My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Masih Tak Menyangka



Temans, Ikuti terus kisah mereka yaa..


Bantu LIKE dan KOMENTARNYA.


Iya, JANGAN VOTE DISINI. Tolong VOTE BUKAN SITI NURBAYA saja yaa.. Terima kasih. ^^


--------


"Ya Tuhan.. " Lala menepikan motornya tepat setelah melewati rumah Keenan.


"Beg* gak ketulungan kamu La." Lala menoyor kepalanya sendiri


"Kenapa juga Keenan pakai pura-pura segala. Berlagak jadi orang biasa kayak di sinetron-sinetron" gerutunya lagi.


"Mending jadi pengemis terus tiba-tiba ngasih duit. Lah ini? Aku diancamnya" geram Lala


Cukup lama dia terdiam.


"Huuhh.. Bilang apa sama Ibu ya, aku bawa motor orang" gumamnya melanjutkan perjalanannya kembali


Sepanjang perjalanan Lala masih komat kamit. Hingga tiba di depan rumahnya.


"Assalamualaikum Bu" ucapnya


"Waalaikumsalam. Dari mana kamu jam segini baru pulang La?" tanya Ibu


"Antar teman pulang ke rumahnya Bu. Tadi dia kecelakaan" ucap Lala


"Hah? Terus gak apa-apa?" tanya Ibu


"Enggak. Ini motornya aku bawa" ucap Lala


Ibu segera keluar melihat motor terparkir di rumahnya.


"Kok Ibu gak dengar suara motornya ya?" tanya Ibu heran


"Makanya kalau nonton sinteron, kupingnya dipasang jangan cuma mulut sama matanya saja" gerutu Lala


"Bawa masuk saja La. Motor orang. Kalau hilang kita harus tanggung jawab" ucap Ibu


"Motor hilang kayaknya gak ngaruh buat hidup dia." gumam Lala


"Kamu bilang apa?" tanya Ibu


"Enggak Ibundaku. Aku mau masukin dulu motornya" ucap Lala


Lala keluar kemudian membawa motornya masuk ke dalam rumah.


"Duh lapar aku Bu"


"Heh! Mandi dulu sana, cuci tangan dulu kek minimal. Jangan runtuhkan harga diri Ibu sebagai kader gara-gara punya anak jorok kayak kamu ya La!" ucap Ibu menggebu


"Ih Ibu. Aku lapar Bu"


"Cuci tangan sana!" perintah Ibu


Lala segera mencuci tangannya. Tak lama dia segera mengambil nasi dan lauk pauknya. Sementara Ibu masih asyik di depan layar televisi.


Setelah selesai, Lala segera masuk ke dalam kamar. Tak lama dia keluar untuk mandi.


Lala membasahi tubuhnya, kepalanya dia guyur dengan air untuk menjernihkan pikirannya.


"Ya Tuhan, ini benar kan? Aku gak lagi mimpikan?" Lala menampar pipinya berkali-kali.


Setelah selesai dia keluar kamar mandi dan segera mengganti bajunya dengan piyama. Lala merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Tak hanya tubuhnya, tapi hati dan pikirannya terkuras habis. Dia masih tak menyangka dengan kejadian tadi.


"Keen, gila.. kamu sekaya itu" gumam Lala.


Lala mengambil ponselnya. Disana terdapat sebuah pesan dari Keenan yang membuatnya seketika bangkit.


'La, jaga motorku baik-baik. Awas, rahasiakan apa yang kamu lihat tadi!' isi pesan Keenan membuatnya seketika mengumpat.


"Manusia si*lan yang pernah aku temui! Kurang ajar! Gak tahu terima kasih!" umpatan demi umpatan menggantikan rasa kagumnya yang dari tadi menghinggapi dirinya.


"Sepenting apa sih hidupmu? Sekaya apapun juga gak ngaruh buat hidupku!" gerutu Lala


Lala sengaja tak membalasnya. Dia sangat kesal pada Keenan. Setelah capek mengumpat, tak lama dia tertidur dengan damai.


***


"Lalaaaaa banguuunnn. Jam berapa iniii?" teriak Ibu Tita padanya


"Ya Tuhan.. Selalu saja" gusar Lala.


"Ibu, tahu gak, ibu kalau teriak-teriak begitu bikin aku cepat mati!" gerutu Lala


"Kapan kamu berubahnya sih Laaa!" ucap Ibu


"Aku bukan spiderman Bu, gak bisa berubah!" ucapnya berlalu masuk ke dalam kamar mandi


"Punya anak perawan kelakuannya kayak bujang" gerutu Ibu


***


"Loh kamu gak berangkat? Malah duduk disitu" tanya Ibu


"Nunggu kang ojek Bu" ucap Lala


"Kenapa gak bawa motor temanmu?" tanya Ibu heran


"Motor orang Bu, masa aku bawa-bawa. Lagipula bari ini dia pasti gak masuk" Lala berbohong


"Oh begitu."


"La, nanti belikan ibu quota ya, Ibu lagi nonton drama Korea eh quota Ibu habis padahal lagi seru-serunya" ucap Ibu


"Idih Ibu! Sudah tua mah nontonnya azab alam kubur Bu, bukannya Oppa Oppa" protes Lala


"Halah Oppa. Dedek gemas gitu kamu bilang Oppa" celetuk Ibu


"Astaga.. Dedek gemas katanya" Lala menggelengkan kepala dengan tingkah Ibunya.


"Aku pergi ya Bu. Assalamualaikum" Pamit Lala


"Waalaikumsalam. Jangan lupa La"


"Apa?" Lala menoleh kembali


"Quota Ibu" ucapnya enteng.


"Oh ya ampun.. " Lala berdecak seraya menghampiri kang Ojek.


***


Lala tiba dikantornya seperti biasa. Dia mendapatkan kabar bahwa bosnya tidak bisa masuk hari ini.


"Sendiri lagi" gumamnya.


"Ada aku La" tiba-tiba Agus berada dihadapannya


"Ya Tuhan! Mas Agus kayak hantu saja!"


"Ada pesanan masuk gak?" tanya Agus


"Aku baru saja datang. Nanti aku kasih tahu kalau ada pesanan." ucap Lala ketus


"Gak mau aku temani La?" goda Agus


"Sudah sana sih. Aku dekat Mas Agus rasanya gatal-gatal" ucap Lala


"Memang aku ulat bulu!" gerutu Agus


"Semacam itu sih" Lala tertawa puas


"Becanda Mas Agus" ucap Lala


Agus meninggalkannya kembali.


***


Sudah dua jam Lala fokus dengan pekerjaannya. Getaran ponselnya membuyarkan konsentrasinya. Dengan penasaran, Lala segera membuka ponselnya.


"Pasti ngancam lagi ni orang" gumam Lala saat melihat Nama Keenan dalam pesan teks yang masuk.


"Motorku baik-baik saja kan La?" tulisnya dalam pesan


"Tumben ini orang gak pakai ketus" gumam Lala. Dia segera membalasnya.


"Aman tuan muda" goda Lala. Dia tertawa sendiri


"La!"


"Apa!"


Pesannya terhenti. Pikirannya melayang kembali dengan kejadian semalam.


"Kenapa dia ketakutan sekali sih? Heran!" gumam Lala


Dia meneruskan kembali pekerjaannya.


***


Disatu sisi, Keenan tak beranjak dari kasurnya. Tubuhnya terasa remuk akibat kejadian kemarin. Dia merutuki kebodohannya sendiri.


"Kenapa kemarin aku bawa si Lala ke rumah" sesalnya


"Si mulut rombeng pasti cerita sama Tasya" gumamnya dalam hati


Dia merasa kesal sendiri saat melihat ancamannya dalam pesan yang dianggap angin lalau oleh Lala.


"Gak ada takutnya ini anak" gumam Keenan kesal


Tak lama terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk" ucapnya


"Keen, kamu gak apa-apa? Mama buru-buru pulang saat tahu kamu kecelakaan" ucap Mama Keenan khawatir


"Gak apa-apa Ma"


"Mana yang sakit sayang? Mana saja?" Mama mengecek satu persatu luka Keenan.


"Kok bisa sih jatuh begini?" tanyanya lagi


Kesempatan yang tidak biasa itu dia manfaatkan.


"Papa suruh aku siap-siap pindah kuliah Ma, sepanjang jalan kepikiran. Eh malah tabrakan" adu Keenan pada Mamanya.


"Papamu itu.. Selalu saja memaksa! Nanti Mama coba bicara sama Papa" ucapnya


Seketika Keenan tersenyum berasa mendapat angin segar.


"Ma, aku gak mau jauh dari Mama, Ma" ucap Keenan merengek


"Iya Mama juga. Makanya kamu harus mau bantu Papa biar Papa tergerak hatinya"


"Iya Ma" ucapnya singkat


"Yakin kamu gak apa-apa?" tanya Mama


"Iya Ma. Cuma lecet-lecet saja"


"Ya sudah istirahat saja sayang. Mama tinggal ya, Mama mau arisan" gumamnya


"Bye Mama..jangan lupa bilang Papa ya Ma" pinta Keenan


"Beres" ucapnya seraya keluar kamar Keenan.


Keenan tersenyum senang.