My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Kekonyolan Mas Pram Dan Bang Al



"Mas Izam.." Lala tersenyum canggung.


"Maaf yang tadi ya Mas." ucapnya pelan


"Santai saja La" Izam tersenyum


Keenan menoleh ke belakang melihat mereka berbincang. Keenan hanya memperhatikan Izam dari atas sampai bawah.


'Oh ini' batinnya mengingat wajah Izam tadi pagi. Keenan berbalik kembali. Pura-pura memainkan ponselnya.


"Sendirian?" tanya Izam


"Mm.. Itu Mas" Lala menunjuknya dengan menggulirkan matanya


"Oh" ucap Izam pelan menatap punggung Keenan yang berbalut kostum bola.


"Ayo Mas, bareng kita makannya." ajak Lala basa-basi.


"Ya silahkan La. Aku dibawa pulang kok." ucap Izam


"Aku permisi kalau begitu ya Mas" ucap Lala


"Iya La" Mas Izam. Tersenyum ramah


Lala kembali ke mejanya. Dia duduk dengan rasa kurang nyaman. Keenan hanya memperhatikan wajah Lala.


"Itu?" tanya Keenan tanpa menjelaskan


"Mm.. Iya Bee. Tetanggaku" Lala mengerti apa yang Keenan maksud. Dia merasa tak enak pada keduanya.


'Kok aku kayak ke pergok selingkuh gini sih! Lagian Mas Izam cuma tetangga. Bukan siapa-siapa. Gara-gara si Ibu bilang jodoh-jodoh jadi aku ngerasa gak enak. Huh!' batinnya kesal


"Oh, pantes kamu ingin pulang. Kamu janjian sama dia kesini?" tuduh Keenan


"Bisa gak Bee gak nuduh aku terus?" ucap Lala


"Boro-boro kayak Pak Reza sama bu Tasya. Ini hubungan cuma berantem doang digedein" Gerutu Lala


"Apa? Kamu nyesel pacaran sama aku?" tanya Keenan


"Bisa gak sih kamu gak ketus terus sama aku?" tanya Lala menatap wajahnya.


Keduanya saling pandang. Keenan masih melihatnya dengan memasang wajah kesal.


"Belum sebulan kita pacaran, kok kayak begini sih Bee? Kita pacaran apa musuhan sih?." Ucap Lala dengan wajah sendu. Dia merasa lelah dengan sikap Keenan


Keenan hanya terdiam. Di depan sana, Izam melirik sepintas ke arah mereka.


"Ini pesanannya Mas" ucap penjual seafood pada Izam. Izam segera membayarnya dan berlalu keluar tenda tanpa pamit kepada Lala.


"Apa karena kita belum saling cinta, kita jadi kayak begini Bee?" tanya Lala. Dia kini menopang dagunya diatas meja.


"Aku kan sudah bilang. Aku suka sama kamu La." ucap Keenan datar


"Suka belum tentu cinta kan Keen?" ucap Lala. Dia berhenti berbicara, memundurkan tubuhnya saat pelayan menyajikan makanan mereka.


"Makan dulu saja. Kamu lapar kan." ucap Lala tak ambil pusing.


Dia membukakan cangkang kerang untuk Keenan seperti waktu itu tanpa diminta. Keenan hanya memperhatikan gerak gerik pacarnya.


"Hon, kamu mau ikut ke rumah sama anak-anak?" Keenan mencari perhatian Lala


"Enggak. Kan aku kerja."


"Ya sudah sabtu saja bagaimana?"


"Kalian saja bicara dulu. Kalau ada aku nantinya canggung mereka mau ngapa-ngapain kamu" ucap Lala


"Kamu ngarep aku di apa-apain mereka?" Keenan mengangkat sebelah alisnya.


"Iya, kalau bisa balesin keselnya aku ke kamu" ujar Lala seraya tertawa


"Kamu tuh!" Keenan menyunggingkan bibirnya


"Hon, kamu bolos kerja saja yuk" ajak Keenan


"Ih kamu malah ngajarin yang gak bener."


"Sehari doang sayaaang" ucap Keenan.


Ada rasa yang menggelitik hatinya saat Keenan memanggilnya sayang. Lala menyukainya.


"Ga bisa Bee, kayaknya aku harus lebih fokus sekarang. Kemarin ada yang janggal gitu."


"Apanya?" tanya Keenan


"Laporan. Makanya aku harus cek ulang gitu deh." ucap Lala


"Perlu aku bantu?"


"Enggak Bee." ucap Lala


"Kamu wisuda masih lama?"


"Hmm.. Minggu depan. Kenapa? Mau datang?"


"Enggak ah." Lala menggeleng


"Habis itu?" tanya Lala kemudian


"Apa?"


"Tuan muda kerja langsung jadi CEO kayak di novel-novel gitu?" tanya Lala


"Sembarangan. Tidak semudah itu."


Mereka menikmati makannya.


"La?"


"hmm.. " Lala sibuk dengan kerangnya


"Kalau aku lanjut study di luar gimana?" tanya Keenan. Seketika Lala terbatuk.


"Pelan-pelan makanya" Keenan memberikan air pada Lala


"Duh perih deh tenggorokan." ucap Lala. Dia enggan membahasnya.


"Kamu sih. Takut banget aku habisin."


"Enak saja, aku kalau mau lagi tinggal mesen. Kan dibayarin tuan muda" Lala nyengir


"Honeey" Keenan mengangkat sebelah alisnya. Tak terima dipanggil Tuan Muda


"Lucu deh Bee kamu bisa angkat sebelah alis gitu" Lala tertawa


"Masa sih?"


"Iya. Alis kamu tebel kaya ulat bulu." Lala tertawa lagi.


"Dasar. Handsome kan aku" kini dia menaikan kedua alisnya sambil menggerakan keduanya.


"Idih Pede banget. Dah ah, habiskan dulu. Gak kelar-kelar nanti." ucap Lala


Mereka keluar dari tenda setelah makan selesai.


"Mau ke rumah?" ajak Lala


"Nanti saja. Gak enak Hon, bau keringat gini"


"Ya sudah, hati-hati dijalan Bee"


" iya. Aku pulang ya Hon" pamit Keenan.


***


"Assalamu'alaikum buu"


"Waalaikumsalam. Gimana tadi La?" tanya ibu antusias


"Apanya Bu?"


"Berangkat bareng"


"Sudah deh Bu jangan jodoh-jodohin gitu. Aku punya pacar" ucap Lala


"Mana pacarmu? Ajak kesini. Ibu mau lihat dia" pinta Ibu


"Iya nanti. Tadi dia pulang futsal, malu katanya kalau kesini bau keringat." ucap Lala


"Bu, jangan heboh ya, aku gak enak sama Mas Izam. Sama Ibunya juga." pinta Lala


"Memang kenapa sih? Ibu berharapnya kalian jodoh. Cocok sih kriterianya jadi mantu ibu." ucap Ibu


"Dia kalem anaknya, cocok sama kamu yang gesrek" ucap Ibu


"Ya Tuhan, hobby banget ngatain anaknya." Lala masuk ke dalam kamar.


***


"Aku sudah dirumah Hon" Keenan menuliskan pesan.


"Istirahat Bee. Selamat tidur." secepat kilat Lala membalas pesannya.


"Kamu juga ya."


Lala tak membalasnya lagi. Dia teringat ucapan Keenan yang hendak melanjutkan study di luar negeri.


"Belum sebulan masa sudah LDR." gumam Lala


"Hah.. Gimana nanti lah. Toh kita juga cuma dekat. Belum cinta-cinta banget." gumamnya kemudian. Lala memejamkan matanya. Mengistirahatkan hati dan pikirannya.


***


"Holalaa Pooo.. Para penghuni grup chat yang tidak ada Budimannya. Jadikah hari ini kita ke rumah Bro Keen yang misterius itu?" Mas Pram membuka percakapan mereka


"Oh. Tentu saja. Aku sudah tak sabar menunggunya. Bagaimana menurutmu Mas Pramono?" ~Bang Al


"Aku sangat menantikannya."


"Tolong digelar karpet merah untuk kedatangan kami Bro Keen." Mas Pram. Melanjutkan ucapannya


"Masih pagi woy!"


"Gak apa-apa. Kita numpang mandi dirumahmu Bro Keen." ~ Mas Pram


"Jam 10 nih. Kuyy Mas" ~ Bang Al


"Coba di serlok (share location) Bro Keen" ~ Mas Pram


"Oke. Wait." Keenan memberikan lokasi rumahnya.


"Babang meluncur" ~ Bang Al


"Jemput oy Bang. Daku malas bawa motor." ~ Mas Pram


"Elah. Mas-mas Baso manja bener dah" ~ Bang Al


Keenan segera beranjak dari tempat tidurnya masih memakai piyama. Dia segera turun ke bawah.


"Selamat pagi Tuan Muda. Ada yang bisa saya bantu?" sapa pelayan yang berada di dapur.


"Tolong buatkan makan untuk 3 orang. Temanku mau datang" Keenan memberi perintah.


Sesaat pelayan tersebut merasa heran. Sudah empat tahun, Keenan tak pernah membawa temannya ke rumah.


"Ba.. Baik Tuan Muda." ucapnya terbata. Keenan kembali ke atas sementara pelayan tersebut masih bengong melihat kepergian Keenan.


"Bro Keen rumahmu sebelah mana?"


"Cat putih Mas." balasnya cepat.


Tak berapa lama membalas pesan, Bang Al menghubunginya.


"Hallo"


"Sebelah mana Bro rumahmu. Kita sudah di titik yang kamu kirimkan." suara Bang Al yang nampak kebingungan.


"Masuk saja. Kalian depan situ bukan?"


"Masuk mana?"


"Rumah cat putih"


"Atau kalian tunggu disitu, biar mereka yang membukakan pintu." ucapnya serius.


Keenan mengambil telepon rumahnya.


"Tolong buka pintu, temanku datang. Dua orang pake motor. Ajak mereka masuk." tanpa menunggu jawaban, Keenan menutupnya kembali. Keenan tahu, Bang Al dan Mas Pram akan syok melihatnya.


Seorang penjaga keamanan membuka pintu gerbang rumahnya. Dia melihat keluar pagar sebuah sepeda motor parkir didepan rumah mereka.


"Teman tuan muda?" sapa penjaga keamanan yang melihat Bang Al dan Mas Pram kebingungan.


Mereka saling pandang, tak mengerti dengan ucapan penjaga keamanan.


"Anda temannya Tuan Keenan?" Ralat penjaga keamanan.


"i.. Iya"


"Silahkan masuk." ucap penjaga tersebut.


Bang Al dan Mas Pram masih saling pandang.


"Bang, kita gak salah?"


"Entahlah."


"Apa dia gig*lo Mas?" Tanya Bang Al melihat rumah mewah tersebut.


"Gila. Gak mungkin." mereka masih diam


"Jangan-jangan dia memang gig*lo Bang" Mas Pram mulai ragu.


"Kita mau dia tumbalkan juga? Si*lan Keenan" Bang Al begidig.


"Mas, kayaknya kita kabur saja" tanpa aba-aba mereka pergi meninggalkan rumah Keenan. Sementara penjaga tersebut berlari kedepan melihat kepergian mereka.


"Dasar aneh" ucap penjaga tersebut.


Penjaga keamanan menghubungi Keenan.


"Tuan muda, teman anda sudah pergi lagi" ucapnya


"Kok bisa?" Keenan nampak heran


"Saya tidak tahu, tadi saya persilahkan masuk, mereka langsung kabur begitu saja."


"Oke. Makasih" Keenan menutup teleponnya.


Dia menelepon Bang Al, namun tak ada jawaban darinya. Tak lama, dia menelepon Mas Pram.


"Bang, stop Bang." Bang Al menepikan motornya


"Ini si Bro telepon gimana?" ucap Mas Pram


"Sudah lah. Jangan di angkat. Kamu mau Mas masuk ke lembah kelam. Naudzubillah aku ogah Mas." Bang Al menolak


"Tapi masa sih? Aku malah penasaran." ucap Mas Pram


"Siapa tahu dia anak konglomerat Bang. Jangan asal tuduh." Mas Pram mencoba realistis


"Masa sih? Lihat saja gayanya. Kamu percaya Bro Keen anak konglomerat? Pake motor butut, gayanya juga biasa saja" ucap Bang Al


"Apa dia lagi nyamar?" tanya Mas Pram


Mereka berbincang hingga telepon mati sedari tadi.


"Nyamar cari mangsa?" tanya Bang Al


"Itu germ*, Bambang! Kalau cari mangsa" Mas Pram memukul kepala Bang Al


"Terus nyamar apaan?"


Tiba-tiba ponsel Mas Pram berdering kembali.


"Gimana ini Bang?" tanya Mas Pram


"Sudah jangan diangkat" usul Bang Al


"Terus kita ngehindar gitu saja?" tanya Mas Pram


"Kamu mau jadi gig*lo Mas?"


"Enak kali Bang. Sudah enak, dibayar pula. Haha" Mas Pram tertawa puas


"Anj*r najis Mas! Celup sana sini tante-tante gatel yang minta digaruk pake garpu." Mereka tertawa.


"Tapi Bang, aku gak yakin si Keenan begitu."


"Kamu gak lihat apa? Justru orang yang kalem yang rata-rata begitu."


"Jadi gimana kita?" tanya Mas Pram


"Lah mati lagi kan" Mas Pram melihat ponselnya.


Keenan masih mencoba menghubungi mereka.


"Kemana sih mereka itu?" gumam Keenan


"Pasti mereka gak percaya sih. Ribet banget harus jelasin macam-macam" Keenan menaruh ponselnya secara asal diatas kasur.


"Bodo amat lah. Mereka kalau butuh pasti ngehubungi lagi" ucapnya kemudian.


Lama kelamaan, Keenan menjadi penasaran dengan mereka.


"Woii jadi kerumah gak? Tadi ngapain kalian kabur lagi" Keenan menulis pesan di grupnya


"Bang, ini gimana si Keenan?" tanya mas Pram.


"Keen, kamu kerja disana?" Mas Pram membalas pesannya


"Mas! Gila kamu, malah dibalas." Bang Al sedikit meninggikan suaranya.


"Aku penasaran Bang. Kayaknya gak mungkin deh dia jadi gig*lo" Mas Pram masih memikirkan ucapan mereka


Keenan membalas pesan mereka kembali.


"Guys, come to Papa kalau kalian ingin penjelasan. Haha" ~Keenan


"Sumpah Najis mughalladhah Mas. Aku gak mau. Lihat bahasanya dia keluar" Bang Al makin ketakutan


"Jadi gimana kita? Yuk temuin dulu. Kalau dia macam-macam, kita kabur." ajak mas Pram.


"Orang gila, gak lihat apa tadi penjaganya ketat?" Bang Al menolak.


"Kamu saja sendiri Mas kalau mau" ujarnya kemudian


"Bro, serius itu rumahmu?" Mas Pram masih membalas pesan Keenan.


"Haha.. Iya mas. Sorry yaa kalau kalian terkejut" Keenan segera membalasnya.


"Tuh kan Bang. Itu rumahnya. Yuk kesana" ajak Mas Pram


"Aku takut dijebak Mas." Bang Al masih bersikeras tak mau menemui Keenan


"Enggak kayaknya. Yuk kesana." ajak Mas Pram seraya menepuk pundak Bang Al


"Serius Mas?" Bang Al masih tak percaya


"Kuy lah. Dari pada kita suujon sama dia." ucap Mas Pram


"Suudzon Pramono" Bang Al meralatnya


"Iya itu maksudku" ucap Mas Pram


Bang Al memutar balik motornya menuju rumah Keenan lagi. Tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di pintu gerbang rumah mewah bercat putih itu.


Penjaga tadi keluar menghampiri mereka lagi.


"Mau masuk gak mas? Tadi malah kabur." ketusnya


"Maaf Pak. Tadi kitaa.. Ada perlu dulu ." ucap Bang Al berbohong.


"Kalian sudah ditunggu Tuan Muda dari tadi. Jangan mempermainkannya!" ucap penjaga tersebut.


"I.. Iya Pak." ucap Mas Pram.


Bang Al membawa motornya masuk ke dalam rumah mewah tersebut.


"Parkir dimana ini Mas?" tanya Bang Al


"Mana ku tahu Bang. Eh, disana tuh. Ada motor si Bro." ucap Mas Pram


"Biar saya yang parkirkan. Mana kuncinya?" suara penjaga keamanan mengagetkan mereka.


Bang Al dengan ragu memberikan kuncinya pada penjaga tersebut.


'Gimana kalau mereka sengaja biar kita gak bisa kabur?' batin Bang Al ketakutan.


"Silahkan masuk." ucapnya


Bang Al dan Mas Pram saling pandang.


"Kamu yang ketuk pintunya Mas." pinta Bang Al


"Kamu saja Bang." Mas Pram diam ditempat.


Lama mereka saling sikut, penjaga tersebut menghampiri mereka lagi dan membukakan pintunya.


"Silahkan masuk." ucapnya.


Bang Al melangkahkan kakinya diambang pintu. Mas Pram menarik lengan Bang Al yang membuatnya berbalik menatapnya begitupun penjaga tersebut memperhatikan keduanya.


"Sepatu buka woi" Mas Pram memandang sepatu Bang Al.


Penjaga tersebut menahan tawanya. Dia membiarkan kekonyolan mereka.


"Oh iya Mas." Bang Al dan Mas Pram segera melepas sepatu mereka.


Mereka saling pandang kembali, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah yang sangat luas tersebut.


"Heh!" panggil seseorang yang membuat mereka menoleh ke sumber suara.


.


.


.


Gilaaa nih Mas Pram sama Bang Al..mau lihat kegilaan mereka lagi? Yuuk vote yang banyak. Jangan lupa like dan komentarnya temans. Terimakasih ^^