My Enemy, My Love!

My Enemy, My Love!
Cemburu Sama Anak?



Lala masuk ke dalam mobil dengan cemberut. Bagaimana tidak? Setelah menerima telepon dari Ibu, bisa-bisanya Keenan menahan tubuh Lala dan meneruskan pergumulan mereka.


"Udah dong Mom. Kamu kan dapat pahala sudah menyenangkan suami."


"Tapi kan gak disaat begini juga." ketus Lala "Udah tahu anaknya sakit!" Lala mendelik sebal kemudian menatap keluar jendela.


"Kepalang tanggung honey, Abang udah gak tahan. Lagian cuma sekali doang. Cepet lagi!" gerutu Keenan yang membuat Lala sedikit tersenyum. "Gak habisin waktu sejam juga!"


"Iya, tapi akunya jadi gak menikmati. Sakit tahu!"


Keenan tersenyum "Iya nanti diulang biar kamunya enak." Keenan mengacak rambut istrinya.


"kamu yang keenakan itu mah!" ucap Lala seraya menyingkirkan tangan Keenan.


Tiba dirumah, Lala segera menaiki anak tangga dengan tergesa.


"Kenzie dimana Bi?" tanya Lala pada Bi Ijah yang membukakan pintu untuknya.


"Di kamar Ibu, Neng."


Lala bergegas masuk ke kamar Ibu. Dilihatnya sang anak sedang terlelap bersama ibu.


"La.. Kamu baru datang?" Ibu membuka matanya.


"Iya Bu. Kenzie rewel?"


"Sedikit. Tadi sudah Ibu kasih pereda demam dari Bu Bidan."


"Akhirnya ada manfaatnya juga jadi kader Bu." Lala tersenyum. "Aku mandi dulu Bu, mumpung Kenzie tidur."


Lala masuk ke dalam kamarnya, terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi beserta baju yang berserakan dilantai.


"Astaga si Abang!" Lala memunguti baju Keenan dan memasukannya ke dalam keranjang.


Lala mengetuk pintu kamar mandi, seketika pintunya terbuka. "Aku mau mandi juga takut Kenzie keburu bangun." ucapnya seraya masuk ke dalam kamar mandi. Keenan merasa mendapat angin segar, dia membantu Lala membuka bajunya.


"Kalau Abang macem-macem, aku gak kasih jatah lagi!" Lala melotot pada Keenan.


"Cuma bantuin buka baju doang, sayang." ucap Keenan yang takut akan ancaman istrinya.


Lala keluar kamar mandi masih menggunakan bathrobe miliknya, terdengar suara tangisan Kenzie dari luar kamar, Lala segera membuka pintu kamarnya.


"Sayangnya Mommy sakit ya?" Lala mengambil Kenzie dari gendongan Mbak Nani. "Terima kasih Mbak"


"Masih demam?" tanya Keenan mendekati sang istri dengan rambutnya yang masih basah.


"Keringkan dulu rambutnya, nanti kamu sakit kepala lagi." ucap Lala sambil mengasihi Kenzie.


"Ah, Daddy juga mau bobo sama Kenzie soalnya Daddy sudah dapat jatah duluan." ucapnya setelah mengeringkan rambut dan berpakaian lengkap. Lala sengaja tak menggubris ucapan suaminya. Kalaupun ditanggapi, Keenan akan semakin menjadi.


"Bro, itukan bekas Daddy tadi." Keenan mendekati Kenzie kemudian menggesekan hidung mancungnya di kepala sang anak. "Enak kan bekas Daddy?" Lala memukul lengan suaminya. "Aw.."


"Kamu bisa gak sih ngomongnya gak begitu terus! Anaknya di ajarin m*sum terus! Gak ada akhlak jadi Bapak!"


"Mana ngerti sih dia juga Mam."


"Iya nanti kebiasaan tahu!"


"Enggak. Tenang aja."


"Sana tidur! Daripada Daddy ngoceh gak jelas terus." ketus Lala yang membuat Keenan terdiam.


***


Tak terasa, perkembangan Kenzie begitu cepat. Setelah melewati fase tengkurap, duduk, merangkak dan belajar berdiri, kini Kenzie sudah bisa melangkahkan kakinya kesana kemari. Semakin hari, Kenzie semakin aktif membuat Lala dan pengasuhnya harus ekstra ketat untuk menjaganya agar dia tidak terlepas dari pengawasan.


Kenzie menghampiri Keenan yang sedang fokus menatap layar laptop. Dia berbicara pada Keenan dengan bahasanya sendiri, namun Keenan yang fokus tak menghiraukan ucapan Kenzie. Seketika tangan Kenzie memukul keyboard laptop miliknya berkali-kali membuat Keenan menggeram kesal.


"Astaga anak kamu, Mom!" bentak Keenan. Lala yang melihatnya hanya terkekeh.


"Makanya anak bicara tuh tanggepin." gerutu Lala


"Kamu tahu kan, aku lagi cek email. Gimana sih? Kalau salah, yang rugi perusahaan. Imbasnya ke kita juga!" ketus Keenan menatap Lala tajam.


"Yaelah Daddy sampai segitunya. Makanya kamu ke kantor saja sana! Kalau gak mau diganggu anak!" Lala keluar dari kamar mereka sambil menggendong Kenzie.


Tiba di bawah, Lala melihat Ibu hendak berangkat. Ibu meliriknya sepintas, "La.. Jadwal posyandu Kenzie. Kamu bawa dia ya, Ibu duluan." ucap Ibu dengan memakai seragam kebanggaannya.


Lala ditemani Mbak Nani berjalan menuju posyandu tempat Ibunya mengabdi. Mereka kesana tiada lain hanya untuk dipamerkan oleh Bu Kader kepada rekan mereka setiap bulan walaupun dengan alasan menimbang berat badan Kenzie. Baru kali ini, Lala bisa ikut ke Posyandu karena sedang libur kuliah. Biasanya hanya Mbak Nani dan Ibu yang membawa Kenzie ke sana.


"Eeh.. Ada anak tampan, tumben dianter bundanya, lagi libur ya?" ujar Bu RW.


"Hehe Iya Bu." Lala nampak canggung. Lala dan Kenzie terlihat sangat mencolok dari pada Ibu-ibu lainnya. Dengan kulit mereka yang putih bersih serta pakaian dengan brand ternama membuat mereka ditatap takjub oleh rekan Ibu.


"Si kecil mulai aktif ya, Bun?" ujar salah satu rekan Ibu yang melihat Kenzie berjalan kesana kemari.


"Hehe..iya Bu. Saya kewalahan mengejar dia."


"Untung ada pengasuhnya ya Bun." ucapnya lagi sementara Lala hanya tersenyum.


Kenzie menjadi pusat perhatian mereka. Ibu Tita sendiri tak hentinya membicara tingkah laku Kenzie saat dirumah. Dia begitu membanggakan Kenzie pada semua orang.


Kenzie menangis saat melihat penjual balon di halaman posyandu.


"Mommy, Kenzie mau balon." ujar mbak Nani yang sulit menenangkan Kenzie.


"Ya sudah, sekalian pulang saja yuk. Biar nanti buku Kenzie dibawa Ibu." Lala beranjak dari kursi yang dia tempati saat menunggu buku milik Kenzie.


"Nangisnya susah berhenti, Bunda.. Sudah gak sabar ingin beli balon."


"Iya. saya permisi, Bu." Lala pamit pada rekan Ibu.


Kenzie berjalan sambil memegang balon. Dia tertawa girang melihat balon mengayun sejalan dengan arah tangannya.


"Kenzie dari mana? Pulang-pulang bawa balon buat Daddy, ya?" ujar Keenan langsung menggendong anaknya.


Lala mendelik karena masih kesal pada Keenan.


"Mom.. Jalan yuk?"


"Males!"


"Kenapa sih Mom?" Keenan menurunkan Kenzie. Dia membiarkan Kenzie bermain bersama Mbak Nani.


"Pikir sendiri!"


"Ya ampun. Tadi kan Daddy lagi kerja. Masa gak pengertian sih? Daddy takut salah tadi tuh."


"Ya anak gitu doang, kamu ngebentak aku! Siapa yang gak kesel!"


Lala meliriknya heran. Tumben suaminya mengajak keluar kota.


"Kita Honeymoon lagi." bisiknya kemudian.


"Apa sih!"


Keenan tersenyum. "Daddy punya hot news loh. Masih mau marah gak?"


"tergantung."


"Hmm.. Kok tergantung. Yakin gak mau tahu hot news-nya apa?" Keenan mencolek Lala.


"Abang!"


"Ya sudah kalau marah, gak jadi deh." Keenan hendak meninggalkan Lala menuju Kenzie.


'Sumpah rese banget si Keenan!'


Baru selesai merutuki Keenan, Keenan kembali berbalik. "Yakin gak mau dengar hot news? Nyesel loh nanti, Hon."


Lala sedikit terpancing. "Hot news apa?"


"Jangan marah dulu dong, masa marah mulu. Cepet tua tahu rasa!". Lala tak menanggapi Keenan.


"Ya sudah, sebagai permintaan maaf, Daddy kasih tahu. Mas Pram minggu depan tunangan."


"Hah? Serius?" Lala terpekik senang. "Akhirnya.."


"Makanya minggu depan kita keluar kota berdua."


"Terus Kenzie?"


"Ada Ibu. Kita pacaran dulu sayang."


"Astaga Abang! Kamu mah mikirin diri sendiri. Aku gak ikut kalau Kenzie gak di ajak! Kita itu satu paket. Masa kamu tega sih!" ketus Lala


Keenan menggaruk tengkuknya. "Kalau Kenzie ikut, kita gak bebas sayang."


"Kamu gila apa, Bang? Ya wajarlah kamu gak bebas. Kamu kan punya tanggung jawab. Kalau gak mau, gak usah punya anak dari dulu!" Lala semakin geram. Dia tak mengerti akan pola pikir suaminya.


"Kamu tuh sekarang lebih fokus sama Kenzie dari pada aku, suami kamu. Perhatian kamu sama Kenzie tuh lebih banyak. Kamu lupa, siapa yang harus kamu layani sebenarnya?"


Lala melongo menatap Keenan. "abang kesambet? Masa anak sendiri dicemburuin."


"Wajar kali! Aku juga mau dimanja kamu, bukan cuma Kenzie." ketusnya.


"Kok kamu perhitungan begitu sih sama anak? Anak kamu di fase golden age. Masa iya kamu mau menyia-nyiakannya?"


"Tapi kamu juga wajib ikuti perintah aku. Salah kalau aku juga minta di perhatikan?"


Lala menarik nafas panjang. "Terus Abang maunya aku gimana?" tanya Lala, kini dengan suara lebih lembut.


"Ya perhatiin aku lah. Jangan, dikit-dikit Kenzie, apa-apa Kenzie. Abang gak kamu perhatikan. Abang selingkuh tahu rasa kamu!"


"Kok Abang bicaranya nyakitin sih? Kalau kamu niat selingkuh ya selingkuh aja. Jangan jadikan anak sebagai tameng kamu!" Lala meninggalkan Keenan begitu saja.


Hingga sore tiba, Lala lebih memilih menghindari Keenan. Dia merasa suaminya begitu berlebihan. Apalagi saat menyingggung soal selingkuh. Rasanya dia tak menyangka hal itu keluar dari mulut Keenan sendiri.


"Mom.. Daddy minta maaf." ucapnya mendekati Lala yang sedang mengasihi Kenzie.


"Mom.."


Lala melepaskan papillanya kemudian merapikan bajunya. Dia bangun hendak meninggalkan Keenan begitu saja.


"Abang minta maaf, honey." Keenan meraih tangannya.


"Sana selingkuh saja. Kamu memang sudah niat kan. Aku ikhlas."


"Kamu bicara apa sih!"


"Kamu tadi bilang mau selingkuh kan?"


"Enggak Mom. Daddy tadi asal bicara saja. Gak ada niatan buat selingkuh. Sumpah."


"Kalaupun mau juga aku gak bakal larang." ucap Lala tanpa melirik Keenan.


"Astaga begitu saja diperpanjang. Maaf. Abang salah." ucap Keenan. Dia memeluk Lala dari belakang.


"Maaf.. Maafkan diriku


Yang telah membuat hatimu terluka


Hanya kau cintaku


Ku tak pernah pikir untuk pergi darimu


Walau hanya sekejap saja"


[Rio Febian - Maaf]


Nyanyian Keenan selalu sukses mwmbuat lala tersenyum walaupun samar terlihatnya.


"Jalan yuk?" ajaknya


"Kita ke Mall. Sudah lama kan Mommy ingin ke Mall?" bujuknya.


"Gak." Lala. Masih mempertahankan gengsinya.


"Mom, yuk kita ajak Kenzie ke permainan. Mommy kan ingin ajak Kenzie main mobilan itu. Yuk Mom?" bujuk Keenan.


"Ayolah, sana ganti bajunya." Keenan mendorong tubuh Lala masuk ke dalam walk in closet dan menunggunya mengganti pakaian.


Tiba-tiba Keenan mendapat telepon dari Bang Al. Dia mengajak bertemu dengan Mas Pram. Tanpa ragu dan penuh semangat, Keenan segera mengiyakan ajakan Bang Al hingga telepon di tutup, Lala sudah menatapnya tajam.


"Sayang, aku... "


" Sana pergi, gak usah pulang!" bentak Lala.


.


.


.


Yuhuu maaf ya kemarin-kemarin gak up. Ada kepentingang di Real life. Terima kasih masih nunggu HonBee. Jangan lupa bantu like, komentar dan vote. Terima masih ^^