My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Pernikahan Mas Pram (Part 1)



"Abang, kamu bikin malu Mas Pram tahu." ucap Lala saat mereka hendak tidur. Sudah biasa bagi mereka melakukan pillow talk sebelum tidur.


"Becanda doang Sayang. Mereka juga paham kok."


"Mas Pram gak marah sama Abang? Itu tangannya di fitnah begitu?" Lala menatap lelaki disampingnya.


"Marah kenapa?" Keenan meliriknya sepintas.


"Ya kamu recehin tadi."


"Enggak. Rugi kalau marah sama aku."


"Kenapa rugi?"


"Gak dapat kado istimewa. Hahaha.."


"Kamu kasih kado apa sih, sayang. Masa istri sendiri gak boleh tahu? Jahat! Maen rahasia sama istri juga."


"Hmm.. Kalau bilang kamu nanti kamu pelototin Abang lagi."


"Ya apa dulu? Jadi aku gak penasaran."


"Sudah besok saja." Keenan mencoba menghindar. "Tidur ah. Daddy capek, Mom." dia mengubah posisinya membelakangi Lala.


"Sayang.." Lala menelusupkan tangannya dibalik lengan Keenan kemudian meraba perut suaminya.


"Tidur ah. Nanti ada yang bangun."


"Gak apa-apa. Suasana lain kan disini." Lala cekikikan. "Apa dulu dong, Dad." Lala membalikan tubuh Keenan menjadi telentang. Lala memegang pipi suaminya.


"Kamu kebiasaan kalau penasaran kayak begini nih. Rela melakukan apapun." Keenan membawa tubuh Lala dalam dekapannya. "Tidur. Besok jadi surprise besar pokoknya buat dia." Keenan tersenyum.


"Pelit. Ngeselin! Jahat!" Lala keluar dari dekapan Keenan. Dia membelakangi Keenan setelah usaha membujuknya gagal.


Keenan membiarkan Lala kesal kepadanya, karena dia pasti luluh kalau membujuk Lala yang sedang merajuk. Keenan hanya merapatkan tubuhnya pada Lala. "Selamat tidur, Honey. Love you unlimited." Keenan mengecup belakang kepala Lala.


***


Pagi-pagi sekali, Lala sudah mendandani anak semata wayangnya. Kenzie nampak lucu dengan memakai kemeja putih dan rompi berwarna biru muda senada dengan celana pendek dan sepatu miliknya. Tak lupa, Lala memakaikan dasi kupu-kupu menambah sempurna penampilan sang anak.


Begitupun Keenan, dia memakai pakaian yang senada dengan Kenzie. Hanya saja, Keenan memakai blazer tanpa rompi dan dasi sehingga penampilannya terlihat lebih casual.


Kini Lala tengah memoles dirinya didepan cermin. Berbalut dress brokat yang menampilkan kaki putih mulusnya dengan high heels membuatnya terlihat sangat anggun.


Keenan masuk ke dalam kamarnya. Dia tersenyum melihat Lala yang kesusahan saat memakai kalung berlian yang menjadi mas kawinnya 3 tahun yang lalu.


"You look so beautifull, Honey." bisik Keenan saat membantu Lala memasangkan kalung tersebut.


"Baru sadar?" Lala memainkan alisnya menatap Keenan dari balik cermin.


"Kita kayak pacaran kalau kayak gini." Keenan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Inget anak! Kamu lihat Kenzie kayak rival tahu gak?"


"Jelas lah! Dia menguasai kamu lebih dari aku. Tapi nanti saat dia dewasa, dia berpaling sama wanita lain."


"Astaga Bambang! Pikiran kamu ih! Sama anak sendiri juga."


"Memang benar kan?"


"Terserah Abang, aku males pagi-pagi ribut sama kamu." Lala hendak keluar kamar, seketika tangannya ditarik Keenan. "Aw.."


"Morning kiss" Keenan melakukan ritual seperti biasa, mengecup seluruh wajah Lala.


"Make up aku luntur kan!"


"Astaga! Nempel doang ciumnya juga, gak di jilatin Mom." gerutu Keenan yang membuat Lala terbahak.


Keluar kamar, Bang Al sedang bermain bersama Kenzie.


"Wiihh.. Pasangan terhits baru keluar kamar. Anak mana anak." sindir Bang Al.


"Titip lah bentar, masa bini dandan cantik dianggurin." Keenan tertawa.


"Abang ih!"


"Yuk jalan." ajak Keenan.


Kini Bang Al menyetir mobil sewaan mereka didampingi Keenan dan Kenzie. Dibelakang kemudi, Lala nampak takjub melihat hamparan sawah yang sedang dipanen dengan beberapa hewan ternak yang asyik bermain disana.


Mentari pagi menampakkan wajahnya dengan malu-malu, menyapa hangat para petani yang sibuk dengan kegiatannya.


Keenan dan Kenzie nampak heboh menunjuk-nunjuk beberapa kambing yang berlarian bebas tanpa terusik oleh mereka.


"Mas Pram gak usah jauh-jauh cari tempat buat honeymoon. Ini udah indah banget." ujar Lala pada mereka.


"Asri banget ini. Bangun tidur langsung ngopi makan kudapan ditemani istri baru. Anjr*t gokil gak tuh Mas Pram?" Bang Al membayangakan kegiatan Mas Pram.


"Lagi asyik berdua eh datang pengacau jomblo ngajak jalan. Hahaha."


"Sialan!" Bang Al mendengus kesal.


"Bro, kalau aku nikah kamu harus kasih yang wow dong. Jangan voucher nginap di hotel mewah saja." Bang Al melirik Keenan


"Abang kasih voucher honeymoon sama Mas Pram?"


"Enggak. Kata siapa?"


"Lah itu?"


"Jangan di dengar, ngarang dia mah."


"Terus Daddy kasih apa dong? Masa aku gak dikasih tahu sih dari kemarin?"


"Sabar. Tunggu tanggal mainnya." ujar Keenan.


Tiba di tempat acara, mereka bergabung dengan keluarga mempelai pria. Keenan menggenggam tangan Lala sambil memangku Kenzie.


Pasangan muda tersebut, menyita perhatian warga yang menonton acara adat yang sedang digelar.


"Hon? Kenapa mereka nonton begitu? Mereka keluarga Renata? Kok pada pakai baju biasa sih? Anak-anaknya juga masa kayak orang bangun tidur?" Keenan mengoceh merasa aneh dengan warga kampung.


"Wajar, ini bukan di hotel tuan muda. Acaranya juga di rumah."


"Iya tahu, acara dirumah memang orang sekitarnya begitu?"


"Ya mana aku tahu. Kita baru sekarang kesini."


Beberapa remaja bahkan mengambil foto Keenan secara diam-diam. Terlihat oleh Lala yang secara tak sengaja melirik ke arah mereka.


"Apa kita menyita perhatian mereka?" tanya Lala melihat gaya busananya. Dia takut terlihat aneh oleh mereka. Pandangannya kini beralih pada dress selutut yang dikenakannya. 'Normal kok. Masih sopan juga'


"Bang, acaranya memang gini?" Keenan merasa risih oleh pandangan orang-orang yang sengaja menonton. Beberapa pedagang bahkan standby di luar pekarangan.


"Haha kenapa tuan muda?"


"Sial. Padahal cuma pakai kemeja tapi rasanya aku berbeda dari yang lain." dia melihat Bang Al yang menggunakan batik yang berbeda dengan motif semalam. Keenan melihat sekitarnya pun sama.


"Lihat sekeliling, cuma Tuan Muda yang pakai blazer. Semua pakai batik. Apalagi si Kenzie, udah pake dasi segala" bisik Bang Al. "Eh itu lihat tuh, ada yang pakai kemeja juga." tunjuk Bang Al dengan dagunya. Keenan nampak terperangah melihat seorang lelaki yang ditunjuk Bang Al yang menggunakan kemeja kotak berwarna merah dengan kacamata hitamnya.


Mas Pram kini duduk di sebuh kursi yang berhadapan dengan Ayah Renata. Disampingnya, Bang Al duduk dengan tegang yang bertugas sebagai saksi pernikahan mereka.


Keenan dan Bang Al sebenarnya terkejut dengan permintaan Mas Pram. Mereka tak menyangka, Mas Pram akan melibatkan mereka dalam acara spesialnya.


Kini Mas Pram berjabat tangan dengan ayah Renata. Untaian kata dengan satu tarikan nafas membuatnya sah menjadi seorang suami dari seorang wanita yang bernama Renata Pradipta. Wanita yang menjumpainya setiap hari di KP mereka demi wifi gratis.


"Tinggal satu lagi tuh si jomblo." ucap Keenan pada Lala. Mereka melihat Bang Al sedang menyeka keringatnya. Keduanya saling pandang kemudian tertawa kecil. "Kayaknya si jomblo nervous, Hon"


"Iya Dad. Lucu banget. Lagian Mas Pram aneh deh, masa yang dijadian saksi Bang Al sih? Aku malah gak enak sama saudaranya, Dad."


"Gak apa-apa sayang, dia menghargai kita. Aku jadi nyesel dulu gak melibatkan mereka."


"Kenapa menyesal? Mereka sukses membuatku tidur sendirian di malam resepsi." Lala mendelik sebal. "Suaminya gak cinta sih sama aku." ketus Lala.


"Mulai deh, kamu ributin hal yang udah-udah. Kenapa sih wanita suka ngungkit kesalahan pria dimasa lalu? Giliran dibalikin, malah marah." protes Keenan.


Tiba-tiba Bang Al bergabung dengan mereka. "Gila si Mas Pram." ujarnya seraya menarik kursi di samping Keenan.


"Haha.. Nervous Abangnya. Kasiaan. Jomblo dijadiin saksi. Hahahah"


"Diem lu, Bro!" ujarnya seraya mengajak main Kenzie.


Mas Pram dan Renata sudah duduk di singgasananya. Keduanya nampak serasi dengan busana pengantin berwarna gold.


"Abang, ayo ambil makan. Aku lapar." ajak Lala.


"Kenzie gimana?" tanya Keenan.


"Daddy sama Bang Al ambil makan. Aku pegang Kenzie ya?"


"Boleh." Keenan beranjak bersama Bang Al untuk mengambil hidangan yang tersedia.


Tiba-tiba dua orang Ibu-Ibu duduk disamping Lala. "Boleh duduk disini ya Mbak." ujar mereka.


"Silahkan" Lala tersenyum sambil membetulkan posisi Kenzie yang tertidur.


"Mbaknya artis ya?" celetuk si ibu berkerudung merah.


"Hah? Bukan Bu." Lala tersenyum. Dalam hatinya dia ingin terbahak.


"Oo.. Bukan. Orang-orang bilang Mbaknya artis sinetron."


"Hehe.. Bukan."


"Tapi cantiknya kaya artis Mbak. Putih banget, cantik Mbak. Rasanya aneh Mbak ke kondangan seperti ini." Ibu tersebut tersenyum pada Lala.


"Yang nikah sahabatnya suami saya, Bu."


"Oh iya, dari kota sih ya, gayanya memang beda." Lala hanya tersenyum menanggapi Ibu tersebut.


Keenan dan Bang Al mendekat pada Lala.


"Sini Bro." ajak Mas Pram. Untungnya dua kursi di depan Lala masih kosong. Keenan membalikan kursi miliknya menghadap istrinya. Kedua Ibu tersebut tak hentinya menatap mereka.


"Daddy cuma ambil satu piring, Mom. Nanti Daddy suapi saja ya."


"Mm.. Daddy saja duluan." Lala merasa tak enak dengan Ibu-Ibu di sampingnya.


"Yang tadi mau makan siapa? Daddy gak mau nanti Mommy malah kelaparan." ujarnya seraya menyendokan nasi dan lauk pauk. "Buka mulutnya." titah Keenan.


Lala melirik Ibu tersebut yang diam seolah dia yang sedang menunggu suapan dari Keenan. "Maaf ya Bu"


"Iya silahkan. Susah sih ya, kalau bawa balita. Berapa bulan anaknya?"


"Baru satu tahun, Bu."


"Oh. Cuakep anaknya."


"hehe.. Terima kasih Bu." ujar Lala.


Lala mulai menerima suapan dari Keenan. Dia sangat malu karena merasa semua orang melirik ke arah mereka. Jika biasanya mereka bebas melakukan apapun disana. Disini mungkin menjadi hal yang berbeda sehingga menjadi sebuah perhatian lain.


Selesai makan, Kenzie terbangun dan menangis. Keenan mengajak Kenzie keluar, untuk mengalihkan perhatian Kenzie.


Ternyata cara Keenan memang mujarab untuk Kenzie. Kenzie berhenti menangis setelah melihat anak-anak kampung yang bergerombol menyaksikan artis yang sedang tampil di panggung hiburan.


Tak berapa lama, Kenzie menangis kembali. Tangannya mengulur saat melihat pedagang mainan yang menjajakan mainnya.


"Beli lah Bro, daripada Kenzie nangis terus. Gak kan berhenti kalau begitu."


"Aku ambil mainan miliknya dulu. Nih kamu pegang Kenzie." Keenan menyerahkan Kenzie pada Bang Al.


"Woii Gila Keenan." Bang Al mondar mandir untuk menenangkan Kenzie.


Keenan datang membawa maianan Kenzie. Namun, Kenzie membuangnya kesembarang arah hingga seorang anak kampung memungutnya dan memberikan kembali pada Keenan.


"Terima kasih."


"Dia mau beli mainan itu, Om." ujar anak kampung tersebut


"Iya. Dia sudah punya mainan."


"Kan beda Om, masa Om sudah gagah gak berduit sih" celetuk anak tersebut membuat Keenan menatapnya.


"Aku kalau jadi Om, aku belikan dia mainan biar berhenti menangis."


"Kenapa gak kamu saja yang beli?"


"Yah, kalau aku punya duit. Pasti aku beli lah."


"Sudahlah, belikan Bro. Daripada dia terus-terusan begini." Keenan akhirnya menyerah dengan keinginan Kenzie. Dia berjalan ke arah penjual mainan.


Kenzie mengambil sebuah truk besar dengan tali sebagai pegangan. Seketika Keenan melihat ke arah anak tersebut yang memperhatikan mereka.


Keenan melambaikan tangannya. "Sini" anak tersebut berlari mendekat. "Kamu mau yang mana? Pilih."


"hmm... Aku lebih suka mentahnya Om."


"Haha.. Anj*r kecil-kecil sudah tahu duit dia." Bang Al terbahak.


Keenan berjalan kembali mendekati tempat hajatan diikuti oleh anak tersebut. "Nih." Keenan memberikan uang kembalian pada anak tersebut.


"Woooyyy Om ini kasih saweraaaan" teriak anak tersebut membuat mereka yang asyik menatap panggung beralih menyerbu Keenan.


"Hahaha... Mamp*s Tuan Muda"


.


.


.


Double up niiihhh... Mau pada nyawer gaaakk?? Jangan lupa bantu vote, like dan komentar yaaa..


Terima kasih ^^