My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Gara-Gara Cilok



Sepuluh minggu sudah kini usia kandungan Lala. Kehamilan yang sangat menguntungkan dirinya karena dia tidak merasakan drama kehamilan seperti Ibu hamil pada umumnya. Hanya saja, dia lebih sering ngantuk, sedikit lelah dan kadang tertidur saat jam kuliah.


Disisi lain, Keenan saat ini sedang berada di fase cauvade syndrome sehingga setiap pagi Keenan merasakan pusing, mual dan muntah. Tapi anehnya, saat menjelang siang nafsu makannya berubah drastis. Bahkan, dia tidak pernah melewatkan makan rujak yang jadi makanan favoritnya saat ini. Hingga ibu turun tangan membuatkan bekal rujak untuk Keenan setiap pergi ke kantor.


Fase cauvade syndrome Keenan membuat Lala harus lebih bersabar dengan sikap Keenan yang lebih rewel dan manja dari biasanya.


"Mom, lusa kita pindahan." ucap Keenan sambil memainkan ponselnya.


Selama ini, Lala dilarang Keenan untuk melihat keadaan rumahnya, biar menjadi surprise tersendiri buat Lala, begitu ucap Keenan.


"Serius?" tanya Lala sambil mengelus rambut Keenan. Hal yang wajib Lala lakukan sebelum tidur saat ini, mengelus kepala suaminya hingga Keenan tertidur.


"Huum. Aku di telepon, semua sudah beres katanya. Sudah lama aku juga tidak kesana, terakhir waktu pengerjaanya baru 50 persen saja."


"Kok Abang semudah itu sih percaya sama orang? Kenapa gak di lihat lagi? Nanti kalau ada yang salah gimana?" Lala berhenti mengelus rambut suaminya.


"Dia sudah handal di bidangnya, Mom. Tenang saja. Lagi pula, Dia salah satu orang kepercayaan Papa, jadi gak mungkin bikin kita kecewa, sayang."


'terserah kamu lah, yang punya duitnya juga kamu.'


"Lagi." pinta Keenan


"Apanya yang lagi?" tanya Lala heran membuat Keenan mengarahkan kembali tangan Lala untuk mengelus rambutnya. "Aku ngelus gini, kamunya gak tidur-tidur. Pegel tahu!" protes Lala.


Dan percakapan mereka diakhiri dengan Keenan yang sukses tertidur saat Lala sudah protes kesal.


Sepertiga malam, Lala terbangun karena dirasa ingin buang air kecil. Dia sedikit kaget saat tak mendapati suami disampingnya.


'Si Abang ke kamar mandi gitu ya?'


Lala segera keluar kamar, dia melihat pintu kamar mandi sedikit terbuka.


'Loh, kemana dia?'


Lala yang penasaran, melihat ke ruang televisi, namun disana tak mendapati suaminya hingga dia melihat di meja makan, Keenan sedang duduk seorang diri.


"Abang sedang apa?" tanya Lala yang sukses membuat Keenan terlonjak kaget karena membelakanginya. Dia berdiri disamping Keenan.


"Huh! Kamu bikin Abang kaget saja!" ketusnya.


"Astaga, sayang." Lala menelan salivanya, giginya terasa ngilu saat melihat Keenan sedang memakan rujak mangga muda.


"Daddy gak kuat ingin makan ini, Mom."


Lala merasa sedikit kasihan melihat perubahan Keenan yang drastis. Namun, tak jarang dia merasa lucu dengan tingkahnya.


"Mommy mau?" tanyanya.


Lala mengelus kepala suaminya lembut masih berdiri disamping Keenan. "Enggak. Daddy saja biar gak mual."


"Demi kamu loh ini." ucap Keenan seraya mengecup perut Lala.


"Dia sayangnya sama Mommy, makanya gantian Daddy yang ngidam." Lala terkekeh.


"Justru dia sayang sama Daddy, makanya mau Daddy juga merasakan perjuangan dia. Jadi kita berbagi beban. Adil kan?"


"Telima kacih Daddy, aku ceneng banget." ucap Lala menirukan gaya anak-anak sambil cekikikan.


"Sana tidur lagi Mom."


"Mau di peluk, Dad."


"Heh? Tunggu sebentar." Keenan melahap tiga potong mangga terakhir dalam mulutnya. Dia menutup kembali toples bumbu rujak dan memasukannya ke dalam lemari es, kemudian mencuci tangannya sementara Lala segera ke kamar mandi.


"Sini sayang." Keenan merentangkan kedua tangannya hingga Lala masuk ke dalam pelukan Keenan.


'Wangiii..' Lala menghirup aroma Keenan. 'Kapan dia bau ya? Wangi terus perasaan.'


"Mom, Mommy minta dipeluk terus Daddy gimana tidurnya gak ada yang elusin." keluh Keenan.


"Astaga Abang! Gantian dong." Lala cemberut kesal.


"Ya sudah. Tidur sayang. Mininya Daddy juga tidur yaa.." Keenan mengelus perut Lala.


Lama dipeluk Keenan, tak lantas membuat Lala tertidur juga. Begitupun Keenan terlihat sedang melamun.


"Sayang.. "


" hmm.."


"Kok Abang belum tidur?"


"Ini lagi berusaha." ucapnya.


Lala keluar dari dekapan suaminya. Merasa tak tega karena Keenan tak bisa tidur tanpa dielus olehnya. "sini" ucap Lala menarik kepala Keenan.


Kini Lala mengelus lembut rambut Keenan, tak sadar, Lala juga ikut ngantuk saat memainkan rambut suaminya.


***


"Keen, kalau kita cuma bawa baju saja kesana, terus perabotan Ibu bagaimana yang ini?" tanya Ibu setelah Keenan mengajaknya pindah esok hari.


"Gimana ya?" Keenan nampak berpikir.


"Yang sekiranya penting saja dibawa. Yang lainnya sumbangkan saja, Bu. Barangkali ada yang butuh." ucap Keenan.


"Abang mah pemborosan, semua serba baru. Bukannya hemat kek mau punya anak!"


"Ya masa iya rumah baru, perabotan lama. Kan biar cocok, Hon. Disana semua sudah di design sesuai tema rumah kita."


"Iya. Tapi ibu bingung ini gimana, Keen? Syaang banget kalau harus di sumbangkan. Padahal oerabitan Ibubjuga gak butut-butut banget" keluh Ibu


"Iya Bu, tapi tempat tidur, kulkas, isi dapur dan lain-lain sudah disesuaikan dengan tema rumah kita, Bu."


Ibu sedikit cemberut. Kesal dengan sang menantu yang mengambil keputusan tanpa berdiskusi dengannya terelebih dahulu.


"Rumah ini masih lama kan masa kontraknya, Bu? Biarkan saja dulu disini. Buat simpan perabotan sambil di tawarkan ke yang lain siapa tahu ada yang mau ambil perabotannya."


"Hmm.." Ibu nampak sedikit kesal dengan keputusan Keenan.


Lala menarik tangan Keenan masuk ke dalam kamar. "Apa sih Mom?"


"Abang gak lihat, Ibu mukanya kesal begitu?"


"Nanti saja dibahasnya. Abang kuliah dulu, nanti telat lagi. Apa kamu mau ikut ke kampus?" tanyanya dengan sedikit terburu-buru.


"Enggak. Ngapain? Lama juga Abang kuliahnya. Aku bosen. Mending ke KP saja, sudah lama aku gak temani anak-anak."


"Ya sudah ayo, kamu tunggu di KP kalau gitu."


Keduanya pamit pada Ibu yang masih cemberut.


"Abang aku mau bawa mobilnya." Malu-malu Lala mengutarakan keinginannya, setelah menahan diri.


"kamu kan lagi hamil! Kalau kenapa-napa gimana?"


"Gak apa-apa. Sampai KP doang, kan dekat ini."


"Hhh..ya sudah." Keenan mengalah.


Lala begitu senang mengemudikan mobil miliknya.


"Abang, foto aku dong." pinta Lala


"Pasti kamu mau pamer ya?"


"hahaha.. Tahu saja Bambang!" Lala sedikit malu.


"Bagus, pamerin saja. Jangan lupa captionnya 'terima kasih suamiku'"


"Dih, dia mah mau numpang eksis juga." gerutu Lala. Keenan terbahak.


Lala masuk ke dalam KP setelah berpamitan pada suaminya.


"Hallo gaeess.." Lala tersenyum ramah pada anak buahnya.


"Mbak Lala, huhu kangennya." ucap Tiara, sang kasir di KP mereka.


"Gak ada Mbak Lala, sepi nih." timpal Budi dari balik meja baristanya.


"Iya, gak ada yang traktir lagi." Firman ikut nimbrung.


"Haha.. Kalian ya.. Jadi rindu traktirannya saja?"


"Enggak dong. Rindu cerewetnya juga." Budi tersenyum.


"Mbak, gimana? Ponakan aku sehat kan?" kini Rindi menghampiri.


"Sehat, dan gak rewel. Bahagianya aku bisa makan enak tanpa drama." Lala mengembangkan senyumnya.


"Jangan-jangan yang rewel Bang Keenan." ledek Budi.


"Haha.. Tahu saja. Dia mah dari dulu rewelnya." Lala mendekat ke meja kasir. "Tuh kan, aku jadi kangen dia." goda Lala.


"cieeee.." kompak mereka.


"Hus.. Gak enak sama pengunjung." Lala mengedarkan pandangannya, dan benar saja beberapa pengunjung melirik ke arah mereka. Untungnya, siang itu tidak terlalu ramai.


Sore hari, Keenan masih belum menjemputnya sementara Lala masik asyik menemani pegawainya. Semua pegawai Lala masih berusia muda, hingga Lala ikut terbawa heboh dengan mereka.


"Mbak" Tiara memberikan cilok kepada Lala. Dia membawa beberapa bungkus cilok lain untuk diberikan kepada temannya.


"Terima kasih Ra."


"Kita yang terima kasih, Mbak. Ada Mbak Lala pasti jajan dibayarin terus." Tiara cekikian.


"Gaes, jangan sampai bocor sama Bang Keenan ya." ucap Lala membuat mereka diam mematung.


"Kenapa kalau bocor?" tanya Keenan dari belakang Lala.


"Haha.. Astaga Abang." Lala sedikit menciut, dia takut Keenan akan marah karena Lala jajan sembarangan. "Abang kayak hantu, tiba-tiba ada di belakang aku. Kapan datangnya sih?"


"Hehe.. Mommy jajan ini, Sayang. Mini yang mau." dalih Lala.


"Cilok?" tanya Keenan.


"Huum. Jangan marah ya Dad, kasihan Mini maunya ini."


Sengaja Lala memanggilnya dengan panggilan Mommy Daddy berharap Keenan akan melupakan amarahnya.


Keenan mengambil paksa cilok dari tangan Lala.


'Belum juga dimakan, mau dibuang saja!' Lala ikut kesal dengan sikap Keenan yang membuat dirinya malu dihadapan pegawainya.


Keenan menusuk cilok tersebut kemudian melahapnya.


"Astaga Bambang!" Lala nampak kaget dan tak menyangka. Dia pikir, Keenan akan membuangnya.


Sementara pegawai yang melihatnya hanya. menahan senyum.


"Jajan sendirian! Gak inget suami!" ketus Keenan sambil berjalan ke kursi pengunjung di dekat mereka.


"Bud, biasa." Keenan setengah berteriak meminta kopi untuknya.


"Siap Bos!"


"Mbaakk, aku sudah takut mbak dimarahin Bang Keenan." ujar Tiara


"haha.. Aku juga. Ya ampun, untungnya anakku maunya makanan merakyat, jadi dia bisa makan makanan begitu."


"Dia siapa Mbak? Kan masih diperut."


"Haha.. Aku yang hamil, Bang Keenan yang ikutan ngidam." Lala terbahak.


"Serius?" Tiara nampak kaget.


"Makanya aku gak payah kan? Gak mabuk, gak muntah-muntah juga. Biar dia yang tersiksa. Padahal dia anti jajanan begituan. Sekarang dia rasakan akibatnya." Tiara ikut tertawa melihatnya dan baru berhenti saat Keenan melihat ke arah mereka.


Lala menghampiri suaminya.


"Abang! Kok di habiskan sih! Aku kan belum makan satu pun!" ketus Lala.


"Abang kan juga ingin, suruh siapa kamu makan sendirian! Kamu beli lagi saja, susah amat!" ketus Keenan.


"Itu kan dari abang-abang yang lewat!" Lala yang kesal lantas meninggalkan Keenan.


"Kenapa Mbak?" tanya Rindi sambil membawa nampan setelah mengantarkan pesanan.


"Gak apa-apa, Rin."


Lama mereka sibuk dengan ponsel masing-masing.


"Sayang, yuk pulang." ajak Keenan.


Lala yang memang sudah bosan segera beranjak dari tempatnya.


"Aku pulang ya, kalian hati-hati nanti pulangnya."


"Nih kuncinya, kamu yang bawa. Abang agak pusing."


Tak banyak bicara Lala segera mengambil kunci mobil miliknya. Mereka masih membisu.


"Mom, kok diam." tanya Keenan.


Lala cuek. Dia tak menyahuti Keenan.


"Kenapa sih?" tanyanya heran.


'kenapa? Gak mikir apa itu cilok dia yang habiskan!'


"Mom? Daddy salah apa? Jangan marah-marah nanti kasihan Mininya, Mom."


'Punya suami gak peka banget. Rese emang si Keenan!' Lala kesal sampai ingin menangis.


"Sayang." Keenan menyentuhnya.


"Jangan sentuh aku!" ketus Lala. Tiba-tiba air matanya lolos membasahi pipi.


"Loh? Kok nangis?" Keenan kebingungan.


"Sebel sama kamu! Cilok aku, kamu habiskan!" ketus Lala masih menangis.


"Astaga.. Kamu nangisin cilok?" tanya Keenan


'Eh kenapa aku nangisin cilok? Ah bodo. Emang dia ngeselin! Rese! Padahal aku ingin makan cilok!"


"Ya sudah kita keliling dulu cari tukang cilok yuk." bujuk Keenan.


"Gak mau!" ketus Lala sambil mengusap air matanya.


Tiba dirumah, Ibu melihat Lala masuk kamar dengan wajah cemberut sementara Keenan belok ke dapur mengambil potongan mangga.


"Lala kenapa Keen?" tanya Ibu.


"Marah bu, ciloknya aku makan."


"Hah? Gak salah?"


"Aku juga gak nyangka dia bakalan semarah ini."


"Kenapa gak beli lagi?"


"Katanya beli dari Abang-Abang yang lewat."


Ibu tersenyum. "Maklumin, ibu hamil." ucap Ibu.


Keenan menyusulnya ke kamar. Dilihatnya Lala sedang meringkuk di atas tempat tidur setelah mengganti bajunya dengan pakaian rumahan.


Keenan ikut mengganti bajunya. Dia merebahkan tubuhnya disamping sang istri kemudian memeluknya. Dengan segera, Lala melepaskan pelukan Keenan. Dan terjadi berulang kali hingga akhirnya Lala membiarkan tangan itu memeluknya. Merasa mendapat angin, Keenan lantas mendekatkan tubuhnya merapat dengab tubuh Lala.


"Daddy minta maaf Mom." bisiknya seraya mengecup rambut Lala.


Mood Lala saat ini layaknya roller coaster. Cepat naik namun cepat juga turun. Seperti saat ini, dia tengah merasa kasihan pada Keenan hingga akhirnya dia membalikan tubuhnya.


Keenan dengan senang hati memeluknya semakin erat. "love you Mommy and Mini. Daddy sayang kalian." kecupan dikening Lala membuat Lala mendongak.


"Belikan cilok lagi!" ketus Lala. "Memaafkan bukan berarti melupakan." gerutunya.


"Siap." Keenan segera bangun dan mengganti celananya kembali.


"Abang cari sekarang ya, jangan marah lagi." ucapnya seraya mengecup kening Lala dan berlalu keluar.


***


Keesokan harinya Keenan, Ibu dan Lala bersiap pindah ke rumah mereka. Ibu terlihat repot dengan barang miliknya. Sementara Lala nampak malas-malasan.


"Dekat ini, nanti siangan sedikit, Bang."


"Mumpung masih pagi, takutnya Ibu nanti ngajak temannya ke rumah."


"Enggaklah, gak mungkin hari ini." ucap Lala.


"Sudah buruan, Mom." pinta Keenan.


Lala dan Keenan membawa mobilnya masing-masing ke rumah baru mereka.


"Wah, bagusnya." ujar Lala begitu tiba. Dia dan Ibu turun dari mobil. Disusul oleh Keenan yang baru memarkirkan mobil miliknya.


Lantai satu khusus untuk parkir mobil dan motor. Di sampingnya, terdapat tangga untuk masuk ke dalam rumah mereka.


"Bagus ya, Bu?"


"Iya. Tadinya Ibu kira bangunannya aneh."


"Ini mengusung tema kontemporer tropis, Bu." ucap Keenan sambil mengedarkan pandangannya.


Mereka masih di dalam garasi terbuka dengan pagar tinggi terbuat dari kayu.


"Iya, sebelum jadi Ibu kira kamu salah buat rumah. Kok gak umum kayak yang lain sampai teman-teman juga nanyain."


"Memang Ibu belum kesini lagi?"


"Tuh, suami kamu larang Ibu kesini lagi. Alasannya biar kejutan." sindir Ibu oada Keenan. Yang disindir hanya tersenyum.


"Aku kira, aku saja yang dilarang kesini Bu." ucap Lala.


"Yuk kita masuk." ajak Keenan mulai menaiki anak tangga.


Begitu tiba di depan teras, tiba-tiba Keenan mendadak mual dan muntah.


"Ih Abang." Lala terpekik kaget begitupun Ibu.


"Bawa masuk, La. Biar istirahat dirumah." ucap Ibu.


Keenan melambaikan tangannya memberi kode seakan menolak.


"Aku gak kuat nyiumnya, rasanya bau banget rumah ini." ucap Keenan.


.


.


.


Yuhuuu.. Jamaah honbee jangan lupa ritual kita. Rate, like, komentar, vote yang buanyakk.


Oya, follow igehku : only.ambu


Terima kasih ^^