My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Trio Gesrek



"Heh! Kemana dulu sih kalian!" ucap Keenan menghampiri mereka.


Mas Pram dan Bang Al mematung.


"Bro, ini rumah kamu?" tanya Mas Pram.


"Hehe. Iya Mas."


"Kamu bukan gig*lo kan Bro?" ceplos Bang Al


"Si*lan Bang!" Keenan menendang Bang Al namun tak mengenainya.


"Yuk duduk." ajak Keenan


"Keen, serius ini rumah kamu?" tanya Mas Pram masih tak percaya.


Keenan hanya tersenyum. Seorang pelayan menghampiri mereka.


"Mau minum apa?" tanya Keenan


"Anj*r ini kaya di warung si Tuti pake pilihan segala minumnya" ucap Bang Al seraya tertawa


Keenan teringat akan Lala yang bereaksi sama dengan mereka.


"Cepat.. Mau minum apa katanya" ucap Keenan


"Cappuccino Mbak. Ada?" Mas Pram antusias


"Baik" ucapnya


Keenan menatap Bang Al.


"Es jeruk ya Mbak" pinta Bang Al


"Baik. Saya permisi" ucap pelayan tersebut.


"Sumpah..ini rumah apa warung si Tuti" ceplos Bang Al.


"Bang, teman kita ternyata konglomerat" ucap Mas Pram antusias


"Berisik Mas. Apaan sih" Keenan nampak risih.


"Sumpah demi apapun, kenapa kamu gak jujur dari awal sama kita." ucap Bang Al


"Kenapa memang?"


"Ya biar kita morotin kamu lah Bro. Masa gak ngerti" keduanya tertawa


"Si*lan kalian." ucap Keenan


"Pindah yuk ah" ajak Keenan.


"Bro, ayo kita house tour rumahmu" ajak Mas Pram


"Apa si Mas! Sudah kayak artis online saja!" ucap Keenan seraya berjalan ke arah gazebo yang berada di sudut kolam renang.


"Baaaang.. Kolam renang baang. Ayoo kita nyebur" Mas Pram memeluk Keenan.


"Anj*r Mas. Jijik tahu! Tuh si Babang peluk" Keenan melepaskan pelukan Mas Pram


"haha.. Tega kamu Keen. Tahu gitu kita bisa nikmatin fasilitas rumahmu dari dulu" ucap Bang Al


"Nah ini yang aku takutkan" ucap Keenan seraya menyunggingkan sebelah bibirnya.


"Jadi, Lala sudah pernah kesini?" tanya Bang Al


"Iyalah. Dia pacarku" ucap Keenan


"Tega kau Bro! Lala yang baru pacaran sebentar sudah tahu kebenaranmu. Sementara kita? Kau anggap apa pertemanan kita ini Bro Keen?"


"Dia yang menyadarkanku untuk jujur pada kalian" ucap Keenan


"Waah gilaa.. Lala berpengaruh besar. Kita harus berterima kasih padanya Mas" ujar Bang Al


"Iya. Nanti biar aku ajak kencan dia" ucap Mas Pram


"Awas saja kalau berani kau Mas!" ucap Keenan.


Pelayan datang membawa minuman dan cemilan untuk mereka.


"Silahkan tuan muda." ucapnya.


"Terima kasih"


Mas Pram dan Bang Al terbahak mendengar mereka.


"Sekali lagi tertawa, aku lempar kalian ke kolam renang" ancam Keenan


"Keen, kamu gak geli dibilang Tuan Muda?" tanya Bang Al


"Ternyata hidupnya Keenan perpaduan antara Telenovela dan sinetron ya Bang" ucap Mas Pram.


"Pulang sana. Hus.. Hus.. Huss.. Atau aku panggilkan keamanan?" ancam Keenan


"Haha.. Ampun Tuan Muda" keduanya tak henti menggoda Keenan.


"Jadi apa alasanmu Tuan Muda?" tanya Mas Pram


"Kalian tahu lah, aku mencari teman bukan penjilat." ucap Keenan


'Terus kau sengaja menyamar. Begitu?" tanya Bang Al


Keenan mengangguk sambil meneguk jus miliknya.


"Bang, tolong jangan kasih tahu pacarmu ya." pinta Keenan


"Tentu saja. Nanti dia makin menggilaimu. Aku tak rela" ceplos Bang Al.


"Hah? Aku tak salah dengar Bang?" Mas Pram menyelidik


Bang Al gelagapan. Dia lupa kalau Mas Pram tak mengetahui rahasia antara dirinya dan Keenan.


"Jadi? Kau juga menyembunyikan sesuatu?" tanya Mas Pram


Bang Al akhirnya menceritakan rahasianya pada Mas Pram.


"Bang, apa tak sebaiknya kau lepaskan Mira?" Mas Pram. Memberi saran diikuti anggukan oleh Keenan.


"Kamu gak tahu sih jatuh cinta itu seperti apa" ucap Bang Al


"Bang, Tuhan membiarkanmu patah hati agar kau bertemu dengan tulang rusukmu." ucap Mas Pram


"Ciee jomblo sok-sok-an ngasih wejangan" ucap Keenan


"Loh? Diriku jomblo toh? Diriku jomblo? Owalaah daku sampai lupa" ucap Mas Pram disambut oleh toyoran dari kedua temannya.


"Jadi saat ini kau masih menikmatinya?" tanya Mas Pram


Bang Al hanya mengangguk.


"Bang" Keenan menepuk pundaknya.


"Kalau menurutku, kamu hanya penasaran, bukan mencintainya." ucap Keenan


"Coba dijelaskan maksudnya bagaimana Bro Keen?" tanya Mas Pram


"Jadi, dia itu hanya penasaran bagaimana menaklukan si Mira. Gitu sih kalau menurutku." ucap Keenan


"Terus kalau si Mira sudah takluk gimana?"


"Ya di kawinin lah." ucap Keenan.


"Sabl*ng Bro Keen. Aku pikir bakal ditinggalkan" ucap Mas Pram


"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Bang Al pada Keenan


"Aku bingung, orangtua minta aku study di luar."


"Alhamdulillah. Ada kesempatan" Mas Pram. Menengadahkan kedua tangannya.


"Si*lan kau Mas!"


"Terus?" Bang Al kembali fokus


"Aku belum ambil keputusan."


"Oya Bro, orangtuamu?"


"Mereka lagi berobat keluar." ucap Keenan


"Gak nyangka kita punya teman setajir dia ya Bang." ucap Mas Pram


"Bukan aku. Tapi orangtuaku Mas" sanggah Keenan.


"Tetap saja warisannya jatuh ke tangamu Keen."


"Haha.. Orangtuaku masih hidup Pramonooo. Gil* sudah bicara warisan"


Mereka masih berbincang sambil menatap birunya air kolam renang.


"Sumpah, itu kolam rasanya manggil terus namaku" ucap Mas Pram


"Coba kamu samperin. Bener gak?" tanya Keenan.


Dengan bod*hnya Mas Pram mendekat telinganya ke arah kolam. Seketika Keenan menendangnya


BYUUURRRRR..


Keenan dan Bang Al tertawa puas.


"Gil* kau Bro. Aku gak bawa salin" kesalnya


"Hei, kamu lupa dia itu konglomerat" ucap Bang Al


"Oh iya bener. Lanjutkan kalau begitu."


"Hah! Si*lan kalian" ucap Keenan.


Bang Al melucuti pakaiannya hingga tersisa celana boxer. Dia menjatihkan diri ke dalam air kolam berenang bersama Mas Pram. Tak lama, Keenan menyusul mereka. Mereka bermain layaknya anak kecil di dalam air sana.


***


"La, maaf tadi aku ketiduran" ucap Tasya pada Lala saat dia tiba di ruangannya


"Tidak apa-apa Bu. Ibu hamil kan harus banyak istirahat" ucap Lala


"Bu" ucap Lala ragu


"Kenapa La?" tanya Tasya


"Ini kok gak balance ya?" ucapnya lagi


"Apanya La?" tanya Tasya penasaran


"Ini bu, coba ibu lihat" Lala menunjukan lembaran kertas dengan deretan angka dan huruf disana. Tasya melihatnya dengan seksama.


"Sudah kamu periksa La?" tanya Tasya


"Sudah berulang kali bu. Tapi masih tetap sama. Padahal sebelumnya tidak begini kan bu" terang Lala


"Hmm.. Kok bisa ya" Tasya merasa heran


"Makanya bu. Padahal kan kita rekap sesuai pesanan. Offline dan online juga ada buktinya bu." terang Lala


"Kamu sudah cek, berapa banyak yang kita bongkar" tanya Tasya


"Sudah bu" ucap Lala singkat


"Ya sudah, mungkin ada kekeliruan saat packing La" ucap Tasya


"Tapi masa sebanyak ini bu. Kalau hanya lebih sedikit wajar. Ini banyak bu" ucapnya


"Kita juga gak bisa nuduh sembarangan La. Mungkin kita yang keliru" Tasya berpikir positif


"Ya tapi aneh saja bu. Dananya kemana coba bu. Sayang kan bu, lumayan dananya bisa separuh gajiku" ucap Lala menyeringai


"Nanti kita pikirkan lagi. Coba kamu kirim soft file-nya La. Biar aku bantu hitung dirumah"


"Baik bu" ucap Lala


'Itu anak ngilang mulu deh. Sesuka hatinya dia saja kalau menghubungi.' batin Lala kesal.


'Eh, dia kan mau jujur ke temennya hari ini. Jadi gak ya? Apa aku tanyain saja?' Lala memutar-mutarkan ponselnya


'Ah aku kan pacarnya. Hubungi sajalah' pikirannya kini mantap


"Keen, temanmu jadi ke rumah?" Lala menuliskan pesan pada Keenan.


Lama dia menunggu, tak ada jawaban Keenan.


***


Keenan dan kedua temannya tengah tiduran didalam kamar Keenan karena kelelahan setelah bermain air.


"Makan yuk Bro. Gila sudah hampir sore ini" ajak Keenan


"Ah kamu, dari tadi kek ngajaknya." ucap Bang Al


"Haha.. Sorry. Yuk kebawah." ajak Keenan


Mas Pram memakai baju baru pemberian Keenan. Sementara Bang Al memakai bajunya yang tadi dia kenakan.


"Ucapanmu jadi nyata Mas" ujar Bang Al


"Tentang apakah itu Bang?"


"Karpet merah"


"Haha.. Iya ya. Bro, gak sayang ini karpet?" tanya Mas Pram setaua menuruni anak tangga.


"Bukan aku yang beli Mas. Jadi aku gak ngerasa sayang" ucap Keenan enteng.


"Tuan muda kita Bang" ucap Mas Pram, Keenan menoyor kepala Mas Pram mendengarnya.


Ketiganua tiba dimeja makan. Berbagai hidangan sudah tersedia disana.


"Maass.. Sikat Mas." ucap Bang Al saat melihat hidangan tersebut.


"Kuuyyy Bang" ucap Mas Pram mengambil piring miliknya.


"Habiskan saja. Nanti pulang tinggal aku tagih semuanya muali minuman pembuka sampai ini" Keenan menunjuk makanan dengan matanya.


"Haha kau perhitungan sekali tuan muda." ucap Bang Al


Ketiganya makan dengan lahap. Mas Pram dan Bang Al berkali-kali menambahkan nasi dan lauk pauk ke dalam piring mereka.


"Keen, apa orangtuamu tahu hubunganmu dengan Lala?" tanya Mas Pram. Mereka kini kembali ke kamar Keenan.


"Kenapa memangnya?"


"Kalian pastinya beda kasta kan Keen" ucapnya


Keenan terdiam sementara Bang Al hanya menyimak.


"Aku masih pacaran Mas sama dia. Bukan married" ucapnya


"Jadi kamu gak lihat ke depan pacaran sama dia?" tanyanya kemudian


"Haha.. Bicara apa sih kamu Mas. Yang jelas aku sekarang jalani saja dulu lah."


"Jangan sampai kamu nyakitin dia hanya karena kalian beda kasta Bro. Aku lihat dia sangat tulus sama kamu" ucap Mas Pram


"Woiii, seorang jomblo bisa menerawang begitu." ucap Keenan.


"Haha.. Kamu gak tahu dia itu saudaranya Ki bod*h ****t?" Bang Al mencairkan suasana


"Ah si*lan kau Bang"


Mereka masih asyik berbincang hingga tak terasa waktu telah sore.


***


Lala berjalan sambil memainkan ponselnya. Dia hendak memesan ojek online.


"La, mau pulang?" sapa Izam yang tengah duduk diatas motormya hendak keluar gerbang.


"Eh iya Mas."


"Gak dijemput?" tanyanya


"Enggak Mas. Memangnya dia suamiku sampai antar jemput segala." ucap Lala


"Haha.. Iya ya. Jadi sebelum janur kuning melengkung, ayo bareng aku pulang La." ajak Izam


"Dih mas Izam bisa aja." Lala tertawa


"Ayo, janur belum melengkung kan?"


"Belum dipasang Mas Izam. Mas Izam nyindir nih" gerutu Lala


Izam tertawa lagi.


"Ayo, mau gak? Gratis gak usah bayar" bujuk Izam


"Hehe..boleh deh. Numpang ya Mas." Lala naik ke atas motor Izam


"Sesuai aplikasi Pak" Lala menepuk pundak Izam


Keduanya tertawa.


Selama perjalanan, Izam mengajaknya berbincang. Lala menyukai candaan Izam yang receh yang membuatnya tak henti tertawa.


"Aku pikir Mas Izam orangnya alim, pendiam. Eh gak tahunya.. " Lala tertawa


" Aku tipikal orangnya yang diam-diam, sudah bau saja La" ucap Izam


"Haha.. Itu sih jorok Mas. Dasar.. "


" Aku becanda ya La, jangan dimasukin jantung. Masukin hati saja ya." ucapnya


"Haha.. Mas Izam. Eh Mas, disini saja." ucap Lala saat tiba di depan rumah Izam


"Gak apa-apa La, aku antar sampai depan rumah."


"Gak usah Mas. Nanti Ibu heboh lagi. Tahu sendiri kan Ibuku kayak gimana" ucap Lala


"Hehe.. Salam ya sama calon mertua. Eh" Izam Tertawa sementara Lala merasa kikuk.


"Becanda ya La." ucap Izam tersenyum manis


"Iya Mas. Terima kasih untuk tumpangannya ya Mas."


"Sama-sama La. Tiap hari juga boleh" ucap Izam


"Haha.. Aku ngasih ongkos bulanan dong kalau tiap hari."


"Nah, akhirnya kamu ngerti." Izam tertawa


"Ih Mas Izam gak ikhlas nih." gerutu Lala


"Haha aku becanda La." Izam mengacak rambut Lala gemas


Lala sedikit salah tingkah atas perlakuan Izam.


"Sudah deh, aku gak pulang-pulang kalau ngobrol terus."


"Nginep juga boleh, La" ucap Izam


"Belum halal mas"


'Elah, salah ngomong' batin Lala


"Mau dihalalkan kapan?" canda Izam


"Nanti sjaa mas, belum bersertifikat MUI, Mas" Lala tertawa


"Ih dasar kamu."


"Aku pulang ya Mas. Terima kasih. Assalamu'alaikum." pamit Lala


"Waalaikumsalam." Izam masuk ke dalam rumahnya.


Lala sedikit terhibyr dengan candaan Izam.


'Mas Izam asyik juga orangnya.' batin Lala


"Assalamu'alaikum" sapa Lala saat masuk ke dalam rumah


"Waalaikumsalam." jawab Ibu singkat


"Loh? Ibu sakit?" tanya Lala


"Iya. Ibu rasanya meriang La."


"Aku beli obat ke depan ya Bu" Lala khawatir pada Ibunya.


"Gak usah. Tadi ibu sudah minum obat kok."


"Ibu sudah makan?" Lala cerewet


"Ibu gak nafsu makan La."


"Ibu mau apa Bu?"


"Mau duit segepok La."


"Ya Tuhaaan.. Ibu kader lagi sakit masih inget duit." Lala masuk ke dalam kamar.


"Bu, yakin gak beli obat?" tanya Lala memastikan kembali


"Iya La. Masih ada tuh obatnya" ucap Ibu


"Oh ya sudah. Aku mandi dulu kalau begitu."


***


Keenan kini berbaring menatap langit-langit rumahnya dengan melipat kedua tangannya sebagai bantalan.


Seharian dia tidak menghubungi Lala walau Lala menuliskan pesan padanya. Keenan masih bingung dengan perasaannya sendiri. Keenan memikirkan ucapan Mas Pram tadi siang.


'Apa aku harus melepaskan Lala dari sekarang mumpung perasaanku belum jelas?' batin Keenan


'Apa aku harus terima tawaran Papa?' batinnya bimbang.


"Harus bagaimana ini?" gumamnya.


Keenan menagacak rambutnya asal.


Tak berapa lama, pesan masuk ke dalam ponselnya.


"Are you oke, Bee? Jangan buat aku khawatir."


Keenan merasa bersalah pada Lala. Dia segera membalas pesan Lala.


"I am oke, Honey. Sorry aku seharian main bersama mereka. Buka ponsel cuma sebentar, lupa mau balas pesanmu. Hehe maaf. Besok ku jemput ya hon"


"Oke. Miss you Bee" Lala membubuhkan simbol hati dalam pesannya.


Keenan hanya menatap layar ponselnya tanpa membalasnya lagi. Sementara disisi lain Lala menggerutu kesal.


"Tuh kan, dia gak kangen aku!" Lala melempar asal ponselnya di atas kasur.


.


.


.


Team Keenan mana suaranyaaaaa?


Team Izam juga manaaa?


Hayooo Lala mending sama siapa?


Komen dan like yaaaaa


Bantu vote juga temans.. Terima kasih ^^