My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Apa Aku Salah?



Hampir empat bulan sudah mereka menjalani pacaran. Aktifitas Keenan semakin padat. Namun dia tetap berusaha semaksimal mungkin untuk bertemu dengan Lala, walaupun kini waktu dan pikirannya terkikis oleh urusan perusahaan sang Papa tercinta.


Beberapa minggu ini mereka harus menahan rindu karena kesibukan Keenan yang bolak balik ke luar Kota demi menuntaskan pekerjaannya.


Kinerja Keenan yang hampir menginjak dua bulan, cukup membuat Papanya bangga. Dengan kemampuan dan keuletannya, sedikit demi sedikit membuat grafik perusahaan merangkak naik kembali walaupun masih jauh diluar target yang diberikan Papanya.


"Bee, aku ke Mall dulu ya.. Ibu hamil ngajak makan bakso." Lala melaporkan kegiatannya pada Keenan.


Walaupun pertemuan mereka kini terbatas, namun sebisa mungkin mereka tetap berkomunikasi.


"Dimana sekarang? Maaf aku habis dari cabang, Hon" Keenan membalas pesan tersebut setelah beberapa jam kemudian.


"Aku bisa pulang lebih awal?" tanya Keenan pada sekretarisnya.


"Bisa Tuan Muda. Namun besok pagi ada jadwal anda menemani bermain golf bersama Pak Broto untuk membahas akuisisi PT Lancar Jaya" ucap sekretarisnya


"Kenapa golf sih? Kenapa gak football atau futsal" gerutunya


"Kenapa Tuan Muda?" tanya Sekretaris


"Enggak. Anda harus periksa ke THT." ucap Keenan seraya berlalu meninggalkan sekretarisnya.


Keenan merasa sangat senang karena hari ini dia mendapat kebebasan setelah disibukan dengan aktifitasnya.


Keenan masuk ke dalam mobil. Dia membuka jasnya, menggulung lengan bajunya kemudian membuka dasi yang dipakainya. Dua kancing baju bagian atasnya sengaja dia buka agar terlihat lebih 'hot' di depan pacar kesayangannya. Tak lupa juga, dia sengaja meneggerkan kacamata hitam miliknya. Dan sejenak menatap cermin serta merapikan bulu alisnya agar terlihat lebih sempurna.


"Let's go" gumamnya seraya menyunggingkan senyuman.


Tiba di depan Kantor Lala, dia melihat jam yang melingkar ditangannya.


"Lima menit lagi" gumam Keenan.


Dia menatap cermin kembali sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


"Perfect" ucapnya.


Tiba-tiba seseorang mengetuk kaca mobil miliknya. Keenan menurunkan kacanya.


"Maaf Mas, parkirnya pindah ke depan. Mau bongkar muatan." ucap petugas parkir.


Keenan memindahkan mobilnya lebih jauh, dan menepikan mobilnya di depan mobil truk yang tengah parkir sebelumnya.


"S*al! Dia gak bisa lihat mobilku" gerutu Keenan.


Keenan mencoba menelepon Lala namun tak jua terhubung. Dia masih mengedarkan pandangannya. Tak berapa lama sebuah ojek online dengan Lala sebagai penumpangnya melintas melewati mobilnya.


Keenan segera keluar dari mobilnya.


"Laaaaa" teriak Keenan.


"Lalaaaa" Keenan masih berteriak hingga Lala sedikit menoleh ke belakang. Tak berapa lama ojek online pun berhenti lebih jauh dari mobil Keenan.


Keenan masuk ke dalam mobilnya setelah melihat dari kejauhan ojek Lala berhenti.


"Tiap mau surprise sama dia selalu gagal!" gerutunya.


Lala tersenyum senang saat mobil Keenan mendekat sementara Keenan menampakan wajah kesal.


"Kamu tuh di telepon sibuk terus!" kesal Keenan begitu Lala masuk ke dalam mobil.


"Maaf, tadi tukang ojeknya telepon. Nanya-nanya gitu." Ucap Lala


"Kamu kok jemput Bee? Gak sibuk?" tanya Lala senang


"Salim dulu!" Keenan tak menjawab pertanyaan Lala.


"Astaga!" Lala segera mengecup punggung tangan pacarnya


"Anting kenapa gak di pakai? Sengaja biar orang-orang ngiranya kamu masih single. Gitu?"


"Ya ampun Bee.. Tadi aku buru-buru, lupa makanya nih gak pakai anting juga."


"Abangnya posesif amat. Dihalalin juga belum" ketus Lala kemudian


"Sabar. Kan masih tahap mendapatkan kepercayaan Papa." ucapnya


"Jangan marah-marah dong, Bee. Aku kan tadi buru-buru. Lagipula kita baru ketemu masa mukamu begitu ih."


"Ini lagi kancingnya dibuka. Kamu mau masuk angin? Sengaja banget!" gerutu Lala seraya mendekat lalu mengancingkan kemeja Keenan


'Ya Tuhan! Gak ngerti lagi sama pikiran si Lala!' gumam Keenan


"Dasar gak gaul" gerutu Kenan


"Apa?"


"Gak apa-apa" ucapnya


"Dah, yuk pulang" ajak Lala


"Enak saja pulang"


"Terus kemana?"


"Basecamp"


"Malu ah, numpang pacaran di kedai"


"Numpang? Eh aku juga bosnya ya di sana" ucap Keenan


"Gak pulang saja? Ibu nanyain tuh, kamu gak datang-datang"


"Iya nanti mampir Hon, harusnya kamu bilang dong sama ibu kalau calon mantunya lagi sibuk."


"Sudah. Tapi ngiranya kita berantem."


"Iya nanti kita kesana. Sekarang kita ke kedai dulu ya? Aku gak enak juga sama Mas Pram. Sudah lama juga gak kesana."


"Ya sudah, ayo jalan Pak supir." Lala melingkarkan tangannya di lengan Keenan.


Mereka terdiam. Lala merasa nyaman memeluk lengan pacarnya. Dia rindu suasana seperti ini.


"Bee, akhirnya kita ketemu ya. Kangen banget tahu sama kamu" ucap Lala tanpa malu-malu


"Ya sama. Aku juga kangen makanya jemput kamu. Padahal enak tuh buat istirahat waktu senggang begini."


"Ya sudah sana pulang" Lala melepaskan pelukannya.


"Aku bilang kan aku juga kangen. Makanya aku belain gak istirahat demi kamu. Ngerti gak sih!"


"Iya. Gak usah ngegas dong."


Mereka terdiam. Keenan menarik tangan Lala dan menautkan jemari mereka. Dia mengecup lembut punggung tangan Lala seperti biasa.


"Tadi lama di Mallnya?" tanya Keenan


"Lumayan. Main game dulu"


"Kamu makan gaji buta ya? Masa kerja main game"


"Makanya enak punya bos baik hati kayak Bu Tasya." ucapnya seraya tertawa


"Kamu jadi sekretarisku saja biar gak makan gaji buta" ucap Keenan


"Haha.. Enggak. Kalau bosku modelan kayak kamu pasti kerja romusa."


"Iyalah. Modelan kamu tuh harus dikerjain, tahu!"


"Jahat banget Abangnya"


"Tahu gak dikerjain apaan?"


"Apa?"


"Lewat deh. Bocah mana ngerti" ucap Keenan


"Dih apa sih!"


***


"Bro.. Aku rinduu" Mas Pram hendak memeluk Keenan


"Mas.. Sorry aku gak pernah datang"


"Aku tahu dan aku mengerti, iya gak La?" ucapnya


"Jijik banget dengarnya juga!" ucap Keenan seraya begidig


"Kamu mau minum apa pengantin baru?"


"Ih mas, apaan sih manggilnya, Lala cantik kek."


"Haha.. Nanti aku kena tampar Bro Keen kalau bilang begitu, La"


"Aku mau seperti biasa Mas." Keenan menghentikan obrolan mereka


"Aku juga sama deh. Oya, mau pastri ya Mas. Hehe.. Terima kasih." ucap Lala


Mas Pram meracik sendiri pesanan mereka.


"Sejak kapan dia jadi barista Bee?"


"Enggak tahu, Hon. Kita kan jarang ngobrol sekarang. Grup mereka berdua yang rumpi, aku jarang balas."


"Kok kamu gitu Bee?"


"Bisa balas chat kamu saja aku sudah bersyukur banget, Hon. Kamu tahu sendiri kan kerjaan aku bagaimana?"


"Jadi kapan kalian serius?" Mas Pram membawa pesanan mereka


"Ini juga kan serius. Mana ada aku main-main, Mas"


"Haha.. Iya iya."


"Kamu gimana? Lama gak jumpa si Tuti, kamu gak kangen Mas?"


"Haha...s*alan kau Bro. Eh tapi iya juga ya, yuk Kapan-kapan kita kesana." ajak Mas Pram


"Siapa sih Tuti, Bee?"


"Selingkuhan Bro Keen, La"


"Haha.. Kamu kali Mas. Dari awal kamu kan sudah cinta mati sama dia" ucapnya


"Haha.. S*alan."


Keenan dan Mas Pram asyik berbincang hingga tak terasa kedai hendak tutup.


"Aku pamit ya Mas" ucap Keenan


Keduanya membisu saat masuk ke dalam mobil.


"Hon, beli martabak dulu."


"Gak usah. Udah malam, ibu juga udah tidur. Kamu gak usah ke rumah aja!" ketus Lala


"Kamu kenapa sih Hon?"


Keenan terdiam.


"Maaf aku keasyikan."


"Lain kali kalau kamu mau reuni, reuni saja sendiri!" kesal Lala


"Kan sambil menyelam minum air, Hon"


Lala terdiam. Dia enggan berdebat.


Keenan menepikan mobilnya di tukang martabak pinggir jalan.


"Gak usah! Ibu sudah tidur. Kamu gak usah ke rumah juga!" ketus Lala


"Kamu kok gitu Hon?"


"Aku?" tanya Lala ketus


"Iya aku salah. Tapi apa salahnya aku ke rumah kamu sebentar. Ibu pasti nunggu kamu. Gak mungkin Ibu tidur saat anaknya belum pulang!"


"Kalau pun Ibu belum tidur, kamu gak usah ke rumah." ketus Lala


"Apa sih Hon! Kenapa kamu marah-marah?"


"Kita lama gak ketemu tapi bukannya fokus ketemu aku, kamu malah asyik sama Mas Pram!"


'Gak mikir apa aku tuh kangen banget! Tapi dia kayak begitu!' gerutunya dalam hati


"Iya maaf. Aku keasyikan."


Lala diam tak meresponnya. Mereka tak saling bicara hingga tiba dirumah.


Lala segera keluar dari mobil Keenan dan menutup pintunya keras-keras.


"Hon!"


Lala tak mau menolehnya. Dia segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rumahnya.


"Dari mana kamu La? Jam segini baru pulang!"


"Maaf Bu, aku jenguk teman sakit" bohong Lala. Dia bergegas ke kamar mandi, malas mendengar omelan Ibunya.


Lala merebahkan tubuhnya, beberapa pesan masuk dan telepon dari Keenan, dia abaikan begitu saja. Lala lebih memilih mematikan ponselnya dan tidur setelah puas menangis.


***


"Cewek. Sendirian saja Neng. Yuk ikut Abang dangdutan." seseorang memperlambat laju sepeda motornya


"Sorry ya, aku bukan Neng-Neng." ucap Lala


"Oh maaf Mpok."


"Ih Mas Izam! Jahat banget"


"Haha.. Sorry deh La. Yuk mau bareng?"


"Boleh Mas?"


"Sesuai tarif ojek online saja." Izam tersenyum


"Oke. Berangkat kang ojek" Lala naik ke atas motor


Cekrek


Cekrek


Cekrek


Tanpa mereka sadari seseorang memperhatikan mereka seraya tersenyum. Dia nampak puasa setelah melihat hasil bidikannya.


"Mas Izam terima kasih ya buat tumpangannya. Untung ada ojek dekat rumah jadi gak telat." Lala tertawa


"Sama-sama La. Nanti potong gaji ya" Izam tersenyum


"Hehe dasar Mas Izam. Aku duluan ya Mas. Terima kasih loh"


Tiba diruangan, Lala segera menyalakan ponselnya. Dia sebenarnya malas, namun dia juga penasaran.


Dia membaca satu persatu pesan dari Keenan. Lala semakin kesal saat membacanya karena seolah tak ada satupun yang menunjukan rasa penyesalan Keenan.


Saat sedang membaca pesan, dering ponsel Lala berbunyi dengan nama 'Bee' tertera disana. Lala mendiamkan ponselnya. Hingga tiga kali panggilan sama sekali tak dia jawab.


"Ada apa denganmu, LASHIRA!" Lala membaca pesan tersebut. Dia sudah membayangkan wajah Keenan yang marah. Namun dia tak peduli, dia jauh lebih kesal pada Keenan.


***


Tiga hari sudah, Lala sengaja memberontak pada Keenan. Dia tidak memperdulikan semua pesan dan panggilan telepon dari Keenan.


"Biar kamu juga tahu rasa, Keen!" ucap Lala saat melihat pesan dari Keenan.


Dengan malas, Lala keluar dari kantor. Dia berjalan keluar gerbang seraya mencari ojek yang menunggunya hingga pandangannya beradu dengan lelaki berambut tebal yang menyandarkan tubuhnya di mobil sedan miliknya.


"Hon."


Lala membuang muka, dia berjalan melewati Keenan menuju ojek yang menunggunya. Namun tangan Keenan menahannya.


"Masuk gak?" bentak Keenan


Tukang ojek tersebut turun dari motornya.


"Mbak Lala?"


"Iya saya Mas"


"Loh Mas kenapa tarik penumpang saya?"


"Saya suaminya!" ucapnya membuat Lala terbelalak


"Masuk" Ucap Keenan membuat Lala sedikit menciut.


Keenan mengeluarkan uang dan memberikannya pada ojek tersebut.


"Cancel saja, Mas!" ucapnya seraya menyerahkan uang


"Jangan kasar ya Mas sama istrinya." pesan ojek tersebut.


Keenan tak mendengarkannya. Dia segera masuk ke dalam mobil.


"Kesalahanku fatal? Sampai kamu menghindar begitu?"


"Kenapa? Kamu butuh aku?" tanya Lala


"Aku gak habis pikir sama kamu, hanya masalah segitu saja kamu sampai semarah ini?"


"Hanya? Kamu gak mikir apa, kangennya aku sama kamu kayak gimana! Tapi kamu asyik-asyikan ngobrol sama Mas Pram. Sudah gitu, kamu menyepelekan Ibu"


"Aku juga kangen sama kamu, Hon. Aku kan bilang, mau ketemu Ibu"


"Bullsh*t!"


Mereka terdiam.


"Aku minta maaf, Hon."


"Iya aku salah. Harusnya kita berdua saja gak usah pedulikan apapun." ucap Keenan


"Aku juga tahu diri! Bukan berarti kamu gak boleh ketemu orang lain. Tapi aku harap kamu juga bisa bagi waktumu!" ketus Lala


"Aku minta kamu ketemu Ibu, tapi apa? Sudahlah! Aku kecewa sama kamu!" ketus Lala


"Iya, aku minta maaf, Hon. Hari ini sengaja aku cancel jadwalku cuma buat ketemu kamu."


"Tidak usah membuang waktu berhargamu hanya untuk orang sepertiku!" ucap Lala


"Terus aku harus bagaimana?"


"Pulang sana! Aku gak butuh kamu lagi!"


"Hon. Maaf. Iya aku salah."


Lala tak bergeming.


"Maaf, aku gak bisa tidur Hon, hanya memikirkanmu." ucap Keenan


"Bukan urusanku!"


"Kamu tega? Kalau aku sampai sakit, bagaimana?"


"Aku tak peduli!"


"Astaga! Lashiraaa kenapa kamu jadi keras kepala begini?" Keenan msngacak asal rambut bekalang kepalanya


"Aku harus bagaimana?"


"Pulang sana!"


"Aku sebel sama kamu!" lanjutnya


"Iya maaf."


"Nih gigit saja, biar hilang marahmu" Keenan menyodorkan tangannya.


Lala melihatnya sepintas.


"Ayo gigit saja, Honey. Lampiaskan amarahmuq kayak biasanya" ucapnya masih memberikan tangannya.


"Aku gak suka lagi sama kamu, Keenan! Aku gak suka orang yang menganggap enteng orangtua. Kamu lelaki pertama yang aku bawa ke rumah sebagai pacarku. Tapi apa balasannya untukku?"


"Iya aku minta maaf Hon. Aku salah."


"Terlalu banyak bergaul sama orang besar hingga lupa sama orang kecil seperti kami."


"Maksudmu apa? Aku gak membeda-bedakan Hon. Demi Tuhan"


"Gak usah bawa-bawa nama Tuhan. Sudahlah Keen, aku sudah kecewa." kesal Lala


Lala menarik nafasnya panjang.


"Aku mau kita putus."


"Aku gak mau! Cuma gara-gara itu! Aku tahu aku salah. Aku gak akan mengulangnya lagi, Hon. Aku janji."


Lala terdiam cukup lama, begitupun dengan Keenan yang mulai putus asa membujuk Lala.


'Salah kalau aku egois ingin memilikimu Keen? Ingin bersamamu di sisa waktumu, apa aku salah? Tuhan maaf kalau aku serakah. Mungkin kalau aku tak cinta, aku juga tak akan seperti ini.' batin Lala


.


.


.


Temaaansss.. Maaf yaa up nya kemalaman. Terus dukung HonBee yaaa.. Jangan lupa like dan komentarnya. Oya, vote yang banyak. Terima kasih ^^