My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Would You Be Mine?



"Bee, aku mau menjenguk Bu Tasya bareng yang lainnya ya" Lala menuliskan pesan pada Keenan.


Lala, Pak Bambang dan staff lainnya menjenguk Tasya di rumah sakit. Dia melihat Reza sangat terpuruk dengan raut wajah sedihnya.


Tak terasa, Lala meneteskan air mata saat melihat atasannya terpejam dengan peralatan medis disekitarnya.


'Ibu cepat sadar dan pulih lagi Bu.' batin Lala


Dia mendengarkan cerita Reza dengan berlinang air mata karena dia cukup dekat dengan Tasya.


"Tolong doakan Tasya ya La" Reza menepuk pundak Lala yang membuatnya makin tak kuasa menahan tangisnya.


"Bapak sabar ya Pak, aku selalu mendoakan Ibu" ucap Lala saat mereka hendak pamit.


Mereka kembali ke kantor dengan pikirannya masing-masing.


"Hon, aku jemput ya." Keenan menelepon Lala


"Iya, aku beresin kerjaan sebentar ya Bee."


Keenan sudah menunggunya dari tadi, tapi Lala tak kunjung tiba. Keenan yang tak sabar menelepon Lala kembali.


"Sebentar Bee, ini sedikit lagi. Harus dikirim sekarang. Sabar yaa"


"Ya udah beresin dulu saja Hon."


Setelah beberapa saat Lala masuk ke dalam mobil.


"Maaf lama nunggu ya Bee" Lala membelai lembut pipi Keenan


"Ngapain dulu?"


"Laporan harus beres hari ini, perasaan aku masih besok deadlinenya." Lala menyeringai


"Makanya ingat tanggal dong, yang diingatnya makanan mulu."


"Tuh kan jadi lapar Bee.."


"Dasar Markonah! Mau makan apa?"


"Apa aja deh."


Mereka nampak membisu.


"Kamu sakit? Kok lemes banget sayang?" Keenan mengelus kepala pacarnya.


"Bee, aku kasihan sama Bu Tasya."


"Ya mau gimana lagi Hon, berdoa saja."


"Kamu kok cuek banget. Dulu cinta mati kayaknya."


"Prioritas aku tuh kamu. Nanti kalau aku perhatian, kamu cemburu lagi."


"Enggak juga kali Bee. Kapan coba aku cemburu?"


"Lupa? Waktu itu kamu cemburu sama Mas Pram." Keenan tersenyum.


"Enak saja. Itu bukan karena Mas Pramnya. Tapi kamunya gak tahu waktu." gerutu Lala


"Jadi kenapa bisa kecelakaan?"


"Katanya mau nyebrang ke rumahnya, baru melangkah tiba-toba motor menabraknya sampai terpental. Yang kena kepalanya Bee."


"Ya Tuhan.. Terus yang nabraknya tanggung jawab?"


"Tabrak lari Bee. Anaknya Bu Tasya juga langsung dikeluarkan padahal belum waktunya."


"Anaknya meninggal Hon?"


"Enggak. Tapi sama dipasang alat juga. Cuma aku gak lihat anaknya kan diruangan khusus gitu katanya."


"Moga semuanya selamat dan sehat seperti semula."


"Aamiin. Kamu mau kesana Bee?"


"Enggak Hon. Gak enak. Masa tiba-tiba datang. Memang kamu sudah cerita tentang kita?"


"Belum Bee, kan Bu Tasya udah gak pernah ke kantor waktu itu. Lagian aku gak enak juga mau cerita, dulu kan kamu naksir Bu Tasya."


"Naksir doang Hon. Gak sampai nikung juga."


Keenan membelokan mobilnya ke resto pizza.


"Loh kok kesini sih Bee?"


"Beli pizza saja ya, tapi makan di KP, aku ada perlu." ucap Keenan.


"Mau apa kesana? Nanti kamu gak tahu waktu lagi!"


"Enggak Honey, percaya sama aku. Aku ada perlu dulu sebentar."


"Mau ikut turun?" ajak Keenan


"Enggak, kamu aja."


Keenan membawa lima box pizza berukuran besar.


"Banyak banget. Memang kamu mau ketemu siapa?"


"Buat karyawan Hon, aku kan belum pernah memberikan apapun untuk mereka."


Dia melajukan kembali mobilnya menuju KP.


"Yuk turun Hon." ajaknya hendak membuka pintu mobil.


"Sebentar, aku rapihkan baju dulu." ucap Lala


Keenan membuka jas dan dasi miliknya.


"Gulung Hon. Lupa aku juga." Keenan menyodorkan tangannya.


Lala menggulung kemeja Keenan sampai sikut. Dia membuka kancing bagian atas kemeja Keenan.


Keenan menggenggam tangan pacarnya masuk ke dalam kafe.


"Lalaaa.." Mas Pram menyambutnya


"Maass." Lala melambaikan tangannya dengan ceria.


"Makin gemesin deh kamu La" ujar Mas Pram


"Haha.. Mas Pram juga makin keren deh."


"Ekhem Honey.."


"Tapi lebih keren pacar aku" Lala melingkarkan tangannya dilengan Keenan seraya bercanda.


"Yol?" Desi menunjuk Keenan dan Lala yang sedang tertawa dengan menggulirkan matanya.


"Iya, itu pacarnya." Yola mengikuti arah mata Desi, dia ikut menatap mereka.


"Aku pikir cantik gimana gitu pacarnya, ternyata biasa saja. Cantik aku kemana-mana kali"


"Haha.. Pede banget. Lucu sih mukanya kalau kata aku, bukan lebih ke cantik gimana gitu. Lagipula cantik doang tapi gak bikin nyaman buat apa." ucap Yola.


Desi sengaja menghampiri mereka sambil membawa daftar menu.


"Mas" Desi mengangguk seraya tersenyum saat mereka duduk di kursi.


"Bee, Pizzanya?"


"Oh iya"


"Mas" Keenan melempar kunci mobil dengan sigap Mas Pram menangkapnya.


"Ambil pizza dimobil. Aku minta satu box saja sini. Sisanya buat anak-anak." ucap Keenan


"Siap Broku"


"Bee, kok nyuruh sih?"


"Capek, Honey. Kali-kali kan nyuruh dia."


Desi masih mematung.


"Kenapa?" tanya Keenan pada Desi.


Lala melirik Desi kemudian melihat menu dihadapannya "Oh astaga, Bee."


"Maaf ya Mbak. Aku mau Vanilla Late sama cappuccino." ucap Lala cepat karena merasa tak enak pada pelayan.


"Bee?" Keenan hanya mengangguk seraya memainkan ponselnya.


"Hanya ini saja Mbak?" tanya Desi


"Silahkan pizzanya Tuan Muda." Mas Pram datang kemudian menaruh box pizza di mejanya mengalihkan perhatian mereka.


"Iya, itu saja. Terima kasih ya Mbak" Lala tersenyum.


"Aku kasih tiga box untuk anak-anak, ini untuk makan malamku." ujar Mas Pram seraya memisahkan satu box pizza dihadapannya.


Dia memanggil pelayan dan menyerahkan tiga box pizza pada karyawannya. "Rame-rame ya"


Keenan, Lala dan Mas Pram makan pizza sambil berbincang.


"Ck..gimana sih Bee? Makan saja kayak anak kecil!" Lala membersihkan noda saos di kemeja Keenan bersamaan dengan datangnya Desi membawa minuman mereka.


"Mulutnya Hon" pinta Keenan cuek.


"Astaga.." Lala mengusap mulut Keenan.


"Manjanya Tuan Muda, aku dong La" pinta Mas Pram.


"Silahkan Mbak" ucap Desi setelah menaruh minuman mereka diatas meja.


"Terima kasih ya."


Desi semakin tertarik pada Keenan. Dia tak hentinya mencuri pandang pada bosnya itu.


Mas Pram meninggalkan mereka hendak mengambil minum untuk dirinya. Tak lama, Keenan menyusulnya.


"Beres Mas?" tanya Keenan


Mas Pram mengangguk. "Good luck Bro." Mas Pram menepuk pundak Keenan.


"Aku ke atas duluan, nanti dia suruh ke atas ya Mas" pinta Keenan.


"Siap Bro."


Desi masih menguping percakapan mereka. Matanya mengikuti gerakan Keenan yang menaiki anak tangga.


"Beres makannya La?" tanya Mas Pram duduk disebelah Lala


"Udah kenyang Mas. Mana Keenan?"


"Di atas. Susul saja. Tadi katanya sakit perut."


"Loh? Dia gak bilang sama aku Mas"


" Sana lihat saja."


"Gak apa-apa aku ke atas Mas?"


Lala menaiki anak tangga menuju lantai dua.


"Bee.."


"Aku disini Hon." Lala berjalan menuju asal suara.


Tiba-tiba alunan musik romantis terdengar dari dalam ruangan. Lala mematung di depan pintu kamar yang terbuka. Disana dia melihat Keenan yang berdiri dengan menyembunyikan tangannya.


Lala nampak kaget melihat dekorasi ruangan tersebut, sementara Keenan mengisyaratkan Lala agar mendekat ke arahnya.


"Would you Be Mine, Lashira?" Keenan berlutut dengan memberikan satu bucket bunga saat Lala berada tepat dihadapannya.


Lala nampak tak percaya.


"Bee.. Astaga.. Kamu kesambet apa?" ucap Lala


"Cepet jawab Hon, pegel nih"


"Haha. Off course, Yes. You know it. Kenapa nanya lagi coba" gerutu Lala


Keenan berdiri.


"Pegang bunganya" ketus Keenan karena Lala merusak suasana oleh celetukannya.


Keenan mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya. Dia menyematkan cincin emas putih dengan mata berlian di jari manis Lala.


"i love you, Lashira." Keenan mengecup kening Lala.


Lala memeluk Keenan. "Terima kasih Bee. Love you more" ucap Lala.


Mereka tertawa.


"Bee, dekorasinya masa kayak orang honeymoon?" protes Lala melihat sekeliling ruangan. Kasur tempat Mas Pram tidur di penuhi oleh kelopak-kelopak bunga mawar merah yang ditebar di sekelilingnya sangat menarik perhatian Lala.


"Tahu, si jomblo beg* banget! Masa nyuruh kita z*na sih" gerutu Keenan membuat Lala tertawa.


"Pegel ah berdiri terus." Keenan duduk bersila, Lala mengikutinya.


"Suka?"


"Suka, aneh, dan gak nyangka."


"Anehnya?"


"Dekorasinya Bambang" Keenan tertawa. "Maaf si jomblo yang dekornya Honey."


"Terus gak nyangkanya kenapa?"


"Kamu kan biasanya blak-blakan bilang Bee kayak kemarin-kemarin bilang sama Ibu, kamunjuga udah sering bilang sama aku juga. Aku pikir kamu gak akan melakukan hal romantis kayak gini, Bee."


"Lagipula kamu juga tahu, tanpa begini saja aku kan sudah mau terima kamu, Bee."


"Biar berkesan, honey"


"Sangat berkesan. Terima kasih, Bee." Lala melingkarkan tangannya di lengan Keenan.


"Aku sudah bicara sama Mama Papa, hari Minggu kita ke rumah kamu ya buat silaturahmi."


"Serius?"


"Masa aku bohong sih Hon." Keenan menatap Lala


"Nanti pas pulang aku bilang sama Ibu ya."


"Siapa saja yang datang?"


"Keluarga aku dulu Hon. Kan baru silaturahmi. Nah nanti acara tunangan kita di Hotel saja ya."


"Terus ini apa?"


"Ini spesial dari aku lah. Permintaan aku khusus buat kamu. Kalau tunangan kan keluarga besar dua belah pihak Hon. Jadi mereka juga harus tahu."


"Bee?"


"Kenapa kamu pilih aku Bee? Kamu bisa dapat wanita seperti apapun yang kamu mau." tanya Lala


"Kalau aku nyamannya sama kamu? Aku bisa apa?"


"Rese! Puji dikit kek!" ketus Lala membuat Keenan tertawa.


"Ya karena aku merasa kamu spesial di hati aku Hon. Cinta gak mandang fisik dan materi bukan?" Lala hanya mengangguk.


"Pokoknya nanti kamu bicara saja dulu sama Ibu ya Bee. Masalah di rayakan atau tidaknya tunangan kita, gimana nanti saja. Kamu begini saja aku sudah bahagia banget." Ucap Lala


"Kamu gak mau dirayakan?"


"Aku gak bisa bilang mau atau enggak. Tapi kalau boleh milih, aku hanya mau samampunya keluarga aku Bee. Aku gak mau merepotkan keluargamu" ucap Lala


"Kenapa?"


"Demi harga diri kami juga. Gak enaklah Bee, apa kata mereka nanti diluaran sana. Nanti dikira aku matre lagi, memanfaatkan kekayaanmu."


"Enggak Hon. Aku tahu siapa kamu dan keluargaku juga menyadari itu."


"Ya itu kan karena kalian sudah tahu aku, sementara diluaran sana kan pasti pemikirannya beda lagi."


"Kenapa sepeduli itu sih dengan pikiran mereka? Toh yang nanti menjalaninya juga kita, Hon"


"Ya tetep Bee, aku gak enak tahu. Aku gak mau merepotkan keluargamu"


"Ck.. Kamu ini kayak aku orang lain saja."


"Bee.." lala menyandarkan kepalanya di bahu Keenan.


"Apa sayang?" Keenan merangkul Lala.


"Aku lagi mimpi ini?" Lala memainkan bunga ditangannya.


"Aku juga." ucap Keenan tersenyum. "Aku mau kamu menemaniku hingga akhir usiaku, aku mau mendapatkan keturunan dari rahimmu, aku juga mau, aku prioritas utama kamu, nanti setelah kita menikah."


"Bee..kamu ngapalin ya bilang begitu?"


"Markonah dasar! Selalu merusak suasana romantis."


"Habis kamu bisa bicara manis begitu, Bee. Aku kan jadi aneh."


"Saat tertentu saja kamu bisa lihat aku kayak gini" ucap Keenan


"Dih! Lebay Abangnya!"


"Bee, yuk turun. Aku gak enak sama Mas Pram. Nanti dikira kita melakukan yang iya-iya lagi " ajak Lala membuat Keenan tertawa.


" Gak apa-apa, dia ngerti kok Hon." ucap Keenan


Keduanya turun dengan wajah bahagia


"Happy Engagement" teriak seluruh karyawan Keenan seraya bertepuk tangan. Kedai mereka sengaja tutup lebih awal atas instruksi Mas Pram


Keenan dan Lala tersenyum senang.


"Terima kasih." ucap mereka berdua.


"Cincinnya mana La?" goda Mas Pram.


"Haaii terima kasiih" Lala memamerkan cincin tersebut seraya tertawa sementara Keenan merangkul pinggang Lala.


Mereka menyalami Keenan dan Lala satu persatu.


"Besok aku traktir makan sepuasnya yaa." teriak Keenan membuat riuh suasana.


Keenan, Lala dan Mas Pram berbincang kembali.


"Mas, masa dekorasinya kayak buat orang honeymoon sih!" protes Lala


"Haha.. Masa sih?"


"Nyesel aku percaya sama si jomblo ini Hon" ujar Keenan


"Haha.. Sumpah aku gak sadar buat honeymoon."


"Kamu sengaja nyuruh kita z*na, Pramonoo?"


"Haha sumpah aku gak kepikiran kesana" ucap Mas Pram.


***


Hari yang dinanti mereka pun tiba. Keenan dan Keluarganya kompak memakai baju batik. Dia nampak gagah dengan tatanan rambut yang ditata oleh hair stylish kenamaan langganan keluarga mereka.


Mama dan Karina sangat anggun dengan pakaian formal yang dikenakannya.


Keenan menuruni anak tangga dengan langkah pasti.


"Cincinnya sudah?" tanya Mama


"Kan Mama yang pegang, Ma."


Mama Keenan membuka tasnya. "Oh iya. Mama lupa"


"Hantaran sudah siap Ma?"


"Sudah di simpan di mobil."


"Ada yang ketinggalan gak?"


"Kayaknya sudah semua."


"Yuk berangkat." ajak Pak Wijaya.


Sementara di tempat Lala, Ibu sudah mempersiapkan hidangan untuk menyambut kedatangan Keenan dan keluarganya.


Ibu dan Lala didampingi oleh ketua RW dan juga tetangga dekat mereka untuk menyambut keluarga Keenan. Lala tengah siap menunggu pujaan jatinya datang dengan degup jantung yang tak beraturan.


Lala nampak cantik dengan make up yang tidak terlalu menonjol.


Keenan dan keluarganya tiba di halaman rumah Lala. Karina melihat rumah Lala dengan rasa enggan, dia berdecak kesal namun Ibu memberikan isyarat pada Karina.


"Hantaran siapa yang bawa, Ma?"


"Nanti biar sopir saja membawanya satu per satu." ucap Mama.


Mereka berjalan dengan mantap masuk ke dalam teras rumah Lala.


"Assalamu'alaikum." ucap Pak Wijaya


"Wa'alaikumussalaam." Ibu dan Bu RW berjalan dari dalam ruangan hendak menyambut kedatangan mereka.


"Pak Wijaya"


"Bu Tita"


Ucap mereka bersamaan.


.


.


.


Kuuy dukung terus HonBee dengan like dan komentarnya. Jangan lupa vote yaa biar rangkingnya naik. Terima kasih ^^