
Keenan memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah kontrakan yang mereka tempati. Ada rasa gugup dalam hatinya, namun tak sedikit rasa khawatir menyelimuti dirinya. Sesaat dia termenung, mengumpulkan keberaniannya untuk bertemu dengan Ibu dan berharap Lala ada disana.
Keenan mengetuk pintu rumah. Seolah sedang ditunggu, tak berapa lama Ibu membuka pintu dengan tatapan yang tak bisa di tebak.
"Lala di dalam Bu?" tanyanya kikuk.
"Bukannya sama kamu?" Ibu balik bertanya.
Keenan sedikit tersentak saat Ibu bertanya balik. "Hmm.. Maaf Bu." jawabnya pendek.
"Kamu tunggu saja disini. Biar Ibu yang panggil Lala." ucap Ibu seraya meninggalkannya.
Ibu sedikit ragu untuk memanggil Lala. Dia berdiri diambang pintu kamar Lala. Dilihatnya Lala sedang tiduran sambil memejamkan mata. Ibu mendekati anaknya yang ternyata telinganya ditutupi oleh earphone.
"Laa.. " panggil Ibu.
Lala tak bergeming, ibu memanggilnya kembali sambil mencolek lengan anaknya. Seketika Lala membuka matanya.
" Kenapa bu?" Lala melepas earphone ditelinganya.
"Ibu mau bicara." ujar Ibu.
"Bicara apa?" Lala masih tetap di posisinya.
"Ayo diluar saja." ajak ibu
"Bicara apa sih Bu? Aku lelah. Disini saja memangna kenapa?" tanya Lala dengan raut wajah kesal.
"Buruan" ajak Ibu.
Lala menghentakan kakinya saat dia duduk dibibir kasur kemudian keluar kamar mengikuti Ibu. Seketika raut wajahnya berubah saat melihat Keenan.
"Mom.." Keenan berdiri
"Mau apa lagi?" tanya Lala ketus
"Aku..ak.."
"Kamu duduk dulu disini." potong Ibu.
"Mari kita selesaikan semuanya. Jangan membuat masalah mengendap terlalu lama." tambahnya.
Keenan menatap Lala dengan rasa syukur. Tak apa bila Lala marah, yang penting anak istrinya terlihat sehat.
Lala dan Keenan duduk berhadapan. Keenan tak hentinya memandang Lala sementara Lala memalingkan mukanya ke arah lain. Dia tahu, Keenan sedang menatapnya.
"Ibu minta maaf pada kalian kalau Ibu menjadi benalu untuk rumah tangga kalian." Ibu membuka percakapan diantara keduanya.
"Setelah dipikir-pikir, benar kata Keenan. Mungkin Ibu terlalu ikut campur dengan urusan kalian."
Semua terdiam. Tak ada yang menyahuti.
"Lala ikut lagi saja ke apartemen. Biar Ibu tinggal disini sendirian juga gak apa-apa." sambungnya memecah keheningan.
Ada rasa tak tega saat ibu bicara demikian dihati Lala.
"Maaf Bu, kalau aku agak keras kemarin. Bukan maksud aku ingin membantah Ibu atau melawan Ibu. Tapi, dengan keadaan aku yang seperti ini, aku hanya ingin pengertiannya saja dari Ibu dan Lala. Toh, keadaan ini bukan aku yang mengingingkan."
"Seperti rencana semula, kita pindah kesana. Namun untuk saat ini, aku merasa gak suka tinggal disana. Aku juga gak ngerti kenapa, entah ini ada sangkut pautnya dengan syndrome ini atau bukan. Yang jelas, rasanya gak suka saja sama rumah itu. Rasanya mual, pusing, ingin muntah membayangkan tinggal disana."
"Aku hanya minta waktu sampai syndrome ini hilang. Waktu itu, dokter bilang trimester 2 biasanya hilang. Aku cuma butuh waktu sampai usia kandungan Lala 4 atau 5 bulanan, Bu. Bukan berarti kita selamanya tinggal di Apartemen."
"Untuk masalah Mbak Sum, aku cuma memikirkan Ibu dan Lala yang nanti tinggal disana. Aku gak mau Ibu terlalu repot mengurus Lala dan anak kita kelak, makanya aku mau ada asisten dirumah."
"Kenapa kamu ambil dari rumahmu? Ibu juga bisa cari sendiri!" Ibu mulai sewot
"Aku cuma lihat kinerja orang-orang dirumah. Soalnya Mama untuk urusan housemaid, dia cari yang betul-betul cekatan. Dan dia bekerja sudah lumayan lama dirumah. Jadi Mama tahu karakternya seperti apa."
Lala hanya diam menyimak keduanya. Dia masih menjadi pendengar saat dua orang yang disayanginya sedang mengutarakan isi pikirannya masing-masing.
"Ibu sih merasa keberatan Keen. Kenapa kamu tidak diskusi dengan Ibu saja? Kan yang mau tempati rumah itu Ibu, bukan Mamamu." ketus Ibu
"Maaf Bu, tadinya aku hanya memilihkan tenaga profesional saja, Bu. Aku gak mau ambil pusing, untuk nyari-nyari yang cocok."
"Profesional apanya? Ibu juga mengalami punya banyak pembantu. Gak kayak gitu tuh!" gerutunya dengan suara pelan.
"Ya sudah, Ibu carikan saja satu atau dua orang." pinta Keenan.
"Banyak amat" protes Ibu
"Satu lagi nanny, Bu."
"Nanti saja kalau itu, toh kandungan Lala juga masih lama."
Suasana kembali hening.
"Aku mau kita tetap cerai saja." cetus Lala tiba-tiba membuat keduanya menatapnya.
"Tapi Mom?"
"Kamu bilang muak kan dengan semuanya."
"Maksudku bukan begitu, Mom."
"kamu muak kan sama aku?"
"Enggak, aku gak muak sama kamu. Mana pernah aku muak sama kamu."
"Lantas apa? Kamu kemarin bilang kayak begitu sama aku. Memang aku gak sakit hati, apa!"
"Aku muak hanya.. Harus mengikuti aturan Ibu. Itu saja." ucapnya dengan suara pelan.
"maaf, Bu."
"Yah, Ibu juga minta maaf kalau membuat kamu muak."
"Sudahlah, kedepannya juga pasti bakal terus seperti ini. Aku sudah lelah." Lala kembali bersuara.
"Kamu dikasih kerikil kecil saja sudah bilang lelah!" ketus Ibu.
"Rumah tangga itu ujiannya seumur hidup. Baru hal sepele begini kamu sudah nyerah?" bentak Ibu
Keenan tersenyum mesem merasa dibela ibu.
"Ini baru tempat tinggal saja sudah kayak begini. Kedepannya bakal kayak gini lagi antara Ibu dan Keenan. Aku harus terus jadi penengah! Gak ada kan yang mikir, aku maunya apa!"
Ibu dan Keenan terdiam.
"Mommy maunya gimana sekarang?" tanya Keenan dengan suara lembut.
"Telat! Aku sudah protes baru kamu tanya kayak begitu!"
Keenan menghela nafasnya.
"Iya maaf, kalau Abang gak pengertian. Sekarang Mommy maunya gimana? Biar kita semua sama-sama enak."
"Aku mau cerai saja!" Lala teguh pada pendiriannya.
"Kenapa? Mommy mau misahin Abang sama Mini?"
"Mini siapa?" tanya Ibu heran.
"Hmm.. Panggilan calon anak kami, Bu." ucap Keenan sedikit malu.
'Bisa-bisanya si Ibu nanyain mini segala' batin Lala
"Oh. Aneh-aneh saja kalian. Ibu pikir mini si tikus film kartun itu."
Keenan tersenyum mendengar ocehan Ibu.
"Astaga.. Daddy ingatnya tukang panci, sekarang mini ingatnya tikus." gerutu Keenan dengan sengaja untuk memancing istrinya tertawa. Dan benar saja, Lala terlihat menahan senyumnya.
"Iya, mini dan Dedi jadinya tikus dan tukang panci." sambung ibu seraya sedikit tertawa.
Lala menutup wajahnya, kali ini dia sedikit tak tahan untuk tidak tertawa. Lala hanya mengembangkan senyumnya yang ditutupi oleh kedua tangannya.
"Ayo dong, Mommy maunya gimana? Kalau cerai big No. Karena semua masalah menurut Abang clear. Ibu tidak keberatan kita tinggal di Apartemen selama Abang kayak begini. Nanti kita pindah ke rumah baru setelah Abang sudah normal kembali."
"Atau..kalau mau kayak kemarin pembagiannya gak masalah. Empat hari di Apart, tiga hari disini. Abang gak masalah. Selama jangan ngajak dulu ke rumah itu. Abang gak kuat."
"Aku gak mau lanjut. Kita sudahi saja semua. Kedepannya pasti bakal ada perdebatan seperti ini lagi. Berasa beban tahu gak kayak begini tuh! Dua hati yang harus aku jaga!"
"Perdebatan, perbedaan semua rumah tangga mengalaminya. Seperti yang kamu bilang, menyatukan dua kepala itu tidak mudah. Justru disitu, kita harus bersikap. Gimana caranya biar sejalan, sealur dan seirama. Bukan berarti menyerah begitu saja!" Ibu berusaha memberi pengertian.
"Jangankan suami istri, ibu sama kamu sering kan kita beda pendapat. Terus kamu mau nyerah jadi anak Ibu?"
"Astaga! Ya gak mungkin lah! Itukan takdir."
"Ya sama! Rumah tangga juga begitu. Terus kamu mau menyerah begitu saja? Setan kibas-kibas rambut kalau begitu."
"Kok setan?"
"Ya terus apalagi yang menggoda manusia?"
"Pelakor pebinor kan juga menggoda."
"Ya itu setan yang berwujud."
Keenan tersenyum mendengarnya.
"Abang gak mungkin sih kalau tergoda hal itu. U know it, Hon."
"Ibu minta maaf, kemarin Ibu emosi. Ibu minta maaf juga sama Keenan kalau Ibu terlalu ikut campur urusan rumah tangga kalian. Ibu cuma berpikir, disini cuma Lala saja yang Ibu punya selain tetangga. Walaupun Lala istri kamu, tapi tetap saja, Lala juga anak Ibu. Sama siapa lagi kalau bukan sama anak ibu sendiri."
"Iya aku juga faham, Bu. Dari awal aku gak masalah. Cuma kedepannya kita harus banyak diskusi seperti ini biar kita gak banyak salah faham. Aku juga gak keberatan kok, Bu. Toh selama ini juga kadang-kadang saja kita tak sepaham."
"Kemarin kamu bilang muak" sindir Lala
"Eh.. Emm.. Maaf kemarin Abang emosi. Kamu tahu sendiri kan, kalau irang emosi bicara pasti sedikit gak terkontrol." Keenan sedikit malu.
"Ya sudahlah, kemarin memang kita tidak ada yang berpikir jernih. Namun setelah Ibu renungkan, yah.. Mungkin kesalahan ada pada diri ibu. Tolong dimaklumi kalau jalan pikiran Ibu tidak sama dengan anak muda seperti kalian."
"Semua selesai kan? Ibu sudah ngantuk. Kemarin malam ibu gak bisa tidur gara-gara merenungi masalah ini." ibu bicara jujur.
"Sekali lagi, Aku minta maaf ya Bu."
"Yah, sama-sama. Ibu juga Keen. Maklumlah, kamu jadi anak Ibu juga baru. Ibu belum tahu marahnya kamu kayak gimana. Kesalnya kamu seperti apa. Kita serumah juga kan selalu baik-baik saja selama ini."
"Sekarang, apapun keputusannya. Asalkan Ibu diberitahu saja. Tidak langsung ambil keputusan seperti kemarin. Tib-tiba besok Ibu tinggal dengan pembantu. Wah wah.. Gak ada hujan gak ada angin kan tiba-tiba begitu. Kenapa gak bilang dulu sebelumnya."
"Iya maaf Bu, tadinya saya ingin semuanya simple. Ternyata memang salah. Dan memang betul sih, nanti sehari-hari yang bareng housemaid Ibu juga. Maaf kalau saya kurang pengertian."
"Sekarang masalah Ibu dan Keenan sudah beres. Terus kamu gimana?" tanya ibu
"Entahlah. Aku pusing."
"Mommy maunya gimana sekarang? Kita bakal ngikutin maunya Mommy kalau Mommy gak nyaman." ucap Keenan.
"Kamu pulang saja dulu. Aku gak mau tinggal sama kamu!" ketus Lala
"Loh loh, jangan macem-macem La, semua sudah enak antara Ibu dan Keenan. Kamu ini bagaimana." gerutu Ibu.
"Sudah, kalian istirahat. Ibu ngantuk." ucap ibu seraya berdiri. Ibu meninggalkan mereka berdua.
Keenan menggeser duduknya mendekati Lala setelah Ibu pergi ke kamarnya.
"Sayang.."
Lala tak bergeming.
"Abang minta maaf. Abang salah. Maaf Abang gak pengertian."
"Sudahlah, sana pulang! Nanti saja kalau anakku lahir baru kamu kesini lagi."
"Kok begitu? Semua kan sudah clear. Sudah dong marahnya."
"kamu kan muak sama aku."
"Enggak Mom. Aku gak muak sama kamu. Kan sudah aku bilang, aku muak dengan aturan Ibu. Itu saja. Aku juga punya keinginan bawa kamu ke Apart, biar bebas ngapa-ngapain, Mom."
"Ngapa-ngapain apa?" Lala pura-pura tak mengerti.
"Semuanya. Kalau ada Ibu kan malu."
"Gak. Aku gak mau lagi."
"Sayang, kan semua sudah beres. Ya?" Keenan berjongkok dihadapan Lala, dia berusaha memegang tangan Lala. Tapi segera ditepis Lala.
"Kamu gak tahu sih, Abang kelimpungan nyari kamu seharian. Ke kampus, ke KP, sampai Abang ke rumah sakit tahu gak nyariin kamu."
"Ngapain?" Lala masih dengan nada tak ramah.
"Ya kan kemarin perutnya sakit. Abang takutnya sakitnya berlanjut. Maaf ya Mom. Daddy beg* banget kemarin."
"Emang"
"Abang sampai frustasi nyariin kamu. Kamu semalam nginap dimana? Pagi-pagi Abang kesini, Ibu tanyain kamu. Berarti kamu gak pulang kan?"
"Kamu kemana Mom?"
"Selingkuh." ketus Lala asal.
"Iya gak apa-apa kalau kamu selingkuh. Abang mah ikhlas." ucap Keenan dengan nada pasrah.
Lala mendelik sebal.
"Toh kalau kamu selingkuh, yang maju duluan pasti Ibu. Gak kebayang marahnya Ibu kayak apa." Keenan tersenyum senang.
"Bodo!"
"Semalam dari mana hmm..?"
"Kepo!"
"Haruslah. Abang harus tahu istri Abang yang cantik nginep dimana semalam. Gak mungkin kamu selingkuh hanya dalam semalam."
"Ya mungkinlah! One night stand."
"Nakal!" Keenan menyentil kening istrinya. "jangan bicara ngelantur. Ingat! Ada mini yang dengerin kita."
" Sakit tahu gak! Kamu KDRT!" Ketus Lala.
"Sentil dikit doang. Sini diobati." Keenan hendak mencium Lala namun Lala mendorong tubuhnya hingga Keenan jatuh ke belakang, kepala belakangnya membentur meja.
"Ah.. Sshhh.."
Lala sedikit kaget. Dia merasa bersalah.
"Itu yang KDRT, Mom." Keenan mengusap kepalanya.
"Maaf."
"Tapi baikan dulu nanti dimaafkan." Keenan memberikan jari kelingkingnya.
"Manfaatin kan!"
"Enggak. Tuh kan kayaknya benjol deh." Keenan meraba kepala belakangnya. Sengaja dia mendramatisir kesakitannya walaupun memang benar-benar terasa sakit olehnya.
Keenan mengulurkan kembali kelingkingnya. "Maaf" ucapnya seraya menatap Lala. Dengan ragu akhirnya Lala menautkan kelingking miliknya. Keenan tersenyum kemudian mendekatkan bibirnya pada bibir Lala.
Lala hanya diam. Bohong kalau dia membenci suaminya. Dia begitu rindu Keenan yang bersikap lembut kepadanya.
Keenan merasa tak puas hanya dengan menempelkan bibir mereka. Dia memperdalam ciumannya. Rasanya sudah lama Keenan tak ******* bibir istrinya. Hingga keduanya larut dan tangan Lala refleks melingkar di leher sang suami, sementara tangan kanan Keenan menahan tengkuk leher Lala, dan tangan kirinya melingkar dipinggang Lala. Keduanya memejamkan mata, menikmati setiap pergerakan bibir dan lidah mereka yang saling menaut.
"Ehm.. " suara Ibu memecah konsentrasi.
.
.
.
Yuhuuuu yang kemarin sedih, sini kumpul di komentar. Jangan lupaa like dan vote juga yaaa
Terima kasih^^