
Keenan sedikit terusik dengan kejadian tadi pagi. Rasa trauma membuat kepercayaannya sedikit goyah setelah melihat foto tersebut walaupun dia meneguhkan hatinya untuk mempercayai Lala.
Keenan berada diseberang jalan tepat di depan kantor Lala. Dia menatap ke arah gerbang kantornya, menunggu dengan siapa Lala pulang. Lama menunggu, akhirnya Lala keluar kantor, dia menghampiri ojek online yang telah dipesannya membuat Keenan merasa lega.
Keenan membuntuti Lala, dia nampak kaget saat ojek tersebut tidak menuju ke rumahnya. Keenan semakin penasaran, dia terus mengikuti ojek tersebut tepat dibelakangnya. Setelah beberapa lama, ojek yang ditumpangi Lala berhenti disebuah kafe.
Keenan sedikit kesal saat mengetahui Lala pergi tanpa memberitahunya. Dia memarkirkan mobil sebelum kafe tersebut. Keenan menjernihkan pikirannya, dia masih terdiam, berperang dengan pikirannya sendiri.
Lala masuk ke dalam kafe. Dia mengedarkan pandangannya berharap bertemu dengan seseorang yang menuliskan pesan untuknya.
Lala menunggu Karina dengan perasaan sedikit cemas. Dia memainkan minumannya dengan memutar sedotan yang ada di dalam gelasnya, hingga pandangannya beradu dengan wanita berbaju seksi dengan rambut tergerai indah yang tiba-tiba saja menarik kursi di hadapannya tanpa basa basi.
"Jauhi adikku" ucap Karina tiba-tiba seraya menyilangkan kakinya.
"Kenapa?"
Karina membuka tasnya, dia melempar beberapa foto ke hadapan Lala. Lala memungutnya satu per satu.
"Aku tahu siapa kamu dan darimana kamu berasal" ucap Karina
"Kalau anda bisa, silahkan pisahkan kami." Lala tersenyum sambil menatap Karina tanpa takut.
"Aku tahu, kamu hanya ingin memanfaatkan adikku. Dasar wanita murahan!" Karina balas menatapnya.
Lala mengepalkan tangannya tak terima.
"Saya peringatkan kamu! Menyingkirlah dari kehidupan kami dan jangan pernah bermimpi kamu bisa masuk dalam keluarga kami! Camkan itu!" Karina lekas berdiri dia pergi meninggalkan Lala begitu saja.
Lala masih mematung menatap punggung wanita yang menginjak harga dirinya. Setelah beberapa lama, Lala bergegas keluar. Dia mengambil sebuah batu berukuran sedang dan melemparnya ke kaca belakang mobil Karina yang keluar dari kafe tersebut.
"Lo yang murahan, Bangs*t!" umpat Lala seraya berteriak. Lemparan batu tersebut tak menghentikan laju mobil Karina.
Sementara Keenan sedikit terperanjat menyaksikan kejadian di depan matanya.
"Karina" gumam Keenan tak percaya saat melihat plat nomor mobil tersebut. Dia melihat Lala dengan nafas memburu dan wajah menahan amarah.
"Ya Tuhan. Kenapa aku bisa berurusan dengan makhluk seperti dia" gusar Lala
Sementara Keenan masih menatap Lala dari dalam mobilnya.
Keenan membuka pintu mobilnya, dia merasa tak tega pada Lala. Keenan menghampiri Lala yang masih mematung.
"Bee" Lala sedikit terkejut saat melihat seseorang menghampirinya.
"Kenapa kamu gak bilang?" Keenan menatapnya tajam.
Tanpa menunggu jawaban, Keenan menuntun Lala masuk ke dalam mobilnya. Keduanya terdiam cukup lama. Lala membuka tasnya, dia memberikan foto yang diberikan Karina pada Keenan.
"Kakakmu memberikan ini padaku. Ini foto waktu kita marahan kemarin Bee. Aku sudah cerita sama kamu. Aku gak tahu, dia dapat foto tersebut dari mana."
Keenan masih membisu.
"Apa kamu gak percaya sama aku?" tanya Lala.
Kini Lala membuka ponselnya, memperlihatkan pesan yang dikirimkan Karina kepadanya.
"Aku juga gak tahu, dia dapat nomor ponselku dari mana." Keenan membaca isi pesannya, namun dia masih membisu.
"Kamu mau percaya aku atau percaya Kakakmu, itu pilihanmu. Aku tak akan mengemis kepercayaan darimu." ucap Lala datar. Dia teringat kembali hinaan yang dilontarkan Karina kepadanya. Dadanya terasa sesak, seakan menyadarkan dirinya dan Keenan memang jauh berbeda. Rasa rendah dirinya kembali menguasai pikirannya.
"Kenapa kamu gak jujur?" Keenan membuka suara.
"Aku hanya butuh kejujuranmu, La"
"Aku gak jujur darimana?"
"Kamu pergi menemui Karina, kenapa kamu gak jujur sama aku?"
"Aku khawatir kamu kenapa-napa kalau aku bilang sama Kamu. Kamu baca sendiri kan ancaman Kakakmu sama aku?" ucap Lala
"Dia kakakku, bod*h! Harusnya kamu khawatir sama diri kamu sendiri!" Keenan meninggikan suaranya.
"Dia bicara apa?" Keenan kini melunak
"Aku harus menjauhimu, Bee. Kita tak pantas bersanding."
"Jangan dengarkan ucapan dia. Setelah urusanku selesai, aku akan membawa orangtuaku menemui Ibu" ucap Keenan datar membuat Lala meliriknya.
"Kamu percaya sama aku?" tanya Lala masih menatap Keenan
"Aku sudah bilang, apapun yang kamu lakukan, kamu harus bilang sama aku. Apa kamu amnesia?" kini pandangan mereka beradu.
"Aku sudah bilang alasannya, aku takut kamu kenapa-napa, Bee."
"Aku sedikit bisa membaca tujuan Karina sekarang. Dia tidak akan mencelakakan kita. Dia hanya ingin membuatku frustasi dengan cara merenggangkan hubungan kita, hingga aku tak fokus dengan pekerjaanku dan semua aset milik Papa akan dia kuasai."
"Tahu dari mana kamu, Bee?"
"Dia gak berani macam-macam kan? Dia hanya membuat hubungan kita renggang. Sepertinya dia mengira aku akan seperti dulu."
"Bagaimana kalau dia mencelakakan kita, Bee?"
"Dia gak berani main kotor La."
"Apa kamu yakin?"
"Dia kakakku, La." Lala tak berani bersuara kembali.
"Hon, perjuangan kita tinggal sedikit lagi. Aku hanya ingin kamu patuh dengan ucapanku." ucap Keenan
"Aku sudah bilang sama Mama Papa tentang keseriusanku untuk meminangmu, La" ucap Keenan
"Sungguh?"
"Kamu gak percaya sama aku?"
"Apa kamu sungguh-sungguh, Bee?" Lala kini tak merasa yakin
"Kenapa?"
"Perbedaan kita terlalu jauh." ucap Lala terdengar putus asa.
"Pasti Karina yang memprovokasimu." tebak. Keenan
"Astagaaaa Tuhaaaann. Kenapa hidupku serumit iniii" Lala berteriak melampiaskan amarahnya
"Lashira! Kamu sudah gila apa!" Keenan menutup telinganya, dia kaget saat Lala kembali menjadi dirinya sendiri
"Hah keluarga orang kaya memang begitu semua. Pusing aku Keenan!" Suara lantang Lala menggema dalam mobil.
"Kamu menganggap kami begitu?"
"Rumit ini Keenan. Kenapa sih gak kayak pasangan pada umumnya. Pacaran, keluarga saling tahu, nikah, selesai. Rasanyaa aku bermain sinteron ini. Orangtuaku setuju, orangtuamu setuju, kakakmu gak setuju. Heran." Lala bicara tanpa jeda.
"Masalah si Karina, biarkan saja. Toh dia gak akan berpengaruh sama kehidupan rumah tangga kita kelak"
"Gak pengaruh bagaimana? Belum apa-apa sudah di ancam. Gimana kalau nikah?"
"Apa aku perlu melepaskan semuanya? Biar dia gak mengganggu kita?"
Lala menggeleng cepat.
"Terus kita bagaimana Bee" Lala kini merebahkan kepalanya dibahu Keenan. Dia merasa lelah.
"Tunggu sebulan lagi, sayang. Aku sudah bilang dari kemarin."
"Jujur aja, aku tuh kadang pesimis sama hubungan ini Keen. Aku gak tahu kenapa. Rasanya hati aku tuh gak sepenuhnya yakin."
"Kadang, aku juga menyadarkan diriku sendiri agar gak terlalu jatuh cinta sama kamu, agar suatu saat kita berpisah, aku tidak mengalami yang kamu alami. Aku takut. Aku juga gak siap." tanpa sadar Lala mencurahkan isi hatinya pada Keenan.
Keenan memutar tubuh Lala agar menghadapnya.
"Jadi selama ini kamu gak sepenuhnya cinta sama aku?" Keenan menatap lekat manik Lala
"Bu.. Bukan begitu. Aku, aku harus berjaga-jaga saja agar aku tidak sepertimu saat kita pisah nanti."
"Saat kita pisah?"
"Mungkin. Aku gak tahu kedepannya kayak gimana, Keen."
Keenan memegang bahu Lala.
"Tunggu aku sebulan lagi saja. Akan aku buktikan bahwa semua yang kamu khawatirkan tidak akan pernah terjadi, La. Aku gak bisa romantis. Aku blak-blakan, aku lebih suka apa adanya, dan kamu tahu itu."
"Hubungan kita sudah direstui orangtua. Sekarang kita fokuskan itu saja. Oke?"
"Bee.."
"Trush me, please Lashira."
"Bosan tahu, aku berkali-kali yakinin kamu kayak gini" gerutu Keenan
"Ayo pulang, Bee. Aku lapar."
"Yuk makan di kafe saja." ajak Keenan.
"Gak mau."
"Kenapa?"
"Gak ada nasi. Cuma kue, roti bakar sama pisang bakar" Keenan tersenyum mendengar ucapan Lala.
"Dasar Markonah!"
***
Keenan masuk ke dalam rumahnya, dia mendapati orangtuanya masih berada di depan televisi tak seperti biasanya.
"Kamu sudah makan, Nak?" tanya Mama
"Sudah Ma." Keenan duduk bergabung dengan kedua orangtuanya.
Keenan membuka tasnya. Dia mengambil foto dari dalam tas tersebut.
"Foto yang sama dikirimkan seseorang pada Lala." Keenan membuka percakapan.
"Karina" ucap Keenan lemah.
"Gak mungkin Keenan! Kamu menuduh kakakmu sendiri!" Mama membentaknya.
"Aku juga gak percaya Ma. Tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, dia mengancam Lala untuk menjauhiku."
"Atas dasar apa dia melakukan itu?"
"Sepertinya dia sengaja membuat hubunganku dengan Lala merenggang Ma, agar aku depresi seperti dulu dan semua dia yang menguasai kembali." ucap Keenan
"Kalau aku harus melepaskan segalanya buat dia, aku siap Pa."
"Jaga bicaramu Keenan!" Pak Wijaya membentaknya
"Gak mungkin Karina seperti itu, Keen."
"Buktinya dulu dia marah saat mendengar Papa akan melimpahkan semua asetnya atas nama aku. Padahal gak sedikitpun aku mau menguasai semua yang Mama Papa miliki"
Kedua orangtuanya terdiam.
"Biar Papa berpikir terlebih dahulu, Keen."
Pak Wijaya berdiri, dia meninggalkan mereka yang masih larut dengan pikirannya masing-masing.
"Aku keatas Ma."
Lala menatap langit-langit kamarnya. Ucapan Karina sukses membuatnya menciutkan nyalinya untuk melangkah lebih jauh bersama Keenan.
"Tidur Hon, jangan mikir yang macam-macam" Keenan mengirimkan pesan pada Lala
"Tahu saja Abangnya."
"Tahu dong. Sampai daleman kamu saja tahu."
"Ih mes*m deh!"
"Lah? Siapa yang mes*m? Aku bilang kan aku tahu daleman pikiran dan hati kamu. Yee ngarep yang lain Nengnya."
"Siapa juga yang ngarep, Bambang."
"Dah sana tidur!"
Memikirkan pekerjaan dan percintaanya membuat pikirannya kacau. Keenan masuk ke dalam bathup. Dia melakukan ritual lamanya dengan berendam berlama-lama disana.
Setelah dirasa segar, dia membilas tubuhnya yang terasa lebih segar. Dia menatap dirinya dicermin seraya memainkan rambutnya.
Melakukan hal tersebut, membuat Keenan teringat akan masa-masa kuliahnya dulu. Masa-masa indah yang dia rasakan tanpa beban apapun. Dia merindukan kedua sahabatnya.
Keenan membuka aplikasi pesan di ponselnya.
"Kuuuyyy" Keenan menuliskan pesan.
"Assalamu'alaikum wahai Tuan Muda dan pemilik Bank di Indonesia. Sudikah kalian melirikku si tukang kopi generasi Tuti?" ~ Mas Pram
"Aku merindukanmu Pramonokuu" ~ Bang Al
"Kuuuyyy aku kesana Mas" ~ Keenan
"Apakah kamu serius Tuan Muda?" ~ Mas Pram
"Bukan basa basi" ~ Keenan
"Meluncuuurr" ~ Bang Al.
Keenan memakai baju dan jaket hoodie miliknya. Dia mengambil helm kesayangannya kemudian menuruni anak tangga.
Kini dia memanaskan motor matic kesayangannya.
"Anda mau kemana Tuan Muda?"
"Aku ke tempat temanku, kunci saja gerbangnya. Aku gak pulang." ucap Keenan pada penjaga rumahnya.
"Baik Tuan Muda. Hati-hati dijalan."
Keenan menikmati hembusan angin malam. Dia merasa senang dengan hal kecil yang sedang dia lakukan saat ini. Dia sangat menikmati perjalanan dengan hati sedikit riang.
"Brooooo" Mas Pram memeluk Keenan saat Keenan tiba di kedai yang sudah tutup tersebut.
"Sejauh apapun kamu pergi, pasti aku tempatmu pulang" ucap Mas Pram berbangga diri.
"Jadi dia doang Mas?" Bang Al yang baru tiba menimpalinya.
"Apakah aku bermimpi? Kalian mendatangiku malam ini?" Mas Pram merasa terharu.
"Maaf, bukanku melupakanmu Mas." Keenan menepuk bahu Mas Pram
"Betul. Setelah ku sadari ternyata menatap uang lebih menarik daripada menatapmu Mas" canda Bang Al
"Haha.. Sebentar, biar aku kunci dulu pintu."
Ketiganya kini berada di lantai dua. Mereka kompak hanya memakai celana boxer dan kaos sambil berbincang hangat.
"Kapan kuta Futsal Bang?" tanya Mas Pram
"Kuy, Sabtu atau Minggu. Bagaimana?"
"Aku usahakan." ucap Keenan
"Tuan Muda jadwalnya padat."
"Pusing aku Mas."
"Aku tahu, dia kalau kayak begini tuh pasti lagi kusut" ucap Mas Pram
"Lepaskaanlaah.. Ikatanmuuu" Bang Al bernyanyi
"Lepaskan! Perjuangan hampir finish ini oy!"
"Wah? Kamu mau menghalalkan dirinya Bro?"
"Mendekati Mas. Dua tahap lagi."
"Dua tahap bagaimana?"
"Ya tunangan sama nikah."
"Ah s*alan! Ya iyalah dua tahap lagi! Orang semua juga sama. Pacaran, tunangan, nikah." Bang Al menimpali
"Dia kayaknya beda Bang." timpal Mas Pram
"Kawinin dulu, baru nikahin." mereka terbahak
"Heh! Aku trauma ya di tinggal bunt*ng! Gila aja, aku mengikuti jejaknya!"
"Lagian si Lala galaknya minta ampun. Jangankan di bikin bunt*ng, di colek dikit aja ngomel"
"Haha.. Ada fungsinya dia cerewet Bro."
"Eh Bang, kamu gimana sama si Mira?" pancing Keenan
"Dia ke laut" jawab Bang Al asal
"Kelaut bagaimana? Noh dia di swalayan kerjanya."
"Apakah kamu serius, Bro?"
Keenan mengangguk seraya menyeruput minuman miliknya.
"Aku lagi ngontrol cabang, eh gak sengaja nabrak dia."
"Mungkin kalian jodoh" Bang Al tertawa
"Yakin sudah dibuang? Dulu ngemis-ngemis suruh jauhin."
"Haha anj*r masa jahiliyah itu!" mereka menertawakan Bang Al yang dulu tergila-gila pada Mira.
"Kalau kamu mau, ambil saja Bro bekas aku" ucap Bang Al
"Sorry Bang, buat si jomblo saja." ucap Keenan santai
"Haha.. Kalian sungguh terlalu, masa aku dikasih barang bekas"
"Masih di segel Mas. Orang aku cuma colek dikit-dikit"
"Anj*rlah terima kasih. Aku mending milih si Tuti kemana-mana" ucapnya
Ketiganya baru terlelap saat menjelang pagi saking asyiknya berbincang sambil becanda seolah mengulang waktu yang mereka pernah lewati bersama.
Dering ponsel membangunkan Mas Pram. Dia menggeser layar ponsel seraya terpejam
"Ya Hallo dengan Kedai Kopi KP disini." ucap Mas Pram
"Bee?"
"Yes Honey, Bee masih tidur."
"Mas Pram?"
"Iyes Honey."
"Astaga.."
"Honey?" Keenan mengerjapkan matanya.
"Pramonooo s*alaaan ponsel akuuu!"
.
.
.
Yuhuuu semoga terhibur. Like, komen, and vote-nya ku tunggu. Terima kasih ^^