kalau ada yang mengajaknya bicara, Kenzie membuka mulutnya sambil tersenyum dan mengeluarkan suaranya seolah menimpali lawan bicaranya.


Kenzie sudah pintar berguling dari terlentang ke tengkurap ataupun sebaliknya. Tak hanya itu, Kenzie juga pintar memegang botol asip miliknya.


"Abang buruaan. Nanti aku telat." ucap Lala tak sabar. Dengan setelan hitam putih, dia menyembulkan kepalanya melihat suaminya mengambil dompet.


"Jas Almamater kamu mana?" tanya Keenan masih dengan setelan tidur dipadukan dengan jaket denim miliknya.


"Oh iya. Untung Abang ingetin." Lala masuk kembali ke kamar mereka kemudian menuruni anak tangga.


Ibu dan Kenzie sedang bermain ditemani oleh Nanny dan juga Bi Ijah yang ikut mengajaknya bermain sesekali. Setiap pagi, suasana lebih ramai setelah hadirnya Kenzie ditengah-tengah mereka.


"Daddy anter Mommy dulu ya, nanti main lagi sama kamu. Oke Bro?" Keenan berpamitan pada sang anak.


"Mommy menuntut ilmu dulu ya sayang biar pinter kayak Daddy. Doakan ujiannya lancar. Gak lama kok, cuma setengah hari. Nanti Mommy langsung pulang" Lala mengecup gemas anaknya yang sedang digendong Ibu.


"Keenan memangnya gak kerja, La?"


"Nanti siang Bu, meeting doang sih katanya. Jadi santai." ucapnya masih mengecup pipi gembul sang anak.


"Dadah Kenzie. Mommy berangkat yaa.. Assalamualaikum." Lala melambaikan tangannya.


Lala mengambil helm dari tangan Keenan. Dia melingkarkan tangannya memeluk sang suami menuju kampus mereka.


Lala tersenyum sendiri mengenang masa lalunya.


"Senyum sendiri kenapa sih?" Keenan memperhatikan Lala dari balik spion sambil menunggu lampu merah.


"Inget jaman pacaran dulu, boncengan pake motor. Sekarang dirumah sudah ada yang nunggu tuh si Tuan Kecil." Lala berbicara di dekat telinga Keenan sambil tersenyum.


"Mau nambah yang kecilnya?" goda Keenan


"Mau. Tapi nanti gak sekarang." ujar Lala.


Tiba di kampus, Lala segera turun dari motor Keenan. Keenan mengulurkan tangannya yang segera disambut Lala.


"Abang hati-hati ya. Love you unlimited." Lala segera masuk ke dalam kampus.


Lala senyum-senyum sendiri saat mendekati mobil Keenan.


"Ngapain sih senyum-senyum sendiri? Kayak orang gila tahu gak?" ujar Keenan saat Lala masuk ke dalam mobil.


"Ck.. Abang mah rese! Aku kan bahagia dijemput suami." ucapnya malu-malu. "Makanya kamu harus sering-sering jemput aku, bahagia aku tuh sederhana."


"Iya bawel. Abang kan cari duit buat kalian biar gak kesusahan." Keenan melajukan mobilnya keluar kampus. "Kita ke kantor sebentar ya? Abang cek dokumen sama tanda tangan doang. Meeting diundur besok." ujarnya.


"Ah! Kamu mah gak bilang mau ke kantor!" Lala cemberut.


"Emang kenapa?" Keenan meliriknya.


"Malu tahu! Masa istrinya Keenan Wijaya bajunya hitam putih! Rese Abang! Mana wajah kusut lagi habis ujian!" gerutunya.


"Astaga kirain apa. Kamu pakai make up saja dulu. Abang bawakan atasan punya kamu. Tuh dibelakang." Lala sontak melirik paper bag dan mengambilnya.


Lala membuka paper bag. "Bukannya bawa rok sekalian kek."


"Enggak ah. Body kamu berisi begitu, makin seksi kalau pake rok mini."


Lala sedikit melongo mendengar ucapan Keenan kemudian tersenyum. "Ehm.. Aku seksi, Dad? Bukan montok?" Lala menarik safety belt, kemudian mendekatkan dirinya pada Keenan. Keenan menatap lurus jalanan merasa keceplosan.


"Jadi.. Aku seksi?" Dia membusungkan dadanya menggoda Keenan.


"Astaga Munah!" Keenan meliriknya sepintas membuat Lala terbahak. "Jangan salahin Abang kalau nanti kita belok ke Apartemen." ujarnya.


Dengan sengaja Lala mengelus dada Keenan. "Aw.. Mau dong apartemen, sayang."


"Anj*r Mom! Jangan menggoda lah!" Lala terbahak membali. Keenan yang tergoda memutar balik mobilnya. "As your wish"


"Abang aku becanda.."


"Gak ada penolakan ya. Selama ini kamu sudah nolak. Abang juga sudah berusaha gak minta jatah. Tapi kamu yang menggodanya. Oke, Abang kabulkan." ujarnya sambil tersenyum licik.


"Aahh.. Abang ayo ke kantor. Kasihan Kenzie Bang kalau kelamaan."


"Kenzie bukan alasan. Dia mah sudah biasa kamu tinggalin kuliah ya." ujarnya.


Keenan teringat kembali saat dia selalu meminta jatahnya pada Lala, tapi Lala selalu menolak dengan alasan Kenzie takut bangun. Saat ada kesempatan berdua pun, Lala masih menolaknya dengan alasan takut karena bekas jahitan. Untungnya Keenan sabar dan teralihkan oleh kesibukannya sehingga dia masih bisa menerima penolakan Lala. Namun kali ini, dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan.


Keenan menggenggam erat jemari Lala berjalan menuju lift. Hingga masuk ke dalam lift, hanya ada mereka berdua. Keenan merapatkan tubuhnya pada Lala.


"Abang! Ada cctv!" ketus Lala.


Keenan menatap cctv dipojok atas kemudian menyilangkan telunjuk dan ibu jarinya. "Saranghae" ucapnya membuat Lala memukul lengan Keenan. "Dasar Sableng!" ucap Lala seraya keluar lift.


Keenan mengikutinya dari belakang. Dia tersenyum melihat bokong istrinya yang begitu menggoda.


"Ah, aku lupa! Kenapa tadi gak beli makan dulu? Aku lapar Abang." Lala menaruh tas miliknya di sofa.


"Ya sudah pesan saja. Kamu mau apa?"


"Hmm..baso deh biar seger. Capek otak aku habis berpikir keras."


"Ck..ujian gitu doang pake bilang berpikir keras!"


"Haha.. Udah buruan Abang pesenin. Aku mandi ya? Gerah."


Keenan membuka jas miliknya. "Ya udah sana. Biar cepet."


Lala membulatkan tekadnya untuk memberikan hak yang diminta Keenan walaupun sebenarnya dia masih takut. Tapi gara-gara dia menonton drama Korea tentang perselingkuhan, Lala menjadi lebih takut Keenan berselingkuh.


Dia membuka lemari pakaiannya, diambilnya lingerie berwarna maroon kemudian dengan setengah hati dia memakainya.


Lala berjalan keluar kamar, dilihatnya Keenan sedang berbicara di telepon entah dengan siapa, tapi raut wajahnya begitu serius. Keenan melirik Lala yang berjalan mendekat, seketika matanya terkunci pada tubuh Lala yang berjalan ke arahnya.


"Oke. Besok siapkan saja dokumennya. Saya tutup." ucapnya bertepatan dengan Lala yang duduk dipangkuannya.


Tanpa banyak kata, Keenan langsung melum*t dengan kasar bibir Lala. Tangannya sudah aktif menjalar menuju spot favoritnya yang kini menjadi favorit anak semata wayangnya juga.


"Love you Mom. Kamu seksi banget." ucapnya seraya menatap Lala.


"Suka?" tanya Lala seraya membuka kancing kemeja Keenan.


Tanpa menjawab, Keenan kembali mel*mat bibir ranum yang menjadi candunya. Tanpa sadar, keduanya kini telah berada di kamar mereka. Keenan kini sudah bertelanjang dada sambil membuka ikat pinggang miliknya. Lala tersenyum saat Keenan menatapnya dengan penuh ga*rah.


Keenan mendekati Lala, dia membenamkan wajahnya diceruk leher Lala membuat Lala kelonjakan.


"Abang, pelan ya.. " bisik Lala memeluk punggung Keenan.


Keenan mengangguk. "Kamu rileks aja." ucapnya saat hendak melakukan penyatuan mereka.


"Aw.." seketika dering ponsel Lala berbunyi.


"Bang.. " konsentrasi Lala teralihkan.


"Tanggung sayang."


"Ya udah cepetan."


Ponsel Lala berdering kembali.


"Awas dulu ah. Takutnya Kenzie." Lala menggulingkan tubuh Keenan kesamping membuat Keenan sedikit kesal.


"Iya Bu?"


"Kamu dimana La? Kenzie demam."


"Oke, aku pulang sekarang."


.


.


.


Yuhuuu seperti biasa like, komentar, vote.


Oya, follow igehku juga : only.ambu


Terima kasih ^^