
Lala bingung. Dia merasa seorang diri di Apartemen. Lala mencari Keenan kembali, barangkali dia berada di kamar mandi, tapi ternyata nihil. Dengan bod*hnya dia berjalan masuk ke dalam kamar mereka, tapi Keenan tak ada disana. Seketika dia merinding.
"Masa iya si Abang jadi hantu? Astaga!" Lala ketakutan. Ingin keluar Apartemen, tapi dia ingat, dia sedang memakai baju yang mengundang syahw*t.
Lala segera menelepon suaminya. "Kamu dimana?" suara Lala menginterogasi.
"Apartemen Sayang. Kenapa?"
Lala mengedarkan pandangannya. Jantungnya berdetak kencang. "Apartemen mana?"
" Apartemen kita. Emang mana lagi?"
Lala semakin takut. 'Ya Tuhan. Masa iya dia jadi tak kasat mata.' Lala duduk mematung di sofa. Seketika logikanya bekerja.
"Bohong! Kamu dimana?"
"Kamu dimana memangnya?" Keenan balik bertanya.
"Aku tanya kamu Bambang!" ucapnya dengan suara meninggi, masih mengedarkan pandangannya karena takut.
"Aku.."
"Kamu gak di Apartemen kan? Kamu dimana!" tanyanya tak sabar karena dilanda ketakutan.
"Kamu di Apartemen, Yong?" tebak Keenan pasrah.
"Iya beg*! Kamu bohong kan?" ketus Lala
"Maaf. Aku pulang kalau begitu." ucapnya dengan nada takut.
Seketika hatinya luruh. Minimal si Keenan gak jadi hantu, pikirnya! "Gak usah pulang! Br*ngsek Keenan! Kamu bohong terus!" ketus Lala. Dia ingin menangis bukan karena Keenan bohong, tapi hatinya sempat kalut, takut Keenan memang jadi hantu.
"Maaf Yong. Aku tutup ya teleponnya."
Lala kini bernafas lega. "Astaga! Kelakuan si Keenan selalu bikin emosi." Kesalnya.
Lala segera mengganti lingerie yang dipakai dengan bajunya kembali. Hatinya bergejolak panas. Cup cake yang dibawa, dimakannya dengan rakus.
"Bod*! Gak aku bagi sekalian!" ketusnya seraya memasukannya ke dalam mulut hingga tak tersisa.
***
Suara gesekan roda koper mendekat ke arah pintu. Lala yang kesal lantas berlari masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
"Honeey.." panggil Keenan setelah dia tiba.
Keenan mencoba membuka daun pintu kamarnya, beberapa kali dia memainkannya. "Honey, bukaa.." pintanya.
Lala sengaja tak bersua. "Hon.. Maaf." ucap Keenan pasrah.
"Aku tadi ke KP sebentar, Hon." ucapnya kemudian.
"Buka dong Yong. Please. Aku minta maaf." Keenan masih berdiri di balik pintu.
"Yong. Aku kangen kamu sumpah. Buka dong. Tadinya aku mau kasih surprise buat kamu." Lala mendekati daun pintu, terpancing dengan ucapan Keenan.
"Aku mau kasih surprise, hari ini soft opening KP kamu, sayang. Aku mau bawa kamu kesana setelah kamu pulang kerja, Yong."
'Astaga.' Lala menutup mulutnya
"Honey.. Masa suami pulang dikunciin."
"Sayang, aku bawa oleh-oleh buat kamu." Keenan tak henti membujuk.
"Buka dong Yong, aku kangen banget sama kamu."
"Mama, please buka dong Ma.. " Keenan menggodanya.
'Astaga kelakuan dia.' Lala tersenyum merasa suaminya lucu.
Lala membuka pintu kamarnya, seketika Keenan mendorong pintu hingga mereka saling tatap. Keenan mendekat dengan tergesa. Dia mengecup kasar Lala dan menahan tengkuk Lala saat Lala mencoba melepaskan diri.
Lala yang tak siap, memukul lengan suaminya. Usahanya sia-sia, tak dipungkiri Lala terhipnotis dengan tubuh suaminya. Hatinya memang kesal tapi tubuhnya tak bisa berbohong kalau dia teramat merindukan lelakinya.
Ci*man kasar Keenan berhasil meruntuhkannya, Lala ikut terhanyut dalam permainan bibir Keenan. Lala begitu terbuai hingga dia sendiri membantu Keenan melepaskan kemeja yang dikenakannya.
Kini tak sehelai benangpun menutup tubuh keduanya, hingga Lala menarik selimut namun ditahan oleh Keenan. Keenan melempar selimutnya ke sembarang arah, dia begitu menikmati setiap inci tubuh yang kini menjadi miliknya.
Lala menyilangkan lengannya di dada, dia merasa malu saat Keenan menatapnya intens. "Aku kangen celup-celupan, honey" keduanya tertawa hingga akhirnya Keenan mulai melancarkan aksinya.
Tatapan cinta dan nafs* begitu tersirat diparas tampannya. Lala merengkuh leher Keenan, mereka saling mensesap satu sama lain. Dahaganya kini terobati hingga Keenan menutup mata dengan hentakan terakhirnya kemudian ambruk diatas sang istri.
"Love you unlimited" ucapnya dengan nafas tersengal.
"Jahaaat!" Rengek Lala membuat Keenan terkekeh.
"Maaf. Habis ini kita ke KP, Yong." ajaknya.
"Turun, berat kamunya." keluh Lala. Dengan segera Keenan menggeser tubuhnya ke samping. Dia memeluk istrinya.
"Aku kangen banget sama kamu" bisiknya kemudian. "Pecah kan celengan rindunya." mereka tertawa.
"Abangnya jahat! Bohong terus!" Lala memeluknya erat.
"Abang mau kasih surprise. Tapi malah jadi gagal total begini."
Lala terbahak. "insting seorang istri itu kuat kalau suaminya macam-macam."
"Eh, tapi kok kamu gak kerja Yong?" Keenan menatap Lala
"Males."
"Serius? kamu sengaja cuti buat nyambut aku?"
"Huum" Lala tersenyum jahil.
"Surprise kamu juga gagal dong?" Keenan terbahak.
"Gara-gara kamu."
'Ya Tuhan, bod*hnya aku. Sudah pakai lingerie, sudah beli cup cake dan berakhir begini juga.' Lala tersenyum sendiri
"Kenapa senyum-senyum? Senang banget ya ketemu aku?"
"Pede gila Abangnya" Keenan terbahak lagi.
***
Lala kini tengah memoles bibirnya dengan gincu berwarna merah. Dia nampak anggun dengan balutan kemeja bercorak bunga yang menutupi lehernya.
"Masih terlihat gak?" tanya Lala
"Enggak, Yong." Keenan menyibakan rambut Lala untuk melihat lehernya.
"Gara-gara kamu, aku pakai baju tertutup begini" gerutunya
"Maaf, Yong. Aku gak sadar." Keenan menampakan rona bahagia. "Yuk jalan." ajaknya kemudian.
Mereka menikmati jalanan sore itu sambil bergandengan tangan. Keenan tak hentinya mengecup punggung tangan Lala, mencurahkan seluruh rasa rindunya disana.
Keenan dan Lala disambut oleh tawa Mas Pram, Bang Al, dan karyawannya. Betapa tidak, Keenan yang tengah berada di KP nampak panik saat tahu sang istri ternyata berada di Apartemen.
"Singa jantan bertekuk lutut kalau singa betina sudah mengaum." sindir Bang Al yang sebenarnya hanya tahu cerita tersebut dari Mas Pram.
"Bukan begitu, dia sengaja cuti dong buat kasih surprise." ucap Keenan merangkul istrinya.
"Siapa yang gak kesal coba? Dia bilang lagi di Apartemen. Sementara aku disana sendirian. Aku sampai berpikir dia menjadi hantu." Timpal Lala yang membuat semua terbahak.
"Astaga Yong, suami sendiri sampai dikira hantu" gerutu Keenan.
"Gagal maning mau kasih surprise. Kamu kalau lihat ekspresi paniknya dia kayak gimana, pasti tertawa deh, La." Mas Pram memberikan minuman pada Lala.
"Terima kasih Mas" tangannya terulur menerima minuman dari Mas Pram.
"Haha.. Iya. Sudah kena omel duluan dia." Lala menyeruput minumannya. "Eh tapi, aku kaget sih, tiba-tiba saja soft opening. Aku pikir gak jadi apa masih wacana gitu."
"Jadi lah, Tuan Muda gak bisa dibantah." sindir Mas Pram.
"Thanks ya Mas." Keenan menepuk pundak Mas Pram.
"Kamu gak bilang terima kasih sama aku, Yong?"
"Uu.. Sayaang.." Lala merentangkan tangannya. "Terima kasih Abang, aku gak nyangka bisa secepat ini." Mereka berpelukan mesra membuat suasana menjadi semakin riuh.
Seperti soft opening KP mereka yang lain, pengunjung yang penasaran membanjiri KP mereka.
Lala kini berada di tempat barista. "Aku harus ngapain Mas?"
"Bos cukup duduk manis, sudah." timpal Bang Al.
"Iya, sini kamunya. Ngapain sibuk disana. Ada mereka." ucap Keenan melirik karyawannya.
"Tapi aku ingin tahu, Bee." Lala mendekat kembali ke arah suaminya.
"Jangan begini, ah. Malu sama orang." protesnya saat Keenan kini menempelkan dagunya dipundak Lala.
"Biar mereka iri, Yong." ucap Keenan yang kemudian mendapat lemparan gulungan tisu dari Bang Al.
"Eh, ssstt.. Dia lumayan bening juga." ucap Bang Al pada salah satu karyawan baru Lala.
"Aku belum kenal Bang, orang baru ketemu hari ini." Lala ikut memperhatikan gerakan wanita yang di tunjuk Bang Al. "Siapa yang rekrut karyawan, Bee?" tanya Lala
"Mana Abang tahu, Hon. Kan Abang tahu beres." Keenan nampak tak peduli.
"Emang Abang gak pernah tanya-tanya gitu sama Mas Pram?"
"Gak ada kerjaan lain apa? Abang mesti tanya-tanya hal sepele begitu." keluh Keenan.
Mereka berada di KP sampai beres. Lala mengumpulkan ke lima karyawannya.
"Salam kenal semua, saya Lala. Hmm.. Aku bicara apa ini, Bee?" Lala melirik suaminya nampak gugup.
"Intro La intro, nama, alamat, umur, status, nomor ponsel, nomor sepatu." timpal Mas Pram membuat mereka tertawa.
"Haha.. Maaf aku sedikit gugup. Biasanya aku kerja di back office. Duduk manis depan layar, dan ini pengalaman baru untuk saya."
"Statusnya kakak?" Mas Pram masih menggoda.
"Saya masih single, usia 17 tahun." Lala tertawa.
"Oke" suara lantang Keenan membuat mereka tertawa.
"Abangnya posesif. Hati-hati yang cowok jangan ada yang naksir." ucap Mas Pram.
"Sudahlah, tanpa dijelaskan juga pasti pada tahu." lala tertawa "Tolong kerja samanya ya. Dan mohon bimbingan teman semua. Ada yang mau ditanyakan?" Lala tersenyum ramah.
"Boleh minta nomor ponselnya, Bu?"
"Haha.. Jangan panggil aku, Ibu. Panggil Mbak atau Kakak saja."
"Siap Ma." Keenan tak henti menggoda membuat Lala melotot kearahnya.
Mereka nampak berbincang satu sama lain, memperkenalkan dirinya, menciba mengakrabkan diri satu sama lain sebagai team.
***
Lala masih tersenyum saat Keenan mendekat. "Love you unlimited suamiku. Terima kasih buat segalanya." Lala memeluknya erat.
Keenan mengecup kening Lala mesra. "Sama-sama, Yong. Jadi kapan kamu mau terjun langsung?" tanyanya.
"Hmm.. Belum tahu. Abangnya besok kerja gak?"
"Meeting siang doang sih. Kenapa?"
"Gak apa-apa, sayang."
"Kamu masih cuti?"
"Enggak. Besok masuk. Anterin yaa. Aku kangen dianter kamu ke kantor." bohong Lala.
"Pasti lah."
***
Keenan terbangun saat mendengar panggilan telepon dari ponselnya. Dia mengangkat tangan Lala yang memeluknya kemudian menggeser tubuhnya untuk mengambil ponsel diatas nakas.
"Kenapa?" tanyanya saat melihat nama sekretarisnya dilayar ponsel
"Iya. Segera kesana." ucapnya kemudian. Tak banyak bicara, dia segera menutup sambungan teleponnya.
Keenan melirik kembali jam di ponselnya.
"Yong... Yong... Kamu gak kerja?" Keenan menepuk pipi Lala.
"Yong.. "
" hmm.. Masih ngantuk Bee.."
"Ini udah jam sembilan, Honey. Hei.. Banguun." masih terus menepuk pipi istrinya.
Lala membuka matanya "Jam berapa ini?" tanya Lala.
"Sembilan. Kamu gak kerja?"
Lala diam sejenak. "Astaga Bee." Lala terperanjat hingga dia duduk. Lala segera menutupi tubuhnya dengan selimut setelah sadar dia tak berbusana.
"Kamu kan kerja Yong! Cepet mandi!"
"Aku.. Aku resign Beeee." Lala mengangkat kedua tangannya hingga dia lupa kembali tengah telanj*ng.
"Serius?" Keenan tersenyum sumringah. Lala mengangguk cepat.
"As your wish, Bee."
Keenan memeluk Lala hingga keduanya terguling. "Sumpah demi apa?" tanya Keenan kini berada di atas Lala.
"Demi kamu, suamiku." jawab Lala sambil tersenyum menggoda. Keenan menciumi seluruh wajah Lala tak henti.
"Bau dragon, Abaang!"
"Terima kasih Honey, Baby Munahku" keenan masih melabuhkan kecupannya tak henti. "Abang bahagia banget." Keenan memeluknya erat.
"Gak bisa nafas, Bang! Sakit ih!"
"Bisa pas gitu Yong."
"Apa?"
"Pas kamu resign, pas Launching KP."
"Oh iya. Ya Tuhan kita sehati." mereka tertawa riang.
"Sejak kapan kamu resign?" tanyanya
"Dua hari lalu. Aku kasih surat pengunduran diri pas besoknya kamu disana, Bee."
"Terima kasih Yong. Abang bahagia banget." Keenan mengecup kening Lala.
"Kamu ikut Abang ke kantor ya, terus nanti ke KP kamu. Gimana?"
"Aku malu ke kantor, Bang."
"Aku bangga bawa kamu ke Kantor." ucapnya.
"Yuk mandi. Terus kita sarapan."
Dengan penuh semangat, Keenan menapakan kakinya masuk ke dalam kantor. Sapaan hormat mulai dari satpam yang bertugas hingga karyawannya terlontar saat Keenan berjalan menuju ruangannya.
Beberapa karyawannya nampak berbisik saat melihat Keenan menggandeng Lala.
"Pacarnya atau istrinya sih? Tumben bawa gandengan." ucap seseorang saat Lala berada di toilet wanita.
"Kayaknya pacarnya deh, masih muda begitu." suara wanita ke dua
"Cantik aku kemana-kemana." suara wanita ke tiga menimpali.
"Sayang, cantik tapi dia gak mau sama kamu." mereka tertawa.
"Bisa saja aku merebutnya, siapa sih yang tidak terpesona olehku." suara wanita ketiga mendominasi.
"Yakin? Dia dingin loh, jarang bicara juga. Jarang di kantor juga." suara wanita kedua terdengar kembali.
"Itulah. Semakin dingin, semakin menantang." dia tertawa "Terus kalau aku berhasil, kalian mau kasih apa?" tantangnya.
Lala masih mendengarkan percakapan mereka.
"Tas yang kemarin kamu mau, gimana?"
"Itu doang?"
"Buktikan dulu deh." timpal wanita ketiga.
Lala yang sudah merasa panas membuka kasar pintu toiletnya.
.
.
.
Gaeeessss like, komentar, dan vote yang buanyaaakkk oke?
Follow igehku : only.ambu
Terima kasih** ^^