My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Bujukan



Lala sedikit menciut saat melihat Keenan dengan raut wajah yang tak bisa ia tebak. Tatapan mata Keenan fokus pada Lala.


"La.." Farel menyenggol lengan Lala saat Lala tak menyahutinya.


"Eh Rel, itu suami aku." tunjuk Lala pada Keenan yang masih menatapnya.


"Mana?" Farel mengikuti Lala.


"Loh, Bang Keenan!" Farel tersenyum saat melihat Keenan.


"What's up, Bro! Kemana saja Bang." Farel begitu excited saat melihat Keenan.


"Heh! Anak kecil ngapain kamu dekat-dekat istri aku?" ketus Keenan pada Farel.


"Dia istri kamu, Bang? Serius?" Farel menatap keduanya bergantian.


Lala sendiri hanya melongo melihat keakraban Farel dan Keenan.


"Kenapa Yong? Kamu kaget?" goda Keenan.


"Ya Tuhan dunia sempit banget! Jadi dia kakak ipar aku, Bang?"


Keenan tersenyum. "Awas jangan macam-macam." ancam Keenan


"Hampir Bang." Farel tertawa.


"S*alan."


"Hon, kok kamu diam saja?"


"Farel.. Teman dekat Abang waktu kita masuk club sepak bola dulu."


"Iya, kita bareng-bareng terus La. Tapi tiba-tiba dia menghilang kayak di telan bumi." Farel dan Keenan tertawa.


'Semalam sudah marah-marah gak mau di sentuh. Sekarang? Dengan wajah tanpa dosa ketawa? Dasar gak waras!'


"Aku ke kelas dulu, Rel." pamit Lala yang masih kesal pada Keenan. Keduanya seketika terdiam.


"Hon.. Honey." Keenan memanggil Lala. Beberapa dari mereka melirik Keenan dan Lala bergantian.


"Sayang." Keenan menyentuhnya punggung Lala.


"Jangan sentuh aku!" ketus Lala kesal.


"Aku minta maaf." Lala semakin mempercepat langkahnya menghindari Keenan.


Farel mengikuti mereka perlahan. Sementara Keenan menatap punggung Lala yang menjauh.


"Kenapa dia, Bang? PMS?"


"Gara-gara kamu!"


"Loh? Kok aku Bang?"


"Ah sudahlah!"


Keenan hendak pergi. Tapi Farel merangkul bahu Keenan.


"Sudah lama kita gak bertemu, Bang! Ayo cerita-cerita dulu. Biarkan si Lala menenangkan dirinya." Farel mengajak Keenan kembali ke kantin.


"Aku masih gak nyangka Abang suaminya si Lala. Terus yang dulu kemana Bang? Sudah lama kan kalian pacaran." Farel tak hentinya mengajak Keenan bicara.


"Mau setahun aku nikah sama dia."


"Keren.. Abang bisa dapatkan dia."


"Kenapa memangnya? Jangan bilang kamu naksir dia" ketus Keenan.


"Haha.. Abang tahu saja. Awal ketemu Lala memang aku lihat dia berbeda dari cewek lain sih Bang. Makanya aku tertarik. Tapi sekarang aku mundur langsung, ternyata suaminya Abang." Farel terbahak.


"Jadi cowok yang kemarin pakai motor, helm full face itu, kamu?" tanya Keenan


"Kemarin?"


"Iya. Yang lambaikan tangan pas mau pulang?"


"Oh itu, iya Bang. Kenapa?"


"S*alan!"


"Loh kenapa Bang?"


"Terus yang ngajak pacaran, kamu juga?" Keenan menatapnya tajam.


Farel hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya. "Aku pikir dia bohong, Bang."


Keenan meninju lengan Farel."Kurang ajar!"


"Haha.. Ampun Bang. Serius. Mana ada yang ngira si Lala sudah nikah."


"Si si! Gak punya sopan santun kamu! Dia seumuran sama aku!" ketus Keenan


"Yang bener Bang? Kok dia kayak baru keluaran SMA. waah.. Abang mukanya tua. Mau-maunya dia sama Abang."


Anj*r br*ngsek ni anak. Lama gak ketemu makin song*ng!" Keenan memukul pelan kepala Farel.


"Haha.. Sumpah, Aku senang sekali bisa ketemu Abang lagi. Aku cari-cari Abang tahu gak. Sampai aku keluar club juga gara-gara Abang gak ada."


"Bullsh*t"


"Haha... Emang!"


"Terus kenapa kamu gak lanjut?"


"Sejak cedera, aku gak boleh sama sekali main bola, Bang. Akhirnya ya sudah, mau gimana lagi."


"Aku masuk kelas dulu Bang." Farel berdiri namun Keenan menariknya.


"Temani aku saja disini. Kamu yang bikin aku sama Lala salah faham."


"Kok aku? Jangan bilang Abang cemburu?"


"Ya iyalah! Suami mana yang gak cemburu, istrinya disukai pria lain. Tapi setelah aku tahu, pria br*ngseknya itu kamu.. Wah, nyesel aku."


"Haha.. Kenapa nyesel Bang? Nyesel salah sasaran?"


"Bukan beg*! Nyesel cemburu, karena suaminya jauh lebih keren daripada yang naksirnya." Keenan senyum mengejek.


"Wah, Lala buta kalau begitu." Farel terbahak.


"Benar dia jujur punya suami sama kamu?" tanya Keenan penansaran.


"Iya. Dia bilang dari awal aku mulai dekati dia. Tapi ya, aku sama sekali gak percaya. Aku baru percaya saat temanku bilang Lala sudah nikah." ucapnya. "Dan sekarang lebih percaya karena suaminya dihadapanku." Farel terbahak.


"Terus yang dulu kemana? Bukannya dulu Abang cinta mati sama tuh cewek?" Farel seolah menginterogasinya.


"Dia udah married juga."


"Haha..Abang di tinggal?"


"Berisik lo!"


"Seorang Keenan Wijaya di tinggal ceweknya? Wah wah.. Andai aku tahu dari dulu, Bang."


"Kenapa?"


"Puas kayaknya ngata-ngatain Abang." Farel terbahak.


Keenan dan Farel tak hentinya bertukar cerita. Mereka memang sangat dekat sejak dulu. Hanya karena seorang wanita yang meninggalkan Keenan, Keenan menutup diri dan merubah semua kebiasaannya dulu. Hingga dia memutuskan masa lalunya.


"Kelas sudah bubar kali ya? Aku mau tunggu Lala di parkiran saja."


"Oke deh Bang. Eh, mana nomor Abang? Biar aku simpan. Nanti kalau ada apa-apa, aku calling Abang."


Keenan memberikan nomor ponselnya. "Lapor kalau ada yang dekati dia, oke?"


"Kalau aku yang dekati dia, gimana Bang?" Farel menaik turunkan alisnya.


"Wah, cari mati." Farel terbahak.


"Ya sudah. Aku jalan ya. Thanks Rel." Keenan menepuk lengan Farel.


Keenan berusaha menelepon Lala sambil menunggunya. Ia menatap Lala yang berjalan menuju gerbang kampus. Sesaat pandangan mereka beradu namun Lala segera membuang muka.


Keenan mendekat. "Hon. Ayo pulang." ajaknya hendak memegang tangan Lala.


Lala segera mengangkat tangannya. "Jangan pegang aku."


"Maaf."


"Yuk, masuk mobil dulu Hon. Gak enak dilihat orang."


Lala tak banyak bicara, dia mengikuti Keenan yang membukakan pintu mobil untuknya. Lala duduk menjauh dari Keenan.


" Aku minta maaf Hon."


"Kamu maafkan aku?"


"Enggak juga. Keenan sepertinya kita harus hidup terpisah mulai sekarang."


"Maksud kamu apa?" Keenan meninggikan suaranya.


"Please. Aku gak mau dekat kamu lagi. Aku gak mau jadi najis buat kamu."


"Astaga Hon. Sumpah aku menyesal. Aku tahu aku salah."


"Kamu tinggalkan aku, bersikap seenaknya, banyak mengatur, aku masih menikmatinya. Tapi saat kamu enggan aku sentuh, rasanya sakit banget Keenan."


"Iya aku salah Yong. Aku minta maaf. Aku kemarin marah. Aku gak tahu orang itu Farel."


"Kalau orang itu bukan Farel. Kamu pasti lebih murka bukan?"


"Aku.."


"Aku suka sikap posesifmu, aku menikmatinya. Tapi kemarin kamu gak mau aku sentuh, rasanya aku jadi kotoran buat kamu."


Keenan mendekat. Dia meraih tangan Lala "Please Hon, jangan begini."


" Aku gak mau kamu sentuh!" Lala membentaknya.


"Please Hon.. Maaf.. Aku salah. Jangan begini, Hon." Keenan menempelkan keningnya di punggung tangan Lala. Seketika Lala meneteskan air matanya.


"Aku gak mau kamu sentuh lagi, Keen. Lepaskan." ucapnya dengan terisak.


"Maaf. Aku salah. Aku salah banget sama kamu." Mata Keenan berkaca-kaca.


Keenan memeluk tubuh Lala sementara Lala hendak berontak. "Maaf. Aku salah. Aku salah, Yong." Lala semakin terisak.


"Maafkan aku Sayang. Bukan maksud aku jijik atau apapun. Hanya saja.. Hanya saja, aku sedang emosi." ucapnya.


Lala masih tak hentinya menangis, sementara Keenan masih berusaha membujuknya.


"Aku takut kehilangan kamu, Yong. Aku takut sumpah. Maaf kalau kemarin sikapku kasar. Aku hanya emosi." ucapnya.


Tangisan Lala mulai mereda. Keenan menatapnya kemudian mendaratkan kecupannya diwajah Lala.


"Kita pisah tidur saja, Abang gak sanggup Hon. Apalagi abang gak sentuh kamu."


"kau adalah darahku


Kau adalah jantungku


Kau adalah hidupku


Lengkapi diriku


Oh sayangku kau begitu.."


(Andra and the backbone - sempurna)


"Apa?" Keenan seolah memberikan mic pada Lala membuat Lala tersenyum.


'Astaga punya suami kelakuannya begini banget.'


"Kita baikan ya Yong" Keenan memberikan kelingkingnya pada Lala.


"Please kamu jangan kasih telunjuk, karena nanti Abang yang kalah." ucapnya kemudian


Lala terdiamencerna ucapan Keenan, tanpa sadar dia mempraktekan telunjuknya. "Tuh kan kamu yang menang."


"Astaga si Bambang." ceplos Lala tertawa.


"Akhirnya istriku yang aduhai tertawa juga."


Lala yang kesal menyubit lengan suaminya.


"Oh.. Maaf.. Maafkan diriku


Yang telah membuat hatimu terluka


Hanya kau cin.."


(Maafkan - Rio Febrian)


"Berisik! Konser mulu!" ketus Lala


"Haha.. Aku menghiburmu Sayang."


"Abang janji gak bakalan bicara begitu lagi." ucapnya.


"Maafkan Abang ya, Hon." Keenan mengecup bibir Lala.


"Makan yuk? Abang lapar." ajaknya.


***


Lala mengeringkan rambutnya setelah mandi. Sementara Keenan masih asyik di depan laptopnya.


"Abang kayaknya harus keluar kota lagi, Hon. Proyek baru sudah mau rampung." ucapnya.


"Kapan?" tanya Lala. Kini mereka sudah biasa kembali.


"Minggu depan, Yong. Kamu mau ikut?"


"Aku kan kuliah. Mana ada kuis lagi."


"Oh iya. Terus gimana?"


"Ya Abang sendiri. Memang berapa lama?"


"Seminggu. Tapi Abang usahakan cepat."


"Waktu itu saja malah lebih lama!" gerutu Lala.


Keenan tersenyum "Kenapa? Kamu gak bisa ya tanpa Abang?"


"Aku tanpa kamu? Merdeka." ucap Lala cuek.


"Ambilkan anggur, dong Yong." pinta Keenan.


Lala mengikat rambutnya hingga membentuk cepolan. Tanpa sadar, Keenan menatapnya dengan mata lapar.


Keenan menatap leher jenjang sang istri kemudian menurunkan pandangannya seoalah menyusuri lekuk tubuh sang istri.


Lala berjalan menuju dapur. Dia berjongkok membuka kulkas kemudian mulai mencuci anggur.


"Aw.." Lala berteriak kaget saat tangan Keenan memeluknya dari belakang.


"Abang! Astaga!"


"Sumpah kamu bikin Abang ingin Hon."


"Apa? Tunggu sebentar masih di cuci. Gak sabaran banget!"


"Abang mau ini" dia merem*s dada istrinya.


"Astaga Abang!"


"Sayang.." Keenan menyusuri leher Lala dengan leluasa membuat Lala menghentikan pekerjaannya.


Keenan membalikan tubuh Lala kemudian menciumnya mesra. Dia menggendong Lala dan mendudukannya di meja makan.


"Abang jangan disini." tanpa menghiraukan Lala, Keenan menyelusupkan tangannya kedalam tanktop yang dikenakan istrinya.


Lala menumpu kedua tangannya ke belakang, memberikan akses untuk suaminya bermain di dadanya. Wajah Keenan seolah terbenam disana.


"Abang pindah dulu.. " racau Lala yang mulai terpancing.


" Kenapa takut jatuh ya?" tanyanya seraya menggoda.


"Gak nyaman, Bambang!" Keenan menggendong tubuh Lala membawanya ke kamar mereka. Keenan menidurkan istrinya, seketika Lala bangkit. "Aku mulas, Bang." ucapnya seraya berlari.


"Astaga si Munah!" Keenan yang sudah berhasrat akhirnya kembali ke dapur.


.


.


.


Yuhuuu double up untuk hari ini.


Jangan lupa DOUBLE VOTE. VOTE yang buanyaaakk hari ini..


Follow igehku : only.ambu


Terima kasih, i love you unlimited ^^