
Lala duduk menopang dagunya di atas meja yang penuh dengan berkas laporan. Pikirannya tak fokus karena terngiang dengan permintaan suaminya.
"Resign, aku ngapain dirumah?" gumamnya seraya memainkan jemari tangannya mengetuk-ngetuk meja.
"Woi! Ngelamun aja!" Agus menghampiri. "Kenapa sih? Gak dapat jatah?"
"Ih sembarangan!"
"Terus kenapa? Cerita sini sama Babang kalau ada masalah." ujar Agus duduk di depan Lala.
"Mas Agus, kalau Mas Agus nikah istrinya mau di suruh berhenti kerja gak?"
"Hmm.. Enggak lah."
"Kenapa?"
"Sayanglah. Buat tambah-tambah. Haha"
"Ih dia gak sayang sama istrinya."
"Ya gimana mau sayang? Istri aja gak punya."
"hahaha..astagaa..lupa aku. Makanya, cari sana, Mas!"
"Cariin dong La."
"Tar ya, aku cari dulu di tong sampah, kali ada."
"Emangnya aku kucing apa!"
"hahaha.."
"Yuk mau makan bareng gak? Anak-anak mau ke tempat biasa." ajak Agus.
"Ya udah. Tunggu Mas" ucap Lala saat Agus meninggalkan ruangannya.
Lala berjalan bersama teman kantornya. Namun tiba-tiba ponselnya berdering.
"Aku di depan Hon." ujar Keenan tanpa basa basi.
"Maaass..duluan ajaa, suamiku ngajak makan bareng. Hehe"
"Ajak makan bareng kita aja, sekalian traktir kita-kita."
'Astaga, mana mau tuan muda makan di warteg. Ngebayanginnya aja bikin ketawa.'
"Nanti aku bawa cemilan aja yaa.." ujar Lala.
Lala kembali ke mejanya. Dia merapikan rambutnya, memakai lipstik dan bedaknya kembali agar terlihat segar dimata suaminya.
"Lama banget, Hon."
"Dandan dulu dong biar cantik, kan mau ketemu Yayang." Lala mengerling nakal.
"Bisa aja Munah" keenan mengacak rambutnya gemas.
"Yang ih! Kusut lagi rambut aku!" protes Lala
"Apartemen yuk?"
"Hah? Mau apa?"
"Celup-celup Yong" Keenan tertawa.
"Astaga, panas terik begini kamu mau main keringat. Enggak ah. Nanti pulangnya aja."
"Dosa nolak suami."
"Ya mikir aja kamu tuh ih! Masa main celup-celup di jam kerja? Aneh-aneh aja!"
"Biar kaya di film-film Yong, bos sama sekretarisnya main celup pakai baju kantor."
"Astaga Bambang! Aku ruqiah juga pikiran kamu!" Keenan terbahak mendengar penuturan Lala. "Kamu habis nonton ya?"
"Nonton apa?"
"Ya film celup-celup? Datang-datang minta jatah."
Keenan tersenyum. "Enggak Yong, aku becanda aja. Tapi kalau kamu gak nolak, ya aku mau banget lah." Ujarnya seraya tertawa.
"Astagaa Keenan Wijaya yang ganteng tiada tara, besok belikan aku vacum baru buat bersihin otak kamu dari hal-hal berbau begitu."
"hahaa.. Rugi kamu Yong kalau aku gak gitu." ucapnya.
Keenan menepikan mobilnya di rumah makan sesuai permintaan Lala.
"Kamu mau pesan apa Bee?"
"Soto lah. Emang ada apa lagi?"
"Ya iya soto. Soto apa maksudnya? Ayam, daging, babat, campur atau soto mie?"
"Ck.. Kamu tanya segala. Aku mau soto daging. Kapan coba aku makan soto yang lain?"
"Ya kali mau soto babat, enak tahu Bee."
"Geli Lashira! Gak usah dibahas." Keenan tak pernah tahu makanan aneh menurutnya itu.
Lala tersenyum, dia segera memesan makanan mereka.
"Kamu jangan-jangan hamil Yong? Tumben minta beli soto."
"Enggak kayaknya Bee. Cuma lagi kangen aja sama soto. Asem, pedes, panas, segar."
"Hamil juga gak apa-apa Yong, aku pasti seneng banget. Eh, bukan cuma aku, orangtua kita juga sama."
"aamiin."
"Kerupuk coba Yong." pinta Keenan.
Lala tersenyum melihat suaminya yang begitu lahap.
"Apa senyum-senyum?" Keenan meliriknya
"Tuan Muda makannya di tempat beginian terus."
"Iya gara-gara kamu."
"Gak apa-apa kali Bee. Orang ini kan rumah makan bukan gerobakan pinggir jalan."
"kali-kali dari mana? Sering gitu."
"haha..tapi kamu juga suka kan? Tuh lihat perut kamu."
"Lama aku gak olahraga Yong."
"Iya. Kamu dulu rajin futsal. Renang juga."
"Sekarang gimana? Jadwalnya aja penuh. Paling malem doang. Itupun olahraga ranjang. Untung masih rutin." Keenan tertawa kemudian terbatuk-batuk karena tersedak.
"Makanya jangan ketawa." Lala memberikan air minum padanya.
Selesai makan, Lala meminta Keenan kembali menepikan mobilnya untuk membeli donat. Dia membawa dua box donat untuk teman kantornya.
"Bee, kamu mau bicara sama Ibu?" tanya Lala saat mereka tiba di depan kantor Lala.
"Bicara soal apa?"
"Resign"
Keenan tersenyum mendengarnya. "Serius?" Kini dia membelai lembut pipi Lala.
"Hmm" Lala mengangguk. "Suamiku protes terus soalnya."
"Haha..aku cuma gak mau aja kamu kerja di orang, Hon. Atau kalau kamu mau, kamu jadi asisten aku."
"Enggak ah." tolak Lala cepat.
"Kenapa?"
"Nanti kamu celup-celup seenaknya." Keenan terbahak mendengarnya.
"Ya kan setiap ada kesempatan, jangan dilewatkan Yong."
"Idih, kata-katanya udah kayak kata mutiara. Atau motto hidup Abang?"
Keenan terbahak lagi. "Haduuhh gini nih kalau ketemu kamu tuh, mood aku naik lagi." Keenan menyubit gemas pipi Lala.
"emang kamu ada masalah?"
"Enggak. Aku cuma bingung gimana hukum si Karina."
"Udahlah Bee, dia jera juga kali."
"Enak aja! Kalau dia makin nekat gimana?"
"Tega aja kalau dia nekat. Masa sih adik sendiri di usik juga"
"Ck.. Kamu gak ngerti sih. Orang lain sampai bunuh-bunuhan demi harta."
"Kamu jangan"
"Ya enggak lah Oneng! Kalau dia minta, aku pasti kasih semua. Kita mulai saja dari nol lagi."
"kaya slogan tukang bensin, Bee." Lala tertawa
"Tukang bensin dia bilang" Keenan menoyor pipi istrinya.
"Yakin kamu mau dari nol?"
"Why not? Aku sudah terbiasa hidup sebagai rakyat biasa."
" Gilaa bilangnya rakyat biasa."
"haha.. Ya maaf Yong, bukan gitu maksudnya. Intinya, aku udah bisa hidup normal kayak manusia lainnya."
"Dulu kamu alien nya?"
"Si*lan!"
"eh? Kok bilangnya gitu?"
"Hehe.. Maaf Yong."
"Dah ah, aku masuk ya Bee. Kamu hati-hati, jangan telat jemputnya."
"Yang suka lama kamu kali Yong." ucapnya seraya memberikan kecupan kilat di bibir istrinya.
"Bau soto" keenan terkekeh.
"Apa lagi?" Lala memutar tubuhnya kembali.
"Tuh donatnya ketinggalan"
"Oh iya. Bisa ngamuk anak-anak kalau aku gak bawain. Hehe. Bye sayangku, cintaku, jangan rindu yaa."
"Dasar ganjen!" Keenan tersenyum.
***
Lala menunggu Keenan yang belum juga menjemputnya. Beberapa kali dia mencoba menelepon suaminya tapi selalu tak ada jawaban membuat Lala menjadi cemas.
Senja berganti petang, sudah lewat dari satu jam Lala menunggu Keenan hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Walau tak dipungkiri, dia sangat mencemaskan suaminya yang masih tak ada kabar sama sekali.
"Astaga.. Ya Tuhan.. Jauhkan aku dari pikiran-pikiran aneh." gumamnya saat teringat percakapan tadi bersama Keenan.
"Masa iya si Karina mau bunuh Keenan demi harta, amit-amit jadi janda muda." Lala menggelengkan kepalanya.
Lala masih berdiri di gerbang kantornya. "Apa dia di apartemen? Jangan-jangan main celup sama wanita lain?" teringat kembali percakapan lainnya bersama Keenan tadi.
Lala menghentikan taksi, Lala yang hendak pulang lantas mengubah tujuannya menuju ke Apartemen. Lala nampak tak sabar ingin segera tiba disana.
Lala membuka kode pintu apartemen mereka, seketika kuncinya terbuka. Lala masuk sedikit mengendap dengan jantung berpacu kencang. Bayangan Keenan sedang telanj*ng bersama wanita lain terlintas di pikirannya saat mendengar suara televisi menyala. Hatinya memanas seketika.
Begitu masuk, dilihat sosok suaminya sedang meringkuk diatas sofa membuatnya menjadi lega. Lala menghembuskan nafasnya kasar, dia menuju dapur untuk mengambil air mineral dan meneguknya tanpa henti.
Lala membiarkan suaminya yang masih pulas. Dia masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya dan menjernihkan pikirannya.
Lala keluar kamar mandi dengan tergesa saat mendengar ponselnya berdering. Terlihat nama Keenan dilayar ponsel miliknya. Seketika Keenan masuk ke dalam kamar karena mendengar dering yang sama.
"Hon?" Keenan sedikit terkejut. "Baru aku mau kasih kabar."
"Tega banget kamu Bee! Aku nunggu di kantor lebih dari satu jam."
"Astaga.. Maaf Hon. Aku ketiduran. Sumpah gak disengaja." ucapnya.
Lala mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. "Kamu habis main celup-celup sama wanita lain?" tuduhnya.
"Enggak sayang. Sumpah. Tadi beres meeting diluar, aku males ke kantor lagi. Makanya aku pulang saja kesini sambil nunggu jemput kamu." Keenan duduk si bibir kasur.
"Kamu tahu darimana aku disini Yong?"
"Insting seorang istri." ucapnya datar. "Aku lapar Bee, pesan makan dong."
"Kita gak pulang?"
"Tanggung. Disini saja. Nanti aku hubungi Ibu."
Keenan tersenyum senang."Kamu bebas mendes*h sayang." ucapnya seraya bangkit memeluk pinggang Lala.
"Pesan makan dulu, aku lapar." pinta Lala.
Kini keduanya tengah duduk di kursi makan. Lala menuangkan seafood kesukannya kedalam piring.
"Bee, belanja lagi piring deh. Ini kurang lebar. Ada tuh yang lebih gede."
"Ya udah, terserah kamu."
"Atau ambil aja dirumah Ibu. Ibu punya banyak perabotan."
"Nanti beli saja. Kalau kamu mau, kamu belanja sama Mama. Mama hobby banget koleksi benda-benda antik."
"Astaga, cuma piring doang Bee."
Keenan menatap piringnya. "Kamu gak tahu ini piring terbuat dari apa?"
"keramik kan?"
"Iya. Tapi bukan sembarang keramik. Mama sengaja pesan import sayang."
"Terus kenapa Kalau fungsinya cuma buat alas makanan juga? Gak ada bedanya sama piring plastik."
"Astaga. Gak ada jiwa seninya si Oneng."
***
Lala tertawa saat menonton acara komedi di televisi sambil memakan snack kentang kesukaannya.
"Bee, tolong ambilkan minum dong." pintanya saat Keenan keluar kamar hendak menghampirinya.
"Hon, kamu serius mau resign?" tanya Keenan seraya duduk disamping Lala.
"Huum. Kenapa?"
"Gimana kalau kita kuliah lagi?" ajak Keenan. "Pendidikanku harus mendukung Hon, agar orang tak memandang remeh aku cuma karena aku pewaris usaha Papa."
Lala tersenyum mendengarnya."Dewasanya suami aku. Kecup dikit ah." Lala mengecup kilat pipi Keenan.
"Terus kapan kuliahnya? Kamu kan kerja Bee?"
"Weekend aja Yong. Kamu gimana?"
"Aku kuliah kelas reguler setiap hari. Gimana?"
"Boleh kalau kamu mau. Sambil urus KP juga boleh. Atur-aturlah suka-suka kamu, Nyonya Wijaya."
"Nanti deh, setelah dapat restu dari Ibu. Aku gak mau ambil keputusan sendiri. Takut Ibu marah. Kamu sih malah kesini, jadi gak bisa bilang kan sama Ibu."
"Besok lagi aja." Ucapnya. "Kamu mau belajar nyetir mobil?"
"Hah? Buat apa?"
"Biar kuliah kamu bawa mobil sendiri Yong. Takutnya aku sibuk."
"Aku bisa naik ojek aja."
"Gak boleh. Mending bawa mobil sendiri aja."
"Nanti saja ah itu mah. Satu-satu dulu, Bee. Pokoknya sekarang minta restu aja dulu sama Ibu."
"Ya udah kalau gitu kita main celup-celup aja sekarang." ajak Keenan seraya menarik Lala ke pangkuannya.
"Bee.. Ih nakal!"
"Gak usah sok jaim kalau doyan, Hon." ucapnya hendak mengecup Lala. Tangan Lala lebih sigap, dia menutup mulit Keenan.
"Demi sebuah harga diri, tahu!"
"Harga diri yang mana? Udah abang beli ini pakai mas kawin." ucapnya seraya mel*mat bibir istrinya.
***
Lala dan Keenan kini tiba dirumah mereka setelah bekerja seharian. Keenan membawa makanan kesukaan Ibu sebagai rasa bersalahnya karena tak pulang ke rumah kemarin malam. Padahal sudah haknya mengajak Lala pulang Kemana pun dia mau, tapi dia merasa tak enak pada mertuanya.
"Baguuusss.. Gak ada yang kasih kabar ibu." ucap Ibu saat mereka tiba. Ibu hanya merasa dia memiliki anak gadis dan bujang menjadi lebih cerewet.
"Maaf bu, kemarin aku ketiduran di Apartemen sampai malam. Lala nyusulin kesana. Ya udah tanggung disana. Males pulang. Hehe."
"Ibu nungguin pintu sampai tengah malam, kali aja kalian pulang larut."
"Lagi Ibu gak ada kerjaan, pintu di tungguin. Jodoh Bu yang ditunggu." timpal Lala
"Sembarangan aja kalau bicara!"
"Aku bawa ini buat Ibu."
"Halah, nyogok kamu."
"kok tahu sih Bu?" Keenan tersenyum.
"Dasar kalian ini!" ucap Ibu seraya mencomot martabak.
"Makan Hon, laper." pinta Keenan.
Mereka duduk dimeja makan. Ibu menemani mereka seraya memakan martabaknya.
"Bu, aku mau bicara."
"Habiskan dulu makananmu, baru bicara." gerutu Ibu
Selesai makan, Keenan melanjutkan misinya.
"Bu, boleh gak kalau Lala resign?"
"Kenapa? Dia hamil?"
"Belum Bu. Aku masih usaha. Tapi aku mau dia fokus kuliah lagi saja. Lagi pula gak enak bu, masa aku pegang banyak karyawan. Lala kerja di tempat orang. Apa kata dunia?"
"Dunia gak akan berkata apa-apa. Paling orang lain yang ghibah." ibu meneguk air miliknya. "Gak boleh. Ibu mau Lala tetap bekerja. Dari awal perjanjian sama orangtua kamu sudah begitu Keenan."
Keenan sedikit teekejut. "Perjanjian?"
"Ya. Ibu mengajukan beberapa syarat waktu itu. Dan orangtua kamu memenuhinya."
"Kenapa mereka gak cerita?"
"Coba tanyakan pada rumput yang bergoyang." sambar Ibu cuek.
Keenan sedikit termenung.
"Bu, masa gak boleh resign?" Keenan bertanya lagi.
"Hmm.. Pokoknya gak boleh."
"Bu, aku kan yang berhak atas diri Lala, Bu." Keenan sedikit tak terima
"Iya memang. Tapi kamu tanya saja perjanjian Ibu dengan orangtuamu apa saja." ibu meninggalkan mereka.
Keenan dan Lala terdiam.
"Nanti aku coba tanya ibu ya Bee, aku bantu bujuk ibu." ucap Lala seraya mengelus tangan suaminya.
"Ya sudah. Yuk tidur Hon." ajak Keenan yang nampak kecewa dengan ucapan Ibu.
Lewat tengah malam Keenan masih terjaga sambil menatap istrinya yang sudah pulas.
"Kamu itu gak pernah ngeluh Hon, aku tahu kamu tangguh. Kamu menelan semua kepahitan hidup seorang diri, seolah semuanya bukan beban untukmu. Tapi mulai sekarang, aku gak mau kamu menanggungnya sendiri. Biarkan semua tugasmu beralih ke pundakku secara perlahan. Biarkan aku melaksanakan tugasku sebagai suamimu. Biar aku membahagiakanmu. Kamu pantas bahagia bersamaku Nyonya Keenan." bisik Keenan seraya mengelus lembut pipi istrinya.
.
.
.
Jamaah honbee jangan lupa ritualnya seoerti biasa. Like, komentar, dan vote yang banyaaakkk. Terima kasih ^^