My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Kamu Yang Pertama



Lala memutar tubuhnya melihat ke sumber suara.


"Maaf lama" ucap Keenan


"Aku pulang ya" ketus Lala


"Honey..maaf, aku salah" ucap Keenan. Lala memutar bola matanya jengah.


"Yuk, ngobrolnya disana saja" Keenan menarik paksa lengan Lala mengajaknya ke gazebo samping kolam renang.


'Seger banget jadi pengen nyebur' batin Lala saat melihat kolam renang.


Keenan duduk di samping Lala. Mereka terdiam cukup lama


"Keen"


"ya?"


"Kamu sengaja kan buat aku nunggu kamu?" ucap Lala


"Enggak Hon. Aku tadi berendam dulu"


"Berendam? Bisa-bisanya kamu asyik-asyikan berendam, sementara aku nunggu lama" ketus Lala


"Maaf Hon. Aku.. "


"Apa!"


" Jujur aku kesel sama kamu" ucap Keenan


"Gara-gara tadi?" selidik Lala


"Please Hon, gak usah diperjelas juga. Malu tahu" ketusnya


"Kok malu? Aku juga minta maaf ya Bee. Cukup waktu itu saja aku kecolongan" ucap Lala


"Kecolongan?"


"Iya. Kamu boleh cium ini, ini, ini" Lala menunjuk kening, hidung, dan punggung tangannya


"Tapi tidak untuk ini" dia memonyongkan bibirnya


"Kamu bilang tidak, tapi malah menggoda" gerutu Keenan


"haha.. Kan aku ngetes kamu. Kuat iman gak." ucap Lala seraya nyengir


"Maaf. Aku gak maksud ngerusak kamu La. Aku hanya menyalurkan kasih sayangku. Itupun gak jadi." ucap Keenan.


"Malu banget tahu kamu tolak aku kayak tadi. Rasanya harga seorang Keenan jatuh" lanjutnya


"haha..dih omongannya harga diri. Ngajak pacaran saja maksa-maksa tuh, gak ada harga dirinya"


"haha.. Anj*r lah Hon gak usah dibahas juga"


"Ih kamu bahasanya kasar terus deh!"


"Iya maaf. Lupa tayaang" ucap Keenan


"Kamu kenapa gak mau Hon?" tanya Keenan penasaran


"Kamu jijik sama aku" sambungnya


"Apa sih Bee, kamu bicaranya ih ngaco! Mana ada aku jijik sama kamu sayang" Lala menggenggam tangan Keenan


"Terus?" Keenan memangku dagunya menatap Lala


"Aku takut kebablasan. Katanya semua berawal dari sini" ucap Lala menunjuk bibirnya


"Masa sih Hon?" Keenan tak percaya


"Beneran Bee. Coba saja, rata-rata yang melakukan hubungan badan kan dari sana dulu" ucap Lala


"Coba kita buktikan" Keenan merangkul Lala


"Haha.. Jangan mancing deh kamu" Lala menjauhkan tubuhnya dari tubuh Keenan.


"Lah tadi kata kamu coba saja? Aku mancingnya dimana?" tanya Keenan


"Ih ngarang deh, siapa yang nyuruh coba?"


"Kamu lah" jawab Keenan cepat


"Aku sayang kamu Hon, gak mungkin aku ngerusak kamu." ucap Keenan


"Janji ya?" tanya Lala


"Eneng gak percaya sama Abang?" tanya Keenan


"Bang Al kali ah, Abang segala" ucap Lala seraya tertawa


"Bangkotan dia mah Hon" Keenan tertawa lepas.


"Ih seger banget liat air. Jadi ingin makan" ucap Lala


"Oh, ingin tidur Hon?" Mereka tertawa.


"Eh Bee, orangtuamu bukannya sudah pulang?" tanya Lala


"Belum. Aku bohong sama si Mira" ucapnya


"Pantesan kok sepi"


"Makan yuk? Aku lapar" ucap Keenan


"Gak ah. Aku malu makan disini"


"Kok malu?" tanya Lala


"Pokoknya aku gak mau. Nanti saja" ucapnya


"Terus mau makan diluar?" ajak Keenan


"Makan dirumahku saja" ajak Lala


"Enggak ah, aku juga malu" balas Keenan


"Ih rese deh kamu Bee!"


"Terus gimana dong?" tanya Keenan kemudian


"Ayo kita makan diluar saja." ajak Lala


"Aku ambil ponsel sama dompet dulu kalau begitu." ucapnya


Keenan berjalan kemudian menarik lengan Lala.


"Ikut aku Hon" ajaknya


"Kemana?" tanya Lala


"kamarku." ucapnya. Lala melepaskan tangan mereka.


"Jangan main-main deh. Kamu saja sana sendiri, aku tunggu disini" ucap Lala


"Siapa juga yang.. Oke, tunggu" Keenan tak melanjutkan ucapannya saat mendapat pelototan dari Lala.


Keenan meninggalkan Lala sendiri di depan kolam renang.


'Jadi ngantuk banget liat air tenang kayak gini' batinnya seraya menguap.


"Dia gak betah dirumahnya yang lega kayak gini. Malah rumpi dipojokan kampus. Padahal disini semua fasilitas ada. Dasar lelaki aneh" gumam Lala


"Apa sih kamu komat kamit kayak gitu" ucap Keenan


"Haha.. Enggak."


"Kamu cepet banget Bee?" tanya Lala


"Iya. Pake lift" ucapnya


"Eh yang benar Bee?" Lala nampak kaget.


"Haha, biasa aja kali Hon mukanya. Mau naik lift?" tanya Keenan


"Lift dalam rumah kayak apa sih? Penasaran banget." ucap Lala


"Ayo, mau coba?" ajak Keenan


"Tapi kamu, jangan bilang aku norak ya" ucap Lala


"Enggak honey, kamu gak norak kok" Lala mengembangkan senyumnya seraya menggelayut manja


"Tapi kampungan, Honey" Seketika Keenan terbahak sementara Lala melepaskan pegangannya.


"Yuk, kamu mau tahu?" ajak Keenan kemudian


Keenan berjalan mengitari kolam renang sambil menuntun Lala.


"Ini ruang karaoke, biasanya yang party disini. Karena dekat kolam juga kan? Eh kadang dipake buat nonton juga." ucapnya pada ruangan kedap suara dengan lampu disco diatasnya.


Keenan melewati ruangan tersebut, tibalah dia di ruang keluarga yang sangat luas. Dia menuju ke sisi tembok dan memijit tombol lift.


"Bee, padahal disana tangga, segitu doang pakai lift." ucap Lala


"Papa aku kan sakit Hon, jadi mau gak mau ya buat lift." ucapnya hingga tiba di lantai dua.


"Itu kamar kakak aku sama orangtuaku." Keenan menunjuk sebelah Kanan


"Orangtuaku ada juga sih kamarnya di bawah." tambahnya


"kamarku kesini" dia menunjuk kamarnya.


"Kok pisah sama yang lain sih, kamar kamu, Bee?" tanya Lala


"Kan aku cowok, punya privasi sendiri. Spesial lah aku tuh Hon" ucapnya bangga.


"Disana ada meja billyard, Foosball, peralatan gym dikit sih karena aku lebih suka sepakbola sama futsal" ucapnya


"Lapangan tennis sama basket ada gak?" canda Lala.


"Basket ada di taman belakang."


"Sumpah Bee, aku becanda kali. Tahunya ada beneran." Lala sedikit menciut.


'Jangan sampai kamu jatuh lebih dalam La. Dia bukan sekelas kamu. D tiup dikit saja kamu sudah ke Antartika. Jangan ngayal jadi bininya dia' batin Lala


"Yuk lihat kamarku? Aku suka main gitar di balkon sambil lihat kolam renang" ucapnya


"Enggak ah, privasi kamu itu" tolak Lala


"Buat pacarku, gak ada kata privasi" ucap Keenan seraya tersenyum


Dia berjalan menuntun Lala membuka kamarnya.


"Ya Tuhan, ada kali serumah aku ini kamar" gumam Lala


"Lebay kamu. Enggaklah honey"


'Ya Tuhan, kirain dia gak denger' batin Lala.


Keenan menarik masuk ke dalam kamarnya.


"Bee, ini kamar kamu sudah kayak kontrakan tahu gak?" ucap Lala. Keenan terbahak mendengarnya


"Kontrakan?"


"Iya. Semua ada dalam satu ruangan." ucap Lala seraya duduk di atas sofa empuk


"Cuma gak ada dapur doang" tambah Lala


"Dasar! Bisa-bisanya kamar aku disamain dengan kontrakan" Keenan mendengus


Keenan merebahkan tubuhnya diatas sofa tersebut, dia tidur di paha Lala.


Lala yang tak siap, jantungnya seakan melompat. Sementara Keenan menutup matanya.


Lala hanya mematung menatap wajah pacarnya. Tanpa sadar, Lala memainkan rambut tebal Keenan.


"Sumpah nyaman banget Honey" ucap Keenan masih memejamkan matanya.


"Gak usah pake sumpah juga percaya." ucap Lala yang membuat Keenan tersenyum.


Lala memainkan ponselnya karena tak ada yang bisa dia lakukan lagi saat Keenan tertidur dipangkuannya. Hingga suara gesekan roda dengan lantai mendekati pintu kamar yang membuat Lala menajamkan telinganya. Suara tersebut terhenti seketika, disaat bersamaan suara ketukan pintu mengagetkannya.


"Bee..ada yang ketuk pintu" ucap Lala.


"Astaga!" kesal Keenan. Dia bangkit sambil mengacak rambutnya dengan mata memerah. Dia berjalan menuju pintu kamarnya.


"Makanannya tuan muda" ucap pelayan


"Ganggu orang lagi tidur saja!" ketus Keenan


"Maaf tuan muda, saya tidak tahu. Saya hanya takut tuan muda dengan nona kelaparan saja" ucapnya.


"Ya sudah. Terima kasih!" ketusnya seraya mendorong meja kecil ke kamarnya. Keenan membawa makanan mereka dengan wajah kesalnya.


"Astaga, ini hotel apa rumah?" Lala sangat terkejut. Keenan memasang wajah datarnya


"Kok marah-marah sih Bee?" tanya Lala


"Pusing Hon! Aku baru saja tidur sudah dibangunkan." gerutunya sambil mendekatkan makanan mereka.


"Makan dulu ya? Kamu kan habis futsal. Habis itu kamu tidur lagi" bujuk Lala


"Suapin ya" pinta Keenan sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dengan posisi seperti tadi.


"Bee, masa makan sambil tidur sih?" tanya Lala saat mata Keenan terpejam


"Suapin aja Hon. Mulut aku bakalan otomatis kebuka kok" ucapnya.


Lala mengambil piring yang berisi kentang wedges. Dia menyuapi Keenan.


"Kok kentang doang sih?" tanya Keenan.


"Susah tahu Bee!" ucap Lala kesal


"Bisa Hon" ucapnya


"Keenan Wijaya bangun gak!" teriak Lala


"Astaga pacarku galak sekali" Keenan segera bangkit


"Makanya jangan aneh-aneh deh! Lu kata kita lagi honeymoon apa!" kesal Lala


"Boleh juga Honey" Keenan tersenyum menggoda


"Lagian kenapa sih kita jadi disini" gerutu Lala


"haha.. Kamu baru sadar Hon" Keenan terbahak.


"Pinter banget ya Bapak bisa giring aku kesini" Lala semakin kesal


"Haha..memangnya kamu itu bola apa Hon, pake digiring segala" ucapnya


"Itik Pak!" ketusnya


"Udah sih Honey, jangan marah-marah. Kamu itu wanita pertama yang aku bawa kesini" ucapnya


"Really? Lala tak acuh


"Sure, Honey" Keenan menatapnya


"Terus yang dulu?"


"Dulu kan aku masih anak SMA. Sekarang aku dah lulus kuliah. Aku sudah dewasa. Nikah saja sudah boleh sama agama dan negara" ucapnya


"Ngaco!"


"Haha.. Bener kan?"


"Gak mungkinlah kamu nikah cepat-cepat" sanggah Lala


"Kenapa enggak?"


"Secara kamu itu pewaris"


"Justru itu, aku harus memberikan keturunan, bukan?" Keenan menyeringai


"Dasar!"


Lala mengambil makanan mereka. Menuangkan mayonaise dan saos diatas piring. Keenan hanya memperhatikannya.


"La?"


"Hmm.."


"Would you be mine?" tanyanya


Seketika Lala terbahak.


"Apa sih Bee! Kita kan sudah pacaran" Lala menyembunyikan rasa gugupnya.


"Bukan yang itu ih. Aku serius" ucapnya menatap Lala


"Hei, pacaran kita masih bisa dihitung jari. Kamu jangan ngaco!" Lala meliriknya sepintas. Dia mengerti arah tujuan omongan Keenan.


"Anggap saja kita ta'aruf" ucapnya


"Haha.."


"Heh! Keenan Wijaya! Ta'aruf itu gak ada yang nyosor-nyosor kayak kamu! Duduk berdua kayak gini saja gak boleh. Tahu kan yang ketiganya siapa?"


"Mas Pram" Keenan terbahak


"Kamu tiap bahas yang ketiga siapa pasti jawabnya Mas Pram terus" ucap Lala yang ikut tertawa.


"Hon, gimana?"


Lala menjejalkan spaghetti ke mulut Keenan agar Keenan tak banyak bicara.


"Makan gak boleh banyak bicara." ucap Lala


Lala menyuapi dirinya dan Keenan bergantian. Sementara Keenan menatapnya intens.


"Ciuman gak boleh, tapi berbagi sendok" ucapnya


Lala hanya tersenyum mendengarnya.


"Ribet kalau dua sendok." ucap Lala


"Lagian kamu kenapa gak makan sendiri!" ucap Lala


"Enakan disuapin kamu" ucap Keenan.


"Bee.."


"Apa? Mau tambah?" tanya Keenan saat melihat piring mereka kosong


"Bukan."


"Aku gak enak sama orang disini Bee. Kita di dalam kamar. Nanti mereka pikir kita ngapa-ngapain" ucap Lala menggigit bibir bawahnya.


"Santai Honey. Mereka bukan ibu-ibu komplek yang suka ngegosip" ucapnya


"Yuk keluar" ajak Lala


"Tenang aja aku bilang! Apa aku harus minta kunci apartemen biar bisa berduaan?" goda Keenan


"Jangan gila kamu!"


Keenan tertawa kecil.


"Bee.."


"Hmm.."


"Aku mau ke toilet dong" ucap Lala


"Kamu kayak anak sekolah saja pakai bilang segala" ucap Keenan


"Ya kan kamu tuan rumahnya" ucap Lala


"Kamu pacar aku, kamu bebas lakukan apapun" ucapnya enteng.


Lala tak menyahutinya, dia segera masuk ke dalam toilet.


Kekuar dsri toilet, Lala melihat Keenan memangku gitarnya dengan memainkan nada secara asal.


'Gantengnyaa' batin Lala


"Nyanyi dong Keen" pinta Lala seraya mendekat.


"Jangan. Nanti kamu makin sayang lagi smaa aku" canda Keenan


'Iya jangan. Jangan sampe. Aku gak siap Keen.' batinnya


"Keen, pulang yuk?" ajak Lala


"Masih jam segini sih Hon"


Lala yang kesal, kini mulai berani berjalan melihat-lihat kamar Keenan. Matanya tertuju pada foto anak kecil memegang bola dengan senyum merekah.


"Ini kamu Bee?" tanyanya.


"Mana?" Keenan menaruh gitarnya mendekati Lala.


"Iya." Keenan tersenyum.


"Umur berapa ya itu? Kalau gak salah lima tahunan deh" ucapnya


"Lucu banget sih Bee"


"La, kamu kalau lagi berduaan gini beda banget tahu" ucap Keenan


"Bedanya?"


"Dewasa. Gak nyebelin, suaranya juga bisa pelan juga, terus.. " Lala membekap mulutnya.


"Kamu ini lagi bahas kelebihan aku apa kekurangan aku? Ngeselin deh" ucap Lala


Keenan menjilat tangan Lala yang membekap mulutnya.


"Bee! Jorok ih!" Lala mengelapkannya pada baju Keenan, Keenan hanya tertawa.


"Wleekk.. Bau"


"Lebay deh" ucap Keenan seraya menjitak kepala Lala.


"Sakit! Dasar ulat bulu!" gerutu Lala. Keenan terbahak.


"Aku tuh sama kamu jadi suka ketawa tahu, Hon."


"Mana Keenan yang sok cool, irit bicara, sama ketus itu?" tanya Lala


"Haha.. Itu kalau ketemu orang asing" ucapnya


"Sengaja ya biar orang lain tuh penasaran sama kamu?" ucap Lala


"Justru sengaja biar orang gak ada yang seenanknya, tahu"


"Bee, jalan yuk. Bosen nih" rengek Lala


"Mau kemana?"


"Terserah. Tapi pake motor ya?" pinta Lala


"Kenapa? Mau peluk aku ya?" goda Keenan.


"Enggaklah. Pengen kena angin saja." ucap Lala


"Ayo cepetan!" ajak Lala mendorong tubuh Keenan.


Keenan memakai jaketnya, dia membawa dompet dan ponselnya.


"Masukin tas kamu Hon" pintanya sembari memberikan dompet dan ponsel miliknya.


"Yuk" ajak Lala.


Keenan menggenggam tangannya menuruni anak tangga. Dia berjalan melewati ruang tamu. Saat hendak menarik daun pintu, pintu sudah terbuka lebih dulu.


"Mama.." ucap Keenan saat melihat orangtuanya


.


.


.


Nahloo gimana kelanjutannya? Vote dulu dong. Jangan lupa absen kehadiran dengan like dan komentarnya. Terima kasih