My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Untaian Kata Pengubah Status



"Habis aku betah disini, Bu."


"Minta orangtuamu kesini buat bicarakan tanggalan kalian kalau begitu." ucap Ibu


"Serius Bu? Besok aku ajak mereka kesini, Bu. Bagaimana?"


"Gak besok juga. Ibu kan harus siap-siap dulu Keen."


"Tenang Bu, biar aku yang siapkan semuanya." Keenan menepuk dadanya.


"Terserah kamu saja."


"Si ibu gak ada nolaknya. Basa basi kek Bu" gerutu Lala


"Rezeki pan jangan di tolak, La."


"Setuju Bu" Keenan mengajak ibu ber-tos ria.


"Astaga si Ibu."


***


Keenan dan orangtuanya kini tengah bersiap pergi ke rumah Lala hendak membahas mengenai pernikahan mereka. Orangtua Keenan merasa sangat senang karena seolah mendapat sambutan dari keluarga Lala.


Keenan memakai kemeja dengan rambut tertata rapih seperti biasa. Malam itu, Keenan terlihat lebih tampan dari biasanya. Tubuhnya kembali bugar seperti semula karena Lala mengurusnya dengan baik.


"Ma, pokoknya ikuti saja maunya Ibu ya Ma. Biar nanti gak jadi masalah."


"Iya. Kamu ketakutan banget."


"Hehe. Aku gak mau banyak masalah lagi, Mama.." Keenan mengusap lengan Ibunya.


"Karina gak ikut Ma?" Papa menimpali.


"Dia kan lagi liburan dengan temannya, Pa."


"Kerjaan dia cuma menghabiskan uang saja!" ketus Pak Wijaya.


Keenan nampak sedikit gugup karena pertemuan kali ini merupakan pertemuan spesial untuk dirinya. Keenan bahkan enggan melakukan pertunangan, dia meminta untuk langsung menikah karena kejadian kemarin sedikit membuang waktu untuk mereka.


Keluarga Lala menyambut kedatangan Keenan dan orangtuanya dengan baik. Ibu sendiri sedikit lebih tenang saat berhadapan dengan orangtua Keenan daripada tempo lalu. Meskipun tak dipungkiri, dia masih menyimpan rasa sakit hatinya, namun dia berusaha tak menunjukan pada mereka.


"Jadi bagaimana Bu Tita? Apa bersedia resepsi anak kita dilakukan di Hotel Ex?" ujar Mama Keenan memberi penawaran untuk resepsi pernikahan mereka di Hotel bintang kejora.


"Maaf sebelumnya, saya ingin melaksanakannya di gedung serba guna Desa kami saja. Kalau anda ingin melakukan resepsi di Hotel itu, ya silahkan saja."


"Ma.." Keenan mencolek lengan Ibunya dengan suara pelan.


"Baik kalau begitu Bu, bagaimana kalau kami bantu mengatur semuanya? Ibu hanya menyiapkan nama tamu undangan dan gedungnya saja?"


"Hmm.." Ibu seolah berpikir.


"Bu.. " Lala kini gantian mencolek Ibunya


"Iya La. Ya sudah kalau begitu. Memang cukup seminggu waktu untuk persiapan? Saya pikir butuh waktu sebulan untuk persiapkan semuanya."


"Bu, kelamaan Bu." Keenan protes


"Wah? Ini calon mantennya gak sabar" ujar Pak Rw.


Keenan menggaruk tengkuknya malu.


"Serahkan saja pada kami, Bu. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempersiapkan semuanya. Namun untuk nama-nama tamu undangan, saya minta secepatnya."


"Oh tenang saja. Saya sudah persiapkan semuanya jauh-jauh hari" ujar Ibu


"Ibu kaderku the best!" Keenan mengacungkan kedua jempolnya.


"Sesuai permintaan kamu kan?" Ibu menyindir Keenan.


"Bagaimana mengenai prewedding?"


"Hon? Kamu bisanya kapan?" kini Keenan angkat bicara


"Nanti aku sama Keenan bicarakan dulu, Tante."


"Hmm..sebaiknya lebih cepat La. Waktu kita terbatas." sanggah Mama Keenan


"Kalau di undur saja nikahnya bagaimana? Biar semua persiapannya matang dan gak grasak grusuk gak jelas." usul Ibu


"Bu, aku lebih baik gak usah prewedding daripada nikahku yang diundur-undur Bu." ucap Keenan membuat semua tertawa mendengarnya.


"Bee.." Lala memberikan kode pada Keenan.


"Bu Tita, setelah acara resepsi di sini, nanti kita juga tetap melaksanan acara di Hotel Ex karena Keenan kan anak bungsu saya, saya juga ingin melakukan yang terbaik untuk Keenan dan Lala." ucap Pak Wijaya


"Ya kalau memang rencananya begitu, saya ikut saja."


Setelah semuanya sepakat mengenai pernikahan Keenan dan Lala, Mama Keenan berusaha mendekatkan diri pada Ibu.


Tita kembali.


"Bu Tita, nanti kita ke butik untuk fitting bagaimana?"


"Saya gak usah kesana saja, nanti saya bawakan saja contoh bajunya." tolak Ibu


"Biar pas Bu, yuk nanti bareng anak-anak juga." ajaknya sedikit memaksa.


"Hmm.. lihat saja nanti."


***


Keenan menjemput Lala seperti biasa untuk berangkat ke kantor sebelum dia sendiri pergi ke kantornya.


"Udah jadi Bee?" tanya Lala saat Keenan menyerahkan kartu undangan milik mereka.


Lala menatap kartu undangan lekat-lekat sambil membolak balikannya.


"Bee, aku gak nyangka kita mau nikah." ucap Lala masih membolak balik kartu undangan mereka.


"Aku udah gak sabar, Honey." Keenan memegang tangan Lala kemudian mengecupnya membuat Lala tersenyum manis pada Keenan.


"Hehe... Ya ampun bentar lagi aku jadi istri kamu, Bee. Kamu jangan rese ya Bee. Awas jangan jadi suami durhaka" ucap Lala


"Yang ada istri durhaka! Enak aja suami durhaka."


"Kamu jangan nyuruh aku macem-macem ya Bee." pinta Lala lagi.


"Aku nyuruh kamu satu macem aja."


"Yakin? Eh apa dulu?"


"Pasrah. Haha."


"Ih dasar!"


Mereka tiba di kantor Lala. Seperti biasa, Lala tak segera turun.


"Aku turun ya Bee. Kamu hati-hati dijalan ya." Lala mengecup punggung tangan Keenan.


"Minta yang lama Hon cutinya ya. Kalau bisa sekalian resign" pinta Keenan.


"Enak aja sekalian resign. Bisa di gorok aku"


"Ya udah sana, nanti aku jemput lagi."


"Love you Bee." Lala hendak membuka pintu mobil tapi ditahan Keenan.


"Hon." Keenan menunjuk bibirnya


"Sabar Bee. Beberapa hari lagi semuanya ku serahkan padamu wahai kekasih gelapku."


"Enak aja kekasih gelap." gerutu Keenan


"Ih kamu kan gelap, Bee." Lala segera keluar dari mobilnya.


"Heh Maemunah! Durhaka kamu sama aku." teriak Keenan.


Siang hari, Lala memberanikan diri masuk ke dalam kantor Reza dengan membawa kartu undangan.


"La.. Ciee calon manten." goda Izam saat hendak masuk ke ruangan Reza.


"ssstt.. Mas Izam. Malu ih. Hehe"


"Pak Reza ada gak Mas?"


"Ada."


"Aku ke dalam dulu ya?" pamit Lala. Tak lama, dia mengetuk pintu ruangan Reza.


"Assalamu'alaikum Pak."


"Eh La, tumben kamu."


"Aku kangen Bapak. Hehe."


"Gimana pangeran aku Pak? Makin ganteng kan?"


"Iya dong. Gimana aja Bapaknya."


"Pak.." Lala menyodorkan kartu undangan pada Reza.


Reza menerimanya. Dengan tak sabar dia membuka kartu undangan tersebut.


"La... " Reza tersenyum lebar.


"Biasa aja kali Pak."


"Aku gak nyangka kamu nikah sama dia. Gilaaa.. Serius ini La?" Reza tersenyum ceria


"Tasya pasti senang sekali. Selamat yaa."


"Cerita La. Kok bisa berakhir di pelaminan? Pelet mana yang kamu pakai La?" tanya Reza


"haha.. Aku gak nyangak La. Kalian sampai sejauh ini ternyata." Reza masih menatap kartu undangan tersebut


"Aku juga gak nyangka, Pak." ucap Lala menbuat mereka tertawa bersama.


"Sudah urus cuti?" tanya Reza


"Sudah Pak. Cuti nikah tiga hari, saya tambah cuti lagi empat hari pak. Hehe."


"Bagus. Cukuplah untuk membobol pertahanan gawang. Haha"


"Ih apa sih Pak!"


"Pokoknya Ibu sama Bapak wajib datang ya..aku permisi ya Pak." pamit Lala.


"InsyaAllah ya La. Terima kasih undangannya." Ucap Reza


"Salam buat Ibu dan pangeranku, Pa"


Lala berjalan dengan riang menuju ruangannya kembali.


***


"Test satu dua tiga.. Mari kita pesta bujaaang" ajak Mas Pram.


"Kuuuyyyy Tuan Muda traktiraaann" Bang Al segera menimpali


Keenan membaca pesan mereka seraya tersenyum.


"Kuy mari habiskan malammu bersamaku sebelum dia menguasai tubuhku" ajak Keenan.


"Anjr*t menguasai tubuhku dia bilang. Hawa-hawa permainan segera dimulai." Bang Al menimpali


"Malam ini kah Bro Keen kita menguasaimu?"


"Gaaasss" Bang Al langsung menyetujui.


Keenan merasa bersemangat setelah berbincang dengan kedua temannya. Keenan segera menjemput Lala.


"Hon, kita ke KP sebentar ya." ajak Keenan


"Mau apa?"


"Aku mau nginep di KP Boleh?"


"Ya udah kamu ke KP saja kalau begitu. Aku pulang naek ojek"


"Enggak Hon. Aku antar kamu dulu terus aku ke KP. Boleh?" lanjutnya


"Terserah"


"Kok terserah sih? Kalau gak di izinkan aku gak kesana, Honey. Atau kalau enggak, kamu ikut aja dulu."


"Enggak ah. Aku pulang aja. Kamu kalau mau nginep ya nginep aja, Bee."


"Bener boleh?"


"Iya. Mumpung masih bebas."


"Ya udah aku antar kamu dulu kalau gitu." Keenan tersenyum senang.


Keenan melajukan mobilnya ke KP setelah mengantar calon istrinya pulang. Disana sudah ada Bang Al yang sedang berbincang dengan Mas Pram.


"Calon Manteeen" Bang Al berteriak dari meja bar membuat semua yang disana menoleh pada Keenan.


"Haha.. Sssttt..brisik Bang. Nanti orang-orang minta di undang lagi." ucap Keenan


"Kita gak di undang Mas?" tanya barista


"Tenang. Kalian nanti kloter kedua saja." ucap Keenan


"Anjr*t gilaa, kawin aja udah kayak jamaah umroh pake kloter. Haha" Mereka yang ada disana tertawa.


"Haha.. Kloter pertama udah penuh. Mertua aku nanti protes lagi. Makanya nanti di kloter kedua saja."


"Berapa lama jedanya tuh Ustadz dari kloter pertama ke kloter kedua."


"Semingguan lah."


"Bro Keen apa yang anda rasakan saat ini?"


"Gak sabarlah Mas. Haha"


Mereka bertiga berbincang asyik seperti biasa hingga pagi.


***


Pagi buta, seorang perias telah datang ke rumah Lala. Dia menyalakan ring light agar mempermudahnya merias wajah Lala.


Sambil terdiam menikmati kuas yang menari-nari diwajahnya, jantung Lala tak henti berdebar. Dia bak seorang putri, hanya duduk manis dan semua orang yang berada disana melayaninya dengan baik.


Begitupun dengan Keenan, dia sengaja memotong rambutnya agar terlihat lebih rapih. Dia memakai beskap pengantin berwarna putih membuatnya terlihat lebih gagah.


Dengan langkah pasti, Keenan dan keluarga besarnya tiba di lokasi acara. Sebagian keluarga Keenan nampak terkejut dan tak menyangka saat melihat calon besan dari Pak Wijaya.


Kini acara yang dinanti tiba. Untaian kata yang dapat mengubah status Keenan dan Lala menjadi pasangan suami istri dihadapan para saksi, telah tertutur dengan lantang dan jelas tanpa cacat sedikitpun membuat mereka yang hadir disana bersyukur merasa lega.


Raut wajah tegang Keenan dan Lala berubah seketika saat mereka saling pandang setelah Keenan mengucapkan ijab qobulnya.


Pun orangtua mereka yang menangis haru dengan proses pernikahan tersebut.


Lala tak kuasa menahan tangisnya saat meminta ampun pada sang Ibunda tercinta. Wanita panutan satu-satunya untuk dirinya yang tetap berdiri kokoh walau badai menghadangnya.


Kini Lala dan Keenan bergantian menghampiri orangtua mereka.


"Lala tolong jaga Keenan, tetap disamping Keenan apapun yang terjadi. Terima kasih telah membuat hari Keenan lebih berharga dari sebelumnya." Mama Keenan mengusap matanya dengan tisu


"Selamat datang di keluarga Wijaya. Semoga kamu bisa melahirkan generasi penerus kami. Terima kasih sudah mau menerima kami kembali" Papa Keenan berbisik ditelinganya.


Kedua pasangan suami istri baru kini berdiri di singgasananya. Tangan Lala melingkar di lengan Keenan yang kini tengah sah menjadi suaminya dengan satu bucket bunga berada di tangan lainnya membuat sebagian orang iri melihat keserasian mereka.


Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa Lala adalah Cinderella Modern yang beruntung mendapatkan lelaki pewaris salah salah satu kerajaan ritel yang ada di Indonesia.


Acara yang sangat melelahkan pun berakhir sesuai dengan rencana. Mereka yang hadir disana tampak puas dengan jamuan yang terhidang disana membuat Ibu sedikit berbangga diri.


"Hon, baju aku mana? Gerah nih." ucap Keenan pada Lala saat mereka berada di kamar Lala.


Lala membuka koper kecil milik Keenan.


"Yang ini?" Lala menunjukkan kaos Keenan


"Yang mana aja."


Lala memberikan kaos putih dan celana pendek pada Keenan.


"S*mpaknya mana?"


"Astaga." Lala merasa malu sendiri


"Kamu yang ambil ah" Lala memberikan koper tersebut pada Keenan.


"Haha.. Astaga Hon. Sama s*mpak aja kamu malu"


"Ya iyalah aku malu Bambang! Sana ah ambil sendiri!" ketus Lala


"Awas lu ya, Nanti-nanti kamu yang lepasin s*mpak dari tubuh aku."


"Keenan ih!" Lala melempar bantal pada Keenan membuat Keenan terbahak.


"Dah ah, aku mandi dulu."


Lala keluar kamarnya mengikuti Keenan. Dia bergabung dengan beberapa tetangga dan Ibunya yang tengah disibukan dengan konsumsi sisa hajatan tadi.


"Keenan mandi La?" tanya Ibu pada Lala namun masih fokus pada pekerjaannya.


"Iya. Gerah Bu. Aku juga ingin mandi habis Keenan."


"Tanggung La. Nanti saja sekalian mandi besar." timpal tetangganya membuat Lala sedikit malu.


"Keenan ngajak ke apartemen Bu. Boleh gak?"


"Sekarang?" ibu nampak sedikit kaget


"Iya. Bilangnya gak enak banyak orang. Malu kali dia, Bu"


"Waah.. Dia gak mau diganggu." ujar tetangga lainnya.


"Udah kasih Bu, mengertilah Bu Tita mereka ingin memadu kasih." suasana menjadi ramai oleh sahutan mereka.


Berbekal koper kecil milik Keenan tadi, kini keduanya masuk ke dalam mobil. Mereka menembus dinginnya angin malam dengan status baru menuju apartemen milik Keenan.


Keenan bahkan mampir ke minimarket dan membeli beberapa cemilan sesuai permintaan sang istri tercinta.


Dia mulai melajukan kembali mobilnya menuju apartemen setelah mendapatkan satu plastik penuh cemilan dan minuman yang dipilih oleh Keenan.


"Kamu bawa cemilannya, Hon" titah Keenan saat mereka keluar mobil. Keduanya membisu hingga tiba di depan pintu kamar milik Keenan.


Keenan menaruh koper begitu dia masuk sementara Lala mengedarkan pandangannya menyusuri ruangan demi ruangan.


Dengan tiba-tiba Keenan memeluk tubuh istrinya dari belakang membuat Lala yang sedang lengah sedikit kaget dengan perlakuannya.


"Welcome to our home, my wife. Let the journey begin." bisik Keenan di telinga Lala.


.


.


.


Banyak tagar bikin geraaahhh...hahaa. Silahkan antri ngucapin selamat buat mereka. Bantu like, komentar dan vote yang buanyaakk. Terima kasih ^^