
"Bee.." Lalaa mengelus pipi Keenan
"Bee..bangun.. Kamu gak kerja?" Lala mengguncang tubuhnya.
Keenan hanya berbalik menutup wajahnya dengan bantal.
"Kamu telat jangan nyalahin ya." Lala berlalu keluar kamar. Dia lupa siapa suaminya itu.
"Keenan mana?" tanya Ibu saat Lala menyeret kursi makan
"Masih tidur Bu."
"Emang dia gak kerja?"
"Gak tahu, biarkan saja dulu Bu." Lala menyendokan nasi goreng ke piringnya.
"Bu.." Ibu meliriknya. "Kenapa aku gak boleh resign, Bu? Emang Ibu ada perjanjian apa sama mereka? Kok aku gak dikasih tahu?"
Ibu masuk ke dalam kamar, dia mengambil secarik kertas bermaterai dengan tanda tangan Ibu dan orangtua Keenan sebagai pengesahnya.
Lala menatap kertas yang diberikan Ibu tersebut kemudian langsung membaca pada poin yang ditulis.
" 1. Keenan menikah dengan Lala dan tetap tinggal di rumah Lala.
Keenan tidak membatasi kegiatan Lala yang merugikan Lala
Keenan tidak melarang Lala bekerja
Keenan tidak menuntut Lala memiliki anak." Lala membaca pelan poin-poin tersebut.
"Kenapa Ibu meminta hal ini?" Lala menatap Ibu bingung.
"Ibu tidak mau kamu bernasib sama seperti ibu."
"Maksudnya bagaimana?"
"Poin pertama. Kamu tahu kan siapa mertuamu itu? Ibu gak mau nanti kamu di tindas mereka. Bisa-bisa kamu dijadikan pembantu kalau tinggal disana."
"Astaga Ibuu. Mereka baik sama aku, Bu. Mamanya apalagi, dia menganggap aku anaknya, Bu."
"Untuk saat ini mereka bersikap baik, kamu gak tahu kan kalau mereka bisa saja bermuka dua. Hanya untuk kesembuhan anaknya saja mereka baik, dia memanfaatkan kamu."
Lala hanya terdiam. Walau bagaimanapun Lala mengerti, Ibunya punya trauma tersendiri karena ulah mertuanya.
"Poin dua. Ibu gak mau, kamu kemana-mana dilarang Keenan. Ibu yakin, anak Ibu tahu batasannya sendiri dalam bergaul. Tapi kalau misalkan kesenanganmu dia renggut, Ibu tak terima."
Lala masih mendengarkan Ibu.
"Poin tiga. Hhh.. Kamu tahu kita bagaimana bukan?"
"Maksud Ibu?"
"Dasar bod*h! Kita tidak tahu jodoh kamu sama Keenan sampai kapan, kalau seandainya dia main serong dengan wanita lain. Setidaknya kamu akan jadi wanita elegan yang bisa berdiri di kaki sendiri. Atau lebih pahitnya kamu mengalami hal seperti Ibu. Ditinggal mati dan keluarga suami menarik semua aset yang kamu miliki. Setidaknya kamu tidak kehilangan arah." ujar Ibu.
"Sejauh itu ibu berfikir."
"Harus. Karena Ibu mengalami semua kepahitan itu, La. Ibu pernah merasakan untuk ambil gelas dari sini kesana saja ada yang ladeni. Ibu pernah merasakannya bak permaisuri. Tapi saat ayah meninggal? Shock theraphy buat Ibu." Seketika Ibu berkaca-kaca mengenang semua perjuangannya.
"Jadi janda beranak itu tidak mudah La. Apalagi hidup sebatang kara. Dan kamu tidak bekerja. Ibu sudah merasakan semuanya."
"Makanya Ibu tambahkan poin nomor empat. Ibu gak mau kamu cepat-cepat hamil, La. Kalau bisa kamu bermain seaman mungkin. Tapi Ibu juga tidak menyarankan kamu di kb karena takut rahimmu kering juga. Tapi kamu atur sendirilah urusan ranjangmu."
Lala tersenyum. Dia bangkit kemudian memeluk Ibunya. "Terima kasih Bu. Ibu memang yang terbaik."
"Ibu hanya tidak mau kamu disakiti oleh keluarganya, La. Awas saja kalau si Wijaya macam-macam. Cukup Ibu yang mereka sakiti!" ketus Ibu.
"Ibu juga gak mau kamu dirugikan apapun olehnya. Apalagi sampai kamu disakiti Keenan. Ibu yang maju lebih dulu." ucapnya.
Tanpa mereka tahu, seseorang menguping pembicaraan mereka saat Ibu mulai menjelaskan isi perjanjian tersebut.
"Ibu tidak mengajarkan kamu hal aneh. Semua yang Ibu lakukan, masuk di akal."
"Apa mereka mau terima perjanjian ini?"
"Kamu gak lihat tanda tangan mereka apa? Iya lah mereka setuju. Orang mereka ingin anaknya sembuh. Lagipula, Ibu gak minta kamu jadi ahli warisnya si Keenan kalau dia mati."
"Ibu ih bicaranya sembarangan!"
"Kok sembarangan? Ibu bicara realita. Kalaupun Keenan mati, kamu gak mungkin kan minta-minta harta mereka. Yang ada kamu di tertawakan."
"Ibu! Siapa juga yang mau harta mereka. Lagian siapa juga yang mau jadi janda"
"Ya seandainya. Umur kan gak ada yang tahu! Lagipula, kalau kamu jadi janda sekarang, Ibu yakin Bu Gunawan mau terima kamu jadi menantunya."
"Astaga Ibu!"
"Ibu emang mau anaknya jadi janda?"
"Gak masalah, janda muda gak punya anak. Sekarang kan janda semakin di depan." Ibu tertawa
"Astagaaaa..."
Keenan menghampiri mereka saat percakapan mereka mulai ngelantur menurutnya.
'Enak aja! Aku bakalan panjang umur! Bisa-bisanya mereka bahas janda muda!' gerutu Keenan dalam hati.
Mereka langsung terdiam saat melihat Keenan.
"Kamu mau sarapan, Bee?"
"Aku belum lapar. Nanti saja setelah antar kamu kerja." ketusnya karena kesal dengan percakapan mereka membahas janda.
***
Lala merapikan rambutnya sebelum turun dari mobil Keenan. Dia hendak memakai lipstiknya namun segera direbut oleh Keenan.
"Gak usah cantik-cantik!" Ketus Keenan.
Lala tersenyum. "Seneng banget sih kalau Abang posesif gini."
Dasar Lala, wanita lain akan marah kalau dilarang berdandan, tapi dia malah bahagia.
Lala mengambil lipstiknya kemudian memasukan kembali ke dalam tasnya.
"Bee, kalau aku lanjut kerja.. "
" Aku akan bujuk Ibu biar kamu pegang KP. KP murni usaha aku, bukan dari orangtua. Nanti aku urus pengalihan kepemilikannya atas nama kamu." potong Keenan panjang lebar membuat Lala melongo seketika.
"Bee.. Kamu tahu.. "
"Aku dengar." pungkasnya kemudian
"Hah?" Lala sedikit terkejut. "Baguslah. Setidaknya kamu langsung dengar dari mulut Ibu. Tapi kamu gak marah kan sama Ibu?"
"Enggak. Aku cuma kesal." Keenan melirik Lala malas "Dia mendoakanmu jadi janda" ketusnya
"Haha.. Bukan begitu, ibu hanya berjaga-jaga."
"Iya, sampai-sampai dia mau menawarkan anaknya pada temannya."
"Astaga..kamu dengar juga."
"Aku bakalan bikin kamu hamil cepat-cepat! Bersiaplah honey! Gak ada ampun!"
Lala mencomot muka Keenan. "Mukaaaa..Yang suka terkulai lemas siapa?" Lala terbahak.
"Tapi kan aku cuma sekali sedangkan kamu kalah tiga kali" ucapnya
"Apa? Orang dua kali doang!" protes Lala
"Tetep aja aku yang kuat!"
"Kamu curang! Tangan kamu gak pernah diam." ketus Lala.
"Loh? Aku kan gak larang kamu jamah badan aku"
"Ya apa yang mau dijamah! Dada kamu datar! Kecuali kalau kamu suntik pembesar." Lala terbahak
"Sint*ng punya bini!" ketus Keenan sementara Lala terbahak.
"Kamu mau bee? Aku rela bayarin deh." goda Lala.
"Jangan gila ya kamu! Pagi-pagi udah gak beres otak kamu!"
Lala semakin terbahak.
"Ayo dong Bee. Kan tangan aku jadi ada kegiatan sama kayak kamu."
"Gila" Keenan membuang muka
"Nih kalau gini" lala memegang dada keenan "Gak enak banget" dia mencubit papilla milik Keenan.
"Aw.. Anj*r sakit Munah!" Keenan menutup dadanya.
"KDRT tahu gak!" ketusnya lagi.
Lala semakin terbahak. "Kok sakit sih?"
"Iyalah kamu tarik begitu! Gak ada lembut-lembutnya. Emangnya kamu! Baru dipompa lembut sekali aja udah langsung mendes*h"
"Astaga Bambang! Gak usah dibahas ih!" seketika Lala malu.
"Apalagi di apartemen. Kenceng banget mendes*hnya"
"Keenan ih" Lala menyumpal mulut Keenan dengan tangannya.
"Udah ah. Nanti aku telat." Lala merapikan bajunya kembali.
"heh salim dulu!"
"Oh iya." Lala mengecup punggung tangan suaminya. Keenan memajukan bibirnya. Kecupan kilat mewarnai perpisahan mereka.
"Aku nanti ke KP ya" Keenan meminta izin
"Macam-macam sama desi, aku gor*k kamu!" ketus Lala
"sadiiiss" Keenan tersenyum
***
Mas Pram berjalan membawa kopi milik Keenan saat tahu Keenan datang kesana. Kini mereka duduk berhadapan.
"Lagi kacau pikiranku Mas."
"Kenapa?"
"Aku mau minta Lala resign, tapi.. Bisa gak Mas, KP aku over alih atas nama Lala."
"Kamu mau mati Bro?"
"Anj*r sial*n Pramono!"
"Lah itu tiba-tiba bikin surat wasiat." Mas Pram terbahak.
"Bukan surat wasiat juga!" ketus Keenan. "Jadi mertuaku gak kasih izin Lala untuk resign"
"Loh? Kok bisa? Harusnya bangga, anaknya dipersunting Tuan Muda yang hartanya gak habis tujuh turunan."
"Sayangnya mertuaku tidak sematre itu Mas!"
"Lantas?"
"Dia gak izinkan Lala resign. Dia tetap minta Lala kerja di perusahaan orang. Harga diriku mau di taruh dimana dong Mas?"
"Jadi kamu mau berikan asetmu untuk Lala?"
Keenan menyeruput kopinya seraya mengangguk.
"Minimal, istriku usaha sendiri daripada harus kerja di orang."
Mas Pram kini paham.
"Nanti aku urus Bro" ucap Mas Pram
"Aku ingin buka cabang KP 4 Mas sekitar rumah Lala biar dia gak terlalu jauh. Disana potensial juga menurutku karena kawasannya ramai dan belum ada kedai kopi kayak kita."
"Tapi aku ingin Lala yang kelola. Bagaimana?" Keenan begitu berharap pada Mas Pram.
"Modal kita gak cukup Bro. KP 3 kan baru launching."
"Gak masalah soal modal Mas. Asal istriku resign dari sana, terus mertuaku percaya kalau anaknya kelola KP."
"Aku sih oke-oke saja."
"Tolong urus semuanya seperti biasa Mas. Aku minggu depan harus keluar kota." ucapnya.
"Laksanakan Tuan Muda." Mas Pram tertawa.
"Makin lama Tuan Mudaku melangkah lebih jauh."
"Haha..itu karena tuntutan Mas. Makin lama aku kenal istriku, aku makin salut."
"Makin lama kamu juga makin jadi budak cinta." Mas Pram terbahak.
"Aku beruntung lah dapat istri kayak dia. Gak neko-neko. Gak boros juga."
"Cieee.. "
" Tuhkan, Abang jadi ingin dimanja" ujar Keenan seraya terbahak
"Anj*r Abang gak kuat ingin tanam saham." Mas Pram tak kalah terbahak.
Seketika Mas Pram terpaku melihat seseorang yang datang ke KP mereka.
"Mm.. Bro, bentar."
Keenan menatap pergerakan temannya yang menurutnya tak wajar. Seperti orang yang sedang salah tingkah, Mas Pram menghampiri pengunjung tersebut bertindak sebagai pelayan. Keenan yang paham hanya tersenyum melihat kelakuannya.
***
"Bee kamu mah kebiasaan gak kasih kabar!" ketus Lala
"Aku sibuk sayang. Maaf." Keenan menautkan jemari mereka kemudian mengecup punggung tangan Lala. "Yang penting aku jemput kamu kan?" ucapnya seraya tersenyum.
Selagi di KP tadi, Keenan mendapat telepon dari asistennya untuk mengurus dokumen penting yang di pegang Karina.
"Sebel tahu gak! Aku kan nunggu kabar dari kamu!"
"Iya maaf, honey. Tumben kamu manja begini."
Lala yang sadar tersipu malu. "Mau makan?" tawar Keenan
"Enggak. Aku mau apa ya? Hmm.. Bee beli alpukat kocok."
"Apaan?"
"Itu yang di pinggir jalan Bee, kayaknya enak. Lihat gerobaknya bersih."
"Apa?" Keenan menatapnya tajam. "Enggak!"
"Bee ih! Dulu aja aku boleh jajan di taman kota." gerutu Lala
"Dulu aku gak ada hak larang kamu loh ya! Sekarang aku punya hak atas diri kamu!"
"Pelit banget si Keenan Wijaya!" gumam Lala
"Bodo!". Lala tak menyangka Keenan mendengarnya.
Tiba dirumah, Lala segera masuk kamar mandi. Sementara Keenan menghampiri Ibu yang sedang membuat adonan.
"Bu.. "
"Apa" ketus Ibu
"Galak banget kayak Ibu Tiri"
Ibu melirik Keenan.
"Bu, Lala boleh resign ya?"
"Gak boleh."
"Dengar dulu Bu" Keenan mengelus kepala belakangnya. "Lala resign tapi buka usaha."
Ibu menatapnya."Usaha apa?"
"Kedai kopi. Aku punya kedai kopi Bu, join dengan temanku. Kita sudah punya tiga cabang. Rencananya, aku ingin Lala pegang cabang ke 4."
Ibu terdiam.
"Kamu memang punya banyak cara untuk mewujudkan keinginanmu Keenan!" ketus Ibu
"Gak begitu juga Bu, aku cuma gak mau Lala kerja di tempat orang. Minimal Lala punya usaha sendiri kalau dia pegang kedai kopi, dia bisa lanjutin kuliahnya juga, Bu."
Ibu menatap Keenan. "Serius kamu, mau dia kuliah lagi?"
"Bukan hanya dia, aku juga Bu. Aku mau lanjut kuliah juga." Keenan menelan salivanya. "Masa untuk kebaikan aku dan Lala, Ibu gak mau dukung?" Keenan mengiba.
"Hhh... Cuma kamu yang suka maksa Ibu!"
Keenan tersenyum. "Jadi boleh Lala resign?" bujuknya lagi.
"Ibu ingin lihat dulu kedai kopi kamu." putus ibu.
"Siap laksanakan nyonya." Keenan kembali ke kamarnya.
Sebenarnya, Ibu sangat menyukai pribadi Keenan yang tak segan pada dirinya. Dia juga menganggap Keenan bukan sekedar menantunya sehingga dia berani memarahi Keenan sama seperti dia memarahi Lala.
***
Tanpa menunda waktu, Keenan membawa istri dan mertuanya ke KP. Disana, Mas Pram menyambut mereka dengan ramah.
"Silahkan Ibu, ini sesuai dengan pesanan Ibu." ucap Mas Pram.
"Terima kasih." Ibu masih mengedarkan pandangannya.
"Ini best seller di KP kami, Bu." tambah Mas Pram.
Ibu mencicipinya "Enakan risol Ibu kemana-mana" ucap Ibu
"eh? Bagaimana bu?" Mas Pram menggaruk tengkuknya.
"Kamu harus coba risol buatanku. Lebih enak dari ini." ucap Ib
"Ibu, masa risol disamakan dengan croissant sih?" protes Lala
"Ya biar dia tahu, risol Ibu enak."
Mas Pram hanya terdiam.
"Mas, sudah di urus?" tanya Keenan
"Belum ada yang cocok tempatnya, Bro. Tapi aku masih cari-cari." ucapnya
Keenan hanya mengangguk. Sementara Mas Pram pamit ke lantai atas.
"Ini Bu, perjanjian saya dengan Keenan. Maaf saya belum ada waktu untuk mengubah kepemilikan KP" ucapnya
"Mengubah?"
"Iya, Bro Keen maksud saya Keenan minta kepemilikan KP ini atas nama Lala, bukan dia."
Ibu sedikit tersenyum senang.
"Bu.. " Keenan menatap Ibu
" Ya sudah, Lala boleh resign." ujarnya
"Yes!" Keenan menangkup muka Lala. "Akhirnya Hon" dia begitu senang.
"Tapi dengan satu syarat."
Seketika senyum Keenan memudar, wajahnya menjadi serius. Begitupun dengan Lala yang menatap lekat Ibunya.
"Apa itu Bu?" tanya Keenan takut-takut
"Biarkan risol Ibu terpajang di kedai kamu."
.
.
.
Jamaah Honbee seperti biasa like, komen, vote, vote, vote yang buanyaaakkk. Makasih ^^