My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Istri Tuan Muda



Lala masih kesal saat menyiapkan baju untuk Keenan. Bagaimana tidak? Harga dirinya diruntuhkan seketika oleh suaminya sendiri. Padahal dia sengaja ingin membuat suaminya terpesona. Dasar Keenan! Jangankan terpesona, dia malah terbahak tiada henti membuat Lala sedikit sakit hati.


"Kamu kalau bosan, jalan-jalan saja di pantai, Yong. Nanti makan siang, Abang pulang." ucap Keenan saat keluar dari toilet.


"Apa kamu mau ikut Abang kesana?" tanyanya kemudian.


Lala sama sekali tak menanggapi ocehan Keenan.


"Hon." Keenan masih mengajaknya bicara, tapi Lala sama sekali mengacuhkannya.


"Kamu marah gara-gara semalam?" tanyanya


"Abang kan sudah minta maaf, Hon. Lagipula Abang.."


Lala berlari ke toilet membuat Keenan terkejut dan mengikutinya. Dia memuntahkan cairan dari dalam perutnya.


"Pasti kamu masuk angin. Mana belum sarapan." ucapnya seraya membantu memegang rambut Lala.


Lala membasuh mulutnya sementara Keenan masih berada di belakangnya. "Pasti gara-gara kamu.."


"Berisik!" ketus Lala.


Keenan terdiam seketika. Dia menghubungi pihak hotel meminta sarapan dan air hangat sementara Lala terkulai lemas di atas tempat tidur.


Keenan menatap wajah pucat sang istri. Dia mengelus lembut rambutnya. "Maaf.. Abang semalam bukan ketawa gara-gara kamu pakai baju itu. Suami mana yang gak suka istrinya memakai baju menggoda, cuma Abang ketawa sama tingkah kamu yang nguping Abang di depan toilet. Lucu saja sih menurut Abang. Kamu ngapain coba pakai nguping segala?" Keenan tersenyum


"Kenapa kamu gak masuk ke dalam saja sekalian? Abang milik kamu, kamu mau berbuat apapun ke Abang, Abang mah pasrah, Yong."


Lala menyubit keras lengan Keenan. "aw... Sakit, Yong!" protes Keenan


"Kata kamu pasrah!" ketus Lala


"Maksudnya celup-celup diapain aja Abang pasrah, sayang." Lala mendelik sebal.


Lala kini tengah disuapi Keenan. Walaupun beberapa kali menolak tapi Keenan tetap memaksanya.


"Abang jadi setengah hati mau ninggalin kamu disini, Yong."


"Sana. Kamu pergi saja."


"Abang nanti kepikiran kamu lagi disana. Duh gimana ya.." Keenan nampak berpikir serius.


"Aku gak apa-apa. Sana pergi aja!" ketus Lala


"Abang berangkat ya, nanti makan siang Abang janji sudah disini. Kamu kalau ada apa-apa segera telepon Abang atau hubungi pihak hotel."


Lala hanya mengangguk.


"Abang tinggal ya" Keenan mengecup seluruh wajah istrinya, namun saat hendak mendaratkan kecupan terakhir di bibir Lala, Lala memalingkan wajahnya. "Hon, maaf. Sudah dong marahnya. Abang gak maksud nyinggung kamu soal baju. Tapi sama tingkah kamu saja yang bikin Abang tertawa. Jangan marah lagi sayang." Keenan mel*mat bibir Lala.


Lala tertidur kembali setelah Keenan pergi. Namun baru satu jam pergi, suara ponsel membuatnya terbangun.


"Hallo.."


"Kamu muntah lagi gak sayang?"


"Enggak" ucapnya dengan suara serak


"Abang lupa, gak beli obat buat kamu."


"Gak usah. Aku udah enakan, barusan tidur."


"Serius?"


"Iya."


"Ya sudah kamu tidur lagi. Love you unlimited." Keenan menutup teleponnya.


"Dasar manusia aneh!" gerutu Lala.


***


Sore hari, Lala keluar hotel setelah merasa bosan seharian di kamar. Dia menikmati senja dengan semilir angin yang membuatnya merasa tenang.


Lala sengaja melepas sepatu yang dikenakannnya. Kini kakinya bersentuhan dengan pasir. Sesekali, dia memainkan jemarinya di dalam pasir sambil tersenyum.


Getaran ponsel mengusik kesenangannya seketika, Lala mengambil ponsel didalam tas kecil miliknya.


"Hallo.."


"Kamu dimana!"


"Pantai."


"Nakal banget sih! Aku suruh diam juga! Sudah tahu disana anginnya kencang!"


"Enak. Segar tahu, Bee."


Keenan mematikan ponselnya secara sepihak.


"Dasar si Bambang suka rese!" ketus Lala.


Sore yang syahdu membuatnya kembali terhanyut dalam lamunan. Tiba-tiba, seseorang melingkarkan tangannya dari belakang membuat Lala sedikit tersentak.


"Astaga Abang!"


"Sstt.. Biar kayak di film-film." ucapnya.


Lala tersenyum kecil. Keduanya membisu menikmati senja yang kian tenggelam.


"Kenapa matahari tenggelam?" tanya Keenan memecah keheningan diantara mereka.


"Karena berbagi tugas dengan Bulan"


"Bukan."


"Apa dong?" Lala memutar kepalanya menatap Keenan.


"Karena matahari gak bisa berenang." sontak Lala terbahak.


"Kamu kasih pelampung biar terapung, Bee."


"Kenapa matahari tenggelamnya sore hari?" tanyanya kemudian.


"Ya karena kalau malam takut berantem sama bulan."


"Salah."


"Apa?" Lala sudah tersenyum.


"Karena kalau malam takut dikejar satpol PP." Lala terbahak lagi.


"Dikata banci lagi mangkal, pake dikejar satpol PP. Astaga!" Lala masih tertawa.


"Udah enakan badannya?"


"Huum."


"Yuk kita makan." ajak Keenan saat matahari telah tenggelam sempurna.


"Makan apa?"


"Makan seafood kesukaan kamu." ajaknya


Keenan membawa Lala ke restoran seafood tepi laut. Alunan musik dan suasana yang romantis membuatnya merasa jadi wanita yang paling beruntung berada disamping Keenan.


"Makan yang banyak sayang." Keenan memotong ikan untuk Lala.


"Abang kok tahu tempat ini? Pernah kesini?"


"Iya, waktu itu di ajak teman kesini. Makanya Abang ajak kamu sekarang, pasti kamu suka."


"Banget. Terima kasih, sayang." Lala memeluk lengan Keenan.


***


Pagi-pagi sekali, Keenan membangunkan Lala. Lala yang masih ngantuk hanya menggeliat sambil membalikan tubuhnya.


"Ayo kita naik unta." bisik Keenan di telinga Lala.


Lala berbalik seketika dengan wajah heran. "Naik unta?"


"Yuk" ajak Keenan seraya mengecup kening istrinya.


Lala begitu bersemangat, dia segera mencuci mukanya dan bersiap untuk bermain bersama suaminya.


"Serius ada unta disini, Bee?" Lala tak percaya.


"Huum"


"Kamu gak kerja?"


"Sudah selesai kemarin, makanya hari ini kita nikmati fasilitas hotel." ajaknya.


Keenan dan Lala kini menaiki golf car menuju pantai. Lala begitu menikmati naik kendaraan tersebut. Pasalnya , ini merupakan kali pertama dia naik golf car.


Tiba di pantai, disana tengah menunggu sepasang unta untuk mereka tunggangi.


"Astaga! Aku pikir hanya ada di kebun binatang saja kita bisa naik unta, Bee." Lala meremas baju suaminya.


Keenan tersenyum.


"Ayo, aku juga sudah lama sekali gak naik unta." ajaknya.


Keduanya kini menyusuri pantai dengan menunggangi unta masing-masing.


Setelah selesai, kini mereka kembali ke hotel. Keenan mengajak Lala naik ke lantai 7. Mereka menaiki lift kaca transparan dengan pemandangan lautan lepas. Lagi-lagi Lala dibuat terpesona, nampak rona bahagia terpancar dari wajahnya.


"Kenapa baru sekarang kita naik lift kayak gini, Bee?" tanya Lala


"Karena ini lift khusus." ucapnya singkat


Lala masih bertanya dalam hati, hingga mereka tiba dilantai tujuh. Ternyata Keenan mengajaknya berenang.


"Astaga.. Apa ini mimpi?" gumam Lala.


"Dream come true, honey." Keenan memeluk pinggang Lala.


Privat pool dengan dinding kaca transparan menghadap lautan lepas.


"Ayo kita coba celup-celup disini."


"Cuma kita berdua disini sayang." bisiknya.


"Sana kamu ganti dulu." titahnya.


"Aku gak bawa baju renang." Baru saja berucap, suara bel terdengar. Tiba-tiba seorang wanita masuk menghampiri mereka. Dia memberikan paper bag untuk Lala kemudian keluar lagi. Lala mengintip isi paper bag tersebut ternyata sepasang b*kini. Lala diat malu seketika.


"Astaga Abang!" Lala nampak tak percaya. Dia merasa menjadi istri Tuan Muda yang sesungguhnya.


Tak butuh waktu lama, kini Lala tengah menggunakan b*kini. Seketika Lala teringat insiden semalam, Lala yang merasa malu, keluar dari toilet menggunakan bathdrobe.


"Kok pakai itu sih? Sini turun." Ajak Keenan yang telah lebih dulu berada di dalam air.


"Enggak. Abang saja." Lala cemberut.


Keenan keluar dari kolam. Dia membuka tali bathdrobe yang dikenakan Lala. Keenan memandang tubuh Lala seraya menelan salivanya.


Tanpa basa basi, Keenan mel*mat lembut bibir sang istri sambil melepaskan bathrobe Lala dan melemparnya ke kursi. Dia tersenyum manis, membawa Lala masuk ke dalam kolam.


Lala seketika gugup saat Keenan memeluknya dari belakang.


"Abang, pintunya belum dikunci." ucap Lala saat Keenan mulai menyusuri lehernya.


"Otomatis, Sayang." ucapnya dengan suara berat.


Lala semakin gugup dibuatnya. Jantungnya berpacu lebih kencang. Keenan membalikan tubuh Lala sambil mencumb*nya mesra, dia memangku Lala layaknya anak kecil. Lala terhanyut permainan suaminya. Dia memeluk mesra leher Keenan dengan mata terpejam. Dengan perlahan, Keenan membawa Lala ketepi kolam. Keenan mendudukan Lala disana dengan tangannya bertumpu pada lantai.


Suara bel mengagetkan keduanya. Refleks Lala menarik pagutan mereka kemudian tertawa.


"Berasa terciduk kita, Bang!"


"Biarkan saja." Keenan merengkuhnya kembali tanpa terusik.


Lala melepas kembali pagutan mereka. "Abang, barangkali mereka ada perlu sama kita." Lala menghindar dari kecupan Keenan.


"Itu cuma floating breakfast sayang" ucapnya seraya mendekatkan kembali bibirnya.


"Apa itu, Bang?" Lala menghindarinya lagi.


"Sarapan di air." Keenan lagi-lagi mendekatkan bibirnya.


"Sarapan di air, apa maksudnya?"


"Astaga Lashira!" Keenan berdecak kesal sementara Lala tertawa.


Keenan membungkam kembali bibir Lala. Kali ini dia lakukan sedikit kasar karena kesal dengan tingkah Lala. Dia membuka tali celana dalam yang dikenakan Lala dengan tergesa. Dan selanjutnya hanya mereka yang tahu apa yang mereka lakukan.


***


Lala nampak takjub dengan hidangan diatas nampan kayu yang mengambang di atas kolam. Sementara Keenan masih asyik memeluk Lala dengan posesif.


"Suka, Hon?"


"Banget. Banget. Banget. Aku merasa jadi istri Tuan Muda yang sesungguhnya." ucap Lala.


Keenan tertawa. "Selama ini kamu nikah sama siapa memangnya?"


"Keenan Wijaya. Lelaki pekerja keras dari kalangan biasa. Biasanya makan makanan kampung kalau dirumah." ucap Lala yang sedikit minder.


"Makanan kampung yang membuat aku jadi berisi. Berarti makanan itu cocok buat aku, Yong." Keenan tahu Lala berkecil hati.


"Iya ya, kamu kayak bunglon. Bisa disegala situasi."


"Kamu juga. Sekarang jadi bunglon." kedua tertawa.


"Ayo kita makan." ajak Keenan.


"Bee.. Ke pinggir Bee.. Aku mau duduk."


"Kenapa? Lemes ya?" usil Keenan.


Lala memukul lengan suaminya sambil tersenyum malu.


"Orang aku yang gendong kamu. Kok kamu yang lemas."


"Abang ih!" Keenan makin melebarkan senyumannya.


Keduanya menikmati sarapan mereka dengan suasana berbeda.


"Aku gak mau pulang." ucap Lala seraya tertawa.


"Uang Abang mulai terkuras, Yong. Kita bisa jadi gembel kalau disini terus." Lala semakin terbahak mendengarnya.


"Abang kan punya tambang emas. Kedip dikit rekening Abang langsung penuh."


"Aamiin deh, Papa kasih bonus banyak buat Abang. Makanya kamu banyakin doanya buat Abang."


"Iya. Iya." Lala menyuapi Keenan.


"Pulang dari sini, Abang mau urus kuliah kita. Sekarang kan lagi penerimaan mahasiswa baru juga. Nanti Abang pindahkan kamu ke kampus Abang biar barengan. Terus kamu tinggal menyesuaikan saja jadwalnya."


"Siap laksanakan Tuan Muda. Aku kuliah sabtu minggu juga?"


"Iya. Biar sama-sama. Atau kalau mau kuliah reguler gak apa-apa biar lebih cepat lulus."


"Aku reguler saja, Bang. Pengangguran ini."


Lala dan Keenan kini duduk menikmati sang surya yang merangkak naik. Lala sudah tak malu lagi berbusana seksi dihadapan suaminya.


"Gosong lama-lama kita, Bang. Kalau bule mah enak. Lah kita?"


"Enggak. Baru sebentar sayang." Keenan asyik memainkan ponselnya.


Dengan usil, Keenan memotret Lala yang memejamkan mata dengan kaki menyilang.


"Seksinya istri Abang." ucap Keenan yang membuat Lala menoleh ke arahnya.


"Astaga Abang! Hapus Bang!" Lala bangkit hendak merebut ponsel dari tangan suaminya.


"Hapus ih. Nanti dilhat orang." Lala cemberut.


"Siapa yang berani pegang ponsel Abang?" tanyanya.


"Ih tapi malu kan. Pasti jelek."


"Enggak. Tuh lihat." Keenan memperlihatkan foto dirinya.


Lala duduk di pangkuan suaminya. "Ayo kita foto mes*m" ajak Lala sambil tertawa.


"Anj*r dia ketagihan."


Keduanya berfoto dengan pose lebih intim. Beberapa pose mereka lakukan sambil sesekali tertawa. Keenan dengan sengaja memberikan kissmark dibelahan dada istrinya. Dia memotret dirinya sendiri sambil bersandar pada Lala dengan tangan menunjuk pada maha karya yang telah dibuatnya.


"Astaga kita kayak orang gila." Lala tertawa.


"Gila apa nafs* sih?"


"Dua-duanya." keduanya terbahak.


"Aku cinta kamu, Keenan Wijaya. Suami tajirku." Lala mengecup bibir Keenan kemudian turun dari pangkuannya.


"Habis ini kita spa, Yong." ajak Keenan.


"Astaga Keenan!"


"Apa?"


"Kamu mau spa, terus ini apa! Malu tahu!"


"Mereka sudah biasa kali Yong lihat yang begitu. Lihat yang lagi bercumb* saja sudah gak asing."


"Hhh.. Ya sudahlah. Ayo. Aku pegal-pegal, ingin di pijat juga."


***


Tiga minggu sudah mereka melewati harinya seperti biasa setelah pulang dari luar kota. Keenan kini memarkirikan mobilnya di kampus mereka. Dia sengaja mengantarkan Lala yang akan mengikuti ospek sebagai mahasiswa baru.


"Berhenti tertawa Bee!" ketus Lala saat melihat Keenan tak hentinya menertawakan dirinya dengan busana hitam putih. Lala memegang kerdus bertuliskan namanya dan tas yang terbuat dari karung beras.


"Suruh siapa kamu milih jadi mahasiswa reguler. Kamu rasakan saja sendiri." Keenan masih tertawa.


"Oke mari kita seru-seruan." Lala menyemangati dirinya.


"Aku turun ya, takut telat bisa kena sanksi" ucap Lala. Mereka melakukan ritual perpisahan seperti biasa.


"Kalau pulang lebih cepat, kamu naik ojek ya?" pinta Keenan.


"Belikan motor kek, Bang." pinta Lala tiba-tiba


"Weekend belajar mobil. Abang sudah daftarkan kamu." ucap Keenan


"Hah? Serius?"


Keenan mengangguk. "Istri Keenan harus tangguh seperti biasa, oke?"


"Oke." mereka ber-tos ria. "Aku turun sayang. Love you unlimited." ucap Lala seraya melambaikan tangan.


Lala berjalan dari parkiran, tiba-tiba seorang pria berbalut jas almamater menegurnya.


"Kamu, sini!" titahnya


Lala mendekat dengan jantung berdegup kencang. 'Tuhan, ganteng banget'


"Pakai nama kamu dan ikuti aku!" ucapnya dingin.


Keenan yang melintasi mereka menatapnya dari balik kaca spion.


.


.


.


Yuhuuu jamaah honbee mana suaranyaaa? Like, komen, vote yang buanyaaakkkk..


Follow igehku : only.ambu


Terima kasih ^^