
"Astaga.. Susah sekali buka pintunya" ucap Lala membuat ketiganya melongo. Padahal Lala sengaja mencari perhatian agar mereka tahu, siapa yang ada di dalam sana.
"Maaf kalau mengganggu, pintunya susah dibuka." Lala tersenyum dengan sengaja menampakan deretan giginya membuat ketiganya tersenyum pucat.
"Honey.. Kamu di dalam?" teriak Keenan
"Permisi, suamiku memanggil"
'Tuhan, Kau mengirimnya diwaktu yang tepat' sorak Lala dalam hati. Setidaknya Lala membuat mereka berkeringat dingin saat ini.
"Iya sayang, maaf lama. Pintu toiletnya susah dibuka. Kamu perbaiki dong Sayang, kasihan kan karyawan kamu." suara Lala sengaja lebih tinggi agar terdengar mereka.
"Kok kamu ke toilet karyawan sih?" tanya Keenan yang terdengar sama-sama oleh mereka.
"Iya, tadi aku mau panggil kamu. Kamunya sedang ngobrol. Aku gak enak mau ganggu, akhirnya aku cari toilet sendiri." ucapnya seraya berjalan menuju ruangan Keenan.
Lala masih memikirkan ucapan ketiga wanita tadi yang dia yakini ditujukan kepadanya.
"Bee, ruangan kamu bisa dikunci?" tanya Lala
"Bisa." Keenan masih fokus membaca kertas dihadapannya.
Lala mengunci pintu Keenan membuat Keenan mendongak. "Kamu mau ajak aku main bos sekretaris?" senyum Keenan penuh arti.
"Kamu punya ruangan rahasia kayak di novel-novel gak Bee?"
"Ruangan apa?" Keenan menatapnya heran.
"Ya barangkali punya tombol rahasia yang sekali dipijit langsung kebuka ruangan lain." cicit Lala yang membuat Keenan terbahak.
"Mimpi kamu! Ini ruangan bekas Papa. Mana ada ruangan rahasia. Mau ngapain juga pakai ruangan rahasia." terang Keenan. "Kalau mau ajak main Abang, di sofa juga bisa atau disini." Keenan menepuk pahanya.
Lala menghampiri suaminya. Dia duduk di paha Keenan. "Berat juga Yong" keluh Keenan.
Seketika Lala menoyor pipi Keenan. "Makanya jangan sok." Dia turun kembali membuat Keenan terbahak.
"Becanda sayang." Keenan menarik lengan Lala hingga duduk dipangkuannya kembali.
"Tadi di toilet ada yang bahas kita, Bee. Kamu dijadikan bahan taruhan mereka. Katanya, kalau dia bisa merebutmu dari aku, dia dapat tas yang dia inginkan dari temannya."
"Maksudnya aku seharga tas itu?" Keenan tersenyum meremehkan. "Kurang murah." ketusnya
"Aku malah dapatkan kamu secara cuma-cuma." ucap Lala seraya tertawa. "Mana di obral lagi." Lala semakin puas.
"Kalau aku berhasil terpikat olehnya, bagaimana?" goda Keenan. Seketika tawa Lala terhenti atas pertanyaan Keenan.
"Kamu macam-macam? Aku cekik saja!" dengan tangan yang siap mencekik Keenan. "Awas saja kalau kamu tergoda!" ketus Lala yang tersulut.
"Haha.. Enggak lah sayang. Cintaku mentok sama kamu."
"Kalau cintamu mentok sama aku, tapi si itu ingin celup kemana-mana, gimana!" keluh Lala.
"Gila kali ya, Abang celup-celup ke tempat lain. Emang Abang cowok macam apa!"
"Ya kali, Bang."
"Enggak, Honey. Heh! Aku tuh sudah bersumpah dihadapan Tuhan, orangtua, teman-teman, kerabat. Gila saja kalau aku macam-macam. Bakal jadi headline news kali, Yong."
"Semoga saja kamu kuat segalanya, Bee." Lala melingkarkan tangannya di leher Keenan.
"Kamu tadi gak balas mereka, Yong?"
"Hati aku sudah panas banget, Bee. Ingin rasanya tarik bibir mereka satu-satu, ikat pakai karet, terus gunting mulut mereka. Tapi aku pikir ulang, aku harus jaga nama baik kamu" keluh Lala. "Masa istrinya Keenan Wijaya seorang bar-bar?" Keenan tertawa.
"Aku gak mau buat keributan disini. Lagi pula kalau aku macam-macam, bukan cuma kamu yang kena imbas. Tapi seluruh keluarga Wijaya."
"Biarkan aku menjadi wanita lemah terus berdoa karena di dzolimi seperti di sinetron ikan-ikanan itu."
"Hahaaa.. Anj*r bukan kamu banget itu mah." Keenan terbahak.
"Duh, bawa kamu kesini, akunya jadi gak konsentrasi. Malah ingin ngobrol terus sama kamu, Yong." Keenan merapikan anak rambut Lala
"Ya sudah sana kerja lagi, biar cepet beres." Lala turun dari pangkuan suaminya.
Keenan kembali fokus bekerja sementara Lala berselancar di dunia maya hingga sebuah ketukan mengagetkannya.
"Masuk" jawab Keenan. Daun pintu terdengar bergerak.
"Astaga, aku lupa tadi di kunci." ucap Lala.
Lala membuka pintu ruangan. "Loh, Mama?" Lala tersenyum senang.
"Lalaa" mereka berpelukan.
"Kamu gak kerja, La?" tanya Pak Wijaya
"Aku baru resign, Pak. Keenan bawel minta aku resign terus." ucapnya seraya mengecup punggung tangan Pak Wijaya.
Mama Papa Keenan saling tatap. "Benar kamu resign?" tanyanya kemudian. Mereka nampak tak percaya.
"Iya Ma."
"Ibu tahu kalau kamu resign?" Mama seolah meniterogasi.
"Tahu Ma." kedua mertuanya tersenyum.
"Syukurlah kalau Ibu tahu."
"Sebelumnya, Keenan minta izin sama Ibu, Ma."
"Apa ibu marah, La?"
"Marah kenapa, Ma?"
"Hmm.. Ya barangkali Ibu marah karena kamu resign. Mama gak mau jadi masalah antara kalian."
"Enggak Ma, Ibu sempat melarang, tapi aku bilang sama Ibu mau urus kedai Keenan, Ma."
"Kedai Keenan? Kamu punya kedai, Keen?" Mama Papa kini menyimak mereka dengan serius.
"Kedai kamu, Yong." ralat Keenan. "Join sama teman, Ma. Jadi bukan aku yang urus. Tapi Lala nanti akan terjun langsung. Lumayan, perkembangannya cepat juga." ucap Keenan.
"Baguslah kamu ada usaha lain." Pak Wijaya memujinya.
"Keenan dewasa sekarang berkat punya istri." puji Mama.
"Iya lah Ma, aku bukan anak kecil lagi.
"Terus kenapa barusan ruangannya kamu kunci? Kamu jangan ajak Lala main disini Keenan."
Seketika wajah Lama memerah karena malu.
Keenan tersenyum usil. "Lala ngajak Ma."
"Enak saja! Bohong Ma." Lala melotot pada Keenan. Dia teramat malu pada mertuanya walaupun tidak melakukan apapun.
"Tadi kan kamu yang kunci pintunya, sayang." Keenan masih memojokan Lala.
"Astaga, tadi aku cuma betulkan baju saja, Abang!" Lala semakin geram karena ulah suaminya.
"Sudah, ini bukan dirumah." Pak Wijaya ikut berkomentar membuat mereka terdiam.
"Mama mau apa kesini, Ma? Tumben." tanya Keenan.
"Mama bosan dirumah. Ya sudah, ikut Papa saja kesini. Toh kalian cuma meeting saja. Eh kebetulan ada Lala juga."
"Makan siang bareng yuk, mumpung kita kumpul." usul Mama kemudian.
Keenan melirik jam yang melingkar ditangannya. "Yuk, masih ada waktu sebelum meeting."
Perhatian karyawan teralihkan saat mereka keluar dari ruangan Keenan. Hal yang sangat jarang sekali mereka lihat, keluarga Wijaya berada di kantor pusat. Terlebih, kehadiran Lala yang sedari tadi menjadi buah bibir. Mereka masih menduga-duga siapa sosok Lala karena gosip yang beredar di kantor bahwa Keenan masih single dan baru lulus kuliah.
Lala mengedarkan pandangannya, mencari tiga wanita yang merendahkannya tadi. Dia ingin menunjukan pada mereka bahwa dia tidak selevel dengan mereka. Apalagi saat ini, lengannya digandeng oleh sang mertua tercinta.
"La, bagaimana kalau setelah makan kita jalan-jalan sambil menunggu mereka meeting?" ajak Mama
"Boleh Ma. Mama maunya kemana?"
"Kita ke Mall yuk?" ajaknya.
"Ayo, sudah lama juga Lala gak ke Mall, apalagi minggu lalu Keenan ke luar kota."
Mama mengajak mereka makan di restoran bintang lima membuat Lala sedikit gugup. Ini kali pertama mereka makan bersama diluar.
Untungnya, Lala pernah diajak Keenan ke tempat mewah saat awal nikah dulu, membuat Lala sedikit paham makan bersama kalangan atas.
"Kamu mau makan apa, Hon?" tanya Keenan.
'Ya Tuhan, sekeras apapun aku mau naik level, tetap saja aku lebih merindukan semangkok baso di depan gerbang kantor.' batinnya.
Keenan tahu Lala kebingungan, dia membantu Lala dengan memilihkan steak untuk mereka berdua.
"Mama sama Lala mau jalan-jalan habis ini." Mama menatap Keenan
"Mau kemana memangnya?"
"Jalan-jalan saja. Paling ke Mall kalau enggak ya kita mau spa bareng."
Keenan hanya menganggukan kepalanya.
"Aku bilang, kamu yang pegang." Keenan memberikan kartu sakti pada Lala setelah mereka selesai makan.
"Aku gak butuh."
Lala menerima kartu tersebut ragu-ragu. "Ada hak kamu disemua hartaku, Hon." Keenan menatapnya.
"Aku cuma takut, kamu berpikir aku matre.
" Astaga! Masih saja. Kalau kamu matre, aku gak bakalan nikah sama kamu, sayang."
"Sana. Mama pasti nunggu." ucapnya.
Lala menghampiri mertua yang menunggunya. "Kenapa La?"
"Gak apa-apa, Ma. Yuk." ajaknya
Sejauh ini, percakapan mereka masih menyenangkan untuk Lala. Dia bisa menyeimbangkan obrolan bersama mertuanya. Namun tiba-tiba sang mertua menariknya ke sebuah butik brand ternama yang membuat nyalinya menciut seketika.
'Mamp*s' batin Lala. Dia menelan salivanya.
"Ini bagus gak La?" tanya Mama membolak balikan tas berwarna cokelat.
"Bagus Ma."
'Biar cepat.' racaunya.
"Kamu pilih La."
"Enggak Ma."
"Mama yang traktir. Tenang saja."
"Gak usah Ma. Aku masih ada tas yang belum dipakai."
"Gak apa-apa." Mama mengambil tas kecil. "Ini cocok nih, kamu kan suka tas yang begini."
Lala meraba tas tersebut. Pelan-pelan dia melihat label harga yang menggantung.
'Astaga, cocok barangnya. Gak cocok harganya.' batin Lala.
"Bagus kan?"
"Iya Ma. Tapi aku tidak tertarik." 'Aku tidak tertarik sama harganya, Ma.'
"Bagus kan Mbak? Cocok di kamu, La." paksa Mama seraya menatap pramuniaga yang berdiri disamping Mama.
"Bagus sekali, Nona." timpal wanita tersebut.
"Sudah ambil. Mama juga yang ini saja." ucapnya seraya memegang tas yang dia inginkan.
Lala pasrah. Dia tak enak untuk menolak keinginan mertuanya.
"Biar pakai ini saja, Ma." pinta Lala menunjukan kartu sakti berwarna hitam.
"Keenan kasih kamu itu, La?" tanyanya
"Iya Ma. Tapi aku gak butuh sih." Lala tertawa kikuk
"Ayo, kita pakai punya dia." Mama mengambil kartu tersebut dari tangan Lala.
"Mama belum tahu gimana rasanya gaji Keenan." ucapnya seraya tersenyum.
'Hikks.. Aku pikir Mama bakalan nolak.'
Keluar dari toko, seorang perempuan menghampiri mereka. Tanpa banyak bicara, Mama memberikan barang belanjaannya pada wanita tersebut.
"Kasih dia saja, La." Mama menatap Lala.
"Siapa dia, Ma?" Lala balik menatap wanita berambut pendek dengan postur tubuh yang sedikit kekar.
"Mama lupa. Namanya Reina, panggil dia Rei. Ajudan Mama, La. Berikan saja padanya biar tidak repot."
"Jadi dari tadi kita diikuti?" Lala melongo.
"Hehe iya. Demi keselamatan kita." Mama mengambil belanjaan ditangan Lala kemudian memberikannya pada wanita tersebut.
"Maaf merepotkan ya Mbak. Terima kasih." Lala mengangguk malu.
"Baik Nona jangan sungkan."
Mama Keenan menarik Lala masuk kembali ke toko lain hingga tak terasa, belanjaan mereka membuat Rei kewalahan.
"Aku saja yang pegang, Mbak." ucap Lala yang merasa kasihan pada Reina.
"Terima kasih, Nona."
"Ma, sepertinya mereka selesai meeting. Sudah sore juga ini, Ma." Lala tak sanggup lagi mengikuti mertuanya yang gila belanja.
"Oh iya, asik banget belanja sama kamu, La."
'Asiklah, gratisan.' batinnya berteriak tak rela.
Mama menggandeng Lala seraya masuk ke dalam lift menuju ruang meeting di lantai 12. Namun saat dilantai 3, pintu lift terbuka. Salah satu wanita yang ditemuinya di toilet menatapnya dan nampak ragu untuk masuk.
"Silahkan Mbak." ucap Lala.
"Gak apa-apa, Bu. Silahkan terlebih dahulu." ucapnya sopan.
"Masuk saja. Kamu sendirian, masih muat kok." timpal Mama Keenan.
Lala yang lelah seletika bersemangat untuk membalas dendam secara halus.
"Abang ngajak aku honeymoon, Ma. Aku bingung mau kemana? Menurut Mama yang cocok buat kita kemana, Ma?" tanya Lala dengan sengaja.
"Paris kamu gak mau?" tanyanya
"Aku tadinya mau ajak Abang ke Thailand saja, Ma biar gak jauh. Kasihan juga Abang kan bolak balik luar kota."
"Biar nanti Mama minta Papa yang handle kerjaan. Kamu sama Keenan honeymoon saja. Papa emang keterlaluan, Mama gak setuju kalau Keenan sudah sibuk dari sekarang."
"Gak apa-apa, Ma. Abang juga gak pernah ngeluh sih. Ngeluhnya kalau lagi dinas luar kota kayak kemarin."
"Iya, dia gak mau jauh dari kamu. Dulu saja nempel, apalagi sekarang sudah nikah. Bisa-bisa Mama cepat dapat cucu dari kalian." Mama tertawa senang.
'Bakar.. Bakar.. Biar gosong. Tuhan bersama orang-orang yang beriman, nona cantik.' Lala merasa puas.
Ketiganya tiba di lantai 12. Lala tak menyangka kalau wanita tersebut ternyata menuju lantai yang sama dengannya.
"Mbak meeting juga?" ceplos Lala penasaran.
"I.. Iya Bu."
"Memang belum beres?" tanya Mama.
"Sudah Bu, ini saya hanya meminta tanda tangan Pak Keenan saja." ucapnya
Mama mengajak Lala masuk ke dalam ruangan tersebut setelah tahu disana hanya tinggal beberapa orang bawahannya.
"Wah, Mama mau meracuni Lala." ucap Keenan saat melihat ketiga wanita masuk bersamaan.
"Haha.. Mama belum coba gaji Direktur Baru." ucapnya.
Lala hanya mematung berjarak dengan Keenan saat wanita tersebut meminta tanda tangan Keenan.
"Sayang, kamu jangan mau ya jalan lagi sama Mama." canda Keenan di sela-sela menunggu wanita tersebut membalikan lembaran kertas.
"Abang, kerja saja dulu." protes Lala.
"Sudah beres kok, La. Kalian kalau mau pulang terlebih dahulu gak apa-apa." ucap Papa.
"Papa belum mau pulang memangnya?" tanya Mama Keenan
"Papa tunggu rekan Papa mau kesini."
"Mama ikut Keenan saja ah."
"Ma, aku sama Lala mau pergi."
"Astaga Bee.. Itu kan gak terlalu penting." Lala merasa tak enak pada mertuanya. "Ayo Ma, Mama belum tahu kedai kopi kami kan?"
"Boleh Mama kesana?"
"Tentu saja, Ma. Jangan dengarkan Abang, Ma."
Wanita tersebut pamit setelah Keenan beres menandatangani lembaran kertas yang dibawanya.
Lala terus menatap wanita yang meninggalkan ruangan mereka. 'Doa orang teraniaya memang tokcer. Terima kasih channel ikan-ikanan' gumamnya dalam hati.
.
.
.
Yuhuuu adakah yang emrasa doanya cepat dikabul saat di dzolimi? Cuung..
honbee mau komen yg meriah dong. Hhehe..
Jangan lupa like dan vote yang buanyaak.
Oya, follow igehku : only.ambu
Makasih ^^