My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Pertunangan Mas Pram



Keenan membawa anak istrinya menuju KP pusat, tempat Mas Pram membuka KP pertama mereka. Walaupun dia harus ekstra membujuk dan merayu istrinya dengan mengiming-imingi jajan dan belanja sepuasnya di Mall nanti.


Namun, Lala mengajukan syarat lain. Lala meminta Keenan mengasuh Kenzie tanpa membawa Mbak Nani. Terpaksa Keenan menyetujuinya dengan berat hati, yang penting Nona Muda tidak memusuhinya kembali.


Keenan berjalan masuk ke dalam KP sambil menggendong Kenzie sementara Lala mengekori Keenan dengan senyum senang karena berhasil mengerjainya. Selama ini, Keenan tak pernah total mengurus Kenzie seharian. Aktivitas Keenan yang padat membuatnya tak banyak menghabiskan waktu dirumah. Hal itu tentu saja berdampak pada Kenzie yang tak terlalu menempel pada Keenan.


"Yee.. Ada keponakan Om" Mas Pram berhambur untuk menggendong Kenzie. Kenzie yang tak kenal memegang tangan Keenan seolah ketakutan.


"Anak aku takut Mas sama kamu. Sana jauh-jauh." Keenan mencoba menenangkan anaknya.


"Sini sama uncle." ajak Bang Al pada Kenzie. Lagi-lagi Kenzie menolaknya.


"Belum kenal. Nanti lama kelamaan pasti mau." ucap Lala.


Keenan mendudukan Kenzie di baby chair kemudian dia mengeluarkan mainan milik Kenzie yang dibawa oleh Lala.


"Mas.. Kageet aku Mas. Tiba-tiba dapat hot news ada yang mau tunangan. Kasihan dong Bang Al kesalip." Lala tertawa


"Haha.. Santai La, umur masih muda kita. Nikmati aja dulu. Bosen sama yang ini bisa ganti yang lain." ucap Bang Al dengan gaya playboynya.


"Enak aja! Tiara jangan dimainin ya Bang! Dia anak baik."


"Tenang, aku lagi seleksi La. Dia masuk lah sama kriteria calon istri aku."


"Gayanya kriteria calon istri."


"Haha.. Iya lah harus diseleksi dulu. Cari yang pertamax jangan premium."


"Astaga! Dikata bahan bakar." gerutu Lala


"iyalah Sayang, buat manasin tubuhnya dia." mereka terbahak.


"Makin tua omongan kalian makin ngaco!" gerutu Lala.


"Kita masih muda. Enak saja." timpal Keenan.


"Dadadada" Kenzie menggigit mainannya.


"Astaga Bro! Jangan dimakan." Keenan mengambil mainan Kenzie dari mulutnya. Lala hanya mengamati interaksi keduanya tanpa protes. "Mom, biskuit dia mana?" pintanya.


"Tuh di tas." ucap Lala santai. Aktivitas mereka jadi bahan tontonan gratis kedua bujang dihadapannya.


Keenan mengambil biskuit kemudian memberikan pada Kenzie.


"Siap gak kamu kayak dia?" Bang Al menepuk bahu Mas Pram.


"Haha.. Siaplah. Hot Daddy gitu loh"


"Cih! Hot Daddy" cibir Lala. "Dia mana mau ngurus Kenzie. Apa-apa Mbak Nani terus."


"Sekarang aku kan ngurus dia Mom."


"Iya karena aku yang minta. Sebelumnya cuma main sebentar terus ditinggal."


"Kamu kan tahu sendiri, aku tuh sibuk. Lagi pula buk.."


"Stop woy.. Masa kita nonton problematika rumah tangga. Beri contoh yang baik buat daku wahai pasangan suami istri terhits sejagad raya." potong Mas Pram membuat Lala tertawa.


"Haha.. Maaf-maaf Mas. Bumbunya pernikahan. Gak selamanya rumah tangga so sweet. Yang begini tuh justru mempererat hubungan tahu."


"Mempererat dari mananya? Yang ada aku di ancam mulu sama kamu." gerutu Keenan.


"Suruh siapa kamunya rese!"


"Woiii udah. Gak malu apa sama anak kalian." Bang Al kini buka suara membuat Lala kembali cengengesan.


"Lanjut." ucap Keenan.


"Jadi gini sahabat.. " Mas Pram membuka percakapan mereka kembali.


"Hahaha.. Sudah kayak artis online saja bilangnya sahabat, Mas." Lala terbahak.


"Siapa memangnya Mom?"


"Ah kamu mah gak gaul, sudah gak usah nanya. Gak bakalan tahu juga." Lala mengibaskan tangannya.


"Lanjut gak?" Tanya Mas Pram mulai kesal.


Ketiganya mengangguk.


"Jadi, minggu depan tuh aku lamaran plus nikah." ucap Mas Pram. Ketiganya hanya mengangguk.


"Hah? Nikah?" dengan kompak mereka seolah tak percaya.


"Iya Bro, Bang, La. Niatnya aku kan mau tunangan saja. Tapi, orangtua dia maunya langsung nikah. Jadi, malamnya tunangan, paginya ijab qobul."


"Astaga, yang ngebet nikah malah orangtuanya." ucap Keenan membuat mereka tertawa.


"Kalau kamu?" Lala menggoda Keenan


"Aku dong, Honey. Aku kan gak sabar untuk menghalalkanmu." Keenan merangkul Lala. "Begini saja sah dimata agama dan negara, apalagi melakukan hal yang lain." lanjutnya.


"Sumpah aku gak ngerti dengan mereka. Belum lima menit yang lalu mereka adu argumen, sekarang mereka mesra." ujar Bang Al seraya menggelengkan kepalanya.


"Bener Bro. Cukup mereka dan Tuhan yang tahu apa yang mereka lakukan." Mas Pram menimpali.


"Mau tahu gak jurus jitu rumah tangga awet?" Keenan bicara serius. Kedua rekannya menatap penuh harap.


"Nih yang pertama, saling terbuka. Aku suka jujur sama Lala kalau lihat wanita cantik ya cantik, begitupun sebaliknya. Pokoknya gak ada sesuatu apapun yang Lala tidak tahu. Kecuali, kalau aku mau kasih surprise sama dia."


"Gila. Gak cemburu tuh?"


"Ya cemburu Malih! Cuma kita kan sebatas kagum atau iseng. Gak sentuh apalagi menggoda." lanjut Keenan.


"Kamu gak kesel La?" tanya Mas Pram.


"Kesel lah. Apalagi dia kan dikelilingi wanita seksi di Kantor. Pakai rok mini, baju ketat."


"Lah kan kamu juga suka pakai rok mini?" tanya Mas Pram.


"Justru itu, aku depan dia bug*l. Hahaha."


"Anjriiit bininya si Keenan kocak sumpah. Gak mau kalah dia." Bang Al berdecak.


"Gak semua wanita seterbuka kamu pemikirannya, La." Mas Pram teringat calon istrinya.


"Dari pada kita main belakang Mas. Aku pribadi sih lebih nyaman Keenan yang blak-blakan. Apa adanya. Terutama menyangkut.. Ehmm..uang. Haha.. Istri gitu loh. Peka kalau masalah duit." Lala cekikikan. "Tapi selama ini, aku sih gak pernah nuntut Keenan apa-apa atau tanya uang ada berapa, bla bla bla. Yang jelas uang jajan, kebutuhan sehari-hari sama kebutuhan anak, terpenuhi."


"Yaiyalah Tuan Muda. Duitnya gak habis-habis. Kamu gak bakal kekurangan."


"Untungnya istriku ini baik kebangetan dong. Gak banyak ngabisin duit suami. Iya gak, Hon?" Keenan memainkan alisnya.


"Cieee... Hahahaha... " kompak Mas Pram dan Bang Al.


" Terus apa lagi?" tanya Mas Pram


"Apanya?" Keenan balik bertanya.


"Jurus awet hubungan."


"Saling percaya lah. Paham kali gak usah dijelasin.


Lala menoyor kepala Keenan "Belagu lu sok-sok ngasih wejangan. Nikah baru tiga tahun juga." Lala terbahak.


"Anda lupa waktu hamil aku bilang apa? Terus aku nginep dimana?" Lala menatapnya sambil tersenyum.


"Haha.. Ah itu mah gak jadi itungan. Masa bilang cerai, di l*mat dikit langsung ngebales."


"Hahah anjiir" Bang Al dan Mas Pram terbahak sementara Lala memukul lengan Keenan karena malu.


"Kalian terlalu vulg*r untuk kami yang masih dibawah umur." Mas Pram menggelengkan kepalanya.


"Astaga Sayang! Lihat anak kamu." Semua mata tertuju pada Kenzie yang tertidur sambil memegang biskuit miliknya.


"Ya ampun lucu banget dia." Mas Pram membuka ponselnya kemudian mengambil foto Kenzie.


"Gendong Dad. Kasihan dia." pinta Lala.


"Jadi kita bantu apa nih Mas?"


"Kalian bantu doa saja. Semua kan sudah diserahkan pada pihak wanita. Tapi tenang, untuk sudah booking penginapan untuk kalian." ucap Mas Pram.


"Acaranya dimana Mas?" tanya Lala


"Acara dirumah dia, La. Maklum, wong ndeso kita mah." ujar Mas Pram.


"Wah seru tuh, aku suka Mas kalau nikah ala-ala begitu." Lala nampak excited.


"Mom, gantian. Pegel nih."


"Baru juga bentar. Gimana aku suruh kamu ngurus seharian." ucap Lala seraya mengambil Kenzie dari pangkuan Keenan.


"Ya sudah sekalian jalan sekarang saja kalau begitu." ajak Keenan.


"Mau kemana sih? Lama kita gak ngobrol, Bro. Masa cepat-cepat pulang."


"Ada urusan lain." Keenan melirik Lala sepintas mengisyaratkan pada mereka.


"Haha.. Setinggi-tingginya jabatan suami di Kantor, tetap saja dia dibawah kendali istri."


"S*alan! Gak juga lah! Ini karena aku ada salah. Bujuk-bujuk dikit dong biar dapat jatah nanti malam." Keenan terbahak.


Sesuai janjinya, kini Keenan dan Lala berjalan menyusuri toko demi toko. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak pergi ka Mall yang menjadi saksi bisu bagaimana Keenan berbohong menjadikan Lala pacarnya saat itu.


Kali ini, Keenan mendorong stroller Kenzie sambil menggenggam tangan Lala.


"Impian aku banget ini, Bee."


"Tumben kamu manggil aku dengan sebutan itu lagi?" tanya Keenan sambil tersenyum.


"Pengin aja. Dad, kita beli baju Kenzie yuk buat nanti ke nikahan Mas Pram."


"Kenzie doang? Kita enggak?"


"Besok aku mau ke rumah Memo, mau minta anter ke butik langganan Memo itu."


"Daddy gak bisa temani, Mom. Mommy sendiri gak apa-apa?"


"Iya. Tenang saja. Lagi pula sudah dua minggu kita gak ke rumah Memo. Pasti Memo Pepo kangen sama Kenzie juga." ucapnya seraya masuk ke dalam toko.


Lala memilih baju untuk Kenzie sementara Keenan mengajak Kenzie bermain. Keenan menurunkan Kenzie dari strollernya, dia membiarkan Kenzie berlarian di dalam toko hingga Kenzie menabrak mannequin. Seketika mannequin tersebut terjungkal ke belakang.


"Ya Tuhaan." Keenan yang ada di belakang Kenzie terpekik kaget saat melihat Kenzie tengkurap bersama dengan mannequin tersebut.


"Maaf ya Mbak." ucap Keenan pada pelayan yang ada disana, sambil menggendong Kenzie yang menangis.


Lala membiarkan Keenan mengatasi masalahnya sendiri. Dia berusaha cuek walaupun sebenarnya khawatir pada Kenzie.


"Mom.."


"Anaknya gak apa-apa?"


"Enggak. Dia jatoh tapi gak apa-apa sih. Hanya kaget saja kayaknya."


"Tahu kan sekarang jaga anak harus bagaimana? Jangan cuma suka bikinnya doang!" ucap Lala seraya berlalu meninggalkan Keenan menuju kasir.


***


Hari yang dinanti pun tiba. Keenan memboyong keluarganya ke tempat dimana akan diadakannya resepsi pernikahan Mas Pramono dan calonnya.


Mereka di tempatkan oleh Mas Pram di sebuah guest house berbarengan dengan Bang Al agar lebih privat dan lebih nyaman untuk si kecil Kenzie.


"Jadi nanti jam tujuh malam mulai acara tunangan mereka, Dad?"


"Iya Mom. Kenzie mau dibawa apa ditinggal saja?"


"Bawa. Kamu mah kebiasaan." ketus Lala


"Daddy cuma tanya doang sayang, takutnya kemalaman saja terus dia rewel."


"Jauh emang tempatnya dari sini?"


"Belum tahu. Nanti kita ada yang jemput katanya." ucap Keenan.


Tiba-tiba saja, Keenan diminta Mas Pram untuk menjadi juru bicara di keluarganya karena orang yang mereka percaya mendadak sakit.


Seketika Lala memucat, dia takut kalau Keenan salah bicara. Apalagi menyangkut acara yang terbilang sakral. Dia lupa, siapa suaminya yang sudah terbiasa public speaking.


Keluarga Keenan kompak memakai batik senada. Begitupun dengan Bang Al yang nampak gagah dengan batik yang dipadukan celana jeans hitam.


"Daddy yakin bisa? Ini beda loh sama meeting Dad."


"Aku tahu Mom. Kamu jangan khawatir."


"Gimana gak khawatir? Daddy kan belum pernah ngisi acara begini."


"Hahaha... Kenapa La? Takut Keenan bikin malu ya?" ledek Bang Al.


"Iya lah. Beban berat tahu. Padahal kita kan bukan keluarga intinya gitu"


"Sudah santai saja. Percaya sama suamimu, La. Kasihan juga Mas Pram mungkin gak ada pilihan lain." Bang Al mencoba menenangkan.


Acarapun dimulai dengan khidmat. Setelah kata sambutan dari kelurga Renata, kini giliran Keluarga Mas Pram yang diminta untuk memperkenalkan diri.


Keenan berdiri di depan sambil memegang microphone. Dia nampak gagah dengan rambut berpomade dan juga kemeja batik yang nampak cocok di tubuhnya.


Lala sedikit gemetar saat Keenan mulai membuka percakapan. Dia takut suaminya salah bicara. Sejauh ini ucapan yang terlontar dari mulut Keenan dirasa aman.


"Mohon maaf, saya bukan ingin memuji sahabat saya sendiri. Tapi perlu anda semua tahu, kalau sahabat saya ini sangat pekerjaan keras dan tentunya tidak manja." ujar Keenan. Seluruh perhatian berpusat pada Keenan yang berdiri tegak seorang diri.


"Mas Pramono bisa kesini sebentar." ajak Keenan menatap Mas Pram. Mas Pram yang terkejut segera bangkit menghampiri Keenan.


"Saya pinjam tangannya Mas. Ini loh bapak ibu calon mertua Mas Pram, buktinya dia seorang pekerja keras. Disetiap titik bawah jarinya sini, KAPALan semua." ucap Keenan sambil menunjukan tangan Mas Pram yang membuat seisi ruangan terbahak. "Betul kan Pak. Saking kerja kerasnya, kapalan di genggamnya." Suasana menjadi lebih menarik dan tidak monoton.


"Silahkan duduk kembali Mas. Sudah tidak terlalu tegang kan?" Keenan melempar senyum pada Mas Pram.


'astaga Daddy kamu Kenzie, sereceh itu.' Lala nampak malu dengan joke receh Keenan.


.


.


.


Yuhuuu.. Yang mau datang kondangan Mas Pram jangan lupa bawa kado vote Yang buanyaaakk yaa... Jangan lupa komentar dan likenya. Terima kasih ^^