My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Karina dan Keenan



"Hon.."


"Tahu ah!" Lala mematikan ponselnya. Keenan yang masih ngantuk memilih melanjutkan tidurnya daripada membujuk Lala yang pasti kesal kepadanya.


"Bisa sama orang nyuruh bilang kalau kemana-mana, tahunya dia sendiri gak bilang apa-apa! Rese dasar!" Lala merutuki ponselnya dengan kesal.


Beberapa jam kemudian, Keenan terbangun dari tidurnya. Dia mendapati dirinya tinggal seorang diri di kamar Mas Pram. Keenan duduk dan membuka ponselnya.


"Ah Pramono s*alan! Alamat ceramah si Lala kalau kayak gini!" gerutunya saat mengecek kembali ponselnya.


Keenan segera membersihkan dirinya dan turun ke bawah.


"Sudah bangun Bro?" sapa Mas Pram yang sedang menemani karyawan mereka.


Keenan tak menyahutinya, dia duduk di kursi sambil membuka ponselnya. Seorang pelayan baru menghampiri Keenan memberikan daftar menu padanya. Keenan mendongakkan kepalanya.


"Capucino sama roti cokelat keju saja" ucap Keenan.


"Baik.itu saja ya kak?" tanyanya seraya menatap Keenan yang sibuk dengan ponselnya. Keenan hanya mengangguk.


Mas Pram menghampiri Keenan dan duduk di depannya.


"Si*alan kau Mas! Si Lala pasti ngomel!"


"Hahaha sorry Bro, soalnya berisik. Aku juga gak sadar." ucapnya


"Dia gak mengangkat teleponmu Bro? Biar aku yang menjelaskan." ucap Mas Pram


"Gak usah Mas, dia ngomel bukan karena itu."


"Terus?"


"Ya karena aku gak bilang pas kesini."


"Haha cari mati kamu, Bro."


Mereka menghentikan obrolannya saat pelayan baru tersebut menyajikan pesanan Keenan.


"Des, dia juga pemilik kedai ini." ucap Mas Pram pada pelayan baru tersebut.


Keenan yang sibuk dengan ponselnya tak memperdulikan mereka.


"Maaf Mas, saya kira tadinya pengunjung." ucap Desi si pelayan baru sambil mencuri pandang pada Keenan.


Pelayan tersebut meninggalkan Keenan dan Mas Pram. Dia berjalan ke depan kasir.


"Itu atasan kita juga Yol?" tanyanya pada seseirang yang duduk di meja kasir.


"Iya katanya sih punya mereka berdua kedai ini."


"Ganteng banget." ujar Desi


"Sstt.. Sudah punya pacar." ucapnya


"Oh."


Keenan menghubungi sekretaris Karina untuk menanyakan keberadaan kakaknya itu.


"Bang Al pulang duluan dia?"


"Iyalah Bro, dia pegawai teladan." ucap Mas Pram


"Kau libur Bro?"


"Enggak lah. Aku mau ke tempat kakakku dulu." Keenan menyantap sarapan miliknya.


"Awas jangan main fisik Bro. Bicara dengan kepala dingin." Mas Pram memperingatinya. Dia dan Bang Al mengetahui semua permasalahan Keenan setelah semalam Keenan mencurahkan isi hatinya pada kedua sahabatnya.


"Sama si Lala doang aku main fisik." Keenan tersenyum jahil.


"Haha.. Pakai pengaman."


"S*alan, memangnya kita mau ngapain." gerutu Keenan.


***


Keenan kini telah berpakaian rapi, dia melintasi jalanan dengan kecepatan sedang hingga tiba disebuah gedung. Keenan masuk ke dalam gedung tersebut dan tanpa permisi dia membuka satu ruangan.


"Keenan?" Karina sedikit terkejut


"Ngapain kamu kesini!" ketus Karina kemudian


Keenan yang muak dengan kelakuan Karina, melempar foto ke hadapannya.


"Kenapa? Pacarmu selingkuh?" Karina sedikit tertawa setekah memungut foto yang berserakan dihadapannya.


"Berhenti mengikuti pacarku. Aku yang jadi rivalmu, bukan dia!" Keenan menatap tajam Kakaknya.


"Kamu menuduhku?"


"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kejadian di kafe itu."


"S*alan! Dia mengadu."


"Dia bukan wanita lemah tukang ngadu. Aku membuntutinya." ucap Keenan tegas.


"Kenapa? Pacarmu selingkuh? Sampai kamu membuntutinya. Kamu disakiti seperti dulu kan?" Karina tersenyum senang.


"Kalau kamu masih bersikap seperti ini, kamu tahu sendiri aku seperti apa. Aku bisa menyingkirkanmu lebih cepat, Kak!" ancam Keenan


"Dia yang selingkuh kenapa kamu mengancamku?"


"Aku tahu, kamu yang sengaja membuat kami renggang. Sayang sekali usahamu gagal. Aku mengenal pria itu." ucap Keenan santai.


Karina sedikit terperanjat mendengar penuturan Keenan. Dengan mudah, usahanya terbaca oleh Keenan.


"Kamu pikir aku bakal meratapi nasib karena pacarku selingkuh? Aku tidak akan jatuh di lobang yang sama! Dan sayangnya lagi, dia sangat setia. Jadi berhentilah dengan usaha busukmu Kak. Aku tahu apa yang kamu pikirkan."


"Yang aku pikirkan?" Karina mengulang


"Iya, kamu bermain dengan sangat halus. Sengaja membuatku depresi kembali agar semua aset Papa kamu yang akan menjalannya kembali, bukan?"


Karina terdiam menahan amarah.


"Aku tidak suka di usik. Aku tak peduli kamu menghabiskan uang Papa untuk melakukan apapun. Tapi sekali kamu mengusik hidupku, aku gak akan segan-segan, Kak! Sekalipun kamu kakak kandungku sendiri! Jadi berhenti melakukan cara licikmu!" ucap Keenan tajam. Tatapannya penuh amarah.


"Jangan berharap Papa akan memberikan asetnya padamu setelah mengetahui semua kelakuan burukmu!" ucap Keenan. Dia keluar dari ruangan Karina.


"Keenaaan br*ngseek!" Karina berteriak.


Keenan kini melajukan mobilnya menuju kantor Lala.


"Hon, aku di depan." Keenan menuliskan pesan pada Lala. Dia tersenyum saat melihat centang biru yang menandai Lala telah membaca pesannya.


Tak berapa lama, Lala terlihat mendekati mobil Keenan.


"Honey"


"Gak usah manggil-manggil."


"Maaf, semalam aku ke kedai gak bilang. Tadinya mau telepon kamu, cuma kamu pasti sudah tidur Hon."


"Terserah, aku gak peduli."


"Hon, ini aku kayak ada benjolan deh." ucap Keenan memegang anak rambutnya sebelah kanan.


"Kayaknya besar, sakit gini Hon. Kepala jadi pusing" ucapnya


"Sini kamunya."


Keenan mendekatkan wajahnya pada Lala.


"Mana? Gak ada." Lala meraba bagian yang ditunjukan Keenan.


"Bohong kamu ya!" Lala menoyor keras kepala Keenan membuat Keenan terbahak.


"S*alan kamu!" umpat Lala kesal


"Aku rindu dimanja tahu Hon"


"Sana sama Mas Pram."


"Kamu cemburu sama Mas Pram? Ya Tuhan Hon, aku bukan g*y sumpah." ucapnya seraya membentuk huruf V pada jarinya.


"Rese banget sih kamuu! Dari pagi sudah bikin aku penyakitan!" Lala menyubit lengan Keenan.


"Haha.. Maaf Hon. Aku cuma cari angin semalam. Akhirnya ke sana." bohong Keenan


Keenan melajukan mobilnya. Mereka terdiam sampai mereka tiba di sebuah restoran burger. Keenan memesannya secara drive thrue. Dan memarkirkan mobilnya disana.


'Parkir di restoran tapi pesan drive thrue? Dasar aneh! Kenapa coba gak masuk, makan di dalam saja sekalian!' batin Lala


"Kamu gak usah khawatir, Hon. Aku sudah bicara sama Karina" ucap Keenan menatap Lala


"Bodo amat"


"Dia gak bakal ngusik kita lagi. Kalau dia macem-macem, aku segera menyingkirkannya." Keenan kini membuka burgernya.


"Iya. Udah makan. Jangan banyak bicara." kesal Lala


"Kamu kenapa sih pendiam begini?" tanya Keenan


"Udah tahu sebel sama kamu, malah nanya lagi!" ketus Lala


"Iya maaf"


"Nanti lagi, aku juga gak akan bang kalau jalan."


"Ya ampun, aku kan cuma ke KP, Hon."


"Kamu curang sendiri sih! Aku di larang-larang. Sementara Kamu?"


"Iya maaf. Nanti lagi bilang deh."


"Kamu gak kerja?" Lala mengalihkan pertanyaanya.


"Habis ini ke kantor, Hon." ucapnya.


"Ngapain aja semalam Bee? Kamu nginep disana?"


"Semalam ngobrol saja sama mereka sampe subuhlah." ucapnya


"Mereka? Bang Al juga?"


"Huum" ucapnya seraya menggigit burger miliknya.


Lala mengambil tisu dan mengelap bibir Keenan.


"Sabtu mereka ngajak futsal, Hon. Kamu ikut ya?"


"Aku kan kuliah."


"Ya udah nanti aku anter kamu dulu kalau begitu. Tapi boleh kan?"


"Iya terserah."


***


Sebulan berlalu, Keenan dan Lala menjalani hari mereka seperti biasa. Keenan tak main-main dengan ucapannya, dia bekerja dengan serius. Begitupun Karina, dia tak berani mengusik adiknya kembali setelah Keenan mengancamnya waktu itu.


"Bee..kamu dimana?" Suara Lala terdengar serak diseberang sana.


"Kenapa? Kamu kenapa Hon?"


"Kamu dimana?"


"Aku diluar. Sebentar lagi aku jemput ya. Tunggu."


Lala berjalan ke arah mobil Keenan dengan mata sembab. Keenan tak melepaskan pandangannya dari Lala hingga Lala membuka pintu mobilnya.


"Bee.." Lala menangis seraya memeluk Keenan erat.


"Bu Tasya kecelakaan Bee." ucap Lala dengan suara terbata masih diiringi tangisannya.


"Kecelakaan?"


"Iya, sekarang dia gak sadarkan diri Bee." Lala terisak.


"Astaga...terus gimana?"


"Aku belum tahu kelanjutannya bagaimana Bee."


"Ya Tuhan, orang sebaik dia kenapa mengalami hal ini." Lala mengusap kedua matanya


"Kamu minum dulu sayang" Keenan membuka tutup botol dan memberikan air minum pada Lala


"Sudah tenangkan diri kamu. Aku pikir kamu kenapa."


"Ih kamu jahat."


"Bukan Honey, aku tuh takut kamu kenapa-napa." Keenan menutup kembali botol minumnya. "Kenapa bisa kecelakaan Hon?"


"Aku gak tahu Bee kenapa bisa kecelakaan, beritanya simpang siur. Kejadiannya baru tadi siang katanya Bee. Gak nyangka banget Bee, Bu Tasya kan hamil besar. Moga keduanya selamat. Aamiin."


"Aamiin. Berdoa saja Mudah-mudahan semuanya selamat."


"Pak Rezanya gimana?"


"Dia kan sendirian Bee"


"Sendirian?" Keenan nampak kaget.


"Kasihan dia Hon, sering banget begitu. Suaminya itu seolah tak peduli."


"Pak Reza kan kerja Bee."


"Iya, tapi dia mengesampingkan istrinya. Apalagi hamil begitu."


"Kalau aku, nanti kamu hamil. Aku gak biarin kamu sendirian dirumah. Mending aku titipkan kamu sama Ibu"


"Hayal terus" Lala mengusap muka Keenan membuat Keenan tersenyum.


"Mau pulang? Atau makan dulu" tanya Keenan


"Iya pulang saja Bee. Aku malu mata sembab gini."


"Ya sudah. Apa mau beli dulu, terus makan dirumah?"


"Kamu mau makan apa?" tanya Lala


"Masakan Ibu deh, aku kangen masakan Ibu."


***


"Assalamu'alaikum Bu.." Keenan masuk ke dalam rumah. Dia sudah tak sungkan dirumah Lala.


"Wa'alaikumussalaam."


"Lagi apa Bu?"


"Bikin pesanan. Biar besok subuh tinggal goreng."


"Apa itu Bu?"


"Risol. Kamu mau?"


"Mau dong. Memang ada sisa?"


"Ada. Ibu suka bikin lebih."


"Hon, goreng dong risolnya." pinta Keenan


"Ih kamu. Aku juga capek tahu."


"Ya udah, aku yang goreng aja." Keenan masuk ke dalam dapur.


"Udah sana temani ibu saja!" usir lala mendorong tubuh Keenan


"Dih gak ikhlas begitu."


"Ikhlas ih!"


"Bu, masa dia marah-marah." Keenan mengadu pada Ibu. Sementara Ibu sudah tidak asing dengan perdebatan mereka.


"Keenan, Ibu ingin bicara serius sama kamu" ucap Ibu seraya menggulingkan risol ke dalam tepung roti dan menatanya satu persatu.


Keenan menarik kursi dihadapan Ibu. "Bicara apa Bu?" tanyanya. Mata Keenan tak lepas menatap setiap gerakan tangan Ibu.


"Gak apa-apa ya, Ibu sambil gini, biar kamu gak tegang."


"Kamu sebenarnya kerja dimana? Kerja apa? Ibu ingin tahu dari dulu, cuma Ibu tahan-tahan."


"Aku kerja di perusahaan ritel Ibu. Memang Ibu gak tanya Lala?"


"Enggak. Yang ada nanti debat kalau Ibu nanya sama dia."


Lala mendengarkan percakapan mereka dengan jantung berdegup kencang.


"Oh." Ibu menata risolnya. "Apa kamu serius sama Lala?"


"Iya dong Bu. Dari dulu kan memang serius. Boleh aku ajak orangtuaku kesini untuk silatirahmi Bu?" tanya Keenan


"Baru Ibu mau ngomong. Kamu sudah ngomong duluan." ucap Ibu.


"Sehati kita Bu" Keenan dan Ibu tertawa.


"Oh jadi gitu? Kamu sekarang milih Ibu-Ibu?" Lala menaruh piring berisi risol goreng dihadapan Keenan.


"Haha.. Kamu cemburu La? Aku sepertinya nyaman bergaul dengan ibu-ibu"


"Gimana gak nyaman? Ibu-ibunya saja mempesona begini." tampal Ibu.


"Nah betul. Kece badailah Ibuku ini" Keenan mengacungkan kedua jempolnya.


"Kalian kan sudah pacaran lumayan lama juga"


"Belum setahun Bu." protes Lala


"Terus mau berapa lama lagi? Tiga tahun kayak cicilan motor?" tanya Ibu


"Enggaklah Bu. Makanya aku mau ngajak orangtua juga. Siapa tahu kita bisa cepat-cepat halal" ucap Keenan


"Iya lah. Ibu setuju begitu. Darioada lama-lama eh tahunya cuma jagain jodoh orang."


"Hahaha.. Keenan kesindir tuh Bu."


"Apa sih La!" ketus Keenan.


"Aw anjr*t panas.." ucap Keenan saat mengambil risol. Dengan refleks dia membantingkan risol tersebut ke atas piring.


"Sukurin" Lala masuk ke dalam kamarnya.


"Heh! Kasar mulu bicaranya."


"Maaf Bu, maklum aku kan cowok Bu. Daripada aku melambai lebih ngeri kali Bu."


"Jadi kapan kamu bawa keluargamu kesini?" tanya Ibu.


"Secepatnya Bu. Nanti aku kabari ya Bu."


"Honey sendok dong." pinta Keenan.


"Ih astaga. Kamu tinggal jalan kenapa sih." Lala mengambil sendok untuk Keenan.


"Kamu mau makan nasi gak?"


"Enggak ah. Aku makan risol saja."


"Di kulkas ada puding La, tadi Ibu bikin"


"Mau?" tanya Lala pada Keenan


"A.. Uu.. Sss..hhaaahh" ucap Keenan seraya mengangguk.


"Udah gak panas kali." ucapnya seraya mengambil beberapa puding dalam cup kecil.


"Panas tahu. Nih cobain." ucapnya setelah menelan risol.


Lala menaruh puding tersebut dan mengambil sendok yang dipakai Keenan. Dia membelah risol dan menyuapi dirinya sendiri.


"Haaahh.. Pa.. Naass.. "


"Sukurin" Keenan membalasnya.


Ibu telah membereskan pekerjaannya dibantu Keenan yang ikut belajar menggulingkan risol ke balutan tepung roti hingga pekerjaannya selesai lebih cepat.


Sementara Lala telah mandi dan memakai piyama tidurnya.


"Lama banget sih Hon mandinya." ucap Keenan yang menunggunya seorang diri sambil menonton televisi.


"Ibu tidur?"


"Iya. Ngantuk katanya Hon, nanti subuh kan harus goreng risol."


"Sana pulang. Kamu capek Bee."


"Nanti ah." Keenan merebahkan tubuhnya di kaki Lala.


"Ada ibu gimana! Bangun!" Lala berbisik


"Pegel Hon"


"Ya bangun dulu biar aku pindah."


Keenan tak bicara, dia menempelkan telunjuk di bibirnya sendiri. Tak berapa lama, Keenan benar-benar tertidur.


"Astaga.. Tidur beneran dia." Lala mengangkat kepala Keenan hendak berdiri.


"Aku kesemutan" ucap Lala saat Keenan membuka matanya dengan wajah kantuknya.


Dia segera ke kamar mengambil bantal.


"Pakai bantal tidurnya Bee." ucap Lala. Tak banyak bicara, Keenan mengambil bantal tersebut kemudian terpejam kembali.


"Bu, Keenan ketiduran dikursi tuh." Lala membangunkan Ibunya.


"Ya sudah biarkan saja kalau begitu."


"Gak usah di suruh pulang?"


"Gak usah. Nanti kalau dijalan dia ngantuk kenapa-napa lagi."


"Oh ya udah."


Hati Lala sangat senang saat Keenan tidur dirumahnya. Walaupun terpisah ruangan, tapi dia merasa sangat senang.


Lala mengambil selimut miliknya kemudian menyelimuti Keenan. Dia duduk dilantai, menatap wajah pacar tercintanya.


Tanpa sadar, tanganya mengelus lembut rambut Keenan. Lala juga memainkan alis tebal milik pacarnya. Dia mengecup lembut kening pacarnya.


"Love you Bee. Mimpi indah." Lala berbisik ditelinga Keenan.


.


.


.


Gemooyyy gak tuh merekaaa.. Kuuyy like dan komentarnya yaaa.. Jangan lupa vote juga. Terima kasih ^^