My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Mencoba Pergi



Lala memeluk boneknya erat-erat. Dia merekatkan giginya agar suara tangisnya tak terdengar oleh siapapun. Sesekali dia memukul dadanya yang terasa sesak.


Dia menangkup cincin di dadanya. Terkadang dia menciumi cincin tersebut dengan derai air matanya yang tak terbendung. Hatinya bagai disayat sembilu. Perih dan luka teramat dalam.


Dia marah pada takdir yang menimpanya. Semua yang terjadi seakan mimpi buruk untuknya. Kebahagiaannya terenggut begitu saja oleh luka yang entah siapa yang harus dia salahkan.


Kini Lala memeluk ponsel kesayangannya. Dia bertingkah seperti orang gila. Kadang dia berjongkok, berdiri, mengacak rambutnya hingga mengepalkan tangannya untuk meluapkan semua rasa yang dia tahan. Tangisnya kini melemah seolah air matanya telah kering. Lala hanya menatap ponsel tanpa melakukan apapun.


***


Beberapa kali Keenan menghubungi Lala saat dia menunggu jadwal keberangkatan pesawat yang akan ditumpanginya.


"Astagaaaa! Kemana sih ini anak!" Keenan kesal saat nomor ponsel Lala terdengar tidak aktif. Dia merasa cemas sendiri. Hingga akhirnya dia harus mengalihkan ponselnya ke airplane mode saat pesawat mulai take off.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, Keenan akhirnya berada di apartemen milik keluarga mereka. Disana sudah ada Karina yang hendak pergi ke rumah sakit mengunjungi sang Papa.


Keenan sama sekali tak menegur Karina walaupun mereka berada di ruangan yang sama. Begitupun Karina, dia segera berlalu keluar apartemen saat Keenan masuk ke dalam kamarnya.


"Sehat Sayang?" sapa Mama Keenan saat Keenan tiba di rumah sakit.


"Sehat Ma. Mama bagaimana?"


"Mama begini saja."


"Lala kenapa gak di ajak?"


"Enggak bisa cuti dia Ma."


"Tapi dia baik-baik saja kan? Kalian tidak bertengkar kan?"


"Baik Ma. Kalau bertengkar, tiap ketemu pasti kita bertengkar Ma. Tapi masih dalam batas wajar." Keenan tersenyum.


"Baguslah" Mama mengusap lembut lengan anaknya.


"Gimana Papa, Ma?" Keenan bertanya balik.


"Papa sudah mendingan."


"Kapan bisa pulang Ma?"


"Mama belum tahu, dokter juga belum bilang kapan Papa bisa pulang. Moga saja bisa segera pulang. Mama sudah bosan disini"


"Moga saja bisa bareng aku nanti pulangnya biar sekalian, Ma."


* Rumah Lala *


"Laaaaa... Kamu gak kerja?" Ibu bersuara kencang.


"Aku gak enak badan, Bu." Lala terpaksa berbohong. Dia merasa malu saat melihat di cermin matanya lebih bengkak dari sebelumnya.


"Kamu sakit?" Ibu masuk ke dalam kamar. Tapi Lala menutupi wajahnya dengan selimut.


"Ya sudah istirahat saja." Ibu keluar dari kamar tak banyak bertanya.


"Gimana aku menghubungi kantor kalau aku gak masuk ya?" Lala memutar otaknya.


Mau tak mau dia menyalakan ponselnya yang daei semalam dia matikan. Dia melihat beberapa pesan dari Keenan namun Lala langsung menghapus seluruh pesan dari Keenan tanpa dia baca satu pesan pun.


Lala menghubungi pihak kantor untuk meminta izin, setelah dirasa selesai dia segera mematikan ponselnya kembali.


Lala melirik benda pemberian dari Keenan.


'Tuhaan maafkan diri ini, yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya.' terlintas bait lagu dalam pikirannya membuatnya semakin pilu


'Demi Ibu, aku gak boleh goyah. Jangan egois wahai Hatiku. Kamu cuma punya Ibu. Satu-satunya orang yang kamu miliki saat ini.' batin Lala


***


Keenan duduk di ruang perawatan Pak Wijaya sambil memangku laptop miliknya . Dia sibuk melihat grafik dalam layar tersebut. Sesekali dia mengecek ponselnya.


"Si Honey kemana sih?" Keenan berdiri kemudian menatap ke luar gedung dari balik jendela kamar rumah sakit.


"Makan dulu, Nak." Ibu masuk ke dalam ruangan Papanya.


"Iya Ma, aku keluar dulu." Keenan merapikan peralatan miliknya kemudian keluar kamar.


Tak berselang lama dari kepergian Keenan, Pak Wijaya membuka matanya.


"Keenan baru saja keluar, Pa. Papa tidur terus sih." Mama Keenan menaikan kasur suaminya.


"Sama Lala?" tanyanya


"Enggak, katanya Lala gak bisa cuti."


"Minum, Ma" pinta Pak Wijaya.


Dengan sigap dia memberikan air mineral di sampingnya.


"Sudah enakan Pa?" tanya Karina.


"Sudah. Terima kasih sudah mau menemui Papa, Kak. Papa senang Anak Papa kumpul semua." ucap Pak Wijaya.


"Iya. Mama minta mereka datang."


"Terus kerjaan mereka siapa yang urus?"


"Jangan pikirkan kerjaan terus, Pa. Kita sudah lama tidak kumpul seperti ini."


"Mau panna cotta?" Mama Keenan memperlihatkan makanan pada Pak Wijaya.


"Iya."


"Kak, kamu tak apa meninggalkan pekerjaanmu?" tanya Pak Wijaya lembut.


"Tidak Pa."


Keenan berjalan menuju tempat makan yang dia inginkan. Lokasi rumah sakit yang strategis, memudahkan dia untuk mencari apapun disana.


Keenan masuk ke sebuah kafe. Dia memesan makanannya kemudian mengambil ponselnya untuk melakukan video call dengan Lala. Lagi-lagi Keenan harus menelan rasa kecewa, tak ada jawaban disana. Semua pesan yang dia kirim pun belum dibaca oleh Lala.


"Mustahil kalau dia gak punya pulsa." gumam Keenan. Dia makan dengan enggan karena pikirannya teralihkan pada Lala.


Sementara Lala kini mengompres matanya. Ibu tak banyak bicara setelah melihat mata Lala yang bengkak. Ibu hanya memperhatikan raut wajah gadisnya. Sedikit rasa bersalah terbersit dibenaknya pada Lala.


"Kemarin Ibu Gunawan menanyakan kamu, La" Ibu membuka suara.


"Mau apa?"


"Ya nanyain aja! Anak Ibu kan cuma kamu."


"Oh"


"Dia suka sama kamu katanya. Kok gak pernah ketemu lagi. Sekakigkali kamu main ke rumahnya, La"


"Mau apa sih Bu ketemu juga? Teman juga bukan."


"Kamu kalau orangtua ngomong bisanya cuma menyela." gerutu Ibu melanjutkan pekerjaannya.


***


Keenan merasa frustasi setelah tiga hari dia tak bisa menghubungi Lala. Wajahnya nampak kusut, dan ponselnya tak henti dia tatap.


"Kamu kenapa sih? Kok gelisah begitu?"


"Lala gak bisa dihubungi Ma, sudah tiga hari. Aku khawatir sama dia."


"Mungkin dia sibuk." timpal Pak Wijaya


"Gak mungkin lah Pa! Aku tahu pekerjaannya dia seperti apa!" keenan sedikit membentak Papanya.


"Sabar, baru juga beberapa hari kamu jauh dari dia." Sindir Mama Keenan. "Papa, Mama pergi kamu gak segelisah ini."


"Aku sudah biasa di tinggalkan Papa Mama. Tapi dia gak biasa seperti ini." ketusnya


Keenan meraih tasnya. "Aku keluar dulu, Ma."


Papa dan Mama Keenan saling diam.


"Jangan-jangan Lala sudah tahu, Pa?" tanya Mama Keenan cemas.


"Mana kita tahu, Ma" Papa Keenan menerawang.


"Sudahlah, Papa gak usah banyak pikiran. Tahu calon besanmu itu mantan tunanganmu saja, kamu masuk rumah sakit." gerutunya.


Mereka terdiam kembali.


"Apa kita gak sebaiknya jujur saja sama Keenan? Lambat laun dia pasti tahu." Mama Keenan nampak menimang.


"Entahlah, Papa rasanya gak siap. Papa takut Keenan membenci kita, Ma." kini wajahnya nampak penuh penyesalan.


"Mau gak mau Pa. Itu konsekuensi kita. Lagi pula kita gak bisa melawan takdir kan?" Mama Keenan ketus.


"Iya tahu kita gak bisa melawan takdir, tapi cara kita yang dulu itu salah! Tiba-tiba aku menikahimu tanpa memutuskan ikatankundengannya terlebih dahulu!"


"Aku meninggalkannya begitu saja hingga membuat satu perusahaan geger! Apa kamu tak ingat?" Papa nampak sedikit emosi.


"Turunkan bedku." ketus Papa Keenan.


"Apa ini karma untuk kita, Pa?"


"Bisa jadi karena kita telah menyakiti hatinya. Barangkali ada doanya yang terkabul."


"Mana mungkin dia berdoa agar besanan sama kita?"


"Semuanya kembali lagi pada takdir." Papa Keenan menatap langit-langit kamarnya.


"Aku akan bicara dengan Tita saat pulang nanti." Mama Keenan duduk di sofa.


"Untuk apa? Kau mau menambah lukanya? Kamu lihat sendiri kan kemarin kita ke rumahnya, bagaimana dia bersikap?" Pak Wijaya memijit pelipisnya.


"Sudah sangat terlambat." dia melirik istrinya sepintas.


"Setidaknya dia tak memanfaatkan anaknya untuk membalaskan sakit hatinya, Pa"


"Dia bukan orang licik, Ma! Apa selama ini dia mengusik hidup kita?"


"Kamu masih mencintainya? Dari tadi kamu membela wanita itu."


"Kamu jangan bicara omong kosong! Aku tak mau berdebat lagi." Papa Keenan memejamkan matanya.


Disisi lain, Ibu merenung seorang diri. Dia nampak tak bergairah untuk melakukan apapun.


Ibu sesekali menyeka air matanya. Dia bimbang dengan keputusannya. Dia menginginkan kebahagiaan putrinya, tapi dia takut putri kecilnya disakiti oleh keluarga Keenan.


Dia ingin Lala menikah dengan pria yang di cintai putrinya, tapi dia juga tak rela Lala menjadi menantu dari pasangan yang telah mengkhianatinya.


'Apa yang harus aku lakukan' batin Ibu.


***


Lala mulai menjalani hari-hari beratnya. Dia tak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia sangat merindukan sosok lelaki yang telah memenuhi hatinya.


"Ojek Neng?"


"Ih Mas Izam ngagetin tahu gak?"


"Makanya jangan ngelamun, nanti kesambet loh."


"Enggak lah, aku kan pawangnya."


Izam tertawa. "Ayo mau bareng?" ajak Izam.


"Enggak Mas. Aku udah pesan ojek. Gak enak kalau di cancel." ucap Lala


"Ya sudah, aku duluan kalau begitu, La."


"Hati-hati dijalan, Mas."


Lala menelusuri jalanan dengan berjalan kaki hingga tiba di halte bis. Pikirannya yang kacau membuatnya enggan pulang ke rumah lebih cepat.


Lala mulai memesan ojek online disana. Dia tak bisa menikmati perjalannnya seperti biasa.


Setelah bergumul dengan debu jalanan. Kini Lala masuk ke dalam minimarket. Kebiasaan barunya membeli es krim dan cokelat selepas pulang kerja. Lala sengaja duduk di luar minimarket untuk menikmatinya.


"Sendirian saja Neng, kaya roda sirkus" Mas Izam menyandarkan tubuhnya menatap Lala


"Dia lagi dia lagi." gerutu Lala membuat Izam tersenyum.


"Sini duduk Mas." Lala membuka plastik kemudian memberikan es krim pada Mas Izam.


"Asik.. Di traktir Lala." Mas Izam duduk disebelahnya kemudian membuka cup es krim miliknya.


"Lagi sedih La?"


"Mas Izam kalau aku jajan es krim pasti bilangnya lagi sedih terus." ucap Lala


"Haha bener kan?"


"Lagi pengen aja Mas." Lala mengelak.


"Bukannya pulang ke rumah malah keluyuran dulu. Gak kasihan sama Ibu?"


"Ya elah Mas, deket ini."


"Pulang dulu kek, La. Baru kesini" ujarnya


"Ya udah. Aku pulang sekarang deh" ucap lala hendak beranjak.


"Ih, aku kan belum beres." Mas Izam menahannya.


"Tadi kan nyuruh pulang, Mas? Gimana sih!" Lala ketus pada Izam


"Wow.. Takut nih, Lala lagi galak."


"Udah ah aku pulang ya Mas"


"La.. La.. Maf deh. Aku becanda."


"Maaf juga Mas, aku lagi males becanda." Lala pergi meninggalkan Mas Izam.


***


"Sudah seminggu." ucap Lala seraya menghela nafas panjangnya. Tak dipungkiri dia teramat sangat merindukan sosok lelaki yang telah terbiasa hadir di hidupnya.


"Aku harus menyiapkan mental" gumamnya kemudian. Dia yakin, Keenan akan menemuinya dan meminta kejelasan pada Lala.


"Belum pulang kamu, La?"


"Sebentar lagi Mas Agus. Mas Agus belum pulang?"


"Kan nungguin kamu." Agus tersenyum.


"Dih! Apaan sih" Lala memoles dirinya sebelum dia meninggalkan ruangannya.


Sejujurnya dia takut keluar gerbang. Dia takut kalau Keenan menantinya. Lala berjalan dengan sangat lambat sambil sesekali menoleh sekeliling seolah Keenan akan ada disana.


"Woiii" Seseorang mengagetkannya dari belakang.


"Ngapain sih jalan kayak begitu?"


"Ck.. Pak Reza kalau aku jantungan, tanggung jawab ya!" kesal Lala


"Haha.. Sana pulang. Tumben kamu telat."


"Pak Reza juga tumben belum pulang."


"Suka-suka aku lah."


"Dih si Bapak!"


"Aku habis kontrol gudang. Masa harus laporan sama kamu."


"Ya enggak juga. Kan aku nanya doang. Udah ah, aku pulang duluan."


"Heh!"


"Apa si Pa?"


"Salim dulu!"


"Astagaa.. Bapak mau jadikan aku istri kedua? Jangan Pak. Nanti aku di goreng Ibu"


"Enak aja! Istri muda aku modelan kamu begini mah, paling dia ngetawain"


"Ya Tuhan.. Maafkanlah hamba" Lala menengadahkan tangannya


"Haha.. Udah sana pulang. Hati-hati dijalan"


"Salam buat Ibu dan pangeranku ya Pak. Tolong bilang sama pangeran Vano, Kakak menunggunya."


"Amit-amit jabang bayi" Reza mengetuk kepalanya.


Lala berjalan ke depan menunggu ojek pesanannya tiba.


"Hhhh... Syukurlah dia gak ada" ucap Lala


Tanpa dia sadari, seseorang mengikutinya dari kejauhan.


***


Lala menggerutu kesal karena hampir dua minggu sudah, dia dan Keenan tak bertemu. Keenan juga sama sekali tak memberinya kabar.


Lala semakin penasaran dan khawatir. Dia ingin sekali menghubungi Keenan tapi dia teringat akan Ibunya.


"Happy Weekend Lalaaa" Mas Agus melambaikan tangannya saat di pintu gerbang.


"Dih apaan sih!"


Lala berjalan keluar gerbang. Dia terlonjak kaget saat melihat lelaki yang diharapkannya berdiri di depan mobil kesayangnya sedang menatapnya intens dibalik kacamata hitam yang sengaja dia gunakan.


'Samperin gak ya?' batin Lala bimbang.


Dia masih mematung di tempatnya hingga lelaki dihadapannya bergerak mendekat.


"Jangan buang waktu" ucapnya datar seraya menarik lengan Lala.


Mereka saling membisu membuat degup jantungnya terasa berdetak lebih kencang. Keenan melajukan mobilnya dengan gayanya yang santai seperti biasa. Sesekali dia melirik Lala dari sudut matanya yang tertutup kacamata.


Kini mereka tiba di sebuah apartemen yang sangat asing bagi Lala. Tak banyak bicara, Keenan menarik tangan Lala untuk masuk ke dalam gedung yang menjulang tinggi tersebut.


Lala sedikit takut pada Keenan. Dia takut Keenan akan melakukan sesuatu yang aneh kepadanya. Mereka masuk ke dalam lift yang berhenti di lantai delapan belas.


Lala berjalan mengekori Keenan. Keenan membuka daun pintu dan masuk ke dalam apartemen mewah tersebut.


Keenan membuka kacamatanya menatap Lala, pandangan mereka beradu hingga Lala memalingkan wajahnya yang terasa memanas. Mereka saling diam dan mematung. Keenan berjalan mendekati Lala membuat Lala semakin salah tingkah.


"Aku merindukanmu, Honey" Keenan memeluknya erat.


.


.


.


Lanjut gak ya? Apa di tamatin aja nih? Jangan lupa like dan komentarnya yaaa.. Bantu vote juga temans. Terima kasih ^^