My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
First Wedding Anniversary



Keenan benar-benar berhenti menyinggung perihal kehamilan setelah kejadian tempo lalu yang membuat Lala murka. Kali ini, dia disibukan dengan persiapan first wedding anniversary mereka.


Keenan sengaja mendekorasi kamar Apartemen dengan beberapa foto mereka yang digantung pada tali balon berwarna merah memenuhi langit-langit kamarnya. Tak lupa, dia memasang tulisan "happy anniversary" di dinding kamar dengan hiasan lainnya membuat dinding tersebut sedikit meriah.


Keenan menyusun kelopak mawar merah di atas tempat tidur, membentuk simbol hati dengan menaruh foto hot mereka didalam simbol tersebut.


Lilin elektrik berbagai warna sengaja di pasang dilantai seoalah sebagai penanda arah langkah keduanya membuat kamar mereka terlihat lebih romantis. Tiga kotak hadiah berpita pun nampak menumpuk di atas nakas mulai dari ukuran paling besar hingga ukuran paling kecil.


Tak hanya itu, Keenan juga menyiapkan cheesecake kesukaan istrinya serta satu bucket besar bunga mawar merah untuk menyambut kedatangan sang istri tercinta.


Keenan mulai bersiap. Dia memakai pakaian formal dengan rambut berpomade hendak menjemput Lala seolah-olah pulang dari kantor. Untungnya, Lala tadi berangkat ke kampus lebih pagi menggunakan ojek online, sehingga dia tak tahu kalau suaminya memang bolos kerja.


Tiba di depan kampus, Keenan sidikit gugup saat menatap istrinya mendekat. Wanita yang mengulurkan tangannya saat dia berada di titik terlemah, kini tersenyum penuh arti kepadanya.


"Happy anniversary sayang." Keenan mengecup mesra istrinya begitu mereka masuk mobil.


"Dari jam 12 malam gak berhenti deh kamu bilang begitu." protes Lala.


"Biar berkesan sayang."


"Abang tumben rapih banget pulang kantor juga. Biasanya wajahnya lesu."


"Kan semangat anniversary, Yong. Khusus buat kamu." senyumnya mengembang sempurna.


"Abang gak kasih surprise gitu, Bang?" lala memainkan alisnya menatap Keenan.


"Abang jemput kamu dengan wajah tampan saja sudah jadi surprise besar buat kamu." narsisnya


"Surprise apanya?" gerutu Lala.


"Kita pulang dulu, deh. Biar kamu dandan yang cantik dulu. Masa dekil begitu, sementara Abang tampan begini."


"Masa sih dekil? Aku padahal pakai make up sedikit, tahu!"


"Tuhkan, kamu pakai make up biar dilihat orang kan?"


"Bee, aku pakai make up pas kamu bilang, kamu mau jemput. Kamu mah nuduh yang gak jelas sama aku! Lagipula cuma pakai bedak tipis sama lipstik doang." ketus Lala


"Hehe.. Maaf sayang. Becanda."


"Becandanya gak asik! Nuduh mulu!"


"Maaf. Sudah ah, jangan rusak moment hari ini." bujuknya.


"Kamu yang mulai" gerutu Lala dengan suara pelan.


Keenan menstel lagu-lagu romantis di dalam mobilnya membuat Lala yang kesal kini ikut bersenandung pelan. Di tengah perjalanan, Keenan memberikan satu buah kotak berpita.


"Buat kamu." ucapnya seraya tersenyum


"Apa sih ini, Sayang?" Lala tersenyum senang menerima kotak yang diberikan Keenan.


"Buka saja."


Tak sabar, Lala segera membuka kotak tersebut.


"Hiii.. Cokelat love. Love you Abangnya aku." Lala mendekati Keenan yang sedang menyetir. Dia mengecup pipi suaminya.


Lala mulai menggigit cokelat tersebut. Tak lupa, dia menyuapi suaminya juga.


"Ciee Abang so sweet ngasih cokelat love segala. Aku curiga deh, Abang bakalan bawa aku ke suatu tempat."


"Kemana coba?"


"Ke tempat romantis. Iya kan?"


Keenan memainkan bibirnya dengan telunjuknya. "Hmm.. Kok tahu sih? Yah gak seru deh kalau ketebak."


" Hehe.. Abang mau ajak kemana? Dinner romantis dimana Sayang?" tanyanya lembut seraya memeluk lengan suaminya.


"Rahasia dong." ucap Keenan seraya memasukan mobilnya ke dalam basement.


"Baju aku padahal sudah formal, Bee. Kenapa harus pulang dulu sih?"


"Pakai make up yang bener dong, bajunya ganti pakai dress yang hitam itu loh sayang. Biar rapi sedikit." ucapnya


Ting


Pintu lift terbuka, mereka keluar dari dalam lift. Keenan membuka pintu apartemen mereka. Pandangan Lala langsung tertuju pada satu bucket bunga yang disimpan disudut ruangan.


"This is for you, Honey" ucap Keenan seraya berjongkok memberikan bunga tersebut.


"Wohoo.. Surprise lagi. Meleleh Neng diginiin sama Abang." ucapnya seraya cekikikan menerima bucket bunga dari suaminya. Dia menghirup aroma bunga mawar. "Hmmm.. Wanginaaa." Keenan tersenyum.


"Kayak anak kecil saja, kamu Yong!"


" Yuk ganti baju." Ajak Keenan seraya menggenggam tangan Lala menuju ke kamar.


Keenan membuka pintu kamar mereka. Lala sedikit terkejut melihat pemandangan indah dan romantis di hadapannya.


"Abang, kapan siapkan ini semua? Ya Tuhaan.." Dia memeluk suaminya.


"Suka?"


"Banget, Sayang terima kasih." dia menghujani kecupan di wajah Keenan.


Lala masuk ke dalam kamarnya. Dia memegang berbagai foto mereka yang tergantung kemudian tersenyum. "Lucu banget sih, sayang."


Lala mendekati kasur, dia melihat satu foto hot mereka dengan ukuran lebih besar. Diambilnya foto tersebut. Foto dengan pose Keenan memangku Lala yang berbikini di tengah kolam sambil berci*man mesra.


"Astaga, Abang! Kamu cetak foto ini gak malu apa?"


"Semuanya aku yang kerjakan, Sayang. Jadi gak ada yang lihat."


"Serius?"


Keenan mengangguk. Lala naik ke atas kasur merentangkan tangannya. "Aku mau kayak gini lagi." ucapnya menunjuk pada foto yang yang dia pegang.


Dengan senang hati Keenan mendekat. Dia memangku Lala kemudian menc*umnya mesra.


"Turun, sudah sudah." pinta Lala saat bibir Keenan mulai menyusuri lehernya.


"Abang, aku takut jatuh. Udahan."


Keenan tertawa seraya menurunkan istrinya. "Kamu takut basah kali, Yong."


"Sembarangan!".


Lala merebahkan tubuhnya diatas kasur. Dengan usil Keenan mengambil kelopak bunga yang tersusun kemudian menghamburkannya ke atas hingga menghujani tubuh Lala. Lala hanya tertawa girang layaknya anak kecil dengan tangan menengadah menyambut kelopak bunga yang berjatuhan.


"Bukan Abangnya aku, kalau gak bikin kejutan." ucap Lala. "Aku bahagia banget."


Keenan turun dari kasur, dia memutar tubuhnya mengambil tiga kotak di atas nakas. Seketika Lala terbangun.


"Waaah.. Apalagi ini?" Mata Lala berbinar melihat kotak-kotak yang di jejerkan Keenan di hadapannya.


"Kamu mau buka yang mana dulu?" tanya Keenan pada Lala.


"Hmm.. Bingung." Lala tertawa senang.


"Hmm.. Yang tengah deh biar adil." Lala menunjuk kotak berukuran sedang.


"Good choice. Buka saja." Keenan tersenyum menatapnya.


Lala membuka kotak berwarna merah tersebut. "Astaga.. Bambaang.." keduanya tertawa. Lala mengambil barang tersebut. Sebuah lingerie berwarna pink dilempar ke arah Keenan. "Dasar suami mesum." ucapnya seraya tertawa.


"Haha.. Pakai dulu Yong."


"Ogah. Nanti malam saja"


"Janji yaa.. "


" Ya ampun, pakai janji segala. Iya sayangku. Apa sih yang enggak buat suamiku?" Lala mengerling nakal.


"Jangan mancing."


Lala terbahak mendengarnya.


"Next, mau buka yang mana dulu?"


"Yang kecil deh." Lala mengambilnya kemudian membukanya dengan tak sabar.


"Oh My God, Abang." Lala terpaku melihat sebuah kalung mas putih dengan simbol K menggantung disana.


"Suka?"


"Banget banget banget. Pasang, Bang." pinta Lala. Keenan meraih kalung tersebut. Dia memasang kalung dari belakang, sementara Lala mengumpulkan rambutnya ke satu sisi hingga Keenan leluasa memasang kalung.


Keenan mengecup leher Lala tak henti. "Aku belum mandi, sayang. Masih kotor." Lala mendorong tubuh suaminya agar menjauh.


"Kamu wangi."


Lala berbalik. "Terima kasih sayang, sudah menghujani aku dengan semua cinta Abang buat aku. Moga Abang gak berubah sampai kapanpun. Moga rezekinya terus melimpah ruah. Aamiin." Lala mel*mat lembut bibir Keenan.


"Beruntungnya aku jadi istri kamu, Abang Keenan Wijayaku."


"Abang juga, beruntung punya istri kayak kamu, Lashira Ayumi." Keenan mengelus pipi Lala kemudian mencolek hidungnya. Keduanya tertawa.


"The last one.. Buka." pinta Keenan. Lala berbalik kembali menghadap kado besar dihadapannya.


"Eh jangan dulu dibuka." Keenan pindah ke hadapan Lala.


"Kamu tebak ini apa?"


"Hmm.. Apa ya?"


"Gini deh, Kalau jawaban kamu benar, Abang yang servis kamu nanti malam. Tapi kalau jawaban kamu salah. Kamu harus servis Abang." Keenan memberikan penawaran.


"Itu mah semua nguntungin Abang."


"Haha.. Sama-sama enak. Cuma beda siapa yang nyelupnya, Yong."


"Hmm..apa ya? Pasti boneka." ucap Lala.


"Yakin dengan jawabannya?"


Lala tertawa. Apa dong? Boneka deh. Pasti gak jauh dari sana. Soalnya gede juga." ucap Lala


"Yakin ya? Eh, sebentar jangan dulu dibuka."


Keenan keluar kamar. Dia membawa nampan berisi dua potong cheesecake dan softdrink berwarna merah.


"Ya ampun, Bang. Aku sudah gak bisa berkata-kata lagi selain rasa syukurku memilikimu, sayang." Lala tak henti mengembangkan senyumnya.


Keenan menaruh nampan di atas kasur. "Silahkan Nyonya Keenan Wijaya."


"Hmm.. Abang banyak kasih kejutan. Maaf Aku gak kasih apa-apa." ucap Lala.


"Cukup kamu disamping Abang, nurut sama Abang, gak ganjen. Abang sudah seneng banget" ucapnya.


Lala kembali mengecup mesra suaminya.


"Makan dulu, Yong."


Lala menyuapi Keenan dengan telaten.


"Ini soft drink ya? Aku mau air putih saja, Bee. Perut lagi gak enak banget." Lala menolak saat Keenan mengajak bersulang.


"Kamu sakit?"


"Enggak. Cuma gak enak perut sedikit."


"Sebentar, Abang ambilkan dulu."


"Aku berasa tuan putri deh hari ini." Lala tertawa


"Anything for you, Honey." ucap Keenan seraya memberikan air putih pada Lala. Keduanya bersulang.


"Ayo buka yang ke tiga dong, Bee." ajak Lala tak sabar.


"Sabar dong. Grand prize harus berkesan. Abang sudah perkiraan kalau kamu bakal pilih ini jadi yang terakhir."


"Tahu darimana?"


"Just my Filling.'


"Apa sih isinya? Penasaran banget." Lala tertawa.


"Jawaban kamu tadi boneka. Sudah Abang kunci yaa.."


"Aku jadi ragu." Lala mendekati Keenan. Kini dia duduk dipangkuan suaminya. Lala membuka dua kancing atas kemeja floral yang digunakannya. Kemudian merayu Keenan. "Sayang.. Tell me, please. Apa sih isinya? Kasih tahu dong?" Lala berusaha menggoda sementara Keenan terbahak melihat tingkah istrinya.


Keenan mel*mat bibir istrinya dengan liar. "Jangan menggoda, nanti kamu juga yang keenakan." ucap Keenan.


"Haha.. Makanya buka yaa.." Keenan mengangguk.


Lala membuka kotak besar dihadapannya. "Loh? Ada kotak lagi?"


Keenan tersenyum usil melihatnya. Lala mengeluarkan kotak lapisan kedua yang lebih kecil ukurannya dari yang pertama. Dia membukanya kembali. "Astaga, Abang. Ngerjain ini mah. Jangan-jangan isinya permen satu biji." ucapnya saat dia menemukan kotal lain dengan ukuran semakin menyusut.


Keenan terbahak. Lala membuka kembali kotak-kotak tersebut hingga lapisan kelima. Dan kini menjadi sebuah kotak kecil.


"Ribet deh Bee, mau isinya sebesar ini saja kamu bungkusnya banyak banget."


Lala mulai membuka kotak. "Kunci...mobil? Motor?"


"Lihat simbolnya." Lala melihat simbol dari kunci yang dipegangnya. "Ya Tuhan.. Ya Tuhan.. Ya Tuhan.. Serius ini, Bee? It's a prank?"


Keenan tersenyum. "Yes." kemudian terbahak.


"Yang bener, Keenan Wijaya."


"Mari kita turun." ajaknya.


Keenan menggengam tangan Lala menuju basement. Mereka berjalan menuju sebuah mobil dengan cover berwarna merah.


"Abaaanngg... Serius?" Seketika Lala gemetar.


"Buka, Yong." titahnya.


Lala membuka cover yang menutupi mobil tersebut. Dia terkejut saat menatap mobil buatan Inggris yang menjadi idamannya kini terpampang nyata di hadapannya.


"Ya Tuhan, Abang lutut aku lemas."


"Buka Yong, kuncinya." titah Keenan.


Keenan meminta Lala duduk di kursi kemudi. Seketika Lala meneteskan air matanya. "Abaaangg.." Senyum dan tangisnya bercampur menjadi satu.


"Biar kamu gak naik ojek terus. Kenapa tadi Abang gak anter kamu ke Kampus? Karena Abang biarkan kamu say goodbye tuh sama si Mamang ojek online."


Lala masih mengeluarkan air matanya sambil tersenyum. "Aku gak tahu harus bilang apa lagi." ucap Lala.


"Ini" Keenan mengeluarkan surat-surat mobil tersebut sudah atas nama istrinya sendiri.


"Abaaanngg" Lala memeluknya erat.


"Jangan nangis. Cengeng banget sih kamu." ucap Keenan seraya mengusap air mata istrinya.


"Aku malu sama Abang. Abang kasih aku semuanya. Rasanya ini semua mimpi."


"Semua milik Abang, milik kamu juga. Ngerti?"


Lala mengangguk.


"Yuk dicoba?" Ajak Keenan.


"Nanti saja."


"Kenapa?"


"Aku gemeteran." ucap Lala sambil menyedot cairan dari hidungnya. Seketika Keenan terbahak.


"Sini, Abang yang bawa. Kita muter dikit saja, yuk." ajaknya.


Mereka berpindah tempat. Lala memperhatikan interior dalam mobil tersebut. Dia nampak takjub. Sungguh berbeda dengan mobil online yang sering dia naiki.


"Ini tuasnya gimana? Aku belum pernah coba model begini."


"Nanti Abang ajari. Ini oakai joy stik sayang. Lebih gampang." ucapnya. Lala memperhatikan tangan Keenan.


"Ini mimpi, sayang?" tanya Lala. Keenan hanya tersenyum. Keenan membawa Lala dengan berkeliling mengitari apartemen mereka.


"Mantap nih kalau dijalanan kosong." ujar Keenan sambil melajukan mobilnya.


Keenan menepikan mobilnya, dia memberikan kejutan lain dengan membuka atap mobil mereka.


"Abaaannggg" Lala berteriak senang.


"Keren gak?"


"Banget. Banget. Banget." keduanya tersenyum.


"Sama kayak naik motor kalau dibuka gini?"


"Sembarangan!" Keenan nampak sewot sementara Lala tertawa.


"Ya kan kena angin bukan ac lagi, Bee. Sama kayak naik motor."


"Dasar norak!"


Kini keduanya kembali ke apartemen mereka. Keenan nampak kelelahan. Dia merebahkan tubuhnya di sofa. Lala mendekat dengan membawa laptop miliknya.


"Abang"


"hmm.. "


"Terima kasih buat semuanya. Aku cuma bisa kasih ini." Ujar Lala.


"Apa?"


"Duduk dulu Abangnya." pinta Lala.


"Abang lelah sayang."


"Tuh kan. Mentang-mentang hadiah aku gak ada harganya."


Keenan duduk seketika. "Enggak sayang. Abang gak maksud nyinggung kamu. Abang cuma lelah habis dekor kamar kita." ucapnya.


Lala tak menanggapi. Dia sudah kesal dengan Keenan.


"Mana? Yang ini hadiah buat Abang?" tanya Keenan


Keenan mengklik tombol play dengan kursor pada layar monitor.


"Video apa ini?" tanya Keenan.


.


.


.


Yuhuu jamaah honbee seperti biasa ritual kita, oke.


Like, rate, komentar, vote yang buanyaaakkk.


Oya, follow my igeh : Only.ambu


Terima kasih, love you unlimited ^^